Angin

To run where the brave dare not to go

Di Semester Terakhir

Hwaaaaa… Subhanallah, Alhamdulillah, ALLAHU AKBAR!!! Teu karasa, ITB tereh rengse sakeudeung deui…

 

Ini adalah saat-saat yang luar biasa, berlipat-lipat emosi menderu-deru dalam perasaan, begitu pun rencana-rencana menari-nari terus dalam pikiran. Inikah masa-masa seorang mahasiswa mengalami sindrom TA? Katanya menjadi SWASTA Mahasiswa tingkat akhir, mahasiswa sedang TA, atau mahasiswa susah TA, sama saja artinya. TA adalah singkatan dari Tugas Akhir walau ada juga yang mengartikan tholabul akhwat (untuk ikhwan) atau tholabul abi (untuk akhwat), bahkan beberapa kawan yang apatis lebih suka memaknai TA dengan ”teuing Ah!”. Walah-walah, edun euy…

 

Inikah saat-saat yang dicari empat tahun lalu? Saat berngantuk-ngantuk, berjuang belajar untuk SPMB? Ngantri sana sini ngurus pendaftaran SPMB? Hingga berdegup-degup ria jantung ini menerima takdir pada suatu sore, ba’da magrib di sebuah warnet menerima takdir bahwa ”anda diterima di 250841 (kode urusan Teknik Elektro ITB waktu itu)”. Dengan gagah jumawa kaki ini melangkah ke kampus Ganesha 10, pertama kali ialah mengambil kit daftar ulang di GSS ITB, esok harinya ngantrii panjaaanngg di Sabuga untuk menjemput takdir yang kedua; menyaksikan angka tercetak di bawah nama saya di KTM ”M. Rihan Handaulah, NIM: 13204141)”. Delapan angka berjuta kenangan, kesedihan, penderitaan, kebanggaan. Mulai dari tersenyum-senyum sendiri (bangga, bukan gila) waktu awal-awal menerima KTM, ”alhamdulillah, budak ITB euy!”. Deretan angka yang selalu menemani waktu kaderisasi HME. ”Interupsi SENIRO! M. Rihan NIM 13204141 izin bertanya/ menjawab”. Hingga yang paling tragis kalau melihat di papan pegumuman 13204141 D atau 13204141 E. Sekeluarnya dari Sabuga kami disambut kakak-kakak HME dan ME (muslim elektro) yang ramah-ramah dan baik hati (tidak seperti jurusan lain yang sinis dan kejam). Saya masih ingat waktu itu kami diberi dua pin yang imut-imut. Satu pin lambang ME, satu lagi pin HME yang ada tulisan OK CHAMP!. Sayang keduanya sudah raib entah kemana.

 

Memulai Perjalanan di TPB (Tahap Paling Bahagia)

Hari-hari berikutnya yang tentu sangat berkesan adalah OSKM. Barangkali angkatan 2004 adalah angkatan terakhir yang beruntung merasakan gairah dan totalitas kemahasiswaan ITB yang tumplek di OSKM. Dari yang hitam sampai utih, yang paling suci hingga paling hina tumpah ruah di OSKM 2004 membentuk sebuah harmoni warna-warni yang indah dipandang dan tentunya layak dikenang. OSKM 2004 temanya keren yaitu perwayangan. Kami dipanggil Satria-Srikandi dan kami memanggil panitia Kawula. Ada empat kawula yaitu Rahwana (marah-marah wae gawena sebagai TaDis), Mandala (Keamanan andalan), Husada (Hadir untuk kesehatan anda), dan Punggawa (prajurit unggulan gagah dan jumawa sebagai Taplok (tatib kelompok/ pendamping)). Tema OSKM 2004 ialah ”Dari ITB untuk Bangsa” dengan pokok materi; Identitas-Intelektualitas-Kebangsaan-Kemahasiswaan.

 

Di OSKM itu juga saya bertemu pertama kali dengan salah seorang kreator OSKM kami yang super keren itu yaitu alm. Sigit Firmansyah (EL’01, sang Ketua Tim Materi yang mengonsep acara OSKM). Bicara tentang beliau, ia adalah legenda, teladan yang akan selalu dikenang orang yang pernah mengenalnya dengan kepemimpinan, kecerdasan, prestasi akademik dan karya keelektroannya, hingga pergaulannya sebagai da’i yang diterima dan dikenal luas oleh massa ITB. Saya terkesan di OSKM saat beliau menjadi fasilitator lingkar wacana tentang peran dan kontribusi mahasiswa bagi bangsa. Sejak saat itu beberapa kali kami bertemu dan ngobrol, khusunya tentang dakwah dan kemahaiswaan. Perkenalan saya dengan Kang Sigit di dunia hanya sekitar tiga bulan. Saat itu, Ramadhan empat tahun lalu, sekitar bulan Oktober ada SMS ke HP saya ”Innalillahi wa innailaihi raaji’un, telah berpulang akhuna Sigit Firmansyah dan ayahnya dalam kecelakaan motor saat mudik di Tegal…” Sekarang yang paling saya ingat tentang beliau adalah quote-nya yang saya temukan di bukom Kabinet KM ITB: ”SURGA HANYA MENEMUKAN DEFINISINYA DI HATI PARA PEJUANG (alm. Sigit Firmansyah)”. Semoga Allah swt mempertemukan kita di surga, kang… sebagai para pejuang.

 

Masa-masa awal di ITB masih diliputi dengan euforia kemenangan masuk ke Institut Terbaik Bangsa, disambut dengan spanduk Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa. Juga euforia menjadi seorang ADK (Aktivis Dakwah Kampus) yang dikenalkan dengan doktrin-doktrin perjuangan untuk memperbaiki bangsa ini dan mengembalikan Izzaah Islam wal Muslimin, dengan salah satu jargon yang paling saya ingat ”Antum arruhul jadiid fii jasadi hadzihil ummat”. Salah satu kawah ideologisasi saya ialah Majelis Ta’lim Salman ITB selama tahun pertama di ITB yang sangat kental dengan nuansa haraki. Di Mata’ saya mengikuti hampir seluruh program pembinaannya, mulai dari DPAA (Daurah Pembinaan Anggota Awal) di Masjid Al Fitrah PT. PINDAD, DPKD (Daurah Pembentukan Kader Dakwah) di Al Mu’minun, Lembang, dan terakhir DPAL (Daurah Pembinaan Anggota Lanjut) di BGG, Jatinangor. Saya pun termasuk angkatan terakhir yang masih merasakan Latihan Mujahid Dakwah dengan format asli seperti sejak zaman Bang Imad di Salman dengan konsepsinya: Iman-Hijrah-Jihad. LMD 156 di Ciburial. Salah satu materi yang paling kuat tertanam adalah materi ”Ma’alim fii Thariq” berupa bedah buku yang ditulis oleh Asy Syahid Sayyid Quthb yang dihukm gantung oleh rezim Gamal Abdul Nasser karena menulisnya. Tentu yang paling berkesan adalah Audio Drama tentang Detik-Detik Terakhir di Kehidupan Rasulullah. Saya akan selalu mengingat ”Satu Bintang”-nya Hadad Alwi, bintang-bintang di langit malam itu, dan tentu saja kalimat terakhir malam itu, ”Ummatii.. ummatii.. ummatii..”.

Bersambung…

3 comments on “Di Semester Terakhir

  1. tmroffi
    September 22, 2008

    Indahnya bisa meraih makna terbesar dari semua pengalaman hidup ini. Saya juga baru aja menulis tentang betapa besarnya karunia Allah melancarkan jejak-jejak kaki menempuh hidup di ITB. Udah setengah perjalanan, InsyaAllah.
    Izin link blognya ya kang

  2. masukitb
    October 13, 2010

    Halo,

    Salam kenal. Kami suka dengan tema tulisan kamu tentang pengalaman merasa pernah salah jurusan di ITB.

    Begini, LPM ITB sedang membuat situs antarmuka untuk menjembatani mahasiswa- alumni ITB, dengan siswa SMU dari seluruh Indonesia, yang berminat ke ITB, untuk bisa bertukar informasi. Tujuannya, adalah untuk mengurangi kasus “salah pilih jurusan” sebelum memutuskan masuk ke ITB, juga membuat siswa SMU mengenal lebih dekat kehidupan mahasiswa ITB, dengan harapan, mereka bisa mengoptimalkan waktu belajarnya di kampus.

    Kalau Kamu bersedia, silakan berkunjung, berdiskusi, berbagi, dan jangan lupa untuk menjawab keingintahuan siswa- siswa SMU dari seluruh Indonesia, tentang ITB.

    Oh iya, tulisan ini juga bisa lho, kalau mau diposting

    Regards,

    Layanan Produksi Multimedia ITB
    http://www.masukitb.com
    http://multimedia.itb.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 28, 2008 by in Muhasabah.
%d bloggers like this: