Angin

To run where the brave dare not to go

Optimisme

Mereka berbicara tentang persoalan, tentang para koruptor yang sudah terlalu kuat untuk dikalahkan, tentang korupsi yang terlalu banyak untuk dihapuskan, membasmi korupsi di negeri ini ibarat memadamkan kebakaran hutan dengan air tiga ember, kata mereka.
Tapi kami lebih tertarik bicara tentang kesetiaan dan kejujuran,
bahwa lebih banyak orang jujur dan setia di negeri ini dibanding para koruptor itu, tapi mereka tidak pernah masuk koran atau berita di TV. Karena kejujuran dan kesetiaan memang hal yang sudah semestinya dan sewajarnya demikian, dan hal-hal yang memang sudah semestinya dan sewajarnya adalah tidak “marketable” untuk diangkat menjadi berita, katanya.

Mereka bicara tentang birokrasi yang bangkrut dan carut marut serta pelayanan publik yang kacau balau, mereka bercerita bahwa biaya ekspor dari daerah sampai Tanjung Priok adalah lebih mahal daripada biaya angkut dari Tanjung Priok hingga negara tujuan. Mereka berkata bahwa satu-satunya cara untuk memberantas lingkaran setan di birokrasi negeri ini adalah dengan memecat satu generasi dan menggantinya dengan satu generasi baru yang sama sekali tidak terkait dengan generasi sebelumnya. Dan itu adalah utopia, tidak mungkin terjadi.
Tapi kami memang tertarik bicara tentang utopia, karena utopia adalah sumber elan vital bagi sebuah bangsa yang ingin bangkit. Sebagaimana utopia kakek buyut kita akan kemerdekaan negeri ini. Bahkan menjadikan pemerintahan kita menjadi pemerintahan yang melayani bukan mengisap sama sekali bukan utopia, sudah banyak putra putri negeri ini, para kepala daerah yang melakukan hal itu dengan sangat baik. Yang perlu kita lakukan adalah terus belajar terus berbuat. Sebagaimana para pejabat dan birokrat jujur yang menyadari kesalahan di masa lalu, dan kini bertekad berubah memperbaikinya.

Mereka bicara tentang kebejatan dan kebobrokan moral. Tentang enam puluh persen pelajar yang sudah tidak perawan serta jutaan bayi yang dibunuh melalui aborsi. Tentang ribuan orang yang mati setiap hari karena narkoba. Tentang kelakuan para pesohor yang makin jauh dari moral dan norma susila. Negeri kita adalah negeri yang dikutuk dan akan selalu ditimpa bencana, kata mereka.
Tetapi kami lebih tertarik bicara solusi dan prestasi. Ada di antara kami yang begitu cemerlang prestasinya di dunia internasional, mengalahkan kompetitornya dari negera-negara termaju. Ada di antara kami yang secara nyata sudah membuat karya di masyarakat, menjadi solusi dan memberdayakan mereka. Dan lebih banyak lagi di antara kami yang selalu memiliki keinginan kuat memperbaiki dirinya, membuka wawasannya, mempertajam kompetensinya, memperluas jejaringnya, sebagaimana ia selalu menjaga moral dan budi pekertinya.

Mereka berpolemik tentang perebutan kekuasaan. Intrik-intrik politik yang licik. Koalisi dan lobi-lobi yang memuakan. Sandiwara dan konyol-konyolan yang memalukan seperti anak TK. Mereka mengatakan bahwa kita mengalami krisis kepemimpinan, krisis teladan.
Tapi kami lebih bersemangat bicara tentang sinergi dan kolaborasi. Kami berbeda-beda dan kami belajar menghargai perbedaan itu. Kami percaya bahwa perbedaan adalah modal untuk saling memperkuat, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan. Kami mencoba saling memahami kekuatan serta kelemahan masing-masing dan inilah modal kami untuk berkolaborasi serta bersinergi. Karena kami percaya bahwa Indonesia ini terlalu besar untuk dipimpin dan dibangun oleh satu tangan saja.

Mereka berdongeng tentang kita yang bangsa inlander, bangsa yang terlalu lama dijajah sehingga sulit untuk memiliki wibawa. Kita bangsa bermental jongos yang tidak berani memutuskan nasibnya sendiri. Kita katanya bangsa kuli yang selalu menjadi tamu di rumahnya sendiri.
Tapi kami lebih suka bercerita bahwa kita adalah bangsa besar dengan sejarah yang ditulis tinta emas dalam lembaran sejarah manusia. Kami lebih suka bercerita nyali dan heroisme arek-arek suroboyo. Wanita yang gagah perkasa dari Aceh, Cut Nyak Dien. Majapahit serta Sriwijaya yang menjadi negara adi daya. Geberasi 1928 yang penuh visi dan nyali. Serta masih banyak lagi yang bisa diceritakan dan ingin kami katakan bahwa; kita bangsa yang besar.

Mereka membuat analisis bahwa dunia ini akan menjadi multipolar. Ada BRIC (Brazil, Russia, India, dan China) yang akan menjadi poros ekonomi baru. Ada Iran dan Turki yang menjadi kekuatan baru di Timur Tengah, ada Amerika Selatan yang mengimbangi Poros Setan “AS dan sekutunya”, ada AS yang kehilangan kedigdayaannya, ada UE yang mulai digerogoti krisis diawali dai Yunani. Ada Afrika yang mencoba bangkit diawali dari Afsel sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Indonesia belum disebut.
Kami tidak peduli, kami lebih ingin membuat skenario kami sendiri daripada membuat analisis ini dan itu.

Maka kami akan bicara tentang persoalan, tetapi kami lebih banyak bicara tentang kemungkinan-kemungkinan. Kami akan bicara akan keluhan, namun kami lebih tertarik bicara tentang harapan. Kami akan bicara tentang masa lalu, dan kami akan lebih bersemangat lagi bicara tentang masa depan.

Dan jika mereka mengatakan Indonesia telah habis karena produksi migas makin menurun, gunung tembaga dan emas di Papua sudah hilang, hutan Kalimantan dan Sumatera habis ditebangi, keanekaragaman hayati punah satu demi satu, kekayaan laut kita habis dicuri orang maka kami pun menyesali itu semua. Tetapi kami untuk terakhir kali akan berkata. Harta dan kekayaan sebuah bangsa sesungguhnya ada dua. Pertama, adalah anak-anak mudanya. Kedua, optimisme dan harapan yang selalu berkobar.

Duri, 31 May 2010, 01:30

We shall overcome, We shall overcome
We shall overcome someday
Oh deep in my heart I do believe that
We shall overcome someday

We walk hand in hand, We walk hand in hand
We walk hand in hand today
Oh deep in my heart I do believe that
We shall overcome someday

We are not afraid, We are not afraid
We are not afraid to day
Oh deep in my heart I do believe that
We shall overcome someday

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 13, 2010 by in Pergerakan dan Peradaban.
%d bloggers like this: