Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (1): Belajar

Saya ingin bercerita tentang William Kamkwamba, anak muda dari sebuah negara miskin di Afrika, Malawi. Saat itu tahun 2001 dan usianya baru 14 tahun, bencana kelaparan sudah berlangsung selama lima bulan dan keadaan terus bertambah parah. Hingga ia dan keluarganya hanya sanggup makan sekali sehari dengan makanan yang memprihatinkan. Tentunya kondisi demikian membuat buruk pendidikannya sebagaimana yang ia ceritakan,

 

“In Malawi, the secondary school, you have to pay school fees. Because of the hunger, I was forced to drop out of school. I looked at my father, and looked at those dry fields. It was the future I couldn’t accept. So I was determined to do anything possible to receive education. So I went to a library. I read books, science books, especially physics. I couldn’t read English that well. I used diagrams and pictures to learn the words around them.”

 

Luar biasa, dalam kondisi sesulit itu ia mendapatkan ide untuk menjadi solusi bagi msalahyang sedang mereka hadapi. Dari buku-buku yang ia baca di perpustakaan, yang bahkan tak dapat ia pahami seutuhnya karena ia tak bisa bahasa Inggris, ia mendapat ide membuat kincir angin. Kincir angin yang ia tahu bisa menjadi pompa air serta membangkitkan listrik. Dengan air ia bisa menyiram ladangnya yang kekeringan sehingga bisa menanam lagi tanaman untuk menjadi bahan pangan. Ia memutuskan membuat sebuah kincir angin untuk dirinya sendiri lalu mencari barang-barang bekas yang bisa digunakan. Orang-orang, termasuk ayah dan ibunya menertawakannya saat itu bahkan menganggapnya gila. Hingga akhirnya ia menyelesaikan mesinnya dengan berbahankan kincir bekas radiator traktor, pipa PVC, kerangka sepeda, dan dinamo sepeda tua. Listrik dan air pun  bisa dinikmati di desanya, berkat impian gila seorang anak berusia 14 tahun.

 

 

Kamkwamba adalah cermin bagi kita untuk merefleksikan diri lalu mengingat-ingat lagi makna keberadaan kita sebagai manusia. Ia mengingatkan lagi saya tentang satu kata yang dengannya  kita bisa menjadi apa pun yang kita inginkan. Kita bisa menulis di awan, membelah karang, serta menyelam jauh ke dasar palung terdalam. Ialah kemampuan terbesar yang manusia miliki yaitu belajar.

Bagi saya belajar ialah proses yang terus menerus menuju kesempurnaan dirinya untuk bisa menjalankan peran dan hakikat kemanusiaanya. Secara sederhana ada tiga kata kunci dalam pengertian belajar ini;  kesempurnaan diri, hakikat kemanusiaan, dan proses terus menerus.

 

Pertama, kesempurnaan diri. Yang dimaksud proses menuju kesempurnaan diri ialah pengejawantahan atas rasa syukur, rasa terima kasih kepada Sang khalik yang telah menciptakan setiap individu dalam bentuknya yang paling baik. Setiap individu ialah pribadi yang unik dan hebat. Kesempurnaan manusia bukan terletak pada kehebatan dan kemampuannya atas segala hal, tak mungkin ada yang seperti itu. Melainkan pada kemampuannya mengelola keunikan dan keunggulan yang Allah titipkan kepada setiap orang. Karena pintu-pintu surga itu banyak dan ketaqwaan itu sendiri luas dimensinya sebagaimana Ia berfirman dalam surat At Taggabun ayat 16, fattaqullah mastatha’tum, yang artinya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”.

 

Dan dalam sebuah hadits,

 

Dari Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “beramalah karena setiap orang dimudahkan terhadap apa-apa yang telah diciptakan baginya, adapun orang yang bakal bahagia akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang yang bahagia dan orang yang bakal celaka akan dimudahkan melakukan amalan orang yang celaka”

 

Jadi bentuk syukur itu berupa optimalisasi dan penguatan atas potensi dan keunikan dirinya. Ia mengenal diri dengan sebaik-baiknya dan Ia bertumbuh kembang dalam keunggulannya seraya ia terus berproses menutup kelemahan-kelemahannya.

 

Kedua, hakikat kemanusiaan. Alhamdulillah, bersyukur saya mengenal  Al Quran sejak sebelum akal ini berkembang dengan baik (baligh)> Sehingga lebih cepat saya mengenal “apa sih manusia, siapa sih saya”. Alhamdulillah saya tidak mengalami masa-masa furstasi akan pencarian makna dan hakikat keberadaan manusia seperti dalam curhatannya Soe Hok Gie akan pencarian makna hidupnya,

“Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.Tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu.”

 

Terlalu mengerikan saya membayangkan seandainya saya menyandarkan pencarian ini ke tulisan para penulis dan pemikiran para filsuf yang mereka sendiri tidak yakin karena memang manusia membutuhkan bimbingan, bukan hanya akal yang terbatas yang bisa memahami hal ini. Jelas dan tegas Al Quran memberi tahu saya bahwa hakikat dan peran kemanusiaan ada dua. Pertama, ia menjadi hamba bagi Tuhan, maka misi hidupnya ialah pengabdian total kepada Allah swt. Kedua, ia menjadi khilafah/ pemimpin atau wakil ALlah di muka bumi. Agar manusia bisa mewujudkan kehidupan yang baik bagi sesama manusia maupun seluruh makhluk. Agar keberadaan kita menjadi rahmat bagi semesta alam.

 

Ketiga, proses yang terus menerus. Kita yang selama ini terbelenggu oleh mindset formalitas belajar selalu mentautkan belajar dengan bangku pendidikan dari TK sampai kuliah post-doktoral. Belajar pun lalu digerus maknanya dengan angka-angka di raport. Hasil belajar didangkalkan menjadi selembar ijazah yang digunakan untuk melamar pekerjaan. Padahal belajar dalam ajaran Nabi saw ialahminal mahdi ilal lahdi yaitu dari buaian hingga liang lahat. Padahal guru bukan hanya dosen melainkan Allah swt melalui utusannya dan seluruh makhluknya ialah guru kita, bahkan Allah swt memerintahkan kita belajar bahkan dari seekor nyamuk.

 

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (QS Al Baqarah 26)

 

Kamkwamba sungguh memberi contoh tiga makna pembelajaran ini dengan sebaik-baiknya. Bahwa ia mengenal potensi diri dengan sebaik-baiknya, ia yakin dengan dirinya dan ia membuktikan itu. Ia tidak takut untuk menjadi dirinya sendiri walau kondisi begitu sulit dan orang-orang mencemoohnya. Ia pun bisa menjalankan perannya sebagai manusia yang membawa rahmat dan kebaikan bagi semua orang. Dan terakhir ia merdeka sebagai seorang murid kampus kehidupan. Beruntung dia menjadi manusia pembelajar yang tidak dikekekang dan ditipu oleh kosmetisme pendidikan formal. Ia belajar karena ingin, sehingga dengan penuh antusiasme ia bisa menjadi solusi dan membawa manfaat bagi sesama. Kamkwamba telah melakukan dengan sebenar-benarnya.

 

Duri, 18 September 2010

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2011 by in Muhasabah and tagged .
%d bloggers like this: