Angin

To run where the brave dare not to go

Episode 2: Catatan Merah

-Episode 2-

Ada catatan-catatan merah di lembaran seorang da’i yang sedang terdegradasi amalnya. Ada catatan merah di amal ibadah hariannya yang menyebabkan sang da’i kehilangan energi yang membakar motornya. Ia kehilangan peluru yang menjadikan kata-katanya kosong dan tak lebih dari sekedar angin yang menghembus wajah sasarannya saja. Ia pun kehilangan keberaniannya untuk mendaki tebing-tebing yang menghadang sepanjang perjalanan. Demikian karena pada awalnya ia lebih sering memilih bersantai dalam amal dan lebih memperbanyak yang mubah. Seperti yang disampaikan oleh Imam Hasan al Banna, ”Adapun pejuang yang tidur sepenuh kelopaknya, makan sepenuh mulutnya, tertawa sepenuh kerongkongannya, dan menghabiskan waktunya dalam gurau dan kesia-siaan sangat jauh dari kemenangan dan tak tertulis dalam barisan pejuang.”

Padahal mata air amal ibadah adalah mujahadah. Bersungguh-sungguh untuk mau melawan nafsunya yang ibarat seekor kuda yang masih liar. Dan ia tidak ber-mu’aqabah saat kudanya makin liar. Maka jika kita mau berlaku keras terhadap nafsu kita, niscaya ia akan menjadi kuda yang jinak. Dan sebaliknya, ia tetap menjadi kuda yang liar jika pemiliknya tidak berlaku keras kepadanya.

Ada catatan merah di fikrahnya. Ia kebingungan membaca peta dan menggunakan kompasnya, ia kini tersesat di belantara dakwah. Ia seperti anak kecil di hadapan laptop ayahnya, kebingungan dengan tombol-tombol mesin penggerak dakwah, yaitu amal jama’i-nya. Bahkan ia seperti asing dengan kampungnya sendiri. Dan catatan-catatan liqa’at, warisan-warisan ulama, serta prinsip dan metode-metode dakwah yang dahulu begitu fasih ia sampaikan kepada mutarabbi dan jundi-jundinya hanya menjadi memori yang memenuhi otaknya, tak lebih dari gudang data. Demikian karena ia pernah merasa cukup puas dengan  amal-amalnya dan merasa kurang butuh lagi terhadap input-input baru bagi akalnya. Dan ia lupa bahwa ilmu adalah awal dari segala-galanya. Tiada yang tersisa dari amal  ibadah tanpa ilmu kecuali kemurkaan Allah swt. Dan tiada yang lebih tertipu dari orang yang merasa ikhlas tanpa didasari ilmu. Pada akhirnya makin jauhlah ia dari gambaran seorang Rijaludda’wah yang disampaikan oleh Imam Hasan al Banna, ”Suatu fikrah akan berjaya apabila kuat keyakinan terhadapnya, terpenuhi keikhlashan menjalankannya, selalu berkobar semangat memperjuangkannya, dan ada kesiapan berkorban dan beramal mewujudkannya.”

Ada catatan merah di niatnya. Sehingga kemenangan dan pertolongan Allah tak kunjung datang. Demikian karena Allah swt masih sayang menjaganya. Agar ia tersadar akan kekeliruannya. Karena amal yang besar di tangan orang yang tidak ikhlas hanya menjadi fitnah yang lebih besar lagi baginya di dunia dan akhirat. Seperti yang diriwayatkan dalam sebuah hadits. Bahwa yang pertama dihisab di yaumil akhir  adalah seorang yang gugur di medan jihad, seorang yang pandai serta fasih menghapal Al Qur’an, dan seorang lagi adalah orang kaya yang dermawan. Tetapi ketiganya pula yang pertama dicampakan ke neraka. Karena yang pertama berperang karena ingin dijuluki ksatria oleh kaumnya, yang kedua ingin dipuji ia seorang penghapal Al Qur’an yang hebat, dan yang ketiga ingin dipandang sebagai orang kaya yang dermawan oleh orang-orang disekitarnya. Maka selama seorang kader dakwah tercoreng niatnya, insya Allah, selama itu pula Allah akan melindunginya dengan menjauhkannya dari kemenangan dan pertolongan, agar ada kesempatan baginya untuk berhenti sejenak, ber-muhasabah atas daftar panjang qadhya yang ia hadapi. Agar niat yang tercoreng itu bisa kembali bersih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 19, 2007 by in Muhasabah.
%d bloggers like this: