Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (3): Open Mind

Mengapa bintang bersinar

Mengapa air mengalir

Mengapa dunia berputar

Lihat segalanya lebih dekat dan kau kan mengerti

(Sherina)

Para Nabi datang dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggugat akal dan menyentuh kesadaran seperti ayat-ayat tentang penciptaan alam semesta yang selalu didahului dengan kalimat, “apakah kamu tidak memperhatikan” atau “apakah kamu tidak berpikir”. Para Nabi pun menyampaikan risalahnya dengan hujjah, bukti, dan argumentasi. Seperti Ibrahim yang argumentasi cerdasnya membuat Namrudz mati kutu sehingga beliau a.s. dihukum bakar. Seorang muslim diminta menyandarkan segala sikap dan pemikirannya kepada Quran dan Sunnah, bukan “sugan dan cenah”. Oleh karenanya Islam mengutuk sikap fanatisme buta dan segala bentuk dogma.

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutikumengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf 108)

Ayat-ayat Allah adalah objek berpikir yang tak terbatas, baik ayat-ayat yang termaktub dalam kitab (ayat qauliyah) maupun ayat yang terhampar di alam semesta ayat (qauniyah) baik yang berupa hukum-hukum fisis maupun hukum-hukum sosial. Semua ini tercermin dari sebagian besar isi Al Quran yang mengajak kita untuk melihat, bertanya, mengguggat, berpikir, dan mengambil kesimpulan dari fenomena penciptaan (sains) juga fenomena sosial-humaniora yaitu sejarah para Nabi dan umat terdahulu.

Maka sikap ilmiah, kritis, dan objektif sejatinya ialah mindset seorang pembelajar muslim sejati. Dan karakter pembelajar serta progresif ini yang dihujamkan ke jiwa para sahabat oleh Rasulullah saw. Ilmu diganjar dengan balasan yang sangat inggi; surga. Derajat orang yang berilmu ditinggikan beberapa derajat. Semangat mencari ilmu kepada siapa pun dan di mana pun digelorakan, thalabul ilmu wa lau bi siin, “tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. Keparipurnaan konsep dan tata nilai yang disampaikan dalam Quran dan Sunnah diberi “lubang” untuk terus menjaga aktualitas seorang muslim dalam keberislamannya (yang selain hal-hal prinsip), seperti yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib,

Kalimat hikmah adalah barang berharga kaum Mukmin yang hilang. Dimana saja ia menemukannya, ia lebih berhak terhadapnya.”

Ada tiga attitude yang dimiliki para pembelajar dalam mengamalkan ini semua. Yang pertama ialah curiosity atau rasa penasaran. Curiosity ibarat radar yang mendeteksi objek di sekitarnya. Para pembelajar memiliki radar yang kuat akan ilmu, ide, dan informasi. Lagi-lagi Ali bin Abi Thalib memberi kita bocoran rahasia kecerdasannya,

“Kunci ilmu ialah bertanya”

Bayangkan Newton jika seandainya ia tidak mempunyai curiosity sebagaimana Newton yang asli. Tentu saat sebuah apel jatuh menimpa kepalanya dia mungkin akan marah sambil berkata, “jis, g*bl*g ieu Apel murag di sirah aing, ku aing dahar siah” kira-kira begitu dalam bahasa ABG Bandung yang suka nongkrong di Circle K. Tapi curiosity seorang Newton membuat ia sampai ke pertanyaan “mengapa apel ini jatuh”, “mengapa benda jatuh selalu ke bawah”, dst hingga menjadi jalan bagi Newton untuk merumuskan Hukum Gravitasi. Seorang pembelajar sejati bahkan dirangsang oleh Al Quran berpikir lebih jauh dari itu. Hingga ia berkesimpulan rabbanaa maa halaqta hadza bathila subhanaka faqiina adzabannaar. Ya, seorang pembelajar akan selalu haus akan ilmu dan ide. Ia akan belajar dari apa saja. Setiap objek menjadi sumber ilmu, setiap orang yang ditemui bisa menjadi sumber kebijaksanaan, setiap hal baru menjadi sumber ide dan inspirasi.

Kedua ialah kerendahan hati. Kerendahan hati ialah lawannya sifat sombong. Kesombongan ialah awal dari sikap Iblis dengan ultimate-kekafirannya. Sama seperti Abu Jahal cs yang menolak risalah kebenaran Muhamamad saw karena kesombongan. Sombong akan menyebabkan kekafiran. Secara bahasa kafir berasal dari kata kafara yang artinya menutup. Dalam konteks yang lebih luas kesombongan sekecil apa pun akan menyebabkan orang “kafir” atau tertutup. Tertutup dari ilmu, tertutup dari pencerahan, tertutup dari kemajuan, tertutup dari kebenaran. Maka kerendahan hati ialah sebuah keniscayaan bagi seorang pembelajar.

Imam-Imam Mahzab memberi kita teladan yang baik dalam hal ini. Di antara mereka ada perbedaan yang tajam, namun perbedaan pendapat itu tidak berujung pada perpecahan bahkan sebaliknya saling melengkapi dan memperkaya khazanah dan keilmuan satu sam lain. Seperti yang diungkapkan Imam Syafii pada murid-muridnya yang substansinya kira-kira seperti ini;

mazhab saya ialah Quran dan Sunnah, di mana saja (dari ulama mana saja) kalian menemukan pendapat yang lebih dekat kepada Quran dan Sunnah maka itulah mazhab saya”.

Begitu pula dalam perbedaan pendapat, sikap kerendahan hati para pembelajar sejati itu (para ulama salaf) tercermin dari ungkapan berikut;

Saya yakin bahwa pendapat saya benar dan pendapat anda salah, tetapi boleh jadi pendapat saya yang salah dan pendapat anda yang benar”

Dan sikap ketiga yang harus dimiliki seorang pembelajar ialah berpikir kritis. Salah satu ciri dari orang-orang yang “ulul albab” dalam Al Quran disebutkan,

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (ulul albab). (Az Zumar: 17-18)

Seperti yang disampaikan dalam Quran surat Az zumar di atas, selain kita mendengarkan semua perkataan, kita harus mengikuti yang terbaik di antaranya. Demikian pengertian kritis yang saya maksudkan. Lalu bagaimana sikap kritis itu diwujudkan dalam praksisnya? Saya kira catatan singkat ini sudah terlalu panjang untuk membahas hal ini sekarang.

<span></span>

Duri, 21 September 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2011 by in Self and Org. Development and tagged .
%d bloggers like this: