Angin

To run where the brave dare not to go

PEMILIH-PEMILIH DAN WAKIL RAKYAT BLOON

“Ah pusing, partai banyak banget, orang2 pada nampang tiba-tiba kaya bangkit dari kubur. Kertas suaranya juga gede banget. Bodo amat!!”
“gua gak yakin nanti bakalan milih apa gak, soalnya gua ngerasa kalo pemilu tuh cuman buang-buang duit puluhan triliyun, sedangkan hasilnya sama-sama aja, selama ini di Indonesia nyaris gak ada perubahan apa-apa”
“aku pikir… wakil-wakil rakyat gak ada yang bisa dipercaya, DPR penuh dengan korupsi, skandal cabul, juga orang-orang yang cuma bisanya tidur dan omong kosong. Juga partai-partai yang busuk-busuk, deketin rakyat kalau mau Pemilu aja sambil jual-beli suara. Semuanya rusak, gak ada yang pantes dipilih”
“Mau ada pemilu atau gak, gak ngaruh buat hidup gue, toh hidup gue juga masih ditanggung ama orang tua semuanya kok.”
“Ah, saya mah pilih nanti yang paling rame aja, dan paling keren dan gagah orangnya, atau yang banyak artisnya.. Daripada pusing-pusing kan?”
(Beberapa jawaban atas pertanyaan tentang pemilu, mau memilih yang mana)
Apakah jawaban kamu juga mirip salah satu di antaranya? Tulisan ini mencoba menjawab kebingungan teman-teman yang memilki jawaban seperti di atas. Pertama, saya akan bercerita tentang cerita bagaimana suatu hal yang kecil menentukan suatu hal yang besar. Begini ceritanya:

Kisah Si Culas dan Sesendok Air
Di sebuah kerajaan, seorang raja yang bijak mendapatkan ilham bahwa kerajaannya akan mengadapi masa merebaknya penyakit menular yang penyakit tersebut hanya bisa diobati oleh madu. Sang raja pun memerintahkan agar setiap orang menyerahkan sesendok madu yang harus dimasukan ke sebuah gentong di pusat kota setiap harinya. Sebagai persediaan obat saat penyakit menular tersebut merebak nanti.
Karena raja ini sangat mempercayai rakyatnya, setiap orang yang memasukan sesendok madu tidak diperiksa dengan ketat. Hingga ada seseorang, ia merasa dirugikan karena madu miliknya akan berkurang setiap hari. Oleh karena itu ia memiliki rencana. Bahwa ia tidak akan memasukan sesendok madu ke gentong tersebut, melainkan sesendok air! Toh, beberapa sendok air tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap segentong madu.
Beberapa waktu berselang, ilham Sang Raja betul-betul terjadi. Penyakit merebak dan persediaan madu di rumah-rumah warga sudah habis. Akhirnya gentong madu cadangan yang telah diisi dengan sesendok setiap hari tersebut harus dibuka. Sang Raja mengumpulkan rakyatnya di alun-alun, setelah berpidato menjelaskan kondisi yang terjadi, Sang Raja lalu membuka gentong tersebut. Tiba-tiba Sang Raja pingsan, syok. Di dalam gentong tersebut isinya air semua…

Begitu lah keadaan pemilu di negeri ini. Pada awalnya ada seseorang yang tidak bertanggung jawab dalam menentukan pilihannya. Kalau dahulu sebagian orang memilih karena status pekerjaannya, atau apa partai atasannya. Ada juga orang yang memberikan suaranya pada partai yang memiliki track record buruk karena partai tersebut memberinya kaos dan seamplop uang. Ada orang yang ikut-ikutan memilih partai yang kualitasnya belum jelas, hanya karena pesona kegantengan beberapa tokohnya. Atau memilih hanya sekedar iklannya paling sering muncul di TV. Dan berbagai bentuk pilihan irrasional lain. Hal inilah yang menjadi awal dari buruknya kondisi sebagian wakil rakyat kita.
Karena diawali oleh seorang. Hanya seorang yang tidak bersungguh-sungguh memilih pemimpin yang baik. Sekali lagi diawali dari seorang. Celakanya, ternyata orang lain yang berbuat sama pun sangat banyak. Dan begitulah hasilnya. Sama seperti seorang culas tadi, dan ternyata yang lain pun sama. Bayangkan kalau semua orang berpikiran yang sama atau apatis dalam Pemilu nanti? Mau seperti apa jadinya pemimpin-pemimpin di negeri ini? Tentu makin banyak video mesum anggota DPR, tentu KPK makin kewalahan menangkapi koruptor-koruptor Senayan, dan tentu masyarakat hidupnya makin susah karena wakilnya ialah orang-orang bloon yang bisanya hanya bolos rapat dan paling semangat kalau studi banding (baca: berdarmawisata) ke luar negeri. Yakinlah, orang-orang bloon bisa duduk di DPR bukan karena usaha mereka, tetapi karena ada orang-orang yang melakukan ke-bloon-an dalam bentuk-bentuk:
– Menjadi pemilih yang tidak bertanggung jawab seperti: memilih tanpa memperhatikan tuntunan agama (Al Qur’an dan Hadits) dalam memilih pemimpin, memilih karena politik uang, memilih karena simbol-simbol fisik semata (ganteng, cantik, dsb), memilih karena ikut-ikutan orang lain atau gosip yang lagi rame, memilih tanpa membandingkan atau tidak mengetahui informasi kontestan pemilu, memilih pemimpin dengan cara menghitung kancing, serta bentuk-bentuk ke-bloon¬-an lainnya.
– Menjadi golput/ apatis. Karena artinya membiarkan caleg yang dipilih oleh pemilih-pemilih bloon (yang tidak bertanggung jawab) tadi menang Pemilu dan terpilih menjadi wakil rakyat.

TIPS: Agar tidak temasuk golongan pemilih bloon
1. Sadari betapa berartinya satu suaramu untuk masa depan negeri ini.
2. Ketahui kriteria Al Qur’an dan Sunnah mengenai pemimpin.
3. Jangan tertipu iklan/ gosip/ ikut-ikutan. Jadi pemilih cerdas, cari tahu fakta tentang konsep dan track record partai/ caleg mengenai:
a. Integritas partai tersebut, contoh praktis; tanya ke Mbah’ Google: “Daftar partai yang terlibat korupsi”.
b. Aksi konkret partai di luar momen pemilu, karena sebagian besar hanya berbuat saat pemilu saja, pasca pemilu yo wess.
c. Kinerja dan prestasi partai tersebut, bagaimana kiprah anggota legislatif, atau menteri, atau kepala daerah dari partai tersebut.

Wallahu’alam bi shawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 19, 2009 by in Politik dan Ekonomi.
%d bloggers like this: