Angin

To run where the brave dare not to go

Seperti Sayyid Quthb

Seandainya kau tangisi kematianku
Dan kau siram pusaraku dengan air matamu
maka di atas tulangku yang hancur luluh
nyalakanlah obor buat umat mulia ini
dan teruskan perjalanan ke gerbang jaya

Kematianku adalah suatu perjalanan
mendapatkan kekasih yang sedang merinduku
taman-taman di surga bangga menerimaku
burung-burung berkicau riang menyambutku
bahagialah hidupku di alam abadi

Seandainya kau tangisi kematianku
Dan kau siram pusaraku dengan air matamu
maka di atas tulangku yang hancur luluh
nyalakanlah obor buat umat mulia ini
dan teruskan perjalanan ke gerbang jaya

Kuasa kegelapan pasti akan hancur
dan alam ini akan di sinari fajar lagi
biarlah rohku terbang mendapatkan rinduNya
janganlah gentar berkelana di alam abadi
nun di sana fajar sedang memencar

Penggalan wasiat asy syahid sayyid Quthb di atas mengingatkan aku pada penulisnya. Kematiannya menjadi obsesi banyak pejuang Islam yang terobsesi menjadi penerusnya. Apalagi yang lebih indah dari menjemput kematian dalam memperjaungakan aqidah dan risalah para anbiya yang mulia ini. Sebelum dieksekusi di tiang gantungan, beliau diminta oleh si Algojo untuk mengucapkan kalimat syahadat sebagai prosedur standar dalam menjalankan tugasnya sebagai algojo. Tahukah apa kawaban asy syahid? Ia mengatakan “Untuk apa aku mengucapkan syahadat lagi, sedangkan aku justru mati karena mempertahankannya”.

Sesungguhnya keberanian sikap dan ketegaran tekad sekuat itu tidak hadir begitu saja. Ia hadir karena sebuah proses yang panjang dan melelahkan. Maka kematian adalah seni kehidupan. Kita tidak dapat memilih, hendak seperti apa terlahir. Tetapi setiap manusia bisa memilih, bagaimanakah ia akan mati? Sebagai apakah ia akan dikenang? Atas apakah ia mati? Dalam amalan dan misi perjuangan menegakkan kalimat tauhidkah< yang akan membuat ruhnya segera ke langit dalam harum semerbak disambut oleh ruh-ruh suci malaikat. Ataukah ia meninggal bergelimang lumpur duniawi, yang bahkan kehidupannya sudah berakhir sebelum kematian biologisnya?

Hendak apakah kita mati, maka itulah seni kehidupan. sunnguh indah misteri kematian. Sebab ia membuat manusia nselalu terjaga untuk menjaga agar sisa hidupnya berakhir dengan kematian yang indah. Dan misteri kematian adalah pengadilan bagi manusia-manusia hina yang hidupnya bergelimang kedzaliman, dan bahkan ia tidak mau bermaaf dan memperbaiki sisa hidupnya.

Beranikah kelak kita mengatakan kepada umat Islam yang ada saat ini dan pada masa yang akan datang untuk “Menyalakan obor umat ini dengan tulang belulangku’…

One comment on “Seperti Sayyid Quthb

  1. Taufiq
    October 17, 2008

    kalo gak salah, penggalian wasit itu menjadi bait-bait dari salah satu nasyid …..jadi merinding juga menapaktilasinya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 14, 2008 by in Pergerakan dan Peradaban and tagged , .
%d bloggers like this: