h1

You’ll never walk alone

January 23, 2009

Are you a liverpudian?

You must be familiar with this one,

When you walk through the storm
Hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm
There’s a golden sky
And the sweet silver song of the lark

Walk on, through the wind
Walk on, through the rain
Though your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on, with hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk alone

Walk on, walk on, with hope in your heart
And you’ll never walk alone
You’ll never walk alone

Great, our song inspires a flame of spirit

h1

Ode to Mine

January 22, 2009

Thanks God,

I got what I need,

not always what I want

I have tried,

then I knew

And there are ten paths upon me

Just keep on walking one by one

Until I know which one is mine

Never being afraid about what will happen

If it wasn’t mine,

it would never be mine

Just walk on

And light will guide

Then I’ll have known

I never walk alone

22 January, 2009

h1

In My Life

December 25, 2008

There are places I’ll remember
All my life though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places had their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I’ve loved them all

But of all these friends and lovers
There is no one compares with you
And these memories lose their meaning
When I think of love as something new
Though I know I’ll never ever lose affection
For people and things that went before
I know I’ll often stop and think about them
In my life I love you more

Though I know I’ll never lose affection
For people and things that went before
I know I’ll often stop and think about them
In my life I love you more
In my life I love you more

Pernah mendengar lagu yang satu ini? Dengarlah, lagu The Beatles ini sederhana, singkat, tapi indah. Ada suasana yang “bagaimana gituh” ketika saya mendengar lagu ini.

Salah satu kekuatan lagu ini ialah liriknya. Ia bercerita tentang perjalanan. Perjalanan hidup. Di mana bentangan waktu ialah ingatan. Semenjak kita bisa mengingat, hingga saat ini saya menuliskannya atau kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Ingatan-ingatan itu ialah kumpulan informasi dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Maka di sana selalu ada tiga hal yang membentuknya; tempat, orang, dan kejadian. Dimana kita pernah berada, bersama siapa, dan apa yang kita lakukan saat itu. Atau seperti kata Kangen band, ” kamu di mana, dengan siapa, semalam berbuat apa” haha.

Rangkaian kejadian, ruang, dan orang dalam bingkai waktu itulah, dalam perspektif manusia, yang membentuk kita hari ini. Seperti apa kita sekarang ialah seperti apa kita kemarin. dan seperti apa kita esok ialah seperti apa kita sekarang.

Kepada tempat-tempat yang pernah kusinggahi; Bandung, tempat kudilahirkan serta dibentuk hingga saat ini. Kamojang, tempatku merasakan air, udara, dan tanahnya yang bersih, indah, dan dingin di awal-awal kehidupanku. Rumahku di Ciputat tangerang, di sana aku merasakan warna masa kanak-kanakku. Soroako, Sulawesi Selatan, tempat pertama yang aku injak di luar Pulau Jawa saat melakukan Kerja Praktek di PT. INCO tahun lalu. Serta daerah-daerah lain yang pernah kudatangi.

There are places I’ll remember
All my life though some have changed
Some forever not for better
Some have gone and some remain
All these places had their moments

Kepada teman-temanku; teman semasa balita di Kamojang, teman TK, teman di SDN Ciputat 2, di SLTPN 2 Pamulang, teman bermain sepak bola di Sarua indah, tetanggaku di Jl. Suka Makmur, teman les bahasa Inggris di IEC Ciputat, teman-temanku yang hebat di SMAN 3 Bandung, di Teknik Elektro ITB, WANADRI. Ataukah ia yang lebih dahulu pergi mendahuluiku, seprti Boyke Artha, sahabat baikku. Engkau semua  yang telah memberi rasa dalam hidupku.

Kepada guru-guruku, guru ngajiku di TPA, mentor-mentorku di DKM AL Furqan, musyrif ku di HT, murabbiku, ustadz-ustadzku. Engkau semua yang membimbing, menyemai kebaikan, dan menjagaku dari hama-hama keburukan.

Kepada kawan-kawan seperjuanganku. Anak-anak seven yang menjadi avonturir lintas harakah. Teman-teman satu lingkar. Binaan-binaanku. Aktivis Dakwah Kampus ITB. Tim Dakwah Sekolah. sahabat di Asrama Salman.Bersama kita merajut amal serta tolong menolong dalam kebaikan dan kesabaran.

Kepada inspirasiku; para pejuang mukmin sejati sejak zaman sahabat, tabi’in, hingga hari ini. Dari Muhammad al Fatih hingga Hasan al Banna. Salahuddin al Ayyubi hingga Abdul Aziz Rantisi. Muhammad Ibnu Abdul Wahab hingga Muhammad Natsir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hingga Dr. Yusuf Al Qaradhawi. Sayyid Quthb hingga Anis Matta. Serta para masyaikh gerakan dakwah yang masih hidup bersamaku di hari ini. Engkau semua ialah mercusuarku.

Kepada seluruh keluarga. Aku hanya bisa mendoakan “allahummagfirli waliwalidayya warham huma kamaa rabbayani shagira” dan semoga Allah swt memberiku umur dan kekuatan membalas segala kebaikan engkau semua.

Though I know I’ll never lose affection
For people and things that went before
I know I’ll often stop and think about them
In my life I love you more
In my life I love you more

Kepada Yang Maha Rahman dan Rahim, aku ingin berteima kasih kepadaMu karena telah menghadirkan mereka semua ke dalam hidupku. Dan semoga syukurku bisa berbuah amal yang akan mempertemukan kita bersama-sama di Surga.

Atas semua peristiwa-peristiwa yang telah lalu. Atas semua amal kebaikanku yang telah lalu, semoga Allah swt berkenan menerima mu. Atas semua dosa dan kesalahanku , semoga Allah swt berkenan mengampuninya semua. Atas rencana-rencana dan harapanku, semoga Allah swt mencatatnya sebagai pahala dari niat baik, serta menunjukan jalan-jalannya. Menghimpun cahaya dan kesabaran di dalam dada ini. Serta menjadi akhir yang indah. Hidup mulia dan mati dalam kesyahidan.

Hari ini hari milikku

Juga Esok masih terbentang

Dan mentari kan tetap menyala

Di sini di dalam hatiku, di sini di urat darahku

I’m Alive.. I’m Alive..

tepat dua puluh dua tahun satu hari

h1

Tulisan buat Sahabat Gue, si Badra

December 25, 2008

Aku punya teman, teman sepermainan

Orangnya botak sejak lahir, ada bekas codet di kepalanya karena kecelakaan lalu-lintas yang nyaris merenggut nyawanya dua tahun lalu

Alhamdulillah, orangnya masih hidup hingga kini, semoga terus diberi keberkahan

Tahu caranya menikmati hidup

Pintar menertawakan hal-hal yang gak kepikiran untuk ditertawakan

Idenya kreatif yang menjurus nakal dan brutal, kagok edan

Tulus, polos, lugu, apa adanya,

tidak pernah marah dan menangis sepanjang hidupnya, hanya tawa

Pecinta anak-anak kecil, guru TPA

Sekarang lagi bingung apa milih PLN atau BPPT

Goreng geningan, puisi urang teu jiga tulisan ente, mang. Sori ah..

deicated to Badra as a response to:

http://aadanibadrakasep.wordpress.com/2008/12/22/em-rihan-handaulah-bukan-handaudong/

h1

Fundamentalis Puritan Progresif

December 20, 2008

Membaca kisahnya Sandrina Malakiano di milist muslim3bdg. Bagaimana  dirinya “diintimidasi”, baik oleh MetroTV tempatnya bekerja, maupun oleh beberapa rekan-rekan yang mengidentifikasikan dirinya sebagai orang liberal, sejak beliau menggunakan hijab. Entah kenapa, lalu terkelebat kata-kata di kepalaku sepeti ini:

Mba’ Sandrina ngerti juga omong kosong orang liberal,

Kita pakai logika sederhana:

Liberal ialah prinsip membela kebebasan,
Menjadi fundamentalis adalah salah satu kebebasan

Lha, orang liberal kok biasanya paling lantang mengkriktik dan memojokan orang2 fundamentalis dan puritan
Kalo gitu, apanya yang liberal.

Viva fundamentalis! Viva kaum puritan!
Karena fundamentalis adalah prinsip,
karena puritan adalah kemurnian
karena keduanyalah sesuatu bertujuan
bertujuan artinya bermakna

Fundamentalisme bukan ekstremisme,
ekstremisme adalah berlebihan,
dan Islam adalah keadilan

Puritanisme berbeda dengan kejumudan,
kejumudan adalah air yang tergenang,
di sana sampah dan bibit penyakit

maka generasi terbaik umat ini,
aslinya agama ini,
ialah progresifitas;
kemajuan dan perbaikan,
mina-dzulumati ila-nnur


h1

10 Kekeliruan dalam Wacana Anti RUU Pornografi (Tulisan Ade Armando)

October 18, 2008

Seusai Ramadhan ini, DPR akan membicarakan kembali RUU Pornografi yang kontroversial. Ada harapan,RUU ini bisa disahkan menjadi UU sebelum akhir tahun. Kritik terhadap draft RUU yang beredar sudah banyak terdengar. Sebagian kritik  bahkan sampai pada tahap “Hanya satu kata – Lawan!”.  Sembari mengakui bahwa RU tersebut masih mengandung beberapa hal yang perlu diperebatkan, saya merasa salah satu persoalan yang mendasari ketajaman kontroversi adalah adanya kekeliruan mendasar dalam mempersepsikan dan menilai RUU ini.  Saya ingin berbagi pandangan tentang apa yang saya lihat sebagai 10 kekeliruan mendasar dalam kritik terhadap RUU. Laporan lebih lengkap tentang RUU Pornografi ini sendiri akan dimuat dalam Majalah Madina edisi Oktober ini.

Rangkaian kekeliruan cara pandang tersebut adalah:

 

1. RUU Pornografi ini bertentangan dengan hak asasi manusia karena masuk ke ranah moral pribadi yang seharusnya tidak diintervensi negara.

Argumen ini memiliki kelemahan  karena isu pornografi bukanlah sekadar masalah moral. Di berbagai belahan dunia, perang terhadap pornografi dilancarkan karena masalah-masalah sosial yang ditimbulkannya. Pornografi diakui – bahkan oleh masyarakat akademik—sebagai hal yang berkorelasi dengan berbagai masalah sosial.
Kebebasan yang dinikmati para pembuat media pornografis adalah sesuatu yang baru berlangsung sekitar 30-40 tahun terakhir. Sebelumnya untuk waktu yang lama, masyarakat demokratis di berbagai belahan dunia memandang pornografi sebagai “anak haram” yang bukan hanya mengganggu etika kaum beradab tapi juga dipercaya membawa banyak masalah kemasyarakatan.

Saat ini pun, industri pornografi yang tumbuh pesat dalam beberapa dekade terakhir dipercaya mendorong perilaku seks bebas dan tidak sehat yang pada gilirannya menyumbang beragam persoalan kemasyarakatan: kehamilan remaja, penyebaran penyakit menular melalui seks, kekerasan seksual, keruntuhan nilai-nilai keluarga, aborsi, serta bahkan pedophilia dan pelecehan perempuan. Sebagian feminis bahkan menyebut pornogafi sebagai “kejahatan terhadap perempuan”.

Karena rangkaian masalah ini, plus pertimbangan agama, tak ada negara di dunia ini yang membebaskan penyebaran pornografi di wilayahnya.    Bentuk pengaturannya memang tak harus dalam format UU Pornografi, namun dalam satu dan lain cara, negara-negara paling demokratis sekali pun mengatur soal pornografi.

Di sisi lain, argumen bahwa soal “moral” seharusnya tidak diatur negara juga memiliki kelemahan mendasar. Deklarasi Univeral  Hak-hak Asas Manusia (ayat 29), misalnya, secara tegas menyatakan bahwa pembatasan terhadap kebebasan berekspresi dapat dilakukan atas dasar, antara lain, pertimbangan moral dalam masyarakat demokratis. Hal yang sama tertuang dalam amandemen Pasal 28J UUD 1945. Dengan begitu, kalaupun RUU ini menggunakan pendekatan moral pun sebenarnya tetap konstitusional.

 

2. RUU ini memiliki agenda penegakan syariah.

Tuduhan ini sulit diterima karena RUU ini jelas memberi pengakuan hukum terhadap sejumlah bentuk pornografi. RUU ini menyatakan bahwa yang dilarang sama sekali, hanyalah: adegan persenggamaan, ketelanjangan, masturbasi, alat vital dan kekerasan seksual.  Pornografi yang tidak termasuk dalam lima kategori itu akan diatur oleh peraturan lebih lanjut.

Dengan kata lain, RUU ini sebenarnya justru mengikuti logika pengaturan distribusi pornografi yang diterapkan di banyak negara Barat. Mengingat ajaran Islam menolak semua bentuk pornografi, bila memang ada agenda Syariah, RUU ini seharusnya mengharamkan semua bentuk pornografi tanpa kecuali.

Dengan RUU ini, justru majalah pria dewasa seperti Popular, FHM , ME , Playboy ( Indonesia ) akan memperoleh kepastian hukum. Mereka diizinkan ada, tapi pendistribusiannya akan diatur melalui peraturan lebih lanjut.

Memang benar bahwa kelompok-kelompok yang pertama berinsiatif melahirkan RUU ini, sejak 1999, adalah kelompok-kelompok Islam. Begitu juga dalam prosesnya, dukungan terhadap RUU ini di dalam maupun di luar parlemen, lazimnya datang dari komunitas muslim. Dalam perkembangan terakhir, bahkan pembelahannya nampak jelas: Konnferensi Waligereja Indonesia dan Persatuan Gereja Indonesia meminta agar RUU tidak disahkan; Majelis Ulama Indonesia mendukung RUU.

Namun kalau dilihat isi RUU, agak sulit untuk menemukan nuansa syariah di dalamnya. Ini yang menyebabkan Hizbut Tahrir Indonesia secara terbuka mengeluarkan kritik terhadap RUU yang dianggap mereka sebagai membuka jalan bagi sebagian pornografi. Bagaimanapun, HTI juga secara terbuka menyatakan dukungan atas pengesahannya dengan alasan “lebih baik tetap ada aturan daripada tidak ada sama sekali”.

 

3. RUU ini merupakan bentuk kriminalisasi perempuan.

Tuduhan ini sering diulang-ulang sebagian feminis Indonesia . Tapi, sulit untuk menerima tuduhan ini mengingat justru yang berpotensi terkena ancaman pidana adalah kaum lelaki. RUU ini mengancam dengan keras mereka yang mendanai, membuat, menawarkan, menjual, menyebarkan dan memiliki pornografi. Mengingat industri pornografi adalah industri yang dibuat dan ditujukan kepada (terutama) pria, yang paling terancam tentu saja adalah kaum pria.

RUU ini memang juga mengancam para model yang terlibat dalam pembuatan pornografi. Namun ditambahkan di situ bahwa hanya mereka yang menjadi model dengan kesadaran sendiri yang akan dikenakan hukuman. Dengan begitu, RUU ini akan melindungi para perempuan yang misalnya menjadi “model” porno karena ditipu, dipaksa, atau yang gambarnya diambil melalui rekaman tersembunyi (hidden camera).

Para pejuang hak perempuan juga lazim berargumen bahwa RUU ini membahayakan kaum perempuan karena banyak model yang terjun ke dalam bisnis pornografi karena alasan keterhimpitan ekonomi. Sayangnya, kalau dilihat muatan pornografi yang berkembang di Indonesia , argumen itu nampak tidak berdasar. Para model pornografi itu tidak bisa disamakan dengan para pekerja seks komersial kelas bawah yang tertindas. Para model itu mengeruk keuntungan finansial yang besar dan sulit untuk membayangkan mereka melakukannya karena keterhimpitan dalam struktur gender yang timpang.

 

4. Definisi pornografi dalam RUU sangat tidak jelas.

Secara ringkas, definisi pornografi di dalam RUU ini adalah: “”materi seksualitas melalui media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”.

Para pengeritik RUU menganggap, definisi ini kabur karena penerapannya melibatkan tafsiran subjektiif mengenai apa yang dimaksudkan dengan “membangkitkan hasrat seksual” dan “melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”. Karena kelemahan itu, para pengeritik menganggap RUU sebaiknya ditunda atau dibatalkan pengesahannya.

Kritik semacam ini tidak berdasar karena definisi soal pornografi yang lazim berlaku di seluruh dunia – kurang lebih – seperti yang dirumuskan dalam RUU itu. Ensiklopedi Encarta 2008, misalnya menulis pornografi  adalah film, majalah, tulisan, fotografi dan materi lainnya yang eksplisit secara seksual dan bertujuan untuk membangkitkan hasrat seksual. English Learner’s Dictionary (1986-2008)  mendefinisikan pornografi sebagai literatur, gambar film, dan sebagainya yang tidak sopan (indecent) secara seksual.

Di banyak negara, pengaturan soal pornografi memang lazim berada dalam wilayah multi-tafsir ini.  Karena itu, pembatasan tentang pornografi bisa berbeda-beda dari tahun ke tahun dan di berbagai daerah dengan budaya berbeda. Sebagai contoh, pada tahun 1960an, akan sulit ditemukan film AS yang menampilkan adegan wanita bertelanjang dada, sementara pada abad 21 ini, bagian semacam itu lazim tersaji di filmfilm yang diperuntukkan pada penonton 17 tahun ke atas. Itu terjadi karena batasan “tidak pantas” memang terus berubah.

Soal ketidakpastian definisi ini juga sebenarnya lazim ditemukan di berbagai UU lain. Dalam KUHP saja misalnya, definisi tegas “mencemarkan nama baik” atau “melanggar kesusilaan” tidak ditemukan. Yang menentukan, pada akhirnya, adalah sidang pengadilan. Ini lazim berlaku dalam hukum mengingat ada kepercayaan pada kemampuan akal sehat manusia untuk mendefinisikannya sesuai dengan konteks ruang dan waktu.

 

5. RUU ini mengancam kebhinekaan

Cara pandang keliru ini nampaknya bisa terjadi karena salah baca. Dalam draft RUU yang dikeluarkan pada 2006, memang ada pasal-pasal yang dapat ditafsirkan sebagai tidak menghargai keberagaman budaya. Misalnya saja, aturan yang memerintahkan masyarakat untuk tidak mengenakan pakaian yang memperlihatkan bagian tubuh yang sensual seperti payudara, paha, pusar, baik secara keseluruhan ataupun sebagian.

Ini memang bermasalah  karena itu mengkriminalkan berbagai cara berpakaian yang lazim di berbagai daerah. Tak usah di wilayah yang dihuni masyarakat non-muslim; di wilayah mayoritas muslim pun, seperti Jawa Barat, kebaya dengan dada rendah adalah lazim. Hanya saja, pasal-pasal itu seharusnya sudah tidak lagi menjadi masalah karena sudah dicoret dari RUU yang baru.

Begitu juga dengan kesenian tradisional yang lazim menampilkan gerak tubuh yang sensual, seperti jaipongan. Dalam RUU yang baru, tak ada satupun pasal yang menyebabkan  kesenian semacam itu akan dilarang. RUU ini bahkan menambahkan klausul yang menyatakan bahwa pelarangan terhadap pornografi kelas berat (misalnya  mengandung ketelanjangan) akan dianulir kalau itu memiliki nilai seni-budaya.

 

6. RUU ini akan mengatur cara berpakaian.

Sebagian pengeritik menakut-nakuti masyarakat bahwa bila RUU ini disahkan, perempuan tak boleh lagi mengenakan rok mini atau celana pendek di luar rumah. Ini peringatan yang menyesatkan. Tak satupun ada pasal dalam RUU ini yang berbicara soal cara berpakaian masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

 

7.RUU ini berpotensi mendorong lahirnya aksi-aksi anarkis masyarakat.

Para pengecam menuduh bahwa RUU ini akan membuka peluang bagi tindak anarkisme masyarakat, mengingat adanya pasal 21 yang berbunyi: “Masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.”

Tuduhan ini agak mencari-cari, karena dalam pasal berikutnya, RUU menyatakan bahwa “peran serta” masyarakat itu hanya terbatas pada: melaporkan pelanggaran UU, menggugat ke pengadilan, melakukan sosialisasi peraturan, dan melakukan pembinaan terhadap masyarakat.
Dengan kata lain, justru RUU ini memberi batasan yang tegas terhadap kelompok-kelompok yang senang main hakim sendiri bahwa dalam alam demokratis, peran serta itu tak boleh ditafsirkan semena-mena.

 

8. RUU ini tidak perlu karena sudah ada perangkat hukum yang lain untuk mengerem pornografi.

Para pengeritik lazim menganggap RUU ini sebagai tak diperlukan karena sudah ada KUHP yang bila ditegakkan akan bisa digunakan untuk mengatur pornografi.
Argumen ini lemah karena sejumlah hal. Pertama, KUHP melarang penyebaran hal-hal yang melanggar kesusilaan yang definisinya jauh lebih luas daripada pornografi. KUHP pun menyamaratakan semua bentuk pornografi. Selama sesuatu dianggap “melanggar kesusilaan”, benda itu menjadi barang haram yang harus dienyahkan dari Indonesia . Dengan demikian, KUHP justru tidak membedakan antara sebuah novel yang di dalamnya mengandung muatan seks beberapa halaman dengan film porno yang selama dua jam menghadirkan adegan seks. Dua-duanya dianggap melanggar KUHP.

RUU ini, sebaliknya, membedakan kedua ragam pornografi itu. Media yang menyajikan adegan pornografis kelas berat memang dilarang, tapi yang menyajikan muatan pornografis ringan akan diatur pendistribusiannya.

Lebih jauh lagi, sebagai produk di masa awal kemerdekaan, KUHP memang nampak ketinggalan jaman. Terhadap mereka yang membuat dan menyebarkan hal-hal yang melanggar kesusilaan, KUHP hanya memberi ancaman pidana penjara maksimal 18 bulan dan  denda maksimal empat ribu lima ratus rupiah! KUHP juga tidak membedakan perlakuan terhadap pornografi biasa dan pornografi anak.

 

9. RUU Pornografi tidak perlu, yang diperlukan adalah mendidik masyarakat.

Para pengecam menganggap bahwa sebuah pornografi tidak diperlukan karena untuk mencegah efek negatif pornografi yang lebih penting adalah memperkuat kemampuan masyarakat untuk menolak dan menseleksi sendiri pornografi. Jadi yang diperlukan adalah pendidikan melek media dan bukan Undang-undang.

Argumen ini lemah karena bahkan para pendukung mekanisme pasar bebas pun, lazim mempercayai arti penting aturan. Bila pornografi memang dipercaya mengandung muatan yang negatif (misalnya mendorong perilaku seks bebas, melecehkan perempuan, mendorong kekerasan seks, dan sebagainya), maka negara lazim diberi kewenangan  untuk melindungi masyarakat dengan antara lain mengeluarkan peraturan perundangan yang ketat.

Di Amerika Serikat, sebagai contoh sebuah negara yang demokratis, terdapat aturan yang ketat terhadap pornografi yang dianggap masuk dalam kategori cabul (obscene). Di sana pun, masyarakat tak diberi kewenangan untuk menentukan sendiri apakah mereka mau atau tidak mau menonton film cabul, karena begitu sebuah materi pornografis dianggap ‘cabul’, itu akan langsung dianggap melanggar hukum.


Pendidikan untuk meningkatkan daya kritis masyarakat tetap penting. Namun membayangkan itu akan cukup untuk mencegah efek negatif pornografi, sementara gencaran rangsangan pornografi berlangsung secara bebas di tengah masyarakat, mugnkin adalah harapan berlebihan.

 

10. RUU ini mengancam para seniman.

Tuduhan bahwa RUU ini akan mengekang kebebasan para seniman juga mencerminkan kemiskinan informasi para pengecam tersebut. RUU ini justru memberi penghormatan khusus pada wilayah kesenian dan kebudayaan, dengan memasukkan  pasal yang menyatakan bahwa pasal-pasal pelarangan pornografi akan dikecualikan pada karya-karya yang diangap memiliki nilai seni dan budaya

Sumber: Milist Alumni Muslim SMA 3 Bandung

h1

Catatan dari Catatan Hati Seorang Istri

October 17, 2008

Minggu lalu saya membeli sebuah buku tulisan Asma Nadia yang bertema keluarga dan pernikahan yang judulnya Catatan Hati Seorang Istri. Buku ini semacam memoar, yang dialami bukan hanya oleh penulisnya sendiri melainkan juga pengalaman perempuan-perempuan lain yang dituliskan oleh Mba’ Asma. Sebelumnya saya tidak terencanakan oleh saya untuk membeli ini, tetapi begitu melihatnya di rak Gramedia timbul rasa penasaran untuk membacanya. Karena saat itu saya teringat sebuah obrolan ringan dengan seorang kawan. Saya bertanya kepada kawan saya itu apakah mungkin kita yang aktivis dakwah lalu menikah dengan seorang wanita yang juga aktivis dakwah, akan mengalami kepahitan dalam bahtera rumah tangganya seperti pasangan artis yang kita lihat sehari tiga kali dalam acara gosip di televisi. Kawan saya menjawab lugas, ”ya mungkin saja”. Ia mengatakan ada sebuah buku yang menceritakan hal tersebut yang ditulis Asma Nadia. Saya pikir inilah buku yang dimaksudkan oleh kawan saya tersebut.

Buku ini terdiri dari belasan fragmen kehidupan rumah tangga yang ditulis dalam kisah singkat empat atau lima halaman, kecuali satu kisah seorang wanita yang mengalami kekerasan oleh suaminya seorang Belanda yang maniak yang dikisahkan sepanjang sepuluh halaman lebih. Kisah-kisah dalam buku ini dibuka oleh pengalaman Mba’ Asma saat ngobrol dengan seorang laki-laki mitra kerjanya yang membuat pengakuan pendapatnya tentang poligami. Lelaki itu mengakan dengan lugas bahwa jika ia menikah lagi maka itu murni karena ia suka perempuan itu.

Lalu ada kisah lain yaitu seorang istri yang sangat mencintai suaminya bahkan sangat bangga dengannya. Walaupun menurut pengakuan kakak sang istri, suaminya sangat buruk sikapnya dan juga gemar main wanita. Kemudian ada kisah lain dari pasangan aktivis dakwah. Ternyata sang suami bercerita bahwa sampai saat ini ia masih belum bisa mencintai istrinya. Sebab sang suami tidak tertarik kepada fisik istrinya sama sekali. Hal ini karena ia baru melihat wajah istrinya setelah menikah. Ia menyesal karena ia sama-sekali tidak melihat wajah calon istrinya saat bertukar biodata dan taaruf dengan alasan ingin menjaga keikhlashan dalam proses pernikahannya.

Ada juga cerita seorang wanita yang dengan tegar memilih untuk bercerai dengan suaminya. Sebab suaminya ia rasa tidak bertanggung jawab dalam menafkahi keluarganya. Pada awalnya masalah ini dari penghasilan si suami yang lebih kecil dari istrinya. Lalu sikap buruknya bertambah dengan si suami yang memeras hasil kerja keras sang istri. Kemudian bertambah-tambah lagi dengan sikap kasarnya terhadap istri. Di bagian akhir ada kisah yang menyentuh yang diceritakan Mba’ Asma. Yaitu sepasang suami istri tua yang miskin. Mba’ Asma bertemu mereka saat bakti sosial yang diadakan bersama rekan-rekannya. Mba’ Asma bercerita bahwa mereka, lelaki dan perempuan tua yang miskin itu, terpancar dari kedua wajahnya rasa cinta dan kasih sayang satu sama lain. Itulah beberapa kisah yang saya ingat dari buku tersebut yang tentunya tidak bisa saya kutipkan semua penggalan kisah dari buku tersebut. Karena yang ingin saya tuliskan disini kemudian adalah kesan dan pemikiran yang saya alami dari buku Catatan Hati Seorang Istri yang merupakan buku best seller ini.

Saya bersyukur menemukan buku ini karena buku ini bisa menjadi second opinion bagi lelaki atau wanita seusia saya yang biasanya mulai menderu-deru berbicara tentang pernikahan. Semangat untuk menikah tentunya sebuah keinginan yang mulia. Ia bersumber dari fitrah ilahiyah yang dibingkai dalam sunah nabawiyah. Dan tentunya proyek besar ini mestilah berawal dari niat yang lurus, bersama pemikiran yang benar, dan dieksekusi dalam rencana-rencana yang matang. Second opinion yang saya maksudkan yaitu berupa teguran dan peringatan kepada siapa pun yang sedang mempersiapkan pernikahannya bahwa pernikahan tidaklah seindah di Indahnya Pacaran Setelah Menikah, Kupinang Engkau dengan Hamdalah, atau Di Jalan Dakwah Aku Menikah.

Penggalan-penggalan kisah manusia dalam buku ini mengingatkan bahwa menikah adalah muara yang mengantarkan kita dari sungai menuju lautan lepas. Tentulah disana ombak ganas menanti, badai yang besar serta terumbu karang yang tajam mesti kita hadapi. Dan boleh jadi memang di sanalah Allah akan menguji hamba-Nya dengan ujian yang sangat besar. Bukankah ujian yang dihadapi Nabi Daud ialah istrinya yang meninggalkannya dalam kondisi sakit dan kepayahan. Atau istrinya Nabi Luth yang menolak beriman sehingga dibinasakan bersama orang-orang negeri Sodom. Seperti para akhwat yang mengharapkan ”Muhammad” malah mendapatkan ”Firaun”. Bukankah itu ujian yang dihadapi wanita shalehah sekaliber Siti Asiah. Bila kita calon Abi dan Umi mendamba Ismail, lalu Allah mengujinya dengan Kan’an bin Nuh yang ditenggelamkan. Atau putra-putra Ya’kub as yang dengki dengan adiknya, Bunyamin dan Yusuf, walau akhirnya Allah menyatukan kembali mereka semua. Bukankah mereka semua adalah orang-orang saleh dan mulia yang keluarganya justru manusia-manusia bebal.

Hanya Allah lah yang mengetahui apa yang akan dialami oleh saya, istri, dan anak-anak saya kelak. Sebagaimana seluruh aspek kehidupan ini, penting bagi kita untuk memandangnya dengan kacamata keimanan dalam hal amal dan takdir. Sebuah amal apa pun itu akan Allah swt ridhai jika lurus niatnya dan benar ikhtiarnya. Siapa pun yang ingin keluarganya menjadi jalan baginya ke surga haruslah memulai prosesnya dengan niat yang ikhlas. Niat yang ikhlas tidak akan muncul begitu saja. Niat adalah amal hati yang lahir dari cara pandang akan amal yang akan dilakukan beserta pemahaman akan urgensi ikhlas itu sendiri. Dalam hal pernikahan niat yang ikhlas akan muncul jika motivasi yang menggerakan untuk menikah ialah alasan-alasan ilahiah. Pertama, kita yakin betul bahwa ini adalah perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah saw. Kedua, kita memandang bahwa keluarga, anak dan istri, adalah investasi untuk meraih surga. Ketiga, kita memiliki definisi dan ukuran-ukuran yang benar mengenai kebahagian dalam berkeluarga. Harus jelas dalam kepala kita mana yang prinsip mana yang bukan dalam memilih pendamping, mendidik anak, serta mencari rezeki.

Kemudian faktor ikhtiar yang akan mengantarkan kita ke dalam keberkahan pernikahan. Ialah persiapan ilmu, ruhiah, mental, fisik, dan finansial. Kesiapan ilmu yaitu seberapa hukum-hukum, fiqih, serta etika dalam kehidupan rumah tangga sudah diketahui. Kesiapan ruhiah dapat diukur dari kualitas dan kuantitas ibadah mahdhah serta akhlak. Kesiapan mental dapat diketahui dari kapabilitas menanggung amanah-amanah yang ada sekarang serta kematangan dalam rencana-rencana hidup ke depan. Kesiapan fisik dan finansial relatif lebih mudah diukur antara lain riwayat kesehatan, kekuatan fisik, serta daya tahan tubuh (endurance). Sedangkan kondisi finansial dapat diukur dari rencana cashflow saat sudah berkeluarga serta dalam proses menuju pernikahan. Yang terakhir dan sangat penting ialah do’a. Do’a bertema keluarga cukup mendominasi do’a-do’a yang ma’tsur di dalam Al Quran. Do’a adalah tradisi nubuwah seperti yang dicontohkan oleh nabiyullah Ibrahim as dalam do’a-do’anya.

h1

Seperti Sayyid Quthb

October 14, 2008

Seandainya kau tangisi kematianku
Dan kau siram pusaraku dengan air matamu
maka di atas tulangku yang hancur luluh
nyalakanlah obor buat umat mulia ini
dan teruskan perjalanan ke gerbang jaya

Kematianku adalah suatu perjalanan
mendapatkan kekasih yang sedang merinduku
taman-taman di surga bangga menerimaku
burung-burung berkicau riang menyambutku
bahagialah hidupku di alam abadi

Seandainya kau tangisi kematianku
Dan kau siram pusaraku dengan air matamu
maka di atas tulangku yang hancur luluh
nyalakanlah obor buat umat mulia ini
dan teruskan perjalanan ke gerbang jaya

Kuasa kegelapan pasti akan hancur
dan alam ini akan di sinari fajar lagi
biarlah rohku terbang mendapatkan rinduNya
janganlah gentar berkelana di alam abadi
nun di sana fajar sedang memencar

Penggalan wasiat asy syahid sayyid Quthb di atas mengingatkan aku pada penulisnya. Kematiannya menjadi obsesi banyak pejuang Islam yang terobsesi menjadi penerusnya. Apalagi yang lebih indah dari menjemput kematian dalam memperjaungakan aqidah dan risalah para anbiya yang mulia ini. Sebelum dieksekusi di tiang gantungan, beliau diminta oleh si Algojo untuk mengucapkan kalimat syahadat sebagai prosedur standar dalam menjalankan tugasnya sebagai algojo. Tahukah apa kawaban asy syahid? Ia mengatakan “Untuk apa aku mengucapkan syahadat lagi, sedangkan aku justru mati karena mempertahankannya”.

Sesungguhnya keberanian sikap dan ketegaran tekad sekuat itu tidak hadir begitu saja. Ia hadir karena sebuah proses yang panjang dan melelahkan. Maka kematian adalah seni kehidupan. Kita tidak dapat memilih, hendak seperti apa terlahir. Tetapi setiap manusia bisa memilih, bagaimanakah ia akan mati? Sebagai apakah ia akan dikenang? Atas apakah ia mati? Dalam amalan dan misi perjuangan menegakkan kalimat tauhidkah< yang akan membuat ruhnya segera ke langit dalam harum semerbak disambut oleh ruh-ruh suci malaikat. Ataukah ia meninggal bergelimang lumpur duniawi, yang bahkan kehidupannya sudah berakhir sebelum kematian biologisnya?

Hendak apakah kita mati, maka itulah seni kehidupan. sunnguh indah misteri kematian. Sebab ia membuat manusia nselalu terjaga untuk menjaga agar sisa hidupnya berakhir dengan kematian yang indah. Dan misteri kematian adalah pengadilan bagi manusia-manusia hina yang hidupnya bergelimang kedzaliman, dan bahkan ia tidak mau bermaaf dan memperbaiki sisa hidupnya.

Beranikah kelak kita mengatakan kepada umat Islam yang ada saat ini dan pada masa yang akan datang untuk “Menyalakan obor umat ini dengan tulang belulangku’…

h1

Ramadhan-Ramadhanku

October 1, 2008

Setiap Ramadhan selalu memberi kesan yang unik. Pesan yang dtinggalkan olehnya saat kami berpisah biasanya berbeda dari Ramadhan ke Ramadhan lainnya. Tahun lalu pesan Ramadahan yang aku ingat ialah kecintaan dan meneladani akhlak Rasulullah saw. Sedangkan Ramadhan tahun ini meninggalkan pesan yang kuat akan ibadah, keikhlashan, dan kerinduan yang mendalam terhadap surga. Yang paling aku syukuri ialah, semangat dan kekhusyuan yang kembali meningkat dalam beribadah kepadaNya, beristighfar, tahmid, dan tasbih. Setidaknya relatif lebih baik dari bulan Sya’ban kemarin. Sebagai sebuah kenangan untuk menyemangati saat dibutuhkan, kubuka file-file ingatanku mengenai Ramadhan-Ramadhan yang telah berlalu.

Ramadhan saat SD dan SMP di Ciputat

Yang aku ingat aku pertama kali berhasil menyelesaikan shaum Ramadhan dengan lengkap ialah waktu aku masih duduk di kelas satu atau dua. Hingga seterusnya alhamdulillah Allah swt lewat kedua orang tuaku yang mulia telah menanamkan rasa tanggung jawab dan kesadaran untuk menaati perintah-Nya. Belum pernah aku seperti teman-teman lain, curi-curi makan di siang hari. Walau demikian memang seperti halnya anak-anak, Ramadhan full kuisi dengan bermain dan tidur dari fajar hingga maghrib. Jadwal hariannya adalah sebagai berikut; tidur hingga pukul 10 pagi. Lalu bermain hingga maghrib. Permainan kami saat itu dibagi dua yaitu indoor dan outdoor. Permainan indoor berupa monopoli, ludo, ular tangga, Nintendo, dan karambol. Sedangkan menu permainan outdoorrnya ialah bersepeda keliling kampung-kampung di Ciputat, atau mencari ikan di sawah.

Oh ada lagi, yaitu menu permainan malam yang dilakukan tarawih dan bada tarawih. Ialah membuat keributan dan saling mengganggu saat salat tarawih berlangsung dengan berbagai modus operandi; domino effect saat ruku’, menarik sajadah sampai terjatuh, berlomba berteriak Amiin paling keras dan aneh, hingga menggoda jamaah putri yang merupakan incaran anak-anak. Alhamdulillah waktu itu aku hanya menjadi pasivis saja, tidak melakukan tapi menikmati, hehehe. Nah agenda bada tarawihnya lebih seru lagi, apalagi kalau bukan pesta petasan. Mulai dari petasan paling kecil yang disebut ceplik yang harganya 50 rupiah, petasan korek yang cara penggunannya seperti menyalakan korek api, petasan roket yang disebut jangwe, petasan kentut yang mengeluarkan bau kentut, petasan neon yang menyala sangat terang, petasan air mancur, hingga petasan kelas kakap yaitu petasan teko yang ledakannya luar biasa keras seperti bom. Soal petasan ini orang tuaku sangat keras melarang, karena tentu saja khawatir keselamatan anaknya. Sehingga paling-paling aku hanya bermain petasan neon atau kembang api yang tidak berbahaya. Pada waktu itu kami tidak hanya bermain petasan, tetapi tepatnya perang petasan dengan anak-anak komplek atau kampung lain. Seru pisan, bahkan sampai bikin senjata bazoka, yaitu petasan jangwe yang diluncurkan dengan pipa paralon. Walau kadang jatuh korban juga, ada seorang temanku yang tangannya terluka parah karena petasan teko yang hendak dilemparkan balik olehnya ke arah musuh malah meledak di tangan. Nah, perang yang lebih serius seperti itu dilakukan tidak di sekitar kampung kami, tetapi di Lebak yaitu area tanah gusuran yang sangat luas, area perumahan yang tidak jadi dibangun.

Beranjak SMP tentunya aku lebih bisa memaknai Ramadhan. Saat itu aku mulai mengisi Ramadhan dengan serius seperti menyimak ceramah ustadz di televisi, mengikuti kajian-kajian bersama bapak, hingga membaca bacaan-bacaan Islam. Man of the match saat itu siapa lagi kalau bukan KH Zainuddin MZ, bettul? Saat itu beliau sedang naik-naik daunnya dan dikontrak oleh salah satu stasiun TV yang menyiarkan ceramah live-nya dari berbagai kota. Oh, ada satu bacaan yang paling berkesan. Sebuah booklet, suplemen khusus Ramadhan 1419 H dari majalah Sabili. Isinya ialah berbagai artikel seputar Ramadhan. Saya lupa isi persisnya tapi saat itu booklet kecil itu sangat mengubah cara pandang saya. Saat SMP juga saya mulai membaca bacaan-bacaan Islam yang lebih serius yaitu buku-buku tulisan Quraish Shihab yang merupakan favoritnya Bapak seperti Lentera Hati, Membumikan Al Quran, dan Wawasan Al Quran. Ada juga buku lain yang sangat saya suka judulnya yaitu Mengapa Aku Memilih Islam, isinya tentang pengalaman para mualaf. Buku ini cukup memberikan topangan akidah bagiku yang masih SMP.

Suasana yang khas dan tidak akan terlupakan, khususnya setelah saya berpisah dengan keluarga, ialah saat-saat sahur, buka, membantu ibu membuat kue-kue Ramadhan, hingga mudik ke Bandung. Sangat mengharukan dan menceriakan jika dikenang. Saat berkumpul di rumah, memutar lagu-lagu Bimbo. Saat-saat mudik yang penuh perjuangan, lari-lari mengejar bis di Terminal Kampung Rambutan atau Terminal Kebon Kalapa saat baliknya. Ada strategi khusus yang selalu kami pakai dan alhamdulillah bekerja dengan efektif. Setiap ada bis yang datang maka berdua dengan bapak aku mengejar bis, berebut pintu masuk lalu memburu tempat duduk. Ibu, adik-adik yang saat itu masih kecil, serta barang bawaan menunggu di bawah. Setelah tempat duduk di dapatkan bapak turun lagi mengambil barang dan menjemput ibu, sedangkan aku menjaga kursi di atas bis. It really works. Walau pernah suatu saat aku nyaris terbawa karena bis segera pergi begitu terisi penuh sedangkan ibu dan bapak belum naik. Alhamdulillah saat ituu kami masih selamat.

Ramadhan di Bandung

Inilah fase pendewasaan dalam hidupku. Aku berangkat ke Bandung tidak hanya untuk menimba ilmu di SMAN 3 Bandung, sekolah nnegeri terbaik di Jawa Barat, tetapi juga menyiapkan mental dan menempa karakter untuk lebih mandiri dan dewasa. Maka ramadhan-Ramadhan yang kualami kemudian pun tidak lepas dari nuansa itu. Karena masih belum terlalu lama berselang di sini akan aku tuliskan pengalaman-pengalaman Ramadhanku tiap tahunnya.

Ramadhan 1422 H. Ramadhan pertama selepas dari keluarga di Ciputat. Kondisi aku secara umum pada awal-awal itu cukup buruk yang ditandai dengan kondisi fisik yang sakit-sakitan hingga berimbas pada nilai raport yang jatuh bebas. Barangkali sebuah shock teraphy lepas dari orang tua. Termasuk juga di Ramadhan saat itu aku diuji dengan sakit tifus sekitar satu minggu. Walau demikian aku masih sempat mengisi Ramadhanku dengan menjadi panitia Dialog Ramadhan yang diadakan oleh FORMAI, remaja masjid di Maleer. Saat itu aku diamanahi sebagai sekretaris, sedangkan saat itu adalah pengalaman organisasiku yang pertama dalam memegang amanah. Tetapi karena sakit aku diungsikan ke Jakarta sehingga tidak sempat menikmai hasil kerjaku sendiri.

Ramadhan 1423 H. Pekerjaan besar yang aku selesaikan di Ramadhan ini ialah sebagai Ka Dep Tarbiyah DKM Al Furqan dan panitia sanlat di SMAN 3. Sanlat kami namanya Liga Premier (singakatannya lupa). Mungkin itu slaah satu sanlat paling keren yang pernah diadakan oleh DKM Al Furqan dengan pembicara yang hebat seperti ust Hari Roesli, acara yang variatif, hingga penyiapan venue yang optimal. Bahkan kami panitia harus menginap selama beberapa hari untuk acara yersebut. Alhamdulillah beberapa pasangan pacaran putus setelah mengikuti sanlat tersebut.

Ramadhan 1424 H. Ini adalah Ramadhan yang paling aku kenang. Ia datang di puncak-puncak proses pematangan indentitas keIslamanku dan shibghah corak ideologisku. Ia hadir pada kondisi percepatan paling optimal dalam hidupku saat aku membentuk kerangka pikir dan cara pandangku. Ada satu momen penting dalam hidupku terjadi saat itu. Pada suatu sore aku bersama tiga sahabatku Irfan, Hariyadi, dan Arif mengikuti kajian bedah buku Manajemen Kematian tulisan Ustad Khozin Abu Faqih, saat itu yang menjadi pembicara adalah Ustad Hilman Rosyad Shihab, Lc. Bukunya tipis, tetapi aku merasa buku itu menjadi salah satu buku yang paling mewarnai hidupku selain buku-buku yang lain yaitu; Model Manusia Muslim, Mencari Pahlawan Indonesia, dan Dari Gerakan ke Negara-nya Ustad Anis Matta, serta Diirasat fil islam serta Fii Zhialil Quran Sayyid Quthb, dan terakhir Seven Habits-nya Covey. Kembali ke buku Manajemen Kematian, buku itu memberi bekal cara pandang yang sangat kokoh dan mendalam bagaimana kita menyikapi kematian. Dan menyikapi kematian berarti menyiapkan sisa kehidupan kita. Yang paling aku ingat adalah hadits qudsi tentang tiga orang yang dimasukan ke neraka; penghapal quran, orang yang gugur di peperangan membela Islam, serta penderma. Ketiganya dicampakan ke neraka karena mereka menduakan Allah swt dalam niatnya. Pada buku itu juga aku mendapat kesan yang kuat tentang mati syahid dan kematian orang-orang shalih. Salah satu perkataan Sayyid Quthb dalam buku itu yang paling aku ingat ialaha “Barangsiapa hidup untuk dirinya sendiri maka ia mati sebelum hidupnya berakhir, dan barang siapa hidup untuk sebuah fikrah yang ia perjuangkan maka usianya berakhir sepanjang sejarah itu berakhir”. Ramadhan saat itu aku akhiri dengan sempurna itikaf empat malam di Salman dan tiga malam terakhir di Habiburrahman. Pagi itu, 30 Ramadhan 1424 H aku keluar pulang dari Habiburrahman. Di dekat landasan pacu Husein Sastranegara aku melihat langit pagi yang terindah yang pernah kulihat dalam hidupku.

Ramadhan 1425 H. Ramadhan pertama menyandang status baru; mahasiswa. Saat itu sudah musim UTS dan juga Allah swt menguji dengan sakit cacar air selama satu minggu. Alhamdulillah masih kebagian itikaf dalam satu pekan terakhir. Tahun itu itikaf kulakukan di Salman. Aku juga mengajak sepupuku, Bardan. Man of the match-nya adalah akhuna Azis, Teknik Kelautan ’99, kakak kami yang ustadz Tahsinnya Majelis Ta’lim Salman. Ia yang paling mewarnai Ramadhanku saat itu dengan ilmu tahsinnya yang membawaku pada level yang lebih tinggi dalam hal interaksi dengan Al Quran.

Ramadhan 1426 H. Saat itu aku diterima di Asrama Salman bersama dua puluh orang saudaraku yang lain. Saat itu aku mengangkut barang dari rumah bersama dengan sahabatku Oki dengan mobilnya yang saat itu belum dijual. Teman sekamarku ialah Julian dan Januar. Salah satu kenangan saat itu adalah lagu Alhamdulillahnya Opick beserta lagu lain di albumnya yang pertama yang sangat sering diputar oleh Januar dan juga aku sukai. Serta album Kemenangan-nya GIGI serta album religi Ungu yang pertama yang lagunya Surga-Mu merupakan favoritnya sahabatku, Dani Badra. Pertama kalinya Ramadhan lepas dari keluarga. Bagaimana rasanya kesulitan mencari sahur jika bangun terlambat atau terpaksa dengan menu sisa di kantin Salman. Ba’da Ramadhan saat itu digunakan untuk berlibur ke Jogja bareng Army dan Bardan. Itu pertama kali keluar Jawa Barat selain Jakarta.

Ramadhan 1427 H. Ramadhan kedua sebagai anggota Asrama Salman. Salat ied kedua sebagai panitia di ITB. Saat itu juga ada seleksi pertukaran pemimpin muda Indonesia-Australia. Aku mencapai tahap terakhir yaitu interview dengan professor-profesor dari Australia National University, NUS, serta perwakilan kedutaan besar Australia. Saat itu adalah tanggal 19 Ramadhan, dan Allah belum mengijinkan. Salah satu sebabnya adalah sama sekali tidak ada persiapan dan Bahasa Inggrisku yang sudah lama tidak digunakan sehingga tumpul. Saat itu juga NEEO Youth Development Center masih eksis dan mendapatkan proyek Sanlat di SMA Darul Hikam selama tiga hari. Sealin itu juga NEEO mendapatkan proyek Sanlat yang disponsori oleh pemprov di daerah Padasuka. Soundtrack Ramadhan tahun itu ialah album Taqwa Opick; Taqwa, Takdir, Irhamna, Semesta Bertasbih, dan yang lainnya. Juga album religi Ungu yang kedua yaitu Para Pencari Tuhan.

Ramadhan 1428 H. Itikaf di Salman, kecuali dua malam di Habiburrahman. Yang berkesan saat itu ialah membantu panitia itikaf Salman yang merupakan teman-teman yang pernah tinggal bersama sewaktu aku masih di Asrama Salman. Ramadhan tahun itu ialah Ramadhan pertama selepas aku dari Asrama. Jadi saat itu aku pertama kali menjadi outsider Salman (Asrama). The best moment saat itu adalah kajian Hadits dan Sirah Nabawiyah yang dibawakan oleh Ustad Hervi Firdaus, Lc, Al Hafizh. Betapa hampir setiap kajian itu aku menangis mendengar kajian tentang akhlak dan perjalanan dakwah Rasulullah saw yang disampaikan dengan sangat indah oleh beliau. Saat itu juga aku diperkenalkan dengan murattal Syaikh Al kanderi oleh anak-anak asrama yang saat itu sedang hot-hot nya. Sampai saat ini beliau adalah qari’ terbaik menurutku dengan alunan tilawahnya yang indah dan mendayu.

h1

Catatan Akhir Ramadhan

October 1, 2008

Malam terakhir, Masjid Al Hikmah TELKOM Divre III

Segala puji bagi Allah azzawajalla yang telah menyampaikan aku di malam terakhir, Ramadhan 1429 H yang akan berakhir kurang dari 24 jam lagi. Ada kesan yang mendalam, ada kenangan yang tersisa di sini saat ini. Tentang perjalanan-perjalanan yang telah aku tempuh. Bagaimana aku melihat diriku sendiri dengan segala kesempurnaan dalam penciptaannya, kemudian tenggelam di lautan kelalaian dan kealpaan, hingga kesadarannya menyelamatkannya kembali untuk terus berlayar mengarungi samudera kehidupannya untuk mencapai tujuan yang abadi. Dalam hidup ini telah berlalu stasiun-stasiun kehidupan, sebagian menjadi kenangan yang indah untuk terus dikenang. Sebagian adalah stasiun yang kelam dan muram, yang jika dikenang menjadi pengingat akan dosa dan kealpaan yang menjadi kesedihan. Dan hidup ini akan terus berjalan, terus melangkah menemui stasiun-stasiun kehidupan yang lain hingga mencapai akhir yang tak tahu kapan. Yang pasti hanyalah tempat yang dituju itu sendiri. Biarlah aku berada dalam gerbong kehidupan yang membawaku. Yang terpenting adalah sikap. Bagaimana respon kita terhadap hal-hal yang terjadi di luar pada diri kita. Maka respon itu adalah buah apa yang ada jauh di dalam lubuk hati kita, yaitu keimanan. Sungguh malang orang hidup tanpa iman. Mereka kesepian di tengah keramaian, mereka kebingungan di antara petunjuk dan penanda arah yang ada di sekitarnya, lalu mereka lebih dahulu mati, sedangkan jasadnya masih hidup. Demikian karena ia telah kehilangan hakikat eksistensinya.

Demikian keimanan pun punya ceritanya sendiri. Ia adalah tombol yang menghidupkan seonggok tubuh bernama manusia. Menjadikannya hidup seutuhnya. Tidak seperti zombie-zombie yang kelaparan mencari mangsa, seperti halnya yang terjadi pada kemanusiaan sepanjang sejarahnya dan juga dewasa ini yang makin menjadi-jadi. Sebuah dunia yang menjadikan manusia mangsa bagi manusia lain. Iman memiliki siklus hidupnya sendiri. Yang dijaga oleh pemiliknya dan dipelihara berdasarkan petunjuk manual dari Yang menciptakannya. Ialah ibadah-ibadah mahdah yang merupakan santapan bagi iman. Sealin tentunya ibadah itu bernilai pahala dan berbuah keridhaan Allah swt yaitu surga.

Ramadhan adalah pos untuk menjaga, merawat, dan meng-upgrade iman. Ibarat dalam sebuah perjalan di mana kita membutuhkan stasiun pengisian bahan bakar, toilet, dan tempat istirahat. Di sini lah Allah swt menjamu para pemilik iman untuk datang, istirahat, lalu menyiapkan segala kebutuhannya selama perjalanan ke depan. Di sini kotoran menjijikan yang menempel di pemilik iman dibersihkan dengan air ampunan Allah yang maha luas. Di pos ini bekal perjalanan pemilik iman diisi penuh dengan pahala amal-amal yang Allah swt sediakan berlipat. Di pemberhentian ini bagian yang rusak diperbaiki dengan buah dari ibadah-ibadah shaum, tilawah al quran, zikir, shadaqah, dan shalat-shalat malam yang panjang. Di sini juga tempat bagi sang pemilik iman untuk mengorientasi medannya sambil mencocokan arah kompas dengan peta hingga ia mengetahui posisi dirinya, arah, dan sisa perjalanan yang harus ia tempuh. Yaitu melalui sunnah beruzlah yang Rasulullah saw contohkan dengan itikaf.

Semoga selepas pos perhentian ini, sang pemilik iman menjadi lebih siap untuk melanjutkan perjalanan berjuang menegakan keimanannya di belantara kehidupan, hingga ia menemui ajalnya di antara 11 bulan atau ia bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Tentu saja dengan kondisi yang lebih baik dan kesiapan yang prima untuk dijemput pulang, karena ia telah berhasil dalam Ramadhannya.

Ramadhan-Ramadhanku beberapa tahun belakangan sungguh mengagumkan, semoga Allah swt meridhainya dan mengampuni segala kealpannya, karena aku bertemu Ramadhan di tengah-tengah usia pembelajaranku dalam pembentukan identitas diri dan identitas keislamanku. Aku sungguh bersyukur memasuki Ramadhan dengan segala fasilitas yang sangat membantuku mensyukuri nikmat bertemu dengan Ramadhan. Walaupun istighfar yang kulakuan semestinya lebih banyak lagi. Takut dengan segala kebengkokan niat dalam ibadah serta kekurangan ilmu untuk menjaga sunnah. Serta saat-saat di mana hawa nafsu lebih dominan mengendalikan diri ini. Terimalah ya Allah, shaum kami, tilawah kami, rukuk kami, sujud kami, beserta semua amal yang kami lakukan. Dan kami berlindung kepadaMu dari segala kemusyrikan yang kami sadari maupun tidak.

Kini aku teringat akan sebuah nasyid yang luar biasa yang pertama kukenal semasa masih bulan madu tarbiyah waktu SMA dulu. Ialah nasyidnya Suara Persaudaraan, temanya tentang perpisahan dengan Ramadhan. Indah. Menyentuh sekali. Ingin menangis rasanya saat menyenandungkan nasyid ini di tiap akhir Ramadhan.

Elegi Untuk AA

Album : Bara dalam Tazkiyah
Munsyid : Suara Persaudaraan

Tertatih aku mengejar bulan
Mengais sisa – sisa Romadhon
Terjatuh.. terpuruk dikeheningan

Ramadhanku telah pergi
Syawal tlah menjelang
Tinggalkan arti tujuh puluh tingkatan
Amal ibadah bagi insan beriman

Duhai sahabat pilihan Alloh
Di sini, dipertigapuluh terakhir
Kita bertemu dalam renungan
Satu jiwa satu hati dan satu iman

Tuhan kekalakan tali ini
Rekatkan dalam dzikir padaMu
Biarkan rindu kian bersemayam
Karena kasih dan cintaMu

Duhai sahabat pilihan Alloh
Dihari ke tujuh ba’da Romadhon
Hati masih sedih ditinggalkan
Seluruh jiwa terasa sakit
Tiada kawan penghibur
Kecuali Alloh semata

Hanya satu tumpuhan harapan
Jumpa Romadhon dengan izin tuhan
Madrasah perjuangan dan kesabaran
Menuju Ar-royan yang dijanjikan