Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan dari Catatan Hati Seorang Istri

Minggu lalu saya membeli sebuah buku tulisan Asma Nadia yang bertema keluarga dan pernikahan yang judulnya Catatan Hati Seorang Istri. Buku ini semacam memoar, yang dialami bukan hanya oleh penulisnya sendiri melainkan juga pengalaman perempuan-perempuan lain yang dituliskan oleh Mba’ Asma. Sebelumnya saya tidak terencanakan oleh saya untuk membeli ini, tetapi begitu melihatnya di rak Gramedia timbul rasa penasaran untuk membacanya. Karena saat itu saya teringat sebuah obrolan ringan dengan seorang kawan. Saya bertanya kepada kawan saya itu apakah mungkin kita yang aktivis dakwah lalu menikah dengan seorang wanita yang juga aktivis dakwah, akan mengalami kepahitan dalam bahtera rumah tangganya seperti pasangan artis yang kita lihat sehari tiga kali dalam acara gosip di televisi. Kawan saya menjawab lugas, ”ya mungkin saja”. Ia mengatakan ada sebuah buku yang menceritakan hal tersebut yang ditulis Asma Nadia. Saya pikir inilah buku yang dimaksudkan oleh kawan saya tersebut.

Buku ini terdiri dari belasan fragmen kehidupan rumah tangga yang ditulis dalam kisah singkat empat atau lima halaman, kecuali satu kisah seorang wanita yang mengalami kekerasan oleh suaminya seorang Belanda yang maniak yang dikisahkan sepanjang sepuluh halaman lebih. Kisah-kisah dalam buku ini dibuka oleh pengalaman Mba’ Asma saat ngobrol dengan seorang laki-laki mitra kerjanya yang membuat pengakuan pendapatnya tentang poligami. Lelaki itu mengakan dengan lugas bahwa jika ia menikah lagi maka itu murni karena ia suka perempuan itu.

Lalu ada kisah lain yaitu seorang istri yang sangat mencintai suaminya bahkan sangat bangga dengannya. Walaupun menurut pengakuan kakak sang istri, suaminya sangat buruk sikapnya dan juga gemar main wanita. Kemudian ada kisah lain dari pasangan aktivis dakwah. Ternyata sang suami bercerita bahwa sampai saat ini ia masih belum bisa mencintai istrinya. Sebab sang suami tidak tertarik kepada fisik istrinya sama sekali. Hal ini karena ia baru melihat wajah istrinya setelah menikah. Ia menyesal karena ia sama-sekali tidak melihat wajah calon istrinya saat bertukar biodata dan taaruf dengan alasan ingin menjaga keikhlashan dalam proses pernikahannya.

Ada juga cerita seorang wanita yang dengan tegar memilih untuk bercerai dengan suaminya. Sebab suaminya ia rasa tidak bertanggung jawab dalam menafkahi keluarganya. Pada awalnya masalah ini dari penghasilan si suami yang lebih kecil dari istrinya. Lalu sikap buruknya bertambah dengan si suami yang memeras hasil kerja keras sang istri. Kemudian bertambah-tambah lagi dengan sikap kasarnya terhadap istri. Di bagian akhir ada kisah yang menyentuh yang diceritakan Mba’ Asma. Yaitu sepasang suami istri tua yang miskin. Mba’ Asma bertemu mereka saat bakti sosial yang diadakan bersama rekan-rekannya. Mba’ Asma bercerita bahwa mereka, lelaki dan perempuan tua yang miskin itu, terpancar dari kedua wajahnya rasa cinta dan kasih sayang satu sama lain. Itulah beberapa kisah yang saya ingat dari buku tersebut yang tentunya tidak bisa saya kutipkan semua penggalan kisah dari buku tersebut. Karena yang ingin saya tuliskan disini kemudian adalah kesan dan pemikiran yang saya alami dari buku Catatan Hati Seorang Istri yang merupakan buku best seller ini.

Saya bersyukur menemukan buku ini karena buku ini bisa menjadi second opinion bagi lelaki atau wanita seusia saya yang biasanya mulai menderu-deru berbicara tentang pernikahan. Semangat untuk menikah tentunya sebuah keinginan yang mulia. Ia bersumber dari fitrah ilahiyah yang dibingkai dalam sunah nabawiyah. Dan tentunya proyek besar ini mestilah berawal dari niat yang lurus, bersama pemikiran yang benar, dan dieksekusi dalam rencana-rencana yang matang. Second opinion yang saya maksudkan yaitu berupa teguran dan peringatan kepada siapa pun yang sedang mempersiapkan pernikahannya bahwa pernikahan tidaklah seindah di Indahnya Pacaran Setelah Menikah, Kupinang Engkau dengan Hamdalah, atau Di Jalan Dakwah Aku Menikah.

Penggalan-penggalan kisah manusia dalam buku ini mengingatkan bahwa menikah adalah muara yang mengantarkan kita dari sungai menuju lautan lepas. Tentulah disana ombak ganas menanti, badai yang besar serta terumbu karang yang tajam mesti kita hadapi. Dan boleh jadi memang di sanalah Allah akan menguji hamba-Nya dengan ujian yang sangat besar. Bukankah ujian yang dihadapi Nabi Daud ialah istrinya yang meninggalkannya dalam kondisi sakit dan kepayahan. Atau istrinya Nabi Luth yang menolak beriman sehingga dibinasakan bersama orang-orang negeri Sodom. Seperti para akhwat yang mengharapkan ”Muhammad” malah mendapatkan ”Firaun”. Bukankah itu ujian yang dihadapi wanita shalehah sekaliber Siti Asiah. Bila kita calon Abi dan Umi mendamba Ismail, lalu Allah mengujinya dengan Kan’an bin Nuh yang ditenggelamkan. Atau putra-putra Ya’kub as yang dengki dengan adiknya, Bunyamin dan Yusuf, walau akhirnya Allah menyatukan kembali mereka semua. Bukankah mereka semua adalah orang-orang saleh dan mulia yang keluarganya justru manusia-manusia bebal.

Hanya Allah lah yang mengetahui apa yang akan dialami oleh saya, istri, dan anak-anak saya kelak. Sebagaimana seluruh aspek kehidupan ini, penting bagi kita untuk memandangnya dengan kacamata keimanan dalam hal amal dan takdir. Sebuah amal apa pun itu akan Allah swt ridhai jika lurus niatnya dan benar ikhtiarnya. Siapa pun yang ingin keluarganya menjadi jalan baginya ke surga haruslah memulai prosesnya dengan niat yang ikhlas. Niat yang ikhlas tidak akan muncul begitu saja. Niat adalah amal hati yang lahir dari cara pandang akan amal yang akan dilakukan beserta pemahaman akan urgensi ikhlas itu sendiri. Dalam hal pernikahan niat yang ikhlas akan muncul jika motivasi yang menggerakan untuk menikah ialah alasan-alasan ilahiah. Pertama, kita yakin betul bahwa ini adalah perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah saw. Kedua, kita memandang bahwa keluarga, anak dan istri, adalah investasi untuk meraih surga. Ketiga, kita memiliki definisi dan ukuran-ukuran yang benar mengenai kebahagian dalam berkeluarga. Harus jelas dalam kepala kita mana yang prinsip mana yang bukan dalam memilih pendamping, mendidik anak, serta mencari rezeki.

Kemudian faktor ikhtiar yang akan mengantarkan kita ke dalam keberkahan pernikahan. Ialah persiapan ilmu, ruhiah, mental, fisik, dan finansial. Kesiapan ilmu yaitu seberapa hukum-hukum, fiqih, serta etika dalam kehidupan rumah tangga sudah diketahui. Kesiapan ruhiah dapat diukur dari kualitas dan kuantitas ibadah mahdhah serta akhlak. Kesiapan mental dapat diketahui dari kapabilitas menanggung amanah-amanah yang ada sekarang serta kematangan dalam rencana-rencana hidup ke depan. Kesiapan fisik dan finansial relatif lebih mudah diukur antara lain riwayat kesehatan, kekuatan fisik, serta daya tahan tubuh (endurance). Sedangkan kondisi finansial dapat diukur dari rencana cashflow saat sudah berkeluarga serta dalam proses menuju pernikahan. Yang terakhir dan sangat penting ialah do’a. Do’a bertema keluarga cukup mendominasi do’a-do’a yang ma’tsur di dalam Al Quran. Do’a adalah tradisi nubuwah seperti yang dicontohkan oleh nabiyullah Ibrahim as dalam do’a-do’anya.

sinetron-catatan-hati-seorang-istri-rcti

3 comments on “Catatan dari Catatan Hati Seorang Istri

  1. karafuruworld
    December 14, 2008

    Hm… Tampaknya buku itu belum cocok buat saya, Kang…
    Takutnya malah jadi pengen… (pengen apa, ya?)
    Hehehe:mrgreen:

    • Muhammad Rihan Handaulah
      December 25, 2008

      justru.. saya sarankan baca buku ityu dari sekarang akhi..
      karena, ini sis lain dari kehidupan pernnikahan yang di buku-buku nikah islami populer, hanya dipotret sisi keindahannya saja.
      Buku ini bercerita kisah-kisah kelam dan memilukan

  2. ghani
    May 5, 2011

    salamkenal kang,
    saya hanya seorang blogwalker…tertarik sama artikel ini.kayanya saya juga mau beli deh.hehe
    terimakasih buat inspirasinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 17, 2008 by in Dakwah and tagged , , .
%d bloggers like this: