Archive for the ‘Uncategorized’ Category

h1

Oleh-Oleh dari Mesir (1)

September 4, 2009

(Tulisan ini sengaja ditulis karena banyaknya permintaan oleh-oleh dari para fans yang setia di Indonesia. Karena saya baik, jadi oleh-olehnya saya berikan bahkan sebelum saya pulang ke Indonesia, hehe, baik kan… ? Yang merasa sudah minta oleh-oleh atau diperkirakan nanti akan minta oleh-oleh saya tag di sini, biar kalo nanti mereka bilang “kang/ han oleh-olehnya mana?” saya bisa jawab; “kan udah!” hehe.. Untuk teman-teman yang belum di-tag, sanes kirang sono, tapi da maksimalnya ngan 30)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Catatan perjalan saya ini adalah bagian dari syukur atas nikmat yang Allah berikan khususnya di bulan Ramadhan 1430 H ini. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Ad Dhuha: 11 “Wa amma bini’mati rabbika fahadits” (dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)). Dan saya berlindung dari sikap riya yang akan menghanguskan amal dalam sekejap, dan sikap sombong yang diwariskan iblis kepada pengikutnya. Semoga catatan ini memberikan wawasan baru, cakrawala baru, dan inspirasi bagi sahabat semua.

Part 1: Tentang Kepergian ke Kairo

Alhamdulillah mulai bulan Juli kemarin saya bergabung dengan sebuah MNC (multi national company) yang bergerak di bidang oil service sebagai Field Engineer. Seorang field engineer bekerja dengan kondisi beban kerja yang berat secara mental, fisik, dan intektual. Sebagai gambaran, field engineer di sebuah oil service company selalu stand by 24/7 kapan pun client membutuhkan untuk segera bergerak ke rig (sumur minyak) yang berada di remote area atau lepas pantai. Selain itu seorang field engineer bertanggung jawab atas aset (peralatan) perusahaan senilai 2 juta US$ yang dibawa ke area operasi dengan nilai proyek berkisar anatara 10.000 hingga 500.000 US$ yang biasanya dikerjakan dalam waktu 1-5 hari. Dengan kondisi seperti itu biasanya turn over rate (karyawan yang keluar) oil service company cukup tinggi, mengingat beban kerja demikian. Anyway, ada pepatah yang kira-kira menggambarkan kerja di oil service company: more day more pay, more pain more gain! Kira-kira foto berikut bisa menggambarkan.

Oleh karena itu biasanya oil service company gencar merekrut fresh graduate (apa pun jurusannya selama engineering, tidak mesti lulusan petroleum engineering) untuk mereka proses dalam sebuah sistem human resource development (training, jenjang karir, evaluasi) yang sangat cepat dan efektif. Karena tidak bisa mengandalkan orang (manusia) untuk jangka waktu yang lama, maka tipikal oil service company bergantung pada sistem rekrutmen dan jenjang jarir/ kaderisasi yang baik. Kompetensi karyawan dikur dengan ukuran yang akurat. Fasilitas pembelajaran untuk mengejar kompetensi terus dikembangkan mulai dari training center, on ojob traning, sampai ke modul multimedia berbasis internet. Bagaimana saya seorang insinyur listrik harus bisa menguasai proses oil well production sama seperti lulusan petroleum engineering yang sudah menggelutinya di kampus selama 4-5 tahun.
Well, inilah mengapa saya ke Kairo, yaitu dalam rangka training tahap 1 sebagai seorang Field Engineer. Sebetulnya perusahaan tempat saya bekerja memiliki beberapa training center antara lain; Skotlandia, Texas, Malaysia, dan Siberia selain Egypt. Kebetulan divisi saya selalu mengirimkan kadernya ke Egypt unutuk training tahap 1.

Terkait dengan waktu kepergian saya di Bulan Ramadhan, ada seuatu yang menarik yang semoga bisa menjadi hikmah bagi sahabat-sahabat semua. Bahwa betapa Allah maha kuasa untuk memberi hamba-Nya karunia dari arah yang tidak disangka-sangka. Biasanya seorang field engineer baru (engineer trainee) dikirim untuk training 3 bulan atau lebih setelah dia bergabung. Itu artinya jika saya bergabung bulan Juli, semestinya saya berangkat training bulan Oktober atau November, berarti selama Ramadhan saya masih bekerja sebagai engineer trainee di lapangan. Tahukah sahabat semua seperti apa pekerjaan engineer trainee? Teman saya dari India memberi gambaran: “You know the hierarchy in our company?, This is that the manager kicks senior engineer, senior engineer kicks crew chief, crew chief kicks crews, crews kick the dog, and the dog bites engineer trainee” haha, it means, engineer trainee adalah makhluk paling lemah dalam operasioan perusahaan yang bekerja dengan sepenuh otot dan (sedikit) otak. Hehe.. Hal wajar karena saya baru memasuki dunia yang sama sekali baru. Sahabat-sahabat bisa bayangkan, kerja stand by 24/7 di lapangan dengan suhu sekitar 35 derajat celsius di Bulan Ramadhan. Tentunya akan menjadi ujian yang sangat berat, dan pasti akan mempengaruhi kualitas maupun kuantitas ibadah mahdah di Bulan Suci Ramadhan. Hal ini lah yang membuat saya khawatir saat bergabung bulan Juli lalu, yaitu bingung bagaimana nasib Ramadhan tahun ini. Lalu yang saya lakukan adalah berdoa (doa menyambut Ramadhan sebagaimana yang disunnnahkan). Kun fayakun, Allah maha berkehendak, di bulan Ramadhan ini ternyata tidak menjadi seperti yang saya bayangkan, harus bekerja di lapangan, melainkan malah Allah ganti dengan Ramadhan di bumi para nabi dan ulama, Mesir. Bagaimana bisa? Ternyata kebijakan mulai angkatan saya berubah, engineer trainee dikirim untuk training tahap 1 dua bulan sejak dia bergabung jika kelas tersedia. Subhanallah walhamdulillah. Sungguh Allah maha memberi rezeki kepada hamba-Nya dari arah yang tidak disangka-sangka.

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS At Thalaq: 2-3)

Part 2: Mesir yang Saya Kenal

Mesir adalah negeri para Nabi alaihumussalam, sahabat radiyallahu’anhum, serta para ulama. Tercatat Nabi Yusuf pernah menjadi bendahara negara di sini. Nabi Musa berjuang menumbangkan kemungkaran bapaknya tiran, Firaun, di sini. Begitu pula para sahabat Radiallahu’anhum. Tahukah siapakah gubernur pertama Mesir di zaman khilafah Umar bin Khattab ra? Dia lah Amr bin Ash ra. Begitu pula berikutnya, Mesir tetap menjadi negeri para ulama, episentrum pemikiran dan pergerakan Islam. Tercatat Al Azhar sebagai universitas tertua yang masih ada hingga kini yang menjadi mercusuar pemikiran Islam. Beberapa yang saya kenal antara lain: Muhammad Abduh, serta Muhammad Rasyid Ridha di akhir abad 19/ awal abad 20. Keduanya adalah murid atau penerus fikrah Syaikh Jamaluddin al Afghani. Terlepas dari kekurangannya, mereka semua adalah ulama yang dikenal dengan fikrah tajdid, pemikiran pembaharu yang membawa semangat 1.) Ruju’ ila quran wa sunnah (kembali kepada Quran dan Sunnah), 2.) Bersikap objektif dan open mind terhadap budaya dan pemikiran barat, berada di tengah antara pemikir Islam yang anti modernisasi/ westernisasi dan pemikir yang membabi buta berkiblat ke barat. 3.) Menyerukan persatuan umat Islam yang dikenal dengan istilah Pan-Islamisme. Fikrah tajdid inilah yang lantas menginspirasi gerakan kebangkitan Islam di abad 20 mulai dari Maroko hingga Merauke. Gelombang pemikiran ini sampai ke Indonesia di antaranya menjelma menjadi Muhammadiyah dan Persis. Dan tentu saja di Timur Tengah yang menjadi pusat gerakan kebangkitan Islam, menginspirasi lahirnya harakah-harakah Islam di sana.

Berbicara tentang harakah Islamiyah, di Mesir lah lahirnya sebuah gerakan yang sering diklaim sebagai gerakan Islam terbesar di dunia saat ini, Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul Muslimin didirikan oleh seorang guru berusia 22 tahun bernama Hasan al Banna pada tahun 1928 di Ismailiyah. Awalnya hanya enam orang yang berbaiat untuk setia berkhidmat pada dakwah Islam, dan hari ini disebut-sebut sudah ada di lebih 70 negara. Berawal dari dakwah di kedai-kedai kopi, kini dakwah Ikhwanul Muslimin di beberapa negara telah mendudukan kadernya sebagai menteri bahkan pemimpin di negara-negara tersebut. Salah satu yang paling fenomenal adalah Hamas di Palestina. Khas dan corak gerakan ikhwanul muslimin adalah tarbiyah (pendidikan) dan visinya ialah ishlah (perbaikan di semua sektor kehidupan) mulai dari diri individu, keluarga, masyarakat, bangsa, penegakan hukum, hingga penegakan daulah khilafah Islamiyah sehingga menjadi ustadziyatul’alam (soko guru peradaban) sebagai rahmatan lil’alamin. Semua itu dilandasi fikrah Islam yang Syaamil serta pegangan yang kokoh pada Quran dan Sunnah. Secara operasional yang menjadikan Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan dakwah yang solid ialah ukhuwah yang tulus serta disiplin organisasi yang ketat yang dibangun atas pilar syura serta konsep qiyadah-jundiyah yang baik.

Ikhwanul Muslimin lantas berkembang pesat, bahkan seolah menjadi negara dalam negara saat itu, bahkan sampai Ikhwanul Muslimin terlibat aktif membebaskan Mesir dari penjajahan Inggris serta mengirimkan pasukan perangnya melawan Israel. Perkembangan yang luar biasa dari dakwahnya menjadikan Hasan al Banna sebagai orang yang paling dibenci oleh Penjajah Inggris dan musuh-musuh Islam lainnya yang berkolaborasi dengan pemerintah Mesir yang oportunis. Hasan al Banna ditembak pada 1949 hingga memperoleh ke-syahid-annya, Insya Allah. Kematiannya dirayakan di negara-negara barat saat itu. Subhanallah, demikianlah kehidupan orang-orang besar. Hanya berselang 21 tahun dalam kehidupannya, tinta emas sejarah peradaban dituliskannya dengan penuh kebanggaan atas semua amal dan pengorbanan yang diberikan. Singkatnya Ikhwanul Muslimin menjadi inspirasi bagi kebangkitan Islam tidak hanya di Mesir, atau arab, bahkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Dan saya adalah satu di antaranya.

Kematian Hasan al Banna lantas tidak menjadikan dakwah Ikhwanul Muslimin menjadi surut, malah kematiannya menjadi inspirasi bagi seorang Sayyid Quthb asy Syahid yang awalnya seorang sekuler untuk bergabung dengan Ikhwanul Muslimin lalu menjadi mercusuar pemikiran Ikhwanul Muslimin gelombang kedua. Saat itu Sayyid Quthb sedang berada di Amerika dan dia heran mengapa di Amerika kematian Hasan al Banna dirayakan besar-besaran. Inilah awal perkenalannya pada gerakan tersebut. Beliau bergabung pada tahun 1950, kemudian menjadi pemimpin redaksi majalah Al Ikhwanul Muslimin. Pada tahun 1954 terjadi penangkapan besar-besaran yang juga disertai penyiksaan yang keji kepada aktivis Ikhwanul Muslimin yang dilakukan oleh Gamal Abdul Nasser termasuk kepada Sayyid Quthb. Gamal Abdul Nasser awalnya ialah kader inti Ikhwanul Muslimin yang juga seorang militer. Pada tahun 1952 Gamal Abdul Nasser dengan kekuatan militernya berkolaborasi dengan Ikhwanul Muslimin menjatuhkan rezim pemerintahan Mesir sebelumnya yang pro-barat. Namun setelah Nasser menjadi presiden, ia malah berbalik menjatuhkan Ikhwanul Muslimin dan menjadi seorang yang sekuler. Sayyid Quthb dipenjara mulai tahun 1954 hingga 1964. Selama masa itu beliau menulis masterpiece-nya: Fi Dzhilalil Quran, sebuan karya tafsir yang sarat dengan nilai sastra dan perenungan yang tinggi karena penulisnya sendiri merasakan hidup yang demikian, menjadi penentang tirani dan penyeru kepada cahaya. Tahun 1965-1966 Sayyid Quthb kembali ke penjara atas tuduhan makar karena tulisannya yang terakhir: Ma’alim fii Thariq (petunjuk jalan). Kemudian pada Agustus 1966 beliau kembali ke kehidupan yang abadi sebagai seorang syuhada melalui tiang gantungan. Apakah kematian Sayyid Quthb menjadikan Ikhwanul Muslimin pudar? Sama seperti kematian pendirinya sebelumnya, sedikit pun tidak. Malah muncul lebih banyak para dai dan pejuang Risalah Tauhid yang berhimpun dalam gerakan itu; Muhammad Al Ghazali, Ma’mun Al Hudaibi, Yusuf al Qaradhawi, Syaikh Ahmad Yassin, Abdul Azis Ar Rantisi, hingga pemimpinnya saat ini; Mahdi Akif, serta semua kadernya yang telah menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Manusia-manusia telah berlalu sejumput umurnya. Tetapi fikrah, risalah tidak akan pernah pudar. Ada kafilah panjang yang menjaganya. Dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad hingga hari ini. Cahaya tidak akan padam. Saat cahaya itu padam, saat itulah seisi alam semesta berakhir kehidupannya. Di negeri Mesir ini gerakan kebangkitan Islam di abad 20 dimulai, dari enam orang, dari kedai-kedai kopi. Dan aku bersyukur telah mengenalnya sejak jauh hari. Dan hari ini, di negeri kebangkitan dan perjuangan Islam, aku berada.

- naha jadi asa teu nyambung kieu notes teh jeung carita jalan-jalan di Mesir? ah bae weh, note-note urang ieu, sakumaha urang weh,, hehe -

(bersambung…)

h1

HARAPAN ITU ADA DI GENERASI ANOMALI

May 13, 2009

Obsesi dan harapan akan kejayaan bangsa ini kian hari kian menguat. Betul, setiap hari kita disuguhi dagelan politisi. Memang, tiap hari kita diberitai hal-hal buruk seputar kriminalitas, ketimpangan ekonomi, dan kebejatan moral. Demikian adanya, bahwa generasi muda masih banyak yang mengalami kehilangan orientasi. Seperti tayangan “live” acara musik tiap pagi di sebagian besar stasiun televisi yang selalu dipadati remaja di pust-pusat perbelanjaan. Kemana mereka dan apa yang sedang mereka lakukan sesungguhnya. Alih-alih bekerja keras, mencari ilmu, dan melakukan hal-hal bermanfaat lainnya, saudara-saudara kita lebih memilih “bergembira” bersama artis pujaan yang menyanyikan syair-syair dangkal dan murahan. Ditambah lagi dengan laga para penyiarnya yang sangat gembira dan bahagia karena telah menghibur para pemirsanya, padahal uang yang masuk ke perut meraka tidak ada harganya dibandingkan jasa mereka yang telah membantu anak-anak muda itu membunuh masa depannya sendiri.

Bagaimana pun, obsesi dan harapan akan kejayaan bangsa ini kian hari kian menguat. Masih ada pemimpin-pemimpin beintegritas dan bervisi di antara para politisi. Masih ada berita baik di rangkaian berita buruk yang menceritakan prestasi anak negeri di perlombaan sains dan teknologi di tingkat nasional maupun internasional. Atau mereka yang membuat karya untuk pengembangan masyarakat kecil dan pedesaan. Seperti dalam acara talk show di salah satu TV swasta yang mengangkat orang-orang yang telah melakukan suatu kebermanfaatan. Dan masih ada orang-orang baik di sekitar kita yang tak terberitakan maupun diwawancarai.

Mereka adalah sebagian kecil orang-orang yang menjadi anomali dari sistem pendidikan kita yang masih mengalienasi dan mendehumanisasi peserta didiknya. Sistem pendidikan yang menghebatkan para siswa menjawab soal-soal pelajaran yang rumit namun mereka tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana “hendak jadi apa kamu sebenarnya?”. Mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu mereka adalah para pembelajar sejati yang belajar tidak hanya di bangku pendidikan formal, di mana karakter, semangat, dan visi mereka pada umumnya terbangun tidak di bangku formal tersebut. Mereka biasanya tercerahkan di dunia organisasi, pengajian, di lapangan, jalanan, pertemanan, atau pun pembelajaran yang otodidak, atau jika beruntung mereka masih menemui satu atau dua orang guru yang masih sejati di bangku formal tersebut. Itulah mengapa saya sebut mereka sebagai anomali dari sistem pendidikan Indonesia. Mereka pun anomali dari kaum sebayanyanya dan arus industri yang menyasar mereka. Saat sebagian besar kawan-kawannya sedikit menghabiskan waktunya untuk belajar, maka ia sedikit menghabiskan waktunya untuk bermain. Saat yang lain mencontek dalam ujian, maka ia memperingatkan mereka untuk tidak mencontek. Saat orang lain gandrung dengan budaya pop dan hedon, maka mereka tidak suka bahkan membencinya.

Fenomena ini sesungguhnya mirip dengan apa yang terjadi di era kebangkitan nasional dahulu. Tokoh-tokoh besar kita; Soekarno, Hatta, Natsir, Syahrir, Tan Malaka, dan yang lainnya memiliki satu kesamaan yaitu mereka sama-sama pernah mengenyam pendidikan dari kolonial. Lalu apa kesamaan mereka yang membedakan mereka dengan orang-orang terpelajar lain yang jumlahnya jauh lebih banyak dan sekedar mencari penghidupan menjadi amteenar, bupati, atau tenaga administratif di pabrik serta perkebunan Belanda saja?

Kualitas pertama para pahlawan itu ialah mereka belajar bukan hanya agar lulus dari sekolah saja, melainkan mereka belajar untuk memperoleh pengetahuan sejati (kebenaran dan kebijaksanaan). Soekarno yang seorang mahasiswa Teknik Sipil tidak hanya membaca buku Konstruksi Beton, ia pun belajar agama Islam kepada H.O.S Tjokroaminoto, ia pun banyak membaca buku-buku sejarah, filsafat, politik, dan ekonomi pemikir-pemikir barat maupun Timur. Kekayaan referensi beliau bisa kita baca pada buku Indonesia Menggugat yang memiliki kutipan dan referensi yang luas sekali. Maka dengan kebenaran dan kebijaksanaan yang mereka peroleh dan yakini itulah, mereka menjadi pribadi yang memiliki keberanian dan integritas.

Kualitas kedua adalah mereka tidak hanya membaca pengetahuan formal yang ada di text book saja, melainkan mereka membaca dengan makna sesungguhnya (iqra). Yaitu membaca sejarah, membaca lingkungan, membaca masyarakatnya. Dr. Mohammad Hatta yang saat itu belajar ilmu ekonomi di Rotterdam secara formal hanya bergelut dengan aliran mainstream ekonomi saat itu; neoklasik (liberal) dan marxis (sosialisme). Namun Bung Hatta ialah seorang yang membaca sepenuh akal dan jiwanya, ia membaca dan berempati kepada masyarakatnya. Ia tidak lantas menjadi pembebek liberalis ataupun marxis. Hasilnya ia memformulasikan suatu konsep genuine bagi bangsa Indonesia; ekonomi kerakyatan atau ekonomi pancasila.

Kualitas ketiga ialah mereka memiliki visi dan bahwasannya gelar atau prestise bukan hal yang penting bagi mereka. Selepas AMS Muhammad Natsir ditawari untuk sekolah Hukum atau Ekonomi ke negeri Belanda. Namun ia menolak, dan ia memilih mendirikan sekolah dan mengajar di Bandung. Hal ini menunjukan suatu karakter yang hebat dari seorang pribadi yang berkualitas yaitu ia fokus pada visinya, dan ia tahu apa yang terbaik baginya. Seperti yang diungkapkan dengan sangat indah oleh Minke dalam Bumi Manusia-nya Pram, “Urusanku bukanlah harta, pangkat, dan kedudukan saja. Urusanku adalah bumi manusia dengan segala persoalannya.”.

Kualitas keempat ialah mereka orang-orang yang cakap memimpin dan gaul (berorganisasi dan memiliki jaringan yang baik). Soekarno awalnya dengan Klub Studi Bandung lalu terakhir mendirikan PNI, Natsir bergabung dengan Ahmad Hassan dalam Persatuan Islam, dan semua tokoh kita lainnya saat itu pasti terlibat aktif dalam sebuah organisasi. Yang paling fenomenal ialah Tan Malaka, ia menjelajah hampir seluruh benua Eropa dan Asia sebagai seorang agen Komintern. Mulai dari Belanda, Jerman, Rusia, Kanton, Filipina, Singapura, Thailand, Shanghai, Hongkong, Burma, Malaysia, hingga terakhir menjelajah Jawa dan Sumatra.

Selalu, para pahlawan ialah pengecualian (exeception) dari zamannya. Dan memang untuk membuat suatu perubahan sejarah tidak perlu menunggu mayoritas berubah. Karena perubahan sejarah selalu dilakukan oleh orang yang sedikit dan bahkan dimulai hanya oleh satu orang. Yang perlu dilakukan adalah mencetak generasi perubah ini hingga jumlahnya cukup (melampaui treshold untuk suatu perubahan sosial), menghimpun mereka dalam barisan, lalu perhatikan apa yang terjadi. Dan hari ini fenomena-fenomena itu makin jelas terlihat di negeri ini. Tinggal kita memilih untuk diri kita sendiri; hendak menjadi apa. Dan itu dimulai dengan memilih bagaimana kita belajar.

h1

8 FAQ Seputar Pemilu dan Golput

April 6, 2009

1. Q: Bagaimana Islam memandang politik?
A: Manusia diciptakan untuk beribadah, artinya setiap yang kita lakukan mulai dari shalat, belajar, berpolitik, hingga buang air ialah ibadah dan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Maka Islam bukan hanya ibadah ritual dan sistem kepercayaan semata. Ia adalah sistem kehidupan yang syamil dan mutakamil (menyeluruh, utuh, dan sempurna) yang membimbing manusia mencapai kebahagiaan sejati dalam semua aspek; politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, pendidikan, keluarga, dan yang lainnya. Semuanya dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Cara pandang sekuler (memisahkan agama dari negara, atau menjadikan agama hanya di kehidupan pribadi saja tidak di kehidupan umum) adalah pandangan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Sekulerisme adalah bentuk trauma Eropa atas hegemoni gereja pada zaman dark age of europe. Di mana saat itu banyak penyimpangan dilakukan kaum gereja yang bersekongkol dengan kaum bangsawan untuk menindas dan mengisap rakyat secara diktator (lihat film Robin Hood, Braveheart, atau Kingdom of Heaven). Sehingga saat Renaissance (pencerahan Eropa), para intelektual dan kaum reformis muncul dengan ungkapan “berikanlah hak raja pada raja, dan berikanlah hak Tuhan pada gereja”. Sebaliknya, saat umat Islam menerapkan syariat Islam pada periode kekhilafahan rasyidah, Ummayah di Syam, Abbasiyah di Baghdad dan Spanyol, Utsmaniyah di Turki, umat Islam berhasil membangun peradaban yang penuh kecemerlangan ilmu pengetahuan, keadilan, dan kasih sayang bagi semua umat manusia (bukan umat Islam saja) selama 13 abad. Sebaliknya hari ini saat umat Islam terhinggap penyakit sekulerisme, kaum muslim dalam kondisi yang memprihatnkan seperti negeri kita ini. Krisis global yang melanda dunia hari ini, termasuk yang paling parah tergoncang adalah negara-negara maju yang selama ini kita kagumi, mestinya menjadi pelajaran bahwa sistem buatan manusia telah dan pasti akan gagal membawa manusia pada kebahagiaan, keadilan, dan kesejahteraan, dan bahwasannya sistem kehidupan yang layak untuk membimbing kehidupan manusia adalah Syariat Islam.
Soe Hok Gie pernah mengatakan bahwa politik tai kucing adalah barang yang paling kotor. Maka hal itu menjadi nyata saat agama dan kesalehan moral dikebiri dari dunia politik. Tinggallah dunia politik diisi dengan video dan foto cabul anggota dewan, cerita korupsi yang tiada ujungnya, serta intrik jahat penjualan aset negara dan penggadaian SDA Indonesia.

2. Q: Kenapa ada partai Islam?
A: Idealnya partai Islam dibentuk untuk beramar ma’ruf nahi munkar (QS Ali Imran: 104), serta memperjuangkan agar hukum-hukum Allah yang menjadi aturan hidup dalam semua bidang kehidupan (QS Al Maidah: 50). Jika kedua hal itu dilaksanakan maka negeri kita menjadi negeri baldatun thayyibun wa rabbun ghafur (negeri yang diberkahi dengan kebaikan dan ampunan Allah swt). Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan “jika engkau melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak sanggup ubah dengan lisanmu, jika tidak sanggup maka ingkarilah dengan hatimu dan itulah selemah-lemahnya iman”. Dengan para da’i dan orang-orang saleh yang memiliki kekuasaan maka amar ma’ruf nahi munkar dapat dilakukan dengan tangan (kekuasaan). Sehingga inilah urgensi partai dakwah (Islam). Dan Indonesia adalah negeri yang ironis, di mana 80 persen berpenduduk muslim, tetapi negeri ini selalu dipimpin oleh partai sekuler. Umat Islam Indonesia belum pernah dipimpin oleh pemimpin muslim sejati (walau presiden semuanya beragama Islam) yang menjadikan Islam sebagai ruh kehidupan bernegara, sehingga beginilah wajah negeri kita hari ini.

3. Q: Mengapa banyak jama’ah dan partai Islam, serta mengapa ada partai Islam yang terlibat korupsi?
A: Perbedaan adalah sebuah sunatullah, walau idealnya partai Islam bersatu dalam sebuah partai seperti yang pernah ada tahun 1955 dalam Masyumi walaupun itu juga belum ideal. Namun hendaklah kondisi tidak ideal ini harus disikapi dengan arif dengan tidak menyalahkan mereka, tetapi justru memandang ini sebagai suatu kekuatan dan strategi di mana setiap karakter menjadi terfasilitasi dengan pilihan partai Islam yang banyak itu. Sehingga setiap partai Islam sinergi dengan kekuatan masing-masing. Dalam Al Quran disebut fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Ingat, persatuan sesungguhnya bukanlah sekedar membuat warna dan lambang yang sama, melainkan terjalinnya ukhuwah Islamiyah dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Itulah esensi persatuan umat Islam. Jika hati dan idealisme sudah bersatu dalam perbedaan warna, persatuan fisik hanya menunggu waktu atau bahkan menjadi tidak urgen lagi.
Adapun partai Islam yang terlibat korupsi maka sepenuhnya kesalahan ada di tangan orang-orangnya, bukan Islamnya. Barangkali sistem kaderisasi dan kontrol yang lemah. Oleh karena itu kita pun harus cerdas memilih partai Islam yang terbaik dari yang terbaik. Kita lihat track record-nya.

4. Q: Apa hukumnya memilih pemimpin dalam Islam?
A: Dalam Islam secara umum memilih pemimpin adalah kewajiban, bukan hak. Dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa “jika ada tiga orang melakukan perjalanan, maka angkatlah salah satunya sebagaim pemimpin”. Apalagi sebuah sebuah negara. Mengapa kepemimpinan begitu penting? Karena sebagian nasib dan kehidupan kita bergantung pada pemimpin. Bagaimana bisa melaksanakan haji jika tidak ada pemerintah yang mengurus kepergiaan jamaah haji yang jumlahnya 200.000 jama’ah per tahun, juga pelaksanaan zakat. Atau bagaimana kesejahteraan dan mata pencaharian, bagaimana pendidikan dan keadilan yang kita dapatkan semuanya bergantung kepada seperti apa pemimpin kita.
Kriteria pemimpin ialah sepeti sosok Rasululullah saw yaitu shidiq (jujur), amanah, fathonah (cerdas), dan tabligh (komunikatif), serta menjadikan aturan Allah sebagai konsepnya dan dia adalah orang yang saleh (ta’at pada Allah) seperti dalam QS Al Ma’idah ayat 55. Kita juga tidak boleh memilih orang yang tidak se-aqidah sebagai pemimpin (QS Al Ma’idah ayat 51). Serta kita tidak boleh memilih karena alasan ashabiyyah (fanatisme golongan atau kesukuan), serta harus memilih pemimpin yang memiliki kapasitas. Dalam sebuah hadits dikatakan “jika suatu amanah diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kebinasaannya”.

5. Q: Jika tidak ada yang memenuhi kriteria di atas, apakah golput saja?
A: Golput pun adalah sebuah pilihan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Sekali lagi memilih pemimpin secara umum adalah kewajiban, bukan sekedar hak. Jika tidak ada yang ideal, maka para ulama memiliki kaidah “jika tidak bisa mendapatkan seluruhnya, jangan tinggalkan semuanya”, maka pilihlah yang paling leuheung dari semua pilihan yang ada. Atau jika semuanya jelek, maka pilihlah yang paling sedikit jeleknya di antara mereka. Dalam kaidah ushul fiqih disebutkan “ambil keburukan yang paling sedikit dari keburukan-keburukan yang ada”. Sesungguhnya golput sama dengan memilih partai apa pun yang menang, karena presentase suara mereka menjadi besar akibat besarnya angka golput. Selain itu, golput artinya membiarkan orang-orang korup dan yang tidak pro-Islam menjadi pemimpin kita. Artinya golput adalah pilihan dengan akal yang kurang sehat dan sangat tidak bertanggung jawab. Sungguh konyol jika ada di antara kita yang menyeru untuk golput.

6. Q: Memangnya boleh bergabung dengan sistem demokrasi yang sering mengorbankan idealisme dan prinsip Islam?
A: Jika meyakini demokrasi sebagai sebuah sistem kehidupan yang ideal maka jelas itu pandangan yang batil, karena Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alaih (Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya). Selain itu juga berarti menjadikan thagut, ilah (sesuatu yang dijadikan aturan dan diaati) selain Allah. Jadi tidak boleh menjadikan demokrasi sebagai ideologi atau sistem ideal yang diperjuangkan, salah satunya karena demokrasi mengatakan “kedaulatan di tangan rakyat”, tetapi Islam meletakan keadulatan di tangan Allah (syariat) yang harus ditaati semuanya termasuk raja atau presiden (jadi pemerintahan Islam bukan teokrasi). Namun demikian menurut para ulama moderat (antara lain Dr. Yusuf al Qaradhawi) menyatakan demokrasi masih lebih baik daripada kediktatoran dan absolutisme atau fasisme. Karena ada sebagian semangat demokrasi yang senafas dengan Islam yaitu adanya musyawarah dan egalitarian (persamaan hak dan kewajiban). Dan dalam prakteknya, cara demokrasi seperti bermusyawarah atau voting untuk hal-hal yang tidak ditentukan teknisnya oleh syariat, dilakukan oleh Rasululullah saw. Jadi para ulama berpendapat bahwa tidak mengapa bergabung dengan demokrasi dengan tujuan memperjuangkan tegaknya Islam dan berdakwah kepada para penguasa dengan bergabung dalam sistem demokrasi (parlemen) selama memandang demokrasi hanya sebatas sarana dan konsensus belaka.

7. Q: Apakah efektif memperjuangkan Islam dalam sistem demokrasi?
A: Cerita manis keberhasilan dakwah melalui parlemen adalah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki. Turki adalah sebuah negara yang sangat sekuler, bahkan jilbab pun dilarang digunakan di tempat publik seperti sekolah, RS, dan kantor pemerintahan. Bahkan sempat azan pun sampai harus dilakukan dalam Bahasa Turki. Namun kemudian para aktivis Islam di sana bergerak dan berjuang melalui parlemen. Setelah bepuluh tahun Turki dipimpin oleh partai nasionalis sekuler dan korup, dengan izin Allah pada tahun 2002 AKP menang mutlak di parlemen Turki dan menempatkan tokoh muslim yang saleh yaitu Abdullah Gul sebagai Presiden Turki dan Recep Tayyip Erdogan sebagai PM. Sejak saat itu jilbab tidak dilarang, karena sang ibu negaranya menggunakan jilbab di istana, dan juga syiar Islam mulai marak serta perekonomian dan peran politik Turki mengalami kemajuan yang signifikan.
Contoh lain adalah HAMAS di Palestina, setelah sebelumnya mereka dipimpin partai sekuler yang dikenal korup yaitu Fatah. HAMAS mendapatkan kemenangan mutlak karena mereka melakukan kerja keras yang nyata bagi rakyat Palestina dengan membangun sekolah, RS, pemberdayaan ekonomi, kaderisasi dan tarbiyah, serta melindungi rakyat Palestina dari zionis Israel la’natullah ‘alaih dengan Brigade Izzudin al Qassam-nya. Walaupun mereka terus digoncang dari luar oleh Israel dan dari dalam melalui persekongkolah Fatah, insya Allah itu justru membuat Palestina makin disegani dan berdaulat dan agresi Israel kemarin justru membuat HAMAS makin dicintai rakyatnya. Dua success story di atas bisa dijadikan benchmark bagi partai Islam di Indonesia yang hari ini juga makin progresif dan memperlihatkan tanda-tanda bahwa partai Islam akan makin besar dengan profesionalisme dan sikap yang amanah serta jauh dari korupsi.
Sesunguhnya watak dakwah Islam ialah moderat (pertengahan, adil), karena demikian Allah telah menjadikan umat Islam sebagai umatan washathan (umat pertengahan) dalam QS Al Baqarah ayat 143, dan Allah membenci sikap ekstrem (berlebih-lebihan) sehingga kita berlindung dari sikap demikian (QS Ali Imran ayat 147). Bandingkan dengan gerakan dakwah yang ekstrem dan berlebihan. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat atas segala jasa beliau, kita harus belajar bagaimana kegagalan NII Kartosuwiryo yang bersikap ekstrem hendak menegakan negara Islam dengan cara instan lewat jalan pintas (pemberontakan). Mereka dengan mudah ditumpas dan cita-cita memperjuangkan Islam menjadi sistem di Indonesia menjadi jauh panggang dari api. Dan kini justru sempalan dari gerakan NII tersebut yang bergerak secara tertutup dan rahasia malah membuat sebagian pelajar dan mahasiswa menjadi takut ke masjid dan mengaji, karena orang tua mereka mewanti-wanti agar hati-hati terhadap pengajian yang mengajak mereka bergabung dan berbaiat lalu kemudian menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan orang di luar kelompoknya.

8. Q: Jadi Partai Islam mana yang harus saya pilih?
A: Kita harus cerdas memilih. Pelajari platform partainya, lihat track recordnya. Terakhir berdoa kepada Allah swt sebelum masuk TPS dan mencontreng pilihan kita agar Allah swt memberi pemimpin yang mencintai kita dan kita pun mencintainya. Itulah sebaik-baik pemimpin. Wallahu’alam bi shawab.

h1

Risalah Cinta

January 30, 2009

Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui

bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.

Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka,

jika memang tebusan itu yang diperlukan.

Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka

jika memang itu harga yang harus dibayar.

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini

selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,

mengusai perasaan kami,

memeras habis air mata kami,

dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik bangsa ini,

sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.

Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia,

Lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami.

Kami adalah milikmu wahai Indonesia-ku tercinta.

Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh bagimu.

(Diadaptasi dari Risalah Cinta, Imam Syahid Hasan al Banna)

h1

Married (Mengenal Enam Tipe Kepribadian)

January 25, 2009

Bukan, ini bukan cerita mengenai rencana untuk menikah. Ini adalah suatu eksperimen (tepatnya something stupid, but  not too stupid) yang saya lakukan di FB. Iseng-iseng berhadiah lah. Ceritanya saya penasaran mengganti status saya jadi married. Nah, ibrahnya ialah saya bisa membuat teori baru tentang kepribadian seseorang untuk menggantikan teori personalityplus-nya Florence Litauer yang mengkategorikan manusia ke dalam tipe kepribadian Koleris, Sanguinis, Melankolis, dan Plegmatis. Nah, beginilah hasil perenungan saya yang cukup mendalam ini.

Tipe kepribadian tersebut berdasarkan tanggapan mereka ialah:

1. Tulus

Wah, barakallah ri, kapan walimahnya? (Ani* K)

Selamat, Han (Jul*** S)

Jago juga ente… (Ins** K)

selamat han…barakallah…sudah dari kapan ya? (Ek* A)

BERN SIAP JADI PAGER BAGUS !! ahahaha.. (Ase* B)

hehehehe,ternyata eh ternyata
celetukan di eduleb bner
adeeeeeeeeeuuuuuuuuhhhhhh!

!!
^^
moga lancar
amiiiiin (Fitr* A)
mantaaaaap!!!! sukses trus brader =) (Angg*)

2. Analitis

heh? mau merit ato udah merit? kapan? (Reni** F)

seriusss kang??? klo jadi nikah,, undang saya ok,,,, (Achma* F)

serius ente? atau cari sensasi aja ini… (Er* A)

eh ini beneran??? (Benn* N)

Heueuh..jodohna saha ari maneh???
Enyaan ieu teh broder??Maneh nikah???
Sama apa?? (Ima* A)

3. Sinis

han..sareng awewe ato cowok???wuhahahahahahahha, maneh rek mancing2 sensasi wae nya… (Ikhw** A)

ah si kang rihan mah sok2 artis di infotainment
saya mau jadi pager cantik yaa (Dw* P) –> Tapi yang ini gak terlalu sinis, masih mending

Rihan… tong ngawadul maneh…. engke mun beneran maneh hajatan moal aya nu dateng.. gara-gara geus dibobodo ku maneh ayeuna… kade cilaka 12 maneh…. (Yahd* S)

4. Oportunis

asyik,, makan gratis. (Agun* S) -> Ini oportunis sejati

eh kng seriusan mau nikah? alhamdulillah. makan2 kang, haha. (Hafs** H) -> Ini oportunis sebagian

5. Posesif

weisss gak minta ijin gua dulu luh. (Yah** S)

6. Frustatif

Mereka yang gak nulis komen karena patah hati

Tulisan ini dan semua yang berkaitan dengan hal ini semata-mata dibuat untuk tujuan silaturahmi dan mengeratkan ukhuwah (bahasa kasarnya: naikkin traffic FB dan blog saya ini).

Mengenai status married, saya memang mau menikah.

‘ala kulli hal, ana minta maaf.

Piss brader en sistah!!! Salam Perjuangan!!!

h1

Tulisan buat Sahabat Gue, si Badra

December 25, 2008

Aku punya teman, teman sepermainan

Orangnya botak sejak lahir, ada bekas codet di kepalanya karena kecelakaan lalu-lintas yang nyaris merenggut nyawanya dua tahun lalu

Alhamdulillah, orangnya masih hidup hingga kini, semoga terus diberi keberkahan

Tahu caranya menikmati hidup

Pintar menertawakan hal-hal yang gak kepikiran untuk ditertawakan

Idenya kreatif yang menjurus nakal dan brutal, kagok edan

Tulus, polos, lugu, apa adanya,

tidak pernah marah dan menangis sepanjang hidupnya, hanya tawa

Pecinta anak-anak kecil, guru TPA

Sekarang lagi bingung apa milih PLN atau BPPT

Goreng geningan, puisi urang teu jiga tulisan ente, mang. Sori ah..

deicated to Badra as a response to:

http://aadanibadrakasep.wordpress.com/2008/12/22/em-rihan-handaulah-bukan-handaudong/

h1

Fundamentalis Puritan Progresif

December 20, 2008

Membaca kisahnya Sandrina Malakiano di milist muslim3bdg. Bagaimana  dirinya “diintimidasi”, baik oleh MetroTV tempatnya bekerja, maupun oleh beberapa rekan-rekan yang mengidentifikasikan dirinya sebagai orang liberal, sejak beliau menggunakan hijab. Entah kenapa, lalu terkelebat kata-kata di kepalaku sepeti ini:

Mba’ Sandrina ngerti juga omong kosong orang liberal,

Kita pakai logika sederhana:

Liberal ialah prinsip membela kebebasan,
Menjadi fundamentalis adalah salah satu kebebasan

Lha, orang liberal kok biasanya paling lantang mengkriktik dan memojokan orang2 fundamentalis dan puritan
Kalo gitu, apanya yang liberal.

Viva fundamentalis! Viva kaum puritan!
Karena fundamentalis adalah prinsip,
karena puritan adalah kemurnian
karena keduanyalah sesuatu bertujuan
bertujuan artinya bermakna

Fundamentalisme bukan ekstremisme,
ekstremisme adalah berlebihan,
dan Islam adalah keadilan

Puritanisme berbeda dengan kejumudan,
kejumudan adalah air yang tergenang,
di sana sampah dan bibit penyakit

maka generasi terbaik umat ini,
aslinya agama ini,
ialah progresifitas;
kemajuan dan perbaikan,
mina-dzulumati ila-nnur


h1

Hayang Ceurik ala PDW

August 16, 2008

Hayang Ceurik #1 Rayuan Pulau Kelapa

 

Masih ingat lagu Rayuan Pulau Kelapa? Kalau saya dulu waktu SD gak hapal dan sekarang lupa. Untunglah Kakak-kakak pelatih yang baik mengajarkan kami lagu favorit kami yang satu ini. Liriknya indah betul,

 

Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

Kan kupuja spanjang masa

 

Tanah airku amatlah makmur

Pulau kelapa yang amat subur

Pulau melati pujaan bangsa

Sejak dulu kala

 

Reff:

Melambai-lambai nyiur di pantai

Berbisik-bisik ….

Memuja pulau yang indah permai

Tanah airku Indonesia

roll tuan!!!

roll tuan!!!

 

 

Tapi ada lagi yang lebih indah dari lagu itu. Betul! Bukan liriknya, karena cukup segitu saja, bukan juga nadanya karena dari dulu tetap begitu, masih belum ada mix rap nya kok. Tapi.. Cara kami menyanyikannya. Ya! Kami menyanyikannya dengan Jalan Jongkok! Sekali jalan jongkok paling dekat 100 meter, kadang satu putaran lapangan bola, bahkan pernah kira-kira sekilo. Kadang-kadang juga sambil pake ransel seberat 20 kg. Mantaplah kaki awak, apalagi  pake sepatu PDL TNI. Menjamurlah lecet bak di musim hujan waktu pertama-tama jalan jongkok. Apalagi ditambah suport dari para kakak-kakak pelatih yang baik hati, ”Ayo semangat tuan, tangannya di kepala, yang gak betul diulang lagi dari awal!”, atau yang paling berkesan, ”Hati-hati tuan, jangan pakai dengkul, nanti gegar otak!”. Meni hayang ceurik…

 

bersambung ke episode selanjutnya…

h1

Pendidikan Dasar Wanadri 2008, Sebuah Momen

August 16, 2008

Logo Wanadri

Alhamdulillah saya masih hidup, sehat, dan insya Allah lebih baik lagi sehingga bisa menuliskan catatan-catatan kecil ini. Tiga hari setelah dilantik sebagai anggota Wanadri. Ceritanya hari Ahad pagi tanggal 10 Agustus 2008 pukul 10.00, panglima TNI Jend. Djoko Santoso secara resmi menutup Pendidikan Dasar Wanadri 2008 sekaligus melantik kami, 88 orang terdiri dari 80 putra dan 8 putri, sebagai anggota baru Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri dengan nama angkatan Bayu Windu. Bayu artinya angin dan windu ialah delapan, atau delapan mata angin yang mennyimbolkan penjelajahan. Selain kata angin yang berkesan bagi kami dan juga angka delapan yang spesial bagi angkatan kami.

 

Di atas itu semua ada hal yang bagi saya lebih penting, yaitu makna dan pembelajaran yang diperoleh selama 28 hari PDW 2008. Saya datang ke PDW 2008 dengan niat utama untuk mendapat momentum dan penyegaran dalam hidup saya, bahasa melankoliknya ialah berhenti sejenak. Beberapa sahabat saya heran mengapa saya memilih melakukannya melalui PDW 2008, apa hubungannya dengan niat saya itu. Saya sampaikan kepada mereka bahwa setahu saya model pembelajaran di PDW ialah ”membenturkan” manusia dengan alam dan mengondisikan kita (peserta) dalam kondisi yang ekstrem secara fisik dan mental. Sehingga dengan pengalaman tersebut kita bisa menjadi manusia yang tangguh dan andal. Saya berpikir model pembelajaran ini cocok dengan masalah yang saya hadapi belakangan ini yaitu lemahnya tekad dan kemauan serta kurangnya semangat dan militansi.

 

Faktor berikutnya yang mendorong saya mengikuti pendidikan ini ialah kecintaan dan obsesi saya untuk bertualang. Dari sekian mimpi-mimpi besar saya, saya punya satu impian sederhana atau tepatnya angan-angan, yaitu menginjakan kaki di setiap penjuru kolong langit ini. Barangkali berada di tengah Sahara, puncak Himalaya, belantara Amazon, di pusat kutub Artik atau Antartika, atau di tengah Samudera Pasifik. Alhamdulillah sebagiannya sudah dimulai, walau baru sebatas Tangkuban Parahu, Cikole, Puntang, Rancaupas, dan paling jauh pantai selatan di Garut. Mudah-mudahan keinginan sederhana ini bisa terwujud dengan sedikit ilmu yang saya peroleh dengan mengikuti PDW 2008 ini. Dan last but not least, secara insya Allah saya ditakdirkan sebagai seorang da’i dengan motto nahnu du’at qabla kulli syai’in, keberadaan saya di Wanadri tentunya tidak akan lepas dari konteks yang satu ini. Wanadri dengan segala kebesaran nama, anggota, jaringan, dan sejarahnya adalah satu jenak kehidupan manusia yang tentunya akan makin hidup dengan sentuhan dakwah. Kalau bahasa kerennya ini adalah sebuah mobilitas horizontal.

Harga yang saya bayar untuk niat ini sangat mahal. Bukan hanya soal biaya, karena biaya pendidikan cukup murah yaitu hanya 600 ribu dan 1,5 juta untuk peralatan, logistik, dan sebagainya. Melainkan soal biaya waktu yang harus diinvestasikan. Satu bulan saya tinggalkan amanah-amanah dan kewajiban, satu bulan kehilangan kesempatan untuk mengisi liburan dengan hal-hal lain, dan yang paling berat adalah meninggalkan ikhwah-ikhwah di Bandung yang sedang berjuang memenangkan dakwah. Tapi niat saya sudah bulat, orang tua pun sudah memberi izin, dan amanah-amanah sudah saya delegasikan.

 

 

Maka berangkatlah saya di pagi buta itu, pukul empat dini hari, hari Ahad 13 Juli 2008 dibonceg sahabat saya Iwa dengan Vario putihnya sambil ngantuk-ngantuk dari Edulab ke sekre Wanadri Jl. Aceh 155. Setelah push up dua seri karena terlambat dua menit, solat subuh, dan cek kelengkapan lainnya, tepat pukul 5.30 kami diberangkatkan per regu untuk Long March dari Jl. Aceh sampai Situ Lembang lewat Punclut-Lembang-Jayagiri-Tangkuban Parahu. Kami baru sampai Kawah Upas, Tn. Parahu jam empat sore. Setelah istrirahat satu jam kami diberangkatkan lagi. Sebelum berangkat kami (saat itu masih berjumlah) 115 orang dibariskan di Kawah Upas, di depan kami adalah tebing kawah upas ke puncak Tangkuban yang menjulang tinggi. Pelatih kami Kang Kacus (salah satu yang sudah sangat senior, alumni TI ITB) berkata kepada kami, ”Tuan-tuan! Di depan kita ini adalah gerbang Pendidikan Dasar Wanadri, kita akan membukanya sekarang dan memasukinya, dua puluh delapan hari lagi kita juga akan keluar dari sini dan menutupnya. Dan selama itu perjuangan kita akan sangat berat. Sebelum itu saya ingin menawarkan lagi, adakah tuan-tuan yang ingin mundur!?”, ”Wanadri Tidak!!” Jawab kami, para tuan (panggilan untuk siswa PDW). Saat itu saya berdoa memohon kepada Allah swt agar diberi ilmu, hikmah, dan akhlak yang lebih baik dengan pilihan saya ini. Dan saya pun memohon hidayah, perlindungan, keselamatan, serta kesehatan selama mengikuti proses ini.

 

 

Pagi itu, sekitar jam setengah sembilan, di Puncak Tangkuban Parahu, tepat di atas tebing turun ke Kawah Upas, dua puluh delapan hari setelah gerbang Kawah Upas dibuka, kami (sekarang tinggal) 88 orang dibariskan. Seperti 28 hari yang lalu, Kang Kacus berbicara lagi kepada kami. Bahwa sekarang saatnya kami keluar dari gerbang ini lalu menutupnya. Kang Kacus mengingatkan kami tentang hikmah apa yang akan kami bawa pulang setelah proses yang panjang dan berat ini. Ia pun mengingatkan kami tentang nilai-nilai Wanadri yang salah satunya adalah tidak berhenti belajar dan berlatih sampai kita mati. Saat itu saya tertunduk berdoa dan menangis, memohon ampun kepada Allah swt atas semua dosa, kesia-siaan, dan kelalaian khususnya selama 28 hari ini. Serta memohon kepada-Nya agar semua niatan saya dikabulkan.

 

Kami pun menuruni tebing menuju Kwah Upas. Dengan sambutan ledakan TNT, rentetan tembakan, serta granat asap kami tiba di tempat upacara pelantikan. Pagi itu Kawah Upas seperti Gasibu di Minggu Pagi. Hampir seluruh anggota Wanadri hadir, dan tentu saja yang akan melantik kami yaitu Panglima TNI beserta anak buahnya dari baret merah (KOPASSUS), oranye (PASKHAS), ungu (MARINIR), biru (PM), ada juga pejabat dari Dephub, Kemeneg LH, Dephub, Sekda Jabar, dan yang lainnya. Dan yang paling istimewa tentu saja para undangan yang merupakan orang tua dan keluarga para siswa. Dari kejauhan akhirnya saya bisa melihat Ibu dan Mang Ihsan. Yang paling mengembirakan ialah walaupun secara simbolik yang melantik adalah panglima TNI, ternyata untuk semuanya yang melantik ialah orang yang lebih penting dari panglima, yaitu orang tua masing-masing! Disematkanlah badge oranye itu oleh ibuku di lengan kiri kemeja lapanganku.

 

Ada hal yang lucu saat pelantikan oleh orang tua dilaksanakan, hampir semua orang tua dan keluarga yang lain menangis saat bertemu, apalagi ibunya. Tapi ibu saya malah tertawa cengengesan setelah tangannya saya cium, sambil berkata ”hehe, watir budak meni jadi kawas monyet, dekil, begang, hidueng, lehoan”. Paman saya lalu bertanya ke Ibu, ”Ceu, naha nu lain mah caleurik, ari Ceu Iyah (Ibu saya-red) henteu?”, ”Syukur mah pasti atuih Si Rihan salamet, sehat, ngan lehoan wungkul. Tapi da ieu mah kahayangan manehna, nya bungah atuh”. Ah, ibu..ibu.. engkau selalu menyayangiku dengan luar biasa dan dengan cara yang kadang tidak biasa, dan selalu memahami keinginan anaknya.

 

Teringat saya hari-hari kemarin, perjalanan panjang, melelahkan, yang menempatkan saya pada kondisi paling ekstrem secara fisik dan mental selama 28 hari,

-          Satu hari satu malam Longmarch Jalan Aceh-Situ Lembang yang mengajarkan saya cara berjalan sambil tidur.

-          Delapan malam tahapan Basic di Situ Lembang yang penuh kedisiplinan, beras merah, ikan asin, tahu, dan tempe, serta air situ lembang.

      

   

    -  Tiga hari di Citarum dan Tebing Citatah yang menyenangkan, membawa pulang oleh-oleh air Sungai Citarum di perut serta darah-luka dari batu Citatah di telapak tangan.

 

 

 

 

 

-          Dua hari dua malam di Rawa-Pantai Pondok Bali-Blanakan Pamanukan, Subang. Yang indah dan sangat berkesan. Membawa oleh-oleh lumpur, tanah, dan kekotoran tiada tara.

 

 

-          Satu hari penuh longmarch ± 30 km rel kereta api Indramayu-Pagaden Baru, Subang. Menghabiskan sekitar enam liter air minum.

 

-          Satu hari setengah malam longmarch ± 50 km jalan raya Taman Ranggawulung Subang-Desa Cihanjawar Purwakarta. Mendapat bonus suntikan Betadine.

 

 

-          Satu malam menginap di Balai Desa dan satu malam lagi di rumah warga Cihanjawar, sambil istirahat recovery dan bakti sosial.

-          Empat hari empat malam yang indah dan menyenangkan di kawasan Gunung Burangrang dan sekitarnya, hari-hari yang penuh kebebasan dan keceriaan terutama waktu operasi navigasi darat dan SAR.

-          Empat hari tiga malam yang luar biasa! Bertahan hidup di hutan dengan berbekal golok, korek, lilin, parafin, dan uyah. Saya betul-betul belajar makna hidup di sana. Semoga menjadi pengalaman survival pertama dan terakhir.

-          Satu malam di Puncak Tangkuban, menghitung detik-detik akhir, kami berkumpul dan memberi nama kami nagkatan Bayu Windu.  

 

Hari itu saya pulang ke Bandung dengan berat badan menyusut tujuh kilo. Tapi bukan itu yang penting. Saya pulang ke Bandung dengan tiga hikmah utama. Yaitu Syukur, Sabar, dan Militansi. Selama 28 hari saya belajar tiga hal tersebut, bukan belajar menambah tahu, tetapi belajar merasakannya.

Next: cuplikan-cuplikan cerita yang berkesan selama PDW 2008 dan gambarnya

h1

Ternyata.. Saya Mirip Beckham (Serius!!!)

June 30, 2008