Angin

To run where the brave dare not to go

Bersama Para Syuhada atau Para “Syuhada”

Seorang kawan, dahulu adalah aktivis dakwah yang sehat dengan segudang aktivitas di Rohis-nya. Kini ia memilih jalan hidup teman-temannya kebanyakan, bahkan tergila-gila dengan seorang lawan jenis yang ia dambakan. Seorang lagi, mulai terbina di Fakultas Kedokteran salah satu Universitas Terbaik di luar Jawa. Ia memutuskan untuk berhenti ngaji, entah memang penyebabnya atau bukan, setelah tidak dipilih syura fakultasnya untuk menjadi calon ketua BEM fakultas.

Ada lagi seorang akhwat, mahasiswi institut terbaik di negeri ini. Dengan segudang gerak progresif amal siyasi di BEM yang biasanya membuat gentar para penguasa. Kini ia menjalin hubungan yang tidak sepatutnya, dengan seorang kawan non-muslim. Yang lain lagi di tempat yang sama, lepas karena kecewa dengan tanzhim yang dinilainya terlalu kaku, jumud, dan tidak fair dalam memimpin organisasi kemahasiswaan. Bahkan kini ia dan kawan-kawannya yang ”sakit hati” dengan para aktivis dakwah kampus berbalik menjadi oposan.

Ada pula seorang akhwat yang semasa SMA termasuk di barisan depan dakwah sekolah, merasa banyak hal yang tidak dapat ia pahami dari amal jama’i ini. Tetapi yang satu ini alhamdulillah, hanya memilih tim dakwah yang lain. Dan entah berapa banyak lagi para para ”syuhada” (mungkin istilahnya kurang tepat), para kader yang telah berguguran di jalan dakwah.

Apa sesungguhnya di balik fenomena para ”syuhada” ini. Apakah bisa dijelaskan bahwa hal itu adalah sunatullah dalam dakwah. Bahwa tabiat jalan dakwah ini adalah panjang, berliku, penuh onak dan duri, serta hanya sedikit orang yang sanggup untuk setia bersamanya. Atau inikah yang Allah janjikan dalam surat Al Ma’idah ayat 54, bahwa dakwah punya sistem auto recovery sendiri yang akan mengeliminasi penyakit di tubuhnya. Bahkan di zaman Rasullah saw pun ada seorang Abdullah bin Ubay, seorang munafik tulen yang menjadi benalu bagi umat Islam di Madinah. Tetapi akan sungguh berbeda antara emas dan seng, seperti Ka’ab bin Malik versus Abdullah bin Ubay cs pada perang Tabuk. Semoga ini menjadi obat penenang bagi kita.

Tetapi ada sudut pandang lain yang tidak boleh diabaikan. Betulkah ini semua adalah anugerah Allah kepada amal jama’i ini atau justru sebaliknya. Bahwa jama’ah dakwah ini sudah menjadi mobil tua yang ringkih yang nyaris semua komponennya mengalami trouble. Mulai dari kaderisasi yang kualitasnya tidak terperhatikan, barangkali karena tuntutan rekrutmen yang berlipat untuk menyokong sehatnya piramida dakwah. Interaksi yang lebih cair bahkan tidak jarang berada di wilayah abu-abu, karena tuntutan ekspansi dakwah ke seluruh lini masyarakat. Hingga masalah asholah sulkiyah (laku) dan fikriyah kader yang tergerus karena lemahnya kajian atas ilmu dasar; Al Qur’an, hadits, aqidah, akhlaq, dan fiqih ibadah akibat para asatidz yang punya lebih sedikit waktu untuk grassroot karena tuntutan dakwah di parlemen. Hal-hal ini yang kemudian berakibat amal jama’i kita reyot di sana sini. Ada yang begitu saklek dan kaku dalam hubungan qiyadah wal jundiyah. Atau sebaliknya tidak ada ketaatan kader pada mas’ulnya. Ukhuwwah yang makin hari semakin hambar. Serta syura-syura yang menjadi tidak lebih dari sekedar rutinitas pekanan kedua setelah liqa.

Perlu ada pembenahan terhadap dua hal. Pertama, sistem tarbiyah yang efektif membangun fikrah dan suluk yang ashil (murni) yang berbasis kepada pemahaman dan ilmu yang kokoh. Mudah-mudahan hal ini dapat diakomodasi oleh manhaj terbaru jika diimplementasikan dengan baik di lapangan.

Kedua, paradigma manajemen amal jama’i kita. Ada dua hal yang berpengaruh dalam cara kita memandang amal jama’i yang berbeda antara hari ini dan dua puluh atau sepuluh tahun yang lalu yaitu jumlah berlipat lebih banyak dan situasi keterbukaan. Semoga para qiyadah kita jauh lebih dahulu memahami ini sehingga amal jama’i ini memiliki sistem yang mampu secara mudah menggerakan 500.000 kader yang ada sekarang dan insya Allah menjadi dua juta kader dua tahun lagi. Karena fenomena yang ada di lapangan adalah kader 4L, lu lagi lu lagi. Konon di salah satu kampus yang sudah cukup kokoh tanzhim-nya tercatat 800 orang kader terbina di sana. Tetapi biasanya sangat sulit menemukan kader yang bisa diajak untuk terlibat dalam sebuah kegiatan. Sehingga dia lagi dan dia lagi yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Entah barangkali masih banyak di antara kita (khususnya para mas’ul) yang bernostalgia dengan jumlah kader yang bisa dihitung dengan jari. Yang setiap saat dengan sekejap semuanya bisa dikumpulkan dan digerakkan. Juga ukhuwwah yang bisa terjalin dengan sangat kuat, karena memang jumlahnya sedikit. Tapi alangkah lebih baik jika hari ini kita berfokus pada pemberdayaan kader yang ada berdasarkan wilayah keunggulannya masing-masing. Karena fitrah dari ilmu dan pemahaman (hasil dari pembinaan) adalah menuntut amal. Dan fitrah dari amal adalah bahwa amal itu akan excellence apabila amal itu digarap di wilayah keunggulan seseorang.

Jika selama ini polanya adalah mobilisasi, maka kini mobil yang ada sudah tidak muat lagi. Maka jangan lagi dimobilisasi, tetapi berilah peta dan ongkosnya, biarkan ia pergi ke tujuan yang ditentukan dengan kendaraan masing-masing. Ada yang naik motor, sepeda, atau bahkan joging. Pemberdayaan akan sulit terjadi apabila kader yang banyak itu tidak diberi ruang yang cukup untuk bereksperimen dan berimprovisasi. Dan ruang ini akan sempit jika sistem yang ada masih cenderung hierarkis dan bersifat top-down. Justru dengan jumlah yang banyak semestinya sistem bersifat lebih sederhana, bottom-up, serta desentralisasi. Karena sistem yang hierarkis, kompleks, dan tersentralisasi memerlukan kontrol dan maintenance yang lebih sulit. Terakhir, pra syarat agar hal ini tidak melenceng adalah kembali ke seberapa baik kualitas tarbiyah yang dilakukan.

Sudut pandang ketiga untuk menyikapi fenomena para ”syuhada” ini adalah bagaimana kita, para kader dakwah, yakin bahwa kita akan bertahan di jalan ini kecuali maut saja yang bisa memutuskannya. Akankah kita seperti sahabat yang diabadikan dalam QS Al Ahzab ayat 23, ”Di antara orang-orang muknin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” Sesungguhnya, bagaimana kondisi kita hari ini menggambarkan bagimana akhirnya. Maka apakah amal kita, fikrah kita, dan niat kita hari ini akan menjadikan kita bersama para syuhada atau para ”syuhada”.

”Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah: 155)

Soroako, 24 Juni 2007

2 comments on “Bersama Para Syuhada atau Para “Syuhada”

  1. Yohan Wibisono
    October 28, 2010

    Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang Bisnis dan Kesehatan di blogku : http:// http://www.ptmsi.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 13, 2010 by in Dakwah.
%d bloggers like this: