Angin

To run where the brave dare not to go

Mentari dan Sejuta Kabut

Prolog

Pagi buta sebelum fajar kami bergegas meninggalkan kemah di Lembah “Alun-Alun” Suryakencana. Hanya berenam manusia yang malam itu berada di lembah yang membentuk dataran seluas beberapa hektar itu. Tenda kami berada di sela-sela pohon edelweiss setinggi satu meter yang memenuhi sebagian lembah Suryakencana. Kami berobsesi untuk melihat fajar dari puncak Gunung Gede yang berjarak tiga kilometer dari tenda. Setengah perjalanan untuk melintasi lembah Suryakencana, dan setengahnya lagi untuk mendaki punggungan terkahir sebelum puncak Gede. Sehingga dibutuhkan satu jam setengah untuk sampai ke puncak.

Walau dini hari itu kami tidak menggendong ransel yang disimpan di tenda, saya tidak merasa lebih mudah daripada tujuh kilometer yang kami lewati kemarin mulai dari pos gunung putri. Nafas terasa lebih sulit. Mendekati ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut oksigen menipis sehingga paru-paru harus lebih banyak mensirkulasi udara untuk menyuplai oksigen yang cukup bagi metabolisme. Suhu dingin pun mencapai titik nadirnya di dini hari. Kami berjuang melawan rasa lelah melawan rasa kantuk melawan rasa dingin untuk sebuah obsesi, menyapa mentari dari puncak sana.

Satu jam lebih pendakian diakhiri dengan suatu tempat di mana tiada lagi tanah yang lebih tinggi untuk dipijak. Itulah puncak. Ada perasaan bangga bahwa saya sudah berada di tempat tertinggi, namun segera saya selamatkan perasaan saya dengan rasa syukur bahwa hingga sejauh ini Allah masih meridhai kita dengan memberikan keselamatan dan kesehatan. Dan segera saya membuka kompas mengorientasi ke sudut 285 derajat, arah menuju Mekkah al Mukarramah, ka’bah di sana. Shalat subuh yang sangat indah dan berkesan di puncak Gunung Gede.

Dzikir pagi Al Ma’tsurat kami lakukan sambil melihat ke arah timur, dari arah fajar akan muncul. Dzikir pun sudah selesai dan sang fajar masih belum menampakan segaris jingganya. Saya lalu menyadari bahwa kabut yang menyelimuti kami sejak bergerak dari tenda tidak kunjung menipis. Ia malah makin menebal menyelimuti puncak Gede pagi itu, Jumat 23 April 2010.

Dalam bayangan saya, menyaksikan fajar dari puncak gunung adalah sesuatu yang speechless untuk diceritakan. Terlalu indah untuk diceritakan, it’s too good to be true. Dan barangkali ini adalah alasan bagi sebagian besar orang yang rela bersusah-payah menempuh berkilo-kilometer dengan kemiringan terjal untuk sampai di puncak gunung. Lelah dan keringat terbayar lebih dari setimpal dengan suguhan keindahan dari Allah Rabbul’alamiin. Barangkali inilah mengapa dalam al Quran bertebaran ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi yang menjadikan pergantian malam dan siang (fajar dan senja) sebagai objek berfikir yang akan menuntun sesorang pada pengakuan akan keberadaan Tuhan. Juga Rasulullah saw mencontohkan dzikir pagi dan petang barangkali karena salah satu hikmahnya ialah saat itulah lukisan alam sedang berada dalam gambar terbaiknya. Dan dengan segenap indera yang dimiliki manusia, akal yang terbuka dan digunakan untuk berpikir, disyarati hati yang jujur akan membawa manusia ke tingkatan yang lebih tinggi dalam ma’rifatnya kepada Penciptanya.

Pagi itu warna jingga kemerahan hanya terlukis tipis di langit, nyaris tidak tampak. Semburat jingga merah keemasan yang dinanti tidak kunjung tiba. Waktu pagi berselang begitu saja tiba-tiba terang. Ternyata kabut begitu tebal tidak mengizinkan lima pasang bola mata di puncak gede untuk melihat luas cakrawala. Fajar yang dinanti lewat tanpa keindahan yang diharapkan. Sisanya hanya kabut tebal menyelimuti. Kabut dan kabut di mana-mana kabut. Semuanya kelabu dan nampak muram, matahari pun tidak terlihat. Bahkan angin berhembus makin kencang meniup gerimis yang mulai turun. Ada sedikit perasaan kecewa terlintas di hati yang muncul begitu saja. Perasaan manusiawi yang mengusik saat kenyataan berbeda dengan harapan. Saat impian, imajinasi, dan bayangan di alam pikiran tidak berkesesuaian dengan apa yang dirasa indera. Bahwa mentari yang ingin ditemui, kabut yang didapati.

Mentari yang Ditemui

Begitulah hidup yang tidak selalu linear. Karena memang hidup ini bukanlah sebuah persamaan garis lurus. Namun terkadang obsesi dan rencana manusia mendikte persepsinya untuk menimbang segala sesuatu berdasar garis lurus itu. Jika ternyata apa yang nampak dan apa yang didapat tidak bersesuaian dengan garis lurus itu, jadilah ia kekecewaan, jadilah ia kegundahan, jadilah ia penyesalan, jadilah ia ketakutan. Inilah hijab yang menghalangi manusia dari sikap ridha atas takdir yang telah terjadi. Dan jika perasaan kecewa itu tidak kemudian dibimbing dengan iman, maka ia akan jadi bibit bagi suatu musibah yang sesungguhnya, pengingkaran (kufur).

Manusia menjalani hidupnya dalam konstanta waktu yang memiliki dimensi; kemarin, sekarang, dan esok. Tanpa iman maka manusia akan memandang kemarin dengan kesedihan, jika ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya. Atau berubah menjadi ujub jika ternyata apa-apa yang terjadi kemarin memang sesuai keinginannya. Tanpa iman maka manusia akan memandang hari esok dengan ketakutan atau kekhwatiran. Takut jika yang akan terjadi tidak sesuai dengan garis linearnya; rencana dan ambisi-ambisinya. Padahal angan dan harapannya dibatasi oleh suatu batas bernama kematian yang kita tak akan pernah mengetahuinya sampai itu terjadi. Oleh karena itu, hanya tashawwur (persperktif) imani yang bisa menyelamatkan manusia dari tipu daya waktu yang berwujud kesedihan dan ketakutan ini.

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Yunus: 62-64)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushilat: 30)

Apakah orang-orang yang beriman tidak mengalami kesedihan dan ketakutan dalam hidupnya? Tentu saja kesedihan dan ketakutan ialah bagian dari fitrah kita. Sebagaimana Umar yang selalu bermuhasabah terhadap kejahilan masa lalunya, ia yang selalu menangis mengenang kejahilan mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Kesedihan berbuah taubat, dan taubat berbuah harapan dan keyakinan akan janji Allah yang Maha pengasih dan Maha pengampun. Begitulah iman bekerja menyelamatkan manusia dari kesedihan menuju harapan.

Mengapa Nabi saw berdoa begitu khusyu dan dramatis sebelum perang badar hingga Abu Bakar pun tidak kuat melihatnya. Simak untaian kata-kata beliau ”… jika Engkau tidak menolong pasukan ini maka tidak ada lagi yang akan mendakwahkan agama-Mu di muka bumi ini …”. Bahwa Nabi saw pun mengalami rasa takut. Mari kita ingat dialog antara Abu Bakar ra dan Nabi saw saat mereka berdua bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran kafir Quraisy saat mereka hampir ketahuan bersembunyi di sana. ”Ya Nabi, kaki mereka tepat di atas kepala kita, jika mereka melihat ke bawah mereka pasti akan melihat kita!”. Dengan sangat indah Rasulullah saw menjawab, ”Bagaimana pendapatmu jika ada dua orang dan Allah adalah yang ketiganya?”.

Dari ketakutan berbuah tawakal, penyerahan diri sepenuhnya setelah mengupayakan semaksimal mungkin. Apalagi kekuatan yang lebih besar dari merasakan keberadaan Allah dalam setiap langkah kita. Kebahagiaan apalagi yang lebih besar dari ma’rifat melihat tangan dan campur tangan Allah dalam urusan-urusan kita. Demikianlah iman bekerja menyelamatkan kita dari ketakutan menjadi keberanian.

Karena kita memiliki keberanian maka kita bermimpi, menyusun rencana, dan menjalankannya. Karena kita sadar bahwa bodoh maka kita memohon kepada Allah agar Ia campur tangan dalam urusan-urusan dan rencana-rencana kita. Kita tulis rencana-rencana dengan pensil, dan kita biarkan Allah yang Maha tahu menghapus sebagian yang tidak akan membawa kebaikan. Karena kita sadar bahwa kita lemah maka kita berdoa menggantungkan harapan dan rencana kita kepada Ia yang Maha kuat.

Hidup dalam ma’rifat kepada Allah swt akan membawa manusia ke dimensi yang tertinggi dan suci dalam hidupnya. Masa lalu akan menjadi sarana untuk bersyukur dengan semua kebaikan yang ia peroleh atau taubat atas kesalahan yang diperbuat. Masa depan akan menjadi sumber inspirasi baginya untuk bermimpi, membuat rencana, serta memompa keberanian. Hingga suatu saat ia berada di suatu titik dalam hidupnya, ia berhenti sebentar menoleh kebelakang, akan ia dapati bahwa hidupnya tidaklah seperti garis linear yang ia rencanakan awalnya. Melainkan lebih dari itu, jauh lebih indah dari garis lurusnya. Bahwa Allah memiliki rencana-Nya sendiri yang menaungi rencana hamba yang berma’rifat kepada-Nya dengan limpahan pertolongan dan keberkahan.

Epilog

Di puncak itu dalam awan dan kabut serta gerimis yang tak juga reda, saya tidak menemukan mentari dengan mata kepala saya. Tetapi mata hati saya bertemu dengan mentari yang jauh lebih bersinar, jauh lebih terang. Jika hendak menemui matahari tapi engkau bertemu dengan kabut, maka engkau akan tersadar bahwa keindahan bukan karena matahari atau kabutnya, tetapi peluh dan kesabaran yang engkau beri untuk menemuinya.

Saat engkau sudah memberikan dan mengorbankan semuanya namun harapan tidak kunjung menjadi kenyataan, kelak engkau akan tersadar bahwa pertanyaan apakah harapan itu terwujud sudah menjadi tidak relevan lagi. Bahwa perjuangan itu sendiri yang menjadi tujuannya. Karena tidak akan ada peluh, pengorbanan, dan amal yang tertukar. Mengenai hasilnya ini masalah waktu saja, sooner or later. Jika pun tidak di dunia yang sekejap ini, engkau akan menemuinya di akhirat yang abadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 13, 2010 by in Muhasabah.
%d bloggers like this: