<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Angin</title>
	<atom:link href="http://rihandaulah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rihandaulah.wordpress.com</link>
	<description>Keterserakan yang Mencoba Terus Bergerak</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 08:00:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rihandaulah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Angin</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rihandaulah.wordpress.com/osd.xml" title="Angin" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rihandaulah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Musim Semi di Arab</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/musim-semi-di-arab/</link>
		<comments>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/musim-semi-di-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 08:35:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Rihan Handaulah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pergerakan dan Peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[Politik dan Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Spring]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihandaulah.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[&#160; I used to rule the world Seas would rise when I gave the word Now in the morning I sleep alone Sweep the streets that I used to own &#160; I used to roll the dice Feel the fear in my enemy&#8217;s eyes Listen as the crowd would sing: &#8220;Now the old king is [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=232&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>
<h2><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;"><img src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/320751_10150368475694268_726659267_8069091_1558543670_n.jpg" alt="" /></span></h2>
</div>
</div>
</div>
<div>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>I used to rule the world</p>
<p>Seas would rise when I gave the word</p>
<p>Now in the morning I sleep alone</p>
<p>Sweep the streets that I used to own</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>I used to roll the dice</p>
<p>Feel the fear in my enemy&#8217;s eyes</p>
<p>Listen as the crowd would sing:</p>
<p>&#8220;Now the old king is dead!</p>
<p>Long live the king!&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>One minute I held the key</p>
<p>Next the walls were closed on me</p>
<p>And I discovered that my castles stand</p>
<p>Upon pillars of salt and pillars of sand</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Viva la Vida nya Coldplay ini selalu masuk playlist saya belakangan. Lagu ini saya persembahkan untuk Ben Ali, Husni Mubarrak, Qadhafi, serta para pendahulu-pendahulu nya seperti Bush and the gang, Soeharto, Mugabe, Slobodan Milosevic, Idi Amin, Pinnochet, Mussolini, Hitler, Kemal Attaturk, serta siapa lagi kalau bukan penghulu para tiran dan diktator: Firaun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tiran ialah ironi. Di satu sisi mereka dikutuk, dibenci, dan menjadi monster bagi peradaban. Di sisi lain mereka yang paling sering dibicarakan, tak pernah lekang dalam ingatan sejarah, dan di sisi lain hati kita, biasanya ada selaksa bentuk kekaguman pada mereka. Bagaimana seorang diri bisa menentukan merah hitamnya dunia. Sebab tiran memang orang-orang hebat dalam ukuran yang netral, kapasitas, ambisi, kerja keras, dan pengaruh mereka sangat besar dan berlimpah. Satu kata dari lidahnya, satu jentikan jarinya memebelokan masa depan sebuah bangsa. Di sini kita bisa belajar dari para tiran. Bagaimana kekuatan itu mereka raih dan gunakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Struktur kekuatan tiran selalu tipikal, dibalik kemenonjolan bahkan pendewaan figur personalnya, sesungguhnya mereka bekerja dalam tim. Kita lihat bagaimana tiran ini bekerja. Ada kepemimpinan yang kokoh yang dimainkan negara, baik sebagai tiran yang menjajah bangsa lain maupun tiran yang mengisap bangsanya sendiri. Yang kedua, jelas ada kekuatan militer yang menjadi watching dog dan penghukum siapa saja yang mengancam keberlangsungan tirannya. Yang ketiga ialah para pengusaha yang menjadi alat pengisap kekayaan masyarakat dan akumulasi kapital si tiran. Dan keempat ada kaum agamawan sebagai stempel pengesahan tindakan tiran, baik yan berupa stempel moral dan kebenaran. Dan terakhir adalah kaum intelektual, yang memberi pembenaran ilmiah atas tindakan si tiran serta menjadi thnik tank, bank ide dan riset bagi keberlangsungan tirani.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Firaun ialah simbol bagi kedigdayaan kekuasaan dan kekuatan militernya. Tapi di sana juga ada sosok Qarun, pengusaha sukses minus moral. Hamman sang intelektual. Serta Bal&#8217;am, ulama penjual ayat. Begitu pun struktur tiran yang ada saat ini. Bagaimana amerika sebagai negara adidaya secara poltik dan militer. Ada wallstreet berserta supporting systemnya seperti IMF dan WTO sebagai simbol kerakusan kapitalisme. Ada ilmuwan-ilmuwan yang memberi stempel ilmiah atas segala kreasi kerakusan tiran. Serta ada kaum agamawan yang, celakanya, ada di semua agama tapi menyerukan ajaran yang sama; HAM, demokrasi, dan kebebasan yang atas namanya lah perang amerika untuk menguasai sumber daya alam dilakukan. Mereka memiliki dan menguasai semuanya kecuali satu: kebenaran. Atau kita lihat contoh yang paling dekat di negara kita. Ada satu provinsi yang semua sumber dayanya dikuasai oleh satu keluarga. Dengan segala cara mereka mempertahankan kekuasaannya. Dan kita lihat bagaimana akibatnya bagi dareah itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka benarlah kata Umar, tunggu lah bencana menimpa saat orang-orang jahatnya kuat dan orang-orang baiknya lemah. Tapi Allah punya rencana lain, selama ada di anatara umatnya yang gigih dan setia mempertahankan keimanannya, Allah tidak akan membinasakan mereka. Asalkan orang-orang beriman itu istiqamah dan tidak menyerah dalam keadaan serta sabar dalam kondisi yang sulit. Allah yang merencakan dengan rencana yang jauh lebih besar dan hebat dari para tiran itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Firaun telah membunuh semua bayi Bani Israil karena takut dari sana lah akan muncul seseorang yang menumbagkan tiraninya. Semua bayi di bunuh, kecuali satu, dan satu-satunya bayi yang tidak dibunuh itulah yang menumbangkannya. Subhanallah, maha besar Allah dengan kehebatan rencananya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka siapa yang menayangka, Musim semi di Arab terjadi begitu saja. Tahun lalu para diktator itu masih dengan kokohnya bercokol di singgasananya. Hanya seorang pedagang buah, ya pedagang buah di Tunisia, yang mengawali semuanya. Aksi protesnyalah yang membakar api keberanian di seantero Arab untuk mengubah nasibnya. Satu demi satu penguasa yan ditakuti itu tumbang. Ben Ali hidup di pengasingan, Mubarrak menjadi pesakitan yang terbaring di bangsal Rumah Sakit, serta Qadhafi yang menjadi seperti tikus yang bersembunyi di gorong-gorong lalu dibunuh oleh (mungkin) seorang remaja yang bukan siapa-siapa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitu hebat dan mudahnya rencana Allah, dengan cara yang tak dapat dipahami akal manusia sebelumnya, aksi seorang tukang buah yang membakar dirinya. Tapi sesungguhnya itu semua bukanlah sesuatu yang gratis yang datang dari langit. Ini semua ibarat laut yang terbelah saat Nabi Musa melarikan diri. Selayaknya yang kita perhatikan adalah bagaimana kesabaran dan perjuangan Nabi Musa dari awal beliau menerima wahyu hingga hari itu, beliau terdesak di laut merah. Ini semua adalah perjuangan yang mendatangkan ridha Allah. Saat Allah cinta dan ridha, tak akan kita disia-siakanNya. CintaNya membuahkan pertolongan dan keberkahan yang mengagumkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitu pula yang saya yakini dengan apa yang terjadi. Semua ini ialah buah dari kesabaran dan ketakwaan penduduk negeri Arab yang tetap istiqamah dalam tekanan dan kesulitan. Bayangkan, dulu di Tunisia seorang penduduk tidak boleh shalat di masjid selain masjid yang ditentukan oleh pemerintah. Di Mesir seorang mahassiwa Al Ahzar tidak bisa masuk ke kampusnya selain untuk urusan akademik dengan pemeriksaan yang ketat. Ini lah buah dan pertolongan Allah atas ulama-ulama yang dipenjara, disiksa, dan diusir dari negerinya. Dan kini gerakan Islam menjadi fajar kemenangan atas kangkangan tirani.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemarin di Tunisia Partai An Nahdhah yang dipimpin Syaikh Rasyid Ganouchi memenangi suara mayoritas dalam pemilu pertama yang adil dan jujur. Di Mesir Partai Keadilan dan Kebebasan yang didirikan oleh harakah Ikhwanul Muslimin insyAllah menyusul. Libya insya Allah tidak akan membiarkan dirinya dijadikan kroco bagi AS dan sekutunya. Terakhir beberapa tokoh pemimpin Libya sudah menyatakan bahwa Libya akan menjadi negara Islam. Dan bagi sisa para tiran Arab lain yang belum jatuh, musim semi di Arab masih berlangsung, dan Viva la Vida nya coldplay pun masih ada lanjutannya:</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>It was the wicked and wild wind</p>
<p>Blew down the doors to let me in</p>
<p>Shattered windows and the sound of drums</p>
<p>People couldn&#8217;t believe what I&#8217;d become</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Revolutionaries wait</p>
<p>For my head on a silver plate</p>
<p>Just a puppet on a lonely string</p>
<p>Oh who would ever want to be king?</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Surabaya, 28 Oktober 2011</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihandaulah.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihandaulah.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihandaulah.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihandaulah.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rihandaulah.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rihandaulah.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rihandaulah.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rihandaulah.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihandaulah.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihandaulah.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihandaulah.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihandaulah.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihandaulah.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihandaulah.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=232&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/musim-semi-di-arab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00c41b73750edf614ad8b9a03f197adf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihandaulah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/320751_10150368475694268_726659267_8069091_1558543670_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Metamorfosis</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/metamorfosis/</link>
		<comments>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/metamorfosis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 08:33:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Rihan Handaulah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Self and Org. Development]]></category>
		<category><![CDATA[thufail al ghifary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihandaulah.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Ada dua syair, dua-duanya judulnya metamorfosis. Yang pertama ialah puisi karangan Sapardi, yang kedua lirik rapnya Thufail Alghifari. Dua seniman yang sangat berbeda latar belakangnya. Sapardi adalah sastrawan akademisi yang juga guru besarnya Fakultas Sastra UI. Thufail algifary adalah seorang mualaf pemegang microphone yang meneriakan lirik-lirik rap cadas, tapi ini rap dakwah, musiknya keras [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=230&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>
<h2></h2>
</div>
</div>
</div>
<div>
<div>
<p><img src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/321607_10150367231024268_726659267_8063549_1956149253_n.jpg" alt="" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada dua syair, dua-duanya judulnya metamorfosis. Yang pertama ialah puisi karangan Sapardi, yang kedua lirik rapnya Thufail Alghifari. Dua seniman yang sangat berbeda latar belakangnya. Sapardi adalah sastrawan akademisi yang juga guru besarnya Fakultas Sastra UI. Thufail algifary adalah seorang mualaf pemegang microphone yang meneriakan lirik-lirik rap cadas, tapi ini rap dakwah, musiknya keras dan liriknya &#8220;brutal&#8221;. Beliau nampaknya lebih tepat disebut dai musis nyeleneh. Silakan simak kedua syair metamorfosis ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Metamorfosis</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ada yang sedang menanggalkan</p>
<p>kata-kata yang satu demi satu</p>
<p>mendudukkanmu di depan cermin</p>
<p>dan membuatmu bertanya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>tubuh siapakah gerangan</p>
<p>yang kukenakan ini</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ada yang sedang diam-diam</p>
<p>menulis riwayat hidupmu</p>
<p>menimbang-nimbang hari lahirmu</p>
<p>mereka-reka sebab-sebab kematianmu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ada yang sedang diam-diam</p>
<p>berubah menjadi dirimu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-Sapardi Djoko Dhamono-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Metamorfosis</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi karanglah meski itu tidak mudah</p>
<p>Sebab ia akan menahan sengat sinar mentari yang garang</p>
<p>Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah</p>
<p>Melawan bayu yang keras menghembus</p>
<p>Dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan</p>
<p>Sebab keteguhannya akan menahan hempasan badai</p>
<p>yang datang mengerus terus menerus</p>
<p>ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus</p>
<p>ia akan berdiri tegak berhari – hari, bertahun tahun berabad – abad</p>
<p>tanpa rasa jemu dan bosan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi mutiaralah meski itu juga tak mudah</p>
<p>sebab ia berada di dasar samudera yang dalam</p>
<p>sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan tangan manusia</p>
<p>sebab ia begitu berharga</p>
<p>sebab ia begitu indah dipandang mata</p>
<p>sebab ia tetap bersinar meski tenggelam dikubangan yang hitam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi pohonlah yang tinggi menjulang meski itu tidak mudah</p>
<p>sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala disetiap siangnya</p>
<p>ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar</p>
<p>ia akan terus menjejaki bumi hadapi gemuruh sang petir</p>
<p>sebab ia hujamkan akar yang kuat menopang</p>
<p>untuk menahan gempita hujan yang coba merubuhkan</p>
<p>dan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengeyangkan</p>
<p>sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung – burung yang singgah di dahannya lalu berikan tempat berlindung dengan rindang daun – daunnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi pauslah meski itu juga tak mudah</p>
<p>sebab dengan sedikit kecipaknya ia akan menggetarkan ujung samudera</p>
<p>sebab besar tubuhnya akan menaklukan musuh yang coba mengganggu</p>
<p>sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi melatilah meski tampak tak bermakna</p>
<p>sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan</p>
<p>ia begitu putih seolah tanpa cacat</p>
<p>sebab ia tak takut hadapai angin dan hujan dengan mungil tubuhnya</p>
<p>ia tak pernah iri melihat mawar yang segar merekah</p>
<p>dan tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi</p>
<p>ia tak pernah dengki dengki dan rendah diri pada keanggunan anggrek dan tulip yang berwarna warni</p>
<p>dan tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-Thufail al Ghifary-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selamat bermetamorfosis sahabatku. Terus belajar dan memaknai setiap hari perjalanan kita. Hidup ini sia-sia tanpa pembelajaran dan pemaknaan. Jangan menyerah. Jangan biarkan lingkungan yang menentukan seperti apa dirimu. Jangan biarkan keterbatasan mengkerdilkan dirimu. Jangan biarkan engkau menjadi tidak seperti apa yang engkau kehendaki. Sebab Allah maha dekat dan maha mengetahui. Jangan biarkan kelemahan memutuskan harapan dan tali pengaduan kita kepadaNya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Surabaya, 27 Oktober 2011.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihandaulah.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihandaulah.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihandaulah.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihandaulah.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rihandaulah.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rihandaulah.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rihandaulah.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rihandaulah.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihandaulah.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihandaulah.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihandaulah.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihandaulah.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihandaulah.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihandaulah.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=230&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/metamorfosis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00c41b73750edf614ad8b9a03f197adf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihandaulah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/321607_10150367231024268_726659267_8063549_1956149253_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Minallah, Ma&#8217;allah, Ilallah</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/minallah-maallah-ilallah/</link>
		<comments>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/minallah-maallah-ilallah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 08:32:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Rihan Handaulah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid; obsesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihandaulah.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[&#160; “Barangsiapa yang menjadikan dunia ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran (kemiskinan) menghantui kedua matanya dan Allah tidak memberinya harta dunia kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya (dengan tunduk).”  (HR Ibnu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=228&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><img src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/316381_10150368484184268_726659267_8069108_1386712753_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<div>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em><em>“Barangsiapa yang menjadikan dunia ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran (kemiskinan) menghantui kedua matanya dan Allah tidak memberinya harta dunia kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya. </em><em>Dan barangsiapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya (dengan tunduk).”</em>  </em>(HR Ibnu Majah)</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika ada emas sebesar gunung yang seorang manusia miliki. Tetap saja hal itu tidak akan membuatnya puas. Dunia ibarat air laut. Jika kita meminumnya, bukanlah dahaga yang hilang, tapi haus itu akan makin bertambah, dan makin diminum makin bertambah hausnya. Sehingga ia mati karenanya. Dunia jika menjadi orientasi hidup sungguh akan membuat kita terpuruk dalam kehinaan, kegusaran, dan kehampaan hidup. Ujungnya ialah penyesalan. Firaun yang diberikan kekuasaan hingga mencapai keangkuhan manusia yang tiada tara hingga mendeklarasikan dirinya &#8220;akulah tuhan-mu&#8221;. Ia mati dalam kehinaan. Qarun yang diberikan harta berlimbah mengakhiri hidupnya dengan kesombongan &#8220;semua harta ini karena kepintaran dan keahlianku&#8221;. Namanya dicatat sebagai peringatan bagi para hartawan sepanjang zaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi seorang Muslim yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidup memiliki orientasi yang jauh dan murni dari sekedar remah-remah duniawi. Jika dibandingkan dengan bangkai seekor anjing, bahkan dunia lebih hina dari itu. Demikian nasihat Rasulullah saw kepada sahabatnya dalam sebuah perjalanan. Apakah kita memilih suatu tempat yang penuh kubangan lumpur yang kotor dan orang-orang berkubang di sana, berebut lumpur yang mereka sangka emas. Sungguh kita telah tertipu dan menanggalkan akal sehat kita jika demikian adanya. Sedangkan di sebelahnya ada tempat yang mulia, luhur, dan penuh cahaya dan kesucian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi muslim bukan berarti mengabaikan urusan dan kepentingan dunianya. Menjadi muslim bukan berarti kehilangan semangat untuk memupuk kesempatan dan kemudahan hidup. Bukan berarti kehilangan ambisi, cita-cita, dan rencana untuk berbuat dan bermakna di dunia. Jika demikian, maka ia telah gagal memahami teladan hidupnya yang agung. Yang menjadi ruh, inti hidup, pusat kehidupan, titik berangkat, dan tujuan akhirnya ialah TuhanNya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Minallah, ma&#8217;allah, ilallah.. Dari Allah, bersama Allah, menuju Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari Allah kita ada dan kepadaNya kita kembali. Kita lahir ke dunia dalam satu perjanjian yang agung, pernyataan tauhid sejak di alam barzah. Kita diciptakan dengan tiupan ruhNya, kita membawa sifat-sifatNya yang agung dan suci. Dalam diri kita ada fitrah untuk mengasihi, menyayangi, mencipatakan, berkarya, melindungi, dan semua sifat Allah yang tentu saja dalam keterbatasan dan kelemahan. Dalam fitrah kita juga ada potensi tanah, duniawi, yang dengannya manusia bisa melanjutkan keberlangsungannya di dunia. Kita lahir dalam sebuah kemuliaan, dengan amanah besar yang ditolak oleh makhluk lain untuk menjadi khalifah. Yang dengan potensi dan kemuliaan itu malaikat sujud hormat kepada manusia. Maka sudahkah kita memandang diri ini sesuai dengan tujuannya diciptakan. Sudahkah kita mengingat dan menjadikan hakikat hidup kita sebagai landasan, titik keberangkatan dari semua cita-cita dan ambisi kita. Sudahkah kita selalu mengingat hal ini sebagai identitas dan konsep diri kita. Jika belum, barangkali suatu saat engkau akan ditegur olehNya, karena engkau sedang berdiri di atas pijakan yang rapuh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ma&#8217;allah, bersama Allah. Dalam perjalanannya manusia tidak dibiarkan dan ditelantarkan. Bumi dan seisinya ialah sarana dan nikmat yang Allah anugerahkan. Dan yang lebih besar lagi sebagai bukti kasihnya, tidaklah kita dibiarkan hidup dalam kebingungan tentang bagaimana menjalani hidup ini. Ada tuntunan dan jalan bagaimana hidup kita semestinya yang akan membawa manusia dalam harmoni dan kebahagiaan. Ada utusan yang menebarkan cinta dan kasih sayangNya, yang berat terasa oleh beliau penderitaan dan kesulitan yang manusia alami saat mereka berpaling dari petunjuknya. Amat menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi seluruh manusia. Yaa ayyuhal mustafa, shallu&#8217;alaihi wa salam. Sertakan Allah selalu dalam hidupmu maka engkau akan merasa aman dalam setiap langkahmu. Gantungkan semua harapan dan cita-citamu kepada Ia yang maha kuat, maka engkau akan yakin bahwa engkau akan mendapatkan yang terbaik. Serahkan semua urusanmu kepada Allah, maka engkau akan tenang karena engkau bersama Pemilik dan pengatur segala urusan. Ada Allah yang menjaga dan memeliharamu. Ia tak akan membiarkan hamba yang dicintainya dalam kesedihan. Hidupmu akan ringan, tentram, dan harmoni.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ilallah, menuju Allah. Apalah arti hidup ini. Apa arti angka enam puluh, tujuh puluh. Apakah itu akan sekedar menjadi penanda waktu kehidupan usiamu. Hendak kemana diri kita, untuk apa semua ini? Orientasi lah yang membedakan nilai apa yang sedang dan ingin kita lakukan. Untuk apa semua kepandaian, keuasaan, dan harta yang engkau miliki. Untuk apa semua susah payah yang engkau jalani dalam peran-peranmu? Engkau hanya tanah dan akan kembali pada tanah? Suatu hari di akhir usiamu akankah engkau berpikir bahwa hidup ini hanya sekelebat waktu dhuha atau sore saja? Atau engkau merasa lebih baik mati muda atau tak usah dilahirkan sama sekali? Tragis sekali, sebuah tragedi kehidupan yang dialami ornag-orang yang kehilangan tujuan. Hanya berkutat dan berputar-putar tanpa arah. Hanya dengan orientasi, tujuan yang jelas maka hidupmu akan bermakna. Di akhir hidupmu engkau akan menyadari bahwa nikmat dan kasih sayang Allah yang paling besar ialah bahwa kamu pernah dilahirkan ke dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : &#8220;Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.&#8221; </em>(HR. Tirmidzi)</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Surabaya, 25 Oktober 2011</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihandaulah.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihandaulah.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihandaulah.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihandaulah.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rihandaulah.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rihandaulah.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rihandaulah.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rihandaulah.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihandaulah.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihandaulah.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihandaulah.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihandaulah.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihandaulah.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihandaulah.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=228&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/minallah-maallah-ilallah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00c41b73750edf614ad8b9a03f197adf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihandaulah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/316381_10150368484184268_726659267_8069108_1386712753_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hadirmu</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/hadirmu/</link>
		<comments>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/hadirmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 08:26:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Rihan Handaulah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihandaulah.wordpress.com/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Di penghujung malam yang paling kelam dan dingin, engkau lah fajar itu.. Di penghujung hari yang panjang dan memeras peluh, engkaulah jingga senja itu.. &#160; Mengantarku pada rehat dan zikir Mengisi ruang yang kosong di hati engkau menggenapkannya Manjadikan paripurna dien ku Terberkahilah dengan limpahan ilmu dan rizki &#160; Semua kasih yang begitu saja terucap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=226&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di penghujung malam yang paling kelam dan dingin,</p>
<p>engkau lah fajar itu..</p>
<p>Di penghujung hari yang panjang dan memeras peluh,</p>
<p>engkaulah jingga senja itu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mengantarku pada rehat dan zikir</p>
<p>Mengisi ruang yang kosong di hati</p>
<p>engkau menggenapkannya</p>
<p>Manjadikan paripurna dien ku</p>
<p>Terberkahilah dengan limpahan ilmu dan rizki</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semua kasih yang begitu saja terucap</p>
<p>Seperti air hujan yang menetes,</p>
<p>seringan hembusan nafas</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada gelombang yang menggemuruh dalam jiwa</p>
<p>Gelombang yang kekuatan dan apinya  belum pernah ada</p>
<p>Sebelum engkau ada di hidupku</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Agar menjadi kata dan laku bagi aku, kamu, kita</p>
<p>Meniti jalan menuju cinta dan ridha-Nya</p>
<p>Menyemai cinta di tanah abadi tempat pulang nanti</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Duri, 7 Juli 2011</p>
<p>00:30</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihandaulah.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihandaulah.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihandaulah.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihandaulah.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rihandaulah.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rihandaulah.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rihandaulah.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rihandaulah.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihandaulah.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihandaulah.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihandaulah.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihandaulah.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihandaulah.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihandaulah.wordpress.com/226/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=226&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/10/28/hadirmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00c41b73750edf614ad8b9a03f197adf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihandaulah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari ini Tiga Belas Tahun yang Lalu</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/hari-ini-tiga-belas-tahun-yang-lalu/</link>
		<comments>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/hari-ini-tiga-belas-tahun-yang-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 13:25:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Rihan Handaulah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Amien Rais]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi 1998]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihandaulah.wordpress.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Pancasila dasarnya apa.. Rakyat adil makmurnya kapan.. Pribadi bangsaku.. Enggak maju-maju, enggak maju-maju, enggak maju-maju.. -Lagu yang ngetrend 13 tahun lalu- Hari ini tiga belas tahun yang lalu saya adalah seorang anak kelas enam SD yang sedang hobi-hobinya sepak bola. Tidak ada hari tanpa sepakbola, jam sekolah dan jam belajar tidak boleh mengganggu jam sepakbola, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=224&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<blockquote><p><em>Pancasila dasarnya apa..</em></p>
<p><em>Rakyat adil makmurnya kapan..</em></p>
<p><em>Pribadi bangsaku..</em></p>
<p><em>Enggak maju-maju, enggak maju-maju, enggak maju-maju..</em></p>
<p>-Lagu yang ngetrend 13 tahun lalu-</p></blockquote>
<p>Hari ini tiga belas tahun yang lalu saya adalah seorang anak kelas enam SD yang sedang hobi-hobinya sepak bola. Tidak ada hari tanpa sepakbola, jam sekolah dan jam belajar tidak boleh mengganggu jam sepakbola, tidak ada TV tanpa siaran bola dan tidak ada bagian dinding di kamar yang bersih dari poster sepakbola. Bahkan hari ini 13 tahun yang merupakan hari pelaksanaan EBTA saya masih bermain bola di stadion Ciputat, tepat di sebelah SD saya, SDN Ciputat II.</p>
<p>Tapi ada yang berbeda di hari itu. Tiba-tiba angkot siang itu tidak ada yang beroperasi, padahal paginya berangkat ke sekolah saya masih naik angkot putih jurusan Jombang-Ciputat tersebut. Toko-toko pun tutup dan massa mulai bergerombol di beberapa titik. Lalu dari orang-orang saya dengar desas desus bahwa toko-toko mulai dijarah dan ada SPBU yang dibakar. Saya dan teman saya tentu saja ketakutan dan karena tidak ada angkot berlari secepat mungkin pulang ke rumah. Padahal jaraknya lumayan jauh, sekitar 4 kilo. Siang hingga sorenya tetangga saya ramai-ramai pergi ke Ciputat untuk menjarah toko cina katanya. Pulang ke rumah membawa berbagai macam barang-barang &#8220;impian&#8221; mereka selama ini. Ada yang membawa alat-alat elektronik, sembako, maupun fashion dan sepatu/ sandal. Tetangga saya membawa pulang sekarung Sepatu dari Ramayana yang hangus terbakar. Dan setelah dibuka di rumah ternyata sepatu pajangan toko yang ia jarah semuanya hanya sepatu sebelah kanan.</p>
<p>Saya tidak tahu apa yang terjadi hari itu di Ciputat, sebuah kota satelit Ibu Kota yang masuk Kab Tangerang dan terkenal akan kesemrawutannya itu. Yang jelas saya menonton berita di TV kemarin bahwa empat orang mahasiswa Trisakti meninggal dunia tertembak peluru aparat. Dari TV juga saya menyaksikan berita bahwa mahasiswa bersama masyarakat demo meminta Soeharto mundur. Menuntut sembako murah. Dan sebuah kata indah yang menjadi mimpi masyarakat kita saat itu terdengar gemuruhnya kian kuat: REFORMASI!</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Krisis Moneter juga secara langsung terasa oleh keluarga sederhana kami. Bapak saya di-PHK sehingga untuk menyambung hidup selama hampir dua tahun (hingga mendapat lagi pekerjaan yang sesuai) bapak melakukan ini dan itu. Mulai dari mencoba beternak cacing, bertani tomat, beternak domba, hingga jualan jaket/ aksesori kulit yang dibelinya dari Garut. Sedangkan Ibu juga membantu dengan berjualan pakaian kredit yang dibelinya dari grosir di Pasar Tanah Abang atau Pasar Induk Cipulir.</p>
<p>Dalam kondisi ekonomi yang sulit hikmahnya ialah empati saya yang masih kecil itu mulai terasah. Jika selama ini biasanya kami menggunakan Bis kelas Eksekutif untuk pulang ke Bandung maka pada saat itu karena tidak punya uang kami berlangganan naik Kereta Ekonomi Galuh jurusan Tanah Abang &#8211; Banjar via Stasiun Kiaracondong Bandung yang harga tiketnya sepertiga Bis Eksekutif. Dan tentu saja waktu tempuhnya pun tiga kali lebih lama dengan kenyamanan ala kelas ekonomi. Benar-benar merasakan hidup sebagaimana rakyat Indonesia sebagian besar. Bersama orang-orang kecil di Kereta Api Ekonomi; pengemis, gelandangan, pedagang asongan, tukang sapu-sapu, dan penumpang lain yang senasib hidupnya ialah pengalaman berharga yang Allah berikan dalam rangka mendidik saya.</p>
<p>Selain itu pun kehidupan dalam krisis ekonomi juga mengajarkan kami arti syukur, bahwa kebahagiaan tidaklah diukur dari nominal atau keberadaan materi, melainkan keberkahan dan nikmat yang Allah berikan. Jika sebelum krisis Ibu saya yang hobi masak selalu menyiapkan menu mewah di rumah maka pada saat itu daging adalah menu yang sangat langka. Saya masih ingat bahwa di masa-masa sulit yang dialami rakyat itu, Allah tidak pernah membiarkan hambaNya kelaparan. Barangkali kita masih ingat bahwa antara tahun 1997-1999 di pasar banyak sekali penjual ikan sejenis Sarden yang diberi nama &#8220;Ikan Krismon&#8221;. Dinamakan Ikan Krismon karena tiba-tiba hadir di masa krismon dengan jumlah yang berlimpah dan haganya pun harga krismon, seingat saya Rp. 500/ kg. Bahkan lebih murah dari tahu tempe sekalipun. Ikan krismon itulah masakan favorit ibu saat itu.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Soeharto, bapak presiden Indonesia yang tersenyum. Saat SD kami menghapal semua menterinya. Menghapal wakil-wakil nya dari awal sampai zaman Sudarmono, Try Soetrisno, lalu Habiebie. Menghapal butir-butir Pedoman Pelaksanaan dan Penghayatan Pancasila (P4) atau Eka Prasetya Pancakarsa. Menghapal pembukaan dan batang tubuh UUD 45. Menyaksikan acara kelompencapir di TVRI. Marah-marah setiap layar emas RCTI dipotong Dunia Dalam Berita. Saya yang tidak tahu bahwa presiden ternyata bisa berganti.</p>
<p>Yang saya ingat saat itu Soeharto, Golkar, dan Cina menjadi dua pihak yang sangat dibenci di tahun 1998. Kata-kata asing seperti krismon atau reformasi jadi sangat populer. Mahasiswa menjadi superhero saya menggantikan Kotaro Minami. Dan dinding kamar saya pun bertambah variasinya tidak hanya sekedar poster bola yang didominasi Juventus dan Liverpool, tapi kini ada poster Amien Rais dan foto-foto Reformasi 1998. Dua poster terbaik yang saya suka ialah foto Gedung DPR yang atapnya sedang diduduki secara harfiah oleh mahasiswa yang berwarna-warni serta foto zoom jendela Univ Trisakti yang tertembak peluru. Saya yang baru akan masuk SMP itu rupanya larut dalam kegembiraan Bapak saya yang pada saat Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, beliau bercucuran air mata bahagia.</p>
<p>Tidak lama setelah itu saya baru tahu alasan Bapak saya bahagianya nampak lebay saat Soeharto turun. Rupanya Bapak saya ialah salah satu dari sekian juta pewaris sah negeri ini yang terdzalimi dalam kurun 32 tahun Soeharto berkuasa. Syahdan saat itu Bapak saya sedang ujian akhir (EBTA) SMK tahun 1982 dipanggil ke ruang kepala sekolah. Beberapa orang berambut cepak menjemputnya, dan sejak hari itu hingga dua setengah tahun kemudian tidak pernah pulang lagi ke rumah. Bapak saya diculik lalu dipernjara di tahanan militer Cimahi tanpa proses peradilan apapun. Hanya karena Bapak saya terlibat aktif dalam pengajian di Mesjid Istiqamah Bandung. Tiga bulan pertama tanpa pemberitahuan apapun ke pihak keluarga dan disekap di ruangan 2 x 1 tanpa pernah melihat matahari. Dibarengi dengan interogasi yang tidak beradab. Ada teman Bapak saya yang meninggal, ada yang cacat fisiknya, ada yang cacat mentalnya sekeluar dari penjara tanpa pengadilan itu.</p>
<p>Rupanya Bapak saya tak sendirian, ada ribuan lain yang dipenjara dengan satu kata keji: subversif. Ada siswi-siswi yang diancam dan dikeluarkan dari sekolahnya karena menggunakan jilbab seperti ibu mertua saya. Ada jutaan hektar tanah yang digusur atas nama pembangunan. Ada ratusan orang terbunuh di Tanjung Priok tahun 1984. Ada pembantaian di Talangsari Lampung. Ada ribuan dibunuh dan diperkosa di Aceh. Ada jutaan yang dibunuh saat transisi berdarah dari Orde Lama ke Orde Baru. Dan di atas itu semua disusunkanlah Repelita dan Pelita, Kabinet Pembangunan I hingga sekian. Dilakukan inpres. Dwifungsi ABRI. Kopkamtib. Pembangunan tinggal landas. Pembangunan manusia Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Dibangun irigasi dan jalan raya. Di atas itu semua Soeharto tersenyum. Harmoko cengar-cengir. Dan Ibu Tien membangun TMII.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Bapak saya menjadi satu dari jutaan rakyat Indonesia yang merayakan reformasi. Untuk pertama kalinya bapak saya mau lagi berpartisipasi dalam aktifitas politik dengan menghadiri deklarasi PAN yang didirikan idolanya yaitu Pak Amien. Tapi kemudian menjadi ketua DPRa PPP Desa Serua Indah karena diminta para tetangga. Dan mencoblos PBB di Pemilu 1999 karena dirasa paling meneruskan perjuangan Masyumi. Saya sendiri mencoret nama Alessandro Del Piero menjadi Prof. Dr. H. Amien Rais, MA. di kolom idola saya saat itu.</p>
<div>
<div><img src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/231078_10150186957374268_726659267_6752271_1904193_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihandaulah.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihandaulah.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihandaulah.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihandaulah.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rihandaulah.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rihandaulah.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rihandaulah.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rihandaulah.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihandaulah.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihandaulah.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihandaulah.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihandaulah.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihandaulah.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihandaulah.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=224&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/hari-ini-tiga-belas-tahun-yang-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00c41b73750edf614ad8b9a03f197adf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihandaulah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/231078_10150186957374268_726659267_6752271_1904193_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Pembelajar (13): Jadilah Saja Dirimu</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/catatan-pembelajar-13-jadilah-saja-dirimu/</link>
		<comments>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/catatan-pembelajar-13-jadilah-saja-dirimu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 11:35:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Rihan Handaulah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ali bin abi thalib]]></category>
		<category><![CDATA[be yourself]]></category>
		<category><![CDATA[ma'rifatullah]]></category>
		<category><![CDATA[ma'rifatunnas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihandaulah.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[be the best whatever you are if you can’t be a pine on the top of the hill, be a scrub in the valley — but be the best little scrub by the side of the rill; be a bush if you can’t be a tree. if you can’t be a bush be a bit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=222&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>be the best whatever you are</em></p>
<p><em>if you can’t be a pine on the top of the hill,</em></p>
<p><em>be a scrub in the valley — but be</em></p>
<p><em>the best little scrub by the side of the rill;</em></p>
<p><em>be a bush if you can’t be a tree.</em></p>
<p><em>if you can’t be a bush be a bit of the grass,</em></p>
<p><em>and some highway happier make;</em></p>
<p><em>if you can’t be a muskie then just be a bass —</em></p>
<p><em>but the liveliest bass in the lake!</em></p>
<p>-Be The Best of Whoever You Are, Douglas Malloch,</p>
<p>Dipopulerkan oleh Martin Luther King-</p></blockquote>
<p>&#8230;.</p>
<p>Halow. Apa kabar manteman, kengkawan, dan lurdulur saparakanca? Alhamdulillah, kemarin saya sudah mulai menulis lagi, dan hari ini saya meneruskan Catatan Pembelajar-nya. Terakhir saya menulis ialah tanggal 24 Januari 2011, lima hari sebelum hari yang terindah itu. Artinya sudah hampir satu caturwulan saya tidak menulis, waktu yang cukup lama untuk berhibernasi. Nampaknya takdir Allah pada tanggal 29 Januari 2011 telah mengubah hidup saya. Ada seorang yang kini menjadi sumber inspirasi, kedamaian, dan kekuatan. Kebahagiaan yang membuncah rupanya telah terlalu mengaktivasi sistem limbik kepala saya yang mengatur emosi dan perasaan sehingga menghambat kinerja neo-korteks. Saya kini percaya apa yang dibilang Bang Rhoma, &#8220;Cinta itu sungguh me..ma..bu..kan..!&#8221;.</p>
<p>Kalau dalam studi tentang sistem kita belajar bahwasanya suatu sistem yang berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain akan mengalami dua periode yaitu; transient, di mana sistem berubah dan yang kedua ialah steady-state (keadaan tunak) di mana sistem sudah berada di kondisi baru yang stabil. Maka rupanya saya mengalami periode transient dalam kondisi yang disebut dengan &#8220;underdamped&#8221; yaitu kondisi sistem yang tidak stabil, berosilasi hingga ia mencapai steady state-nya. Mari kita menulis, yuk marii..</p>
<div>
<div><img src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/224392_10150187445549268_726659267_6757519_2446590_n.jpg" alt="" /></div>
<div>underdamped transient</div>
</div>
<p>&#8230;</p>
<p>Baiklah catatan saya hari ini terinspirasi dari tempat nongkrong saya malam-malam sepulang job di Duri yaitu Nasi Goreng Buyung dan Es Jus Geng. Warung nasi goreng buyung ini buka semalam suntuk dari maghrib sampai subuh. Pelayanannya excellent; penjual ramah penuh senyum, tempat duduk luas dan bersih, serta ekstra cepat. Tidak ada satu pun restoran fast food di dunia yang bisa mengalahkan nasi goreng buyung. Hitungannya detik kawan, dari mulai kita memesan sampai nasi goreng tersaji di hadapan kita! Rasa nasi gorengnya khas, disajikan dengan telur dadar renyah, daun selada, serta cuka manis dengan irisan cabe rawit: tidak ada duanya di dunia fana ini. Dengan kualitas demikian hebatnya kita hanya membayar sepuluh ribu rupiah. Murah untuk ukuran Duri yang kota minyak.</p>
<p>Di sebelah Nasi Goreng Buyung ada gerobak sederhana penjual es jus. Tapi gerobak kecil tersebut tidak pernah sepi pembeli, dikomandani oleh dua orang abang-abang berusia agak lebih tua dari saya dan berpenampilan gaul. Biasanya orang Duri sini punya panggilan gaul &#8220;geng!&#8221;, contoh cara memesan jus seperti ini: &#8220;terong belanda-nya cie diminum di siko Geng!&#8221;. Maka mereka saya kasih nama Es Jus Geng, padahal tidak ada label nama di gerobak es jusnya.</p>
<p>Yang spesial dari Es Jus Geng adalah kualitas jusnya. Pure one hundred percent fruit, dengan susu kental manis. Tidak ditambah air sedikitpun, gula, apalagi bahan pengawet dan pewarna buatan. Aneka macam jus tersedia. Dan ibarat bartender, si geng ini berani berimprovisasi dengan mencampur-campur racikan buah. Favorit saya adalah es jus pelangi yang berwarna merah, kuning, hijau yang terbuat dari terong belanda, mangga, dan alpukat. Harganya delapan ribu perak saja! Alhasil kedua geng itu selalu ceria melayani pelanggan yang tiada habisnya yang sebagian besar adalah pelanggan nasi goreng buyung juga. Sebuah konsinyasi dagang yang jenius dan memenangkan hati konsumen.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Pernah ada di benak saya bahwa kesuksesan hidup diukur dari karya, prestasi, penghargaan, pencapaian, ucapan terima kasih, atau bahkan gelar kepahlawanan. Betul bahwa menjadi orang besar, menjadi seseorang yang dikenang bisa menjadi motivasi yang kuat bagi kita untuk bekerja keras dan berusaha. Obsesi menjadi pahlawan ibarat kafein yang akan membuat kita terus tersadar dalam perjalanan menyeret langkah demi langkah. Tapi hati-hati kawan semua itu bisa menjadi jebakan betmen yang tiba-tiba harus membuat kita merestart hidup.</p>
<p>Satu kekeliruan yang saya sadari sekarang ialah mengukur kesuksesan dengan parameter-parameter objektif yang kasat mata. Padahal setiap orang telah diciptakan dengan qadar yang berbeda-beda. Setiap orang tidak akan dibebankan melainkan menurut kesanggupannya. Ketakwaan pun tidak ada yang standar untuk semua orang, bagi setiap orang ketakwaan ialah &#8220;fattaqullaha mastatha&#8217;tum&#8221; bertakwalah menurut kesanggupanmu. Dan saat dihisab nanti kita akan diminta pertanggung jawaban masing-masing. Sendiri-sendiri sesuai dengan amal yang dihitung di atas ruang hisab masing-masing yang berbeda untuk tiap jiwa.</p>
<p>Apakah menjadi anggota DPR lebih berharga dari sekedar menjadi tukang nasi goreng? Jika menjadi anggota DPR hanya membuat orang kesal karena arogansinya dan miskin empati. Jika menjadi anggota DPR hanya menjadi bahan lelucon yang memalukan karena kekurangkompetenannya. Jika menjadi anggota DPR menjadi fitnah yang membuatnya bergelimang harta haram dari suap, gratifikasi, dan perkoncoan. Jika menjadi anggota DPR membuat lidahnya beracun seperti ular dengan janji-janji palsu. Maka menjadi anggota DPR adalah suatu hal yang hina. Rendah. Mengerikan sekali. Celaka dunia akhirat.</p>
<p>Adapun tukang nasi goreng itu tiap malam menyediakan makanan yang halal dan baik bagi makhluk-makhluk kelaparan. Memberikan pelayanan dan kebermanfaatan, menggembirakan banyak orang dengan pelayanannnya yang tulus dan ramah. Lalu dari keringatnya ia bisa menafkahi keluarga sehingga Istri dan anaknya ridha. Dan semua itu dilakukan sepanjang hidupnya dengan niat yang ikhlas serta tidak melalaikan kewajiban shalat lima waktu maupun zakat dari perniagaannya. Tukang nasi goreng ini ahli surga insya Allah. Selamat dunia akhirat.</p>
<p>Sungguh Allah tidak akan melihat manusia dari harta dan rupanya. Melainkan dari hati dan perbuatannya. Barangsiapa dalam hatinya selalu rindu kepada kebenaran dan kebaikan, maka hidupnya akan berakhir dalam keadaan yang baik. Apakah menjadi seorang pejuang yang mati di medan laga akan lebih mulia daripada seorang pelacur yang bertaubat? Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada yang mati berjihad di membela agama dan Allah mencampakannnya ke neraka. Tapi ada seorang pelacur yang masuk surga karena Allah ridha atas amalnya memberi minum anjing yang hampir mati kehausan.</p>
<p>Mari kenali terus diri kita. Sesungguhnya ilmu dari segala ilmu ialah ma&#8217;rifat kepadaNya. Dan salah satu jalan berma&#8217;rifat kepada Allah ialah dengan berma&#8217;rifat kepada diri sendiri. Seperti yang disampaikan oleh Ali karamallahu wajhah;</p>
<blockquote><p><em>Man arafa nafasaha arafa rabbaha..</em></p>
<p><em>Barang siapa mengenal dirinya ia akan mengenal Tuhannya</em></p></blockquote>
<p>Setiap kita dilahirkan di tempat tertentu. Perjalanan hidupnya khas. Isi kepalanya tidak ada yang sama. Setiap dari kita unik. Dan Allah telah menganugerahi nikmat yang berbeda-beda. Kita diciptakan dengan kondisi yang terbaik untuk diri masing-masing. Andai ada yang dilahirkan tanpa organ tubuh yang lengkap tetap itu adalah kondisi yang terbaik baginya. Karena nikmat Allah berbeda-beda, pun ujiannya. Di atas itu semua Allah maha adil. Manusia lah yang bodoh dan sombong sehingga mengatakan Tuhan tidak adil.</p>
<p>Maka bersyukurlah atas semua yang telah kita lalui dan dapatkan. Minta ampun atas nikmat yang kita sia-siakan. Hadapi hidup dengan penuh kebahagiaan. Karena bukan &#8220;Saya bahagia maka saya bersyukur&#8221;, melainkan &#8220;Saya bersyukur maka saya bahagia&#8221;. Bukan &#8220;Karena saya sukses maka saya gembira&#8221;, tapi &#8220;saya gembira maka saya sukses&#8221;. Demikian kata-kata istri saya yang selalu saya ingat.</p>
<p>Jadilah saja diri kita sebaik-baiknya. Terus beramal dan kenali diri. Jangan terkena jebakan betmen dengan menjadikan apa yang sarana sebagai tujuan di mimpi-mimpi kita. Sebab parameter kesuksesan yang sejati dan objektif hanya dua; pertama, menjadi hamba Allah yang baik, dan kedua menjadi khalifah di muka bumi dengan segala peran dan ukurannya. Jika peran kita &#8220;hanya&#8221; menjadi seorang budak, jadilah budak terbaik seperti Bilal bin Rab&#8217;ah. Jika peran kita &#8220;hanya&#8221; menjadi seorang pembantu, jadilah pembantu terbaik seperti Zaid bin Haritsah.</p>
<blockquote><p>Kalau engkau tak mampu menjadi beringin</p>
<p>yang tegak di puncak bukit</p>
<p>Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,</p>
<p>yang tumbuh di tepi danau</p>
<p>Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,</p>
<p>Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang</p>
<p>memperkuat tanggul pinggiran jalan</p>
<p>Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya</p>
<p>Jadilah saja jalan kecil,</p>
<p>Tetapi jalan setapak yang</p>
<p>Membawa orang ke mata air</p>
<p>Tidaklah semua menjadi kapten</p>
<p>tentu harus ada awak kapalnya….</p>
<p>Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi</p>
<p>rendahnya nilai dirimu</p>
<p>Jadilah saja dirimu….</p>
<p>Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri</p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Duri, 15 Mei 2011</p>
<div>
<div><img src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/20648_246989279267_726659267_3075324_4140018_n.jpg" alt="" /></div>
<div>Belukar yang Tumbuh di Tepi Danau</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihandaulah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihandaulah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihandaulah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihandaulah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rihandaulah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rihandaulah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rihandaulah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rihandaulah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihandaulah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihandaulah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihandaulah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihandaulah.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihandaulah.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihandaulah.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=222&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/catatan-pembelajar-13-jadilah-saja-dirimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00c41b73750edf614ad8b9a03f197adf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihandaulah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/224392_10150187445549268_726659267_6757519_2446590_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/20648_246989279267_726659267_3075324_4140018_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Pembelajar (12): Resiko Para Pemimpi</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/catatan-pembelajar-12-resiko-para-pemimpi/</link>
		<comments>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/catatan-pembelajar-12-resiko-para-pemimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 11:31:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Rihan Handaulah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[braveheart]]></category>
		<category><![CDATA[laskar pemimpi]]></category>
		<category><![CDATA[spiderman]]></category>
		<category><![CDATA[the last samurai]]></category>
		<category><![CDATA[william wallace]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihandaulah.wordpress.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kita kalah ma&#8221;,  &#8220;Kita telah melawan nak, nyo, sebaik-baiknya, sebenar-benarnya&#8221; (Nyai Ontosoroh kepada Minke, Bumi Manusia -PAT-) Dari film-film bertemakan hero atau epik ada beberapa yang saya sukai antara lain Spiderman, The Dark Knight, The Last Samurai, dan Trilogy Lord of The Ring. Apa kesamaan dari film-film tersebut? Semuanya menampilkan sosok si pahlawan dalam cita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=220&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>&#8220;Kita kalah ma&#8221;, </em></p>
<p><em>&#8220;Kita telah melawan nak, nyo, sebaik-baiknya, sebenar-benarnya&#8221;</em></p>
<p>(Nyai Ontosoroh kepada Minke, Bumi Manusia -PAT-)</p></blockquote>
<div>
<div><img src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/179203_501439594267_726659267_5930324_5581895_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>Dari film-film bertemakan hero atau epik ada beberapa yang saya sukai antara lain Spiderman, The Dark Knight, The Last Samurai, dan Trilogy Lord of The Ring. Apa kesamaan dari film-film tersebut? Semuanya menampilkan sosok si pahlawan dalam cita rasa yang sangat manusiawi. Dalam spiderman dikisahkan beliau pun sempat menjadi jahat. Imannya tergoda oleh syahwat kekuasaan karena merasa diri sebagai superhero. Setan pun membisiki nya untuk menyimpang dari fitrah kepahlawanannya dengan godaan kostum warna hitam yang lebih jago namun penuh dengan syahwat dan ketamakan, hingga akhirnya Spiderman bermuhasabah dan melakukan taubatan nasuha. The Dark Knight berhasil mengobati kemuakan saya terhadap superhero Hollywood yang selalu digambarkan berlebihan. Kali ini Batman menghadapi musuh yang lebih tangguh darinya hingga ia sendiri mengalami frustasi, serta sahabatnya pun akhirnya menjadi musuhnya (two faces). Ending-nya juga cukup &#8220;make sense&#8221; dan manusiawi bagi saya.</p>
<p>The Last Samurai menceritakan tentang Nathan Algren, seorang desersi pemabuk dari Amerika yang harus dikirim ke Jepang untuk mengajar tentara Jepang menggunakan senjata. Di sana ia bertemu seorang Samurai bernama Katsumoto yang menolak perubahan besar-besaran dalam tubuh kekaisaran Jepang waktu itu atau yang dikenal dengan Restorasi Meiji. Selanjutnya yang menjadi sentral cerita peperangan adalah Katsumoto yang akhirnya pun mati. Nathan Algren tidak menjadi apa-apa, ia pulang ke negerinya tidak sebagai apa-apa. Sedangkan LOTR menggambarkan kepahlawanan kolektif, menihilkan seorang superhero yang bisa membuat perbedaan dan melakukan semuanya sendirian. Bahkan tokoh sentralnya ialah malah tokoh yang paling lemah; Frodo Bagins si Hobbit yang hanya memiliki satu hal; ketulusan.</p>
<p>Tapi yang terbaik dari yang terbaik menurut saya ialah Braveheart yang menceritakan pahlawan orang-orang Skotlandia; William Wallace. Apa yang membuat saya memilih Braveheart sebagai film epik yang terbaik dari yang terbaik? Alasannya satu; karena jagoannya kalah dan mati di akhir. Perjuangannya ditumpas, pengikutnya pun binasa. Epik ini keluar dari pakem hollywood (juga sinetron) di mana pahlawan harus menang di akhir episode. Kematiannya pun tragis (tidak sebagai Katsumoto di Last Samurai yang musuhnya pun berlutut padanya saat ia mati), ia mati dengan siksaan sangat keji waktu itu dalam hukum kerajaan Inggris di zaman King Edward I yaitu; hanged, drawn, and quartered. Yaitu digantung (tidak sampai mati), dikeluarkan isi perutnya serta dipotong alat vitalnya, serta terakhir dibunuh dengan cara dibelah empat tubuhnya. (Terlalu sadis? Tentu saja, ingat bung ini zaman &#8220;The Dark Age of Europe&#8221; saat sejarah kemanusiaan dan akal sehat ada di titik nadirnya).</p>
<p>Mengapa Braveheart (bagi saya) sedemikian menyentuhnya dan terasa sebagai epik yang manusiawi sekali? Karena berbeda dengan film-film lain di atas, William Wallace adalah pahlawan yang memang pernah ada dalam sejarah Britania Raya. Dan demikian juga pahlawan-pahlawan (bagi bangsanya masing-masing) yang ada dalam ingatan kita; Che Guevara yang mati ditembak dalam gerilya di Hutan Bolivia, Tan Malaka yang makamnya entah di mana dan negerinya belum merdeka sepenuhnya. Sayyid Quthb yang syahid di tiang gantungan sang tiran saat gerakannya diberangus, Hasan al Banna yang syahid dengan berondongan peluru saat organisasi yang didirikannya masih berumur sangat muda, Dr Abdullah Azzam yang syahid dalam bom mobil saat Aghanistan yang diperjuangkannya masih dalam kangkangan Uni Sovyet, Syekh Ahmad Yassin yang hingga hari ini Palestinanya belum menemukan titik terang, dan masih banyak lagi. Dalam sejarah, sebagian besar mereka yang kita kenal sebagai pahlawan mati sebelum melihat mimpinya menjadi nyata. Sedikit sekali dari mereka yang menikmati buah mimpinya saat itu juga.</p>
<p>Kita lihat pula dalam sirah perang khandaq, Rasulullah saw pernah berjanji bahwa &#8220;Istana Romawi, Istana negeri Syam, Istana Kisra di Persia akan ada di tangan Umat Islam&#8221;. Apakah Rasul saw menyaksikan mimpi itu menjadi kenyataan? Atau pun di generasi orang-orang yang saat itu mendengar langsung mimpi itu? Tidak!.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Majalah The Economist bulan Desember kemarin memberi laporan menarik tentang GNH (Gross National Happiness) atau &#8220;indeks persepsi kebahagiaan&#8221;. Ini semacam alat ukur alternatif dari alat-alat ukur konvensional yang digunakan dalam ilmu ekonomi konvensional ataupun pengambilan kebijakan seperti pertumbuhan ekonomi, produk domestik bruto, pendapatan per kapita, dan sebagainya. Menarik karena yang diukur adalah perasaan sejumlah orang yang disurvei yang tentu saja sangat subjektif. Bukan sesuatu yang matematis seperti uang atau barang yang terukur besarannya. Dan sejumlah subjektifitas ini digabungkan menjadi sesuatu yang dianggap objektif dan general. Pastinya banyak bias di sana sini dan tidak bisa digeneralisasi secara mutlak, tapi parameter ini bagi saya tetap menarik untuk dibicarakan. Salah satu pelopor parameter ini ialah Presiden Perancis Nicholas Sarkozy yang meminta bantuan dua orang nobelis ekonomi; Amartya Sen dan Joseph Stiglitz.</p>
<p>Sekarang saya tidak akan berbicara lebih detil tentang semua isi laporan tersebut, melainkan hanya satu poin saja. Yaitu indeks kebahagiaan dibandingkan terhadap umur (rentang kehidupan). The Economist menyajikan data yang menarik, yaitu kurva indeks kebahagiaan terhadap usia ialah berbentuk U. Indeks kebahagiaan berada di nilai yang tinggi mulai dari usia kanak-kanak hingga sebelum usia 20. Lalu mulai usia 20-an kurva nya terus turun terjun bebas hingga mencapai titik nadirnya di usia 30-40. Lalu nilainya tetap rendah walau perlahan meningkat hingga di akhir usia 40-an. Lalu kembali naik tajam seperti nilai sebelumnya di umur belasan.</p>
<p>Apa yang menarik dari kurva tersebut? The Economist dengan analisisnya yang lebih lanjut menyimpulkan bahwa usia 20-40 an di mana pada umumnya orang tidak bahagia. Di masa itu seseorang penuh dengan ambisi, cita-cita, dan target yang harus dikejar. Kebahagiaan dikalkulasi dan dikuantifikasi menjadi nilai dan ukuran-ukuran tertentu. Ada yang berambisi mencapai jenjang karir tertentu, ada yang mengkuantifikasikannya dalam sejumlah uang, ada yang mengukurnya dengan target gelar akademis tertentu. Dan saat itulah pada umumnya orang merasa jauh tidak bahagia dibanding masa kanak-kanaknya yang &#8220;fearless&#8221; maupun masa tuanya yang &#8220;less expectation and more acceptance&#8221;</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Bagi saya Laskar Pelangi adalah novel yang luar biasa. Maaf, lebih dari sekedar novel, ialah dian yang menyalakan asa anak-anak negeri ini untung mau bermimpi, bercita-cita. Namun tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Andrea Hirata, mari kita refleksikan Laskar Pelangi ini ke kehidupan kita di negeri ini. Saya tidak hendak memadamkan optimisme melainkan saya ingin mengajak berpikir realis dan objektif, agar kaki kita tetap berpijak di tanah.</p>
<p>Apakah anda juga seperti saya yang meyakini bahwa ada banyak laskar pelangi-laskar pelangi lain di negeri ini dalam bentuknya masing-masing. Saya percaya bahwa ikal, lintang, dan sahabat-sahabatnya ialah simbol dari apa yang terjadi di negeri ini. Simbol dari anak-anak bangsa yang ada di pelosok negeri, mereka yang punya mimpi dan cita-cita. Sama seeprti saya, kamu, dan kita semua dulu waktu masih kecil. Yang bermain dan bermimpi sama seperti laskar pelangi itu. Lalu diceritakanlah Arai dan Ikal yang berhasil menemuakn mimpinya &#8220;menjejakan kakinya di altar pengetahuan sorborne&#8221;. Dan saat memaca novel itu hati saya menangis saat membaca cerita Lintang yang berakhir hanya sebagai &#8220;orang biasa&#8221;, tanpa mengurangi rasa hormat saya, sebagai pekerja galangan kapal.</p>
<p>Saya menangisinya karena saya rasa Lintang ialah gambaran yang lebih nyata dan terjadi pada lebih banyak anak negeri ini, daripada Ikal dan Arai. Pendidikan yang mestinya menjadi kendaraan mobilitas sosial yang adil dan egaliter telah menjadi bagian dari sistem untuk melanggengkan kemapanan, saat orang-orang miskin tidak mendapatkan keadilan untuk mengaksesnya dengan kesempatan yang sama. Maka mandul lah peran pendidikan dalam hal ini. Maka jadilah lingkaran setan kemiskinan di mana orang-orang miskin menjadi tetap kekurangan gizi karena tidak punya uang, dengan kondisi gizinya yang buruk ia tidak bisa belajar dengan baik dan bahkan ia pun sulit menjangkau sarana pendidikan yang baik itu, karena lemah dalam pendidikannya maka kaum miskin tetap miskin karena tidak bisa lebih produktif lagi. Inilah negeri ini. Negeri yang tidak memihak pada Lintang dan jutaan teman-temannya</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>Masihkah aku berani bermimpi?</p>
<p>Duri, 24 Januari 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihandaulah.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihandaulah.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihandaulah.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihandaulah.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rihandaulah.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rihandaulah.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rihandaulah.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rihandaulah.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihandaulah.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihandaulah.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihandaulah.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihandaulah.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihandaulah.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihandaulah.wordpress.com/220/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=220&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/catatan-pembelajar-12-resiko-para-pemimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00c41b73750edf614ad8b9a03f197adf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihandaulah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/179203_501439594267_726659267_5930324_5581895_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Pembelajar (11): Memaknai Makna</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/catatan-pembelajar-11-memaknai-makna/</link>
		<comments>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/catatan-pembelajar-11-memaknai-makna/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 11:28:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Rihan Handaulah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quotes]]></category>
		<category><![CDATA[Self and Org. Development]]></category>
		<category><![CDATA[linguistik]]></category>
		<category><![CDATA[sapardi djoko dhamono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihandaulah.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Awalnya adalah simbol atau gambar, manusia menyalurkan instingnya untuk berkomunikasi. Mungkin agar pesannya bisa mengatasi keterbatasan waktu, di mana komunikasi verbal hanya terjadi di saat itu saja lalu hilang seiring keterbatasan memori manusia untuk mengingat dengan utuh. Dalam rentang sejarah berwujudlah pesan itu lebih dari sekedar gambar-gambar nyata seperti hewan, manusia, ilustrasi kejadian, dsb (seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=218&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya adalah simbol atau gambar, manusia menyalurkan instingnya untuk berkomunikasi. Mungkin agar pesannya bisa mengatasi keterbatasan waktu, di mana komunikasi verbal hanya terjadi di saat itu saja lalu hilang seiring keterbatasan memori manusia untuk mengingat dengan utuh. Dalam rentang sejarah berwujudlah pesan itu lebih dari sekedar gambar-gambar nyata seperti hewan, manusia, ilustrasi kejadian, dsb (seperti yang ditemukan para arkeolog di goa 2 peninggalan manusia purba). Grafika itu berubah menjadi simbol-simbol abstrak dalam bentuk yang baku serta bunyi yang sama yang kita kenal dengan alfabet (huruf).</p>
<p>Saya tidak tahu bagaimana awalnya sebuah gambar segitiga dengan garis di tengahnya disepakati untuk dibunyikan dengan mulut terbuka sambil tenggorokan mendorong nafas yang menggetarkan pangkal mulut. Lalu simbol setengah lingkaran yang bertumpuk disepakati untuk dibunyikan dengan cara merapatkan bibir lalu dibuka dengan menghentak sambil menghembus nafas. Dan gambar lingkaran penuh dibunyikan dengan memonyongkan bibir lalu paru-paru mendorong udara yang menggetarkan rongga mulut. Serta garis tegak dibunyikan dengan cara me-nyengir-kan mulut. Lebih aneh lagi kombinasi grafik-grafik tersebut: BABI BOBO dipahami orang sebagai &#8220;hewan gendut berkaki empat yang berbunyi nguk-nguk sedang diam istirahat sambil memejamkan mata&#8221;. Dan bagi saya lebih aneh lagi mengapa hanya orang yang hidup di kepulauan dekat khatulistiwa di Asia Tenggara saja yang memahami delapan grafik berderet tersebut secara demikian. Bagi orang yang tinggal di belahan bumi utara yang mengalami empat musim maka deretan grafik tersebut tidak memiliki arti apa-apa. Untuk sementara saya tidak akan mencari tahu lebih lanjut jawaban atas kebingungan saya karena sejauh ini saya tidak (belum) memiliki minat untuk belajar lingusitik secara lebih mendalam. Cukuplah kebingunan ini menjadi sarana buat saya untuk bertasbih &#8220;Maha suci Alah yang telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan berbahasa-bahasa&#8221;.</p>
<p>Keajaiban itu berlanjut lagi, grafik-grafik itu menjadi alat bagi akal pikiran manusia menemukan wujudnya, agar bisa terwujud dalam bentuk yang nyata. Grafik-grafik itu ada yang menjadi pendorong orang lain untuk berbuat ini dan itu. Ada juga yang akhirnya menjadi benda-benda baru yang tidak ada dalam kehidupan manusia sebelumnya. Bahkan deretan grafik tersebut ada yang menjadikan manusia membunuh sesamanya, berperang, mendirikan negara, membuat aturan-aturan dan sebagainya. Sebagaimana deretan-deretan grafik itu juga menjadi sarana bagi Tuhan menyampaikan pesanNya (panduan hidup) bagi manusia melalui utusanNya. Bahkan karena deretan grafik inilah manusia ada yang selamat dan ada yang celaka. Ada yang menjadi mulia ada yang dihinakan.</p>
<p>Simbol (grafik) tersebut ialah yang kita kenal dengan huruf, rangkaiannya disebut dengan kata, kata merangkai kalimat. Kalimat membangun bermacam teks; pidato, resep masakan, undang-undang, jurnal ilmiah, novel, surat cinta, puisi, kitab suci, dan banyak lagi. Ibarat tubuh yang kasat mata, yang menghidupkan tubuh itu adalah ruh. Maka demikian pula kata, yang hanya bisa hidup, memiliki arti, jika ada makna di sana. Makna inilah yang bersumber dari esensi dan fitrah kemanusiaan; akal dan perasaan.</p>
<p>Seperti kata guru olah raga SD saya &#8220;men sana in corpore sano&#8221; yang artinya saya modifikasi menjadi; di dalam kata yang baik terdapat makna yang kuat. Orang yang memiliki makna (akal dan perasaan) yang baik tentu akan mewujud dalam kata yang baik pula. Dan sebaliknya, orang yang berinteraksi dengan kata yang baik akan menjadikan makna (akal dan perasaan)-nya menjadi kuat. Oleh karena itu Rasulullah saw menjadikan perkataan sebagai tolak ukur keimanan;</p>
<blockquote><p>Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam (Hadits)</p></blockquote>
<p>Serta gambaran surga digambarkan juga dengan kenikmatan terhindar dari perkataan yang sia-sia,</p>
<blockquote><p>Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. (An Naba: 35)</p></blockquote>
<p>Kali ini saya mengutip beberapa puisi Sapardi Djoko Dhamono. Saya ingin belajar memaknai makna. Lebih dari sekedar apa yang tersurat, melainkan apa yang yang ada di dalamnya. Agar saya bisa belajar untuk lebih memahami akal dan merasai perasaan. Barangkali puisi-puisi Sapardi berikut sedang menemukan maknanya.</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang</p>
<p>semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening</p>
<p>siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening</p>
<p>karena akan menerima suara-suara</p>
<p>Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,</p>
<p>dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang</p>
<p>hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya</p>
<p>mengajukan pertanyaan muskil kepada angin</p>
<p>yang mendesau entah dari mana</p>
<p>Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung</p>
<p>gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,</p>
<p>yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu</p>
<p>bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan</p>
<p>terbang lalu hinggap di dahan mangga itu</p>
<p>Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang</p>
<p>turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat</p>
<p>di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya</p>
<p>di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku</p>
<p>Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,</p>
<p>yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit</p>
<p>yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia</p>
<p>demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi</p>
<p>bagi kehidupanku</p>
<p>Aku mencintaimu.</p>
<p>Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan</p>
<p>keselamatanmu</p>
<p>(Sapardi, Dalam Doaku)</p>
<div>
<div><img src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/163634_497958164267_726659267_5885944_3652823_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>akulah si telaga</p>
<p>berlayarlah di atasnya</p>
<p>berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil</p>
<p>yang menggerakkan bunga-bunga padma</p>
<p>berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya</p>
<p>sesampai di seberang sana tinggalkan begitu saja</p>
<p>perahumu biar aku yang menjaganya</p>
<p>(Sapardi, Akulah si Telaga)</p>
<div>
<div><img src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/169078_497962949267_726659267_5886031_2228275_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>tak ada yang lebih tabah</p>
<p>dari hujan bulan Juni</p>
<p>dirahasiakannya rintik rindunya</p>
<p>kepada pohon berbunga itu</p>
<p>tak ada yang lebih bijak</p>
<p>dari hujan bulan Juni</p>
<p>dihapusnya jejak-jejak kakinya</p>
<p>yang ragu-ragu di jalan itu</p>
<p>tak ada yang lebih arif</p>
<p>dari hujan bulan Juni</p>
<p>dibiarkannya yang tak terucapkan</p>
<p>diserap akar pohon bunga itu</p>
<p>(Sapardi, Hujan bulan Juni)</p>
<div>
<div><img src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/167587_497965844267_726659267_5886058_4861553_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput</p>
<p>nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini</p>
<p>ada yang masih ingin kupandang</p>
<p>yang selama ini senantiasa luput</p>
<p>sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi</p>
<p>(Sapardi, Hatiku selebar daun)</p>
<p>Duri, 17 Januari 2011</p>
<p><em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihandaulah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihandaulah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihandaulah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihandaulah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rihandaulah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rihandaulah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rihandaulah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rihandaulah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihandaulah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihandaulah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihandaulah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihandaulah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihandaulah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihandaulah.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=218&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/05/15/catatan-pembelajar-11-memaknai-makna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00c41b73750edf614ad8b9a03f197adf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihandaulah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/163634_497958164267_726659267_5885944_3652823_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/169078_497962949267_726659267_5886031_2228275_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/167587_497965844267_726659267_5886058_4861553_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Pembelajar (10): Orang-Orang &#8220;Kalah&#8221;</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/01/14/catatan-pembelajar-10-orang-orang-kalah/</link>
		<comments>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/01/14/catatan-pembelajar-10-orang-orang-kalah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 15:21:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Rihan Handaulah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[timnas AFF 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihandaulah.wordpress.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; Dalam sebuah perbincangan yang hangat dan akrab, seorang sahabat  mengungkapkan kalimat yang sangat berkesan. Ia berkata &#8220;hidup ini hanya rangkaian episode aja, kemarin episodenya kita di atas sekarang kita di bawah, kemarin kita kalah sekarang gilirannya kita menang, gak usah terlalu sedih kalau kita lagi susah, dan jangan terlalu gembira kalau kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=215&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs765.ash1/165616_488404369267_726659267_5724744_518897_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam sebuah perbincangan yang hangat dan akrab, seorang sahabat  mengungkapkan kalimat yang sangat berkesan. Ia berkata &#8220;hidup ini hanya rangkaian episode aja, kemarin episodenya kita di atas sekarang kita di bawah, kemarin kita kalah sekarang gilirannya kita menang, gak usah terlalu sedih kalau kita lagi susah, dan jangan terlalu gembira kalau kita lagi untung. Ini hanya episode demi episode saja&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah teladan-teladan kita, manusia-manusia agung itu, ialah orang yang episode-episode hidupnya hanya rangkaian cerita gilang-gemilang yang dialasi karpet merah, dikalungi untaian bunga, diiringi dengan puja puji dan tetabuhan gegap gempita?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mari kita lempar ingatan kita kepada Nabiyullah Nuh &#8216;alaihissalam yang &#8220;kalah&#8221; dalam adu-nya yang diabadikan dalam surat yang dinamai nama beliau sendiri,</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>Nuh berkata: &#8220;Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.&#8221; </em>(QS Nuh: 4-7)</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikianlah Nuh a.s. dalam &#8220;kekalahannya&#8221;, selama 950 tahun berdakwah dan beliau &#8220;hanya&#8221; mendapatkan 80 sekian orang pengikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita sampaikan juga ingatan kita pada ayahanda Ibrahim a.s. Sendiri awalnya beliau membangun tempat ibadah pertama bagi umat manusia, hanya dibantu anaknya. Dalam kesendirian dan kesunyian. Setelah perjuangan yang panjang dan berat melawan tiran. Kenanglah episode &#8220;kekalahannya&#8221; dalam ketabahan beliau meninggalkan istri dan anak yang begitu diidamkannya di lembah yang tak ada kehidupan di sana. Mari ingat juga episode-episode &#8220;kekalahan&#8221; Nabi Yusuf a.s, mulai dari awal dikhianati saudara kandungnya, dijual di pasar sebagai budak, difitnah oleh istri majikannya, hingga titik nadirnya ialah menjadi penghuni penjara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan tentu saja kita juga ingat curhatnya Baginda Rasulullah saw dalam hijrahnya ke Thaif. Kala itu di sebuah kebun, terpekur beliau di bawah sebatang pohon kurma dengan darah yang bercucuran di kakinya. Jangankan penerimaan dakwah atau sambutan yang santun, justru timpukan batu dari anak-anak kecil serta makian dari orang dewasanya. Dalam adunya ia menyampaikan permohonan kepada Allah Tuhan semesta alam atas &#8220;kekalahannya&#8221; dengan doa yang sangat indah dan lirih ini,</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Ya Allah… Kepadamu aku mengadukan kelemahan kekuatanku,</p>
<p>Dan sedikitnya kemampuanku,</p>
<p>Serta kehinaanku dihadapan manusia.</p>
<p>Wahai Sebaik-baik pemberi kasih sayang,</p>
<p>Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku.</p>
<p>Kepada siapakah Engkau serahkan diriku,</p>
<p>Kepada orang yang jauh yang menggangguku,</p>
<p>Atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku,</p>
<p>Asalkan Engkau tidak marah padaku maka tiadalah keberatan bagiku,</p>
<p>Akan tetapi kemurahan-Mu jauh lebih luas bagiku.</p>
<p>Aku berlindung dengan Cahaya Wajahmu yang akan menerangi seluruh kegelapan,</p>
<p>Dan yang akan memberikan kebaikan segala urusan dunia dan akhirat,</p>
<p>Untuk melepaskan aku dari Marah-Mu,</p>
<p>Atau menghilangkan Murka-Mu dariku.</p>
<p>Hanya pada-Mu aku merintih berharap mendapatkan Keridloan-Mu,</p>
<p>Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mereka, manusia-manusia agung itu, ialah manusia juga yang tidak luput dari sunatullah dalam kehidupan. Yang dipergilirkan oleh Allah untuk mereka juga seperti untuk kita, satu episode ke episode yang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertama, mengenai sikap. Sesungguhnya alam pikir lah yang membentuk definisi menang-kalah, untung-rugi, senang-susah, sukses-gagal. Sejatinya semua rasa yang manusia perjuangkan untung menggapainya dan mati-matian untuk menghindarinya itu, bukanlah fungsi keadaan itu sendiri. Melainkan fungsi kesadaran dan cara pandang. Sama sekali bukan suatu absolutisme, tapi suatu kenisbian. Sangat subjektif. Tinggal setiap orang yang memiliki hak absolut untuk memilih, kesadaran dan cara pandang apakah yang ia gunakan, subjektifitas (nilai) macam apakah yang akan ia gunakan sebagai tolak ukur dalam memaknai itu semua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para pembelajar sejati biasanya memiliki wilayah kebahagiaan absolut yang membuat ia tak patah karena sesuatu yang kita sebut dengan kalah, susah, rugi, gagal, atau pun bentuk kesulitan lainnya. Mereka memiliki &#8220;surga&#8221;-nya sendiri. Surga di hatinya. Ruang kebahagiaan absoslut yang independen dari variabel-variabel kehidupan yang mengombang-ambingkan orang lain pada umumnya. Seperti ungkapan seorang ulama besar, Ibnu Taimiyah, yang membuat frustasi musuh-musuhnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Apa yang bisa dilakukan penguasa zalim itu kepadaku, karena surga ada di hatiku</p>
<p>Jika mereka memenjarakanku, maka itu adalah uzlah dengan Rabb-ku</p>
<p>Jika mereka mengasingkanku, maka itu menjadi rihlah (jalan-jalan) bagiku</p>
<p>Jika mereka memnbunuhku, semoga itu menjadi syahid bagiku</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagaimana yang Allah janjikan dalam surat Yunus ayat 62,</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.</em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam menghadapi hidup dan kenyataan yang paradoks ini seorang mukmin digambarkan oleh Rasulullah saw,</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>”Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat, ia bersikap sabar, maka itu menjadi baik baginya.”(HR.Muslim)</em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kedua, mengenai tujuan. Jika episode-episode hidup yang berbolak balik ialah sebuah sunatullah. Maka ada sunatullah lain yang Allah swt sampaikan dalam Al Quran.</p>
<p><em> </em></p>
<blockquote><p><em>Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (Ar Ra&#8217;d: 7)</em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam satu episode kebenaran dan kebermanfaatan boleh saja kalah. Kepalsuan dan kesia-siaan boleh saja berjaya. Tapi sejarah dan fenomena-fenomena di alam wujud ini telah mengajarkan kita bahwa yang benar pastilah menang pada akhirnya. Sedangkan kepalsuan dan kesia-siaan hanyalah buih yang tak berdaya dan tak berguna sedikitpun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nabi Ibrahim as sendirian awalnya tawaf di baitullah, hari ini lebih dari 40 juta manusia menawafinya setiap tahun. Baginda Rasulullah saw sendirian awalnya menyeru manusia, dan hari ini ada lebih dari 1.5 milyar manusia bershalwat kepadanya. Bandingkan dengan Firaun yang gagah jumawanya, tubuh dan kekayaannya hari ini hanya menjadi pajangan di Museum Kairo, tak lebih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu hidup bukanlah soal menang kalah, melainkan soal kesetiaan dan konsistensi kita terhadap nilai dan kebenaran yang kita yakini. Kekalahan ialah pengingkaran atasnya. Kemenangan bukan sekedar gegap gempita euforia merayakan kesuksesan, melainkan kesetiaan kita kepada mimpi-mimpi kita. Ini kemenangan hakiki. Dan kekalahan sejati ialah saat kita mengkhianatinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wallahu&#8217;alam bi shawab</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Duri, 31 Des 2010, 00:08</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terima kasih timnas, yang kau mainkan lebih dari sekedar sepakbola. Kau sedang memainkan drama, operet kehidupan yang menginspirasi segenap elemen bangsa ini yang makin kehilangan elan vitalnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihandaulah.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihandaulah.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihandaulah.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihandaulah.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rihandaulah.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rihandaulah.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rihandaulah.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rihandaulah.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihandaulah.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihandaulah.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihandaulah.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihandaulah.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihandaulah.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihandaulah.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=215&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/01/14/catatan-pembelajar-10-orang-orang-kalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00c41b73750edf614ad8b9a03f197adf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihandaulah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs765.ash1/165616_488404369267_726659267_5724744_518897_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Pembelajar (9): Setia, bagian ke-2</title>
		<link>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/01/14/catatan-pembelajar-9-setia-bagian-ke-2/</link>
		<comments>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/01/14/catatan-pembelajar-9-setia-bagian-ke-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 15:20:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Rihan Handaulah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[mak eroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihandaulah.wordpress.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; lanjutan dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=409062508838&#38;comments&#38;ref=notif&#38;notif_t=note_comment &#160; Sabarlah wahai saudaraku tuk menggapai cita Jalan yang kau tempuh sangat panjang Tak sekedar bongkah batu karang Yakinlah wahai saudarakukemenangan kan menjelang Walau tak kita hadapi masanya Tetaplah Al-Haq pasti menang -Izzatul Islam, Jalan Juang- &#160; Kesadaran akan konsekuensi atas setiap cita-cita yang ia tekadkan serta kesabaran menanggungnya saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=213&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs898.snc4/73095_455462514267_726659267_5221095_4907628_n.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>lanjutan dari:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=409062508838&amp;comments&amp;ref=notif&amp;notif_t=note_comment" target="_blank">http://www.facebook.com/note.php?note_id=409062508838&amp;comments&amp;ref=notif&amp;notif_t=note_comment</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>Sabarlah wahai saudaraku t</em><em>uk menggapai cita</em></p>
<p><em>Jalan yang kau tempuh sangat panjang</em></p>
<p><em>Tak sekedar bongkah batu karang</em></p>
<p><em>Yakinlah wahai saudaraku</em><em>kemenangan kan menjelang</em></p>
<p><em>Walau tak kita hadapi masanya</em></p>
<p><em>Tetaplah Al-Haq pasti menang</em></p>
<p>-Izzatul Islam, Jalan Juang-</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kesadaran akan konsekuensi atas setiap cita-cita yang ia tekadkan serta kesabaran menanggungnya saat itu terjadi, ialah akar dari kesetiaan. Seorang pembelajar yang bermimpi menjadi pengusaha sukses sejak awal sadar bahwa akan ada masanya di mana dia akan diuji dengan kerugian, bisnisnya berantakan, dan  usahanya bangkrut. Seorang pembelajar yang bermimpi menjadi akademisi yang brilian sadar bahwa akan ada masanya ia diuji dengan tidak lulus ujian, merasa bodoh di kelas karena tidak bisa memahami pelajaran, gagal dalam praktikumnya, hampir di-DO, ia akan kekurangan tidur dan perutnya keroncongan karena uang bulanan sudah habis. Seorang pembelajar yang ingin menjadi profesional sukses sejak awal menyadari, bahwa ia akan ditolak dari satu interview ke interview lain, akan mengalami kesulitan di tempat kerjanya, dihina seniornya, dimarahi oleh atasannya, harus mengerjakan pekerjaan yang tidak disukai, dan kepahitan-kepahitan lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pembelajar siap dengan kesulitan ini sehingga saat ujian itu terjadi ia bisa bertahan dan memilih sikap terbaik. Ia tetap setia dengan rencana dan mimpinya. Sedangkan orang yang lain karena sedari awal tidak sadar, mentalnya tidak siap menghadapi kesulitan ini, ia patah karena lelah, ia mundur karena kendur. Akibatnya ia gagal membuat pilihan terbaik atas hidup. Jadilah ia tidak setia kepada mimpi dan rencananya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu demikianlah Al Quran mentarbiyah manusia. Setelah dikuatkan arah dan tekadnya, dibuat jelas visualisi tujuannya dengan gambaran surga, maka Al Quran bicara tentang konsekuensi dan karakteristik dari jalan yang telah ia putuskan untuk ditempuh seperti yang dengan indah digambarkan dalam ayat berikut</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: &#8220;Bilakah datangnya pertolongan Allah?&#8221; Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.</em></p>
<p>(QS Al Baqarah: 214)</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al Quran berterus terang akan jalan keimanan yang dipilih oleh orang beriman. Di surat-surat Makiyyah selain ayat tentang penciptaan alam semesta, surga dan neraka, serta hari akhir, juga diceritakan kisah para Nabi. Tema utama dari kisah para Nabi ialah perjuangan mereka membawa risalah tauhid beserta ujian-ujian yang mereka hadapi. Ada Nabi yang diuji dengan dakwah selama 950 tahun tapi hanya 80 orang yang menjadi pengikutnya. Ada Nabi yang harus berhadapan vis a vis dengan kemunkaran super power. Ada Nabi yang ujiannya sangat romatis tapi ia memilih penjara daripada wanita cantik. Ada Nabi yang ujiannya ialah istrinya yang durhaka. Ada Nabi yang ujiannya berupa penyakit sehingga keluarganya meninggalkan. Ada Nabi yang ia pun sempat mundur dan lelah tapi Allah menegurnya. Demikianlah setelah Al Quran menegakan tauhid dalam hati orang beriman, lalu mendefiniskan visinya dengan gambaran surga dan hari akhir, lantas kisah para Nabi merupakan suplemen, obat kuat, vitamin, vaksin bagi keimanan yang akan memperkuat mereka menghadapi segala konsekuensi atas pilihan keberimanannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mak Eroh adalah cerita tentang kesetiaan akan mimpi dan obsesinya. Di Pasir Kadu, Kecamatan Cisayong, 17 km sebelah barat Tasikmalaya, sejak dulu Eroh ingin punya sawah tapi tidak mungkin karena tidakada sumber air untuk mengairinya. Seperti banyak penduduk di sana, ia menanam singkong dan ubi jalar. Mulai Juni 1985, ibu tiga anak ini membikin saluran dari Sungai Cilutung. Berjalan kaki 3 jam, lokasinya sekitar 4,5 km dari desanya. Sepanjang itulah saluran harus dibuat. Selama 45 hari, tanpa henti, ia menatah padas. Ketika hampir 50 meter diselesaikannya sendiri Eroh menghabiskan 20 buah pahat, 20 martil, 20 linggis, 20 belincong, plus cangkul. Alat itu dari utang. Kerabu anaknya dan anting-antingnya sendiri dijual untuk membayar alat tadi. Tak ada yang membantu Eroh. Jangankan dibantu, baru rencana saja saya sudah ditertawakan orang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<div><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs924.snc4/73790_455462619267_726659267_5221096_7998443_n.jpg" alt="" /></div>
<div>Mak Eroh</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lewat 45 hari, ia melapor kepada ketua RT. Masih tak dipercayai bahwa itu hasil kerjanya. Eroh, yang tak tamat SD itu, menaklukkan bukit sekitar 50 meter dari bibir tebing Cilutung? Mustahil,apalagi daerah itu dianggap angker. Menjengkelkan, memang. Di hadapan sejumlah penonton, Eroh lalu memperagakan cara dia bekerja. Seutas akar Areuy diikatkannya ke sebatang pohon di bibir tebing. Ujungnya ia belitkan ke tubuhnya. Ia gesit bergelantung ke bawah, sembari membawa pahat dan martil. Dan sebagai contoh, ia kembali menatah cadas yang tingginya 17 meter. Padahal, dia miskin, hidup dari jualan singkong dan jamur kuning yang dicarinya sendiri. Luas 20 m2, rumahnya berbentuk panggung dan beratap rumbia. Ia seorang yang kesetiaannya lebih tegar dari batu cadas yang dipapasnya. Dengan lebar 1 meter, karya tersebut dalamnya 0,25 meter &#8211; lengket di bibir tebing, meliuk di lintasan 8 bukit. Selain untuk sawah di desanya (5 hektar lagi akan dibuka) saluran Eroh itu bahkan membagi air ke dua desa tetangga di Indrajaya. Semuanya terairi sekitar 60 hektar. (Majalah Tempo)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Entah Mak Eroh pernah membaca tafsir dan asbabun nuzul ayat yang ini atau belum, tapi Mak Eroh sudah mengamalkannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya),</em></p>
<p>(QS Al Ahzab: 23)</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan saya baru sebatas tahu bahwa ayat ini mengabadikan seorang sahabat yang sudah sepuh, Anas bin Nadhir ra. Ia termasuk sahabat yang tidak sempat mengikuti Perang Badar. Dan hal ini menjadi penyelasan baginya. Ia bertekad dan berjanji bahwa ia tidak akan melewatkan satu peperangan pun bersama Rasulullah saw. Hingga puncak kesetiaan ia pada janjinya nyata di hari Perang Uhud. Anas bin Nadhir syahid dengan 80 luka tusukan, panah, dan tombak di sekujur tubuhnya. Hingga turun lah ayat ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga Allah melimpahkan taufiq dan petunjuknya kepada kita sehingga kita bisa belajar untuk setia pada Kebenaran, pada tujuan, pada obsesi yang akan membuahkan amal dan karya. Memampukan kita untuk bisa &#8220;stand a mountain, walk on stormy seas&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selesai</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditulis di Kamar Hitam (kamarnya Jaka), 29 Oktober 2010</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihandaulah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihandaulah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihandaulah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihandaulah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rihandaulah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rihandaulah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rihandaulah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rihandaulah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihandaulah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihandaulah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihandaulah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihandaulah.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihandaulah.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihandaulah.wordpress.com/213/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihandaulah.wordpress.com&amp;blog=1386176&amp;post=213&amp;subd=rihandaulah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihandaulah.wordpress.com/2011/01/14/catatan-pembelajar-9-setia-bagian-ke-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/00c41b73750edf614ad8b9a03f197adf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihandaulah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs898.snc4/73095_455462514267_726659267_5221095_4907628_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs924.snc4/73790_455462619267_726659267_5221096_7998443_n.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
