Posted by: Muhammad Rihan Handaulah | January 28, 2010

The Pioneers (Para Pelopor)

Suatu hari, tanggal 19 April 2009. Saya diwisuda. Di sana saya bersalam-salaman dengan Pak Djoko Santoso yang sudah bukan rektor lagi. Juga bersama Pak Muhammad Nurdin yang baru saja menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Tenaga Listrik, Tak lupa tentunya sejuta doa dan syukur terpanjat kepada Allah yang Maha Kuasa beserta do’a kebaikan untuk kedua orang tua saya beserta orang-orang yang selalu baik pada saya. Saya diwisuda dengan gelar yang cukup mentereng “Lulusan terbaik program studi Teknik Tenaga Listrik, Sekolah Teknik Eektro dan Informatika ITB” yang diberikan oleh kawan-kawan elektro 2004 kepada saya.

Apakah karena IP saya yang mepet empat? Tidak, IP saya hanya tiga tipis, IP para pencari kerja. Apakah saya tergolong mahasiswa cemerlang bergelar cum laude? Tidak, malah saya masuk golongan cum melud, atau cam belut, atau ka laut. Apakah saya seorang mahasiswa teknik yang jago sekali dengan karya-karya terbaik yang dipersembahkan UntukMu Tuhan, bangsa, dan almamater? Tidak, menyolder saja saya tidak bisa. Apakah karena IP semesteran yang selalu tinggi? Tidak dua semester saya nasakom (nasib satu koma), alhamdulilah enggak milipen atau boxy. Apakah karena para dosen suka kepada saya karena saya aktif dan jago di kelas? Tidak, bahkan kadang saya punya prinsip “kalo masih punya jatah dua puluh persen absen kuliah kenapa harus masuk”. Dan sederet kisah kelam nan suram penuh penyesalan yang tidak layak dicontoh oleh kalian wahai generasi muda harapan bangsa.

Lalu mengapa saya sampai digelari sebagai “Lulusan terbaik program studi Teknik Tenaga Listrik STEI ITB” oleh kawan-kawan? Rahasianya adalah karena saya lulusan pertama Program Studi Teknik Tenaga Listrik ITB, selain yang pertama juga satu-satunya yang diwisuda di bulan April 2009. Itu kuncinya. Waktu itu Jurusan Teknik Elektro baru saja dipecah ke tiga proram studi: Teknik Tenaga Listrik, Teknik Telekomunikasi, serta Teknik Elektro itu sendiri. Dan para mahasiswa dibebaskan memilih apakah pindah ke jurusan yang baru sesuai bidangnya ataukah tetap menggunakan cap jurusan asal waktu masuk (Teknik Elektro). Sebagian di antaranya termasuk saya memilih pindah ke yang baru. Dan dari beberapa yang pindah itu hanya saya lah yang menyelesaikan TA duluan dan satu-satunya yang diwisuda April 2009.

Hikmah (serius mode: ON)

Walau kisah saya di atas tidak terlalu relevan dengan tausiyah berikut, tapi tak mengapa lah. Semoga saja nyambung. (Pokokna sambung-sambungkeun sakumaha maneh weh lah).

Maka jadilah yang pertama jika anda ingin menjadi yang terbaik dan amalnya terus abadi. Jika saya menyebut bola lampu, siapa sosok yang akan terbayang di benak anda? Thomas alva Edison pastinya. Walau saya yakin sekali bahwa bola lampu buatannya sangat “ceudeum” nyalanya. Gak ada apa-apanya dibanding lampu PHILIPS SL jaman sekarang. Jika saya menyebut nama pesawat, siapa sosok yang anda bayangkan? Saya yakin nama yang terbayang adalah Wright Bersaudara. Walau pesawatnya hanya sanggup ngapung beberapa ratus meter saja dengan model reyot yang memprihatinkan, dan jika kita banding dengan insinyur-insinyur di Research and Development-nya Boeing, pasti Wright bersaudara gak ada apa-apanya.

Dua contoh barusan memberi kita pelajaran bahwa ia yang menjadi pionir, pelopor, perintis, atau inspirasi bagi lahirnya amal-amal lain setelahnya, maka sekurang apa pun ia, tetap ia akan dikenang sebagai yang terbaik. Karena ia menjadi salah satu alasan bagi setelahnya untuk beramal demikian.

Rasulullah saw pernah bersabda, “sekiranya engkau menginfakan emas sebesar bukit Uhud tetap tidak akan bisa melebihi amalnya Abu Bakar”. Mengapa demikian, karena kita semua umat Islam setelah zaman sahabat semuanya berhutang budi pada mereka. Coba apa yang menjadikan kita semangat untuk berinfak, salah satunya adalah jika kita mengingat kisah bagaigaman infaknya Abu Bakar yang menginfakan seluruh hartanya atau kisah Utsman yang menginfakan 700 ekor unta lengkap dengan barang dagangan di punduk nya. Apa yang menjadi inspirasi kita untuk berani, salah satunya jika kita mengingat kisah perang badar. Apa yang membuat kita semangat untuk beribadah, salah satunya adalah dengan mengingat kualitas ibadahnya Umar bin Khatab di mana beliau meng-iqab (menghukum) dirinya untuk menginfakan kebunnya gara-gara ketinggalan shalat ashar berjamaah saat mengurus kebunnya tersebut.

Apakah anda pernah melihat langsung bagaimana seorang pelopor bekerja? Alhamdulillah Allah telah mempertemukan saya dengan dua orang pelopor. Yang satu saya pernah membersamainya selama hampir tujuh tahun. Yang kedua saya hanya melihatnya bekerja dari jauh, tapi saya tahu betul bagaimana beliau bekerja dari sahabat-sahabat saya yang mengalami langsung hidup dengan beliau. Kesamaan keduanya adalah mereka sama-sama bekerja berjuang untuk dakwah sekolah di kota Bandung. Yang pertama bekerja di dakwah sekolah SMA (SMA 3 Bandung), yang kedua bekerja di dakwah sekolah SMP (SMP 5 Bandung). Yang pertama adalah Kang Har, yang kedua adalah Kang Arya.

Kang Har adalah alumni SMA 3 angkatan ‘89. Terpaut 15 tahun dari saya yang angkatan 2004. Tidak ada prestasi atau label-label duniawi yang mentereng pada beliau, kecuali pernah menjabat sebagai ketua OSIS SMA 3 yang disebut-sebut sebagai salah satu kepengurusan OSIS terbaik yang pernah ada. Atau pun amanah-amanah mentereng di organisasi dakwahnya. Hidupnya sangat bersahaja dan rumahnya pun sederhana. Belum bisa dikatakan mapan dalam kaca mata duniawi untuk lelaki seusianya. Tetapi jarak 15 tahun terbentang antara saya dengan beliau tidak menyurutkan semangatnya untuk selalu datang ke mentoring DKM Al Furqan di Masjid Masi’inas shalihin, hari apa saja kita mau beliau selalu siap. Bahkan seringnya beliau yang harus menunggu anak-anak pengurus DKM yang datang nyusul mentoring karena mementingkan Liga BM di mana saya salah satu di antaranya (maklum, striker tajam, tangguh, dan terpercaya yang selalu berkontribusi gol di setiap pertandingan semenjak saya SD dan oleh karena itu teman-teman saya waktu SMP memanggil saya “owen”). Aduh, hampura kang. Kemudian di kelas 3 saya mengajak (tepatnya menjerumuskan atau menyesatkan) kawan-kawan aktivis kesiswaan SMA 3 untuk datang ke acara yang diberi nama “diskusi tentang kepemimpinan dan organisasi dengan seorang alumni senior yang pernah jadi ketua osis”, padahal intinya mah ngajakin mentoring lalu UUL (ujung-ujungnya liqa), yang kemudian berlanjut selama empat tahun di sebuah pertemuan rahasia di sebuah tempat rahasia yang diberi kode TXTL7. Alhamdulillah, mereka yang terjebak ikut acara diskusi kepemimpinan dan organisasi itu, yang dulu masih ABG labil dan pada bobogohan, dengan sentuhan kesabaran dan kematangan Kang Har, kini menjelma menjadi Mujahid-mujahid gagah dengan segenap impian dan amalnya masing-masing.

Ada sebuah momen paling berkesan yang saya alami bersama beliau. Waktu itu saya sedang muda, jaya, dan bergelora-bergeloranya sebagai ketua Dep Tarbiyah DKM AF. Sebagai penanggung jawab kegiatan INTIFADAH (Intensive Training for Accelerated Dakwah) ,yaitu kaderisasi untuk anggota kelas satu DKM AF, saya merencanakan acara long march Ujung Berung – Lembang – Dago. Dan tanpa ragu saya meminta bantuan beliau untuk melakukan survey lapangan dan tanpa ragu beliau pun meng-iya-kan. Berangkatlah kami berdua, saya dibonceng dengan motor Suzuki Crystal tuanya, menyusuri jalan-jalan berbatu melalui pedesaan dan kebun-kebun melalui rute yang direncanakan itu seharian. Hingga hari ini saya masih tak habis pikir, apa yang membuat beliau begitu ikhlas membantu saya menyediakan waktunya khusus seharian buat saya di waktu itu dengan perjalanan yang melelahkan. Padahal jika mau, lebih baik beliau melakukan aktivitas lain yang lebih “menguntungkan” daripada mengantar seorang saya yang bukan siapa-siapanya di hari itu. Padahal jika mau beliau bisa mendelegasikan ke alumni-alumni lain yang lebih muda dan secara tradisi memang punya kewajiban mengurus organisasi kesiswaan di SMA 3.

Selain saya tentu saja banyak lagi aktivis-aktivis yang berasal dari SMA 3 yang sudah merasakan tangan dingin kesabaran dan kematangan tarbiyah Kang Har. Sepak terjang Kang Har selama hampir 20 tahun di SMA 3 “berakhir” di penghujung bulan Ramadhan dua tahun lalu, karena beliau “ditugaskan” menggarap lahan dakwah lain. Namun teruslah kerja beliau berlanjut dengan para murabbi muda yang insya Allah sesetia dan setangguh beliau membina SMA 3. Kali ini mungkin orangnya tidak ada, tetapi sahamnya terus memberikan “passive income”, amal jariyah, pahala yang terus mengalir dari amal-amal kebaikan orang-orang yang telah dibinanya. Juga keistiqamahannya yang terus diingat dan diceritakan dari generasi ke generasi menjadi inspirasi bagi yang lain untuk teguh dan istiqamah di jalan kebenaran ini.

Yang kedua adalah Kang Arya, alumni SMP 5 dan SMA 3 juga, angkatan 1998. Jika saya menyebut Kang Har sebagai pemegang saham terbesar dakwah sekolah SMA, maka boleh lah saya katakana bahwa Kang Arya ini adalah pemegang saham terbesar dakwah sekolah SMP di kota Bandung. Kang Arya yang juga sempat merasakan sentuhan pembinaan kang Har ini ialah sosok perintis yang membangun Rohani dari sebuah kegiatan ekstrakurikuler biasa menjadi organisasi dakwah yang menggurita ke SMP-SMP lain di kota Bandung. Tercatat sudah enam SMP yang saat ini dinaungi oleh bendera Itsar yang dulunya hanya Rohani dengan anggota berjumlah hitungan jari.

Adalah sahabat saya Aa Iwa dan Aa Badra, serta setelahnya ada Aa Yahbul yang termasuk generasi-generasi awal merasakan totalitas Kang Arya mempersiapkan imperium dakwah SMP. Dan untuk itu ia membutuhkan kader inti yang tangguh dan loyal. Dibuatlah kegiatan Pendidikan Kader Rohani (PKR) yang melegenda itu selama beberapa angkatan. PKR ialah program tarbiyah/ kaderisasi dengan format pendas, belakangan saya tahu dari dokumen-dokumen PKR serta pengalaman saya mengikuti pendas Wanadri, bahwa PKR banyak mengadopsi pola pendas Wanadri tentu saja dengan substansi berbeda dan adaptasinya sendiri. Bayangkan saja, anak sekecil mereka (anak SMP) sudah diberi pendidikan semacam itu. Tentu banyak memakan “korban” baik yang berjatuhan saat kegiatan maupun setelahnya. Namun hasilnya tentu paten. Lihat saja sosok seorang Aa Iwa yang selalu menjadi natural leader baik di SMA 3 maupun di ITB. Atau Aa Yahbul yang setia dengan adik-adiknya. Buah totalitas pastilah kualitas.

Belakangan saya membaca pikiran Kang Arya yang ingin mengubah pola Kang-Arya sentris menjadi organisasi yang lebih kokoh berbasis pada system, bukan figur. Maka didirikanlah lah Itsar yang mencoba lebih inklusif dan membumi, PKR pun diganti dengan kaderisasi yang lebih natural bagi anak SMP. Namun karakter yang melekat pada beliau itu tidak pernah luntur; totalitas. Pernah saya suatu hari saat mengisi mentoring di Al Kautsar melihat beliau sedang ngobrol dengan binaannya anak SMP 5. Saya melihat sekilas anak SMP itu seperti membicarakan sesuatu dengan kertas-kertas berserakan di antara keduanya. Saya heran mengapa malah seorang anak itu yang bicara ke kang Arya bukan sebaliknya seperti layaknya mentoring. Saya pun curi-curi dengar ingin tahu hingga betapa terkejutnya saya setelah mengetahui bahwa anak SMP itu sedang presentasi ke beliau tentang suatu kegiatan atau rencana yang akan diadakan oleh Rohani dan beliau mengkritisinya. Tidak asal presentasi rencana kegiatan, ia sudah menggunakan analisis-analisis dan matriks-matriks yang anak mahasiswa ITB pun belum tentu terbiasa dengan kebiasaan macam itu di organisasinya. Saya dalam hati cuma berkomentar nakal, “edun eta budak rek dikumahakeun, karunya leutik keneh geus dibere nu kitu, dasar si kang Arya teu kagok edan”. Ternyata memang begitulah totalitas beliau dalam mempersiapkan kader terbaik untuk dakwah SMP nya. Tidak hanya berakhir di pertemuaan liqa’at pekanan. Namun juga terus berlanjut ke pertemuan-pertemuan khusus denagn kurikulum ekstra berdasarkan kebutuhan kadernya. Dan tentu saja totalitas itu ada harganya. Setahu saya orang sehebat Kang Arya sangat layak untuk menjadi tokoh selevel Presiden KM ITB atau amanah bergengsi lainnya, namun beliau memilih bekerja diam-diam jauh dari riuh rendah pujiaan maupun sederet baris pengalaman mentereng di Curiculum Vitae.

Tentu saja dua sosok pelopor tersebut terlalu singkat untuk saya ceritakan di sini. Banyak mutiara kecemerlangan mereka yang bisa digali lagi baik dengan langsung mengenalnya maupun dengan menggali kisah lebih banyak dari orang-orang yang membersamainya. Maka belajar dari dua orang ini ada beberapa poin yang bisa dijadikan pelajaran. Bagi anda yang juga memiliki obsesi untuk menjadi seorang pelopor.

Pertama, seorang pelopor ialah seorang yang memiliki visi dan kecerdasan lebih jauh dari zamannya. Karena suatu amal rintisan tidak mungkin terlihat hasilnya dalam hitungan bulan atau bahkan satu dua tahun. Seberapa jauh perencanaan  kerja yang dibuat seseorang menunjukan level kepemimpinannya. Kita lihat dalam hirarki organisasi bisnis bahwa staf paling rendah hanya membutuhkan perencanaan harian. Staf lebih tinggi merencanakan operasional mingguan atau bulanan. Level supervisor merencanakan periode kuartal. Manajer merencanakan rencana tahunan. Direksi merencanakan lima tahunan. Maka para perintis biasanya orang yang memang memiliki kualitas kepemimpinan dan visi yang tertinggi dalam level kepemimpinan. Maka level kepemimpinan tertinggi tersebut saya menyebutnya kepemimpinan profetik atau al qiyadah an nubuwah. Yaitu kepemimpinan yang tujuan dan motivasinya seperti apa yang menjadi tujuan dan alasan para nabi berjuang. Di mana perencanaan perjuangannya berakhir hingga seumur umatnya itu sendiri.

Kedua, seorang pelopor memiliki totalitas dalam kerjanya. Karena ia membuat sesuatu dari nol. Ibarat petani yang membuka sawah di hutan lebat. Ia harus memilih lahan yang paling baik, lalu membuka lahan tersebut, menyiapkan tanahnya, menyiapkan pengairannya, membagun petak dan pematangnya, menyiapkan bibit, pupuk, lalu mengurusnya hingga panen. Atau seperti Bill Gates yang memilih total mewujudkan mimpinya membangun Microsoft daripada menamatkan kuliah di Harvard. Ia harus total bekerja mewujudkan visinya tadi. Tidak mungkin sesorang bisa bekerja dengan totalitas tanpa memiliki visi dan mimpi, dn tidak mungkin visi bisa terwujud tanpa totalitas. Banyak orang yang punya mimpi namun sedikit orang yang bisa mewujudkannya, karena mimpi zonder totalitas hanya angan-angan. Saat orang lain terlelap anda harus bekerja. Itu sulitnya. Saat orang lain meninggalkan anda harus setia. Itu sepinya. Saat orang lain menikmati anda harus memberi. Itu harganya.

Ketiga, maka inilah konsekuensi dari mimpi dan totalitas tadi, yaitu pengorbanan. Para pelopor selalu yang berkorban paling besar. Dalam teori organisasi kita mengenal yang namanya siklus Forming -> Storming -> Norming -> Performing. Dalam bisnis kita mengenal yang istilahnya learning cost, atau biaya pembelajaran karena rugi di awal-awal saat bisnis tersebut belum established. Dalam teori dinamika mekanik kita mengenal yang namanya gaya gesek statik yang selalu lebih besar dari gaya gesek dinamik, di mana kita harus memberi gaya dulu melampaui gaya gesek statik tersebut hingga akhirnya benda bergerak dan gaya keseknya pun tutun ke nilai gaya gesek dinamiknya. Begitulah sunatullah kehidupan ini, “pepeuriheun heula di mimiti” pahit di awal. Dan tentu inilah kerja para pelopor dengan pengorbanannya yang besar.

Namun ada sunatullah lain, yaitu dalam bahasa kapitalisnya di perusahaan tempat saya bekerja “more day more pay, more pain more gain”. Dalam bahasa yang lebih manusiawi seperti kata Ustadz Anis Matta ,“tidaklah suatu amal disiram dengan pengorbanan kecuali buahnya adalah keabadian”. Seperti amal pengorbanan begitu besar yang dilakukan oleh abul anbiya Ibrahim khalilullah. Ia yang berkorban sendirian di lembah tak berkehidupan meninggalkan anak dan istrinya. Lalu beliau berdoa agar lembah tak berkehidupan itu menjadi tanah yang diberkahi dengan kemakmuran dan keberlimpahan buah-buahan. Jadilah doa itu makbul. Buah dari pengorbanan.

Sulitkah menjadi seorang pelopor? Tentu saja. Karena ini adalah amal utama yang sangat menggiurkan buahnya. Karena Rasulullah saw menjanjikan, “Barangsiapa merintis dalam Islam sunnah hasanah (jalan kebaikan), maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Terakhir, apalagi yang kekuatan yang mampu menahan ombak, mampu memecah batu karang, mampu membalikan gunung selain kekuatan yang lebih besar dari kesabaran. Sabar adalah jawaban bagi semua kesulitan. Wasta’inu bi shabri wa shalat.

Sabar adalah mata air kecemerlangan yang mengalirkan sikap-sikap unggul lainnya.

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35)

Inilah rahasia kekuatan terbesar para pelopor dalam perjuangannya.

Adakah cara yang paling mudah untuk menjadi pelopor? Jawabannya: ada. Dan sangat mudah. Ibnul Qayyim Al Jauziyah memberikan bocoran jawabannya:

“Suatu kebaikan akan melahirkan kebaikan yang lain”

Ya, sesederhana dan semudah itu. Mulai saja dulu. Beramal saja dulu.

Ft Worth, 28 January 2010

Seribu tabik dan doa untuk inspirasi saya: kang Har dan kang Arya (jeje).

Posted by: Muhammad Rihan Handaulah | January 28, 2010

Para Pencilan (bagian pertama)

Orang-orang sukses dan berprestasi hebat jumlahnya sangat sedikit dibanding orang kebanyakan. Hanya ada satu dua beberapa nama yang tercatat di tiap periode sejarah. Hanya ada seratus orang dari seluruh dunia yang masuk ke dalam list orang terkaya majalah Forbes tiap tahunnya. Hanya ada seratus dari milyaran manusia yang pernah hidup yang masuk dalam buku Manusia Paling Berpengaruh karya Michael Hart. Tidak banyak juga fisikawan yang namanya dijadikan nama persamaan fisika.

Apa yang terbayang saat mendengar nama-nama seperti Bill Gates, John Lennon, Michael Jackson, Isaac Newton, Einstein, Ahmadinejad, Soekarno, BJ Habibie, Barrack Obama, Susilo Bambang Yudhoyono, Steve Jobs, Michael Jordan, Zinedine Zidane? Tentunya ketenaran dan/ atau prestasi. Pasti pernah ada dalam hati keinginan untuk menjadi seperti mereka. Entah itu impian masa SD ataukah obsesi yang masih kita simpan sampai hari ini. Tidak ada salahnya kita menyimpan ambisi seperti itu karena kebutuhan untuk berprestasi atau beraktualisasi diri adalah tingkatan kebutuhan tertinggi dalam teori hirarki kebutuhannya Abraham Maslow. Dan paling mudah adalah menjadikan salah satu dari mereka atau tokoh lainnya sebagai benchmark kesuksesan kita. Dan tentunya cara pandang, latar pendidikan, atau bahkan sekedar kesamaan hobi yang menjadi faktor determinasi idola seseorang.

Maka mempelajari orang sukses adalah cara belajar yang paling efektif untuk belajar sukses. Karena ibarat naik gunung, cara termudah, tercepat, dan teraman sampai ke puncak gunung adalah dengan melalui jalan setapak yang sudah dilalui banyak orang. Mempelajari di sini ialah lebih dari sekedar mengetahui yang nampak di permukaan dan asesoris kehebatan mereka. Melainkan mempelajari bagaimana perjalanan panjang kesuksesan mereka. Karena sesungguhnya orang-orang hebat itu hanya sepenggal waktunya yang tercatat dalam sejarah dari seluruh usianya. Biasanya di akhir-akhir hidupnya atau untuk beberapa kasus seperti olahragawan hanya di usia emasnya antara 25-35 tahun. Selain itu tidak ada yang istimewa untuk diberitakan dari mereka. Namun justru di usia sebelum mereka tenar itulah yang paling bisa menceritakan mengapa dan bagaimana mereka bisa sukses. Karena puncak kesuksesan hanyalah waktu memetik buah dari bibit yang mereka tanam dan persiapkan dalam waktu yang panjang. Atau ibarat gunung es, hanya 20 persen yang nampak di permukaannya. Lebih baik lagi jika kita pun bisa mempelajari banyak kisah kesuksesan lalu mengambil benang merah dari perjalanan mereka.

Hobi saya mempelajari orang-orang sukses baru-baru ini terpuaskan dengan membaca buku yang sangat bagus dari Malcolm Gladwell, Outliers. Saya sebetulnya sudah lama tahu buku ini tapi tidak pernah berencana untuk membelinya. Hanya kemarin sewaktu transit di Changi Airport sambil iseng menghabiskan waktu saya menyambangi toko buku yang ada di sana, sekilas melihat cover-nya dan membaca paperback-nya, naluri saya mengatakan kalau buku ini harus dibeli. Jadilah 50 dolar singapura saya bayar untuk membungkus Outliers bersama dua buku yang lain untuk menjadi teman selama 12 jam penerbangan ke Kairo.

Malcolm Gladwell adalah seorang penulis yang saya menyebutnya beraliran “Breakthru”. Dua bukunya yang laris sebelumnya yaitu Blink; menceritakan tentang bagaimana keputusan penting biasanya diambil hanya beberapa detik pertama serta Tipping point; menceritakan bagaimana perubahan-perubahan besar terjadi karena hal-hal yang sangat kecil dan terlihat sepele. Maka di buku ini Malcolm Gladwell bercerita tentang bagaimana dan mengapa orang-orang sukses menjadi sukses. Seolah melawan dan menantang buku-buku “how to success” yang lain, di sini ia melakukan tinjauan dan sudut pandang yang sama sekali berbeda. Kalau penulis buku sukses dan kepemimpinan macam Sean Covey, John Maxwell, dan Antony Robin menceritakan bahwa sukses dimulai dan dibangun dari dalam diri dengan sikap proaktif, kepercayaan diri, dan keyakinan dari dalam, maka Outliers seolah menjadi antitesisnya. Di buku ini ia memandang bahwa kesuksesan ditentukan oleh faktor eksternal. Atau dalam bahasa yang lebih tinggi, kesuksesan ditentukan oleh determinasi sosial seperti latar belakang keluarga, suku bangsa, kondisi perekonomian, teknologi yang sedang berkembang, bahkan tanggal lahir. Apakah buku ini mengajak kita untuk bersikap fatalis (menyerah pada takdir) atau percaya pada primbon tanggal lahir? Tentu saja tidak sebodoh itu. Gladwell seolah ingin mengatakan pada para motivator dan trainer “how to success” bahwa bukan hanya slogan “if I think I can yes I can” yang menjadi bekal untuk sukses, tapi juga kita harus cerdas membaca zaman, lingkungan, dan dunia yang dengan ketepatan kita membaca isyaratnya akan membawa kita ke tujuan.

Pada intinya Gladwell menyimpulkan bahwa ada dua faktor yang menjadi determinan (penentu) kesuksesan orang-orang sukses, yaitu: opportunity (kesempatan) dan legacy (warisan). Gladwell memperkuat argument-argumennya dengan studi yang detil mengenai sejarah bahkan statistik beberapa kasus. Sebagai contoh; untuk menjadi pemain hoki es terbaik di Kanada dan Norwegia yang merupakan olah raga sekaligus profesi yang sangat bergengsi di sana, anda harus lahir antara bulan Januari-Maret. Apakah ini terkait masalah zodiak tanggal lahir? Tentu tidak seperti sms reg-reg-an di TV itu. Ini ialah statistik liga hoki es professional dari tahun 70-an sampai 2000-an. 80 persen pemain professional di Kanada dan Norwegia lahir di bulan Januari-Maret. Mengapa demikian? Ternyata ini bermula dari proses seleksi dan pelatihan hingga menjadi seorang pemain professional. Karir para pemain professional diawali dari usia 10 tahun. Saat itu dimulai lah proses rekrutmen pemain junior untuk disiapkan menjadi pemain professional dalam proses pelatihan yang panjang dan keras.

Lalu mengapa pemain junior yang lahir di awal tahun mendapat keuntungan? Itu karena panitia menetapkan batas umur pemain bukan berdasarkan umur nyata (bulan lahir), tetapi tanggal lahir 31 Desember sebagai perhitungan usia. Artinya mereka yang lahir di awal tahun relatif lebih tua sekitar satu tahun dibanding mereka yang lahir di akhir tahun. Satu tahun lebih tua di usia anak-anak, tidak seperti di usia dewasa, memiliki perbedaan yang sangat signifikan dalam hal kematangan dan kekuatan fisik. Katakanlah ada dua anak yang sama-sama berbakat dan berlatih keras untuk memperoleh kesempatan ini dengan skill dan teknik yang nyaris sama. Namun di kompetisi rekrutmen yang sangat ketat seperti itu perbedaan kecil saja akan membawa kesimpulan yang sangat berbeda. Maka siapakah yang akan direkrut? Tentu saja ia yang fisiknya “sedikit” lebih kuat. Maka dari sini dimulailah reputasi mereka yang lahir di awal tahun dalam pelatihan pemain es junior yang panjang, keras, dan penuh disiplin. Bisa dibayangkan bagaimana akhirnya 5 atau 10 tahun lagi antara pemain hoki yang dulu saat masih kanak hanya sedikit berbeda, 10 tahun kemudian dengan kesempatan yang berbeda 10 tahun lalu, mereka menjadi berbeda sangat jauh.

Cerita lain adalah tentang “hukum 10000 jam”. Gladwell menjelaskan bahwa untuk menguasai suatu bidang maka anda harus bekerja selama 10000 jam kontinu di bidang tersebut. Itu artinya jika kita bekerja dan belajar di bidang tersebut selama 8 jam sehari dari hari Senin-Jumat maka kita membutuhkan lima tahun menekuni bidang tersebut. Para pencilan (outliers) mengalami hal ini namun dengan mereka memulainya lebih muda dan lebih cepat menyelesaikannya dibandingkan para kompetitornya. Dan untuk bisa memulainya lebih awal dan lebih cepat, sesorang membutuhkan opportunity.

Inilah awal kesuksesan Bill Gates. Bill Gates memulai keahlian komputernya saat orang-orang lain belum mengenal PC. Sebelum membaca buku ini saya hanya tahu bahwa Bill Gates adalah mahasiswa jenius dan nekat DO-an Harvard. Namun ternyata cerita Bill Gates jauh dimulai sebelum periode Harvard dan Microsoft di awal berdirinya. Cerita kesuksesan Bill Gates dimulai dari kelas delapan (kelas 2 SMP). Ayahnya yang pengacara sukses punya uang cukup menyekolahkan dia ke sekolah swasta paling mahal di Seattle saat itu. Di tahun 1968 sekolah elit tersebut sudah memiliki klub computer. Inilah pertama kali dia belajar mengenal computer dan memrogram. Hobinya berlanjut jadi pekerjaan sambilannya saat ada kesempatan untuk bekerja paruh waktu meng-koding program untuk salah perusahaan yang ada di Seattle yang baru mulai men-develop sistem komputernya, karena saat itu memang jarang orang yang mengenal computer apalagi membuat program. Opportunity-nya terus berlanjut saat dia bisa menggunakan computer di University of Washington yang jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Setiap hari Bill Gates kecil bersama sahabatnya Paul Allen (yang juga pendiri Microsoft) bangun pukul 3 pagi lalu pergi berjalan kaki dan pulang ke rumah jam enam pagi sebelum pergi sekolah. Karena memang computer di University of Washington hanya kosong di waktu dini hari.

Dengan demikian DO-nya Bill Gates dari Harvard menjadi sesuatu yang sangat “make senses” bagi saya. Karena sebelum dia DO lalu mendirikan Microsoft dia sudah bekerja dan belajar computer selama 7 tahun terus menerus. Jadi memang Bill Gates sudah punya skill serta visi yang luar biasa yang membuatya berpikir bahwa Harvard sudah menjadi tidak signifikan lagi baginya. Sungguh suatu kesempatan dan keunggulan yang luar biasa. Anak semuda itu, di zaman komputer adalah barang yang super mahal, sudah menguasai lebih dari 10000 jam terbangnya. Mengapa bisa demikian? Jadi Bill Gates sukses bukan seperti bintang jatuh langit, melainkan kerja panjang dan melelahkan. Dan tentunya dia bisa begitu karena sekali lagi, ada opportunity, yang mungkin di zaman itu bisa dihitung dengan jari seorang anak muda dengan kesempatan demikian.

Ada cerita lain dari The Beatles. Band legendaris kesukaan saya semenjak SD. Band ini memulai debut suksesnya tahun 1964. Lalu mencapai puncaknya tahun 1970. Namun tahukah anda kapan The Beatles berdiri? 1957, tujuh tahun sebelum debut suksesnya. Dan salah satu milestone suksesnya adalah show mereka di kota Hamburg, Jerman. Di Hamburg ada sebuah lokasi di mana terdapat banyak klab dan kafe dengan live music yang biasanya mengundang band-band baru untuk bermain. Jauh-jauh datang dari Liverpool, The Beatles dalam tiga kali kunjungannya ke Hamburg total  bermain selama 270 malam, delapan jam sehari tujuh hari seminggu dengan total 1200 jam live performance! Sebuah kerja keras dan pencapaian yang luar biasa untuk mematangkan karakter musik dan kekompakan dari sebuah grup band, Jadilah mereka band yang sangat unik, berkarakter, dan memberi corak warna musik dunia. Jadi seperti Bill Gates, The Beatles tidak jatuh dari langit, bukan anak muda yang berkumpul, dapat inspirasi lagu, rekaman, lalu sukses begitu saja. Tapi buah kerja keras berdarah-darah selama tujuh tahun, khususnya dalam tiga kali kunjungannya ke Hamburg itu. Dan sekali lagi yang membawanya kepada pencapaian itu: opportunity!

Opportunity, dalam sudut pandang yang lebih luas di bahas di buku ini. Ada fenomena kesamaan para juragan IT seperti Bill Gates, Paul Allen, Steve Jobs, Hewlett, serta bos-bos Silicon Valley lainnya. Apakah itu? Yaitu tahun kelahiran mereka. Mereka lahir antara tahun 1952-1955. Mengapa demikian? Karena di tahun 1975-an adalah periode di mana PC baru mulai dikenalkan. Teknologi komputer masih bayi merahnya. Dan saat itu mereka berusia 20-an, usia puncak kreatifitas dan keberanian untuk membuat terobosan. Seandainya mereka lahir lebih cepat dari tahun 50-an, mereka sudah mapan dan mungkin tidak tertarik lagi kepada dunia baru ini. Jika mereka lahir 60-an 70-an mereka sudah menemukan dunia bisnis IT yang sudah establish sehingga mungkin “hanya” akan menjadi enjineer IT di IBM atau Microsoft.

Itulah penjelasan dari salah satu point penting buku ini, untuk sukses anda harus jeli melihat opportunity (peluang/ kesempatan), dan kesempatan itu kadang ditentukan oleh hal-hal yang berada di luar kendali diri kita. Seperti kata mutiara yang saya suka, “we are not able to control direction of the wind, but we are able control our wings riding through the wind to get our direction”.

Bersambung…

Posted by: Muhammad Rihan Handaulah | January 28, 2010

Kami Ikhwan Biasa

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian menginginkan sosok pemimpin keluarga seperti Ustadz Mutamimmul Ula, yang dalam kesibukannya, ia memberi perhatian serius terhadap pendidikan anak-anaknya. Ia yang menghidupkan al Quran dalam keluarganya. Sehingga sebagian dari sebelas anak-anaknya sudah menjadi hafidz di usia sekolah, dan sebagian yang lebih kecilnya akan segera menjadi hafidz.

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian mendambakan sosok Muhammad Natsir yang bersahaja. Yang tidak mementingkan gemerlap materi serta membangun keluarganya di atas landasan akhlak dan akidah. Ia yang menjadi perdana menteri termuda Republik Indonesia membiarkan anaknya bersepeda ke sekolah, mengenakan jas yang ada tambalan di lengannya, serta tidak memiliki rumah sendiri hingga ia meninggal.

Kami ikhwan biasa tahu sesungguhnya kalian merindukan sosok teguh Hasan al Banna, saat kalian bertanya “hendak ke mana lagi? anakmu sedang sakit” maka ia berkata, “aku tetap harus berangkat menunaikan tugas dakwah, anak kita adalah milik Allah dan Ia tidak akan menyia-nyiakannya”.

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian pun mendambakan sosok suami setulus Buya Hamka. Suatu saat dalam tabligh akbar di daerah istrinya diminta mengisi ceramah juga, lalu istrinya dalam ceramah itu hanya berkata “saya bukan seperti Buya Hamka yang tukang ceramah, saya hanya tukang masaknya”. Ia Buya Hamka yang membangun kesetaraan dalam keluarganya bukan sekedar derajat “kehebatan” pasangannya. Melainkan dari ketergantungan dan kasih yang tulus dalam memberi dan menerima. Walau pun sosok istrinya ternyata sangat bersahaja dan “biasa” saja.

Kami ikhwan biasa tahu kalian juga mendambakan sosok Abdul Azis Arrantisi, ia yang seorang ayah, ia yang berprofesi sebagai dokter anak. Ia juga yang paling ditakuti oleh zionis la’natullah hingga Apache menjadi jalan baginya menjemput syahid. Ia membuktikan ucapannya saat diwawancarai oleh seorang wartawan, “Are you afraid to die? Whether you die by cardiac arrest or bombed by Apache, I prefer to Apache!”

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian mendamba Mush’ab bin Umair yang begitu tampan dan menawan. Yang harum minyak wanginya saja sudah tercium sebelum sosoknya tiba. Ia yang lalu memilih menyerahkan dirinya pada Allah, saat ibunya mogok makan untuk memaksanya kembali kepada kekafiran dengan tegar ia membisiki telinga ibunya, “wahai bunda tercinta, seandainya engkau memiliki 99 nyawa dan satu persatu nyawa itu keluar, demi Allah aku tidak akan meninggalkan agama ini”. Ia yang akhirnya syahid dengan hanya dikubur kain burdah yang tidak mencukupi seluruh badannya sehingga kakinya harus dikafan dengan dedaunan.

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian merindukan sosok seromantis Handzalah. Ia yang menikah di siang harinya dan bertemu di malamnya, esoknya ia berangkat menuju medan jihad. Ia yang mandi janabatnya setelah bertemu dengan isrinya dilakukan oleh malaikat, lalu menantimu di surga.

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian mendamba sosok perkasa Umar bin Khattab. Ia yang keras dan perkasa. Ia yang menjadi patriot, pembela, dan pelayan bagi umatnya. Namun ia juga yang mengatakan “jadilah kamu seperti anak kecil di depan istrimu”.

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian memimpikan sosok setaat dan seikhlas Ibrahim khalilullah, abul anbiya. Ibrahim yang ketaatannya pada Allah swt tanpa batas dan tanpa tanya. Saat ia meninggalkan anak dan istrinya, di lembah tak berkehidupan. Ia yang ikhlas melaksanakan perintah untuk menyembelih anak semata wayangnya yang dinanti puluhan tahun. Yang dengan keikhlasan dan ketaatannya itulah lalu Allah mengijabah doa doanya. Dan milyaran umat Muhammad pun bershawalat kepadanya setiap hari. Yang anak-anaknya menjadi ayah dan kakek buyut dari semua nabi.

Kami ikhwan biasa tahu kalian mengidamkan pria sesuci Yusuf as. Yang kesetiannya (pada Allah) membawanya pada penjara. Yang penjara lebih ia sukai daripada bermaksiat kepada Allah. Yang kisah hidupnya sangat dramatis serta melankolik. Yang ketampanannya melebihi semua lelaki di dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan keshalehan akhlaknya. Hingga Allah swt mengabadikannya dalam Al Quran. Hanya surat Yusuf lah satu surat yang isinya dari awal sampai akhir adalah kisah seorang.

Kami para ikhwan biasa tahu bahwa kalian selalu berdoa dan berharap dipertemukan lelaki agung semulia baginda kita Muhammad saw. Ia pemimpin agung manusia, ia panglima tergagah, ia manajer terhebat, ia pedagang tersukses. Ia pun ayah dan suami terbaik. Yang sempat ia bermain dengan cucunya. Yang sempat ia membetulkan terompahnya sendiri. Yang sempat ia bermain lari-larian serta menonton pertunjukan bersama istrinya. Ia yang begitu romantisnya sehingga dikisahkan saat istrinya Aisyah ra membawakannya air minum. Saat itu Aisyah begitu terburu-buru karena suaminya baru saja sampai ke rumah sehingga ia salah memasukan gula malah menjadi garam. Rasulullah saw pun tidak marah dan tidak memberi tahu aisyah kalau minuman itu begitu asin dan pahit. Rasulullah saw hanya meminta kepada Aisyah agar mencobanya juga. Hingga saat Aisyah begitu kaget kaerna menyadarinya ia lalu meminta maaf kepada rasulullah saw, tapi Rasulullah saw malah menghabiskannya. Aisyah berkata “maafkan aku, mengapa engkau masih meminumnya juga?”, “minuman ini jadi manis setelah kamu meminumnya wahai Aisyah”, kata beliau.

Kami ikhwan biasa tahu kalian mendambakan sosok suami seperti ayahmu sendiri. Yang dalam ketidaksempurnaannya seperti lelaki-lelaki hebat lain, ia lah lelaki yang tidak dapat terbalas kebaikannya padamu. Ia yang lautan kebaikannya hingga sekarang membawamu pada nafas dan detak kehidupan hingga detik ini.

Kami ikhwan biasa sangat jauh bahkan teramat jauh dari mereka semua. Yang kami punya hanya obsesi untuk menjadi seperti mereka. Kami ikhwan biasa percaya bahwa kita akan bertemu pada waktu dan tempat yang telah ditentukan bahkan sebelum kita dilahirkan ke dunia. Kami yakin pada takdir Allah akan hal itu. Kami tidak tahu dan tidak terbayangkan siapa salah satu di antara kalian yang ditakdirkan bersama kami dan bilakah itu. Kami hanya diminta untuk berikhitiar dan bersabar menunggu saatnya tiba. Oleh karena itu, bantulah kami untuk menjaga diri dan hati dengan cara kalian pun menjaga diri dan hati pula. Bantulah kami agar obsesi kami dan juga keinginan-keinginan kalian seperti di atas dapat terwujud. Tugas kita hanya terus bersabar dalam memperbaiki diri.. Fashabran jamiil.,,

Posted by: Muhammad Rihan Handaulah | September 4, 2009

Oleh-Oleh dari Mesir (1)

(Tulisan ini sengaja ditulis karena banyaknya permintaan oleh-oleh dari para fans yang setia di Indonesia. Karena saya baik, jadi oleh-olehnya saya berikan bahkan sebelum saya pulang ke Indonesia, hehe, baik kan… ? Yang merasa sudah minta oleh-oleh atau diperkirakan nanti akan minta oleh-oleh saya tag di sini, biar kalo nanti mereka bilang “kang/ han oleh-olehnya mana?” saya bisa jawab; “kan udah!” hehe.. Untuk teman-teman yang belum di-tag, sanes kirang sono, tapi da maksimalnya ngan 30)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Catatan perjalan saya ini adalah bagian dari syukur atas nikmat yang Allah berikan khususnya di bulan Ramadhan 1430 H ini. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Ad Dhuha: 11 “Wa amma bini’mati rabbika fahadits” (dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)). Dan saya berlindung dari sikap riya yang akan menghanguskan amal dalam sekejap, dan sikap sombong yang diwariskan iblis kepada pengikutnya. Semoga catatan ini memberikan wawasan baru, cakrawala baru, dan inspirasi bagi sahabat semua.

Part 1: Tentang Kepergian ke Kairo

Alhamdulillah mulai bulan Juli kemarin saya bergabung dengan sebuah MNC (multi national company) yang bergerak di bidang oil service sebagai Field Engineer. Seorang field engineer bekerja dengan kondisi beban kerja yang berat secara mental, fisik, dan intektual. Sebagai gambaran, field engineer di sebuah oil service company selalu stand by 24/7 kapan pun client membutuhkan untuk segera bergerak ke rig (sumur minyak) yang berada di remote area atau lepas pantai. Selain itu seorang field engineer bertanggung jawab atas aset (peralatan) perusahaan senilai 2 juta US$ yang dibawa ke area operasi dengan nilai proyek berkisar anatara 10.000 hingga 500.000 US$ yang biasanya dikerjakan dalam waktu 1-5 hari. Dengan kondisi seperti itu biasanya turn over rate (karyawan yang keluar) oil service company cukup tinggi, mengingat beban kerja demikian. Anyway, ada pepatah yang kira-kira menggambarkan kerja di oil service company: more day more pay, more pain more gain! Kira-kira foto berikut bisa menggambarkan.

Oleh karena itu biasanya oil service company gencar merekrut fresh graduate (apa pun jurusannya selama engineering, tidak mesti lulusan petroleum engineering) untuk mereka proses dalam sebuah sistem human resource development (training, jenjang karir, evaluasi) yang sangat cepat dan efektif. Karena tidak bisa mengandalkan orang (manusia) untuk jangka waktu yang lama, maka tipikal oil service company bergantung pada sistem rekrutmen dan jenjang jarir/ kaderisasi yang baik. Kompetensi karyawan dikur dengan ukuran yang akurat. Fasilitas pembelajaran untuk mengejar kompetensi terus dikembangkan mulai dari training center, on ojob traning, sampai ke modul multimedia berbasis internet. Bagaimana saya seorang insinyur listrik harus bisa menguasai proses oil well production sama seperti lulusan petroleum engineering yang sudah menggelutinya di kampus selama 4-5 tahun.
Well, inilah mengapa saya ke Kairo, yaitu dalam rangka training tahap 1 sebagai seorang Field Engineer. Sebetulnya perusahaan tempat saya bekerja memiliki beberapa training center antara lain; Skotlandia, Texas, Malaysia, dan Siberia selain Egypt. Kebetulan divisi saya selalu mengirimkan kadernya ke Egypt unutuk training tahap 1.

Terkait dengan waktu kepergian saya di Bulan Ramadhan, ada seuatu yang menarik yang semoga bisa menjadi hikmah bagi sahabat-sahabat semua. Bahwa betapa Allah maha kuasa untuk memberi hamba-Nya karunia dari arah yang tidak disangka-sangka. Biasanya seorang field engineer baru (engineer trainee) dikirim untuk training 3 bulan atau lebih setelah dia bergabung. Itu artinya jika saya bergabung bulan Juli, semestinya saya berangkat training bulan Oktober atau November, berarti selama Ramadhan saya masih bekerja sebagai engineer trainee di lapangan. Tahukah sahabat semua seperti apa pekerjaan engineer trainee? Teman saya dari India memberi gambaran: “You know the hierarchy in our company?, This is that the manager kicks senior engineer, senior engineer kicks crew chief, crew chief kicks crews, crews kick the dog, and the dog bites engineer trainee” haha, it means, engineer trainee adalah makhluk paling lemah dalam operasioan perusahaan yang bekerja dengan sepenuh otot dan (sedikit) otak. Hehe.. Hal wajar karena saya baru memasuki dunia yang sama sekali baru. Sahabat-sahabat bisa bayangkan, kerja stand by 24/7 di lapangan dengan suhu sekitar 35 derajat celsius di Bulan Ramadhan. Tentunya akan menjadi ujian yang sangat berat, dan pasti akan mempengaruhi kualitas maupun kuantitas ibadah mahdah di Bulan Suci Ramadhan. Hal ini lah yang membuat saya khawatir saat bergabung bulan Juli lalu, yaitu bingung bagaimana nasib Ramadhan tahun ini. Lalu yang saya lakukan adalah berdoa (doa menyambut Ramadhan sebagaimana yang disunnnahkan). Kun fayakun, Allah maha berkehendak, di bulan Ramadhan ini ternyata tidak menjadi seperti yang saya bayangkan, harus bekerja di lapangan, melainkan malah Allah ganti dengan Ramadhan di bumi para nabi dan ulama, Mesir. Bagaimana bisa? Ternyata kebijakan mulai angkatan saya berubah, engineer trainee dikirim untuk training tahap 1 dua bulan sejak dia bergabung jika kelas tersedia. Subhanallah walhamdulillah. Sungguh Allah maha memberi rezeki kepada hamba-Nya dari arah yang tidak disangka-sangka.

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS At Thalaq: 2-3)

Part 2: Mesir yang Saya Kenal

Mesir adalah negeri para Nabi alaihumussalam, sahabat radiyallahu’anhum, serta para ulama. Tercatat Nabi Yusuf pernah menjadi bendahara negara di sini. Nabi Musa berjuang menumbangkan kemungkaran bapaknya tiran, Firaun, di sini. Begitu pula para sahabat Radiallahu’anhum. Tahukah siapakah gubernur pertama Mesir di zaman khilafah Umar bin Khattab ra? Dia lah Amr bin Ash ra. Begitu pula berikutnya, Mesir tetap menjadi negeri para ulama, episentrum pemikiran dan pergerakan Islam. Tercatat Al Azhar sebagai universitas tertua yang masih ada hingga kini yang menjadi mercusuar pemikiran Islam. Beberapa yang saya kenal antara lain: Muhammad Abduh, serta Muhammad Rasyid Ridha di akhir abad 19/ awal abad 20. Keduanya adalah murid atau penerus fikrah Syaikh Jamaluddin al Afghani. Terlepas dari kekurangannya, mereka semua adalah ulama yang dikenal dengan fikrah tajdid, pemikiran pembaharu yang membawa semangat 1.) Ruju’ ila quran wa sunnah (kembali kepada Quran dan Sunnah), 2.) Bersikap objektif dan open mind terhadap budaya dan pemikiran barat, berada di tengah antara pemikir Islam yang anti modernisasi/ westernisasi dan pemikir yang membabi buta berkiblat ke barat. 3.) Menyerukan persatuan umat Islam yang dikenal dengan istilah Pan-Islamisme. Fikrah tajdid inilah yang lantas menginspirasi gerakan kebangkitan Islam di abad 20 mulai dari Maroko hingga Merauke. Gelombang pemikiran ini sampai ke Indonesia di antaranya menjelma menjadi Muhammadiyah dan Persis. Dan tentu saja di Timur Tengah yang menjadi pusat gerakan kebangkitan Islam, menginspirasi lahirnya harakah-harakah Islam di sana.

Berbicara tentang harakah Islamiyah, di Mesir lah lahirnya sebuah gerakan yang sering diklaim sebagai gerakan Islam terbesar di dunia saat ini, Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul Muslimin didirikan oleh seorang guru berusia 22 tahun bernama Hasan al Banna pada tahun 1928 di Ismailiyah. Awalnya hanya enam orang yang berbaiat untuk setia berkhidmat pada dakwah Islam, dan hari ini disebut-sebut sudah ada di lebih 70 negara. Berawal dari dakwah di kedai-kedai kopi, kini dakwah Ikhwanul Muslimin di beberapa negara telah mendudukan kadernya sebagai menteri bahkan pemimpin di negara-negara tersebut. Salah satu yang paling fenomenal adalah Hamas di Palestina. Khas dan corak gerakan ikhwanul muslimin adalah tarbiyah (pendidikan) dan visinya ialah ishlah (perbaikan di semua sektor kehidupan) mulai dari diri individu, keluarga, masyarakat, bangsa, penegakan hukum, hingga penegakan daulah khilafah Islamiyah sehingga menjadi ustadziyatul’alam (soko guru peradaban) sebagai rahmatan lil’alamin. Semua itu dilandasi fikrah Islam yang Syaamil serta pegangan yang kokoh pada Quran dan Sunnah. Secara operasional yang menjadikan Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan dakwah yang solid ialah ukhuwah yang tulus serta disiplin organisasi yang ketat yang dibangun atas pilar syura serta konsep qiyadah-jundiyah yang baik.

Ikhwanul Muslimin lantas berkembang pesat, bahkan seolah menjadi negara dalam negara saat itu, bahkan sampai Ikhwanul Muslimin terlibat aktif membebaskan Mesir dari penjajahan Inggris serta mengirimkan pasukan perangnya melawan Israel. Perkembangan yang luar biasa dari dakwahnya menjadikan Hasan al Banna sebagai orang yang paling dibenci oleh Penjajah Inggris dan musuh-musuh Islam lainnya yang berkolaborasi dengan pemerintah Mesir yang oportunis. Hasan al Banna ditembak pada 1949 hingga memperoleh ke-syahid-annya, Insya Allah. Kematiannya dirayakan di negara-negara barat saat itu. Subhanallah, demikianlah kehidupan orang-orang besar. Hanya berselang 21 tahun dalam kehidupannya, tinta emas sejarah peradaban dituliskannya dengan penuh kebanggaan atas semua amal dan pengorbanan yang diberikan. Singkatnya Ikhwanul Muslimin menjadi inspirasi bagi kebangkitan Islam tidak hanya di Mesir, atau arab, bahkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Dan saya adalah satu di antaranya.

Kematian Hasan al Banna lantas tidak menjadikan dakwah Ikhwanul Muslimin menjadi surut, malah kematiannya menjadi inspirasi bagi seorang Sayyid Quthb asy Syahid yang awalnya seorang sekuler untuk bergabung dengan Ikhwanul Muslimin lalu menjadi mercusuar pemikiran Ikhwanul Muslimin gelombang kedua. Saat itu Sayyid Quthb sedang berada di Amerika dan dia heran mengapa di Amerika kematian Hasan al Banna dirayakan besar-besaran. Inilah awal perkenalannya pada gerakan tersebut. Beliau bergabung pada tahun 1950, kemudian menjadi pemimpin redaksi majalah Al Ikhwanul Muslimin. Pada tahun 1954 terjadi penangkapan besar-besaran yang juga disertai penyiksaan yang keji kepada aktivis Ikhwanul Muslimin yang dilakukan oleh Gamal Abdul Nasser termasuk kepada Sayyid Quthb. Gamal Abdul Nasser awalnya ialah kader inti Ikhwanul Muslimin yang juga seorang militer. Pada tahun 1952 Gamal Abdul Nasser dengan kekuatan militernya berkolaborasi dengan Ikhwanul Muslimin menjatuhkan rezim pemerintahan Mesir sebelumnya yang pro-barat. Namun setelah Nasser menjadi presiden, ia malah berbalik menjatuhkan Ikhwanul Muslimin dan menjadi seorang yang sekuler. Sayyid Quthb dipenjara mulai tahun 1954 hingga 1964. Selama masa itu beliau menulis masterpiece-nya: Fi Dzhilalil Quran, sebuan karya tafsir yang sarat dengan nilai sastra dan perenungan yang tinggi karena penulisnya sendiri merasakan hidup yang demikian, menjadi penentang tirani dan penyeru kepada cahaya. Tahun 1965-1966 Sayyid Quthb kembali ke penjara atas tuduhan makar karena tulisannya yang terakhir: Ma’alim fii Thariq (petunjuk jalan). Kemudian pada Agustus 1966 beliau kembali ke kehidupan yang abadi sebagai seorang syuhada melalui tiang gantungan. Apakah kematian Sayyid Quthb menjadikan Ikhwanul Muslimin pudar? Sama seperti kematian pendirinya sebelumnya, sedikit pun tidak. Malah muncul lebih banyak para dai dan pejuang Risalah Tauhid yang berhimpun dalam gerakan itu; Muhammad Al Ghazali, Ma’mun Al Hudaibi, Yusuf al Qaradhawi, Syaikh Ahmad Yassin, Abdul Azis Ar Rantisi, hingga pemimpinnya saat ini; Mahdi Akif, serta semua kadernya yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Manusia-manusia telah berlalu sejumput umurnya. Tetapi fikrah, risalah tidak akan pernah pudar. Ada kafilah panjang yang menjaganya. Dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad hingga hari ini. Cahaya tidak akan padam. Saat cahaya itu padam, saat itulah seisi alam semesta berakhir kehidupannya. Di negeri Mesir ini gerakan kebangkitan Islam di abad 20 dimulai, dari enam orang, dari kedai-kedai kopi. Dan aku bersyukur telah mengenalnya sejak jauh hari. Dan hari ini, di negeri kebangkitan dan perjuangan Islam, aku berada.

- naha jadi asa teu nyambung kieu notes teh jeung carita jalan-jalan di Mesir? ah bae weh, note-note urang ieu, sakumaha urang weh,, hehe -

(bersambung…)

Posted by: Muhammad Rihan Handaulah | July 8, 2009

Quotes from my Fb status

I used to say I and me, now it’s us, now it’s me
you are not alone…
Besok kita Lanjutkan saja..
Next stone: nurturing assets!
It’s a new day.. It’s a new life!
Subhanallah, hidup mengalir sangat cepat.. Kemarin lusa tidur dalam tenda di puncak pangrango, malam ini di sebuah hotel berbintang di Jakarta, yaa muqallibal quluub, tsabit qalbi ‘ala diinik..
Selamat tinggal sayang..
Kembali dari sebuah perjalanan panjang, belajar akan cita dan cinta di Lembah Kasih..
Dear all.. Aku sejenak menghilang dari peradaban jumat sabtu ini. Bertapa di gunung Gede Pangrango.
Kalian yang selalu baik kepadaku, kemarilah, katakan kepadaku, dengan apa aku bisa membalas semua kebaikanmu?
Aje gile
Kita terpisah saudaraku. Raga, tidak jiwa. Aku masih dan akan selalu merasai keberadaanmu dengan seluruh kebahagiaan yang pernah,sedang,dan selalu kita bagi. Disebabkan ukhuwah, cinta karena Allah yang menjadikannya abadi. Karena perjumpaan yang sejati, hanya di surga nanti adanya, saudaraku. (dedicated to all my bro n sis, khususnya my dearest bro’ Dani Badra yang sering merasa kesepian belakangan ini)
Bandung diserang bonex, tak va va, kita sambut saja mereka dg menyanyikan lagu kebangsaan kita, “viking bonex sama saja, asal jangan the jak, the jak itu … “
Enaknya ngelamunin apa ya?
Waktu melambat…
Akhir2 ini banyak yang bertanya kepada saya bahwa saya br mendapat pekerjaan sebagai Field Engineer, saya ingin mengatakan kpd mereka bahwa, “saya tidak pernah berganti pekerjaan, saya masih dan selalu bekerja sbg penyeru di jalan Allah. Namun kalau dulu sy mengisi waktu luang dengan mengajar fisika, maka sekarang dengan menjadi Field Engineer”. Nahnu du’at qabla kulli syaiin, insya Allah..
On the road to jakarta, while listening to aisyah adinda kita.mp3
Which one is yours: “I’m single, but I’m very happy” or “I’m very happy, but I’m single” ?
Bermalam di Habiburrahman. Bertaqarub kepada Allah. Bermunajat kepadaNya akan suatu awal yang berkah, dan akhir yg penuh ampunan dan keridhaan utk suatu episode kehidupan yang telah dilalui.. Rabbiadkhilnimudkhalashidqi, waakhrijnimukhrajashidqi..
Abis gajian terakhir di Edulab! Terima kasih Edulab…
Kawans, adakah daku memiliki suatu utang-piutang atau suatu perkara yang belum terselesaikan denganmu? Tolong ingatkan aku, sebelum meninggalkan Bandungku tercintah ini..
Kau jauh dariku.. Kau tetap menjauh dari aku.. Biarlah ku rela.. Berikanlah aku kekuatan..
Just don’t take it too seriously, always have a space for joy and happiness, as well as pleasure for any sorrow..
Bagi saya, liqa dan syura itu seperti sarapan pagi dan makan siang..
Hidup adalah soal keberanian.. Menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti.. Tanpa kita bisa menawar.. Terimalah dan hadapilah
cahaya bulan menusukku.. dengan ribuan pertanyaan.. yang tak kan pernah kutahu dimana jawaban itu.. bagai letusan merapi.. bangunkan ku dari mimpi.. sudah waktunya berdiri.. mencari jawaban kegelisahan…. hati… (from GIE)
Gede 3019m dpl, i’m coming.. To praise your Creator
Ngajedog
I’m Yours..
Shooting star..
Surga hanya menemukan definisnya di hati para pejuang -alm. Sigit F- (tiba2 terlintas ikhwah,kakak teladan, ketika pertama berjumpa dengannya di oskm2004, dan pertama berbincang dengannya di koridor utara salman, lepas isya)

I used to say I and me, now it’s us, now it’s me

you are not alone…

Besok kita Lanjutkan saja..

Next stone: nurturing assets!

It’s a new day.. It’s a new life!

Subhanallah, hidup mengalir sangat cepat.. Kemarin lusa tidur dalam tenda di puncak pangrango, malam ini di sebuah hotel berbintang di Jakarta, yaa muqallibal quluub, tsabit qalbi ‘ala diinik..

Selamat tinggal sayang..

Kembali dari sebuah perjalanan panjang, belajar akan cita dan cinta di Lembah Kasih..

Dear all.. Aku sejenak menghilang dari peradaban jumat sabtu ini. Bertapa di gunung Gede Pangrango.

Kalian yang selalu baik kepadaku, kemarilah, katakan kepadaku, dengan apa aku bisa membalas semua kebaikanmu?

Aje gile

Kita terpisah saudaraku. Raga, tidak jiwa. Aku masih dan akan selalu merasai keberadaanmu dengan seluruh kebahagiaan yang pernah,sedang,dan selalu kita bagi. Disebabkan ukhuwah, cinta karena Allah yang menjadikannya abadi. Karena perjumpaan yang sejati, hanya di surga nanti adanya, saudaraku. (dedicated to all my bro n sis, khususnya my dearest bro’ Dani Badra yang sering merasa kesepian belakangan ini)

Bandung diserang bonex, tak va va, kita sambut saja mereka dg menyanyikan lagu kebangsaan kita, “viking bonex sama saja, asal jangan the jak, the jak itu … “

Enaknya ngelamunin apa ya?

Waktu melambat…

Akhir2 ini banyak yang bertanya kepada saya bahwa saya br mendapat pekerjaan sebagai Field Engineer, saya ingin mengatakan kpd mereka bahwa, “saya tidak pernah berganti pekerjaan, saya masih dan selalu bekerja sbg penyeru di jalan Allah. Namun kalau dulu sy mengisi waktu luang dengan mengajar fisika, maka sekarang dengan menjadi Field Engineer”. Nahnu du’at qabla kulli syaiin, insya Allah..

On the road to jakarta, while listening to aisyah adinda kita.mp3

Which one is yours: “I’m single, but I’m very happy” or “I’m very happy, but I’m single” ?

Bermalam di Habiburrahman. Bertaqarub kepada Allah. Bermunajat kepadaNya akan suatu awal yang berkah, dan akhir yg penuh ampunan dan keridhaan utk suatu episode kehidupan yang telah dilalui.. Rabbiadkhilnimudkhalashidqi, waakhrijnimukhrajashidqi..

Abis gajian terakhir di Edulab! Terima kasih Edulab…

Kawans, adakah daku memiliki suatu utang-piutang atau suatu perkara yang belum terselesaikan denganmu? Tolong ingatkan aku, sebelum meninggalkan Bandungku tercintah ini..

Kau jauh dariku.. Kau tetap menjauh dari aku.. Biarlah ku rela.. Berikanlah aku kekuatan..

Just don’t take it too seriously, always have a space for joy and happiness, as well as pleasure for any sorrow..

Bagi saya, liqa dan syura itu seperti sarapan pagi dan makan siang..

Hidup adalah soal keberanian.. Menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti.. Tanpa kita bisa menawar.. Terimalah dan hadapilah

cahaya bulan menusukku.. dengan ribuan pertanyaan.. yang tak kan pernah kutahu dimana jawaban itu.. bagai letusan merapi.. bangunkan ku dari mimpi.. sudah waktunya berdiri.. mencari jawaban kegelisahan…. hati… (from GIE)

Gede 3019m dpl, i’m coming.. To praise your Creator

Ngajedog

I’m Yours..

Shooting star..

Surga hanya menemukan definisnya di hati para pejuang -alm. Sigit F- (tiba2 terlintas ikhwah,kakak teladan, ketika pertama berjumpa dengannya di oskm2004, dan pertama berbincang dengannya di koridor utara salman, lepas isya)

-17 Juni to 8 Juli 2009-

Posted by: Muhammad Rihan Handaulah | May 13, 2009

HARAPAN ITU ADA DI GENERASI ANOMALI

Obsesi dan harapan akan kejayaan bangsa ini kian hari kian menguat. Betul, setiap hari kita disuguhi dagelan politisi. Memang, tiap hari kita diberitai hal-hal buruk seputar kriminalitas, ketimpangan ekonomi, dan kebejatan moral. Demikian adanya, bahwa generasi muda masih banyak yang mengalami kehilangan orientasi. Seperti tayangan “live” acara musik tiap pagi di sebagian besar stasiun televisi yang selalu dipadati remaja di pust-pusat perbelanjaan. Kemana mereka dan apa yang sedang mereka lakukan sesungguhnya. Alih-alih bekerja keras, mencari ilmu, dan melakukan hal-hal bermanfaat lainnya, saudara-saudara kita lebih memilih “bergembira” bersama artis pujaan yang menyanyikan syair-syair dangkal dan murahan. Ditambah lagi dengan laga para penyiarnya yang sangat gembira dan bahagia karena telah menghibur para pemirsanya, padahal uang yang masuk ke perut meraka tidak ada harganya dibandingkan jasa mereka yang telah membantu anak-anak muda itu membunuh masa depannya sendiri.

Bagaimana pun, obsesi dan harapan akan kejayaan bangsa ini kian hari kian menguat. Masih ada pemimpin-pemimpin beintegritas dan bervisi di antara para politisi. Masih ada berita baik di rangkaian berita buruk yang menceritakan prestasi anak negeri di perlombaan sains dan teknologi di tingkat nasional maupun internasional. Atau mereka yang membuat karya untuk pengembangan masyarakat kecil dan pedesaan. Seperti dalam acara talk show di salah satu TV swasta yang mengangkat orang-orang yang telah melakukan suatu kebermanfaatan. Dan masih ada orang-orang baik di sekitar kita yang tak terberitakan maupun diwawancarai.

Mereka adalah sebagian kecil orang-orang yang menjadi anomali dari sistem pendidikan kita yang masih mengalienasi dan mendehumanisasi peserta didiknya. Sistem pendidikan yang menghebatkan para siswa menjawab soal-soal pelajaran yang rumit namun mereka tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana “hendak jadi apa kamu sebenarnya?”. Mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu mereka adalah para pembelajar sejati yang belajar tidak hanya di bangku pendidikan formal, di mana karakter, semangat, dan visi mereka pada umumnya terbangun tidak di bangku formal tersebut. Mereka biasanya tercerahkan di dunia organisasi, pengajian, di lapangan, jalanan, pertemanan, atau pun pembelajaran yang otodidak, atau jika beruntung mereka masih menemui satu atau dua orang guru yang masih sejati di bangku formal tersebut. Itulah mengapa saya sebut mereka sebagai anomali dari sistem pendidikan Indonesia. Mereka pun anomali dari kaum sebayanyanya dan arus industri yang menyasar mereka. Saat sebagian besar kawan-kawannya sedikit menghabiskan waktunya untuk belajar, maka ia sedikit menghabiskan waktunya untuk bermain. Saat yang lain mencontek dalam ujian, maka ia memperingatkan mereka untuk tidak mencontek. Saat orang lain gandrung dengan budaya pop dan hedon, maka mereka tidak suka bahkan membencinya.

Fenomena ini sesungguhnya mirip dengan apa yang terjadi di era kebangkitan nasional dahulu. Tokoh-tokoh besar kita; Soekarno, Hatta, Natsir, Syahrir, Tan Malaka, dan yang lainnya memiliki satu kesamaan yaitu mereka sama-sama pernah mengenyam pendidikan dari kolonial. Lalu apa kesamaan mereka yang membedakan mereka dengan orang-orang terpelajar lain yang jumlahnya jauh lebih banyak dan sekedar mencari penghidupan menjadi amteenar, bupati, atau tenaga administratif di pabrik serta perkebunan Belanda saja?

Kualitas pertama para pahlawan itu ialah mereka belajar bukan hanya agar lulus dari sekolah saja, melainkan mereka belajar untuk memperoleh pengetahuan sejati (kebenaran dan kebijaksanaan). Soekarno yang seorang mahasiswa Teknik Sipil tidak hanya membaca buku Konstruksi Beton, ia pun belajar agama Islam kepada H.O.S Tjokroaminoto, ia pun banyak membaca buku-buku sejarah, filsafat, politik, dan ekonomi pemikir-pemikir barat maupun Timur. Kekayaan referensi beliau bisa kita baca pada buku Indonesia Menggugat yang memiliki kutipan dan referensi yang luas sekali. Maka dengan kebenaran dan kebijaksanaan yang mereka peroleh dan yakini itulah, mereka menjadi pribadi yang memiliki keberanian dan integritas.

Kualitas kedua adalah mereka tidak hanya membaca pengetahuan formal yang ada di text book saja, melainkan mereka membaca dengan makna sesungguhnya (iqra). Yaitu membaca sejarah, membaca lingkungan, membaca masyarakatnya. Dr. Mohammad Hatta yang saat itu belajar ilmu ekonomi di Rotterdam secara formal hanya bergelut dengan aliran mainstream ekonomi saat itu; neoklasik (liberal) dan marxis (sosialisme). Namun Bung Hatta ialah seorang yang membaca sepenuh akal dan jiwanya, ia membaca dan berempati kepada masyarakatnya. Ia tidak lantas menjadi pembebek liberalis ataupun marxis. Hasilnya ia memformulasikan suatu konsep genuine bagi bangsa Indonesia; ekonomi kerakyatan atau ekonomi pancasila.

Kualitas ketiga ialah mereka memiliki visi dan bahwasannya gelar atau prestise bukan hal yang penting bagi mereka. Selepas AMS Muhammad Natsir ditawari untuk sekolah Hukum atau Ekonomi ke negeri Belanda. Namun ia menolak, dan ia memilih mendirikan sekolah dan mengajar di Bandung. Hal ini menunjukan suatu karakter yang hebat dari seorang pribadi yang berkualitas yaitu ia fokus pada visinya, dan ia tahu apa yang terbaik baginya. Seperti yang diungkapkan dengan sangat indah oleh Minke dalam Bumi Manusia-nya Pram, “Urusanku bukanlah harta, pangkat, dan kedudukan saja. Urusanku adalah bumi manusia dengan segala persoalannya.”.

Kualitas keempat ialah mereka orang-orang yang cakap memimpin dan gaul (berorganisasi dan memiliki jaringan yang baik). Soekarno awalnya dengan Klub Studi Bandung lalu terakhir mendirikan PNI, Natsir bergabung dengan Ahmad Hassan dalam Persatuan Islam, dan semua tokoh kita lainnya saat itu pasti terlibat aktif dalam sebuah organisasi. Yang paling fenomenal ialah Tan Malaka, ia menjelajah hampir seluruh benua Eropa dan Asia sebagai seorang agen Komintern. Mulai dari Belanda, Jerman, Rusia, Kanton, Filipina, Singapura, Thailand, Shanghai, Hongkong, Burma, Malaysia, hingga terakhir menjelajah Jawa dan Sumatra.

Selalu, para pahlawan ialah pengecualian (exeception) dari zamannya. Dan memang untuk membuat suatu perubahan sejarah tidak perlu menunggu mayoritas berubah. Karena perubahan sejarah selalu dilakukan oleh orang yang sedikit dan bahkan dimulai hanya oleh satu orang. Yang perlu dilakukan adalah mencetak generasi perubah ini hingga jumlahnya cukup (melampaui treshold untuk suatu perubahan sosial), menghimpun mereka dalam barisan, lalu perhatikan apa yang terjadi. Dan hari ini fenomena-fenomena itu makin jelas terlihat di negeri ini. Tinggal kita memilih untuk diri kita sendiri; hendak menjadi apa. Dan itu dimulai dengan memilih bagaimana kita belajar.

Posted by: Muhammad Rihan Handaulah | April 6, 2009

8 FAQ Seputar Pemilu dan Golput

1. Q: Bagaimana Islam memandang politik?
A: Manusia diciptakan untuk beribadah, artinya setiap yang kita lakukan mulai dari shalat, belajar, berpolitik, hingga buang air ialah ibadah dan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Maka Islam bukan hanya ibadah ritual dan sistem kepercayaan semata. Ia adalah sistem kehidupan yang syamil dan mutakamil (menyeluruh, utuh, dan sempurna) yang membimbing manusia mencapai kebahagiaan sejati dalam semua aspek; politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, pendidikan, keluarga, dan yang lainnya. Semuanya dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Cara pandang sekuler (memisahkan agama dari negara, atau menjadikan agama hanya di kehidupan pribadi saja tidak di kehidupan umum) adalah pandangan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Sekulerisme adalah bentuk trauma Eropa atas hegemoni gereja pada zaman dark age of europe. Di mana saat itu banyak penyimpangan dilakukan kaum gereja yang bersekongkol dengan kaum bangsawan untuk menindas dan mengisap rakyat secara diktator (lihat film Robin Hood, Braveheart, atau Kingdom of Heaven). Sehingga saat Renaissance (pencerahan Eropa), para intelektual dan kaum reformis muncul dengan ungkapan “berikanlah hak raja pada raja, dan berikanlah hak Tuhan pada gereja”. Sebaliknya, saat umat Islam menerapkan syariat Islam pada periode kekhilafahan rasyidah, Ummayah di Syam, Abbasiyah di Baghdad dan Spanyol, Utsmaniyah di Turki, umat Islam berhasil membangun peradaban yang penuh kecemerlangan ilmu pengetahuan, keadilan, dan kasih sayang bagi semua umat manusia (bukan umat Islam saja) selama 13 abad. Sebaliknya hari ini saat umat Islam terhinggap penyakit sekulerisme, kaum muslim dalam kondisi yang memprihatnkan seperti negeri kita ini. Krisis global yang melanda dunia hari ini, termasuk yang paling parah tergoncang adalah negara-negara maju yang selama ini kita kagumi, mestinya menjadi pelajaran bahwa sistem buatan manusia telah dan pasti akan gagal membawa manusia pada kebahagiaan, keadilan, dan kesejahteraan, dan bahwasannya sistem kehidupan yang layak untuk membimbing kehidupan manusia adalah Syariat Islam.
Soe Hok Gie pernah mengatakan bahwa politik tai kucing adalah barang yang paling kotor. Maka hal itu menjadi nyata saat agama dan kesalehan moral dikebiri dari dunia politik. Tinggallah dunia politik diisi dengan video dan foto cabul anggota dewan, cerita korupsi yang tiada ujungnya, serta intrik jahat penjualan aset negara dan penggadaian SDA Indonesia.

2. Q: Kenapa ada partai Islam?
A: Idealnya partai Islam dibentuk untuk beramar ma’ruf nahi munkar (QS Ali Imran: 104), serta memperjuangkan agar hukum-hukum Allah yang menjadi aturan hidup dalam semua bidang kehidupan (QS Al Maidah: 50). Jika kedua hal itu dilaksanakan maka negeri kita menjadi negeri baldatun thayyibun wa rabbun ghafur (negeri yang diberkahi dengan kebaikan dan ampunan Allah swt). Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan “jika engkau melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak sanggup ubah dengan lisanmu, jika tidak sanggup maka ingkarilah dengan hatimu dan itulah selemah-lemahnya iman”. Dengan para da’i dan orang-orang saleh yang memiliki kekuasaan maka amar ma’ruf nahi munkar dapat dilakukan dengan tangan (kekuasaan). Sehingga inilah urgensi partai dakwah (Islam). Dan Indonesia adalah negeri yang ironis, di mana 80 persen berpenduduk muslim, tetapi negeri ini selalu dipimpin oleh partai sekuler. Umat Islam Indonesia belum pernah dipimpin oleh pemimpin muslim sejati (walau presiden semuanya beragama Islam) yang menjadikan Islam sebagai ruh kehidupan bernegara, sehingga beginilah wajah negeri kita hari ini.

3. Q: Mengapa banyak jama’ah dan partai Islam, serta mengapa ada partai Islam yang terlibat korupsi?
A: Perbedaan adalah sebuah sunatullah, walau idealnya partai Islam bersatu dalam sebuah partai seperti yang pernah ada tahun 1955 dalam Masyumi walaupun itu juga belum ideal. Namun hendaklah kondisi tidak ideal ini harus disikapi dengan arif dengan tidak menyalahkan mereka, tetapi justru memandang ini sebagai suatu kekuatan dan strategi di mana setiap karakter menjadi terfasilitasi dengan pilihan partai Islam yang banyak itu. Sehingga setiap partai Islam sinergi dengan kekuatan masing-masing. Dalam Al Quran disebut fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Ingat, persatuan sesungguhnya bukanlah sekedar membuat warna dan lambang yang sama, melainkan terjalinnya ukhuwah Islamiyah dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Itulah esensi persatuan umat Islam. Jika hati dan idealisme sudah bersatu dalam perbedaan warna, persatuan fisik hanya menunggu waktu atau bahkan menjadi tidak urgen lagi.
Adapun partai Islam yang terlibat korupsi maka sepenuhnya kesalahan ada di tangan orang-orangnya, bukan Islamnya. Barangkali sistem kaderisasi dan kontrol yang lemah. Oleh karena itu kita pun harus cerdas memilih partai Islam yang terbaik dari yang terbaik. Kita lihat track record-nya.

4. Q: Apa hukumnya memilih pemimpin dalam Islam?
A: Dalam Islam secara umum memilih pemimpin adalah kewajiban, bukan hak. Dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa “jika ada tiga orang melakukan perjalanan, maka angkatlah salah satunya sebagaim pemimpin”. Apalagi sebuah sebuah negara. Mengapa kepemimpinan begitu penting? Karena sebagian nasib dan kehidupan kita bergantung pada pemimpin. Bagaimana bisa melaksanakan haji jika tidak ada pemerintah yang mengurus kepergiaan jamaah haji yang jumlahnya 200.000 jama’ah per tahun, juga pelaksanaan zakat. Atau bagaimana kesejahteraan dan mata pencaharian, bagaimana pendidikan dan keadilan yang kita dapatkan semuanya bergantung kepada seperti apa pemimpin kita.
Kriteria pemimpin ialah sepeti sosok Rasululullah saw yaitu shidiq (jujur), amanah, fathonah (cerdas), dan tabligh (komunikatif), serta menjadikan aturan Allah sebagai konsepnya dan dia adalah orang yang saleh (ta’at pada Allah) seperti dalam QS Al Ma’idah ayat 55. Kita juga tidak boleh memilih orang yang tidak se-aqidah sebagai pemimpin (QS Al Ma’idah ayat 51). Serta kita tidak boleh memilih karena alasan ashabiyyah (fanatisme golongan atau kesukuan), serta harus memilih pemimpin yang memiliki kapasitas. Dalam sebuah hadits dikatakan “jika suatu amanah diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kebinasaannya”.

5. Q: Jika tidak ada yang memenuhi kriteria di atas, apakah golput saja?
A: Golput pun adalah sebuah pilihan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Sekali lagi memilih pemimpin secara umum adalah kewajiban, bukan sekedar hak. Jika tidak ada yang ideal, maka para ulama memiliki kaidah “jika tidak bisa mendapatkan seluruhnya, jangan tinggalkan semuanya”, maka pilihlah yang paling leuheung dari semua pilihan yang ada. Atau jika semuanya jelek, maka pilihlah yang paling sedikit jeleknya di antara mereka. Dalam kaidah ushul fiqih disebutkan “ambil keburukan yang paling sedikit dari keburukan-keburukan yang ada”. Sesungguhnya golput sama dengan memilih partai apa pun yang menang, karena presentase suara mereka menjadi besar akibat besarnya angka golput. Selain itu, golput artinya membiarkan orang-orang korup dan yang tidak pro-Islam menjadi pemimpin kita. Artinya golput adalah pilihan dengan akal yang kurang sehat dan sangat tidak bertanggung jawab. Sungguh konyol jika ada di antara kita yang menyeru untuk golput.

6. Q: Memangnya boleh bergabung dengan sistem demokrasi yang sering mengorbankan idealisme dan prinsip Islam?
A: Jika meyakini demokrasi sebagai sebuah sistem kehidupan yang ideal maka jelas itu pandangan yang batil, karena Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alaih (Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya). Selain itu juga berarti menjadikan thagut, ilah (sesuatu yang dijadikan aturan dan diaati) selain Allah. Jadi tidak boleh menjadikan demokrasi sebagai ideologi atau sistem ideal yang diperjuangkan, salah satunya karena demokrasi mengatakan “kedaulatan di tangan rakyat”, tetapi Islam meletakan keadulatan di tangan Allah (syariat) yang harus ditaati semuanya termasuk raja atau presiden (jadi pemerintahan Islam bukan teokrasi). Namun demikian menurut para ulama moderat (antara lain Dr. Yusuf al Qaradhawi) menyatakan demokrasi masih lebih baik daripada kediktatoran dan absolutisme atau fasisme. Karena ada sebagian semangat demokrasi yang senafas dengan Islam yaitu adanya musyawarah dan egalitarian (persamaan hak dan kewajiban). Dan dalam prakteknya, cara demokrasi seperti bermusyawarah atau voting untuk hal-hal yang tidak ditentukan teknisnya oleh syariat, dilakukan oleh Rasululullah saw. Jadi para ulama berpendapat bahwa tidak mengapa bergabung dengan demokrasi dengan tujuan memperjuangkan tegaknya Islam dan berdakwah kepada para penguasa dengan bergabung dalam sistem demokrasi (parlemen) selama memandang demokrasi hanya sebatas sarana dan konsensus belaka.

7. Q: Apakah efektif memperjuangkan Islam dalam sistem demokrasi?
A: Cerita manis keberhasilan dakwah melalui parlemen adalah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki. Turki adalah sebuah negara yang sangat sekuler, bahkan jilbab pun dilarang digunakan di tempat publik seperti sekolah, RS, dan kantor pemerintahan. Bahkan sempat azan pun sampai harus dilakukan dalam Bahasa Turki. Namun kemudian para aktivis Islam di sana bergerak dan berjuang melalui parlemen. Setelah bepuluh tahun Turki dipimpin oleh partai nasionalis sekuler dan korup, dengan izin Allah pada tahun 2002 AKP menang mutlak di parlemen Turki dan menempatkan tokoh muslim yang saleh yaitu Abdullah Gul sebagai Presiden Turki dan Recep Tayyip Erdogan sebagai PM. Sejak saat itu jilbab tidak dilarang, karena sang ibu negaranya menggunakan jilbab di istana, dan juga syiar Islam mulai marak serta perekonomian dan peran politik Turki mengalami kemajuan yang signifikan.
Contoh lain adalah HAMAS di Palestina, setelah sebelumnya mereka dipimpin partai sekuler yang dikenal korup yaitu Fatah. HAMAS mendapatkan kemenangan mutlak karena mereka melakukan kerja keras yang nyata bagi rakyat Palestina dengan membangun sekolah, RS, pemberdayaan ekonomi, kaderisasi dan tarbiyah, serta melindungi rakyat Palestina dari zionis Israel la’natullah ‘alaih dengan Brigade Izzudin al Qassam-nya. Walaupun mereka terus digoncang dari luar oleh Israel dan dari dalam melalui persekongkolah Fatah, insya Allah itu justru membuat Palestina makin disegani dan berdaulat dan agresi Israel kemarin justru membuat HAMAS makin dicintai rakyatnya. Dua success story di atas bisa dijadikan benchmark bagi partai Islam di Indonesia yang hari ini juga makin progresif dan memperlihatkan tanda-tanda bahwa partai Islam akan makin besar dengan profesionalisme dan sikap yang amanah serta jauh dari korupsi.
Sesunguhnya watak dakwah Islam ialah moderat (pertengahan, adil), karena demikian Allah telah menjadikan umat Islam sebagai umatan washathan (umat pertengahan) dalam QS Al Baqarah ayat 143, dan Allah membenci sikap ekstrem (berlebih-lebihan) sehingga kita berlindung dari sikap demikian (QS Ali Imran ayat 147). Bandingkan dengan gerakan dakwah yang ekstrem dan berlebihan. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat atas segala jasa beliau, kita harus belajar bagaimana kegagalan NII Kartosuwiryo yang bersikap ekstrem hendak menegakan negara Islam dengan cara instan lewat jalan pintas (pemberontakan). Mereka dengan mudah ditumpas dan cita-cita memperjuangkan Islam menjadi sistem di Indonesia menjadi jauh panggang dari api. Dan kini justru sempalan dari gerakan NII tersebut yang bergerak secara tertutup dan rahasia malah membuat sebagian pelajar dan mahasiswa menjadi takut ke masjid dan mengaji, karena orang tua mereka mewanti-wanti agar hati-hati terhadap pengajian yang mengajak mereka bergabung dan berbaiat lalu kemudian menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan orang di luar kelompoknya.

8. Q: Jadi Partai Islam mana yang harus saya pilih?
A: Kita harus cerdas memilih. Pelajari platform partainya, lihat track recordnya. Terakhir berdoa kepada Allah swt sebelum masuk TPS dan mencontreng pilihan kita agar Allah swt memberi pemimpin yang mencintai kita dan kita pun mencintainya. Itulah sebaik-baik pemimpin. Wallahu’alam bi shawab.

Posted by: Muhammad Rihan Handaulah | March 19, 2009

AKU INGIN

Entah mengapa hari ini aku teringat, sajak yang pertama kali kulihat beberapa tahun lalu. Tepatnya saat SMA, kelas satu. Menurutku ini puisi bertema cinta terbaik yang pernah aku temui hingga saat ini. Jika puisi bertema perjuangan memiliki “aku”,

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(Chairil Anwar)

dan puisi kepahlawanan ialah “antara karawang-bekasi”,

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(Chairil Anwar)

maka aku ingin menyatakan bahwa “aku ingin” ialah puisi cinta terbaik. Coba, simaklah bait-baitnya, kata per kata-nya,

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Dharmono)

Kuat sekali, energi puisi ini sangat kuat. Tidak meletup-letup, tetapi gelombangnya sungguh menghempas. Sesuatu yang menjadi kekuatan inti puisi ini, ialah kesederhanaan dan kelugasan.

Aku tidak bermaksud apa-apa dengan menulis catatan ini. Aku hanya ingin menikmatinya saja untuk saat ini. Tapi jika suatu saat nanti puisi ini pun menemukan konteksnya, tentu akan sangat membahagiakan.

Biarlah datang pada waktunya,

dengan cara sempurna,

seperti kata yang terucap,

yusuf pada zulaikha,

yang menjadikannya terpenjara

Posted by: Muhammad Rihan Handaulah | March 19, 2009

PEMILIH-PEMILIH DAN WAKIL RAKYAT BLOON

“Ah pusing, partai banyak banget, orang2 pada nampang tiba-tiba kaya bangkit dari kubur. Kertas suaranya juga gede banget. Bodo amat!!”
“gua gak yakin nanti bakalan milih apa gak, soalnya gua ngerasa kalo pemilu tuh cuman buang-buang duit puluhan triliyun, sedangkan hasilnya sama-sama aja, selama ini di Indonesia nyaris gak ada perubahan apa-apa”
“aku pikir… wakil-wakil rakyat gak ada yang bisa dipercaya, DPR penuh dengan korupsi, skandal cabul, juga orang-orang yang cuma bisanya tidur dan omong kosong. Juga partai-partai yang busuk-busuk, deketin rakyat kalau mau Pemilu aja sambil jual-beli suara. Semuanya rusak, gak ada yang pantes dipilih”
“Mau ada pemilu atau gak, gak ngaruh buat hidup gue, toh hidup gue juga masih ditanggung ama orang tua semuanya kok.”
“Ah, saya mah pilih nanti yang paling rame aja, dan paling keren dan gagah orangnya, atau yang banyak artisnya.. Daripada pusing-pusing kan?”
(Beberapa jawaban atas pertanyaan tentang pemilu, mau memilih yang mana)
Apakah jawaban kamu juga mirip salah satu di antaranya? Tulisan ini mencoba menjawab kebingungan teman-teman yang memilki jawaban seperti di atas. Pertama, saya akan bercerita tentang cerita bagaimana suatu hal yang kecil menentukan suatu hal yang besar. Begini ceritanya:

Kisah Si Culas dan Sesendok Air
Di sebuah kerajaan, seorang raja yang bijak mendapatkan ilham bahwa kerajaannya akan mengadapi masa merebaknya penyakit menular yang penyakit tersebut hanya bisa diobati oleh madu. Sang raja pun memerintahkan agar setiap orang menyerahkan sesendok madu yang harus dimasukan ke sebuah gentong di pusat kota setiap harinya. Sebagai persediaan obat saat penyakit menular tersebut merebak nanti.
Karena raja ini sangat mempercayai rakyatnya, setiap orang yang memasukan sesendok madu tidak diperiksa dengan ketat. Hingga ada seseorang, ia merasa dirugikan karena madu miliknya akan berkurang setiap hari. Oleh karena itu ia memiliki rencana. Bahwa ia tidak akan memasukan sesendok madu ke gentong tersebut, melainkan sesendok air! Toh, beberapa sendok air tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap segentong madu.
Beberapa waktu berselang, ilham Sang Raja betul-betul terjadi. Penyakit merebak dan persediaan madu di rumah-rumah warga sudah habis. Akhirnya gentong madu cadangan yang telah diisi dengan sesendok setiap hari tersebut harus dibuka. Sang Raja mengumpulkan rakyatnya di alun-alun, setelah berpidato menjelaskan kondisi yang terjadi, Sang Raja lalu membuka gentong tersebut. Tiba-tiba Sang Raja pingsan, syok. Di dalam gentong tersebut isinya air semua…

Begitu lah keadaan pemilu di negeri ini. Pada awalnya ada seseorang yang tidak bertanggung jawab dalam menentukan pilihannya. Kalau dahulu sebagian orang memilih karena status pekerjaannya, atau apa partai atasannya. Ada juga orang yang memberikan suaranya pada partai yang memiliki track record buruk karena partai tersebut memberinya kaos dan seamplop uang. Ada orang yang ikut-ikutan memilih partai yang kualitasnya belum jelas, hanya karena pesona kegantengan beberapa tokohnya. Atau memilih hanya sekedar iklannya paling sering muncul di TV. Dan berbagai bentuk pilihan irrasional lain. Hal inilah yang menjadi awal dari buruknya kondisi sebagian wakil rakyat kita.
Karena diawali oleh seorang. Hanya seorang yang tidak bersungguh-sungguh memilih pemimpin yang baik. Sekali lagi diawali dari seorang. Celakanya, ternyata orang lain yang berbuat sama pun sangat banyak. Dan begitulah hasilnya. Sama seperti seorang culas tadi, dan ternyata yang lain pun sama. Bayangkan kalau semua orang berpikiran yang sama atau apatis dalam Pemilu nanti? Mau seperti apa jadinya pemimpin-pemimpin di negeri ini? Tentu makin banyak video mesum anggota DPR, tentu KPK makin kewalahan menangkapi koruptor-koruptor Senayan, dan tentu masyarakat hidupnya makin susah karena wakilnya ialah orang-orang bloon yang bisanya hanya bolos rapat dan paling semangat kalau studi banding (baca: berdarmawisata) ke luar negeri. Yakinlah, orang-orang bloon bisa duduk di DPR bukan karena usaha mereka, tetapi karena ada orang-orang yang melakukan ke-bloon-an dalam bentuk-bentuk:
- Menjadi pemilih yang tidak bertanggung jawab seperti: memilih tanpa memperhatikan tuntunan agama (Al Qur’an dan Hadits) dalam memilih pemimpin, memilih karena politik uang, memilih karena simbol-simbol fisik semata (ganteng, cantik, dsb), memilih karena ikut-ikutan orang lain atau gosip yang lagi rame, memilih tanpa membandingkan atau tidak mengetahui informasi kontestan pemilu, memilih pemimpin dengan cara menghitung kancing, serta bentuk-bentuk ke-bloon¬-an lainnya.
- Menjadi golput/ apatis. Karena artinya membiarkan caleg yang dipilih oleh pemilih-pemilih bloon (yang tidak bertanggung jawab) tadi menang Pemilu dan terpilih menjadi wakil rakyat.

TIPS: Agar tidak temasuk golongan pemilih bloon
1. Sadari betapa berartinya satu suaramu untuk masa depan negeri ini.
2. Ketahui kriteria Al Qur’an dan Sunnah mengenai pemimpin.
3. Jangan tertipu iklan/ gosip/ ikut-ikutan. Jadi pemilih cerdas, cari tahu fakta tentang konsep dan track record partai/ caleg mengenai:
a. Integritas partai tersebut, contoh praktis; tanya ke Mbah’ Google: “Daftar partai yang terlibat korupsi”.
b. Aksi konkret partai di luar momen pemilu, karena sebagian besar hanya berbuat saat pemilu saja, pasca pemilu yo wess.
c. Kinerja dan prestasi partai tersebut, bagaimana kiprah anggota legislatif, atau menteri, atau kepala daerah dari partai tersebut.

Wallahu’alam bi shawab

Posted by: Muhammad Rihan Handaulah | March 6, 2009

Perbincangan Suatu Malam

Seorang berbincang dengan kawannya, suatu malam, melalui Yahoo Messenger

ya itu 22:29
takut gabisa 22:29
aaaaaah 22:29
mengerikan 22:29
kaya kuliah aja, 22:30
gak lulus, tinggal diulang 22:30
ampe lulus 22:30

Me
? 22:30
dapet C, 22:30
tinggal dicuci, jadi A 22:30
hehe 22:30
gak bisa? coba lagi ampe bisa.. 22:31
btw, kamu pernah gagal gak? 22:31

Me
nah 22:32
itu kang 22:32
saya nyaris gak pernah gagal 22:32
saya jadi takut gagal 22:32
coba lah gagal 22:33
sekali ajah.. 22:33
beuh rasanya, mantap 22:33
22:33

Me
AAAAAAAAAAARRRRGGHH 22:33
ini serius nih; 22:34
dalam perpektif manusia, manusia pasti pernah gagal 22:34
makanya chairil anwar bilang 22:35
“hidup hanya menunda kekalahan” 22:35
tapi gak begitu dalam perspektif Imani, 22:35
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah: 216) 22:36
Hadits: “Sungguh ajaib perkara seorang mukmin, karena apa yang terjadi adalah kebaikan baginya, jika ditimpa hal yang tidak menyenagkan ia akan bersabar, dan jika mendapat kesenangan ia akan bersyukur, dan keduanya adalah kebaikan baginya” 22:38
Jadi dalam perspektif Iman, seorang mukmin tidak pernah gagal! 22:38

Me
subhanallah 22:39
aku mau tanya? 22:40
Rasulullah saw pernah gagal? 22:40

Me
iya lah 22:40
tp kan katanya seorang mukmin tidak pernah gagal 22:41
bahkan Rasulullah saw pun gagal, 22:41

Me
ya ampun kang 22:41
makasih banyak 22:41
bagaimana dakwahnya ditolak mentah2 di makah, 22:41
3 tahun diboikot, 22:41
dilempari kotoran binatang, 22:41
berdarah2 dilempar batu di Thaif, 22:42
giginya copot di perang Uhud.. 22:42
namun apakah itu semua kegagalan yang sejati? 22:42
jika dibandingkan dengan prestasinya, seperlima manusia memuja namanya hari ini, 22:43
dan ia menjadi manusia yang paling dimuliakan.. 22:43
pada akhirnya gagal atau berhasil ialah cara pandang 22:44
dari nilai-nilai yang ia jadikan pijakan 22:44
kegagalan atau keberhasilan ialah cerita tentang keimanan… 22:45
wallahu’alam bi shawab

Older Posts »

Categories