Angin

To run where the brave dare not to go

Para Pencilan (bagian pertama)

Orang-orang sukses dan berprestasi hebat jumlahnya sangat sedikit dibanding orang kebanyakan. Hanya ada satu dua beberapa nama yang tercatat di tiap periode sejarah. Hanya ada seratus orang dari seluruh dunia yang masuk ke dalam list orang terkaya majalah Forbes tiap tahunnya. Hanya ada seratus dari milyaran manusia yang pernah hidup yang masuk dalam buku Manusia Paling Berpengaruh karya Michael Hart. Tidak banyak juga fisikawan yang namanya dijadikan nama persamaan fisika.

Apa yang terbayang saat mendengar nama-nama seperti Bill Gates, John Lennon, Michael Jackson, Isaac Newton, Einstein, Ahmadinejad, Soekarno, BJ Habibie, Barrack Obama, Susilo Bambang Yudhoyono, Steve Jobs, Michael Jordan, Zinedine Zidane? Tentunya ketenaran dan/ atau prestasi. Pasti pernah ada dalam hati keinginan untuk menjadi seperti mereka. Entah itu impian masa SD ataukah obsesi yang masih kita simpan sampai hari ini. Tidak ada salahnya kita menyimpan ambisi seperti itu karena kebutuhan untuk berprestasi atau beraktualisasi diri adalah tingkatan kebutuhan tertinggi dalam teori hirarki kebutuhannya Abraham Maslow. Dan paling mudah adalah menjadikan salah satu dari mereka atau tokoh lainnya sebagai benchmark kesuksesan kita. Dan tentunya cara pandang, latar pendidikan, atau bahkan sekedar kesamaan hobi yang menjadi faktor determinasi idola seseorang.

Maka mempelajari orang sukses adalah cara belajar yang paling efektif untuk belajar sukses. Karena ibarat naik gunung, cara termudah, tercepat, dan teraman sampai ke puncak gunung adalah dengan melalui jalan setapak yang sudah dilalui banyak orang. Mempelajari di sini ialah lebih dari sekedar mengetahui yang nampak di permukaan dan asesoris kehebatan mereka. Melainkan mempelajari bagaimana perjalanan panjang kesuksesan mereka. Karena sesungguhnya orang-orang hebat itu hanya sepenggal waktunya yang tercatat dalam sejarah dari seluruh usianya. Biasanya di akhir-akhir hidupnya atau untuk beberapa kasus seperti olahragawan hanya di usia emasnya antara 25-35 tahun. Selain itu tidak ada yang istimewa untuk diberitakan dari mereka. Namun justru di usia sebelum mereka tenar itulah yang paling bisa menceritakan mengapa dan bagaimana mereka bisa sukses. Karena puncak kesuksesan hanyalah waktu memetik buah dari bibit yang mereka tanam dan persiapkan dalam waktu yang panjang. Atau ibarat gunung es, hanya 20 persen yang nampak di permukaannya. Lebih baik lagi jika kita pun bisa mempelajari banyak kisah kesuksesan lalu mengambil benang merah dari perjalanan mereka.

Hobi saya mempelajari orang-orang sukses baru-baru ini terpuaskan dengan membaca buku yang sangat bagus dari Malcolm Gladwell, Outliers. Saya sebetulnya sudah lama tahu buku ini tapi tidak pernah berencana untuk membelinya. Hanya kemarin sewaktu transit di Changi Airport sambil iseng menghabiskan waktu saya menyambangi toko buku yang ada di sana, sekilas melihat cover-nya dan membaca paperback-nya, naluri saya mengatakan kalau buku ini harus dibeli. Jadilah 50 dolar singapura saya bayar untuk membungkus Outliers bersama dua buku yang lain untuk menjadi teman selama 12 jam penerbangan ke Kairo.

Malcolm Gladwell adalah seorang penulis yang saya menyebutnya beraliran “Breakthru”. Dua bukunya yang laris sebelumnya yaitu Blink; menceritakan tentang bagaimana keputusan penting biasanya diambil hanya beberapa detik pertama serta Tipping point; menceritakan bagaimana perubahan-perubahan besar terjadi karena hal-hal yang sangat kecil dan terlihat sepele. Maka di buku ini Malcolm Gladwell bercerita tentang bagaimana dan mengapa orang-orang sukses menjadi sukses. Seolah melawan dan menantang buku-buku “how to success” yang lain, di sini ia melakukan tinjauan dan sudut pandang yang sama sekali berbeda. Kalau penulis buku sukses dan kepemimpinan macam Sean Covey, John Maxwell, dan Antony Robin menceritakan bahwa sukses dimulai dan dibangun dari dalam diri dengan sikap proaktif, kepercayaan diri, dan keyakinan dari dalam, maka Outliers seolah menjadi antitesisnya. Di buku ini ia memandang bahwa kesuksesan ditentukan oleh faktor eksternal. Atau dalam bahasa yang lebih tinggi, kesuksesan ditentukan oleh determinasi sosial seperti latar belakang keluarga, suku bangsa, kondisi perekonomian, teknologi yang sedang berkembang, bahkan tanggal lahir. Apakah buku ini mengajak kita untuk bersikap fatalis (menyerah pada takdir) atau percaya pada primbon tanggal lahir? Tentu saja tidak sebodoh itu. Gladwell seolah ingin mengatakan pada para motivator dan trainer “how to success” bahwa bukan hanya slogan “if I think I can yes I can” yang menjadi bekal untuk sukses, tapi juga kita harus cerdas membaca zaman, lingkungan, dan dunia yang dengan ketepatan kita membaca isyaratnya akan membawa kita ke tujuan.

Pada intinya Gladwell menyimpulkan bahwa ada dua faktor yang menjadi determinan (penentu) kesuksesan orang-orang sukses, yaitu: opportunity (kesempatan) dan legacy (warisan). Gladwell memperkuat argument-argumennya dengan studi yang detil mengenai sejarah bahkan statistik beberapa kasus. Sebagai contoh; untuk menjadi pemain hoki es terbaik di Kanada dan Norwegia yang merupakan olah raga sekaligus profesi yang sangat bergengsi di sana, anda harus lahir antara bulan Januari-Maret. Apakah ini terkait masalah zodiak tanggal lahir? Tentu tidak seperti sms reg-reg-an di TV itu. Ini ialah statistik liga hoki es professional dari tahun 70-an sampai 2000-an. 80 persen pemain professional di Kanada dan Norwegia lahir di bulan Januari-Maret. Mengapa demikian? Ternyata ini bermula dari proses seleksi dan pelatihan hingga menjadi seorang pemain professional. Karir para pemain professional diawali dari usia 10 tahun. Saat itu dimulai lah proses rekrutmen pemain junior untuk disiapkan menjadi pemain professional dalam proses pelatihan yang panjang dan keras.

Lalu mengapa pemain junior yang lahir di awal tahun mendapat keuntungan? Itu karena panitia menetapkan batas umur pemain bukan berdasarkan umur nyata (bulan lahir), tetapi tanggal lahir 31 Desember sebagai perhitungan usia. Artinya mereka yang lahir di awal tahun relatif lebih tua sekitar satu tahun dibanding mereka yang lahir di akhir tahun. Satu tahun lebih tua di usia anak-anak, tidak seperti di usia dewasa, memiliki perbedaan yang sangat signifikan dalam hal kematangan dan kekuatan fisik. Katakanlah ada dua anak yang sama-sama berbakat dan berlatih keras untuk memperoleh kesempatan ini dengan skill dan teknik yang nyaris sama. Namun di kompetisi rekrutmen yang sangat ketat seperti itu perbedaan kecil saja akan membawa kesimpulan yang sangat berbeda. Maka siapakah yang akan direkrut? Tentu saja ia yang fisiknya “sedikit” lebih kuat. Maka dari sini dimulailah reputasi mereka yang lahir di awal tahun dalam pelatihan pemain es junior yang panjang, keras, dan penuh disiplin. Bisa dibayangkan bagaimana akhirnya 5 atau 10 tahun lagi antara pemain hoki yang dulu saat masih kanak hanya sedikit berbeda, 10 tahun kemudian dengan kesempatan yang berbeda 10 tahun lalu, mereka menjadi berbeda sangat jauh.

Cerita lain adalah tentang “hukum 10000 jam”. Gladwell menjelaskan bahwa untuk menguasai suatu bidang maka anda harus bekerja selama 10000 jam kontinu di bidang tersebut. Itu artinya jika kita bekerja dan belajar di bidang tersebut selama 8 jam sehari dari hari Senin-Jumat maka kita membutuhkan lima tahun menekuni bidang tersebut. Para pencilan (outliers) mengalami hal ini namun dengan mereka memulainya lebih muda dan lebih cepat menyelesaikannya dibandingkan para kompetitornya. Dan untuk bisa memulainya lebih awal dan lebih cepat, sesorang membutuhkan opportunity.

Inilah awal kesuksesan Bill Gates. Bill Gates memulai keahlian komputernya saat orang-orang lain belum mengenal PC. Sebelum membaca buku ini saya hanya tahu bahwa Bill Gates adalah mahasiswa jenius dan nekat DO-an Harvard. Namun ternyata cerita Bill Gates jauh dimulai sebelum periode Harvard dan Microsoft di awal berdirinya. Cerita kesuksesan Bill Gates dimulai dari kelas delapan (kelas 2 SMP). Ayahnya yang pengacara sukses punya uang cukup menyekolahkan dia ke sekolah swasta paling mahal di Seattle saat itu. Di tahun 1968 sekolah elit tersebut sudah memiliki klub computer. Inilah pertama kali dia belajar mengenal computer dan memrogram. Hobinya berlanjut jadi pekerjaan sambilannya saat ada kesempatan untuk bekerja paruh waktu meng-koding program untuk salah perusahaan yang ada di Seattle yang baru mulai men-develop sistem komputernya, karena saat itu memang jarang orang yang mengenal computer apalagi membuat program. Opportunity-nya terus berlanjut saat dia bisa menggunakan computer di University of Washington yang jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Setiap hari Bill Gates kecil bersama sahabatnya Paul Allen (yang juga pendiri Microsoft) bangun pukul 3 pagi lalu pergi berjalan kaki dan pulang ke rumah jam enam pagi sebelum pergi sekolah. Karena memang computer di University of Washington hanya kosong di waktu dini hari.

Dengan demikian DO-nya Bill Gates dari Harvard menjadi sesuatu yang sangat “make senses” bagi saya. Karena sebelum dia DO lalu mendirikan Microsoft dia sudah bekerja dan belajar computer selama 7 tahun terus menerus. Jadi memang Bill Gates sudah punya skill serta visi yang luar biasa yang membuatya berpikir bahwa Harvard sudah menjadi tidak signifikan lagi baginya. Sungguh suatu kesempatan dan keunggulan yang luar biasa. Anak semuda itu, di zaman komputer adalah barang yang super mahal, sudah menguasai lebih dari 10000 jam terbangnya. Mengapa bisa demikian? Jadi Bill Gates sukses bukan seperti bintang jatuh langit, melainkan kerja panjang dan melelahkan. Dan tentunya dia bisa begitu karena sekali lagi, ada opportunity, yang mungkin di zaman itu bisa dihitung dengan jari seorang anak muda dengan kesempatan demikian.

Ada cerita lain dari The Beatles. Band legendaris kesukaan saya semenjak SD. Band ini memulai debut suksesnya tahun 1964. Lalu mencapai puncaknya tahun 1970. Namun tahukah anda kapan The Beatles berdiri? 1957, tujuh tahun sebelum debut suksesnya. Dan salah satu milestone suksesnya adalah show mereka di kota Hamburg, Jerman. Di Hamburg ada sebuah lokasi di mana terdapat banyak klab dan kafe dengan live music yang biasanya mengundang band-band baru untuk bermain. Jauh-jauh datang dari Liverpool, The Beatles dalam tiga kali kunjungannya ke Hamburg total  bermain selama 270 malam, delapan jam sehari tujuh hari seminggu dengan total 1200 jam live performance! Sebuah kerja keras dan pencapaian yang luar biasa untuk mematangkan karakter musik dan kekompakan dari sebuah grup band, Jadilah mereka band yang sangat unik, berkarakter, dan memberi corak warna musik dunia. Jadi seperti Bill Gates, The Beatles tidak jatuh dari langit, bukan anak muda yang berkumpul, dapat inspirasi lagu, rekaman, lalu sukses begitu saja. Tapi buah kerja keras berdarah-darah selama tujuh tahun, khususnya dalam tiga kali kunjungannya ke Hamburg itu. Dan sekali lagi yang membawanya kepada pencapaian itu: opportunity!

Opportunity, dalam sudut pandang yang lebih luas di bahas di buku ini. Ada fenomena kesamaan para juragan IT seperti Bill Gates, Paul Allen, Steve Jobs, Hewlett, serta bos-bos Silicon Valley lainnya. Apakah itu? Yaitu tahun kelahiran mereka. Mereka lahir antara tahun 1952-1955. Mengapa demikian? Karena di tahun 1975-an adalah periode di mana PC baru mulai dikenalkan. Teknologi komputer masih bayi merahnya. Dan saat itu mereka berusia 20-an, usia puncak kreatifitas dan keberanian untuk membuat terobosan. Seandainya mereka lahir lebih cepat dari tahun 50-an, mereka sudah mapan dan mungkin tidak tertarik lagi kepada dunia baru ini. Jika mereka lahir 60-an 70-an mereka sudah menemukan dunia bisnis IT yang sudah establish sehingga mungkin “hanya” akan menjadi enjineer IT di IBM atau Microsoft.

Itulah penjelasan dari salah satu point penting buku ini, untuk sukses anda harus jeli melihat opportunity (peluang/ kesempatan), dan kesempatan itu kadang ditentukan oleh hal-hal yang berada di luar kendali diri kita. Seperti kata mutiara yang saya suka, “we are not able to control direction of the wind, but we are able control our wings riding through the wind to get our direction”.

One comment on “Para Pencilan (bagian pertama)

  1. niken rosady
    October 4, 2011

    kang rihan berbakat jadi penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 28, 2010 by in Self and Org. Development and tagged , .
%d bloggers like this: