Angin

To run where the brave dare not to go

Kami Ikhwan Biasa

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian menginginkan sosok pemimpin keluarga seperti Ustadz Mutamimmul Ula, yang dalam kesibukannya, ia memberi perhatian serius terhadap pendidikan anak-anaknya. Ia yang menghidupkan al Quran dalam keluarganya. Sehingga sebagian dari sebelas anak-anaknya sudah menjadi hafidz di usia sekolah, dan sebagian yang lebih kecilnya akan segera menjadi hafidz.

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian mendambakan sosok Muhammad Natsir yang bersahaja. Yang tidak mementingkan gemerlap materi serta membangun keluarganya di atas landasan akhlak dan akidah. Ia yang menjadi perdana menteri termuda Republik Indonesia membiarkan anaknya bersepeda ke sekolah, mengenakan jas yang ada tambalan di lengannya, serta tidak memiliki rumah sendiri hingga ia meninggal.

Kami ikhwan biasa tahu sesungguhnya kalian merindukan sosok teguh Hasan al Banna, saat kalian bertanya “hendak ke mana lagi? anakmu sedang sakit” maka ia berkata, “aku tetap harus berangkat menunaikan tugas dakwah, anak kita adalah milik Allah dan Ia tidak akan menyia-nyiakannya”.

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian pun mendambakan sosok suami setulus Buya Hamka. Suatu saat dalam tabligh akbar di daerah istrinya diminta mengisi ceramah juga, lalu istrinya dalam ceramah itu hanya berkata “saya bukan seperti Buya Hamka yang tukang ceramah, saya hanya tukang masaknya”. Ia Buya Hamka yang membangun kesetaraan dalam keluarganya bukan sekedar derajat “kehebatan” pasangannya. Melainkan dari ketergantungan dan kasih yang tulus dalam memberi dan menerima. Walau pun sosok istrinya ternyata sangat bersahaja dan “biasa” saja.

Kami ikhwan biasa tahu kalian juga mendambakan sosok Abdul Azis Arrantisi, ia yang seorang ayah, ia yang berprofesi sebagai dokter anak. Ia juga yang paling ditakuti oleh zionis la’natullah hingga Apache menjadi jalan baginya menjemput syahid. Ia membuktikan ucapannya saat diwawancarai oleh seorang wartawan, “Are you afraid to die? Whether you die by cardiac arrest or bombed by Apache, I prefer to Apache!”

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian mendamba Mush’ab bin Umair yang begitu tampan dan menawan. Yang harum minyak wanginya saja sudah tercium sebelum sosoknya tiba. Ia yang lalu memilih menyerahkan dirinya pada Allah, saat ibunya mogok makan untuk memaksanya kembali kepada kekafiran dengan tegar ia membisiki telinga ibunya, “wahai bunda tercinta, seandainya engkau memiliki 99 nyawa dan satu persatu nyawa itu keluar, demi Allah aku tidak akan meninggalkan agama ini”. Ia yang akhirnya syahid dengan hanya dikubur kain burdah yang tidak mencukupi seluruh badannya sehingga kakinya harus dikafan dengan dedaunan.

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian merindukan sosok seromantis Handzalah. Ia yang menikah di siang harinya dan bertemu di malamnya, esoknya ia berangkat menuju medan jihad. Ia yang mandi janabatnya setelah bertemu dengan isrinya dilakukan oleh malaikat, lalu menantimu di surga.

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian mendamba sosok perkasa Umar bin Khattab. Ia yang keras dan perkasa. Ia yang menjadi patriot, pembela, dan pelayan bagi umatnya. Namun ia juga yang mengatakan “jadilah kamu seperti anak kecil di depan istrimu”.

Kami ikhwan biasa tahu bahwa kalian memimpikan sosok setaat dan seikhlas Ibrahim khalilullah, abul anbiya. Ibrahim yang ketaatannya pada Allah swt tanpa batas dan tanpa tanya. Saat ia meninggalkan anak dan istrinya, di lembah tak berkehidupan. Ia yang ikhlas melaksanakan perintah untuk menyembelih anak semata wayangnya yang dinanti puluhan tahun. Yang dengan keikhlasan dan ketaatannya itulah lalu Allah mengijabah doa doanya. Dan milyaran umat Muhammad pun bershawalat kepadanya setiap hari. Yang anak-anaknya menjadi ayah dan kakek buyut dari semua nabi.

Kami ikhwan biasa tahu kalian mengidamkan pria sesuci Yusuf as. Yang kesetiannya (pada Allah) membawanya pada penjara. Yang penjara lebih ia sukai daripada bermaksiat kepada Allah. Yang kisah hidupnya sangat dramatis serta melankolik. Yang ketampanannya melebihi semua lelaki di dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan keshalehan akhlaknya. Hingga Allah swt mengabadikannya dalam Al Quran. Hanya surat Yusuf lah satu surat yang isinya dari awal sampai akhir adalah kisah seorang.

Kami para ikhwan biasa tahu bahwa kalian selalu berdoa dan berharap dipertemukan lelaki agung semulia baginda kita Muhammad saw. Ia pemimpin agung manusia, ia panglima tergagah, ia manajer terhebat, ia pedagang tersukses. Ia pun ayah dan suami terbaik. Yang sempat ia bermain dengan cucunya. Yang sempat ia membetulkan terompahnya sendiri. Yang sempat ia bermain lari-larian serta menonton pertunjukan bersama istrinya. Ia yang begitu romantisnya sehingga dikisahkan saat istrinya Aisyah ra membawakannya air minum. Saat itu Aisyah begitu terburu-buru karena suaminya baru saja sampai ke rumah sehingga ia salah memasukan gula malah menjadi garam. Rasulullah saw pun tidak marah dan tidak memberi tahu aisyah kalau minuman itu begitu asin dan pahit. Rasulullah saw hanya meminta kepada Aisyah agar mencobanya juga. Hingga saat Aisyah begitu kaget kaerna menyadarinya ia lalu meminta maaf kepada rasulullah saw, tapi Rasulullah saw malah menghabiskannya. Aisyah berkata “maafkan aku, mengapa engkau masih meminumnya juga?”, “minuman ini jadi manis setelah kamu meminumnya wahai Aisyah”, kata beliau.

Kami ikhwan biasa tahu kalian mendambakan sosok suami seperti ayahmu sendiri. Yang dalam ketidaksempurnaannya seperti lelaki-lelaki hebat lain, ia lah lelaki yang tidak dapat terbalas kebaikannya padamu. Ia yang lautan kebaikannya hingga sekarang membawamu pada nafas dan detak kehidupan hingga detik ini.

Kami ikhwan biasa sangat jauh bahkan teramat jauh dari mereka semua. Yang kami punya hanya obsesi untuk menjadi seperti mereka. Kami ikhwan biasa percaya bahwa kita akan bertemu pada waktu dan tempat yang telah ditentukan bahkan sebelum kita dilahirkan ke dunia. Kami yakin pada takdir Allah akan hal itu. Kami tidak tahu dan tidak terbayangkan siapa salah satu di antara kalian yang ditakdirkan bersama kami dan bilakah itu. Kami hanya diminta untuk berikhitiar dan bersabar menunggu saatnya tiba. Oleh karena itu, bantulah kami untuk menjaga diri dan hati dengan cara kalian pun menjaga diri dan hati pula. Bantulah kami agar obsesi kami dan juga keinginan-keinginan kalian seperti di atas dapat terwujud. Tugas kita hanya terus bersabar dalam memperbaiki diri.. Fashabran jamiil.,,

4 comments on “Kami Ikhwan Biasa

  1. Kiko
    February 10, 2010

    assalamualaikum…
    ieu teh Rihan anu SMA 3 Bandung, peserta National School Debating Champ 2003 sanes ?😀

  2. Mendamba cinta Allah...
    May 9, 2010

    Tulisan yg menghangatkn perasaan…
    Tp ingatlah bahwasanya akhwat pun demikian adanya…

  3. anisasaleha
    May 25, 2010

    ikhwan,manusia hanya berharap..dan manusia jadi tidak biasa jikalau menganggap tahu semuanya karena kesempurnaan hanya milik-NYA.,tidak perlu membiaskan sesuatu yg diingkan dengan sesuatu yang lain sebab itu adalah bibit dari kemunafikan, yg jelasmah..tingali bibit bobot bebetna saur pun biangmah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 28, 2010 by in Dakwah and tagged , , , .
%d bloggers like this: