Angin

To run where the brave dare not to go

8 FAQ Seputar Pemilu dan Golput

1. Q: Bagaimana Islam memandang politik?
A: Manusia diciptakan untuk beribadah, artinya setiap yang kita lakukan mulai dari shalat, belajar, berpolitik, hingga buang air ialah ibadah dan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Maka Islam bukan hanya ibadah ritual dan sistem kepercayaan semata. Ia adalah sistem kehidupan yang syamil dan mutakamil (menyeluruh, utuh, dan sempurna) yang membimbing manusia mencapai kebahagiaan sejati dalam semua aspek; politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, pendidikan, keluarga, dan yang lainnya. Semuanya dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Cara pandang sekuler (memisahkan agama dari negara, atau menjadikan agama hanya di kehidupan pribadi saja tidak di kehidupan umum) adalah pandangan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Sekulerisme adalah bentuk trauma Eropa atas hegemoni gereja pada zaman dark age of europe. Di mana saat itu banyak penyimpangan dilakukan kaum gereja yang bersekongkol dengan kaum bangsawan untuk menindas dan mengisap rakyat secara diktator (lihat film Robin Hood, Braveheart, atau Kingdom of Heaven). Sehingga saat Renaissance (pencerahan Eropa), para intelektual dan kaum reformis muncul dengan ungkapan “berikanlah hak raja pada raja, dan berikanlah hak Tuhan pada gereja”. Sebaliknya, saat umat Islam menerapkan syariat Islam pada periode kekhilafahan rasyidah, Ummayah di Syam, Abbasiyah di Baghdad dan Spanyol, Utsmaniyah di Turki, umat Islam berhasil membangun peradaban yang penuh kecemerlangan ilmu pengetahuan, keadilan, dan kasih sayang bagi semua umat manusia (bukan umat Islam saja) selama 13 abad. Sebaliknya hari ini saat umat Islam terhinggap penyakit sekulerisme, kaum muslim dalam kondisi yang memprihatnkan seperti negeri kita ini. Krisis global yang melanda dunia hari ini, termasuk yang paling parah tergoncang adalah negara-negara maju yang selama ini kita kagumi, mestinya menjadi pelajaran bahwa sistem buatan manusia telah dan pasti akan gagal membawa manusia pada kebahagiaan, keadilan, dan kesejahteraan, dan bahwasannya sistem kehidupan yang layak untuk membimbing kehidupan manusia adalah Syariat Islam.
Soe Hok Gie pernah mengatakan bahwa politik tai kucing adalah barang yang paling kotor. Maka hal itu menjadi nyata saat agama dan kesalehan moral dikebiri dari dunia politik. Tinggallah dunia politik diisi dengan video dan foto cabul anggota dewan, cerita korupsi yang tiada ujungnya, serta intrik jahat penjualan aset negara dan penggadaian SDA Indonesia.

2. Q: Kenapa ada partai Islam?
A: Idealnya partai Islam dibentuk untuk beramar ma’ruf nahi munkar (QS Ali Imran: 104), serta memperjuangkan agar hukum-hukum Allah yang menjadi aturan hidup dalam semua bidang kehidupan (QS Al Maidah: 50). Jika kedua hal itu dilaksanakan maka negeri kita menjadi negeri baldatun thayyibun wa rabbun ghafur (negeri yang diberkahi dengan kebaikan dan ampunan Allah swt). Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan “jika engkau melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak sanggup ubah dengan lisanmu, jika tidak sanggup maka ingkarilah dengan hatimu dan itulah selemah-lemahnya iman”. Dengan para da’i dan orang-orang saleh yang memiliki kekuasaan maka amar ma’ruf nahi munkar dapat dilakukan dengan tangan (kekuasaan). Sehingga inilah urgensi partai dakwah (Islam). Dan Indonesia adalah negeri yang ironis, di mana 80 persen berpenduduk muslim, tetapi negeri ini selalu dipimpin oleh partai sekuler. Umat Islam Indonesia belum pernah dipimpin oleh pemimpin muslim sejati (walau presiden semuanya beragama Islam) yang menjadikan Islam sebagai ruh kehidupan bernegara, sehingga beginilah wajah negeri kita hari ini.

3. Q: Mengapa banyak jama’ah dan partai Islam, serta mengapa ada partai Islam yang terlibat korupsi?
A: Perbedaan adalah sebuah sunatullah, walau idealnya partai Islam bersatu dalam sebuah partai seperti yang pernah ada tahun 1955 dalam Masyumi walaupun itu juga belum ideal. Namun hendaklah kondisi tidak ideal ini harus disikapi dengan arif dengan tidak menyalahkan mereka, tetapi justru memandang ini sebagai suatu kekuatan dan strategi di mana setiap karakter menjadi terfasilitasi dengan pilihan partai Islam yang banyak itu. Sehingga setiap partai Islam sinergi dengan kekuatan masing-masing. Dalam Al Quran disebut fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Ingat, persatuan sesungguhnya bukanlah sekedar membuat warna dan lambang yang sama, melainkan terjalinnya ukhuwah Islamiyah dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Itulah esensi persatuan umat Islam. Jika hati dan idealisme sudah bersatu dalam perbedaan warna, persatuan fisik hanya menunggu waktu atau bahkan menjadi tidak urgen lagi.
Adapun partai Islam yang terlibat korupsi maka sepenuhnya kesalahan ada di tangan orang-orangnya, bukan Islamnya. Barangkali sistem kaderisasi dan kontrol yang lemah. Oleh karena itu kita pun harus cerdas memilih partai Islam yang terbaik dari yang terbaik. Kita lihat track record-nya.

4. Q: Apa hukumnya memilih pemimpin dalam Islam?
A: Dalam Islam secara umum memilih pemimpin adalah kewajiban, bukan hak. Dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa “jika ada tiga orang melakukan perjalanan, maka angkatlah salah satunya sebagaim pemimpin”. Apalagi sebuah sebuah negara. Mengapa kepemimpinan begitu penting? Karena sebagian nasib dan kehidupan kita bergantung pada pemimpin. Bagaimana bisa melaksanakan haji jika tidak ada pemerintah yang mengurus kepergiaan jamaah haji yang jumlahnya 200.000 jama’ah per tahun, juga pelaksanaan zakat. Atau bagaimana kesejahteraan dan mata pencaharian, bagaimana pendidikan dan keadilan yang kita dapatkan semuanya bergantung kepada seperti apa pemimpin kita.
Kriteria pemimpin ialah sepeti sosok Rasululullah saw yaitu shidiq (jujur), amanah, fathonah (cerdas), dan tabligh (komunikatif), serta menjadikan aturan Allah sebagai konsepnya dan dia adalah orang yang saleh (ta’at pada Allah) seperti dalam QS Al Ma’idah ayat 55. Kita juga tidak boleh memilih orang yang tidak se-aqidah sebagai pemimpin (QS Al Ma’idah ayat 51). Serta kita tidak boleh memilih karena alasan ashabiyyah (fanatisme golongan atau kesukuan), serta harus memilih pemimpin yang memiliki kapasitas. Dalam sebuah hadits dikatakan “jika suatu amanah diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kebinasaannya”.

5. Q: Jika tidak ada yang memenuhi kriteria di atas, apakah golput saja?
A: Golput pun adalah sebuah pilihan yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Sekali lagi memilih pemimpin secara umum adalah kewajiban, bukan sekedar hak. Jika tidak ada yang ideal, maka para ulama memiliki kaidah “jika tidak bisa mendapatkan seluruhnya, jangan tinggalkan semuanya”, maka pilihlah yang paling leuheung dari semua pilihan yang ada. Atau jika semuanya jelek, maka pilihlah yang paling sedikit jeleknya di antara mereka. Dalam kaidah ushul fiqih disebutkan “ambil keburukan yang paling sedikit dari keburukan-keburukan yang ada”. Sesungguhnya golput sama dengan memilih partai apa pun yang menang, karena presentase suara mereka menjadi besar akibat besarnya angka golput. Selain itu, golput artinya membiarkan orang-orang korup dan yang tidak pro-Islam menjadi pemimpin kita. Artinya golput adalah pilihan dengan akal yang kurang sehat dan sangat tidak bertanggung jawab. Sungguh konyol jika ada di antara kita yang menyeru untuk golput.

6. Q: Memangnya boleh bergabung dengan sistem demokrasi yang sering mengorbankan idealisme dan prinsip Islam?
A: Jika meyakini demokrasi sebagai sebuah sistem kehidupan yang ideal maka jelas itu pandangan yang batil, karena Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alaih (Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya). Selain itu juga berarti menjadikan thagut, ilah (sesuatu yang dijadikan aturan dan diaati) selain Allah. Jadi tidak boleh menjadikan demokrasi sebagai ideologi atau sistem ideal yang diperjuangkan, salah satunya karena demokrasi mengatakan “kedaulatan di tangan rakyat”, tetapi Islam meletakan keadulatan di tangan Allah (syariat) yang harus ditaati semuanya termasuk raja atau presiden (jadi pemerintahan Islam bukan teokrasi). Namun demikian menurut para ulama moderat (antara lain Dr. Yusuf al Qaradhawi) menyatakan demokrasi masih lebih baik daripada kediktatoran dan absolutisme atau fasisme. Karena ada sebagian semangat demokrasi yang senafas dengan Islam yaitu adanya musyawarah dan egalitarian (persamaan hak dan kewajiban). Dan dalam prakteknya, cara demokrasi seperti bermusyawarah atau voting untuk hal-hal yang tidak ditentukan teknisnya oleh syariat, dilakukan oleh Rasululullah saw. Jadi para ulama berpendapat bahwa tidak mengapa bergabung dengan demokrasi dengan tujuan memperjuangkan tegaknya Islam dan berdakwah kepada para penguasa dengan bergabung dalam sistem demokrasi (parlemen) selama memandang demokrasi hanya sebatas sarana dan konsensus belaka.

7. Q: Apakah efektif memperjuangkan Islam dalam sistem demokrasi?
A: Cerita manis keberhasilan dakwah melalui parlemen adalah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki. Turki adalah sebuah negara yang sangat sekuler, bahkan jilbab pun dilarang digunakan di tempat publik seperti sekolah, RS, dan kantor pemerintahan. Bahkan sempat azan pun sampai harus dilakukan dalam Bahasa Turki. Namun kemudian para aktivis Islam di sana bergerak dan berjuang melalui parlemen. Setelah bepuluh tahun Turki dipimpin oleh partai nasionalis sekuler dan korup, dengan izin Allah pada tahun 2002 AKP menang mutlak di parlemen Turki dan menempatkan tokoh muslim yang saleh yaitu Abdullah Gul sebagai Presiden Turki dan Recep Tayyip Erdogan sebagai PM. Sejak saat itu jilbab tidak dilarang, karena sang ibu negaranya menggunakan jilbab di istana, dan juga syiar Islam mulai marak serta perekonomian dan peran politik Turki mengalami kemajuan yang signifikan.
Contoh lain adalah HAMAS di Palestina, setelah sebelumnya mereka dipimpin partai sekuler yang dikenal korup yaitu Fatah. HAMAS mendapatkan kemenangan mutlak karena mereka melakukan kerja keras yang nyata bagi rakyat Palestina dengan membangun sekolah, RS, pemberdayaan ekonomi, kaderisasi dan tarbiyah, serta melindungi rakyat Palestina dari zionis Israel la’natullah ‘alaih dengan Brigade Izzudin al Qassam-nya. Walaupun mereka terus digoncang dari luar oleh Israel dan dari dalam melalui persekongkolah Fatah, insya Allah itu justru membuat Palestina makin disegani dan berdaulat dan agresi Israel kemarin justru membuat HAMAS makin dicintai rakyatnya. Dua success story di atas bisa dijadikan benchmark bagi partai Islam di Indonesia yang hari ini juga makin progresif dan memperlihatkan tanda-tanda bahwa partai Islam akan makin besar dengan profesionalisme dan sikap yang amanah serta jauh dari korupsi.
Sesunguhnya watak dakwah Islam ialah moderat (pertengahan, adil), karena demikian Allah telah menjadikan umat Islam sebagai umatan washathan (umat pertengahan) dalam QS Al Baqarah ayat 143, dan Allah membenci sikap ekstrem (berlebih-lebihan) sehingga kita berlindung dari sikap demikian (QS Ali Imran ayat 147). Bandingkan dengan gerakan dakwah yang ekstrem dan berlebihan. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat atas segala jasa beliau, kita harus belajar bagaimana kegagalan NII Kartosuwiryo yang bersikap ekstrem hendak menegakan negara Islam dengan cara instan lewat jalan pintas (pemberontakan). Mereka dengan mudah ditumpas dan cita-cita memperjuangkan Islam menjadi sistem di Indonesia menjadi jauh panggang dari api. Dan kini justru sempalan dari gerakan NII tersebut yang bergerak secara tertutup dan rahasia malah membuat sebagian pelajar dan mahasiswa menjadi takut ke masjid dan mengaji, karena orang tua mereka mewanti-wanti agar hati-hati terhadap pengajian yang mengajak mereka bergabung dan berbaiat lalu kemudian menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan orang di luar kelompoknya.

8. Q: Jadi Partai Islam mana yang harus saya pilih?
A: Kita harus cerdas memilih. Pelajari platform partainya, lihat track recordnya. Terakhir berdoa kepada Allah swt sebelum masuk TPS dan mencontreng pilihan kita agar Allah swt memberi pemimpin yang mencintai kita dan kita pun mencintainya. Itulah sebaik-baik pemimpin. Wallahu’alam bi shawab.

10 comments on “8 FAQ Seputar Pemilu dan Golput

  1. Abu Nida
    April 7, 2009

    Rihan, saya mau tanya apa beda Islam moderat dengan Islam Ekstrem? Mana yang lebih bagus diantara keduanya? Kalau Rasulullah dulu moderat atau ekstrem ya? thx.

    • Muhammad Rihan Handaulah
      April 14, 2009

      Moderat atau ekstrem adalah sifat atau karakteristik (biasanya perorangan/ kelompok). Definisi moderat ialah “pertengahan”, atau juga semakna dengan kata “adil”, lawannya adalah ekstrem, atau berlebihan, atau tidak seimbang. Bahasa Arab yang semakna dengan moderat ialah “wasath”, sehingga kata wasit berakar dari bahasa arab ini. Itulah mengapa wasit mestinya bermakna adil, pertengahan, dan tidak berat sebelah.
      Islam sejatinya adalah moderat, karena demikian Allah swt telah memberikan kita sifat dalam surat AL Baqarah sebagai ummatan wasathan, dan lawannya adalah berlebihan atau ishraf seperti do’a yang ma’tsur di dalam al qur’an “ampunilah aku atas urusanku yang berlebihan (ishraafana fii amrina)”. Dan contoh sikap ekstrem ini terjadi dalam sejarah umat Islam, seperti orang2 khawarij, yang ishraf saat menyikapi pertentangan di antara para sahabat pada pergolakan pasca khulafaur rashidin. Atau kaum sufi yang ishraf dalam beribadah dan ishraf meninggalkan dunia. Juga kaum mu’tazilah yang ishraf dalam menggunakan akalnya untuk memahami diinul Islam. Dan sikap ishraf (ekstrem/ berlebihan) ini akan membawa pada kesalahan.
      Wallahu’alam bi shawab.

  2. ratunida
    April 13, 2009

    Kang rihan, bagus banget post yang ini, really help me out from long and confusing dillematic situation of the last ellection..ini inspiratif!

    A: “Sejak saat itu jilbab tidak dilarang, karena sang ibu negaranya menggunakan jilbab di istana, dan juga syiar Islam mulai marak serta perekonomian dan peran politik Turki mengalami kemajuan yang signifikan”

    tapi mau ralat sedikit info aja, just as a real quick flash news: sebenarnya Turki masih melarang penggunaan jilbab dalam lingkup pendidikan dan dalam beberapa bidang pemerintahan(krn mungkin sekulerisme nya mengakar kuat di sana)
    namun memang terjadi kemajuan dalam pelurusan kembali syariah, artinya proses panjang memang adalah sebuah konsekuensi dan komitmen untuk menuai suatu revolusi menuju kebaikan.
    jadi sy setuju sama akang: utk menegakan negara Islam emang g bisa dengan cara instan lewat jalan pintas (pemberontakan). dibutuhkan suatu strategi yg lebih cerdas, profesional, yang nantinya bisa menunjukan dedikasi islam dalam mengutamakan keadilan.

    well, that’s all i guess. skali lg: SUKA TULISAN INI. keep ur good work, kang! smoga kita ga salah pilih(lagi), dan bisa punya pemimpin yang dgn ikhlas dan bangga kita doakan, karena beliau adalah pemimpin yang jg dgn sayang mendoakan rakyatnya.

    • Muhammad Rihan Handaulah
      April 14, 2009

      terima kasih Nida. Nambahin dikit. Sebetulnya dalam perjuangan Islam itu bersifat revolusioner dan reformatif sekaligus. Namun demikian harus sesuai konteksnya. Dalam konteks aqidah, keyakinan, dan sikap maka perubahan yang Islam kehendaki adalah revolusioner. Tidak ada tawar menawar dalam pikiran seorang muslim terhadap aqidah, ideologi, atau paradigma dari selain Qur’an dan Sunnah. Namun dalam implementasinya, tentu Sirah Nabawiyah mengajarkan kita akan tadarruj (kebertahapan), sehingga ishlah (perbaikan) yang kita lakukan bersifat reformatif.

  3. Delan
    May 16, 2009

    Saya dari Malaysia.

    Di Malaysia politiknya agak berbeza dengan Indonesia. Di sini, Parti Islam Se-Malaysia, PAS, bergabung membentuk satu pakatan dengan parti bukan Islam bagi menentang kerajaan yang korup yang jugak bergabung dengan bukan Islam. Apakah hukumnya memilih pemimpin bukan Islam yang bergabung dengan parti Islam ini atas dasar keadilan? Minta penjelasan.

  4. fibri pakdene luthfan
    November 19, 2010

    yang jelas islam dan politik seperti dua saudara kandung, keduanya tidak terpisahkan. Tapi yang jadi masalah jika banyak kediktatoran di negara2 islam yg menggunakan islam sebagai kedok, seperti zia ul haq di pakistan atau idi amin di uganda…..

  5. fibri pakdene luthfan
    November 19, 2010

    Sorry nich ngutip pendapatnya al-mawardy

  6. sifa
    November 11, 2012

    bagus bnget isi tulisannya, sangat cocok untuk masyarakat sekarang ini yang bingung menentukan sikap terutama meilih apakah memilih partai islam, sekuler ataukah golput.

  7. fathiya
    November 13, 2012

    bagus pembahasannya pak dan subhanallah masih relevan untuk saat ini, saya izin copas ya pak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 6, 2009 by in Politik dan Ekonomi.
%d bloggers like this: