Angin

To run where the brave dare not to go

Mediokritas Itu Menjadi Modal

Hari-hari ini kembali otakku mengajaku berpikir tentang rencana-rencana. Barangkali hal ini disebabkan makin dekatnya waktuku untuk mengakhiri kuliah di ITB. Insya Allah bulan Maret atau selambatnya bulan Juli tahun depan aku akan melangkahkan kaki menuju kehidupan yang lebih nyata. Sahabatku mengistilahkannya dari danau menuju lautan luas. Dunia nyata yang tak ada ampun bagi kesalahan, zero mistake, katanya.

 

Dan aku bersyukur bahwa aku menyadari hal ini. Aku justru bersyukur dengan keresahan ini. Itu artinya Allah swt masih mengingatkanku untuk selalu terjaga dalam jalan hidup yang hendak aku pilih. Hidup adalah pilihan-pilihan. Ia adalah rentetan-rentetan cabang yang harus dipilih. Dan kita bebas memilihnya, itulah salah satu esensi kemanusiaan kita. Sebuah amanah yang harus dipikul demikian berat hingga gunung, bumi, dan langit menolaknya karena demikian takut (QS. Al Ahzab: 22). Kita bebas memilih hendak kemana, mau jadi apa kita. Namun sedikit pun kita tidak bisa bebas memilih ujung dari jalan yang kita pilih itu. Dan setiap orang hanya akan memetik apa yang telah ditanamnya. Tidak akan tertukar sedikit pun. Maka apakah balasan bagi kebaikan selain kebaikan pula (QS. Ar Rahman: 60).

 

Keresahan ini adalah kesempatan bagiku untuk terus mencocokan mata kompas dan peta yang aku pegang. Betapa banyak teman-temanku yang lain yang barangkali (mudah-mudahan prasangakaku salah) sekedar melewati fase akhir pendidikannya di ITB dengan sekedar cepat lulus agar segera mendapat pekerjaan yang baik. Masalahnya bukan hendak menjadi apanya, tapi mengapa mereka memutuskan hal itu. Demikian hal yang seringkali dilupakan banyak orang yang aku temui.

 

Apa-apa yang telah terjadi khususnya selama empat tahun kebelakang juga membawaku kepada pemikiran akan hal ini. Tentu saja banyak hal yang harus disyukuri, namun rasa-rasanya lebih banyak lagi yang hatus diistighfari. Empat tahun lalu aku masuk ITB dengan prestasi ranking ke-5 dari seluruh siswa di SMA 3, namun sekarang IP ku sangat biasa. Hapalanku juga tidak banyak yang bertambah. Prestasi tidak ada yang bisa kuraih selama di kampus ini. Amanah dakwahku juga tidak ada yang spesial. Percepatan diriku sangat lamban, linear, bahkan gradiennya cenderung negatif. Karakter dan kebiasaan baik pun tak kunjung kumiliki dengan dawam. Semuanya sangat biasa. Sangat-sangat mediocre.

 

Dan apa yang terjadi diriku bagaimana pun adalah skenario Allah swt. Aku yakin bahwa yang telah terjadi inilah yang terbaik bagiku. Kegagalan demi kegagalan, keterpurukan dalam akademis, nihil prestasi, dan yang lainnya adalah bekal terbaik untuk mengarungi sisa hidupku. Bahwasannya aku sadar bahwa selama ini aku tidak berbuat apa-apa, aku sadar bahwa selama ini terlalu banyak nikmat yang aku abaikan, bahwa selama ini aku telah mengkhianati kesadaran diriku sendiri. Mudah-mudahan itu semua adalah percikan api yang akan memantik energi yang tersimpan di dalam diriku ini. Mudah-mudahan rasa malu ku selama ini begitui besar sedemikian rupa sehingga mendorongku melewati energi aktivasi yang akan membawaku kepada state berikutnya.

 

Dan lagi semua ini Allah siapkan agar aku lebih mengenal diriku. Aku gagal agar aku tahu apa yang akan selalu membuatku gagal, sehingga aku bisa mengalahkannya. Aku telah bertansformasi dari seorang remaja yang sangat bersemangat menjadi seorang anak muda yang bersemangat dan tahu bagaimana menjaga semangat itu selalu menyala. Aku bertansformasi dari seorang yang memiliki idealisme menjadi seseorang yang memiliki idealisme dan tahu bagaimana membawa idealisme itu ke atas tanah bumi manusia.

 

Tinggal sekarang aku harus berpikir keras untuk menentukan lebih teknis dan praksis apa yang harus aku lakukan ke depan. Dan beberapa bayangan sudah muncul di benak.

12 comments on “Mediokritas Itu Menjadi Modal

  1. kertaskuning
    June 27, 2008

    Memang, terkadang kita selalu merasakan ada yang bermasalah dalam diri kita ini…. Semua orang seperti itu.

    Perbaikan itu akan datang bila kita husnudzan padanya dan berharap yang terbaik dengan langkah paling strategis yang kita buat menuju tujuan yang telah kita tetapkan. Bukan sekedar basa-basi dan argumentasi mentah untuk menetapkan proporsi langkah strategis tersebut.

    dan juga bukan excuse…Kadang untuk menutupi kebersalahan diri itu kita membuat jutaan excuse yang memprlihatkan betapa pecundangnya kita di mata dunia dan waktu.

  2. Muhammad Rihan Handaulah
    June 28, 2008

    kadang kala pembenaran dan pembelajaran begitu tipis bedanya, tapi keduanya jelas beda! Pembenaran hanya lahir dari seorang pecundang.

  3. arifrahmanlubis
    July 1, 2008

    kita perlu momentum.

    kelulusan adalah salah satu momentum besar untuk melejitkan diri dimasa mendatang.

    jadi, kedepan mau jihad di medan apa bro?

  4. elgafitri
    July 1, 2008

    bukannya rihan udah punya rencana jangka panjang yang kongkrit dan step2 nya? -dapet bocoran :D-

    tulisan rihan bikin gw merinding.. ya, lemas rasanya menyadari banyak waktu dan kesempatan yg tersia-siakan. beruntung Allah masih memberikan alarm ke kita.

    makasih diingatkan.. selamat bertransformasi!🙂

  5. Muhammad Rihan Handaulah
    July 4, 2008

    @fitri
    fitri intel-nya banyak ya, tahu rahasia sepenting itu, saya aja ga tahu😉 yah, beginilah awak sekarang, mudah-mudahan bermanfaat tulisannya

    @kang arif
    lihat aja nanti kang, yang pasti insya Allah peraang besar di 2009 akan menjadi fokus kita.

  6. Muhammad Rihan Handaulah
    July 4, 2008

    @fitri
    mau dong alamat blog fitri?

  7. leonardo
    July 5, 2008

    Smangat bos,,
    Boleh tuh di share ttg rencananya,,
    Siapa tahu bisa saling melengkapi,,

    Btw gambar di postingan terakhir bagus2,,
    Dapat dmana han..?

    Okelah bro,,
    Selamat berjuang menjawab amanah jiwanya,,
    See you at the top..!!

  8. AhmadRidwan T. Nugraha
    July 6, 2008

    perlu disusun peta hidup yang lebih baik🙂

  9. Muhammad Rihan Handaulah
    July 6, 2008

    @Leo,
    tengkyu dah mampir. Sebetulnya itu dapet dari NG. Tapi saya juga punya kok, gambar yang saya ambil sendiri, gak kalah keren dari yang itu😉 belum sempet dikeluarin. Amin. Berjuang ampe titik darah penghabisan bru!!!

    @madrid
    selain peta, ada dua alat lagi yang harus dimiliki seorang petualang; kompas dan jam.

  10. ika
    July 10, 2008

    “Amanah dakwahku juga tidak ada yang spesial.”

    :)…akhi..bukankah setiap amanah, sekecil dan seremeh apapun itu, ia selalu spesial? Totalitas dalam menjalankannya, sekecil apapun amanah itu, Insya Allah akan selalu membawa hikmah yang berarti.

  11. idho
    August 14, 2008

    Gejala aktivis …

  12. Muhammad Rihan Handaulah
    August 18, 2008

    subhanallah, mkasih teh Ika mengingatkan..

    hmm, saya merefleksikannya sebagai sebuah muhasabah, bahwa selama ini belum ada sebuah prestasi yang saya ukir dalam amanah-amanah dakwah yang saya emban..

    Mudah-mudahan jadi pelajaran, khususnya menyongsong perang besar ke depannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 27, 2008 by in Muhasabah and tagged , .
%d bloggers like this: