Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (2): Progresif

”Panta rei, kata Heraclitus—segala hal mengalir, segala hal selalu berubah, segala hal memerlukan pembaharuan,” (Soekarno)

 

Seandainya semua hal yang ada tidak berubah, semua diam di tempat, semua tidak bergerak. Apakah kita bisa mengatakan bahwa “tidak ada yang berubah”?. Tidak. Seandainya keadaan yang stasioner itu terjadi tetap kita tidak bisa mengatakan “life remains the same”. Ingat bahwa ada satu dimensi dari empat dimensi kehidupan dunia yang menjadi konstanta linear; waktu. Manusia bisa berkreasi memanjangkan, memendekan, meninggikan, dan merendahkan ruang-ruang kehidupannya di dimensi alam wujud x, y, z ini tapi manusia terikat pada sesuatu yang hidupnya diukur terhadapnya, yang terus mengalir dan menuju ke titik yang pasti, ialah dimensi keempat yaitu waktu (t). Dan manusia diberi jatah sekian waktu tertentu untuk dia memainkan peran dan tugasnya dengan baik. Bermula di saat akal budinya sudah berfungsi dengan baik (baligh) dan berakhir di t tertentu yang tak ia ketahui hingga ia sampai ke titik itu (kematian).

Kesadaran ini ialah hal mendasar yang harus selalu dijaga oleh para pembelajar. Seorang pembelajar semestinya tidak akan seperti Qais si majnun (gila) dalam roman Arab termahsyur “Laila Majnun” yang memilih untuk gila karena cintanya pada Laila tak pernah sampai. Ia memilih untuk tidak sadar bahwa waktu terus mengalir sekalipun keadaan tidak berubah; cintanya kandas. Andai Qais sadar bahwa waktu terus mengalir dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Andai Qais sadar bahwa kemarin tidak sama dengan hari ini.

Mari kita berkaca pada teladan terbaik kita saat perang Uhud. Tujuh puluh sahabat syahid, Rasulullah terluka, para kafiirin qurais malamnya sudah berpesta. Di Uhud kemarin Kaum Muslimin boleh kalah, tapi kesadaran yang Iman menjadi panglimanya membangkitkan nyali dan semangat para sahabat. Karena kemarin dan hari berbeda, karena kemarin hari di mana takdir Allah telah terjadi dan hari ini takdir menunggu untuk dipilih. Karena setiap unit waktu amal kita ditakar. Para sahabat mengerti betul akan hal ini. Maka sahabat dengan segala luka kembali berdiri, tegak menatap, mengejar lagi Quraisy yang sedang dimabuk pesta kemenangan. Mereka pun terbirit-birit, lari tunggang langgang. Satu sama skor akhir di Uhud. Begitulah kesadaran akan nilai waktu bagi para pembelajar sejati yang menjadikan mereka begitu progresif.

Yang kedua, pembelajar sangat menghargai proses. Ada seorang pemecah batu yang berhasil memecahkan batunya di pukulan keseratus. Maka pembelajar tidak akan mengatakan bahwa 99 pukulan pertama tidak berguna. Karena tidak akan ada pukulan keseratus tanpa pukulan kesatu hingga ke-99. Karena pukulan kesatu beda dengan pukualn kedua. Setiap pukulan, walau batu itu tidak pecah, ialah proses. Dan mereka tidak peduli bahwa batu akan pecah di pukulan keseratus.

Mereka hanya tahu bahwa ikhtiar harus dilakukan dan tidak akan ada yang sia-sia dalam setiap peluh yang tertetes dan tenaga yang terbuang. Semuanya adalah pembelajaran. Ini yang begitu bernilai serta mereka nikmati. Para pembelajar juga akan memaknai kisah Thomas Alva Edison dengan “untuk menemukan cara membuat bola lampu yang benar, harus tahu dulu bagaimana membuat 1000 bola lampu yang salah”. Pembelajar sangat menghargai proses sehingga mereka bisa progresif.

Ketiga, pembelajar selalu bersegera dalam kebaikan. Tidak ada kata menunda bagi mereka. Karena mereka memahami benar bagaimana Allah swt menyuruh kita bersikap terhadap kebaikan, jihad, dan amal-amal yang akan membawa kepada keridhaanNya. Allah swt menggunakan kata saari’uu yang artinya bersegera,saabiqu yang artinya berlomba-lomba, serta infiruu yang artinya berangkat tetapi asal katanya nerarti “anak panah yang terlepas dari busurnya”.  Sikap ini tercermin dari perkataan yang terkenal dari seorang sahabat dalam perang Uhud “kucium bau surga di belakang bukit Uhud sana, terlalu lama bagiku kalau sempat menghabiskan kurma ini”, segera ia pun berangkat menyongsong seruan Allah dan Rasul-Nya lalu syahid di sana. Bersegera, bergegas, tidak menunda adalah kunci progresifitas.

Hukum besi sejarah telah mengajarkan betapa banyak negeri dan peradaban yang dahulu jaya dan berkuasa, kini hanya tersisa namanya di buku sejarah maupun artefak-artefaknya di museum. Dan sebaliknya negeri-negeri yang dulu tidak dikenal kini muncul ke percaturan dunia. Ibnu Khaldun dalam “Muqaddimah” menyebutnya siklus sejarah. Ya, kebangkitan diawali oleh orang-orang yang progresif. Dinikmati oleh orang-orang yang menyukai kesempurnaan. Lalu peradaban diakhiri orang-orang yang terlena dan terlelap. Berhenti belajar, berhenti berkarya, berhenti berubah. Oleh karena itu Arnold Toynbee mengatakan, “Civilizations die from suicide, not by murder“.

Progresif adalah karakter yang paling terlihat dari seorang pembelajar dalam rangka mencapai “kesempurnaan dirinya” untuk melaksanakan peran dan tujuannya sebagai seorang manusia. Progresivitas ini dibangun di atas tiga pilar; menghargai waktu, menyukai proses, dan bersegera dalam kebaikan. Sebetulnya progresivitas ini  sejak 14 abad yang lalu sudah didefinisikan dengan baik oleh sahabat yang paling terkenal kecerdasannya, Ali karamallahu wajhah;

Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia merugi, dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia celaka

Duri, 20 September 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2011 by in Self and Org. Development.
%d bloggers like this: