Angin

To run where the brave dare not to go

Syahadatain Vs Pluralisme

Pengantar

Akhir-akhir ini milis alumni muslim 3 Bandung sedang rame-ramenya. Tema yang sedang dibahas adalah seputar pluralisme. Pendapat bersaling silat sana sini, masing-masing dengan gaya dan argumentasinya sendiri. Akhirnya saya gatal juga ingin turut “ngiring bingah”. Dari beberapa lintasan pikiran untuk menjawab poin-poin diskusi yang masih menggantung, jadinya ternyata tulisan yang cukup panjang. Selamat menikmati semoga bermanfaat

1. Ada orang-orang kafir yang saya kagumi..

Ia adalah Soe Hok Gie. Seorang nasrani keturunan tiong hoa. Yang saya tahu dia orang yang berani, tulus, dan jujur dalam berjuang mengatakan kebenaran yang dia yakini. Berani mengatakan hitam adalah hitam putih adalah putih. Track recordnya bersih. Dia mati muda pada usia 28 di puncak mahameru. Meninggalkan tulisan dan catatan-catatannya yang terus menjadi inspirasi bagi generasi berikut, saya salah satunya. Apakah sosok seperti ini yang digolongkan sebagai orang yang beramar ma’ruf nahi munkar?

Ia adalah Einstein, seorang Yahudi, ilmuwan sejati, karyanya besar, sebagai manusia ia memberikan manfaat sebesar-besarnya. Naluri kemanusiaan dan kebertuhanannya pun mengagumkan. Ia mengutuki ilmu pengetahuan yang digunakan tanpa panduan moral dan agama. Ia yang mengatakan, “agama tanpa ilmu pengetahuan lumpuh, ilmu pengetahuan tanpa agama buta”. Ia juga memperkuat teologi penciptaan dengan mengatakan “Tuhan tidak bermain dadu”. Apakah sosok seperti ini yang dimaksud dalam Quran surat Ali Imran: 191?

Ia adalah Bunda Theresa, wanita mulia sahabat dan pelayan kaum papa di India. Dunia menangisi kepergiannya saat iru di tahun 1997. Bunda Theresa adalah seorang biarawati yang mendedikasikan hidupnya bagi kemanusiaan. Hidupnya penuh dengan manfaat dan cinta kasih bagi manusia. Ia kah yang dimaksud oleh Nabi saw dengan “khairunnas man anfauhum linnas”?

Ia adalah Mohandas Gandhi. Tidak ada gagahnya sama sekali dari penampilan fisik seorang pemimpin. Tapi rakyat India patuh, tunduk, dan tulus mencintainya. Ia pun dengan bersenjata senyum, ketulusan, serta kata-kata yang tulus dan sederhana berhasil membuat imperial Inggris malu. Kemerdekaan India adalah hadiah bagi perjuangannya. Ia kah pemimpin yang dipuji oleh Rasulullah saw dalam hadits, “sebaik-baik pemimpin adalah yang mencintai rakyatnya dan dicintai rakyatnya”?

Ia adalah Ernesto (Che) Guevara. Kisah lain tentang anak muda yang meninggalkan keglamoran dan kemampanan hidup sebagai mahasiswa kedokteran yang berasal dari keluarga kelas atas di Argentina. Kesadarannya tumbuh dari perjalanan menjelajahi Amerika Latin dengan sepeda motor. Di sepanjang perjalanan ia bertemu dengan ketidakadilan, kemiskinan, kelaparan, dan penyakit yang melanda sebagian besar rakyat Amerika Latin. Ia lalu menegukan dirinya sebagai seorang pejuang revolusioner yang mencoba membebaskan negara-negara latin dari cengkraman kerakusan penguasa yang beraliansi dengan setan neoimperialisme. Beberapa negara memetik buah perjuangannya dengan berhasil mendirikan pemerintahan populer yang berpihak pada rakyat. Hidupnya berkakhir di ujung senapan, di hutan Bolivia dalam sebuah gerilya yang gagal, pada usia 38 sebagai seorang martyr. Dia kah sosok Mushab bin Umair masa kini?

Banyak juga kawan-kawan sekolah maupun kuliah saya yang beragama Nasrani, Budha, maupun Hindu yang saya kagumi. Akhlak mereka seringkali lebih baik daripada kawan-kawan saya yang muslim. Ada yang selalu siap membantu kawan-kawannya. Ada yang sopan santun dan tutur katanya sangat baik. Ada yang sangat prestatif. Ada yang selalu mengingatkan teman-temannya untuk peduli pada bangsa ini. Dan lain sebagainya. Hmm, mereka lebih Islami dari yang muslim. Seperti juga cerita dari orang-orang yang berkunjung ke negara maju seperti Jepang atau Eropa yang jujur, professional, dan sangat menghargai waktu. Termasuk pengalaman saya sendiri berkunjung ke Mesir dan Amerika Serikat. Dalam beberapa hal, AS lebih Islami dibandingkan Mesir.

2. Ada orang-orang muslim yang saya benci..

Apakah Haji Muhammad Soeharto yang memimpin Indonesia selama 32 tahun dengan tidak amanah akan masuk surga?
Apakah Mustafa Kemal Pasha yang mengakhiri keKhalifahan umat Islam juga akan masuk surga?
Bagaimana dengan Khalifah Al Mu’tashim yang gemar menyiksa para ulama, salah satunya Imam Ahmad? Apakah ia juga akan masuk surga? Bahkan dia bukan hanya muslim, tapi Amirul Muslimin.
Bagaimana juga dengan penguasa-penguasa dzalim lainnya di negeri muslim yang menjauhkan Islam dari rakyatnya sendiri serta menyiksa para juru dakwah di sana seperti Islam Karimov di Uzbekistan atau Gamal Abdel Nasser di Mesir? Apakah mereka akan masuk surga?
Bagaimanakah nasib para koruptor di negeri ini yang sebagian besarnya memiliki KTP Muslim? Apakah mereka juga akan masuk surga?

3. Sebuah garis demarkasi..

Kekaguman kepada mereka (orang-orang kafir itu) menjadi inspirasi bagi saya untuk terus beramal. Kekaguman saya pada mereka berada pada garis “sesungguhnya hikmah adalah barang kaum muslim yang hilang, di mana pun dia berada maka ambillah”. Kekaguman saya pada mereka berujung pada doa “semoga Allah memberi hidayah kepada mereka di akhir hayatnya”. Kekaguman saya terhadap teman-teman yang non-muslim pun menyebabkan saya dengan tulus membina pertemanan dengan mereka, saling belajar dan berlomba saling memperbaiki diri dengan mereka. Hanya al wala wal bara’ (kesetiaan dan keberlepasan diri) lah garis batas terakhir yang tidak boleh kita injak dalam membina hubungan dengan mereka.

Saya membayangkan suatu saat nanti di surga bertemu dengan Soe Hok Gie, “Gie naha antum di dieu geningan?”, “Iya Alhamdulillah akhi, ana waktu di Mahameru sebenarnya lagi tafakur hingga akhirnya saya meyakini kebenaran Islam, walau belum ada yang menyaksikan tapi di hati saya sudah meyakini Tiada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Tepat setelah itulah saya dipanggil pulang dengan gad beracun dari kawah Semeru..”. Saya juga membayangkan bertemu dengan mereka-mereka di atas dengan dialog yang tidak akan saya ceritakan di sini. Takut kepanjangan. Tapi intinya saya berdoa dan berharap bahwa mereka semua, manusia-manusia yang keberadaannya di dunia bermanfaat bagi sesama, tidaklah mati kecuali dalam keadaan Islam. Agar saya juga jika kelak masuk surga, akan berkumpul dengan kalian semua dan ngobrol langsung dengan kalian di sana.

Barangkali ini juga doa dan perasaan yang ada di benak Rasulullah saw terhadap pamannya Abu Thalib. Ia yang begitu besar jasanya terhadap dakwah, ia yang begitu besar cinta dan perlindungannya kepada sang ponakan, namun Ia gagal bersyahadat hingga akhir hayatnya. Rasulullah saw sangat bersedih dan mengabari kita bahwa ia akan berada di neraka paling ringan. Ia “hanya” akan dipakaikan terumpah yang jika dipakai otaknya akan mendidih. Nabi saw saja “gagal” dan doanya “tidak berhasil” membuat Abu Thalib bersyahadat hingga akhir hayatnya. Itulah pilihan Abu Thalib, dan itulah konsekuensinya. Seorang yang besar jasanya terhadap Islam, didakwahi langsung oleh Nabi, didoakan langsung oleh Nabi saw saja jika tidak syahadat maka dia “finnar, khalidina fiiha abada”.

Maka yang akan saya sampaikan ke Einsten, Gie, Che, Gandhi, Theresa, “punten akang-akang-akang, teteh-teteh.. sim kuring mah jalmi alit, sanes sasaha. Tapi da berhubung anjeun sadaya tacan syahadat sateuacan maot na, nya mangga weh eta nyanggakeun, seuneu naraka. Hapunten ieu mah sanes kirang sono. Da pun emang na baginda Nabi saw oge gening kedah ka naraka disebabkeun teu acan Sahadat sateu acan maotna sanajan langsung didoakeun ku baginda oge.”

Maka saya heran dengan pendapat yang beredar di sebagian umat Islam yang menyatakan bahwa umat beragama lain selain Islam juga bisa masuk surga. Mengacu ke siapa ya pendapat itu. Dan di Quran dan hadits juga tidak ada ceritanya. Kisah tentang Abu Thalib adalah dalil qathi yang jelas dan tidak ambigu tentang akhir bagi orang yang tidak bersyahadat hingga akhir hayatnya ialah neraka. Dalil ini cukup untuk menjelaskan ayat-ayat Quran yang disalah pahami oleh mereka tentang siapa yang masuk surga, termasuk surat Al Baqarah ayat 62,
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Jadi garis demarkasinya adalah syahadat. Jelas, tegas, dan hitam putih. Tidak ada wilayah abu-abu. Dalam sebuah hadits dari Abu Dzar ra yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ra, ““Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ kemudian meninggal, maka pasti masuk surga.”, maksudnya adalah syahadatain.
Selain itu hal ini juga diperjelas dalam surat Ali Imran ayat 102,
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

4. Sebuah dialog imajiner dengan aanak saya..

Jadi bagaimana jika anak kita yang masih kelas dua SD bertanya,
“Yah yah, kalau Soe Hok Gie, Einstein, dan Che Guevala masuk sulga enggak yah?”
Akan saya jawab, “Ade yang lucu, kalau mereka mati dalam keadaan bersyahadat maka mereka akan masuk surga.”
“Kalau Soehalto, Gamal Abdul Nassel, Mustafa Kemal, atau pala koluptol-koluptol yang jaat itu masuk sulga enggak? Kan meleka muslim juga sama kaya adek sama kaya ayah”
”Ade yang pinter, kalau mereka bertobat maka Allah Maha pengasih lagi Maha pengampun. Kalau mereka belum tobat, Allah Maha adil dan setiap orang akan mendapatkan sesuai amalannya di dunia.”
“Kalau ayah sama adek nanti masuk sulga enggak, kan sekalang agama kita Islam?”
“Ade yang soleh, kita enggak pernah tahu apakah kita masuk surga atau enggak. Yang ayah tahu mah, jika kita beriman dan bertakwa serta mati dalam keadaan Islam, maka akan masuk surga. Oleh karena itu kita harus terus beramal saleh dan bertakwa pada Allah, agar syahadat kita tidak gugur. Salah satu yang membatalkan syahadat adalah kemusykrikan. Maka janganlah engkau mendekati kemusyrikan, karena kemusyrikan adalah kedzaliman yang besar, begitu lho kata tokoh idola ayah, Lukmanul Hakim.”
“Oh gitu yah, adek sayang banget deh sama ayah. Algumentasi-algumentasi ayah jelas dan meyakinkan. Enggak kaya temen ayah itu tuh yang, lieul adek mah ngabandungannya. Masa katanya yah, agama ini agama itu semuanya sama-sama bisa masuk sulga. Adek ajah yang belum pelnah belajal silogisme, logika, apalagi pilsapat melasa pendapat itu teh teu nyalalambung. Masa nyembah Tuhan yang beda, meyakini kosntluksi akidah yang beda, tapi sama-sama dibilang benal. Ini yah konstluksi logika yang asa teu palalauguh ceuk adek mah:
Olang Islam bilang: hanya Allah Tuhan semesta alam, setelah itu ada sulga ada nelaka di mana setiap olang akan mendapatkan sesuai amalannya, dan hanya olang yang belsyahadat yang masuk sulga
Olang Budha bilang: ada yang namanya sang hiyang widi wase, ada dewa ini dewa itu, setelah mati ada yang namanya leinkalnasi.
Kedua plemis ini kan kontladiktif, ploposisi nya menegasikan satu sama lain. Jadi secala common sense aja gak mungkin dua-duanya benel. Pasti cuma salah satu yang benel. Kok bisa yah ada olang yang ngaku-ngaku plopesol doktol tapi logika gini aja gak ngelti, masa kalah sama adek yang kelas dua SD. Hehe. Untung adek punya ayah. Hehe. Udah ah, adek mau main plosotan dulu. Dadah ayah..”

5. Sebuah renungan..

Saya memilih untuk berIslam dengan menundukan akal dan perasaan ini kepada kebenaran yang ada bersamanya. Saya memilih untuk berIslam dengan menyandarkan pendapat dan logika-logika saya pada turats (suratan) yang diwariskan oleh Rasulullah dan generasi terbaik umat ini. Yang dijaga oleh ulama sebagai pewaris para Nabi. Yang diperjuangkan dan dibayar dengan darah dan air mata para mujahidin. Saya memilih untuk tidak mendekati Islam dengan duga-duga, cenah, meureun, katanya, panginten, jigana, seandainya, jeung sajabana. Mungkin inilah yang dituduhkan oleh mereka orang sebagai “tekstualis”, “puritan”, “fundamentalis”, “kolot” dan sebagainya. Tapi saya ingin dikatakan saya memilih berIslam secara kaafah dengan semangat “sami’na wa atho’na”. Hanya dengan inilah, saya percaya bahwa Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan terwujud nyata.

Semoga saya mati sebagai seorang muslim..

Ft Worth, February, 11, 2010

4 comments on “Syahadatain Vs Pluralisme

  1. kamil010290
    June 14, 2010

    mindahin notes FB ya kang?
    tapi saya baca lagi juga tetep inspiraatif..

  2. eduardoxmenezes
    October 19, 2010

    bagus pisan kang!
    saya harus buka mata bahwa hikmah ada di lingkungan luas, gak cuma di rempug di muslim aja. di nonmuslim juga ada

  3. Yohan Wibisono
    October 22, 2010

    Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku :

    http://www.TahitianNoniAsia.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 13, 2010 by in Dakwah.
%d bloggers like this: