I used to rule the world
Seas would rise when I gave the word
Now in the morning I sleep alone
Sweep the streets that I used to own
I used to roll the dice
Feel the fear in my enemy’s eyes
Listen as the crowd would sing:
“Now the old king is dead!
Long live the king!”
One minute I held the key
Next the walls were closed on me
And I discovered that my castles stand
Upon pillars of salt and pillars of sand
Viva la Vida nya Coldplay ini selalu masuk playlist saya belakangan. Lagu ini saya persembahkan untuk Ben Ali, Husni Mubarrak, Qadhafi, serta para pendahulu-pendahulu nya seperti Bush and the gang, Soeharto, Mugabe, Slobodan Milosevic, Idi Amin, Pinnochet, Mussolini, Hitler, Kemal Attaturk, serta siapa lagi kalau bukan penghulu para tiran dan diktator: Firaun.
Tiran ialah ironi. Di satu sisi mereka dikutuk, dibenci, dan menjadi monster bagi peradaban. Di sisi lain mereka yang paling sering dibicarakan, tak pernah lekang dalam ingatan sejarah, dan di sisi lain hati kita, biasanya ada selaksa bentuk kekaguman pada mereka. Bagaimana seorang diri bisa menentukan merah hitamnya dunia. Sebab tiran memang orang-orang hebat dalam ukuran yang netral, kapasitas, ambisi, kerja keras, dan pengaruh mereka sangat besar dan berlimpah. Satu kata dari lidahnya, satu jentikan jarinya memebelokan masa depan sebuah bangsa. Di sini kita bisa belajar dari para tiran. Bagaimana kekuatan itu mereka raih dan gunakan.
Struktur kekuatan tiran selalu tipikal, dibalik kemenonjolan bahkan pendewaan figur personalnya, sesungguhnya mereka bekerja dalam tim. Kita lihat bagaimana tiran ini bekerja. Ada kepemimpinan yang kokoh yang dimainkan negara, baik sebagai tiran yang menjajah bangsa lain maupun tiran yang mengisap bangsanya sendiri. Yang kedua, jelas ada kekuatan militer yang menjadi watching dog dan penghukum siapa saja yang mengancam keberlangsungan tirannya. Yang ketiga ialah para pengusaha yang menjadi alat pengisap kekayaan masyarakat dan akumulasi kapital si tiran. Dan keempat ada kaum agamawan sebagai stempel pengesahan tindakan tiran, baik yan berupa stempel moral dan kebenaran. Dan terakhir adalah kaum intelektual, yang memberi pembenaran ilmiah atas tindakan si tiran serta menjadi thnik tank, bank ide dan riset bagi keberlangsungan tirani.
Firaun ialah simbol bagi kedigdayaan kekuasaan dan kekuatan militernya. Tapi di sana juga ada sosok Qarun, pengusaha sukses minus moral. Hamman sang intelektual. Serta Bal’am, ulama penjual ayat. Begitu pun struktur tiran yang ada saat ini. Bagaimana amerika sebagai negara adidaya secara poltik dan militer. Ada wallstreet berserta supporting systemnya seperti IMF dan WTO sebagai simbol kerakusan kapitalisme. Ada ilmuwan-ilmuwan yang memberi stempel ilmiah atas segala kreasi kerakusan tiran. Serta ada kaum agamawan yang, celakanya, ada di semua agama tapi menyerukan ajaran yang sama; HAM, demokrasi, dan kebebasan yang atas namanya lah perang amerika untuk menguasai sumber daya alam dilakukan. Mereka memiliki dan menguasai semuanya kecuali satu: kebenaran. Atau kita lihat contoh yang paling dekat di negara kita. Ada satu provinsi yang semua sumber dayanya dikuasai oleh satu keluarga. Dengan segala cara mereka mempertahankan kekuasaannya. Dan kita lihat bagaimana akibatnya bagi dareah itu.
Maka benarlah kata Umar, tunggu lah bencana menimpa saat orang-orang jahatnya kuat dan orang-orang baiknya lemah. Tapi Allah punya rencana lain, selama ada di anatara umatnya yang gigih dan setia mempertahankan keimanannya, Allah tidak akan membinasakan mereka. Asalkan orang-orang beriman itu istiqamah dan tidak menyerah dalam keadaan serta sabar dalam kondisi yang sulit. Allah yang merencakan dengan rencana yang jauh lebih besar dan hebat dari para tiran itu.
Firaun telah membunuh semua bayi Bani Israil karena takut dari sana lah akan muncul seseorang yang menumbagkan tiraninya. Semua bayi di bunuh, kecuali satu, dan satu-satunya bayi yang tidak dibunuh itulah yang menumbangkannya. Subhanallah, maha besar Allah dengan kehebatan rencananya.
Maka siapa yang menayangka, Musim semi di Arab terjadi begitu saja. Tahun lalu para diktator itu masih dengan kokohnya bercokol di singgasananya. Hanya seorang pedagang buah, ya pedagang buah di Tunisia, yang mengawali semuanya. Aksi protesnyalah yang membakar api keberanian di seantero Arab untuk mengubah nasibnya. Satu demi satu penguasa yan ditakuti itu tumbang. Ben Ali hidup di pengasingan, Mubarrak menjadi pesakitan yang terbaring di bangsal Rumah Sakit, serta Qadhafi yang menjadi seperti tikus yang bersembunyi di gorong-gorong lalu dibunuh oleh (mungkin) seorang remaja yang bukan siapa-siapa.
Begitu hebat dan mudahnya rencana Allah, dengan cara yang tak dapat dipahami akal manusia sebelumnya, aksi seorang tukang buah yang membakar dirinya. Tapi sesungguhnya itu semua bukanlah sesuatu yang gratis yang datang dari langit. Ini semua ibarat laut yang terbelah saat Nabi Musa melarikan diri. Selayaknya yang kita perhatikan adalah bagaimana kesabaran dan perjuangan Nabi Musa dari awal beliau menerima wahyu hingga hari itu, beliau terdesak di laut merah. Ini semua adalah perjuangan yang mendatangkan ridha Allah. Saat Allah cinta dan ridha, tak akan kita disia-siakanNya. CintaNya membuahkan pertolongan dan keberkahan yang mengagumkan.
Begitu pula yang saya yakini dengan apa yang terjadi. Semua ini ialah buah dari kesabaran dan ketakwaan penduduk negeri Arab yang tetap istiqamah dalam tekanan dan kesulitan. Bayangkan, dulu di Tunisia seorang penduduk tidak boleh shalat di masjid selain masjid yang ditentukan oleh pemerintah. Di Mesir seorang mahassiwa Al Ahzar tidak bisa masuk ke kampusnya selain untuk urusan akademik dengan pemeriksaan yang ketat. Ini lah buah dan pertolongan Allah atas ulama-ulama yang dipenjara, disiksa, dan diusir dari negerinya. Dan kini gerakan Islam menjadi fajar kemenangan atas kangkangan tirani.
Kemarin di Tunisia Partai An Nahdhah yang dipimpin Syaikh Rasyid Ganouchi memenangi suara mayoritas dalam pemilu pertama yang adil dan jujur. Di Mesir Partai Keadilan dan Kebebasan yang didirikan oleh harakah Ikhwanul Muslimin insyAllah menyusul. Libya insya Allah tidak akan membiarkan dirinya dijadikan kroco bagi AS dan sekutunya. Terakhir beberapa tokoh pemimpin Libya sudah menyatakan bahwa Libya akan menjadi negara Islam. Dan bagi sisa para tiran Arab lain yang belum jatuh, musim semi di Arab masih berlangsung, dan Viva la Vida nya coldplay pun masih ada lanjutannya:
It was the wicked and wild wind
Blew down the doors to let me in
Shattered windows and the sound of drums
People couldn’t believe what I’d become
Revolutionaries wait
For my head on a silver plate
Just a puppet on a lonely string
Oh who would ever want to be king?
Surabaya, 28 Oktober 2011












