Angin

To run where the brave dare not to go

Metro TV, dari Jilbab Sandrina Malakiano hingga Rohis sebagai Tempat Rekrutmen Teroris

oleh: Muhammad Rihan Handaulah

Metro-TV pada tanggal 5 September 2012 membuat pemberitaan yang gegabah dan jauh dari profesionalitas serta kode etik jurnalistik.

Dengan gegabah dikatakan bahwa pola rekrutmen generasi baru teroris adalah melalui ekstrakurikuler di masjid sekolah. Lalu banyak tanggapan keras dari masyarakat melalui twitter atau SMS hingga mereka pun merilis berita melalui websitenya (bukan tayangan TV) yang menyangkal bahwa mereka menuduh Rohis sebagai sarang pembibitan terorisme. Serta dikatakan ini adalah hasil penelitian dari profesor UIN bernama Bambang Pranowo. Sebuah bantahan yang sekedar silat lidah dan tidak jujur. Apalagi ekstrakurikuler di masjid sekolah selain Rohis? Suatu tuduhan yang sembrono dan tidak berdasar sama sekali.

Tidak jelas bagaimana mereka bisa sampai kepada kesimpulan seperti itu. Terjadi di mana kasusnya, kapan, siapa korbannya? Dan jika benar itu terjadi maka generalisasi pun belum tentu bisa langsung dilakukan. Perlu dilihat dulu benarkah ekstrakurikuler itu yang melakukan atau justru ada ekskul yg disusupi? Jika ini hasil penelitian maka di mana penelitiannya, bagaimana metodologinya, serta apa saja hasil penelitian tersebut? Dan masih banyak lagi jika kita mau telaah.

Dengan pemberitaan macam itu, berapa banyak etika jurnalistik yang dilanggar? Mulai dari pemberitaan yang tidak cover both side, mengambil data penelitian yang tidak jelas asal-usulnya, sampai tidak melakukan klarifikasi atas data yang diterima? Hinggai terakhir mereka berbohong dengan tidak mengakui perkataan mereka sendiri (bersilat lidah).

Hanya ada dua kemungkinan kejiadian ini terjadi. Pertama, Metro TV tidak berkompeten untuk menyandang peran sebagai Jurnalis. Mereka tidak bisa memikul amanah dan tanggung jawab yang luhur seorang jurnalis, mereka impoten. Kemungkinan kedua mereka dengan sengaja (deliberately) mengeluarkan berita ini karena tendensi tertentu. Jika asumsinya Metro TV diisi orang-orang kompeten maka mereka pasti mengerti etika profesionalisme jurnalistik lalu mengapa berita yang invalid sepert ini bisa sampai keluar?

Metro TV alih-alih mencerdaskan bangsa justru membuat ketegangan yang menyita energi kita. Dan kejadian ini mengingatkan saya akan kejadian beberapa tahun yang lalu saat Metro TV baru berdiri. Saat itu ada presenter yang sangat saya sukai yaitu Mba Sandrina Malakiano. Tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa beliau adalah yang terbaik di generasinya. Sampai suatu saat entah kemana beliau tidak pernah terlihat lagi di layar kaca hingga kemudian saya menemukan tulisan beliau (jika tak salah ini adalah status facebook-nya beliau) yang beredar di milis alumni SMAN 3 Bandung pada akhir tahun 2008:

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi dibelakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Sayasendiri yakin bahwa ? sebagaimana Islam mengajarkan ? di balikkebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan bolehjadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakaihijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itusaya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat sayabekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankanuntuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudahmengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelahberbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yangmengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya ditingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan sayaberjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orangdalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasapintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yangtinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta,akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama prosesnegosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperolehpenghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusiMetro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat adasinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri.Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti sayabuat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter danpresenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudahmenggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar,ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRIPusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilanganpekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yangterbaik dan bahwa “dunia tak selebar daun Metro TV’, saya bergemingdengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akanmendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibusaya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumahsakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di MetroTV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari dirumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu.Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawatinap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari diruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab sayamendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik.Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorakkeagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendirimemberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi hostdalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog paraprofesor di acara “Ensiklopedi Al Quran” selama Ramadhan tahun lalu,misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahamanbaru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif,dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemuIslam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia,mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadapkemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik danmendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan,bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentangkesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilihkenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlumempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab padaakhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihanpersonal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaianseminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karenasebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa darisiapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisatumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebutpuritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengakudirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan MetroTV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle ?seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagaisahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua ? di sebuah lembaganirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yangdikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusansaya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikansejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusanMetro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satukomentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, “Kamutersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar.”

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secaradiametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitupembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang ditengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yangdimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimanamereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuanberpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka jugasemestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperolehhak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengankepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsungmeredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme ?mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya ? ternyata bisabersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal.

Catatan: karena saya belum menemukan sumber primernya maka melalui tulisan ini saya meminta secara terbuka tanggapan atau bantahan dari beliau atau mungkin mas Eep jika ternyata tulisan ini bukan dari Mba Sandrina Malakiano.

Nah dua dari kejadian ini ditambah informasi dari twitter-nya Mas Edya Effendi @eae18 (mantan redaktur MI ) tentang bias SARA di tubuh pimpinan MetroTV maka makin berpilinlah apa-apa yang menjadi kekhawatiran saya tentang MetroTV. Ada apa dengan MetroTV? Semacam mengidap penyakit Islamophobia kah? Ataukah sudah menjadi penghamba kapital, menjadi garda depan penyebar teror bagi siapa saja yang melintangi kepentingan si empunya modal.

Sama saja tidak di Amriki tidak di Indonesia, Prof Noam Chomsky, pakal linguistik dari MIT telah mengingatkan kita akan peran media yang berpilin dengan kepentingan politik, militer, dan ekonomi:

“Any dictator would admire the uniformity and obedience of the U.S. media.”http://www.brainyquote.com/quotes/authors/n/noam_chomsky.html#xzQfg4tThX7ygKGz.99

serta menjadikan argumen sebagai media teror bagi lawan kepentingannya:

“You never need an argument against the use of violence, you need an argument for it”http://www.brainyquote.com/quotes/authors/n/noam_chomsky.html#xzQfg4tThX7ygKGz.99

Sebuah pelajaran penting tentang media yang sama seperti bidang-bidang lainnya; keuangan, militer, industri, politik yang hanya sebuah senjata. Semua bergantung pada siapa di belakangnya. Jangan jadi culun, cupu, planga-plongo dan mbebek pada media. Kita tetap butuh media tapi bukan media yang menentukan isi kepala kita. Gali informasi dari banyak sumber. Gunakan akal sehat, selalu kritis, dengan timbanglah dengan value dan prinsip-prinsip yang bersemayam di diri kita.

Artikel ini adalah pendapat pribadi penulis di blog-nya http://rihandaulah.wordpress.com

Penulis adalah mahasiswa yang sedang tinggal di Belanda serta pernah terlibat langsung dalam kegiatan kerohanian Islam (Rohis) di Kota Bandung antara tahun 2001-2012

About these ads

10 comments on “Metro TV, dari Jilbab Sandrina Malakiano hingga Rohis sebagai Tempat Rekrutmen Teroris

  1. el yasin yalnizca
    September 16, 2012

    Assalam’alaikum.
    Mohon ijin utk share di FB dan twitter sy @el_yasin.
    JazakaLlah khairan

  2. johan
    September 17, 2012

    bravo tuk mbak sandrina, maju terus….jangat mudah menyerah….alloh bersama Anda..

  3. tukang kompor menulis
    September 17, 2012

    pendapat yang menarik-
    salam kenal :)

  4. ghc
    September 18, 2012

    Ada yg bilang begini, ” Metro TV itu liberal dgn kiblat total ke AS sedangkan TVOne liberal juga tapi semangat kebangsaan Indonesianya tinggi.”

  5. Ayu Jasmin
    September 19, 2012

    Metro TV harus lebih berhati-hati menayangkan berita dan harus tetap obyekytif. Tapi di lain pihak, setahu saya Metro TV berhenti mempekerjakan Sandrina bukan karena berjilbab, tapi karena dia menjadi bulan bulanan gosip karena perselingkuhan. Tentu saja alasan Metro TV memecat karyawan karena masalah pribadi juga tidak fair. Tapi Metro TV juga berhak menentukan standar etika karyawannya, karena bagaimanapun juga dia perlu pencitraan. Chantal De la juga dipecat karena berpose seronok. Kalau anda punya istri, pilih mana: berpose panas di majalah atau (maaf) berselingkuh dengan suami orang?

    Dengan demikian Sandrina harusnya bisa membaca posisinya. Saya tidak bermaksud menghujat atau menggosip, tapi karena dia menulis (kalau benar) tentang keislaman, terpaksa saya katakan: Apakah Allah juga bersama dengan Sandrina ketika dia selingkuh dengan Eep? Apakah Allah tidak lagi bersama mantan istri Eep yang -mau tidak mau- menurut saya adalah korban dalam hal ini…. wallahualam bi sawaab…

    • Nikita
      May 2, 2013

      Baru baca komentar Mbak Ayu Jasmin yang bijaksana ini. Setau saya juga begitu Mbak, Metro TV mengambil keputusan tidak mempekerjakan Sandrina karena perselingkuhannya dengan Eep. Mengaku hanya sekedar teman dan dibela oleh pihak Metro TV eh tiba2 di Mekah mereka menikah sesaat Eep menceraikan mantan istrinya dulu itu. Tertipu juga rupanya Metro TV oleh mereka.. wallahualam bi sawaab

  6. yby
    September 23, 2012

    Halo Metro TV, cara-cara anda sepertinya menginginkan Rejim Suharto bangkit kembali, jilbab dilarang dimana-mana, da’wah dicurigai sebagai subversi dimana-mana…………ketahuilah Bapak Suharto telah tiada, kita semuapun akan tiada, ingat itu bahwa dunia tau itu semua…….

  7. Agen jilbab modern
    January 14, 2013

    maju terus sis…..

  8. Robert
    May 30, 2013

    Walan tardlo ‘ankal yahuda, walannashoro khatta tattabi’amillatahum (Al Ayah)
    Dan orang-orang yahudi dan nasrani (kristen) tidak akan senang sebelum kita mengikuti akidahnya !

  9. Sewa Mobil Jakarta
    October 23, 2013

    ngeri emang yang seperti ini. hati2 dalam pergaulan deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 16, 2012 by in Pergerakan dan Peradaban and tagged , , , .
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers

%d bloggers like this: