Angin

To run where the brave dare not to go

Episode 1: Syukur

-Episode 1-

Menangislah, sebelum tangis itu tinggal punya satu makna, penyesalan. Menangislah sebelum mereka menangisimu dalam seremoni. Menangislah, karena mata yang aman dari neraka ialah mata yang mengantuk karena berjaga di jalan Allah dan mata yang menangis karena takut kepada-Nya. (Ust. Rahmat Abdullah, alm.)

Dan hari ini tangis itu meledak lagi. Bukan dengan air mata yang bercucur. Tapi apa yang bergemuruh di dalam sana. Hari ini terjadi lagi. Dan memang itu menjadi hal yang amat  menyedihkan. Apa yang lebih tragis dari seorang da’i yang kehilangan pijakan atas kata-katanya. Apa yang lebih hina dari seorang yang kehilangan harganya, yaitu integritasnya. Dan yang paling menyakitkan adalah, tangis penyesalan itu belum beranjak dari tempat yang sama. Masihkah tersisa kemuliaan untuk seorang tersebut, yang mengaku sebagai umat-Nya Nabi Muhammad saw?

Apalagi yang lebih bebal dari seorang hamba yang tak tahu diuntung. Apalagi yang dinafikannya ialah pemberian dari Tuannya. Sudah berjuta kali kah ia diuntung, sehingga gula pun tidak lagi berasa manis. Inikah yang menjadi sebab mengapa Bani Israil menjadi kaum yang dimurkai (magdub ’alaihim)? Dan apa yang bisa dikatakan untuk seorang yang mengaku sebagai pengikut dan yang meneladani baginda Rasulullah saw? Masih layak kah ia berkata seperti itu. Hanya beo yang mengucapkan kata-kata pemiliknya, begitu lah dengan seorang da’i yang hanya meresonansi ucapan guru ngaji atau ustadznya.

Entah setan mana yang membawa lari kata-kata terbaik itu. Kata yang pengucapnya mendapat jaminan kebaikan dari Allah swt. Karena pengucapnya membutuhkan akar yang kokoh, yaitu aqidah yang tak tergoyahkan sedikitpun. Dan kata-kata itu memerlukan penopangnya, batang yang kokoh menjulang ke langit, yaitu ibadah yang berlimpah secara kualitas juga kunatitas. Dan kata-kata itu juga membuthkan penghiasnya, yaitu bunga yang menyejukan mata pemandangnya. Serta daunnya yang rindang, yang menaungi siapa pun yang ada di dekatnya

.Demikian umat manusia dari seantero benua telah menatap dengan terpesona generasi yang tiba-tiba terlahir dari tanah yang bahkan tidak pernah ditoleh sebelumnya. Karena pesona yang ia sebar itu muncul dari sebuah cara pandang (tashawwur) yang utuh, menyeluruh, dan mendasar serta tak terkurung dimensi ruang dan waktu. Di mana besar dan kecil, tinggi dan rendah, senang dan susah, bahkan hidup dan mati, yang merupakan kenisbian yang membayangi hidup manusia sebelumnya, menjadi mutlak dan jelas ukurannya karenanya.

Cara pandang itu yang tercermin dari tarikan nafas serta gerak laku mereka. Yang menjadikan padang gersang itu menjadi oase sejarah yang terbesar dan terlama. Walaupun akhirnya oase itu dikotori oleh pemiliknya sendiri, dan berbelas abad kemudian oase itu hanya menjadi gambar di peta sejarah. Sehingga kini sebagian besar penghuni negeri dunia ini masih terus berputar-putar tersesat di padang kerontang jiwanya, kecuali mereka yang masih memiliki rembesan titik-titik air yang keluar dari tanah dan bebatuan hatinya

.Seorang akhwat, seperti yang diceritakan Mbak’ Helvy Tiana Rosa, menjadi tempat curhat hampir semua teman-temannya, bahkan yang baru beberapa hari dikenalnya pun. Ia betul-betul menjadi solusi bagi teman-temannya karena ia mau mendengarkan lebih dari sekedar simpati, tapi empati. Kemudian ia bantu teman-temannya dengan tausiyah dan membesarkan hati mereka dengan berjanji bahwa ”kita akan bersama-sama menghadapinya, dan pasti Allah swt akan menolong kita”. Akhwat itu bernama Kinan Nasanti.Maha suci Allah yang telah menciptakan manusia untuk menguji siapa yang terbaik amalannya. Kinan ternyata tidak memiliki kondisi fisik sebagaimana akhwat seusianya. Tubuhnnya sangat pendek, hanya setinggi anak SD. Dan terlebih lagi apa yang ada di keluarganya. Ayahnya sudah meninggal. Ibunya sakit-sakitan. Serta kakak dan adiknya mengalami kelainan mental.Kondisi itu tidak membuat ia menjadi surut amal dan lamban gerak dakwahnya. Bahkan ia berhasil lulus dari Universitas Indonesia dengan nilai memuaskan. Ia pun membantu teman-teman akhwatnya yang sudah berusia lebih dari cukup dan mengalami kesulitan untuk segera berkeluarga.Dan dari itu semua, ada kata-katanya yanng mungkin itu adalah sumber dari semua kekuatan yang ia miliki untuk beramal. Ia sering berkata, ”Maha suci Allah, begitu banyak nikmat-Nya yang belum aku syukuri”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 19, 2007 by in Muhasabah.
%d bloggers like this: