Angin

To run where the brave dare not to go

Dua Dimensi

Alkisah, ada dua orang nelayan. Mereka awalnya sama-sama nelayan miskin, hanya memiliki sebuah sampan kecil serta alat pancing yang sederhana. Waktu pun berlalu, sang nelayan pertama memilih cara hidup yang berbeda dengan nelayan kedua. Nelayan pertama adalah sosok yang penuh rencana dan mimpi. Dia mewujudkannya dengan kerja keras dan keseriusan yang sangat dengan rencana-rencananya itu. Dia melaut dengan jarak dua kali lebih jauh dari nelayan yang lain. Hasil pendapatannya hampir seluruhnya dia gunakan lagi sebagai modal usahanya, hanya sedikit sekali dia makan ikan hasil tangkapannya sendiri. Cukup nasi dengan garam, atau paling mewah dengan ikan asin. Hanya itu yang ia makan selama bertahun-tahun. Begitu pula dengan kehidupan pribadinya, karena ia lebih sering berada di tengah laut dan sibuk dengan usahanya, ia belum juga menemukan pasangan hidupnya.

Nelayan kedua hidup dengan caranya sendiri. Ia tidak terlalu lama melaut. Ia segera pulang begitu tangkapannya cukup untuk dimakan sendiri di hari itu dan hanya sebagian kecil dijual ke pasar asalkan uangnya cukup untuk membeli nasi, sayur, dan buah-buahan. Karena tidak terlalu lama melaut, tentu ia memiliki lebih banyak waktu untuk kehidupan sosialnya mengurus anak-anak TPA, dan hobinya bermain futsal di pinggir pantai, serta menulis puisi sambil melihat senja. Di usia yang sangat muda ia sudah menikah dengan gadis sederhana putri paman petani dan dikaruniai anak-anak yang lucu.

Nelayan pertama hidup dengan rencana dan obsesi untuk mengubah nasib dan hidupnya kearah yang lebih baik. Ia pun membayar lunas semua itu dengan kerja keras dan pengorbanan. Jerih payah dan segala kepahitan yang ia alami selama dua puluh tahun berbuah manis. Di usia empat puluh ia telah memiliki belasan kapal ikan modern. Hampir seluruh kawasan Samudera Hindia yang berbatasan dengan Australia telah ia arungi. Terjangan badai dan ombak sudah menjadi kesehariannya. Tangkapannya pun bukan lagi dijual ke pasar ikan di kampungnya, tetapi telah menjadi komoditas ekspor utama. Ia pun dinobatkan sebagai nelayan terbaik nasional oleh Menteri Kelautan dan Perikanan.

Nelayan kedua hidup dengan rasa cukup atas apa yang ada. Ia memiliki prinsip hidup yang mengalir seperti air. Begitu saja ia menjalaninya dengan spontan. Tidak ada target yang besar dan muluk-muluk. Ia hanya memiliki bekal prinsip; selalu bersyukur dan qanaah atas apa yang ada, dan tidak bersikap sombong, hanya itu saja. Ia selalu berteima kasih kepada Tuhan yang Maha pemurah yang memberinya ikan-ikan segar untuk dimakan tiap hari. Ia bersyukur dengan keluarganya yang harmonis dan penuh kasih sayang, karena ia selalu memberi mereka waktu dan perhatian lebih. Ia pun menikmati hari-harinya yang hanya seperti dulu, dengan bermain futsal di pinggir pantai dan menulis puisi di senja hari.

Suatu hari nelayan pertama pulang ke kampungnya dan ia bertemu dengan sahabatnya itu. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu sehingga pertemuan itu sangat mengharukan dan emosional. Nelayan pertama pun menyadari kondisi sahabatnya yang ia lihat layak dikasihani. Ia merasa kasihan dengan sahabatnya yang hari itu kondisinya sama dengan dua puluh tahun yang lalu. Tinggal di rumah petak yang sama, dengan perahu sampan yang itu juga, tanpa ada kemajuan sedikitpun. Satu-satunya perbedaan adalah kini ia sudah memiliki keluarga yang harmonis dan makin hebat saja kemampuan bermain futsalnya, juga kumpulan puisinya yang makin tebal.

Dengan penuh kasihan nelayan pertama bertanya ke sahabatnya itu,
”sahabatku, apa saja yang kamu lakukan? Dua puluh tahun yang lalu aku berpisah denganmu, dan hari ini aku menemuimu lagi nyaris tidak ada perubahan sedikitpun. Apakah engkau tidak memiliki mimpi dan tidak mau bekerja keras serta berkorban mewujudkannya? Lihat aku hari ini. Dengan izin Allah hidupku berubah sama sekali. Kali ini aku menikmati buiah dari kerja keras serta penderitaanku selama ini. Lihat semua kekayaan dan prestasi yang aku torehkan hingga hari ini”
Nelayan kedua tertegun tidak menyangka bahwa hari itu ada sebuah pertanyaan yang paling menyakitkan dalam hidupnya, dan itu datang dari sahabatnya sendiri. Tak lama ia tersenyum seraya berkata,
”Saudaraku, engkau sungguh lelaki yang luar biasa dengan mimpi yang besar dan kesungguhan. Aku merasa bangga memiliki saudara sepertimu. Tapi satu hal, apakah sekarang engkau bahagia dan merasa puas?”
”Jelas, aku bahagia dan senang sekali hari ini mimpiku terwujud. Setelah selama ini aku bekerja keras, bersusah payah, dan menderita. Aku memetik buahnya di hari ini.”, jawab nelayan pertama.
”Baiklah kalau begitu, jika selama dua puluh tahun ini engkau bersusah payah dan memetik buahnya di hari ini, maka ketahuilah, selama dua puluh tahun hingga hari ini aku mendapatkan dan merasakan apa yang baru bisa kamu rasakan hari ini.”
Nelayan pertama diam dan tertegun.

Sahabatku, seolah ada dua jiwa yang berbeda yang bisa manusia pilih tentang cara ia menatap masa depannya. Jiwa pertama adalah hidup yang penuh mimpi, obsesi, dan rencana. Ia rela mempertaruhkan segalanya; waktu, potensi, keluarga, harta, bahkan kegembiraan sebagai harga untuk menebus cita-citanya. Bagi dia keperihan dan penderitaan hidup adalah obat mujarab untuk memperkuat diri. Ia hidup dalam dunianya sendiri dan ia seolah hidup di masa depan. Jiwa pertama ini berpusat kepada mimpi.

Jiwa kedua adalah hidup yang penuh dengan kerianganan dan spontanitas. Hidupnya mengalir seperti air. Ia nyaris tidak peduli tentang apa yang terjadi kemarin apalagi esok. Bagi dia hidup adalah hari ini, sebab kemarin hanyalah kenangan dan esok hanyalah angan. Dia hanya berpusat pada prinsip dan nilai. Jika mendapat kebaikan ia bersyukur, jika ditimpa kesulitan ia bersabar. Ia merasa puas dengan apa yang telah diterima, karena baginya masih terlalu banyak nikmat Allah yang belum ia syukuri sehingga baginya, memiliki keinginan macam-macam adalah sikap tidak tahu diri. Jiwa kedua ini berpusat pada nilai.

Lalu manakah yang lebih baik, nelayan pertama atau nelayan kedua. Apakah kita mau menertawakan nelayan kedua yang hidup seperti seorang pengecut. Tidak mau keluar dari zona nyamannya, tidak memberi nilai tambah dan manfaat apa pun kecuali sedikit orang yaitu keluarganya, tidak ada capaian prestasi maupun perubahan apa pun. Apakah memang nelayan kedua layak kita kasihani karena hidupnya sangat kecil?

Bagaimana dengan nelayan pertama yang nestapa? Dengan capaian prestasi dan kehebatan semacam itu, ia bayar dengan harga yang mahal, bahkan terlalu mahal. Kira-kira apa jawaban yang akan ia sampaikan atas pernyataan terakhir nelayan kedua. Bahwa dua puluh tahun hidupnya hanya sampai ke capaian sejauh itu saja. Sedangkan ia kehilangan keindahan selama dua puluh tahun hidupnya. Malang sekali.

Inilah dua kutub jiwa manusia yang seringkali berada dalam posisi yang diametral. Sering kita lihat ada orang yang hidupnya sangat linear seprti persamaan garis lurus. Hidupnya penuh dengan perencanaan dan target-target yang membanggakan. Seperti beberapa yang saya kenal; sekolah di SD terbaik, sekolah di SMP Negeri terbaik, lanjut ke SMAN 3 Bandung, masuk Institut Terbaik Bangsa semuanya dilewati dengan catatan mulus; juara kelas, ketua OSIS, olimpiade, Ganesha Prize, mahasiswa berprestasi. Lanjutkan dengan beasiswa ke luar negeri lalu menjadi orang yang sangat berprestasi hingga tua nya dengan segudang karya. Saya selalu kagum kepada orang-orang macam itu. Bagaimana bisa ia bisa memegang kendali yang erat dalam hidupnya, sehingga seolah hanya yang ia inginkan yang boleh terjadi. Saya kadang heran. How that’s man/ woman could be real? Wasn’t it heard too good to be true?

Ada juga orang-orang yang hidupnya ibarat roller coaster; ada yang dulunya bandar narkoba, nyaris mati waktu sakaw, lalu sekarang hidup dalam nuansa tobat dan rasa syukur bahwa Allah belum mencabut nyawanya saat itu dan kini ia menjadi muslim yang taat. Ada seorang tukang parkir yang selama puluhan tahun melakukan hal yang sama, tetapi ia merasa bahagia dengan itu serta melayani tamunya dengan penuh senyum dan keriangan. Ada orang yang dalam cobaan penyakit mendera dan ia masih bisa selalu tersenyum. Ada orang yang hidup dalam keluarga yang miskin serta selalu dililit kesulitan hidup, tetapi ia tetap memiliki kemuliaan dengan masih mau membantu sesamanya. Ada pelacur yang akhirnya menjadi muslimah yang salih, Subhanallah. Saya selalu membayangkan seandainya saya ada di posisi mereka, sungguh akan mengalami hidup yang luar biasa.

Kemudian pertanyaannya adalah, hidup mana yang ingin kita pilih? Apakah hidup di mana impian, obsesi, rencana hidup menjadi fokus kita? Ataukah hidup di mana hanya cukup nilai dan kebahagiaan hari ini yang menjadi fokus, lalu membiarkan semuanya mengalir penuh syukur dan sabar?

One comment on “Dua Dimensi

  1. lasykar
    September 3, 2013

    bagus dan bermanfaat. terimakasih atas jerih payah tulisan yang bagus ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 13, 2010 by in Self and Org. Development.
%d bloggers like this: