Angin

To run where the brave dare not to go

Tebak Ayoo, Siapakah Timnas Pavorit Saya?

Apakah PSSI? Jelas PSSI dong. “Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku, ku yakin hari ini pasti menang. Kobarkan semangatmu, tunjukan sportifitasmu, ku yakin hari ini pasti menang.” seperti yang dibilang Bagus Netral. Tapi saya hilang akal dan hilang dompet berbicara PSSI hari ini. Jangan dulu bertanya “mau dibawa ke mana PSSI?” sebelum kita menendang jauh-jauh si koruptor itu dari kursi ketum. Jadi saya gak akan ngobrolin PSSI dulu. Nah selain PSSI, saya punya tim favorit, pavorit, faporit, maupun paporit (semuanya sama saja bagi orang Sunda pol) yaitu Turki.

World Cup kali ini tidak saya tunggu-tunggu dengan sangat antusias. Pasalnya tim jagoan saya yaitu Turki gagal dalam kualifikasi, sehingga WC 2010 Afsel ini menjadi kurang bergairah bagi saya. Mengapa saya menjagokan Turki? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama dalam sepakbla saya berideologi anti kemapanan. Lebih suka keluar dari mainstream. Kaya anak Indie label yang anti sama Major label dalam musik. Atau orang menyebutnya dengan aliran musik alternatif. Mengapa demikian? Sebab menjagokan tim-tim kuda hitam atau yang tidak diunggulkan memiliki kenikmatan dan sensasinya sendiri. Seperti saat saya menjagokan Yunani yang berjaya di Euro 2004 melibas tim-tim besar. Rasanya woow. Seru banget.

Alasan kedua saya menjagokan Turki adalah karena Turki memiliki kedekatan emosi dengan saya. Bukan karena saya punya tunangan orang Turki atau saya lagi mau nembak akhwat Turki, bukan, bukan itu. As simple as karena Turki adalah saudara saya, saudara seakidah. Karena tanah air Umat Islam sejatinya tidaklah disekat oleh batas geografis maupun geopolitik. Di mana dikumandangkan adzan maka di situ lah tanah air umat Islam. Sebagaimana saya pun belajar mencintai saudara saya di Gaza, Moro, Pattani, Uighur, Khartoum, Chechnya, Kosovo, Kandahar, Bashrah, dan belahan bumi lainnya.

Alasan ketiga karena pemain Turki namanya aneh-aneh. Seperti Hakan Sukur, Hakan Yakin, Hakan Unsal, Hakan Ku Siah (yang ini bohongan) yang selalu mengingatkan saya pada makanan. Ada yang namanya Tugay Kerimoglu yang merupakan kependekan dari TUkang ngaGAYa. Ada Emre Asik yang orangnya selalu asik, ada penjaga gawang Rustu Recber yang selalu meminta doa rustu sang Ibu sebelum ia bertanding. Ada Okan Buruk yang sering makan endog buruk (atau endog kacingcalang) sebelum bertanding sebagai sumber energinya. Ada juga Umit Davala yang potongan rambutnya umit-umit (maksudnya amit-amit).

Saya pertama kali mendukung Turki adalah saat Euro 1996 di Inggris. Waktu itu saya masih kelas 4 SD (edun teu?! budak kelas opat SD sudah menjagokan tim sepakbola karena alasan ideologis), dan saya lagi gila-gila nya ama sepak bola. Sunggu naas, Turki kandas di penyisihan grup tanpa mencetak sebuah gol pun. DI WC 1998 France Turki gagal lolos kualifikasi sehingga absen di Perancis. Turki mulai membuat kejutan di Euro 2000 Belanda-Belgia. Mereka mengkandaskan tuan rumah belgia di penyisihan grup dan melaju hingga perempat final sebelum dikandaskan Portugal yang diperkuat oleh Luis Figo yang lagi ganteng-gantengnya waktu itu.

Di Jepang-Korea 2002 Turki membuat kejutan besa mereka mengkandaskan tim-tim besar sebelum dihentikan Brazil di Semi Final dan membawa pulang gelar juara ketiga. Turki saat itu diperkuat pemain yang berlaga di Laga kelas satu Eropa seperti Hakan Sukur, Emre Belozoglu, Tugay, serta Tugay. Mereka adalah generasi Euro 1996 yang dulu adalah pecundang kini menjadi pemenang, from Zero to Hero kata bukunya Solihin Abu Izzudin. Di Euro 2004 dan WC 2006 Germay Turki lagi-lagi tidak lolos kualifikasi.

Seperti sebuah gerakan dakwah maupun gerakan politik mana pun, siapa yang gagal dalam kaderisasi, siap-siaplah mereka dihukum oleh hukum besi sejarah. Nampaknya Turki lengah dengan kaderisasinya pasca masa puncak generasi Hakan Sukur, tidak ada generasi yang cukup kuat meneruskan tongkat estafet perjuangan sepak bola Turki. Dan mereka sadar akan hal itu ,setelah mereka melakukan rekonsiliasi dan evaluasi dalam sebuah Munas yang bertajuk; “Mau Dibawa Kemana”.

Hasilnya? Lahirlah skuad Turki generasi pasca Hakan Sukur yang didanlapi oleh pemain Muenchen; Hamit Altintop, serta pemain anyar seperti Arda Turan (kakaknya teman saya Arda Pradikta -red), Semih Senturk (saudaranya penasihat keuangan Sefir Senduk), serta pemain Everton Nihat Kahveci yang selalu meluruskan niat sebelum ia masuk lapangan hijau. Generasi kedua ini berhasil menembus Euro 2008 Swiss-Austria hingga babak semifinal.

Di WC 2010 Afsel ini mereka kembali gagal masuk putaran final. Melihat grafik permainan Turki yang turun naik serta fluktuatif seperti harga saham di Wall Street, nampaknya selain kaderisasi Turki juga mengalami masalah dengan keIstiqamahan mereka, sering futur. Sedangkan istiqamah adalah kondisi syarat kedua setelah keimanan agar kita bisa berhasil.

Padahal 2010 ini mereka sedang berada dalam kondisi yang sangat prima secara politik dan ekonomi. Seandainya mereka ada di lapangan hijau mungkin para pemainnya akan melanjutkan kampanye pembebasan blokade Gaza oleh Israel najis cuih itu. Freedom Flotilla jilid II akan berlanjut di lapangan hijau dan Mavi Marmara nya adalah timnas sepakbola mereka. Yang terbayang oleh saya mungkin pemain Turki setelah mencetak gol akan membuka jersey nya yang bertuliskan “Save Al Quds”, atau “Intifadah Yes”, seperti yang dilakukan pemain Sevilla asal Mali yaitu Friedrich Kanoutte yang menunjukan kaos simpatinya untuk Gaza di awal tahun 2009 lalu saat ia mencetak gol di Liga Spanyol.

Apalagi membayangkan seandainya Erdogan pun datang menyaksikan putra putri nya bertanding. Wah mungkin ia akan berorasi di tribun kehormatan dan berteriak, “Ai lop gaza!! Pak opp Israeell”. Apalagi seandainya Iran, Venezuela, Bolivia, Cina, dan India pun masuk di Afsel ini. Jadilah Ahmadinejad, Chavez, Morales, Hujintao bergabung bersama Vladimir Putin, serta Lula Da Silva. Mereka akan membentuk kubu BRIC (Brazil Russia India China) plus negara kekuatan dunia baru Iran, Turki serta Poros Amerika Latin. Mereka tentunya akan main futsal bareng lalu syura membicarakan peta ekonomi dan peta politik dunia yang sekarang sedang mencari titik ekulibirium barunya. Setelah AS yang terancam madesu dan terakir ditampar oleh tragedi Oil Spill di Gulf of Mexico yang menelan biaya milliaran dollar serta bencana lingkungan yang tak ternilai banyaknya. Dan Eropa pun terancam krisis finansial yang sangat keras dimulai dari Yunani yang kini sudah collapse.

Dan saya sebagai budak viking (dibaca: piking) jika berada di sana mungkin cuma bisa ada di pagar luar stadion Royal Bafokeng di kota Rustenburg seraya membeli semangkok Cuanki dari Si Emang sambil berharap ada calo yang menawarkan tiket kering, “Aa bade tiketna A?, timur A Timur.. Dua puluh rebu weh A..”. Setelah itu masuk stadion sambil bernyanyi “Viking Turki sama sajaah, asal jangan The J**.. The J** itu ***”

Hehe

(Note aing kumaha aing MODE: ON)

3 comments on “Tebak Ayoo, Siapakah Timnas Pavorit Saya?

  1. kamil010290
    June 14, 2010

    ***= sesuatu yang berbahaya..

    kaderisasi dalam sepakbola..

    boleh juga!

  2. arun1st
    June 27, 2010

    urang mah argentina weh, aya si jenius messi soalna🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 13, 2010 by in Muhasabah.
%d bloggers like this: