Angin

To run where the brave dare not to go

Berpikir (lagi) tentang Kematian…

“Sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang selalu berpikir dan mempersiapkan dirinya untuk kehidupan setelah kematian…” 

Pernahkah kita teringat bahwa kita sangat lemah, yang hanya punya sedikit kendali atas kehidupan kita. Seperti kematian yang sebenarnya sangat dekat dengan diri kita. Betapa banyak variabel yang kita temui setiap hari, bisa mengantarkan kita pada kematian. Setiap detik, setiap tempat, segala sesuatu yang kita temui punya potensi untuk itu. Peluang akan hal ini tidak hanya berpotensi terjadi di area berbahaya, seperti di Irak atau Palestina yang terdengar suara ledakan senapan atau bom dalam hitungan menit. Tetapi lihatlah lebih dekat sekitar kita, di rumah, sekolah, kantor, kampus, dalam perjalanan, dan semua tempat.    

Hal ini saya sadari lebih dalam saat perjalanan ke luar kota dengan sepeda motor. Saat itu saya merasa bahwa setiap kendaraan yang berpapasan punya peluang menabrak saya, atau saya menabrak kendaraan itu. Banyak faktor yang bisa memungkinkan itu terjadi. Mungkin ban yang kempes sehingga kendaraan oleng. Atau pengemudi yang lalai, atau kendaraan saya mengalami gangguan seperti remnya menjadi blong, atau kanvas remnya menyangkut ke as roda sehingga roda berhenti berputar mendadak. Bahkan setiap butir pasir atau kerikil di jalanan punya potensi menggelincirkan kendaraan saya. Mungkin juga saat menikung saya kurang beberapa derajat atau beberapa centi mengambil sudutnya sehingga motor saya tergelincir. Belum lagi bila kita memperhitungkan variabel waktu dan tempat. Berapa detik kiranya saya berada pada titik koordinat yang sama dengan kendaraan lain, bagaimana jika saya lebih lambat atau lebih cepat beberapa detik dari yang telah terjadi. Sehingga jika kita mengalkulasi semua peluang potensi bahaya atau kematian yang saya hadapi selama perjalanan itu saya yakin bahwa bukan lagi fifty fifty peluangnya melainkan 99/100. 

Pemikiran ini saya sampaikan bukan untuk membuat diri kita menjadi murung, waswas, dan penakut. Tetapi saya ingin mengingatkan diri saya bahwa diri ini amat lemah dan sangat tidak berdaya di satu sisi, dan menyadari bahwa hidup ini begitu indah dan menyenangkan. Maksudnya? Bahwa Allah swt. adalah Maha Pengasih (Ar Rahman), yang kasihnya meliputi semua makhluk, manusia, jin, hewan, tumbuhan, malaikat. Muslim atau kafirkah ia. Dan Allah swt. adalah Ar Rahim (Maha Penyayang) yang telah menghidayahkan kesadaran ini dalam jiwa kita. Sehingga dengan rahman dan rahim-Nya saya bisa bepagi hari dalam fitrah Islam, bisa bernapas, bisa makan, bisa  berpikir, bisa menulis artikel ini, dan banyak lagi nikmat-Nya yang jumlahnya uncountable.  

Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kita dustakan? Jika kita sadar bahwa kita bisa hidup sampai anda membaca tulisan ini hanya karena Kasih sayang Allah swt. Bahwa nyaris kita tidak berdaya atas semua kesuksesan atau hasil akhir yang kita raih. Maka, apakah sedikit saja kita punya hak untuk sombong? Bukan pula dengan tulisan ini saya mengajak anda untuk bersikap apatis, pasrah, dan fatalis. Seperti pemikiran sesat kaum jabariyah yang menyatakan kehidupan ini seperti wayang? Tidak. Sesungguhnya Allah swt. akan memperhitungkan setiap zarah amal, kebaikan atau keburukan yang kita lakukan. Sesungguhnya kehidupan ini adalah rangkaian dari pilihan-pilhan yang dapat kita ambil, apakah rajin atau malas, syukur atau kufur, jujur atau munafik, muslim atau kafir. Dan manusia telah diberikan pendengaran, penglihatan, hati, dan akal untuk mengetahui kebenaran itu dan memutuskan apakah ia akan menagmbil kebenaran itu dan mengikutinya seperti apa yang dilakukan para sahabat radiyallahu’anhum  yang meninggalkan kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam bersama sang kekasih. Atau seperti Abu Lahab yang dikutuk karena mendustakan kebenaran setelah nyata-nyata kebenaran itu datang kepadanya. Maka atas pilihan-pilihan itulah amal-amal kita dihisab. Itulah batas wilayah taklif (pembebanan) manusia. Di luar wilayah itu, maka tidak ada hisab untuk manusia. Tidak seperti dugaan dungu nashara yang mengenal dosa warisan, dosa yang harus ditanggung karena kesalahan orang lain. Atau seperti ideologi sesat kaum materialis yang menilai kemuliaan manusia dari ras apa ia dilahirkan, apakah dari bangsa aria ataukah dari orang negro yang masih setengah kera karena evolusinya belum sempurna.

Segala puji bagi allah swt yang telah menghidayahkan islam kepada kita yang tegak dalam nilai-nilai insaniyah, memurnikan fitrah dan hakikat kemanusiaan. Kesadaran akan kematian dan kehidupan setelah kematian kiranya harus menjadi tashawur (persepsi) kita mengarungi samudera kehidupan. Sejatinya jika kita bisa ber-dzikrul maut setiap saat insya Allah kesadaran akan muraqabatullah (pengawasan Allah) akan terjaga dalam setiap amal kita, menghindari murkaNya dan bersegera menuju ampunan dan surga Allah yang seluas langit dan bumi. Maka amal-amal itu bisa terealisasi dalam setiap aktivitas kita, tidak terkungkung hanya pada dimensi lima kali lima menit sehari, atau hanya pada dimensi ruang masjid atau musala. Tetapi ruh penghambaan dan ruh khilafah fil ‘ardh ada di setiap detik dan setiap ruang dalam kehidupan kita. Wallahu’alam bis shawab.  

Nyanyian perjalanan Bandung-Tasik

 

 

3 comments on “Berpikir (lagi) tentang Kematian…

  1. aa dani badra kasep pisan selalu
    June 24, 2008

    alus-alus
    urang rek nulis siga kieu da
    tapi versi urang
    pasti rada bodor2 saeutik kitu

    kunjungi urang di
    aadanibadrakasep.wordpress.com

  2. fitrasani
    June 25, 2008

    btw, tulisannya kekecilan euy…

    Pengalaman yg sama juga setiap kali saya jalan kaki pergi maupun pulang dari kampus-kosan. Selalu berandai-andai kalau ada kemungkinan bisa saja tertabrak mobil, selalu bikin merinding karena sering banget berandai-andai kecelakaan >_<.

  3. by
    June 26, 2008

    jadi inget film “Final Destination”…

    mampir ke http://bajupreman.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 20, 2008 by in Muhasabah and tagged .
%d bloggers like this: