Angin

To run where the brave dare not to go

The Pioneers (Para Pelopor)

Suatu hari, tanggal 19 April 2009. Saya diwisuda. Di sana saya bersalam-salaman dengan Pak Djoko Santoso yang sudah bukan rektor lagi. Juga bersama Pak Muhammad Nurdin yang baru saja menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Tenaga Listrik, Tak lupa tentunya sejuta doa dan syukur terpanjat kepada Allah yang Maha Kuasa beserta do’a kebaikan untuk kedua orang tua saya beserta orang-orang yang selalu baik pada saya. Saya diwisuda dengan gelar yang cukup mentereng “Lulusan terbaik program studi Teknik Tenaga Listrik, Sekolah Teknik Eektro dan Informatika ITB” yang diberikan oleh kawan-kawan elektro 2004 kepada saya.

Apakah karena IP saya yang mepet empat? Tidak, IP saya hanya tiga tipis, IP para pencari kerja. Apakah saya tergolong mahasiswa cemerlang bergelar cum laude? Tidak, malah saya masuk golongan cum melud, atau cam belut, atau ka laut. Apakah saya seorang mahasiswa teknik yang jago sekali dengan karya-karya terbaik yang dipersembahkan UntukMu Tuhan, bangsa, dan almamater? Tidak, menyolder saja saya tidak bisa. Apakah karena IP semesteran yang selalu tinggi? Tidak dua semester saya nasakom (nasib satu koma), alhamdulilah enggak milipen atau boxy. Apakah karena para dosen suka kepada saya karena saya aktif dan jago di kelas? Tidak, bahkan kadang saya punya prinsip “kalo masih punya jatah dua puluh persen absen kuliah kenapa harus masuk”. Dan sederet kisah kelam nan suram penuh penyesalan yang tidak layak dicontoh oleh kalian wahai generasi muda harapan bangsa.

Lalu mengapa saya sampai digelari sebagai “Lulusan terbaik program studi Teknik Tenaga Listrik STEI ITB” oleh kawan-kawan? Rahasianya adalah karena saya lulusan pertama Program Studi Teknik Tenaga Listrik ITB, selain yang pertama juga satu-satunya yang diwisuda di bulan April 2009. Itu kuncinya. Waktu itu Jurusan Teknik Elektro baru saja dipecah ke tiga proram studi: Teknik Tenaga Listrik, Teknik Telekomunikasi, serta Teknik Elektro itu sendiri. Dan para mahasiswa dibebaskan memilih apakah pindah ke jurusan yang baru sesuai bidangnya ataukah tetap menggunakan cap jurusan asal waktu masuk (Teknik Elektro). Sebagian di antaranya termasuk saya memilih pindah ke yang baru. Dan dari beberapa yang pindah itu hanya saya lah yang menyelesaikan TA duluan dan satu-satunya yang diwisuda April 2009.

Hikmah (serius mode: ON)

Walau kisah saya di atas tidak terlalu relevan dengan tausiyah berikut, tapi tak mengapa lah. Semoga saja nyambung. (Pokokna sambung-sambungkeun sakumaha maneh weh lah).

Maka jadilah yang pertama jika anda ingin menjadi yang terbaik dan amalnya terus abadi. Jika saya menyebut bola lampu, siapa sosok yang akan terbayang di benak anda? Thomas alva Edison pastinya. Walau saya yakin sekali bahwa bola lampu buatannya sangat “ceudeum” nyalanya. Gak ada apa-apanya dibanding lampu PHILIPS SL jaman sekarang. Jika saya menyebut nama pesawat, siapa sosok yang anda bayangkan? Saya yakin nama yang terbayang adalah Wright Bersaudara. Walau pesawatnya hanya sanggup ngapung beberapa ratus meter saja dengan model reyot yang memprihatinkan, dan jika kita banding dengan insinyur-insinyur di Research and Development-nya Boeing, pasti Wright bersaudara gak ada apa-apanya.

Dua contoh barusan memberi kita pelajaran bahwa ia yang menjadi pionir, pelopor, perintis, atau inspirasi bagi lahirnya amal-amal lain setelahnya, maka sekurang apa pun ia, tetap ia akan dikenang sebagai yang terbaik. Karena ia menjadi salah satu alasan bagi setelahnya untuk beramal demikian.

Rasulullah saw pernah bersabda, “sekiranya engkau menginfakan emas sebesar bukit Uhud tetap tidak akan bisa melebihi amalnya Abu Bakar”. Mengapa demikian, karena kita semua umat Islam setelah zaman sahabat semuanya berhutang budi pada mereka. Coba apa yang menjadikan kita semangat untuk berinfak, salah satunya adalah jika kita mengingat kisah bagaigaman infaknya Abu Bakar yang menginfakan seluruh hartanya atau kisah Utsman yang menginfakan 700 ekor unta lengkap dengan barang dagangan di punduk nya. Apa yang menjadi inspirasi kita untuk berani, salah satunya jika kita mengingat kisah perang badar. Apa yang membuat kita semangat untuk beribadah, salah satunya adalah dengan mengingat kualitas ibadahnya Umar bin Khatab di mana beliau meng-iqab (menghukum) dirinya untuk menginfakan kebunnya gara-gara ketinggalan shalat ashar berjamaah saat mengurus kebunnya tersebut.

Apakah anda pernah melihat langsung bagaimana seorang pelopor bekerja? Alhamdulillah Allah telah mempertemukan saya dengan dua orang pelopor. Yang satu saya pernah membersamainya selama hampir tujuh tahun. Yang kedua saya hanya melihatnya bekerja dari jauh, tapi saya tahu betul bagaimana beliau bekerja dari sahabat-sahabat saya yang mengalami langsung hidup dengan beliau. Kesamaan keduanya adalah mereka sama-sama bekerja berjuang untuk dakwah sekolah di kota Bandung. Yang pertama bekerja di dakwah sekolah SMA (SMA 3 Bandung), yang kedua bekerja di dakwah sekolah SMP (SMP 5 Bandung). Yang pertama adalah Kang Har, yang kedua adalah Kang Arya.

Kang Har adalah alumni SMA 3 angkatan ‘89. Terpaut 15 tahun dari saya yang angkatan 2004. Tidak ada prestasi atau label-label duniawi yang mentereng pada beliau, kecuali pernah menjabat sebagai ketua OSIS SMA 3 yang disebut-sebut sebagai salah satu kepengurusan OSIS terbaik yang pernah ada. Atau pun amanah-amanah mentereng di organisasi dakwahnya. Hidupnya sangat bersahaja dan rumahnya pun sederhana. Belum bisa dikatakan mapan dalam kaca mata duniawi untuk lelaki seusianya. Tetapi jarak 15 tahun terbentang antara saya dengan beliau tidak menyurutkan semangatnya untuk selalu datang ke mentoring DKM Al Furqan di Masjid Masi’inas shalihin, hari apa saja kita mau beliau selalu siap. Bahkan seringnya beliau yang harus menunggu anak-anak pengurus DKM yang datang nyusul mentoring karena mementingkan Liga BM di mana saya salah satu di antaranya (maklum, striker tajam, tangguh, dan terpercaya yang selalu berkontribusi gol di setiap pertandingan semenjak saya SD dan oleh karena itu teman-teman saya waktu SMP memanggil saya “owen”). Aduh, hampura kang. Kemudian di kelas 3 saya mengajak (tepatnya menjerumuskan atau menyesatkan) kawan-kawan aktivis kesiswaan SMA 3 untuk datang ke acara yang diberi nama “diskusi tentang kepemimpinan dan organisasi dengan seorang alumni senior yang pernah jadi ketua osis”, padahal intinya mah ngajakin mentoring lalu UUL (ujung-ujungnya liqa), yang kemudian berlanjut selama empat tahun di sebuah pertemuan rahasia di sebuah tempat rahasia yang diberi kode TXTL7. Alhamdulillah, mereka yang terjebak ikut acara diskusi kepemimpinan dan organisasi itu, yang dulu masih ABG labil dan pada bobogohan, dengan sentuhan kesabaran dan kematangan Kang Har, kini menjelma menjadi Mujahid-mujahid gagah dengan segenap impian dan amalnya masing-masing.

Ada sebuah momen paling berkesan yang saya alami bersama beliau. Waktu itu saya sedang muda, jaya, dan bergelora-bergeloranya sebagai ketua Dep Tarbiyah DKM AF. Sebagai penanggung jawab kegiatan INTIFADAH (Intensive Training for Accelerated Dakwah) ,yaitu kaderisasi untuk anggota kelas satu DKM AF, saya merencanakan acara long march Ujung Berung – Lembang – Dago. Dan tanpa ragu saya meminta bantuan beliau untuk melakukan survey lapangan dan tanpa ragu beliau pun meng-iya-kan. Berangkatlah kami berdua, saya dibonceng dengan motor Suzuki Crystal tuanya, menyusuri jalan-jalan berbatu melalui pedesaan dan kebun-kebun melalui rute yang direncanakan itu seharian. Hingga hari ini saya masih tak habis pikir, apa yang membuat beliau begitu ikhlas membantu saya menyediakan waktunya khusus seharian buat saya di waktu itu dengan perjalanan yang melelahkan. Padahal jika mau, lebih baik beliau melakukan aktivitas lain yang lebih “menguntungkan” daripada mengantar seorang saya yang bukan siapa-siapanya di hari itu. Padahal jika mau beliau bisa mendelegasikan ke alumni-alumni lain yang lebih muda dan secara tradisi memang punya kewajiban mengurus organisasi kesiswaan di SMA 3.

Selain saya tentu saja banyak lagi aktivis-aktivis yang berasal dari SMA 3 yang sudah merasakan tangan dingin kesabaran dan kematangan tarbiyah Kang Har. Sepak terjang Kang Har selama hampir 20 tahun di SMA 3 “berakhir” di penghujung bulan Ramadhan dua tahun lalu, karena beliau “ditugaskan” menggarap lahan dakwah lain. Namun teruslah kerja beliau berlanjut dengan para murabbi muda yang insya Allah sesetia dan setangguh beliau membina SMA 3. Kali ini mungkin orangnya tidak ada, tetapi sahamnya terus memberikan “passive income”, amal jariyah, pahala yang terus mengalir dari amal-amal kebaikan orang-orang yang telah dibinanya. Juga keistiqamahannya yang terus diingat dan diceritakan dari generasi ke generasi menjadi inspirasi bagi yang lain untuk teguh dan istiqamah di jalan kebenaran ini.

Yang kedua adalah Kang Arya, alumni SMP 5 dan SMA 3 juga, angkatan 1998. Jika saya menyebut Kang Har sebagai pemegang saham terbesar dakwah sekolah SMA, maka boleh lah saya katakana bahwa Kang Arya ini adalah pemegang saham terbesar dakwah sekolah SMP di kota Bandung. Kang Arya yang juga sempat merasakan sentuhan pembinaan kang Har ini ialah sosok perintis yang membangun Rohani dari sebuah kegiatan ekstrakurikuler biasa menjadi organisasi dakwah yang menggurita ke SMP-SMP lain di kota Bandung. Tercatat sudah enam SMP yang saat ini dinaungi oleh bendera Itsar yang dulunya hanya Rohani dengan anggota berjumlah hitungan jari.

Adalah sahabat saya Aa Iwa dan Aa Badra, serta setelahnya ada Aa Yahbul yang termasuk generasi-generasi awal merasakan totalitas Kang Arya mempersiapkan imperium dakwah SMP. Dan untuk itu ia membutuhkan kader inti yang tangguh dan loyal. Dibuatlah kegiatan Pendidikan Kader Rohani (PKR) yang melegenda itu selama beberapa angkatan. PKR ialah program tarbiyah/ kaderisasi dengan format pendas, belakangan saya tahu dari dokumen-dokumen PKR serta pengalaman saya mengikuti pendas Wanadri, bahwa PKR banyak mengadopsi pola pendas Wanadri tentu saja dengan substansi berbeda dan adaptasinya sendiri. Bayangkan saja, anak sekecil mereka (anak SMP) sudah diberi pendidikan semacam itu. Tentu banyak memakan “korban” baik yang berjatuhan saat kegiatan maupun setelahnya. Namun hasilnya tentu paten. Lihat saja sosok seorang Aa Iwa yang selalu menjadi natural leader baik di SMA 3 maupun di ITB. Atau Aa Yahbul yang setia dengan adik-adiknya. Buah totalitas pastilah kualitas.

Belakangan saya membaca pikiran Kang Arya yang ingin mengubah pola Kang-Arya sentris menjadi organisasi yang lebih kokoh berbasis pada system, bukan figur. Maka didirikanlah lah Itsar yang mencoba lebih inklusif dan membumi, PKR pun diganti dengan kaderisasi yang lebih natural bagi anak SMP. Namun karakter yang melekat pada beliau itu tidak pernah luntur; totalitas. Pernah saya suatu hari saat mengisi mentoring di Al Kautsar melihat beliau sedang ngobrol dengan binaannya anak SMP 5. Saya melihat sekilas anak SMP itu seperti membicarakan sesuatu dengan kertas-kertas berserakan di antara keduanya. Saya heran mengapa malah seorang anak itu yang bicara ke kang Arya bukan sebaliknya seperti layaknya mentoring. Saya pun curi-curi dengar ingin tahu hingga betapa terkejutnya saya setelah mengetahui bahwa anak SMP itu sedang presentasi ke beliau tentang suatu kegiatan atau rencana yang akan diadakan oleh Rohani dan beliau mengkritisinya. Tidak asal presentasi rencana kegiatan, ia sudah menggunakan analisis-analisis dan matriks-matriks yang anak mahasiswa ITB pun belum tentu terbiasa dengan kebiasaan macam itu di organisasinya. Saya dalam hati cuma berkomentar nakal, “edun eta budak rek dikumahakeun, karunya leutik keneh geus dibere nu kitu, dasar si kang Arya teu kagok edan”. Ternyata memang begitulah totalitas beliau dalam mempersiapkan kader terbaik untuk dakwah SMP nya. Tidak hanya berakhir di pertemuaan liqa’at pekanan. Namun juga terus berlanjut ke pertemuan-pertemuan khusus denagn kurikulum ekstra berdasarkan kebutuhan kadernya. Dan tentu saja totalitas itu ada harganya. Setahu saya orang sehebat Kang Arya sangat layak untuk menjadi tokoh selevel Presiden KM ITB atau amanah bergengsi lainnya, namun beliau memilih bekerja diam-diam jauh dari riuh rendah pujiaan maupun sederet baris pengalaman mentereng di Curiculum Vitae.

Tentu saja dua sosok pelopor tersebut terlalu singkat untuk saya ceritakan di sini. Banyak mutiara kecemerlangan mereka yang bisa digali lagi baik dengan langsung mengenalnya maupun dengan menggali kisah lebih banyak dari orang-orang yang membersamainya. Maka belajar dari dua orang ini ada beberapa poin yang bisa dijadikan pelajaran. Bagi anda yang juga memiliki obsesi untuk menjadi seorang pelopor.

Pertama, seorang pelopor ialah seorang yang memiliki visi dan kecerdasan lebih jauh dari zamannya. Karena suatu amal rintisan tidak mungkin terlihat hasilnya dalam hitungan bulan atau bahkan satu dua tahun. Seberapa jauh perencanaan  kerja yang dibuat seseorang menunjukan level kepemimpinannya. Kita lihat dalam hirarki organisasi bisnis bahwa staf paling rendah hanya membutuhkan perencanaan harian. Staf lebih tinggi merencanakan operasional mingguan atau bulanan. Level supervisor merencanakan periode kuartal. Manajer merencanakan rencana tahunan. Direksi merencanakan lima tahunan. Maka para perintis biasanya orang yang memang memiliki kualitas kepemimpinan dan visi yang tertinggi dalam level kepemimpinan. Maka level kepemimpinan tertinggi tersebut saya menyebutnya kepemimpinan profetik atau al qiyadah an nubuwah. Yaitu kepemimpinan yang tujuan dan motivasinya seperti apa yang menjadi tujuan dan alasan para nabi berjuang. Di mana perencanaan perjuangannya berakhir hingga seumur umatnya itu sendiri.

Kedua, seorang pelopor memiliki totalitas dalam kerjanya. Karena ia membuat sesuatu dari nol. Ibarat petani yang membuka sawah di hutan lebat. Ia harus memilih lahan yang paling baik, lalu membuka lahan tersebut, menyiapkan tanahnya, menyiapkan pengairannya, membagun petak dan pematangnya, menyiapkan bibit, pupuk, lalu mengurusnya hingga panen. Atau seperti Bill Gates yang memilih total mewujudkan mimpinya membangun Microsoft daripada menamatkan kuliah di Harvard. Ia harus total bekerja mewujudkan visinya tadi. Tidak mungkin sesorang bisa bekerja dengan totalitas tanpa memiliki visi dan mimpi, dn tidak mungkin visi bisa terwujud tanpa totalitas. Banyak orang yang punya mimpi namun sedikit orang yang bisa mewujudkannya, karena mimpi zonder totalitas hanya angan-angan. Saat orang lain terlelap anda harus bekerja. Itu sulitnya. Saat orang lain meninggalkan anda harus setia. Itu sepinya. Saat orang lain menikmati anda harus memberi. Itu harganya.

Ketiga, maka inilah konsekuensi dari mimpi dan totalitas tadi, yaitu pengorbanan. Para pelopor selalu yang berkorban paling besar. Dalam teori organisasi kita mengenal yang namanya siklus Forming -> Storming -> Norming -> Performing. Dalam bisnis kita mengenal yang istilahnya learning cost, atau biaya pembelajaran karena rugi di awal-awal saat bisnis tersebut belum established. Dalam teori dinamika mekanik kita mengenal yang namanya gaya gesek statik yang selalu lebih besar dari gaya gesek dinamik, di mana kita harus memberi gaya dulu melampaui gaya gesek statik tersebut hingga akhirnya benda bergerak dan gaya keseknya pun tutun ke nilai gaya gesek dinamiknya. Begitulah sunatullah kehidupan ini, “pepeuriheun heula di mimiti” pahit di awal. Dan tentu inilah kerja para pelopor dengan pengorbanannya yang besar.

Namun ada sunatullah lain, yaitu dalam bahasa kapitalisnya di perusahaan tempat saya bekerja “more day more pay, more pain more gain”. Dalam bahasa yang lebih manusiawi seperti kata Ustadz Anis Matta ,“tidaklah suatu amal disiram dengan pengorbanan kecuali buahnya adalah keabadian”. Seperti amal pengorbanan begitu besar yang dilakukan oleh abul anbiya Ibrahim khalilullah. Ia yang berkorban sendirian di lembah tak berkehidupan meninggalkan anak dan istrinya. Lalu beliau berdoa agar lembah tak berkehidupan itu menjadi tanah yang diberkahi dengan kemakmuran dan keberlimpahan buah-buahan. Jadilah doa itu makbul. Buah dari pengorbanan.

Sulitkah menjadi seorang pelopor? Tentu saja. Karena ini adalah amal utama yang sangat menggiurkan buahnya. Karena Rasulullah saw menjanjikan, “Barangsiapa merintis dalam Islam sunnah hasanah (jalan kebaikan), maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Terakhir, apalagi yang kekuatan yang mampu menahan ombak, mampu memecah batu karang, mampu membalikan gunung selain kekuatan yang lebih besar dari kesabaran. Sabar adalah jawaban bagi semua kesulitan. Wasta’inu bi shabri wa shalat.

Sabar adalah mata air kecemerlangan yang mengalirkan sikap-sikap unggul lainnya.

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35)

Inilah rahasia kekuatan terbesar para pelopor dalam perjuangannya.

Adakah cara yang paling mudah untuk menjadi pelopor? Jawabannya: ada. Dan sangat mudah. Ibnul Qayyim Al Jauziyah memberikan bocoran jawabannya:

“Suatu kebaikan akan melahirkan kebaikan yang lain”

Ya, sesederhana dan semudah itu. Mulai saja dulu. Beramal saja dulu.

Ft Worth, 28 January 2010

Seribu tabik dan doa untuk inspirasi saya: kang Har dan kang Arya (jeje).

6 comments on “The Pioneers (Para Pelopor)

  1. iqbal
    March 13, 2010

    Assalamu’alykum wr wb
    mas kami boleh mensitasi karya anda sebagai tinjauan penulisan buku kami mengenai aktivis dan teori organisasi. tetapi tidak saya kutip hanya kami serap makna yg tersirat utk kemudian ditulis dlm kalimat2 kami.

    sekiranya diizinkan kami sangat berterimakasih dan mohon konfirmasinya ke email.
    wassalam

  2. karafuruworld
    March 20, 2010

    Perbedaan orang sukses dengan yang belum sukses adalah…
    karena mereka punya inisiatif untuk melangkah lebih dulu…

    Nice kang rihan!! ^_^

  3. kamil010290
    April 2, 2010

    Gak update lagi kang?

  4. jay (nick name)
    May 24, 2010

    Hari ini sehabis sholat magrib entah mengapa saya teringat dengan jeje dan segera saya cari di google
    ternyata saya masih mendengar kabar mereka berdua disini. Saya salah seorang adik kelas jeje, dan sempat merasakan bimbingan kang Har. Saat ini saya sedang meyelesaikan S-3 di eropa, dan tanpa terasa, lebih dari 10 tahun berlalu. Senyum kang Arya dan Kang Har masih terbayang di saya. Mereka berdua adalah laki laki ikhlas yang jauh dari ketenaran dan Subhanallah ternyata masih merintis dakwah di SMP dan SMU.
    Semoga suatu hari dapat dipertemukan dengan mereka kembali. Semoga rahmat Allah selalu tercurah untuk mereka berdua. amin.

    wassalam
    alumni SMUN 3, 99.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 28, 2010 by in Self and Org. Development and tagged , , , , .
%d bloggers like this: