Archive for the ‘Muhasabah’ Category

h1

AKU INGIN

March 19, 2009

Entah mengapa hari ini aku teringat, sajak yang pertama kali kulihat beberapa tahun lalu. Tepatnya saat SMA, kelas satu. Menurutku ini puisi bertema cinta terbaik yang pernah aku temui hingga saat ini. Jika puisi bertema perjuangan memiliki “aku”,

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(Chairil Anwar)

dan puisi kepahlawanan ialah “antara karawang-bekasi”,

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(Chairil Anwar)

maka aku ingin menyatakan bahwa “aku ingin” ialah puisi cinta terbaik. Coba, simaklah bait-baitnya, kata per kata-nya,

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Dharmono)

Kuat sekali, energi puisi ini sangat kuat. Tidak meletup-letup, tetapi gelombangnya sungguh menghempas. Sesuatu yang menjadi kekuatan inti puisi ini, ialah kesederhanaan dan kelugasan.

Aku tidak bermaksud apa-apa dengan menulis catatan ini. Aku hanya ingin menikmatinya saja untuk saat ini. Tapi jika suatu saat nanti puisi ini pun menemukan konteksnya, tentu akan sangat membahagiakan.

Biarlah datang pada waktunya,

dengan cara sempurna,

seperti kata yang terucap,

yusuf pada zulaikha,

yang menjadikannya terpenjara

h1

Ode to Mine

January 22, 2009

Thanks God,

I got what I need,

not always what I want

I have tried,

then I knew

And there are ten paths upon me

Just keep on walking one by one

Until I know which one is mine

Never being afraid about what will happen

If it wasn’t mine,

it would never be mine

Just walk on

And light will guide

Then I’ll have known

I never walk alone

22 January, 2009

h1

In My Life

December 25, 2008

There are places I’ll remember
All my life though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places had their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I’ve loved them all

But of all these friends and lovers
There is no one compares with you
And these memories lose their meaning
When I think of love as something new
Though I know I’ll never ever lose affection
For people and things that went before
I know I’ll often stop and think about them
In my life I love you more

Though I know I’ll never lose affection
For people and things that went before
I know I’ll often stop and think about them
In my life I love you more
In my life I love you more

Pernah mendengar lagu yang satu ini? Dengarlah, lagu The Beatles ini sederhana, singkat, tapi indah. Ada suasana yang “bagaimana gituh” ketika saya mendengar lagu ini.

Salah satu kekuatan lagu ini ialah liriknya. Ia bercerita tentang perjalanan. Perjalanan hidup. Di mana bentangan waktu ialah ingatan. Semenjak kita bisa mengingat, hingga saat ini saya menuliskannya atau kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Ingatan-ingatan itu ialah kumpulan informasi dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Maka di sana selalu ada tiga hal yang membentuknya; tempat, orang, dan kejadian. Dimana kita pernah berada, bersama siapa, dan apa yang kita lakukan saat itu. Atau seperti kata Kangen band, ” kamu di mana, dengan siapa, semalam berbuat apa” haha.

Rangkaian kejadian, ruang, dan orang dalam bingkai waktu itulah, dalam perspektif manusia, yang membentuk kita hari ini. Seperti apa kita sekarang ialah seperti apa kita kemarin. dan seperti apa kita esok ialah seperti apa kita sekarang.

Kepada tempat-tempat yang pernah kusinggahi; Bandung, tempat kudilahirkan serta dibentuk hingga saat ini. Kamojang, tempatku merasakan air, udara, dan tanahnya yang bersih, indah, dan dingin di awal-awal kehidupanku. Rumahku di Ciputat tangerang, di sana aku merasakan warna masa kanak-kanakku. Soroako, Sulawesi Selatan, tempat pertama yang aku injak di luar Pulau Jawa saat melakukan Kerja Praktek di PT. INCO tahun lalu. Serta daerah-daerah lain yang pernah kudatangi.

There are places I’ll remember
All my life though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places had their moments

Kepada teman-temanku; teman semasa balita di Kamojang, teman TK, teman di SDN Ciputat 2, di SLTPN 2 Pamulang, teman bermain sepak bola di Sarua indah, tetanggaku di Jl. Suka Makmur, teman les bahasa Inggris di IEC Ciputat, teman-temanku yang hebat di SMAN 3 Bandung, di Teknik Elektro ITB, WANADRI. Ataukah ia yang lebih dahulu pergi mendahuluiku, seprti Boyke Artha, sahabat baikku. Engkau semua  yang telah memberi rasa dalam hidupku.

Kepada guru-guruku, guru ngajiku di TPA, mentor-mentorku di DKM AL Furqan, musyrif ku di HT, murabbiku, ustadz-ustadzku. Engkau semua yang membimbing, menyemai kebaikan, dan menjagaku dari hama-hama keburukan.

Kepada kawan-kawan seperjuanganku. Anak-anak seven yang menjadi avonturir lintas harakah. Teman-teman satu lingkar. Binaan-binaanku. Aktivis Dakwah Kampus ITB. Tim Dakwah Sekolah. sahabat di Asrama Salman.Bersama kita merajut amal serta tolong menolong dalam kebaikan dan kesabaran.

Kepada inspirasiku; para pejuang mukmin sejati sejak zaman sahabat, tabi’in, hingga hari ini. Dari Muhammad al Fatih hingga Hasan al Banna. Salahuddin al Ayyubi hingga Abdul Aziz Rantisi. Muhammad Ibnu Abdul Wahab hingga Muhammad Natsir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hingga Dr. Yusuf Al Qaradhawi. Sayyid Quthb hingga Anis Matta. Serta para masyaikh gerakan dakwah yang masih hidup bersamaku di hari ini. Engkau semua ialah mercusuarku.

Kepada seluruh keluarga. Aku hanya bisa mendoakan “allahummagfirli waliwalidayya warham huma kamaa rabbayani shagira” dan semoga Allah swt memberiku umur dan kekuatan membalas segala kebaikan engkau semua.

Though I know I’ll never lose affection
For people and things that went before
I know I’ll often stop and think about them
In my life I love you more
In my life I love you more

Kepada Yang Maha Rahman dan Rahim, aku ingin berteima kasih kepadaMu karena telah menghadirkan mereka semua ke dalam hidupku. Dan semoga syukurku bisa berbuah amal yang akan mempertemukan kita bersama-sama di Surga.

Atas semua peristiwa-peristiwa yang telah lalu. Atas semua amal kebaikanku yang telah lalu, semoga Allah swt berkenan menerima mu. Atas semua dosa dan kesalahanku , semoga Allah swt berkenan mengampuninya semua. Atas rencana-rencana dan harapanku, semoga Allah swt mencatatnya sebagai pahala dari niat baik, serta menunjukan jalan-jalannya. Menghimpun cahaya dan kesabaran di dalam dada ini. Serta menjadi akhir yang indah. Hidup mulia dan mati dalam kesyahidan.

Hari ini hari milikku

Juga Esok masih terbentang

Dan mentari kan tetap menyala

Di sini di dalam hatiku, di sini di urat darahku

I’m Alive.. I’m Alive..

tepat dua puluh dua tahun satu hari

h1

Ramadhan-Ramadhanku

October 1, 2008

Setiap Ramadhan selalu memberi kesan yang unik. Pesan yang dtinggalkan olehnya saat kami berpisah biasanya berbeda dari Ramadhan ke Ramadhan lainnya. Tahun lalu pesan Ramadahan yang aku ingat ialah kecintaan dan meneladani akhlak Rasulullah saw. Sedangkan Ramadhan tahun ini meninggalkan pesan yang kuat akan ibadah, keikhlashan, dan kerinduan yang mendalam terhadap surga. Yang paling aku syukuri ialah, semangat dan kekhusyuan yang kembali meningkat dalam beribadah kepadaNya, beristighfar, tahmid, dan tasbih. Setidaknya relatif lebih baik dari bulan Sya’ban kemarin. Sebagai sebuah kenangan untuk menyemangati saat dibutuhkan, kubuka file-file ingatanku mengenai Ramadhan-Ramadhan yang telah berlalu.

Ramadhan saat SD dan SMP di Ciputat

Yang aku ingat aku pertama kali berhasil menyelesaikan shaum Ramadhan dengan lengkap ialah waktu aku masih duduk di kelas satu atau dua. Hingga seterusnya alhamdulillah Allah swt lewat kedua orang tuaku yang mulia telah menanamkan rasa tanggung jawab dan kesadaran untuk menaati perintah-Nya. Belum pernah aku seperti teman-teman lain, curi-curi makan di siang hari. Walau demikian memang seperti halnya anak-anak, Ramadhan full kuisi dengan bermain dan tidur dari fajar hingga maghrib. Jadwal hariannya adalah sebagai berikut; tidur hingga pukul 10 pagi. Lalu bermain hingga maghrib. Permainan kami saat itu dibagi dua yaitu indoor dan outdoor. Permainan indoor berupa monopoli, ludo, ular tangga, Nintendo, dan karambol. Sedangkan menu permainan outdoorrnya ialah bersepeda keliling kampung-kampung di Ciputat, atau mencari ikan di sawah.

Oh ada lagi, yaitu menu permainan malam yang dilakukan tarawih dan bada tarawih. Ialah membuat keributan dan saling mengganggu saat salat tarawih berlangsung dengan berbagai modus operandi; domino effect saat ruku’, menarik sajadah sampai terjatuh, berlomba berteriak Amiin paling keras dan aneh, hingga menggoda jamaah putri yang merupakan incaran anak-anak. Alhamdulillah waktu itu aku hanya menjadi pasivis saja, tidak melakukan tapi menikmati, hehehe. Nah agenda bada tarawihnya lebih seru lagi, apalagi kalau bukan pesta petasan. Mulai dari petasan paling kecil yang disebut ceplik yang harganya 50 rupiah, petasan korek yang cara penggunannya seperti menyalakan korek api, petasan roket yang disebut jangwe, petasan kentut yang mengeluarkan bau kentut, petasan neon yang menyala sangat terang, petasan air mancur, hingga petasan kelas kakap yaitu petasan teko yang ledakannya luar biasa keras seperti bom. Soal petasan ini orang tuaku sangat keras melarang, karena tentu saja khawatir keselamatan anaknya. Sehingga paling-paling aku hanya bermain petasan neon atau kembang api yang tidak berbahaya. Pada waktu itu kami tidak hanya bermain petasan, tetapi tepatnya perang petasan dengan anak-anak komplek atau kampung lain. Seru pisan, bahkan sampai bikin senjata bazoka, yaitu petasan jangwe yang diluncurkan dengan pipa paralon. Walau kadang jatuh korban juga, ada seorang temanku yang tangannya terluka parah karena petasan teko yang hendak dilemparkan balik olehnya ke arah musuh malah meledak di tangan. Nah, perang yang lebih serius seperti itu dilakukan tidak di sekitar kampung kami, tetapi di Lebak yaitu area tanah gusuran yang sangat luas, area perumahan yang tidak jadi dibangun.

Beranjak SMP tentunya aku lebih bisa memaknai Ramadhan. Saat itu aku mulai mengisi Ramadhan dengan serius seperti menyimak ceramah ustadz di televisi, mengikuti kajian-kajian bersama bapak, hingga membaca bacaan-bacaan Islam. Man of the match saat itu siapa lagi kalau bukan KH Zainuddin MZ, bettul? Saat itu beliau sedang naik-naik daunnya dan dikontrak oleh salah satu stasiun TV yang menyiarkan ceramah live-nya dari berbagai kota. Oh, ada satu bacaan yang paling berkesan. Sebuah booklet, suplemen khusus Ramadhan 1419 H dari majalah Sabili. Isinya ialah berbagai artikel seputar Ramadhan. Saya lupa isi persisnya tapi saat itu booklet kecil itu sangat mengubah cara pandang saya. Saat SMP juga saya mulai membaca bacaan-bacaan Islam yang lebih serius yaitu buku-buku tulisan Quraish Shihab yang merupakan favoritnya Bapak seperti Lentera Hati, Membumikan Al Quran, dan Wawasan Al Quran. Ada juga buku lain yang sangat saya suka judulnya yaitu Mengapa Aku Memilih Islam, isinya tentang pengalaman para mualaf. Buku ini cukup memberikan topangan akidah bagiku yang masih SMP.

Suasana yang khas dan tidak akan terlupakan, khususnya setelah saya berpisah dengan keluarga, ialah saat-saat sahur, buka, membantu ibu membuat kue-kue Ramadhan, hingga mudik ke Bandung. Sangat mengharukan dan menceriakan jika dikenang. Saat berkumpul di rumah, memutar lagu-lagu Bimbo. Saat-saat mudik yang penuh perjuangan, lari-lari mengejar bis di Terminal Kampung Rambutan atau Terminal Kebon Kalapa saat baliknya. Ada strategi khusus yang selalu kami pakai dan alhamdulillah bekerja dengan efektif. Setiap ada bis yang datang maka berdua dengan bapak aku mengejar bis, berebut pintu masuk lalu memburu tempat duduk. Ibu, adik-adik yang saat itu masih kecil, serta barang bawaan menunggu di bawah. Setelah tempat duduk di dapatkan bapak turun lagi mengambil barang dan menjemput ibu, sedangkan aku menjaga kursi di atas bis. It really works. Walau pernah suatu saat aku nyaris terbawa karena bis segera pergi begitu terisi penuh sedangkan ibu dan bapak belum naik. Alhamdulillah saat ituu kami masih selamat.

Ramadhan di Bandung

Inilah fase pendewasaan dalam hidupku. Aku berangkat ke Bandung tidak hanya untuk menimba ilmu di SMAN 3 Bandung, sekolah nnegeri terbaik di Jawa Barat, tetapi juga menyiapkan mental dan menempa karakter untuk lebih mandiri dan dewasa. Maka ramadhan-Ramadhan yang kualami kemudian pun tidak lepas dari nuansa itu. Karena masih belum terlalu lama berselang di sini akan aku tuliskan pengalaman-pengalaman Ramadhanku tiap tahunnya.

Ramadhan 1422 H. Ramadhan pertama selepas dari keluarga di Ciputat. Kondisi aku secara umum pada awal-awal itu cukup buruk yang ditandai dengan kondisi fisik yang sakit-sakitan hingga berimbas pada nilai raport yang jatuh bebas. Barangkali sebuah shock teraphy lepas dari orang tua. Termasuk juga di Ramadhan saat itu aku diuji dengan sakit tifus sekitar satu minggu. Walau demikian aku masih sempat mengisi Ramadhanku dengan menjadi panitia Dialog Ramadhan yang diadakan oleh FORMAI, remaja masjid di Maleer. Saat itu aku diamanahi sebagai sekretaris, sedangkan saat itu adalah pengalaman organisasiku yang pertama dalam memegang amanah. Tetapi karena sakit aku diungsikan ke Jakarta sehingga tidak sempat menikmai hasil kerjaku sendiri.

Ramadhan 1423 H. Pekerjaan besar yang aku selesaikan di Ramadhan ini ialah sebagai Ka Dep Tarbiyah DKM Al Furqan dan panitia sanlat di SMAN 3. Sanlat kami namanya Liga Premier (singakatannya lupa). Mungkin itu slaah satu sanlat paling keren yang pernah diadakan oleh DKM Al Furqan dengan pembicara yang hebat seperti ust Hari Roesli, acara yang variatif, hingga penyiapan venue yang optimal. Bahkan kami panitia harus menginap selama beberapa hari untuk acara yersebut. Alhamdulillah beberapa pasangan pacaran putus setelah mengikuti sanlat tersebut.

Ramadhan 1424 H. Ini adalah Ramadhan yang paling aku kenang. Ia datang di puncak-puncak proses pematangan indentitas keIslamanku dan shibghah corak ideologisku. Ia hadir pada kondisi percepatan paling optimal dalam hidupku saat aku membentuk kerangka pikir dan cara pandangku. Ada satu momen penting dalam hidupku terjadi saat itu. Pada suatu sore aku bersama tiga sahabatku Irfan, Hariyadi, dan Arif mengikuti kajian bedah buku Manajemen Kematian tulisan Ustad Khozin Abu Faqih, saat itu yang menjadi pembicara adalah Ustad Hilman Rosyad Shihab, Lc. Bukunya tipis, tetapi aku merasa buku itu menjadi salah satu buku yang paling mewarnai hidupku selain buku-buku yang lain yaitu; Model Manusia Muslim, Mencari Pahlawan Indonesia, dan Dari Gerakan ke Negara-nya Ustad Anis Matta, serta Diirasat fil islam serta Fii Zhialil Quran Sayyid Quthb, dan terakhir Seven Habits-nya Covey. Kembali ke buku Manajemen Kematian, buku itu memberi bekal cara pandang yang sangat kokoh dan mendalam bagaimana kita menyikapi kematian. Dan menyikapi kematian berarti menyiapkan sisa kehidupan kita. Yang paling aku ingat adalah hadits qudsi tentang tiga orang yang dimasukan ke neraka; penghapal quran, orang yang gugur di peperangan membela Islam, serta penderma. Ketiganya dicampakan ke neraka karena mereka menduakan Allah swt dalam niatnya. Pada buku itu juga aku mendapat kesan yang kuat tentang mati syahid dan kematian orang-orang shalih. Salah satu perkataan Sayyid Quthb dalam buku itu yang paling aku ingat ialaha “Barangsiapa hidup untuk dirinya sendiri maka ia mati sebelum hidupnya berakhir, dan barang siapa hidup untuk sebuah fikrah yang ia perjuangkan maka usianya berakhir sepanjang sejarah itu berakhir”. Ramadhan saat itu aku akhiri dengan sempurna itikaf empat malam di Salman dan tiga malam terakhir di Habiburrahman. Pagi itu, 30 Ramadhan 1424 H aku keluar pulang dari Habiburrahman. Di dekat landasan pacu Husein Sastranegara aku melihat langit pagi yang terindah yang pernah kulihat dalam hidupku.

Ramadhan 1425 H. Ramadhan pertama menyandang status baru; mahasiswa. Saat itu sudah musim UTS dan juga Allah swt menguji dengan sakit cacar air selama satu minggu. Alhamdulillah masih kebagian itikaf dalam satu pekan terakhir. Tahun itu itikaf kulakukan di Salman. Aku juga mengajak sepupuku, Bardan. Man of the match-nya adalah akhuna Azis, Teknik Kelautan ’99, kakak kami yang ustadz Tahsinnya Majelis Ta’lim Salman. Ia yang paling mewarnai Ramadhanku saat itu dengan ilmu tahsinnya yang membawaku pada level yang lebih tinggi dalam hal interaksi dengan Al Quran.

Ramadhan 1426 H. Saat itu aku diterima di Asrama Salman bersama dua puluh orang saudaraku yang lain. Saat itu aku mengangkut barang dari rumah bersama dengan sahabatku Oki dengan mobilnya yang saat itu belum dijual. Teman sekamarku ialah Julian dan Januar. Salah satu kenangan saat itu adalah lagu Alhamdulillahnya Opick beserta lagu lain di albumnya yang pertama yang sangat sering diputar oleh Januar dan juga aku sukai. Serta album Kemenangan-nya GIGI serta album religi Ungu yang pertama yang lagunya Surga-Mu merupakan favoritnya sahabatku, Dani Badra. Pertama kalinya Ramadhan lepas dari keluarga. Bagaimana rasanya kesulitan mencari sahur jika bangun terlambat atau terpaksa dengan menu sisa di kantin Salman. Ba’da Ramadhan saat itu digunakan untuk berlibur ke Jogja bareng Army dan Bardan. Itu pertama kali keluar Jawa Barat selain Jakarta.

Ramadhan 1427 H. Ramadhan kedua sebagai anggota Asrama Salman. Salat ied kedua sebagai panitia di ITB. Saat itu juga ada seleksi pertukaran pemimpin muda Indonesia-Australia. Aku mencapai tahap terakhir yaitu interview dengan professor-profesor dari Australia National University, NUS, serta perwakilan kedutaan besar Australia. Saat itu adalah tanggal 19 Ramadhan, dan Allah belum mengijinkan. Salah satu sebabnya adalah sama sekali tidak ada persiapan dan Bahasa Inggrisku yang sudah lama tidak digunakan sehingga tumpul. Saat itu juga NEEO Youth Development Center masih eksis dan mendapatkan proyek Sanlat di SMA Darul Hikam selama tiga hari. Sealin itu juga NEEO mendapatkan proyek Sanlat yang disponsori oleh pemprov di daerah Padasuka. Soundtrack Ramadhan tahun itu ialah album Taqwa Opick; Taqwa, Takdir, Irhamna, Semesta Bertasbih, dan yang lainnya. Juga album religi Ungu yang kedua yaitu Para Pencari Tuhan.

Ramadhan 1428 H. Itikaf di Salman, kecuali dua malam di Habiburrahman. Yang berkesan saat itu ialah membantu panitia itikaf Salman yang merupakan teman-teman yang pernah tinggal bersama sewaktu aku masih di Asrama Salman. Ramadhan tahun itu ialah Ramadhan pertama selepas aku dari Asrama. Jadi saat itu aku pertama kali menjadi outsider Salman (Asrama). The best moment saat itu adalah kajian Hadits dan Sirah Nabawiyah yang dibawakan oleh Ustad Hervi Firdaus, Lc, Al Hafizh. Betapa hampir setiap kajian itu aku menangis mendengar kajian tentang akhlak dan perjalanan dakwah Rasulullah saw yang disampaikan dengan sangat indah oleh beliau. Saat itu juga aku diperkenalkan dengan murattal Syaikh Al kanderi oleh anak-anak asrama yang saat itu sedang hot-hot nya. Sampai saat ini beliau adalah qari’ terbaik menurutku dengan alunan tilawahnya yang indah dan mendayu.

h1

Catatan Akhir Ramadhan

October 1, 2008

Malam terakhir, Masjid Al Hikmah TELKOM Divre III

Segala puji bagi Allah azzawajalla yang telah menyampaikan aku di malam terakhir, Ramadhan 1429 H yang akan berakhir kurang dari 24 jam lagi. Ada kesan yang mendalam, ada kenangan yang tersisa di sini saat ini. Tentang perjalanan-perjalanan yang telah aku tempuh. Bagaimana aku melihat diriku sendiri dengan segala kesempurnaan dalam penciptaannya, kemudian tenggelam di lautan kelalaian dan kealpaan, hingga kesadarannya menyelamatkannya kembali untuk terus berlayar mengarungi samudera kehidupannya untuk mencapai tujuan yang abadi. Dalam hidup ini telah berlalu stasiun-stasiun kehidupan, sebagian menjadi kenangan yang indah untuk terus dikenang. Sebagian adalah stasiun yang kelam dan muram, yang jika dikenang menjadi pengingat akan dosa dan kealpaan yang menjadi kesedihan. Dan hidup ini akan terus berjalan, terus melangkah menemui stasiun-stasiun kehidupan yang lain hingga mencapai akhir yang tak tahu kapan. Yang pasti hanyalah tempat yang dituju itu sendiri. Biarlah aku berada dalam gerbong kehidupan yang membawaku. Yang terpenting adalah sikap. Bagaimana respon kita terhadap hal-hal yang terjadi di luar pada diri kita. Maka respon itu adalah buah apa yang ada jauh di dalam lubuk hati kita, yaitu keimanan. Sungguh malang orang hidup tanpa iman. Mereka kesepian di tengah keramaian, mereka kebingungan di antara petunjuk dan penanda arah yang ada di sekitarnya, lalu mereka lebih dahulu mati, sedangkan jasadnya masih hidup. Demikian karena ia telah kehilangan hakikat eksistensinya.

Demikian keimanan pun punya ceritanya sendiri. Ia adalah tombol yang menghidupkan seonggok tubuh bernama manusia. Menjadikannya hidup seutuhnya. Tidak seperti zombie-zombie yang kelaparan mencari mangsa, seperti halnya yang terjadi pada kemanusiaan sepanjang sejarahnya dan juga dewasa ini yang makin menjadi-jadi. Sebuah dunia yang menjadikan manusia mangsa bagi manusia lain. Iman memiliki siklus hidupnya sendiri. Yang dijaga oleh pemiliknya dan dipelihara berdasarkan petunjuk manual dari Yang menciptakannya. Ialah ibadah-ibadah mahdah yang merupakan santapan bagi iman. Sealin tentunya ibadah itu bernilai pahala dan berbuah keridhaan Allah swt yaitu surga.

Ramadhan adalah pos untuk menjaga, merawat, dan meng-upgrade iman. Ibarat dalam sebuah perjalan di mana kita membutuhkan stasiun pengisian bahan bakar, toilet, dan tempat istirahat. Di sini lah Allah swt menjamu para pemilik iman untuk datang, istirahat, lalu menyiapkan segala kebutuhannya selama perjalanan ke depan. Di sini kotoran menjijikan yang menempel di pemilik iman dibersihkan dengan air ampunan Allah yang maha luas. Di pos ini bekal perjalanan pemilik iman diisi penuh dengan pahala amal-amal yang Allah swt sediakan berlipat. Di pemberhentian ini bagian yang rusak diperbaiki dengan buah dari ibadah-ibadah shaum, tilawah al quran, zikir, shadaqah, dan shalat-shalat malam yang panjang. Di sini juga tempat bagi sang pemilik iman untuk mengorientasi medannya sambil mencocokan arah kompas dengan peta hingga ia mengetahui posisi dirinya, arah, dan sisa perjalanan yang harus ia tempuh. Yaitu melalui sunnah beruzlah yang Rasulullah saw contohkan dengan itikaf.

Semoga selepas pos perhentian ini, sang pemilik iman menjadi lebih siap untuk melanjutkan perjalanan berjuang menegakan keimanannya di belantara kehidupan, hingga ia menemui ajalnya di antara 11 bulan atau ia bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Tentu saja dengan kondisi yang lebih baik dan kesiapan yang prima untuk dijemput pulang, karena ia telah berhasil dalam Ramadhannya.

Ramadhan-Ramadhanku beberapa tahun belakangan sungguh mengagumkan, semoga Allah swt meridhainya dan mengampuni segala kealpannya, karena aku bertemu Ramadhan di tengah-tengah usia pembelajaranku dalam pembentukan identitas diri dan identitas keislamanku. Aku sungguh bersyukur memasuki Ramadhan dengan segala fasilitas yang sangat membantuku mensyukuri nikmat bertemu dengan Ramadhan. Walaupun istighfar yang kulakuan semestinya lebih banyak lagi. Takut dengan segala kebengkokan niat dalam ibadah serta kekurangan ilmu untuk menjaga sunnah. Serta saat-saat di mana hawa nafsu lebih dominan mengendalikan diri ini. Terimalah ya Allah, shaum kami, tilawah kami, rukuk kami, sujud kami, beserta semua amal yang kami lakukan. Dan kami berlindung kepadaMu dari segala kemusyrikan yang kami sadari maupun tidak.

Kini aku teringat akan sebuah nasyid yang luar biasa yang pertama kukenal semasa masih bulan madu tarbiyah waktu SMA dulu. Ialah nasyidnya Suara Persaudaraan, temanya tentang perpisahan dengan Ramadhan. Indah. Menyentuh sekali. Ingin menangis rasanya saat menyenandungkan nasyid ini di tiap akhir Ramadhan.

Elegi Untuk AA

Album : Bara dalam Tazkiyah
Munsyid : Suara Persaudaraan

Tertatih aku mengejar bulan
Mengais sisa – sisa Romadhon
Terjatuh.. terpuruk dikeheningan

Ramadhanku telah pergi
Syawal tlah menjelang
Tinggalkan arti tujuh puluh tingkatan
Amal ibadah bagi insan beriman

Duhai sahabat pilihan Alloh
Di sini, dipertigapuluh terakhir
Kita bertemu dalam renungan
Satu jiwa satu hati dan satu iman

Tuhan kekalakan tali ini
Rekatkan dalam dzikir padaMu
Biarkan rindu kian bersemayam
Karena kasih dan cintaMu

Duhai sahabat pilihan Alloh
Dihari ke tujuh ba’da Romadhon
Hati masih sedih ditinggalkan
Seluruh jiwa terasa sakit
Tiada kawan penghibur
Kecuali Alloh semata

Hanya satu tumpuhan harapan
Jumpa Romadhon dengan izin tuhan
Madrasah perjuangan dan kesabaran
Menuju Ar-royan yang dijanjikan

h1

Di Semester Terakhir

August 28, 2008

Hwaaaaa… Subhanallah, Alhamdulillah, ALLAHU AKBAR!!! Teu karasa, ITB tereh rengse sakeudeung deui…

 

Ini adalah saat-saat yang luar biasa, berlipat-lipat emosi menderu-deru dalam perasaan, begitu pun rencana-rencana menari-nari terus dalam pikiran. Inikah masa-masa seorang mahasiswa mengalami sindrom TA? Katanya menjadi SWASTA Mahasiswa tingkat akhir, mahasiswa sedang TA, atau mahasiswa susah TA, sama saja artinya. TA adalah singkatan dari Tugas Akhir walau ada juga yang mengartikan tholabul akhwat (untuk ikhwan) atau tholabul abi (untuk akhwat), bahkan beberapa kawan yang apatis lebih suka memaknai TA dengan ”teuing Ah!”. Walah-walah, edun euy…

 

Inikah saat-saat yang dicari empat tahun lalu? Saat berngantuk-ngantuk, berjuang belajar untuk SPMB? Ngantri sana sini ngurus pendaftaran SPMB? Hingga berdegup-degup ria jantung ini menerima takdir pada suatu sore, ba’da magrib di sebuah warnet menerima takdir bahwa ”anda diterima di 250841 (kode urusan Teknik Elektro ITB waktu itu)”. Dengan gagah jumawa kaki ini melangkah ke kampus Ganesha 10, pertama kali ialah mengambil kit daftar ulang di GSS ITB, esok harinya ngantrii panjaaanngg di Sabuga untuk menjemput takdir yang kedua; menyaksikan angka tercetak di bawah nama saya di KTM ”M. Rihan Handaulah, NIM: 13204141)”. Delapan angka berjuta kenangan, kesedihan, penderitaan, kebanggaan. Mulai dari tersenyum-senyum sendiri (bangga, bukan gila) waktu awal-awal menerima KTM, ”alhamdulillah, budak ITB euy!”. Deretan angka yang selalu menemani waktu kaderisasi HME. ”Interupsi SENIRO! M. Rihan NIM 13204141 izin bertanya/ menjawab”. Hingga yang paling tragis kalau melihat di papan pegumuman 13204141 D atau 13204141 E. Sekeluarnya dari Sabuga kami disambut kakak-kakak HME dan ME (muslim elektro) yang ramah-ramah dan baik hati (tidak seperti jurusan lain yang sinis dan kejam). Saya masih ingat waktu itu kami diberi dua pin yang imut-imut. Satu pin lambang ME, satu lagi pin HME yang ada tulisan OK CHAMP!. Sayang keduanya sudah raib entah kemana.

 

Memulai Perjalanan di TPB (Tahap Paling Bahagia)

Hari-hari berikutnya yang tentu sangat berkesan adalah OSKM. Barangkali angkatan 2004 adalah angkatan terakhir yang beruntung merasakan gairah dan totalitas kemahasiswaan ITB yang tumplek di OSKM. Dari yang hitam sampai utih, yang paling suci hingga paling hina tumpah ruah di OSKM 2004 membentuk sebuah harmoni warna-warni yang indah dipandang dan tentunya layak dikenang. OSKM 2004 temanya keren yaitu perwayangan. Kami dipanggil Satria-Srikandi dan kami memanggil panitia Kawula. Ada empat kawula yaitu Rahwana (marah-marah wae gawena sebagai TaDis), Mandala (Keamanan andalan), Husada (Hadir untuk kesehatan anda), dan Punggawa (prajurit unggulan gagah dan jumawa sebagai Taplok (tatib kelompok/ pendamping)). Tema OSKM 2004 ialah ”Dari ITB untuk Bangsa” dengan pokok materi; Identitas-Intelektualitas-Kebangsaan-Kemahasiswaan.

 

Di OSKM itu juga saya bertemu pertama kali dengan salah seorang kreator OSKM kami yang super keren itu yaitu alm. Sigit Firmansyah (EL’01, sang Ketua Tim Materi yang mengonsep acara OSKM). Bicara tentang beliau, ia adalah legenda, teladan yang akan selalu dikenang orang yang pernah mengenalnya dengan kepemimpinan, kecerdasan, prestasi akademik dan karya keelektroannya, hingga pergaulannya sebagai da’i yang diterima dan dikenal luas oleh massa ITB. Saya terkesan di OSKM saat beliau menjadi fasilitator lingkar wacana tentang peran dan kontribusi mahasiswa bagi bangsa. Sejak saat itu beberapa kali kami bertemu dan ngobrol, khusunya tentang dakwah dan kemahaiswaan. Perkenalan saya dengan Kang Sigit di dunia hanya sekitar tiga bulan. Saat itu, Ramadhan empat tahun lalu, sekitar bulan Oktober ada SMS ke HP saya ”Innalillahi wa innailaihi raaji’un, telah berpulang akhuna Sigit Firmansyah dan ayahnya dalam kecelakaan motor saat mudik di Tegal…” Sekarang yang paling saya ingat tentang beliau adalah quote-nya yang saya temukan di bukom Kabinet KM ITB: ”SURGA HANYA MENEMUKAN DEFINISINYA DI HATI PARA PEJUANG (alm. Sigit Firmansyah)”. Semoga Allah swt mempertemukan kita di surga, kang… sebagai para pejuang.

 

Masa-masa awal di ITB masih diliputi dengan euforia kemenangan masuk ke Institut Terbaik Bangsa, disambut dengan spanduk Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa. Juga euforia menjadi seorang ADK (Aktivis Dakwah Kampus) yang dikenalkan dengan doktrin-doktrin perjuangan untuk memperbaiki bangsa ini dan mengembalikan Izzaah Islam wal Muslimin, dengan salah satu jargon yang paling saya ingat ”Antum arruhul jadiid fii jasadi hadzihil ummat”. Salah satu kawah ideologisasi saya ialah Majelis Ta’lim Salman ITB selama tahun pertama di ITB yang sangat kental dengan nuansa haraki. Di Mata’ saya mengikuti hampir seluruh program pembinaannya, mulai dari DPAA (Daurah Pembinaan Anggota Awal) di Masjid Al Fitrah PT. PINDAD, DPKD (Daurah Pembentukan Kader Dakwah) di Al Mu’minun, Lembang, dan terakhir DPAL (Daurah Pembinaan Anggota Lanjut) di BGG, Jatinangor. Saya pun termasuk angkatan terakhir yang masih merasakan Latihan Mujahid Dakwah dengan format asli seperti sejak zaman Bang Imad di Salman dengan konsepsinya: Iman-Hijrah-Jihad. LMD 156 di Ciburial. Salah satu materi yang paling kuat tertanam adalah materi ”Ma’alim fii Thariq” berupa bedah buku yang ditulis oleh Asy Syahid Sayyid Quthb yang dihukm gantung oleh rezim Gamal Abdul Nasser karena menulisnya. Tentu yang paling berkesan adalah Audio Drama tentang Detik-Detik Terakhir di Kehidupan Rasulullah. Saya akan selalu mengingat ”Satu Bintang”-nya Hadad Alwi, bintang-bintang di langit malam itu, dan tentu saja kalimat terakhir malam itu, ”Ummatii.. ummatii.. ummatii..”.

Bersambung…

h1

A Greeting

August 16, 2008

Assalamualaikum wr wb

Sahabat-sahabat, senangnya bisakembali ke peradaban, setelah satu bulan berada di belantara, pantai, dan rawa, tebing, dan sungai mencari segenggam hidayah dan spirit yang kemarin mulai meredup. Mudah-mudahan pasca pendidikan dasar wanadri 2008 pada tanggal 12 Juli-10 Agustus kemarin saya bisa lebih baik. Dan perjumpaan-perjumpaan kita di sini insya Allah akan makin bermakna. Bersama ini saya meluncurkan tulisan-tulisan saya seputar pengalaman yang luar biasa sebulan kemarin. Selamat menikmati.

h1

Untuk Kawan

July 4, 2008

Teruslah menatap ke depan, kawan
di puncak itu, akhir perjalanan ini
Akhir itu memang jauh
Tapi tak mengapa,
karena aku selalu percaya,
Di puncak itu, kawan
kita akan bertemu
***

Tetap, tetaplah bersamaku kawan
di sini, di jalan ini
Terus, teruslah kita melangkah
di jalan yang lurus ini
Agar kita selalu bersama
Hingga ujung sana, di ujung jalan ini
Di negeri keabadian
***

Mengapa kau takut,
mengapa kau lemah,
mengapa kau menyerah,
Jika gelap di hadapanmu , kawan
sangat mencekam
bukan karena kegelapan itu sendiri
Sebab kau tidak melihat
cahaya di ujung sana
***

Harapan itu akan selalu ada
selama kau masih menggantungkannya
Cahaya itu masih akan tetap bersinar
selama kau memintanya
Tinggal engkau sendirilah, kawan
yang menentukan kepada siapa
dirimu hendak kau serahkan
***

Seperti yang telah engkau ketahui, sedari awal Jalanmu memang sungguh berat Tapi ku tahu, kawan Sebab engkau telah memilih Kau akan menyelesaikannya

h1

Mediokritas Itu Menjadi Modal

June 27, 2008

Hari-hari ini kembali otakku mengajaku berpikir tentang rencana-rencana. Barangkali hal ini disebabkan makin dekatnya waktuku untuk mengakhiri kuliah di ITB. Insya Allah bulan Maret atau selambatnya bulan Juli tahun depan aku akan melangkahkan kaki menuju kehidupan yang lebih nyata. Sahabatku mengistilahkannya dari danau menuju lautan luas. Dunia nyata yang tak ada ampun bagi kesalahan, zero mistake, katanya.

 

Dan aku bersyukur bahwa aku menyadari hal ini. Aku justru bersyukur dengan keresahan ini. Itu artinya Allah swt masih mengingatkanku untuk selalu terjaga dalam jalan hidup yang hendak aku pilih. Hidup adalah pilihan-pilihan. Ia adalah rentetan-rentetan cabang yang harus dipilih. Dan kita bebas memilihnya, itulah salah satu esensi kemanusiaan kita. Sebuah amanah yang harus dipikul demikian berat hingga gunung, bumi, dan langit menolaknya karena demikian takut (QS. Al Ahzab: 22). Kita bebas memilih hendak kemana, mau jadi apa kita. Namun sedikit pun kita tidak bisa bebas memilih ujung dari jalan yang kita pilih itu. Dan setiap orang hanya akan memetik apa yang telah ditanamnya. Tidak akan tertukar sedikit pun. Maka apakah balasan bagi kebaikan selain kebaikan pula (QS. Ar Rahman: 60).

 

Keresahan ini adalah kesempatan bagiku untuk terus mencocokan mata kompas dan peta yang aku pegang. Betapa banyak teman-temanku yang lain yang barangkali (mudah-mudahan prasangakaku salah) sekedar melewati fase akhir pendidikannya di ITB dengan sekedar cepat lulus agar segera mendapat pekerjaan yang baik. Masalahnya bukan hendak menjadi apanya, tapi mengapa mereka memutuskan hal itu. Demikian hal yang seringkali dilupakan banyak orang yang aku temui.

 

Apa-apa yang telah terjadi khususnya selama empat tahun kebelakang juga membawaku kepada pemikiran akan hal ini. Tentu saja banyak hal yang harus disyukuri, namun rasa-rasanya lebih banyak lagi yang hatus diistighfari. Empat tahun lalu aku masuk ITB dengan prestasi ranking ke-5 dari seluruh siswa di SMA 3, namun sekarang IP ku sangat biasa. Hapalanku juga tidak banyak yang bertambah. Prestasi tidak ada yang bisa kuraih selama di kampus ini. Amanah dakwahku juga tidak ada yang spesial. Percepatan diriku sangat lamban, linear, bahkan gradiennya cenderung negatif. Karakter dan kebiasaan baik pun tak kunjung kumiliki dengan dawam. Semuanya sangat biasa. Sangat-sangat mediocre.

 

Dan apa yang terjadi diriku bagaimana pun adalah skenario Allah swt. Aku yakin bahwa yang telah terjadi inilah yang terbaik bagiku. Kegagalan demi kegagalan, keterpurukan dalam akademis, nihil prestasi, dan yang lainnya adalah bekal terbaik untuk mengarungi sisa hidupku. Bahwasannya aku sadar bahwa selama ini aku tidak berbuat apa-apa, aku sadar bahwa selama ini terlalu banyak nikmat yang aku abaikan, bahwa selama ini aku telah mengkhianati kesadaran diriku sendiri. Mudah-mudahan itu semua adalah percikan api yang akan memantik energi yang tersimpan di dalam diriku ini. Mudah-mudahan rasa malu ku selama ini begitui besar sedemikian rupa sehingga mendorongku melewati energi aktivasi yang akan membawaku kepada state berikutnya.

 

Dan lagi semua ini Allah siapkan agar aku lebih mengenal diriku. Aku gagal agar aku tahu apa yang akan selalu membuatku gagal, sehingga aku bisa mengalahkannya. Aku telah bertansformasi dari seorang remaja yang sangat bersemangat menjadi seorang anak muda yang bersemangat dan tahu bagaimana menjaga semangat itu selalu menyala. Aku bertansformasi dari seorang yang memiliki idealisme menjadi seseorang yang memiliki idealisme dan tahu bagaimana membawa idealisme itu ke atas tanah bumi manusia.

 

Tinggal sekarang aku harus berpikir keras untuk menentukan lebih teknis dan praksis apa yang harus aku lakukan ke depan. Dan beberapa bayangan sudah muncul di benak.

h1

Berpikir (lagi) tentang Kematian…

June 20, 2008

“Sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang selalu berpikir dan mempersiapkan dirinya untuk kehidupan setelah kematian…” 

Pernahkah kita teringat bahwa kita sangat lemah, yang hanya punya sedikit kendali atas kehidupan kita. Seperti kematian yang sebenarnya sangat dekat dengan diri kita. Betapa banyak variabel yang kita temui setiap hari, bisa mengantarkan kita pada kematian. Setiap detik, setiap tempat, segala sesuatu yang kita temui punya potensi untuk itu. Peluang akan hal ini tidak hanya berpotensi terjadi di area berbahaya, seperti di Irak atau Palestina yang terdengar suara ledakan senapan atau bom dalam hitungan menit. Tetapi lihatlah lebih dekat sekitar kita, di rumah, sekolah, kantor, kampus, dalam perjalanan, dan semua tempat.    

Hal ini saya sadari lebih dalam saat perjalanan ke luar kota dengan sepeda motor. Saat itu saya merasa bahwa setiap kendaraan yang berpapasan punya peluang menabrak saya, atau saya menabrak kendaraan itu. Banyak faktor yang bisa memungkinkan itu terjadi. Mungkin ban yang kempes sehingga kendaraan oleng. Atau pengemudi yang lalai, atau kendaraan saya mengalami gangguan seperti remnya menjadi blong, atau kanvas remnya menyangkut ke as roda sehingga roda berhenti berputar mendadak. Bahkan setiap butir pasir atau kerikil di jalanan punya potensi menggelincirkan kendaraan saya. Mungkin juga saat menikung saya kurang beberapa derajat atau beberapa centi mengambil sudutnya sehingga motor saya tergelincir. Belum lagi bila kita memperhitungkan variabel waktu dan tempat. Berapa detik kiranya saya berada pada titik koordinat yang sama dengan kendaraan lain, bagaimana jika saya lebih lambat atau lebih cepat beberapa detik dari yang telah terjadi. Sehingga jika kita mengalkulasi semua peluang potensi bahaya atau kematian yang saya hadapi selama perjalanan itu saya yakin bahwa bukan lagi fifty fifty peluangnya melainkan 99/100. 

Pemikiran ini saya sampaikan bukan untuk membuat diri kita menjadi murung, waswas, dan penakut. Tetapi saya ingin mengingatkan diri saya bahwa diri ini amat lemah dan sangat tidak berdaya di satu sisi, dan menyadari bahwa hidup ini begitu indah dan menyenangkan. Maksudnya? Bahwa Allah swt. adalah Maha Pengasih (Ar Rahman), yang kasihnya meliputi semua makhluk, manusia, jin, hewan, tumbuhan, malaikat. Muslim atau kafirkah ia. Dan Allah swt. adalah Ar Rahim (Maha Penyayang) yang telah menghidayahkan kesadaran ini dalam jiwa kita. Sehingga dengan rahman dan rahim-Nya saya bisa bepagi hari dalam fitrah Islam, bisa bernapas, bisa makan, bisa  berpikir, bisa menulis artikel ini, dan banyak lagi nikmat-Nya yang jumlahnya uncountable.  

Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kita dustakan? Jika kita sadar bahwa kita bisa hidup sampai anda membaca tulisan ini hanya karena Kasih sayang Allah swt. Bahwa nyaris kita tidak berdaya atas semua kesuksesan atau hasil akhir yang kita raih. Maka, apakah sedikit saja kita punya hak untuk sombong? Bukan pula dengan tulisan ini saya mengajak anda untuk bersikap apatis, pasrah, dan fatalis. Seperti pemikiran sesat kaum jabariyah yang menyatakan kehidupan ini seperti wayang? Tidak. Sesungguhnya Allah swt. akan memperhitungkan setiap zarah amal, kebaikan atau keburukan yang kita lakukan. Sesungguhnya kehidupan ini adalah rangkaian dari pilihan-pilhan yang dapat kita ambil, apakah rajin atau malas, syukur atau kufur, jujur atau munafik, muslim atau kafir. Dan manusia telah diberikan pendengaran, penglihatan, hati, dan akal untuk mengetahui kebenaran itu dan memutuskan apakah ia akan menagmbil kebenaran itu dan mengikutinya seperti apa yang dilakukan para sahabat radiyallahu’anhum  yang meninggalkan kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam bersama sang kekasih. Atau seperti Abu Lahab yang dikutuk karena mendustakan kebenaran setelah nyata-nyata kebenaran itu datang kepadanya. Maka atas pilihan-pilihan itulah amal-amal kita dihisab. Itulah batas wilayah taklif (pembebanan) manusia. Di luar wilayah itu, maka tidak ada hisab untuk manusia. Tidak seperti dugaan dungu nashara yang mengenal dosa warisan, dosa yang harus ditanggung karena kesalahan orang lain. Atau seperti ideologi sesat kaum materialis yang menilai kemuliaan manusia dari ras apa ia dilahirkan, apakah dari bangsa aria ataukah dari orang negro yang masih setengah kera karena evolusinya belum sempurna.

Segala puji bagi allah swt yang telah menghidayahkan islam kepada kita yang tegak dalam nilai-nilai insaniyah, memurnikan fitrah dan hakikat kemanusiaan. Kesadaran akan kematian dan kehidupan setelah kematian kiranya harus menjadi tashawur (persepsi) kita mengarungi samudera kehidupan. Sejatinya jika kita bisa ber-dzikrul maut setiap saat insya Allah kesadaran akan muraqabatullah (pengawasan Allah) akan terjaga dalam setiap amal kita, menghindari murkaNya dan bersegera menuju ampunan dan surga Allah yang seluas langit dan bumi. Maka amal-amal itu bisa terealisasi dalam setiap aktivitas kita, tidak terkungkung hanya pada dimensi lima kali lima menit sehari, atau hanya pada dimensi ruang masjid atau musala. Tetapi ruh penghambaan dan ruh khilafah fil ‘ardh ada di setiap detik dan setiap ruang dalam kehidupan kita. Wallahu’alam bis shawab.  

Nyanyian perjalanan Bandung-Tasik