Angin

To run where the brave dare not to go

Ramadhan-Ramadhanku

Setiap Ramadhan selalu memberi kesan yang unik. Pesan yang dtinggalkan olehnya saat kami berpisah biasanya berbeda dari Ramadhan ke Ramadhan lainnya. Tahun lalu pesan Ramadahan yang aku ingat ialah kecintaan dan meneladani akhlak Rasulullah saw. Sedangkan Ramadhan tahun ini meninggalkan pesan yang kuat akan ibadah, keikhlashan, dan kerinduan yang mendalam terhadap surga. Yang paling aku syukuri ialah, semangat dan kekhusyuan yang kembali meningkat dalam beribadah kepadaNya, beristighfar, tahmid, dan tasbih. Setidaknya relatif lebih baik dari bulan Sya’ban kemarin. Sebagai sebuah kenangan untuk menyemangati saat dibutuhkan, kubuka file-file ingatanku mengenai Ramadhan-Ramadhan yang telah berlalu.

Ramadhan saat SD dan SMP di Ciputat

Yang aku ingat aku pertama kali berhasil menyelesaikan shaum Ramadhan dengan lengkap ialah waktu aku masih duduk di kelas satu atau dua. Hingga seterusnya alhamdulillah Allah swt lewat kedua orang tuaku yang mulia telah menanamkan rasa tanggung jawab dan kesadaran untuk menaati perintah-Nya. Belum pernah aku seperti teman-teman lain, curi-curi makan di siang hari. Walau demikian memang seperti halnya anak-anak, Ramadhan full kuisi dengan bermain dan tidur dari fajar hingga maghrib. Jadwal hariannya adalah sebagai berikut; tidur hingga pukul 10 pagi. Lalu bermain hingga maghrib. Permainan kami saat itu dibagi dua yaitu indoor dan outdoor. Permainan indoor berupa monopoli, ludo, ular tangga, Nintendo, dan karambol. Sedangkan menu permainan outdoorrnya ialah bersepeda keliling kampung-kampung di Ciputat, atau mencari ikan di sawah.

Oh ada lagi, yaitu menu permainan malam yang dilakukan tarawih dan bada tarawih. Ialah membuat keributan dan saling mengganggu saat salat tarawih berlangsung dengan berbagai modus operandi; domino effect saat ruku’, menarik sajadah sampai terjatuh, berlomba berteriak Amiin paling keras dan aneh, hingga menggoda jamaah putri yang merupakan incaran anak-anak. Alhamdulillah waktu itu aku hanya menjadi pasivis saja, tidak melakukan tapi menikmati, hehehe. Nah agenda bada tarawihnya lebih seru lagi, apalagi kalau bukan pesta petasan. Mulai dari petasan paling kecil yang disebut ceplik yang harganya 50 rupiah, petasan korek yang cara penggunannya seperti menyalakan korek api, petasan roket yang disebut jangwe, petasan kentut yang mengeluarkan bau kentut, petasan neon yang menyala sangat terang, petasan air mancur, hingga petasan kelas kakap yaitu petasan teko yang ledakannya luar biasa keras seperti bom. Soal petasan ini orang tuaku sangat keras melarang, karena tentu saja khawatir keselamatan anaknya. Sehingga paling-paling aku hanya bermain petasan neon atau kembang api yang tidak berbahaya. Pada waktu itu kami tidak hanya bermain petasan, tetapi tepatnya perang petasan dengan anak-anak komplek atau kampung lain. Seru pisan, bahkan sampai bikin senjata bazoka, yaitu petasan jangwe yang diluncurkan dengan pipa paralon. Walau kadang jatuh korban juga, ada seorang temanku yang tangannya terluka parah karena petasan teko yang hendak dilemparkan balik olehnya ke arah musuh malah meledak di tangan. Nah, perang yang lebih serius seperti itu dilakukan tidak di sekitar kampung kami, tetapi di Lebak yaitu area tanah gusuran yang sangat luas, area perumahan yang tidak jadi dibangun.

Beranjak SMP tentunya aku lebih bisa memaknai Ramadhan. Saat itu aku mulai mengisi Ramadhan dengan serius seperti menyimak ceramah ustadz di televisi, mengikuti kajian-kajian bersama bapak, hingga membaca bacaan-bacaan Islam. Man of the match saat itu siapa lagi kalau bukan KH Zainuddin MZ, bettul? Saat itu beliau sedang naik-naik daunnya dan dikontrak oleh salah satu stasiun TV yang menyiarkan ceramah live-nya dari berbagai kota. Oh, ada satu bacaan yang paling berkesan. Sebuah booklet, suplemen khusus Ramadhan 1419 H dari majalah Sabili. Isinya ialah berbagai artikel seputar Ramadhan. Saya lupa isi persisnya tapi saat itu booklet kecil itu sangat mengubah cara pandang saya. Saat SMP juga saya mulai membaca bacaan-bacaan Islam yang lebih serius yaitu buku-buku tulisan Quraish Shihab yang merupakan favoritnya Bapak seperti Lentera Hati, Membumikan Al Quran, dan Wawasan Al Quran. Ada juga buku lain yang sangat saya suka judulnya yaitu Mengapa Aku Memilih Islam, isinya tentang pengalaman para mualaf. Buku ini cukup memberikan topangan akidah bagiku yang masih SMP.

Suasana yang khas dan tidak akan terlupakan, khususnya setelah saya berpisah dengan keluarga, ialah saat-saat sahur, buka, membantu ibu membuat kue-kue Ramadhan, hingga mudik ke Bandung. Sangat mengharukan dan menceriakan jika dikenang. Saat berkumpul di rumah, memutar lagu-lagu Bimbo. Saat-saat mudik yang penuh perjuangan, lari-lari mengejar bis di Terminal Kampung Rambutan atau Terminal Kebon Kalapa saat baliknya. Ada strategi khusus yang selalu kami pakai dan alhamdulillah bekerja dengan efektif. Setiap ada bis yang datang maka berdua dengan bapak aku mengejar bis, berebut pintu masuk lalu memburu tempat duduk. Ibu, adik-adik yang saat itu masih kecil, serta barang bawaan menunggu di bawah. Setelah tempat duduk di dapatkan bapak turun lagi mengambil barang dan menjemput ibu, sedangkan aku menjaga kursi di atas bis. It really works. Walau pernah suatu saat aku nyaris terbawa karena bis segera pergi begitu terisi penuh sedangkan ibu dan bapak belum naik. Alhamdulillah saat ituu kami masih selamat.

Ramadhan di Bandung

Inilah fase pendewasaan dalam hidupku. Aku berangkat ke Bandung tidak hanya untuk menimba ilmu di SMAN 3 Bandung, sekolah nnegeri terbaik di Jawa Barat, tetapi juga menyiapkan mental dan menempa karakter untuk lebih mandiri dan dewasa. Maka ramadhan-Ramadhan yang kualami kemudian pun tidak lepas dari nuansa itu. Karena masih belum terlalu lama berselang di sini akan aku tuliskan pengalaman-pengalaman Ramadhanku tiap tahunnya.

Ramadhan 1422 H. Ramadhan pertama selepas dari keluarga di Ciputat. Kondisi aku secara umum pada awal-awal itu cukup buruk yang ditandai dengan kondisi fisik yang sakit-sakitan hingga berimbas pada nilai raport yang jatuh bebas. Barangkali sebuah shock teraphy lepas dari orang tua. Termasuk juga di Ramadhan saat itu aku diuji dengan sakit tifus sekitar satu minggu. Walau demikian aku masih sempat mengisi Ramadhanku dengan menjadi panitia Dialog Ramadhan yang diadakan oleh FORMAI, remaja masjid di Maleer. Saat itu aku diamanahi sebagai sekretaris, sedangkan saat itu adalah pengalaman organisasiku yang pertama dalam memegang amanah. Tetapi karena sakit aku diungsikan ke Jakarta sehingga tidak sempat menikmai hasil kerjaku sendiri.

Ramadhan 1423 H. Pekerjaan besar yang aku selesaikan di Ramadhan ini ialah sebagai Ka Dep Tarbiyah DKM Al Furqan dan panitia sanlat di SMAN 3. Sanlat kami namanya Liga Premier (singakatannya lupa). Mungkin itu slaah satu sanlat paling keren yang pernah diadakan oleh DKM Al Furqan dengan pembicara yang hebat seperti ust Hari Roesli, acara yang variatif, hingga penyiapan venue yang optimal. Bahkan kami panitia harus menginap selama beberapa hari untuk acara yersebut. Alhamdulillah beberapa pasangan pacaran putus setelah mengikuti sanlat tersebut.

Ramadhan 1424 H. Ini adalah Ramadhan yang paling aku kenang. Ia datang di puncak-puncak proses pematangan indentitas keIslamanku dan shibghah corak ideologisku. Ia hadir pada kondisi percepatan paling optimal dalam hidupku saat aku membentuk kerangka pikir dan cara pandangku. Ada satu momen penting dalam hidupku terjadi saat itu. Pada suatu sore aku bersama tiga sahabatku Irfan, Hariyadi, dan Arif mengikuti kajian bedah buku Manajemen Kematian tulisan Ustad Khozin Abu Faqih, saat itu yang menjadi pembicara adalah Ustad Hilman Rosyad Shihab, Lc. Bukunya tipis, tetapi aku merasa buku itu menjadi salah satu buku yang paling mewarnai hidupku selain buku-buku yang lain yaitu; Model Manusia Muslim, Mencari Pahlawan Indonesia, dan Dari Gerakan ke Negara-nya Ustad Anis Matta, serta Diirasat fil islam serta Fii Zhialil Quran Sayyid Quthb, dan terakhir Seven Habits-nya Covey. Kembali ke buku Manajemen Kematian, buku itu memberi bekal cara pandang yang sangat kokoh dan mendalam bagaimana kita menyikapi kematian. Dan menyikapi kematian berarti menyiapkan sisa kehidupan kita. Yang paling aku ingat adalah hadits qudsi tentang tiga orang yang dimasukan ke neraka; penghapal quran, orang yang gugur di peperangan membela Islam, serta penderma. Ketiganya dicampakan ke neraka karena mereka menduakan Allah swt dalam niatnya. Pada buku itu juga aku mendapat kesan yang kuat tentang mati syahid dan kematian orang-orang shalih. Salah satu perkataan Sayyid Quthb dalam buku itu yang paling aku ingat ialaha “Barangsiapa hidup untuk dirinya sendiri maka ia mati sebelum hidupnya berakhir, dan barang siapa hidup untuk sebuah fikrah yang ia perjuangkan maka usianya berakhir sepanjang sejarah itu berakhir”. Ramadhan saat itu aku akhiri dengan sempurna itikaf empat malam di Salman dan tiga malam terakhir di Habiburrahman. Pagi itu, 30 Ramadhan 1424 H aku keluar pulang dari Habiburrahman. Di dekat landasan pacu Husein Sastranegara aku melihat langit pagi yang terindah yang pernah kulihat dalam hidupku.

Ramadhan 1425 H. Ramadhan pertama menyandang status baru; mahasiswa. Saat itu sudah musim UTS dan juga Allah swt menguji dengan sakit cacar air selama satu minggu. Alhamdulillah masih kebagian itikaf dalam satu pekan terakhir. Tahun itu itikaf kulakukan di Salman. Aku juga mengajak sepupuku, Bardan. Man of the match-nya adalah akhuna Azis, Teknik Kelautan ’99, kakak kami yang ustadz Tahsinnya Majelis Ta’lim Salman. Ia yang paling mewarnai Ramadhanku saat itu dengan ilmu tahsinnya yang membawaku pada level yang lebih tinggi dalam hal interaksi dengan Al Quran.

Ramadhan 1426 H. Saat itu aku diterima di Asrama Salman bersama dua puluh orang saudaraku yang lain. Saat itu aku mengangkut barang dari rumah bersama dengan sahabatku Oki dengan mobilnya yang saat itu belum dijual. Teman sekamarku ialah Julian dan Januar. Salah satu kenangan saat itu adalah lagu Alhamdulillahnya Opick beserta lagu lain di albumnya yang pertama yang sangat sering diputar oleh Januar dan juga aku sukai. Serta album Kemenangan-nya GIGI serta album religi Ungu yang pertama yang lagunya Surga-Mu merupakan favoritnya sahabatku, Dani Badra. Pertama kalinya Ramadhan lepas dari keluarga. Bagaimana rasanya kesulitan mencari sahur jika bangun terlambat atau terpaksa dengan menu sisa di kantin Salman. Ba’da Ramadhan saat itu digunakan untuk berlibur ke Jogja bareng Army dan Bardan. Itu pertama kali keluar Jawa Barat selain Jakarta.

Ramadhan 1427 H. Ramadhan kedua sebagai anggota Asrama Salman. Salat ied kedua sebagai panitia di ITB. Saat itu juga ada seleksi pertukaran pemimpin muda Indonesia-Australia. Aku mencapai tahap terakhir yaitu interview dengan professor-profesor dari Australia National University, NUS, serta perwakilan kedutaan besar Australia. Saat itu adalah tanggal 19 Ramadhan, dan Allah belum mengijinkan. Salah satu sebabnya adalah sama sekali tidak ada persiapan dan Bahasa Inggrisku yang sudah lama tidak digunakan sehingga tumpul. Saat itu juga NEEO Youth Development Center masih eksis dan mendapatkan proyek Sanlat di SMA Darul Hikam selama tiga hari. Sealin itu juga NEEO mendapatkan proyek Sanlat yang disponsori oleh pemprov di daerah Padasuka. Soundtrack Ramadhan tahun itu ialah album Taqwa Opick; Taqwa, Takdir, Irhamna, Semesta Bertasbih, dan yang lainnya. Juga album religi Ungu yang kedua yaitu Para Pencari Tuhan.

Ramadhan 1428 H. Itikaf di Salman, kecuali dua malam di Habiburrahman. Yang berkesan saat itu ialah membantu panitia itikaf Salman yang merupakan teman-teman yang pernah tinggal bersama sewaktu aku masih di Asrama Salman. Ramadhan tahun itu ialah Ramadhan pertama selepas aku dari Asrama. Jadi saat itu aku pertama kali menjadi outsider Salman (Asrama). The best moment saat itu adalah kajian Hadits dan Sirah Nabawiyah yang dibawakan oleh Ustad Hervi Firdaus, Lc, Al Hafizh. Betapa hampir setiap kajian itu aku menangis mendengar kajian tentang akhlak dan perjalanan dakwah Rasulullah saw yang disampaikan dengan sangat indah oleh beliau. Saat itu juga aku diperkenalkan dengan murattal Syaikh Al kanderi oleh anak-anak asrama yang saat itu sedang hot-hot nya. Sampai saat ini beliau adalah qari’ terbaik menurutku dengan alunan tilawahnya yang indah dan mendayu.

5 comments on “Ramadhan-Ramadhanku

  1. arifrahmanlubis
    October 7, 2008

    assalamualaikum wr wb

    akhi, saya mengundang antum menghadiri akad dan walimah saya, tgl 19 oktober 2008 di smu 8 bandung🙂

  2. rbahtiar
    October 11, 2008

    gw tau pasti nyari ikannya di nirwana yah..ia gw juga inget waktu gw smp dulu di situ tiap pagi bulan ramadhan pasti perang petasan..dan sering makan korban..

    -bahtiar-

  3. Muhammad Rihan Handaulah
    October 11, 2008

    ya, seperti itu tepatnya

  4. hariyadi m
    October 15, 2008

    weuy…lain hari roesli…hari mukti…

  5. pipa pvc
    October 15, 2014

    Hallo, terima kasih atas postingannya, sangat berguna sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 1, 2008 by in Muhasabah and tagged , .
%d bloggers like this: