Abu Bakar Ash Shidiq ra dan Fondasi Kepemimpinan (Negara) Islam (1)

 

Madinah, awal mula semuanya

 

Periode kepemimpinan Abu Bakaq Ash Shidiq ra. sebagai khalifah ternyata berlangsung sangat singkat, hanya dua setengah tahun sampai beliau wafat. Dengan periode yang singkat itu seolah tidak nampak ada prestasi yang mentereng yang beliau capai seperti ekspansi besar-besaran Kekhalifahan Islam seperti masa Khulafaur Rasyidah setelahnya. Namun jika kita menelaah lebih dalam lagi sirah beliau, maka kita bisa memahami bahwa dua tahun setengah periode kepemimpinan Abu Bakar Ash Shidiq ra diisi oleh hal-hal yang strategis dan fundamental yang menentukan perjalanan kekhalifahan ke depannya. Ibarat membangun gedung, beliau menyelesaikan hingga fondasinya saja sehingga tidak nampak di permukaan hasil kerja keras beliau.

 

Setidaknya ada dua hal fundamental yang dicapai oleh Abu Bakar Ash Shidiq ra. Pertama dalam aspek hukum dan politik, beliau lah yang memancang pilar-pilar tata negara dalam Islam. Kedua dalam aspek militer dan politik luar negeri beliau berhasil menjaga soliditas negara Islam di tengah ancaman dari segala penjuru pasca kepergian Rasulullah saw, sekaligus ancang-ancang bagi ekspansi daulah Islamiyah yang dieksekusi dengan baik oleh Khalifah setelahnya.

 

Dalam aspek politik dalam negeri dan hukum, beliau adalah pemancang fondasinya. Harus kita pahami bahwa negara Madinah di era nubuwwah memiliki perbedaan dengan era kekhalifahan setelahnya. Dalam Islam pemimpin negara dan pemimpin agama bukanlah dua jabatan yang berbeda. Saat Rasulullah saw masih memimpin hal ini dapat dilakukan dengan lugas. Karena Rasulullah saw ialah Nabi yang dibimbing langsung oleh wahyu, titahnya ialah kebenaran, keputusan yang beliau ambil pastilah benar, ketaatan kepada kepala negara berkorelasi langsung dengan status keislaman atau kufurnya seseorang. Hal ini yang menjadi pembeda dengan era kepemimpinan Islam pasca Rasulullah saw. Maka di sini lah Abu Bakar as shidiq ra. dengan pemahamannya yang utuh terhadap risalah Nabi menyampaikan sebuah pidato pelantikan yang sangat penting dan fundamental saat beliau dibaiat menjadi khilafah tiga hari sepeninggal Rasulullah saw.

 

“amma ba’du. Wahai manusia, aku telah diserahi kekuasaan untuk mengurus kalian, padahal aku bukanlah orang terbaik dari kalian. untuk itu, jika aku melakukan kebaikan, maka bantulah aku, jika aku berbuat salah, maka ingatkanlah aku. jujur itu amanah, sedang dusta itu khianat. orang lemah di antara kalian adalah orang kuat di sisiku hingga aku berikan haknya insya Allah, dan orang kuat di antara kalian adalah orang lemah di sisiku hingga aku mengambil haknya darinya insya Allah. tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan Allah menjadikan hidup mereka hina dan dihinakan, tidaklah perbuatan zina menyebar di suatu kaum, melainkan Allah akan menyebarkan malapetaka di tengah-tengah mereka. untuk itu, taatlah kalian kepadaku selama aku masih taat kepada Allah dan RasulNya. jika aku bermaksiat kepada Allah dan RasulNya, maka bagi kalian tidak ada ketaatan kepadaku. dirikanlah shalat kalian, semoga Allah merahmati kalian.”

 

Simak baik-baik dan pikirkan dalam-dalam pidato beliau. Niscaya kita akan mendapati bahwa ini bukan pidato sambutan ala pejabat negara yang cenderung normatif dan penuh basa-basi seperti pada umumnya. Bukan juga pidato terima kasih dan rasa haru ala selebritis yang mendapat anugerah atau penghargaan. Pidato ini berisi prinsip-prinsip yang menjadi pilar-pilar bagi tata kelola sebuah negara Islam pasca Rasulullah saw yaitu: 

 

1. Penegakan hukum dan konstitusi, bahwa kedaulatan negara dan ketaatan tertinggi ada di tangan syariat Allah (Al Quran dan As Sunnah). Negara Islam bukanlah teokrasi di mana kedaulatan tertinggi ada di tangan penguasa yang mendapat mandat dari Tuhan, melainkan negara yang menjadikan aturan Allah sebagai kedaulatan tertinggi.

 

2. Akuntabilitas, perlunya check and balance dalam pemerintahan. Ini yang membedakan antara era nubuwwah dan pasca nubuwwah. Karena selain Rasulullah saw pemimpin mungkin berbuat salah. Maka koreksi menjadi sesuatu yang niscaya dalam kepemimpinan Islam.

 

3. Egaliterian, kesetaraan antara pemimpin dan rakyatnya, dan kesetaraan di antara rakyatnya. Kepemimpinan ialah amanah di mana ketaatan terhadap pemimpin negara semata-mata karena syariat memerintahkan untuk seperti itu, sekalipun mungkin sang pemimpin bukanlah yang terbaik dalam semua hal. Sekaligus kesetaraan di hadapan syariat dan aturan antara semua rakyatnya baik yang lemah maupun yang kuat, yang kaya atau yang miskin, bahkan antara yang muslim maupun bukan (ahlu dzimmah).

 

4. Kepercayaan dan kejujuran, tak pelak lagi ini menjadi kunci dari kemajuan sebuah bangsa. Tidak mungkin semua orang dalam sebuah bangsa berbuat jujur akan tetapi pemimpin lah yang menjadi kunci. Jika pemimpin sudah berbohong maka negeri tersebut di ambang kehancuran. Rasulullah saw bersabda dalam shahih Muslim: Tiga Golongan manusia yang Allah tidak akan bercakap dengan mereka di hari kiamat, tidak menganggap mereka sebagai orang yang bersih, tidak melihat kepada mereka, dan mereka akan dimasukkan ke dalam neraka dengan azab yang sangat pedih. Mereka ialah orang tua yang berzina, raja atau pemimpin yang suka berbohong dan orang miskin yang sombong.

Dari hadits di atas pemimpin yang suka berbohong disejajarkan dengan orang tua yang suka berzina dan orang miskin yang sombong. Mengapa ketiga golongan ini ada di posisi yang sangat hina? Karena mereka melakukan fahisyah (keburukan) yang sangat tidak pantas dan sebetulnya sangat sulit diterima dengan akal sehat bisa dilakukan oleh mereka. Orang berbuat zina karena dorongan syahwat yang tinggi dan yang memiliki syahwat tinggi biasanya orang muda, ia melampiaskannya dengan cara yang salah yaitu zina. Maka seorang kakek-kakek yang berbuat zina baginya kehinaan yang bertumpuk. Sedangkan orang sombong pada dasarnya karena memiliki sesuatu yang patut dibanggakan di hadapan manusia. Nah apalah ini orang miskin memiliki sesuatu yang patut dibanggakan tapi ia bahkan sanggup bersikap sombong? Maka seorang pemimpin yang berbohong pun memiliki kehinaan serupa. Pada dasarnya orang berbohong karena ia merasa harus menyembunyikan sesuatu. Ia tidak memiliki cukup kekuatan sehingga ia tidak berani bersikap terang-terangan. Nah seorang pemimpin ialah orang yang paling tinggi dalam hal kekuasaan dan wewenang di antara kaumnya. Jika ia sampai berbohong artinya ia memiliki akhlak yang sangat buruk sehingga Rasulullah saw menggolongkannya ke dalam tiga golongan tersebut.

 

5. Perang terhadap kemaksiatan. Sebab kemunduran peradaban-peradaban sebelumnya; romawi, persia, dan yunani dimulai dengan merebaknya kemaksiatan di antara mereka. Lebih spesifik lagi terutama terjadi di kalangan pembesar dan orang-orang kuat/ kayanya. Bukan berarti di zaman para sahabat tidak ada orang yang bermaksiat. Masih ada yang berzina, minum khamr, dsb karena saat itu orang yang berbondong-bondong masuk Islam memiliki spektrum latar belakang dan kualitas yang bervariasi. Namun saat itu orang sembunyi dan malu-malu untuk bermaksiat. Dan yang lebih penting bahwa pembesar-pembesar Islam di zaman itu terbebas dari hal-hal tersebut. Maka kita harus mengambil pelajaran dari runtuhnya Dinasti Abbasiyah di Andalusia. Sebenarnya serangan reconquesta dari Ratu Isabel dan Raja Fredrich hanya pukulan terakhir bagi umat Islam. Keruntuhan peradabannya sendiri dimulai jauh sebelum pembantaian itu. Yaitu saat kemaksiatan dan sikap bermewah-mewah sudah menjadi hal yang merebak di antara para pembesar dan tokoh masyarakatnya.

 

6. Jihad. Negara Madinah dipertahankan dan dikokohkan eksistensinya bukan hanya dengan doa dan munajat saja. Kemenangan Rasulullah saw bukanlah kado dari langit yang diantar lewat malaikat yang mengetuk rumah kaum muslimin. Semuanya adalah buah dari keringat dan darah yang membanjir menyuburkan bumi. Dari sejak perang pertama yaitu perang Badar pada tahun ke-3 hijriah hingga perang terakhir di masa Rasulullah saw yaitu perang Tabuk ada 27 pertempuran yang harus dihadapi oleh kaum muslimin. Jika dirata-rata berarti tiga bulan sekali para sahabat harus berjihad mempertahankan risalah kenabian. Maka jika virus kelemahan telah menggerogoti umat Islam, jihad dipersepsi sesuatu yang menakutkan dan keji, umat Islam termakan virus media dan fitnah yang dilancarkan musuh-musuh Islam, saat itulah seperti kata ABu Bakar Ash Shidiq: Allah menjadikan hidup mereka hina dan dihinakan. Sehingga kita lihat ke depannya, dari zaman khalifah setelahnya Umar bin Khatab hingga Salahuddin Al Ayubi dan Muhammad Al Fatih, jihad menjadi platform dari kepemimpinan Islam. Dan dengan jihad itulah keadilan dan kasih sayang Islam sebagaimana misi ultimatenya sebagai rahmatan lil alamiin bisa terwujud secara hakiki.

 

 

bersambung

 

 

Diinspirasi dari audiobooks Imam Anwar Al Awlaki: Abu Bakar Al Shidq chapter 7

Catatan Pembelajar Ke-sekian: Ulah Balil (Just Do It)!

Bismillahirrahmanirrahiim..

Iklan Nike “Just Do It”

 

Sudah lama saya tidak menulis. Saya sendiri tidak yang apa penyebab pastinya. Boleh jadi tidak ada satu faktor dominan. Semacam campuran dari segala perasaan dan hambatan untuk menulis. Sebut saja; takut untuk disebut sebagai orang yang gak punya integritas karena kelakuannya masih jauh dari tulisannya, perasaan ingin sempurna dengan menulis sebuah tulisan terhebat yang pernah ada, rasa takut untuk mendapat pujian yang berbuah ujub (bangga) jika saya menulis lalu tulisan itu disukai banyak orang, minimnya olah jiwa dan pikiran yang menjadi gudang inspirasi, kurangnya bahan bacaan atau input yang menjadi bibit bagi lahirnya ide dan gagasan, hilangnya kegalauan di mana dulu menulis dijadikan pelarian untuk mengobati rasa galau akibat jodoh yang tak kunjung hadir, dan lain sebagainya. Kalau begitu sebut saja berbagai alasan ini dengan satu kata lugas: malas. Karena pemalas akan bisa menemukan seribu satu pembenaran atas kegagalannya. Kadang beda-beda tipis memang antara pembenaran seorang pemalas dengan introspeksi diri seorang pembelajar.

Kalau begitu ada satu mantra yang suka dikatakan oleh teman saya Si Gumi saat mengundang saya silaturahmi ke kantornya (baca: tanding PES) dan memotivasi saya untuk segera datang: “Ulah Balil!” yang artinya: ulah loba lila (jangan banyak lama) yang jika dimaknai dengan lebih elegan bermakna: “bersegeralah!”, “berlomba-lombalah!”, “bergeraklah”, dan lain sebagainya. Tadinya malam jumat ini mungkin sama seperti malam-malam sebelumnya beberapa bulan terakhir, nihil tulisan. Padahal pada suatu hari saya pernah bercita-cita bahwa menjadi apa pun saya kelak, saya harus meninggalkan karya berupa tulisan. Apa pun profesi saya kelak, saya ingin menjadi penulis. Tidak perlu saya membahas panjang lebar tentang faedah atau manfaat dari menulis karena sudah banyak orang membahasnya. Yang pasti saya ingin menjadi penulis karena yang pertama saya suka menulis dan yang kedua menulis itu bermanfaat besar sekali bagi saya dan orang lain di dunia dan akhirat. Barangkali sama menyenangkannya seperti saya maen PS pake Barca lawan si Gumi yang pake Madrid, tapi bedanya menulis mah berlimpah manfaat, maen PS mah hampir “plus plos” antara manfaat dan madharatnya.

Sungguh tidak ada mantra yang lebih hebat saat terbersit di hati ini sebuah niat baik selain “just do it”. Dalam kumpulan hadits Arbain, Imam Nawawi memasukan sebuah hadits di mana Rasulullah saw bersabda (yang intinya) jika di hati timbul niat berbuat baik maka baginya sudah dicatat (satu) kebaikan yang sempurna. Maka banyak-banyaklah kita mengisi hati dan pikiran ini dengan niat-niat yang baik. Rencana-rencana yang baik. Karena saat ide, rencana, dan niat baik berseliweran maka tinggal menunggu salah satunya berbuah menjadi tindakan. Dan Allah mencatat satu kebaikan lagi atasnya. Ibarat kita menyemai benih. Suatu saat ia akan berbuah. Dan mantra yang akan membawa bibit itu segera berbuah ialah “just do it”. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran,

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS 3: 133-134)

Saari’uu: bersegera, just do it. Di ayat lain difirmankan dengan kata saabiqu: berlomba-lomba. Di surat At Taubah Allah swt menyebutnya infiruu: berangkatlah

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS 9:41)

Para mufasirin bahkan menjelaskan bahwa kata infiruu (berangkatlah) di sini memiliki akar kata yang semakna dengan “anak panah yang terlepas dari busurnya”. Bisa dibayangkan betapa kuat dan memotivasi pilihan kata yang digunakan dalam ayat ini. Maha suci Allah. Dan demikian contoh yang diajarkan para sahabat yang mulia bagaimana mereka mengaplikasikan perintah-perintah Allah atau pun niat-niat baik yang ada di hatinya. Ingat kisah Handzalah yang tidak menunggu mandi janabat dulu untuk pergi ke medan Uhud selepas malam pertamanya. Perhatikan pula respon ‘Umair bin Al-Humam ra tatkala beliau mendengar sabda Rasulullah saw: Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Beliau mengucapkan kata “bakh-bakh” (ungkapan takjub terhadap kebaikan dan pahala) semata-mata karena ingin menjadi penghuni surga, lalu segera membuang beberapa biji kurma yang sedang dikunyahnya sambil berkata: Jika saya hidup sampai selesai memakan kurma ini, oh betapa lamanya (menanti surga). Lalu beliau maju hingga gugur di perang Badar. (HR. Muslim – Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits no 1314).

Maka malam ini saya ingin mengucapkan selamat dan terima kasih kepada diri saya sendiri yang telah mengatakan kepada pikiran hati dan jari saya: “ulah balil!”, “hajar bleh! sikat kabeh!”, “ulah loba omong!” Walau tadinya saya tidak punya rencana mau menulis apa.
Jiwa saya tersentak, pikiran saya terbangun, jemari saya pun menari lagi. Alhamdulillah.

Bandung, 10 Mei 2012.

Dedicated to si tuan, Mang Gumi

Musim Semi di Arab

 

I used to rule the world

Seas would rise when I gave the word

Now in the morning I sleep alone

Sweep the streets that I used to own

 

I used to roll the dice

Feel the fear in my enemy’s eyes

Listen as the crowd would sing:

“Now the old king is dead!

Long live the king!”

 

One minute I held the key

Next the walls were closed on me

And I discovered that my castles stand

Upon pillars of salt and pillars of sand

 

Viva la Vida nya Coldplay ini selalu masuk playlist saya belakangan. Lagu ini saya persembahkan untuk Ben Ali, Husni Mubarrak, Qadhafi, serta para pendahulu-pendahulu nya seperti Bush and the gang, Soeharto, Mugabe, Slobodan Milosevic, Idi Amin, Pinnochet, Mussolini, Hitler, Kemal Attaturk, serta siapa lagi kalau bukan penghulu para tiran dan diktator: Firaun.

 

Tiran ialah ironi. Di satu sisi mereka dikutuk, dibenci, dan menjadi monster bagi peradaban. Di sisi lain mereka yang paling sering dibicarakan, tak pernah lekang dalam ingatan sejarah, dan di sisi lain hati kita, biasanya ada selaksa bentuk kekaguman pada mereka. Bagaimana seorang diri bisa menentukan merah hitamnya dunia. Sebab tiran memang orang-orang hebat dalam ukuran yang netral, kapasitas, ambisi, kerja keras, dan pengaruh mereka sangat besar dan berlimpah. Satu kata dari lidahnya, satu jentikan jarinya memebelokan masa depan sebuah bangsa. Di sini kita bisa belajar dari para tiran. Bagaimana kekuatan itu mereka raih dan gunakan.

 

Struktur kekuatan tiran selalu tipikal, dibalik kemenonjolan bahkan pendewaan figur personalnya, sesungguhnya mereka bekerja dalam tim. Kita lihat bagaimana tiran ini bekerja. Ada kepemimpinan yang kokoh yang dimainkan negara, baik sebagai tiran yang menjajah bangsa lain maupun tiran yang mengisap bangsanya sendiri. Yang kedua, jelas ada kekuatan militer yang menjadi watching dog dan penghukum siapa saja yang mengancam keberlangsungan tirannya. Yang ketiga ialah para pengusaha yang menjadi alat pengisap kekayaan masyarakat dan akumulasi kapital si tiran. Dan keempat ada kaum agamawan sebagai stempel pengesahan tindakan tiran, baik yan berupa stempel moral dan kebenaran. Dan terakhir adalah kaum intelektual, yang memberi pembenaran ilmiah atas tindakan si tiran serta menjadi thnik tank, bank ide dan riset bagi keberlangsungan tirani.

 

Firaun ialah simbol bagi kedigdayaan kekuasaan dan kekuatan militernya. Tapi di sana juga ada sosok Qarun, pengusaha sukses minus moral. Hamman sang intelektual. Serta Bal’am, ulama penjual ayat. Begitu pun struktur tiran yang ada saat ini. Bagaimana amerika sebagai negara adidaya secara poltik dan militer. Ada wallstreet berserta supporting systemnya seperti IMF dan WTO sebagai simbol kerakusan kapitalisme. Ada ilmuwan-ilmuwan yang memberi stempel ilmiah atas segala kreasi kerakusan tiran. Serta ada kaum agamawan yang, celakanya, ada di semua agama tapi menyerukan ajaran yang sama; HAM, demokrasi, dan kebebasan yang atas namanya lah perang amerika untuk menguasai sumber daya alam dilakukan. Mereka memiliki dan menguasai semuanya kecuali satu: kebenaran. Atau kita lihat contoh yang paling dekat di negara kita. Ada satu provinsi yang semua sumber dayanya dikuasai oleh satu keluarga. Dengan segala cara mereka mempertahankan kekuasaannya. Dan kita lihat bagaimana akibatnya bagi dareah itu.

 

Maka benarlah kata Umar, tunggu lah bencana menimpa saat orang-orang jahatnya kuat dan orang-orang baiknya lemah. Tapi Allah punya rencana lain, selama ada di anatara umatnya yang gigih dan setia mempertahankan keimanannya, Allah tidak akan membinasakan mereka. Asalkan orang-orang beriman itu istiqamah dan tidak menyerah dalam keadaan serta sabar dalam kondisi yang sulit. Allah yang merencakan dengan rencana yang jauh lebih besar dan hebat dari para tiran itu.

 

Firaun telah membunuh semua bayi Bani Israil karena takut dari sana lah akan muncul seseorang yang menumbagkan tiraninya. Semua bayi di bunuh, kecuali satu, dan satu-satunya bayi yang tidak dibunuh itulah yang menumbangkannya. Subhanallah, maha besar Allah dengan kehebatan rencananya.

 

Maka siapa yang menayangka, Musim semi di Arab terjadi begitu saja. Tahun lalu para diktator itu masih dengan kokohnya bercokol di singgasananya. Hanya seorang pedagang buah, ya pedagang buah di Tunisia, yang mengawali semuanya. Aksi protesnyalah yang membakar api keberanian di seantero Arab untuk mengubah nasibnya. Satu demi satu penguasa yan ditakuti itu tumbang. Ben Ali hidup di pengasingan, Mubarrak menjadi pesakitan yang terbaring di bangsal Rumah Sakit, serta Qadhafi yang menjadi seperti tikus yang bersembunyi di gorong-gorong lalu dibunuh oleh (mungkin) seorang remaja yang bukan siapa-siapa.

 

Begitu hebat dan mudahnya rencana Allah, dengan cara yang tak dapat dipahami akal manusia sebelumnya, aksi seorang tukang buah yang membakar dirinya. Tapi sesungguhnya itu semua bukanlah sesuatu yang gratis yang datang dari langit. Ini semua ibarat laut yang terbelah saat Nabi Musa melarikan diri. Selayaknya yang kita perhatikan adalah bagaimana kesabaran dan perjuangan Nabi Musa dari awal beliau menerima wahyu hingga hari itu, beliau terdesak di laut merah. Ini semua adalah perjuangan yang mendatangkan ridha Allah. Saat Allah cinta dan ridha, tak akan kita disia-siakanNya. CintaNya membuahkan pertolongan dan keberkahan yang mengagumkan.

 

Begitu pula yang saya yakini dengan apa yang terjadi. Semua ini ialah buah dari kesabaran dan ketakwaan penduduk negeri Arab yang tetap istiqamah dalam tekanan dan kesulitan. Bayangkan, dulu di Tunisia seorang penduduk tidak boleh shalat di masjid selain masjid yang ditentukan oleh pemerintah. Di Mesir seorang mahassiwa Al Ahzar tidak bisa masuk ke kampusnya selain untuk urusan akademik dengan pemeriksaan yang ketat. Ini lah buah dan pertolongan Allah atas ulama-ulama yang dipenjara, disiksa, dan diusir dari negerinya. Dan kini gerakan Islam menjadi fajar kemenangan atas kangkangan tirani.

 

Kemarin di Tunisia Partai An Nahdhah yang dipimpin Syaikh Rasyid Ganouchi memenangi suara mayoritas dalam pemilu pertama yang adil dan jujur. Di Mesir Partai Keadilan dan Kebebasan yang didirikan oleh harakah Ikhwanul Muslimin insyAllah menyusul. Libya insya Allah tidak akan membiarkan dirinya dijadikan kroco bagi AS dan sekutunya. Terakhir beberapa tokoh pemimpin Libya sudah menyatakan bahwa Libya akan menjadi negara Islam. Dan bagi sisa para tiran Arab lain yang belum jatuh, musim semi di Arab masih berlangsung, dan Viva la Vida nya coldplay pun masih ada lanjutannya:

 

It was the wicked and wild wind

Blew down the doors to let me in

Shattered windows and the sound of drums

People couldn’t believe what I’d become

 

Revolutionaries wait

For my head on a silver plate

Just a puppet on a lonely string

Oh who would ever want to be king?

 

Surabaya, 28 Oktober 2011

Metamorfosis

 

Ada dua syair, dua-duanya judulnya metamorfosis. Yang pertama ialah puisi karangan Sapardi, yang kedua lirik rapnya Thufail Alghifari. Dua seniman yang sangat berbeda latar belakangnya. Sapardi adalah sastrawan akademisi yang juga guru besarnya Fakultas Sastra UI. Thufail algifary adalah seorang mualaf pemegang microphone yang meneriakan lirik-lirik rap cadas, tapi ini rap dakwah, musiknya keras dan liriknya “brutal”. Beliau nampaknya lebih tepat disebut dai musis nyeleneh. Silakan simak kedua syair metamorfosis ini:

 

Metamorfosis

 

 

ada yang sedang menanggalkan

kata-kata yang satu demi satu

mendudukkanmu di depan cermin

dan membuatmu bertanya

 

tubuh siapakah gerangan

yang kukenakan ini

 

ada yang sedang diam-diam

menulis riwayat hidupmu

menimbang-nimbang hari lahirmu

mereka-reka sebab-sebab kematianmu

 

 

ada yang sedang diam-diam

berubah menjadi dirimu

 

-Sapardi Djoko Dhamono-

 

 

 

Metamorfosis

 

Menjadi karanglah meski itu tidak mudah

Sebab ia akan menahan sengat sinar mentari yang garang

Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah

Melawan bayu yang keras menghembus

Dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan

Sebab keteguhannya akan menahan hempasan badai

yang datang mengerus terus menerus

ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus

ia akan berdiri tegak berhari – hari, bertahun tahun berabad – abad

tanpa rasa jemu dan bosan

 

Menjadi mutiaralah meski itu juga tak mudah

sebab ia berada di dasar samudera yang dalam

sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan tangan manusia

sebab ia begitu berharga

sebab ia begitu indah dipandang mata

sebab ia tetap bersinar meski tenggelam dikubangan yang hitam

 

Menjadi pohonlah yang tinggi menjulang meski itu tidak mudah

sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala disetiap siangnya

ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar

ia akan terus menjejaki bumi hadapi gemuruh sang petir

sebab ia hujamkan akar yang kuat menopang

untuk menahan gempita hujan yang coba merubuhkan

dan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengeyangkan

sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung – burung yang singgah di dahannya lalu berikan tempat berlindung dengan rindang daun – daunnya

 

Menjadi pauslah meski itu juga tak mudah

sebab dengan sedikit kecipaknya ia akan menggetarkan ujung samudera

sebab besar tubuhnya akan menaklukan musuh yang coba mengganggu

sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya

 

Menjadi melatilah meski tampak tak bermakna

sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan

ia begitu putih seolah tanpa cacat

sebab ia tak takut hadapai angin dan hujan dengan mungil tubuhnya

ia tak pernah iri melihat mawar yang segar merekah

dan tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi

ia tak pernah dengki dengki dan rendah diri pada keanggunan anggrek dan tulip yang berwarna warni

dan tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya

 

-Thufail al Ghifary-

 

 

Selamat bermetamorfosis sahabatku. Terus belajar dan memaknai setiap hari perjalanan kita. Hidup ini sia-sia tanpa pembelajaran dan pemaknaan. Jangan menyerah. Jangan biarkan lingkungan yang menentukan seperti apa dirimu. Jangan biarkan keterbatasan mengkerdilkan dirimu. Jangan biarkan engkau menjadi tidak seperti apa yang engkau kehendaki. Sebab Allah maha dekat dan maha mengetahui. Jangan biarkan kelemahan memutuskan harapan dan tali pengaduan kita kepadaNya.

 

 

Surabaya, 27 Oktober 2011.

Minallah, Ma’allah, Ilallah

 

“Barangsiapa yang menjadikan dunia ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran (kemiskinan) menghantui kedua matanya dan Allah tidak memberinya harta dunia kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya (dengan tunduk).”  (HR Ibnu Majah)

 

Jika ada emas sebesar gunung yang seorang manusia miliki. Tetap saja hal itu tidak akan membuatnya puas. Dunia ibarat air laut. Jika kita meminumnya, bukanlah dahaga yang hilang, tapi haus itu akan makin bertambah, dan makin diminum makin bertambah hausnya. Sehingga ia mati karenanya. Dunia jika menjadi orientasi hidup sungguh akan membuat kita terpuruk dalam kehinaan, kegusaran, dan kehampaan hidup. Ujungnya ialah penyesalan. Firaun yang diberikan kekuasaan hingga mencapai keangkuhan manusia yang tiada tara hingga mendeklarasikan dirinya “akulah tuhan-mu”. Ia mati dalam kehinaan. Qarun yang diberikan harta berlimbah mengakhiri hidupnya dengan kesombongan “semua harta ini karena kepintaran dan keahlianku”. Namanya dicatat sebagai peringatan bagi para hartawan sepanjang zaman.

 

Menjadi seorang Muslim yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidup memiliki orientasi yang jauh dan murni dari sekedar remah-remah duniawi. Jika dibandingkan dengan bangkai seekor anjing, bahkan dunia lebih hina dari itu. Demikian nasihat Rasulullah saw kepada sahabatnya dalam sebuah perjalanan. Apakah kita memilih suatu tempat yang penuh kubangan lumpur yang kotor dan orang-orang berkubang di sana, berebut lumpur yang mereka sangka emas. Sungguh kita telah tertipu dan menanggalkan akal sehat kita jika demikian adanya. Sedangkan di sebelahnya ada tempat yang mulia, luhur, dan penuh cahaya dan kesucian.

 

Menjadi muslim bukan berarti mengabaikan urusan dan kepentingan dunianya. Menjadi muslim bukan berarti kehilangan semangat untuk memupuk kesempatan dan kemudahan hidup. Bukan berarti kehilangan ambisi, cita-cita, dan rencana untuk berbuat dan bermakna di dunia. Jika demikian, maka ia telah gagal memahami teladan hidupnya yang agung. Yang menjadi ruh, inti hidup, pusat kehidupan, titik berangkat, dan tujuan akhirnya ialah TuhanNya.

 

Minallah, ma’allah, ilallah.. Dari Allah, bersama Allah, menuju Allah.

 

Dari Allah kita ada dan kepadaNya kita kembali. Kita lahir ke dunia dalam satu perjanjian yang agung, pernyataan tauhid sejak di alam barzah. Kita diciptakan dengan tiupan ruhNya, kita membawa sifat-sifatNya yang agung dan suci. Dalam diri kita ada fitrah untuk mengasihi, menyayangi, mencipatakan, berkarya, melindungi, dan semua sifat Allah yang tentu saja dalam keterbatasan dan kelemahan. Dalam fitrah kita juga ada potensi tanah, duniawi, yang dengannya manusia bisa melanjutkan keberlangsungannya di dunia. Kita lahir dalam sebuah kemuliaan, dengan amanah besar yang ditolak oleh makhluk lain untuk menjadi khalifah. Yang dengan potensi dan kemuliaan itu malaikat sujud hormat kepada manusia. Maka sudahkah kita memandang diri ini sesuai dengan tujuannya diciptakan. Sudahkah kita mengingat dan menjadikan hakikat hidup kita sebagai landasan, titik keberangkatan dari semua cita-cita dan ambisi kita. Sudahkah kita selalu mengingat hal ini sebagai identitas dan konsep diri kita. Jika belum, barangkali suatu saat engkau akan ditegur olehNya, karena engkau sedang berdiri di atas pijakan yang rapuh.

 

Ma’allah, bersama Allah. Dalam perjalanannya manusia tidak dibiarkan dan ditelantarkan. Bumi dan seisinya ialah sarana dan nikmat yang Allah anugerahkan. Dan yang lebih besar lagi sebagai bukti kasihnya, tidaklah kita dibiarkan hidup dalam kebingungan tentang bagaimana menjalani hidup ini. Ada tuntunan dan jalan bagaimana hidup kita semestinya yang akan membawa manusia dalam harmoni dan kebahagiaan. Ada utusan yang menebarkan cinta dan kasih sayangNya, yang berat terasa oleh beliau penderitaan dan kesulitan yang manusia alami saat mereka berpaling dari petunjuknya. Amat menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi seluruh manusia. Yaa ayyuhal mustafa, shallu’alaihi wa salam. Sertakan Allah selalu dalam hidupmu maka engkau akan merasa aman dalam setiap langkahmu. Gantungkan semua harapan dan cita-citamu kepada Ia yang maha kuat, maka engkau akan yakin bahwa engkau akan mendapatkan yang terbaik. Serahkan semua urusanmu kepada Allah, maka engkau akan tenang karena engkau bersama Pemilik dan pengatur segala urusan. Ada Allah yang menjaga dan memeliharamu. Ia tak akan membiarkan hamba yang dicintainya dalam kesedihan. Hidupmu akan ringan, tentram, dan harmoni.

 

Ilallah, menuju Allah. Apalah arti hidup ini. Apa arti angka enam puluh, tujuh puluh. Apakah itu akan sekedar menjadi penanda waktu kehidupan usiamu. Hendak kemana diri kita, untuk apa semua ini? Orientasi lah yang membedakan nilai apa yang sedang dan ingin kita lakukan. Untuk apa semua kepandaian, keuasaan, dan harta yang engkau miliki. Untuk apa semua susah payah yang engkau jalani dalam peran-peranmu? Engkau hanya tanah dan akan kembali pada tanah? Suatu hari di akhir usiamu akankah engkau berpikir bahwa hidup ini hanya sekelebat waktu dhuha atau sore saja? Atau engkau merasa lebih baik mati muda atau tak usah dilahirkan sama sekali? Tragis sekali, sebuah tragedi kehidupan yang dialami ornag-orang yang kehilangan tujuan. Hanya berkutat dan berputar-putar tanpa arah. Hanya dengan orientasi, tujuan yang jelas maka hidupmu akan bermakna. Di akhir hidupmu engkau akan menyadari bahwa nikmat dan kasih sayang Allah yang paling besar ialah bahwa kamu pernah dilahirkan ke dunia.

 

Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi)

 

 

Surabaya, 25 Oktober 2011

Hadirmu

Di penghujung malam yang paling kelam dan dingin,

engkau lah fajar itu..

Di penghujung hari yang panjang dan memeras peluh,

engkaulah jingga senja itu..

 

Mengantarku pada rehat dan zikir

Mengisi ruang yang kosong di hati

engkau menggenapkannya

Manjadikan paripurna dien ku

Terberkahilah dengan limpahan ilmu dan rizki

 

Semua kasih yang begitu saja terucap

Seperti air hujan yang menetes,

seringan hembusan nafas

 

Ada gelombang yang menggemuruh dalam jiwa

Gelombang yang kekuatan dan apinya  belum pernah ada

Sebelum engkau ada di hidupku

 

Agar menjadi kata dan laku bagi aku, kamu, kita

Meniti jalan menuju cinta dan ridha-Nya

Menyemai cinta di tanah abadi tempat pulang nanti

 

 

Duri, 7 Juli 2011

00:30

Hari ini Tiga Belas Tahun yang Lalu

Pancasila dasarnya apa..

Rakyat adil makmurnya kapan..

Pribadi bangsaku..

Enggak maju-maju, enggak maju-maju, enggak maju-maju..

-Lagu yang ngetrend 13 tahun lalu-

Hari ini tiga belas tahun yang lalu saya adalah seorang anak kelas enam SD yang sedang hobi-hobinya sepak bola. Tidak ada hari tanpa sepakbola, jam sekolah dan jam belajar tidak boleh mengganggu jam sepakbola, tidak ada TV tanpa siaran bola dan tidak ada bagian dinding di kamar yang bersih dari poster sepakbola. Bahkan hari ini 13 tahun yang merupakan hari pelaksanaan EBTA saya masih bermain bola di stadion Ciputat, tepat di sebelah SD saya, SDN Ciputat II.

Tapi ada yang berbeda di hari itu. Tiba-tiba angkot siang itu tidak ada yang beroperasi, padahal paginya berangkat ke sekolah saya masih naik angkot putih jurusan Jombang-Ciputat tersebut. Toko-toko pun tutup dan massa mulai bergerombol di beberapa titik. Lalu dari orang-orang saya dengar desas desus bahwa toko-toko mulai dijarah dan ada SPBU yang dibakar. Saya dan teman saya tentu saja ketakutan dan karena tidak ada angkot berlari secepat mungkin pulang ke rumah. Padahal jaraknya lumayan jauh, sekitar 4 kilo. Siang hingga sorenya tetangga saya ramai-ramai pergi ke Ciputat untuk menjarah toko cina katanya. Pulang ke rumah membawa berbagai macam barang-barang “impian” mereka selama ini. Ada yang membawa alat-alat elektronik, sembako, maupun fashion dan sepatu/ sandal. Tetangga saya membawa pulang sekarung Sepatu dari Ramayana yang hangus terbakar. Dan setelah dibuka di rumah ternyata sepatu pajangan toko yang ia jarah semuanya hanya sepatu sebelah kanan.

Saya tidak tahu apa yang terjadi hari itu di Ciputat, sebuah kota satelit Ibu Kota yang masuk Kab Tangerang dan terkenal akan kesemrawutannya itu. Yang jelas saya menonton berita di TV kemarin bahwa empat orang mahasiswa Trisakti meninggal dunia tertembak peluru aparat. Dari TV juga saya menyaksikan berita bahwa mahasiswa bersama masyarakat demo meminta Soeharto mundur. Menuntut sembako murah. Dan sebuah kata indah yang menjadi mimpi masyarakat kita saat itu terdengar gemuruhnya kian kuat: REFORMASI!

Krisis Moneter juga secara langsung terasa oleh keluarga sederhana kami. Bapak saya di-PHK sehingga untuk menyambung hidup selama hampir dua tahun (hingga mendapat lagi pekerjaan yang sesuai) bapak melakukan ini dan itu. Mulai dari mencoba beternak cacing, bertani tomat, beternak domba, hingga jualan jaket/ aksesori kulit yang dibelinya dari Garut. Sedangkan Ibu juga membantu dengan berjualan pakaian kredit yang dibelinya dari grosir di Pasar Tanah Abang atau Pasar Induk Cipulir.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit hikmahnya ialah empati saya yang masih kecil itu mulai terasah. Jika selama ini biasanya kami menggunakan Bis kelas Eksekutif untuk pulang ke Bandung maka pada saat itu karena tidak punya uang kami berlangganan naik Kereta Ekonomi Galuh jurusan Tanah Abang – Banjar via Stasiun Kiaracondong Bandung yang harga tiketnya sepertiga Bis Eksekutif. Dan tentu saja waktu tempuhnya pun tiga kali lebih lama dengan kenyamanan ala kelas ekonomi. Benar-benar merasakan hidup sebagaimana rakyat Indonesia sebagian besar. Bersama orang-orang kecil di Kereta Api Ekonomi; pengemis, gelandangan, pedagang asongan, tukang sapu-sapu, dan penumpang lain yang senasib hidupnya ialah pengalaman berharga yang Allah berikan dalam rangka mendidik saya.

Selain itu pun kehidupan dalam krisis ekonomi juga mengajarkan kami arti syukur, bahwa kebahagiaan tidaklah diukur dari nominal atau keberadaan materi, melainkan keberkahan dan nikmat yang Allah berikan. Jika sebelum krisis Ibu saya yang hobi masak selalu menyiapkan menu mewah di rumah maka pada saat itu daging adalah menu yang sangat langka. Saya masih ingat bahwa di masa-masa sulit yang dialami rakyat itu, Allah tidak pernah membiarkan hambaNya kelaparan. Barangkali kita masih ingat bahwa antara tahun 1997-1999 di pasar banyak sekali penjual ikan sejenis Sarden yang diberi nama “Ikan Krismon”. Dinamakan Ikan Krismon karena tiba-tiba hadir di masa krismon dengan jumlah yang berlimpah dan haganya pun harga krismon, seingat saya Rp. 500/ kg. Bahkan lebih murah dari tahu tempe sekalipun. Ikan krismon itulah masakan favorit ibu saat itu.

Soeharto, bapak presiden Indonesia yang tersenyum. Saat SD kami menghapal semua menterinya. Menghapal wakil-wakil nya dari awal sampai zaman Sudarmono, Try Soetrisno, lalu Habiebie. Menghapal butir-butir Pedoman Pelaksanaan dan Penghayatan Pancasila (P4) atau Eka Prasetya Pancakarsa. Menghapal pembukaan dan batang tubuh UUD 45. Menyaksikan acara kelompencapir di TVRI. Marah-marah setiap layar emas RCTI dipotong Dunia Dalam Berita. Saya yang tidak tahu bahwa presiden ternyata bisa berganti.

Yang saya ingat saat itu Soeharto, Golkar, dan Cina menjadi dua pihak yang sangat dibenci di tahun 1998. Kata-kata asing seperti krismon atau reformasi jadi sangat populer. Mahasiswa menjadi superhero saya menggantikan Kotaro Minami. Dan dinding kamar saya pun bertambah variasinya tidak hanya sekedar poster bola yang didominasi Juventus dan Liverpool, tapi kini ada poster Amien Rais dan foto-foto Reformasi 1998. Dua poster terbaik yang saya suka ialah foto Gedung DPR yang atapnya sedang diduduki secara harfiah oleh mahasiswa yang berwarna-warni serta foto zoom jendela Univ Trisakti yang tertembak peluru. Saya yang baru akan masuk SMP itu rupanya larut dalam kegembiraan Bapak saya yang pada saat Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, beliau bercucuran air mata bahagia.

Tidak lama setelah itu saya baru tahu alasan Bapak saya bahagianya nampak lebay saat Soeharto turun. Rupanya Bapak saya ialah salah satu dari sekian juta pewaris sah negeri ini yang terdzalimi dalam kurun 32 tahun Soeharto berkuasa. Syahdan saat itu Bapak saya sedang ujian akhir (EBTA) SMK tahun 1982 dipanggil ke ruang kepala sekolah. Beberapa orang berambut cepak menjemputnya, dan sejak hari itu hingga dua setengah tahun kemudian tidak pernah pulang lagi ke rumah. Bapak saya diculik lalu dipernjara di tahanan militer Cimahi tanpa proses peradilan apapun. Hanya karena Bapak saya terlibat aktif dalam pengajian di Mesjid Istiqamah Bandung. Tiga bulan pertama tanpa pemberitahuan apapun ke pihak keluarga dan disekap di ruangan 2 x 1 tanpa pernah melihat matahari. Dibarengi dengan interogasi yang tidak beradab. Ada teman Bapak saya yang meninggal, ada yang cacat fisiknya, ada yang cacat mentalnya sekeluar dari penjara tanpa pengadilan itu.

Rupanya Bapak saya tak sendirian, ada ribuan lain yang dipenjara dengan satu kata keji: subversif. Ada siswi-siswi yang diancam dan dikeluarkan dari sekolahnya karena menggunakan jilbab seperti ibu mertua saya. Ada jutaan hektar tanah yang digusur atas nama pembangunan. Ada ratusan orang terbunuh di Tanjung Priok tahun 1984. Ada pembantaian di Talangsari Lampung. Ada ribuan dibunuh dan diperkosa di Aceh. Ada jutaan yang dibunuh saat transisi berdarah dari Orde Lama ke Orde Baru. Dan di atas itu semua disusunkanlah Repelita dan Pelita, Kabinet Pembangunan I hingga sekian. Dilakukan inpres. Dwifungsi ABRI. Kopkamtib. Pembangunan tinggal landas. Pembangunan manusia Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Dibangun irigasi dan jalan raya. Di atas itu semua Soeharto tersenyum. Harmoko cengar-cengir. Dan Ibu Tien membangun TMII.

Bapak saya menjadi satu dari jutaan rakyat Indonesia yang merayakan reformasi. Untuk pertama kalinya bapak saya mau lagi berpartisipasi dalam aktifitas politik dengan menghadiri deklarasi PAN yang didirikan idolanya yaitu Pak Amien. Tapi kemudian menjadi ketua DPRa PPP Desa Serua Indah karena diminta para tetangga. Dan mencoblos PBB di Pemilu 1999 karena dirasa paling meneruskan perjuangan Masyumi. Saya sendiri mencoret nama Alessandro Del Piero menjadi Prof. Dr. H. Amien Rais, MA. di kolom idola saya saat itu.

Catatan Pembelajar (13): Jadilah Saja Dirimu

be the best whatever you are

if you can’t be a pine on the top of the hill,

be a scrub in the valley — but be

the best little scrub by the side of the rill;

be a bush if you can’t be a tree.

if you can’t be a bush be a bit of the grass,

and some highway happier make;

if you can’t be a muskie then just be a bass —

but the liveliest bass in the lake!

-Be The Best of Whoever You Are, Douglas Malloch,

Dipopulerkan oleh Martin Luther King-

….

Halow. Apa kabar manteman, kengkawan, dan lurdulur saparakanca? Alhamdulillah, kemarin saya sudah mulai menulis lagi, dan hari ini saya meneruskan Catatan Pembelajar-nya. Terakhir saya menulis ialah tanggal 24 Januari 2011, lima hari sebelum hari yang terindah itu. Artinya sudah hampir satu caturwulan saya tidak menulis, waktu yang cukup lama untuk berhibernasi. Nampaknya takdir Allah pada tanggal 29 Januari 2011 telah mengubah hidup saya. Ada seorang yang kini menjadi sumber inspirasi, kedamaian, dan kekuatan. Kebahagiaan yang membuncah rupanya telah terlalu mengaktivasi sistem limbik kepala saya yang mengatur emosi dan perasaan sehingga menghambat kinerja neo-korteks. Saya kini percaya apa yang dibilang Bang Rhoma, “Cinta itu sungguh me..ma..bu..kan..!”.

Kalau dalam studi tentang sistem kita belajar bahwasanya suatu sistem yang berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain akan mengalami dua periode yaitu; transient, di mana sistem berubah dan yang kedua ialah steady-state (keadaan tunak) di mana sistem sudah berada di kondisi baru yang stabil. Maka rupanya saya mengalami periode transient dalam kondisi yang disebut dengan “underdamped” yaitu kondisi sistem yang tidak stabil, berosilasi hingga ia mencapai steady state-nya. Mari kita menulis, yuk marii..

underdamped transient

Baiklah catatan saya hari ini terinspirasi dari tempat nongkrong saya malam-malam sepulang job di Duri yaitu Nasi Goreng Buyung dan Es Jus Geng. Warung nasi goreng buyung ini buka semalam suntuk dari maghrib sampai subuh. Pelayanannya excellent; penjual ramah penuh senyum, tempat duduk luas dan bersih, serta ekstra cepat. Tidak ada satu pun restoran fast food di dunia yang bisa mengalahkan nasi goreng buyung. Hitungannya detik kawan, dari mulai kita memesan sampai nasi goreng tersaji di hadapan kita! Rasa nasi gorengnya khas, disajikan dengan telur dadar renyah, daun selada, serta cuka manis dengan irisan cabe rawit: tidak ada duanya di dunia fana ini. Dengan kualitas demikian hebatnya kita hanya membayar sepuluh ribu rupiah. Murah untuk ukuran Duri yang kota minyak.

Di sebelah Nasi Goreng Buyung ada gerobak sederhana penjual es jus. Tapi gerobak kecil tersebut tidak pernah sepi pembeli, dikomandani oleh dua orang abang-abang berusia agak lebih tua dari saya dan berpenampilan gaul. Biasanya orang Duri sini punya panggilan gaul “geng!”, contoh cara memesan jus seperti ini: “terong belanda-nya cie diminum di siko Geng!”. Maka mereka saya kasih nama Es Jus Geng, padahal tidak ada label nama di gerobak es jusnya.

Yang spesial dari Es Jus Geng adalah kualitas jusnya. Pure one hundred percent fruit, dengan susu kental manis. Tidak ditambah air sedikitpun, gula, apalagi bahan pengawet dan pewarna buatan. Aneka macam jus tersedia. Dan ibarat bartender, si geng ini berani berimprovisasi dengan mencampur-campur racikan buah. Favorit saya adalah es jus pelangi yang berwarna merah, kuning, hijau yang terbuat dari terong belanda, mangga, dan alpukat. Harganya delapan ribu perak saja! Alhasil kedua geng itu selalu ceria melayani pelanggan yang tiada habisnya yang sebagian besar adalah pelanggan nasi goreng buyung juga. Sebuah konsinyasi dagang yang jenius dan memenangkan hati konsumen.

Pernah ada di benak saya bahwa kesuksesan hidup diukur dari karya, prestasi, penghargaan, pencapaian, ucapan terima kasih, atau bahkan gelar kepahlawanan. Betul bahwa menjadi orang besar, menjadi seseorang yang dikenang bisa menjadi motivasi yang kuat bagi kita untuk bekerja keras dan berusaha. Obsesi menjadi pahlawan ibarat kafein yang akan membuat kita terus tersadar dalam perjalanan menyeret langkah demi langkah. Tapi hati-hati kawan semua itu bisa menjadi jebakan betmen yang tiba-tiba harus membuat kita merestart hidup.

Satu kekeliruan yang saya sadari sekarang ialah mengukur kesuksesan dengan parameter-parameter objektif yang kasat mata. Padahal setiap orang telah diciptakan dengan qadar yang berbeda-beda. Setiap orang tidak akan dibebankan melainkan menurut kesanggupannya. Ketakwaan pun tidak ada yang standar untuk semua orang, bagi setiap orang ketakwaan ialah “fattaqullaha mastatha’tum” bertakwalah menurut kesanggupanmu. Dan saat dihisab nanti kita akan diminta pertanggung jawaban masing-masing. Sendiri-sendiri sesuai dengan amal yang dihitung di atas ruang hisab masing-masing yang berbeda untuk tiap jiwa.

Apakah menjadi anggota DPR lebih berharga dari sekedar menjadi tukang nasi goreng? Jika menjadi anggota DPR hanya membuat orang kesal karena arogansinya dan miskin empati. Jika menjadi anggota DPR hanya menjadi bahan lelucon yang memalukan karena kekurangkompetenannya. Jika menjadi anggota DPR menjadi fitnah yang membuatnya bergelimang harta haram dari suap, gratifikasi, dan perkoncoan. Jika menjadi anggota DPR membuat lidahnya beracun seperti ular dengan janji-janji palsu. Maka menjadi anggota DPR adalah suatu hal yang hina. Rendah. Mengerikan sekali. Celaka dunia akhirat.

Adapun tukang nasi goreng itu tiap malam menyediakan makanan yang halal dan baik bagi makhluk-makhluk kelaparan. Memberikan pelayanan dan kebermanfaatan, menggembirakan banyak orang dengan pelayanannnya yang tulus dan ramah. Lalu dari keringatnya ia bisa menafkahi keluarga sehingga Istri dan anaknya ridha. Dan semua itu dilakukan sepanjang hidupnya dengan niat yang ikhlas serta tidak melalaikan kewajiban shalat lima waktu maupun zakat dari perniagaannya. Tukang nasi goreng ini ahli surga insya Allah. Selamat dunia akhirat.

Sungguh Allah tidak akan melihat manusia dari harta dan rupanya. Melainkan dari hati dan perbuatannya. Barangsiapa dalam hatinya selalu rindu kepada kebenaran dan kebaikan, maka hidupnya akan berakhir dalam keadaan yang baik. Apakah menjadi seorang pejuang yang mati di medan laga akan lebih mulia daripada seorang pelacur yang bertaubat? Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada yang mati berjihad di membela agama dan Allah mencampakannnya ke neraka. Tapi ada seorang pelacur yang masuk surga karena Allah ridha atas amalnya memberi minum anjing yang hampir mati kehausan.

Mari kenali terus diri kita. Sesungguhnya ilmu dari segala ilmu ialah ma’rifat kepadaNya. Dan salah satu jalan berma’rifat kepada Allah ialah dengan berma’rifat kepada diri sendiri. Seperti yang disampaikan oleh Ali karamallahu wajhah;

Man arafa nafasaha arafa rabbaha..

Barang siapa mengenal dirinya ia akan mengenal Tuhannya

Setiap kita dilahirkan di tempat tertentu. Perjalanan hidupnya khas. Isi kepalanya tidak ada yang sama. Setiap dari kita unik. Dan Allah telah menganugerahi nikmat yang berbeda-beda. Kita diciptakan dengan kondisi yang terbaik untuk diri masing-masing. Andai ada yang dilahirkan tanpa organ tubuh yang lengkap tetap itu adalah kondisi yang terbaik baginya. Karena nikmat Allah berbeda-beda, pun ujiannya. Di atas itu semua Allah maha adil. Manusia lah yang bodoh dan sombong sehingga mengatakan Tuhan tidak adil.

Maka bersyukurlah atas semua yang telah kita lalui dan dapatkan. Minta ampun atas nikmat yang kita sia-siakan. Hadapi hidup dengan penuh kebahagiaan. Karena bukan “Saya bahagia maka saya bersyukur”, melainkan “Saya bersyukur maka saya bahagia”. Bukan “Karena saya sukses maka saya gembira”, tapi “saya gembira maka saya sukses”. Demikian kata-kata istri saya yang selalu saya ingat.

Jadilah saja diri kita sebaik-baiknya. Terus beramal dan kenali diri. Jangan terkena jebakan betmen dengan menjadikan apa yang sarana sebagai tujuan di mimpi-mimpi kita. Sebab parameter kesuksesan yang sejati dan objektif hanya dua; pertama, menjadi hamba Allah yang baik, dan kedua menjadi khalifah di muka bumi dengan segala peran dan ukurannya. Jika peran kita “hanya” menjadi seorang budak, jadilah budak terbaik seperti Bilal bin Rab’ah. Jika peran kita “hanya” menjadi seorang pembantu, jadilah pembantu terbaik seperti Zaid bin Haritsah.

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

 

 

Duri, 15 Mei 2011

Belukar yang Tumbuh di Tepi Danau

Catatan Pembelajar (12): Resiko Para Pemimpi

“Kita kalah ma”, 

“Kita telah melawan nak, nyo, sebaik-baiknya, sebenar-benarnya”

(Nyai Ontosoroh kepada Minke, Bumi Manusia -PAT-)

Dari film-film bertemakan hero atau epik ada beberapa yang saya sukai antara lain Spiderman, The Dark Knight, The Last Samurai, dan Trilogy Lord of The Ring. Apa kesamaan dari film-film tersebut? Semuanya menampilkan sosok si pahlawan dalam cita rasa yang sangat manusiawi. Dalam spiderman dikisahkan beliau pun sempat menjadi jahat. Imannya tergoda oleh syahwat kekuasaan karena merasa diri sebagai superhero. Setan pun membisiki nya untuk menyimpang dari fitrah kepahlawanannya dengan godaan kostum warna hitam yang lebih jago namun penuh dengan syahwat dan ketamakan, hingga akhirnya Spiderman bermuhasabah dan melakukan taubatan nasuha. The Dark Knight berhasil mengobati kemuakan saya terhadap superhero Hollywood yang selalu digambarkan berlebihan. Kali ini Batman menghadapi musuh yang lebih tangguh darinya hingga ia sendiri mengalami frustasi, serta sahabatnya pun akhirnya menjadi musuhnya (two faces). Ending-nya juga cukup “make sense” dan manusiawi bagi saya.

The Last Samurai menceritakan tentang Nathan Algren, seorang desersi pemabuk dari Amerika yang harus dikirim ke Jepang untuk mengajar tentara Jepang menggunakan senjata. Di sana ia bertemu seorang Samurai bernama Katsumoto yang menolak perubahan besar-besaran dalam tubuh kekaisaran Jepang waktu itu atau yang dikenal dengan Restorasi Meiji. Selanjutnya yang menjadi sentral cerita peperangan adalah Katsumoto yang akhirnya pun mati. Nathan Algren tidak menjadi apa-apa, ia pulang ke negerinya tidak sebagai apa-apa. Sedangkan LOTR menggambarkan kepahlawanan kolektif, menihilkan seorang superhero yang bisa membuat perbedaan dan melakukan semuanya sendirian. Bahkan tokoh sentralnya ialah malah tokoh yang paling lemah; Frodo Bagins si Hobbit yang hanya memiliki satu hal; ketulusan.

Tapi yang terbaik dari yang terbaik menurut saya ialah Braveheart yang menceritakan pahlawan orang-orang Skotlandia; William Wallace. Apa yang membuat saya memilih Braveheart sebagai film epik yang terbaik dari yang terbaik? Alasannya satu; karena jagoannya kalah dan mati di akhir. Perjuangannya ditumpas, pengikutnya pun binasa. Epik ini keluar dari pakem hollywood (juga sinetron) di mana pahlawan harus menang di akhir episode. Kematiannya pun tragis (tidak sebagai Katsumoto di Last Samurai yang musuhnya pun berlutut padanya saat ia mati), ia mati dengan siksaan sangat keji waktu itu dalam hukum kerajaan Inggris di zaman King Edward I yaitu; hanged, drawn, and quartered. Yaitu digantung (tidak sampai mati), dikeluarkan isi perutnya serta dipotong alat vitalnya, serta terakhir dibunuh dengan cara dibelah empat tubuhnya. (Terlalu sadis? Tentu saja, ingat bung ini zaman “The Dark Age of Europe” saat sejarah kemanusiaan dan akal sehat ada di titik nadirnya).

Mengapa Braveheart (bagi saya) sedemikian menyentuhnya dan terasa sebagai epik yang manusiawi sekali? Karena berbeda dengan film-film lain di atas, William Wallace adalah pahlawan yang memang pernah ada dalam sejarah Britania Raya. Dan demikian juga pahlawan-pahlawan (bagi bangsanya masing-masing) yang ada dalam ingatan kita; Che Guevara yang mati ditembak dalam gerilya di Hutan Bolivia, Tan Malaka yang makamnya entah di mana dan negerinya belum merdeka sepenuhnya. Sayyid Quthb yang syahid di tiang gantungan sang tiran saat gerakannya diberangus, Hasan al Banna yang syahid dengan berondongan peluru saat organisasi yang didirikannya masih berumur sangat muda, Dr Abdullah Azzam yang syahid dalam bom mobil saat Aghanistan yang diperjuangkannya masih dalam kangkangan Uni Sovyet, Syekh Ahmad Yassin yang hingga hari ini Palestinanya belum menemukan titik terang, dan masih banyak lagi. Dalam sejarah, sebagian besar mereka yang kita kenal sebagai pahlawan mati sebelum melihat mimpinya menjadi nyata. Sedikit sekali dari mereka yang menikmati buah mimpinya saat itu juga.

Kita lihat pula dalam sirah perang khandaq, Rasulullah saw pernah berjanji bahwa “Istana Romawi, Istana negeri Syam, Istana Kisra di Persia akan ada di tangan Umat Islam”. Apakah Rasul saw menyaksikan mimpi itu menjadi kenyataan? Atau pun di generasi orang-orang yang saat itu mendengar langsung mimpi itu? Tidak!.

Majalah The Economist bulan Desember kemarin memberi laporan menarik tentang GNH (Gross National Happiness) atau “indeks persepsi kebahagiaan”. Ini semacam alat ukur alternatif dari alat-alat ukur konvensional yang digunakan dalam ilmu ekonomi konvensional ataupun pengambilan kebijakan seperti pertumbuhan ekonomi, produk domestik bruto, pendapatan per kapita, dan sebagainya. Menarik karena yang diukur adalah perasaan sejumlah orang yang disurvei yang tentu saja sangat subjektif. Bukan sesuatu yang matematis seperti uang atau barang yang terukur besarannya. Dan sejumlah subjektifitas ini digabungkan menjadi sesuatu yang dianggap objektif dan general. Pastinya banyak bias di sana sini dan tidak bisa digeneralisasi secara mutlak, tapi parameter ini bagi saya tetap menarik untuk dibicarakan. Salah satu pelopor parameter ini ialah Presiden Perancis Nicholas Sarkozy yang meminta bantuan dua orang nobelis ekonomi; Amartya Sen dan Joseph Stiglitz.

Sekarang saya tidak akan berbicara lebih detil tentang semua isi laporan tersebut, melainkan hanya satu poin saja. Yaitu indeks kebahagiaan dibandingkan terhadap umur (rentang kehidupan). The Economist menyajikan data yang menarik, yaitu kurva indeks kebahagiaan terhadap usia ialah berbentuk U. Indeks kebahagiaan berada di nilai yang tinggi mulai dari usia kanak-kanak hingga sebelum usia 20. Lalu mulai usia 20-an kurva nya terus turun terjun bebas hingga mencapai titik nadirnya di usia 30-40. Lalu nilainya tetap rendah walau perlahan meningkat hingga di akhir usia 40-an. Lalu kembali naik tajam seperti nilai sebelumnya di umur belasan.

Apa yang menarik dari kurva tersebut? The Economist dengan analisisnya yang lebih lanjut menyimpulkan bahwa usia 20-40 an di mana pada umumnya orang tidak bahagia. Di masa itu seseorang penuh dengan ambisi, cita-cita, dan target yang harus dikejar. Kebahagiaan dikalkulasi dan dikuantifikasi menjadi nilai dan ukuran-ukuran tertentu. Ada yang berambisi mencapai jenjang karir tertentu, ada yang mengkuantifikasikannya dalam sejumlah uang, ada yang mengukurnya dengan target gelar akademis tertentu. Dan saat itulah pada umumnya orang merasa jauh tidak bahagia dibanding masa kanak-kanaknya yang “fearless” maupun masa tuanya yang “less expectation and more acceptance”

Bagi saya Laskar Pelangi adalah novel yang luar biasa. Maaf, lebih dari sekedar novel, ialah dian yang menyalakan asa anak-anak negeri ini untung mau bermimpi, bercita-cita. Namun tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Andrea Hirata, mari kita refleksikan Laskar Pelangi ini ke kehidupan kita di negeri ini. Saya tidak hendak memadamkan optimisme melainkan saya ingin mengajak berpikir realis dan objektif, agar kaki kita tetap berpijak di tanah.

Apakah anda juga seperti saya yang meyakini bahwa ada banyak laskar pelangi-laskar pelangi lain di negeri ini dalam bentuknya masing-masing. Saya percaya bahwa ikal, lintang, dan sahabat-sahabatnya ialah simbol dari apa yang terjadi di negeri ini. Simbol dari anak-anak bangsa yang ada di pelosok negeri, mereka yang punya mimpi dan cita-cita. Sama seeprti saya, kamu, dan kita semua dulu waktu masih kecil. Yang bermain dan bermimpi sama seperti laskar pelangi itu. Lalu diceritakanlah Arai dan Ikal yang berhasil menemuakn mimpinya “menjejakan kakinya di altar pengetahuan sorborne”. Dan saat memaca novel itu hati saya menangis saat membaca cerita Lintang yang berakhir hanya sebagai “orang biasa”, tanpa mengurangi rasa hormat saya, sebagai pekerja galangan kapal.

Saya menangisinya karena saya rasa Lintang ialah gambaran yang lebih nyata dan terjadi pada lebih banyak anak negeri ini, daripada Ikal dan Arai. Pendidikan yang mestinya menjadi kendaraan mobilitas sosial yang adil dan egaliter telah menjadi bagian dari sistem untuk melanggengkan kemapanan, saat orang-orang miskin tidak mendapatkan keadilan untuk mengaksesnya dengan kesempatan yang sama. Maka mandul lah peran pendidikan dalam hal ini. Maka jadilah lingkaran setan kemiskinan di mana orang-orang miskin menjadi tetap kekurangan gizi karena tidak punya uang, dengan kondisi gizinya yang buruk ia tidak bisa belajar dengan baik dan bahkan ia pun sulit menjangkau sarana pendidikan yang baik itu, karena lemah dalam pendidikannya maka kaum miskin tetap miskin karena tidak bisa lebih produktif lagi. Inilah negeri ini. Negeri yang tidak memihak pada Lintang dan jutaan teman-temannya

….

Masihkah aku berani bermimpi?

Duri, 24 Januari 2011

Catatan Pembelajar (11): Memaknai Makna

Awalnya adalah simbol atau gambar, manusia menyalurkan instingnya untuk berkomunikasi. Mungkin agar pesannya bisa mengatasi keterbatasan waktu, di mana komunikasi verbal hanya terjadi di saat itu saja lalu hilang seiring keterbatasan memori manusia untuk mengingat dengan utuh. Dalam rentang sejarah berwujudlah pesan itu lebih dari sekedar gambar-gambar nyata seperti hewan, manusia, ilustrasi kejadian, dsb (seperti yang ditemukan para arkeolog di goa 2 peninggalan manusia purba). Grafika itu berubah menjadi simbol-simbol abstrak dalam bentuk yang baku serta bunyi yang sama yang kita kenal dengan alfabet (huruf).

Saya tidak tahu bagaimana awalnya sebuah gambar segitiga dengan garis di tengahnya disepakati untuk dibunyikan dengan mulut terbuka sambil tenggorokan mendorong nafas yang menggetarkan pangkal mulut. Lalu simbol setengah lingkaran yang bertumpuk disepakati untuk dibunyikan dengan cara merapatkan bibir lalu dibuka dengan menghentak sambil menghembus nafas. Dan gambar lingkaran penuh dibunyikan dengan memonyongkan bibir lalu paru-paru mendorong udara yang menggetarkan rongga mulut. Serta garis tegak dibunyikan dengan cara me-nyengir-kan mulut. Lebih aneh lagi kombinasi grafik-grafik tersebut: BABI BOBO dipahami orang sebagai “hewan gendut berkaki empat yang berbunyi nguk-nguk sedang diam istirahat sambil memejamkan mata”. Dan bagi saya lebih aneh lagi mengapa hanya orang yang hidup di kepulauan dekat khatulistiwa di Asia Tenggara saja yang memahami delapan grafik berderet tersebut secara demikian. Bagi orang yang tinggal di belahan bumi utara yang mengalami empat musim maka deretan grafik tersebut tidak memiliki arti apa-apa. Untuk sementara saya tidak akan mencari tahu lebih lanjut jawaban atas kebingungan saya karena sejauh ini saya tidak (belum) memiliki minat untuk belajar lingusitik secara lebih mendalam. Cukuplah kebingunan ini menjadi sarana buat saya untuk bertasbih “Maha suci Alah yang telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan berbahasa-bahasa”.

Keajaiban itu berlanjut lagi, grafik-grafik itu menjadi alat bagi akal pikiran manusia menemukan wujudnya, agar bisa terwujud dalam bentuk yang nyata. Grafik-grafik itu ada yang menjadi pendorong orang lain untuk berbuat ini dan itu. Ada juga yang akhirnya menjadi benda-benda baru yang tidak ada dalam kehidupan manusia sebelumnya. Bahkan deretan grafik tersebut ada yang menjadikan manusia membunuh sesamanya, berperang, mendirikan negara, membuat aturan-aturan dan sebagainya. Sebagaimana deretan-deretan grafik itu juga menjadi sarana bagi Tuhan menyampaikan pesanNya (panduan hidup) bagi manusia melalui utusanNya. Bahkan karena deretan grafik inilah manusia ada yang selamat dan ada yang celaka. Ada yang menjadi mulia ada yang dihinakan.

Simbol (grafik) tersebut ialah yang kita kenal dengan huruf, rangkaiannya disebut dengan kata, kata merangkai kalimat. Kalimat membangun bermacam teks; pidato, resep masakan, undang-undang, jurnal ilmiah, novel, surat cinta, puisi, kitab suci, dan banyak lagi. Ibarat tubuh yang kasat mata, yang menghidupkan tubuh itu adalah ruh. Maka demikian pula kata, yang hanya bisa hidup, memiliki arti, jika ada makna di sana. Makna inilah yang bersumber dari esensi dan fitrah kemanusiaan; akal dan perasaan.

Seperti kata guru olah raga SD saya “men sana in corpore sano” yang artinya saya modifikasi menjadi; di dalam kata yang baik terdapat makna yang kuat. Orang yang memiliki makna (akal dan perasaan) yang baik tentu akan mewujud dalam kata yang baik pula. Dan sebaliknya, orang yang berinteraksi dengan kata yang baik akan menjadikan makna (akal dan perasaan)-nya menjadi kuat. Oleh karena itu Rasulullah saw menjadikan perkataan sebagai tolak ukur keimanan;

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam (Hadits)

Serta gambaran surga digambarkan juga dengan kenikmatan terhindar dari perkataan yang sia-sia,

Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. (An Naba: 35)

Kali ini saya mengutip beberapa puisi Sapardi Djoko Dhamono. Saya ingin belajar memaknai makna. Lebih dari sekedar apa yang tersurat, melainkan apa yang yang ada di dalamnya. Agar saya bisa belajar untuk lebih memahami akal dan merasai perasaan. Barangkali puisi-puisi Sapardi berikut sedang menemukan maknanya.

….

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang

semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening

siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening

karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,

dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang

hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya

mengajukan pertanyaan muskil kepada angin

yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung

gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,

yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu

bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan

terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang

turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat

di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya

di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,

yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit

yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia

demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi

bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan

keselamatanmu

(Sapardi, Dalam Doaku)

akulah si telaga

berlayarlah di atasnya

berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil

yang menggerakkan bunga-bunga padma

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya

sesampai di seberang sana tinggalkan begitu saja

perahumu biar aku yang menjaganya

(Sapardi, Akulah si Telaga)

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi, Hujan bulan Juni)

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput

nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini

ada yang masih ingin kupandang

yang selama ini senantiasa luput

sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi

(Sapardi, Hatiku selebar daun)

Duri, 17 Januari 2011


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.