Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (10): Orang-Orang “Kalah”

 

Dalam sebuah perbincangan yang hangat dan akrab, seorang sahabat  mengungkapkan kalimat yang sangat berkesan. Ia berkata “hidup ini hanya rangkaian episode aja, kemarin episodenya kita di atas sekarang kita di bawah, kemarin kita kalah sekarang gilirannya kita menang, gak usah terlalu sedih kalau kita lagi susah, dan jangan terlalu gembira kalau kita lagi untung. Ini hanya episode demi episode saja”

Apakah teladan-teladan kita, manusia-manusia agung itu, ialah orang yang episode-episode hidupnya hanya rangkaian cerita gilang-gemilang yang dialasi karpet merah, dikalungi untaian bunga, diiringi dengan puja puji dan tetabuhan gegap gempita?

Mari kita lempar ingatan kita kepada Nabiyullah Nuh ‘alaihissalam yang “kalah” dalam adu-nya yang diabadikan dalam surat yang dinamai nama beliau sendiri,

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS Nuh: 4-7)

Demikianlah Nuh a.s. dalam “kekalahannya”, selama 950 tahun berdakwah dan beliau “hanya” mendapatkan 80 sekian orang pengikut.

Kita sampaikan juga ingatan kita pada ayahanda Ibrahim a.s. Sendiri awalnya beliau membangun tempat ibadah pertama bagi umat manusia, hanya dibantu anaknya. Dalam kesendirian dan kesunyian. Setelah perjuangan yang panjang dan berat melawan tiran. Kenanglah episode “kekalahannya” dalam ketabahan beliau meninggalkan istri dan anak yang begitu diidamkannya di lembah yang tak ada kehidupan di sana. Mari ingat juga episode-episode “kekalahan” Nabi Yusuf a.s, mulai dari awal dikhianati saudara kandungnya, dijual di pasar sebagai budak, difitnah oleh istri majikannya, hingga titik nadirnya ialah menjadi penghuni penjara.

Dan tentu saja kita juga ingat curhatnya Baginda Rasulullah saw dalam hijrahnya ke Thaif. Kala itu di sebuah kebun, terpekur beliau di bawah sebatang pohon kurma dengan darah yang bercucuran di kakinya. Jangankan penerimaan dakwah atau sambutan yang santun, justru timpukan batu dari anak-anak kecil serta makian dari orang dewasanya. Dalam adunya ia menyampaikan permohonan kepada Allah Tuhan semesta alam atas “kekalahannya” dengan doa yang sangat indah dan lirih ini,

Ya Allah… Kepadamu aku mengadukan kelemahan kekuatanku,

Dan sedikitnya kemampuanku,

Serta kehinaanku dihadapan manusia.

Wahai Sebaik-baik pemberi kasih sayang,

Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku.

Kepada siapakah Engkau serahkan diriku,

Kepada orang yang jauh yang menggangguku,

Atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku,

Asalkan Engkau tidak marah padaku maka tiadalah keberatan bagiku,

Akan tetapi kemurahan-Mu jauh lebih luas bagiku.

Aku berlindung dengan Cahaya Wajahmu yang akan menerangi seluruh kegelapan,

Dan yang akan memberikan kebaikan segala urusan dunia dan akhirat,

Untuk melepaskan aku dari Marah-Mu,

Atau menghilangkan Murka-Mu dariku.

Hanya pada-Mu aku merintih berharap mendapatkan Keridloan-Mu,

Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu

Mereka, manusia-manusia agung itu, ialah manusia juga yang tidak luput dari sunatullah dalam kehidupan. Yang dipergilirkan oleh Allah untuk mereka juga seperti untuk kita, satu episode ke episode yang lain.

Pertama, mengenai sikap. Sesungguhnya alam pikir lah yang membentuk definisi menang-kalah, untung-rugi, senang-susah, sukses-gagal. Sejatinya semua rasa yang manusia perjuangkan untung menggapainya dan mati-matian untuk menghindarinya itu, bukanlah fungsi keadaan itu sendiri. Melainkan fungsi kesadaran dan cara pandang. Sama sekali bukan suatu absolutisme, tapi suatu kenisbian. Sangat subjektif. Tinggal setiap orang yang memiliki hak absolut untuk memilih, kesadaran dan cara pandang apakah yang ia gunakan, subjektifitas (nilai) macam apakah yang akan ia gunakan sebagai tolak ukur dalam memaknai itu semua.

Para pembelajar sejati biasanya memiliki wilayah kebahagiaan absolut yang membuat ia tak patah karena sesuatu yang kita sebut dengan kalah, susah, rugi, gagal, atau pun bentuk kesulitan lainnya. Mereka memiliki “surga”-nya sendiri. Surga di hatinya. Ruang kebahagiaan absoslut yang independen dari variabel-variabel kehidupan yang mengombang-ambingkan orang lain pada umumnya. Seperti ungkapan seorang ulama besar, Ibnu Taimiyah, yang membuat frustasi musuh-musuhnya.

Apa yang bisa dilakukan penguasa zalim itu kepadaku, karena surga ada di hatiku

Jika mereka memenjarakanku, maka itu adalah uzlah dengan Rabb-ku

Jika mereka mengasingkanku, maka itu menjadi rihlah (jalan-jalan) bagiku

Jika mereka memnbunuhku, semoga itu menjadi syahid bagiku

Sebagaimana yang Allah janjikan dalam surat Yunus ayat 62,

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Dalam menghadapi hidup dan kenyataan yang paradoks ini seorang mukmin digambarkan oleh Rasulullah saw,

”Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat, ia bersikap sabar, maka itu menjadi baik baginya.”(HR.Muslim)

Kedua, mengenai tujuan. Jika episode-episode hidup yang berbolak balik ialah sebuah sunatullah. Maka ada sunatullah lain yang Allah swt sampaikan dalam Al Quran.

 

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (Ar Ra’d: 7)

Dalam satu episode kebenaran dan kebermanfaatan boleh saja kalah. Kepalsuan dan kesia-siaan boleh saja berjaya. Tapi sejarah dan fenomena-fenomena di alam wujud ini telah mengajarkan kita bahwa yang benar pastilah menang pada akhirnya. Sedangkan kepalsuan dan kesia-siaan hanyalah buih yang tak berdaya dan tak berguna sedikitpun.

Nabi Ibrahim as sendirian awalnya tawaf di baitullah, hari ini lebih dari 40 juta manusia menawafinya setiap tahun. Baginda Rasulullah saw sendirian awalnya menyeru manusia, dan hari ini ada lebih dari 1.5 milyar manusia bershalwat kepadanya. Bandingkan dengan Firaun yang gagah jumawanya, tubuh dan kekayaannya hari ini hanya menjadi pajangan di Museum Kairo, tak lebih.

Oleh karena itu hidup bukanlah soal menang kalah, melainkan soal kesetiaan dan konsistensi kita terhadap nilai dan kebenaran yang kita yakini. Kekalahan ialah pengingkaran atasnya. Kemenangan bukan sekedar gegap gempita euforia merayakan kesuksesan, melainkan kesetiaan kita kepada mimpi-mimpi kita. Ini kemenangan hakiki. Dan kekalahan sejati ialah saat kita mengkhianatinya.

Wallahu’alam bi shawab

Duri, 31 Des 2010, 00:08

Terima kasih timnas, yang kau mainkan lebih dari sekedar sepakbola. Kau sedang memainkan drama, operet kehidupan yang menginspirasi segenap elemen bangsa ini yang makin kehilangan elan vitalnya.

One comment on “Catatan Pembelajar (10): Orang-Orang “Kalah”

  1. Rachmat
    April 5, 2011

    “So inspiring… trims. mohon ijin di add link nya bos.. trims 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2011 by in Self and Org. Development and tagged .
%d bloggers like this: