Angin

To run where the brave dare not to go

All You Need is Love

Belakangan beberapa kawan cukup gerah dengan status YM saya yang “all you need is love”. Mereka menggoda saya dengan berbagai macam pertanyaan iseng seperti, “ciee, iraha atuh?”, “kunaon kang? :p”, ‘iraha ondangana”, atau “langsung bikin proposal aja”. Haha, rupa-rupanya status macam gini memang cukup sensitif ya. Ya sudahlah kalau begitu saya tulis note ringan ini untuk berbagi tentang apa yang belakangan ada di pikiran saya.

Jadi ini bermula dari lagu yang sangat bagus dari The Beatles, All You Need is Love;

There’s nothing you can do that can’t be done.
Nothing you can sing that can’t be sung.
Nothing you can say but you can learn how to play the game
It’s easy.
There’s nothing you can make that can’t be made.
No one you can save that can’t be saved.
Nothing you can do but you can learn how to be you in time
It’s easy.

All you need is love, all you need is love,
All you need is love, love, love is all you need.
Love, love, love, love, love, love, love, love, love.
All you need is love, all you need is love,
All you need is love, love, love is all you need.

There’s nothing you can know that isn’t known.
Nothing you can see that isn’t shown.
Nowhere you can be that isn’t where you’re meant to be.
It’s easy.

All you need is love, all you need is love,
All you need is love, love, love is all you need.

(John Lennon/ Paul McCartney)

Hehe, sorry dude, gw gak lagi ngomongin apa yang lw kira. Coba lw dengerin dan simak baik-baik lirik ini sambil menyuruput secangkir kopi, dan sepiring gehu (tapi jangan ditambah sebatang djarcok apalagi kartu gapleh). Apa yang diceritakan di sana? Apakah konteks cintanya Alier dan Mula yana? Apakah kaya cinta di lagunya Armada Band atau d’Bagindas? Sorry ma bro, it’s more than that. I’m not in mood to talk about love in that context.

John Lennon lagi bicara tentang Passion. Cinta yang menjadikan segala sesuatu yang sulit menjadi mudah. Cinta yang menjadikan segala yang mustahil menjadi mungkin. Cinta yang menjadikan sesuatu yang sangat jauh menjadi bisa kita raih. Itulah kekuatan cinta dalam wujud passion, atau suara hati, atau panggilan jiwa kepada sesuatu yang tinggi. Alasan keberadaan kita di alam wujud ini.

Cinta ini yang menjadi kekuatan Jendral Sudirman mau bergerilya dalam epik Palagan Ambarawa, dengan kondisi fisik yang sangat lemah.
Cinta ini yang menjaga integretitas Pak Natsir yang seorang Perdana Menteri, namun hanya mengenakan jas tambalan dan tidak memiliki rumah pribadi hingga akhir hayatnya.
Cinta ini yang membuat Sayyid Quthb tersenyum menghadapi algojo yang akan mengeksekusinya.
Cinta yang telah mengharu-biru hati, mengusai perasaan, memeras habis air mata, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk matanya Hasan al Banna.

Cinta ini yang membuat Imam Bukhari mau berjalan beribu mil mengelilingi jazirah Arab hanya untuk menemukan seorang perawi hadits yang mungkin ia tanya satu pertanyaan sederhana seperti “Apakah kamu mengenal si fulan?” lalu pulang lagi.
Cinta ini yang menegakan integritas Umar bin Abdul Azis sebagai khilafah, bahkan ia mematikan lampu minyaknya di malam hari saat ada orang yang menemuinya untuk keperluan pribadi sehingga mereka harus bergelap-gelapan.

Cinta ini yang menjadi alasan Khalid berkata, “berjaga di malam yang dingin dalam sebuah peperangan lebih aku sukai daripada menikmati malam pengantin baru”.
Cinta ini yang membuat Handzalah memilih pergi meninggalkan malam pertamanya dengan istri yang baru dinikahi untuk pergi berjihad di Uhud, hingga ia syahid di sana lalu dimandikan oleh bidadari.
Cinta ini yang menjadikan Mushab bin Umair untuk memilih meninggalkan segala kemewahannya sebagai orang yang paling kaya dan tampat, lalu memilih hidup di jalan Allah dan syahid dalam kondisi tidak memiliki kain kafan yang cukup untuk mengebumikannya.
Cinta ini yang memberi tapak di bahu Umar, karena tiap malam ia memanggul sendiri karung gandum berkiling Madinah mencari rakyatnya yang kelaparan.

Cinta yang begitu besar dari junjungan kita Nabi Muhammad saw hingga kata terakhir yang diucapkan beliau adalah “ummatku, ummatku, ummatku”.

Apakah semua itu hal yang sangat berat? Saya kira tidak bagi mereka. Mereka telah menemukannya. Dan bagi kita yang ingin seperti mereka. All we need is love, all we need is love, love is all we need.

Mari kita belajar dan temukan cinta itu.

Minas, 12 Juni 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 13, 2010 by in Self and Org. Development.
%d bloggers like this: