Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (4): We Always Have a Choice dan Catatan Pembelajar (5): Mati

Whatever comes our way

Whatever battles we have raging inside us

We always have a choice

It is the choice what makes who we are

And we can always choose to do what is right

(Peter Parker)

 

 

 

Suatu saat saya pernah merenung, apa hal paling mendasar yang seorang manusia miliki secara bebas dan merdeka tanpa seorang pun bisa merenggutnya. Apakah kebebasan atau kemerdekaan? Saya kira jeruji besi telah menjadi saksi sejarah panjang sejak manusia mengenal masyarakat. Penjara menjadi alat yang dibuat manusia untuk merenggut kebebasan manusia lain entah benar atau salah. Baik itu berupa hukuman atas kesalahan seorang pesakitan, maupun sebagai alat penindasan yang digunakan seorang penguasa kepada lawan-lawannya. Bukan, rupanya kebebasan bukan hal mutlak yang dimiliki oleh seorang manusia.

Apakah hal tersebut ialah kesehatan fisik? Saya pun berpikir bahwa bangsal-bangsal Rumah Sakit telah menjadi saksi atas ketidakberdayaan manusia dalam hal ini. Sumber-sumber penyakit tanpa ampun dan tanpa pilih kasih datang dan menyapa orang-orang yang sudah dialamati sakit. Pun seorang anak tidak bisa memilih dari siapa ia dilahirkan, apa penyakit yang ikut dilahirkan bersama tubuhnya.

Begitupun dengan ilmu, kecerdasan, dan pengalaman. Betul bahwa manusia yang menentukan kebiasaannya lalu kebiasaan itu yang akan menentukan nasibnya, begitu kata Stephen Covey. Namun belakangan pikiran saya lebih terbuka oleh pandangan deteminisme sosial dan lingkungan yang menentukan keberhasilan seseorang, seperti yang disampaikan Gladwell dalam The Outliers. Artinya banyak hal yang terjadi di luar kehendak kita. Entah itu berupa kesempatan mendapat pendidikan yang lebih baik, keluarga yang lebih baik, kelas sosial yang membuatnya ada dalam “keunggulan” yang tidak dimiliki anak-anak seangkatannya.

Bukankah bapak-bapak republik ini ialah orang-orang yang bernasib mujur. Mereka dilahirkan dari keluarga kelas menengah kalau pun bukan bangsawan atau priayi. Sehingga mereka bisa memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan sama seperti orang-orang Belanda di ELS, MULO, AMS, lalu melanjutkan studinya ke STOVIA di Batavia, THS di Bandung, atau sekolah ekonomi di Rotterdam. Atau yang dilahirkan dari keluarga ulama yang membuatnya bisa berangkat ke Timur Tengah untuk naik haji sambil berguru langsung kepada ulama-ulama di sana, memperoleh pencerahan langsung dari pemikir Islam yang cemerlang seperti Al Afghani, Abduh, dan Rasyid Ridha. Bapak-bapak kita yang tercerahkan itu pulang ke Indonesia, memahami masalah, menggagas ide, dan memperjuangkannya. Jadilah mereka dikenal sebagai Pahlawan, Founding Father, Orang Besar, dan segala gelar kekaguman rakyat negeri ini atas jasa mereka.

Lalu bagaimana dengan orang-orang biasa yang tidak lahir di lingkungan yang memberi kesempatan seperti bapak-bapak itu. Bagaimana dengan petani padi di Jawa Barat seperti Ki Marhaen. Anak-anak yang lahir dari perempuan malang yang dijadikan Jugun Ianfu. Orang-orang Jawa yang dibuang ke perkebunan-perkebunan Kopi di Deli Serdang, bahkan sampai ke Suriname. Petani-petani tebu di Jawa Timur, pekerja paksa di Bayah, Banten Selatan. Sama kah arti keberadaan mereka dengan orang-orang hebat macam Bung Karno, Hatta, Tan Malaka, Natsir, atau Ahmad Dahlan.

Saat berpikir seperti ini sempat terlintas dalam benak bahwa hidup ini tidak adil. Dan Setan pun berbisik “Tuhan memang tidak adil”. Oh setan, engkau memang brengsek. Andai saja saya tidak bertemu dengan UtusanNya yang membacakan kalam-kalamNya dan mengajarkan hikmah serta menyucikan jiwa manusia pastilah saya mengamini apa yang setan bisikan barusan. Lalu saya berkata, Tuhan tidak adil dan Tuhan-Tuhan itu hanya candu manusia yang butuh tempat mengadu dan berlindung. Oh malang nian orang yang mengaku ber-Tuhan tapi tidak mau mendengarkan apalagi taat pada apa-apa yang dibawa oleh utusan Tuhan.

Sebab utusan Tuhan telah menjawab dengan sangat jelas pertanyaan-pertanyaan saya tadi tanpa menyisakan sedikit pun keraguan. Bahwa yang mutlak manusia miliki bukanlah kemerdekaannya, kesehatannya, kesempatan-kesempatan yang ada di sekitarnya, atau pun hal-hal lain. Yang mutlak manusia miliki cuma satu yaitu; pilihan. Dan di atas pilihan ini lah amal manusia akan dihisab/ dipertanggung jawabkan. Seorang manusia tidak akan dinilai kemuliaannya karena ia dilahirkan sebagai arab atau cina, ia pun tidak akan dihisab atas apa yang didapatkan selain dari pilihan atau usahanya. Inilah hakikat kemanusiaan yang paling mendasar; free will, kebebasan untuk memilih.

Maha adil Allah yang tidak menganggap dosa perbuiatan yang dilakaukan dalam keadaan darurat saat tidak ada pilihan lain seperti memakan makanan haram demi menyambung nyawa. Maha suci ALlah yang tidak mengganggap dosa perbuatan yang kita lakukan saat tidak sadar seperti tertidur. Maha adil ALlah yang tidak menghisab amalan seorang anak yang belum sempurna akal budinya (baligh). Bahkan bagi orang-orang yang sama sekali tidak sampai ajaran Nabi kepada mereka, Allah tidak akan menghisab ketidakberIslaman mereka. Oleh karena itu sesoleh-solehnya malaikat, mereka tidak akan mendapat kenikmatan abadi di surga nanti. Karena malaikat tidak memiliki pilihan lain kecuali beribadah dan taat saja. Tetapi tidak bagi jin dan manusia yang bisa memilih antara berbuat benar atau berbuat salah, menjadi baik atau menjadi buruk. Mari kita simak cerita yang disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah,

”Ada dua orang di dalam penjara yang gelap dan muram. Sekian lama mereka berada di sana. Tiada mereka sedikit pun diberi kesempatan melihat dunia luar, kecuali hanya mengintip lewat dari jendela kecil berjeruji. Orang pertama selalu melihat lumpur dan tanah yang ada di luar penjara itu. Dia selalu mengutuki keadaan itu, dan kian hari yang ia lihat hanya tanah dan lumpur itu, kian ia merasa tertekan dan kesepian.

Orang kedua tidak pernah menjatuhkan pandangannya ke lumpur ang ada di tanah luar penjara itu. Sebaliknya ia selalu melayangkan pandangannya jauh tinggi ke langit sana. Ia memilih untuk menatap bintang dan rembulan yang dengannya, kian hari kian ia rasakan keindahan. Banyak inspirasi dan hikmah yang ia dapatkan dengan mentafakuri ciptaan Allah yang begitu indah tersebut. Ia tetap bahagia dan gembira meskipun ia pun sama-sama di dalam penjara”

Saat hakikat ini bisa kita pahami, mungkin suatu hari kita bisa berkata dengan anggun seperti yang dikatakan Imam Ibnu Taimiyah,

“Apa yang bisa dilakukan penguasa yang dzalim itu pada diriku. Jika mereka memenjarakanku maka itu adalah waktu yang baik bagiku untuk ber-uzlah (berduaan) dengan Allah. Jika mereka membuangku maka itu bagiku ialah rihlah (jalan-jalan) untuk melihat bumi ALlah. Dan jika mereka membunuhku maka aku lebih senang lagi, semoga itu kematian yang mengantarkanku kepada ke-syahid-an.”

Bahwa kita tidak dinilai berdasarkan apa-apa yang terjadi, atau apa-apa yang dimiliki. Melainkan kita dinilai atas pilihan-pilihan. Itu saja. Karena hidup bukanlah urusan menjadi hebat, menjadi terkenal, membuat karya yang dikenang, menjadi pahlawan, atau apa pun itu. Hidup sesederhana memilih. Selalu memilih pilihan yang benar. Apapun yang terjadi.

Duri, 3 Oktober 2010

 

Catatan Pembelajar (5): Mati

 

“Sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang selalu berpikir dan mempersiapkan dirinya untuk kehidupan setelah kematian…”

-Hadits-

 

Pernahkah kita teringat bahwa kita sangat lemah, yang hanya punya sedikit kendali atas kehidupan kita. Seperti kematian yang sebenarnya sangat dekat dengan diri kita. Betapa banyak variabel yang kita temui setiap hari, bisa mengantarkan kita pada kematian. Setiap detik, setiap tempat, segala sesuatu yang kita temui punya potensi untuk itu. Peluang akan hal ini tidak hanya berpotensi terjadi di area berbahaya, seperti di Irak atau Palestina yang terdengar suara ledakan senapan atau bom dalam hitungan menit. Tetapi lihatlah lebih dekat sekitar kita, di rumah, sekolah, kantor, kampus, dalam perjalanan, dan semua tempat.

Hal ini saya sadari lebih dalam saat perjalanan ke luar kota dengan sepeda motor. Saat itu saya merasa bahwa setiap kendaraan yang berpapasan punya peluang menabrak saya, atau saya menabrak kendaraan itu. Banyak faktor yang bisa memungkinkan itu terjadi. Mungkin ban yang kempes sehingga kendaraan oleng. Atau pengemudi yang lalai, atau kendaraan saya mengalami gangguan seperti remnya menjadi blong, atau kanvas remnya menyangkut ke as roda sehingga roda berhenti berputar mendadak. Bahkan setiap butir pasir atau kerikil di jalanan punya potensi menggelincirkan kendaraan saya. Mungkin juga saat menikung saya kurang beberapa derajat atau beberapa centi mengambil sudutnya sehingga motor saya tergelincir. Belum lagi bila kita memperhitungkan variabel waktu dan tempat. Berapa detik kiranya saya berada pada titik koordinat yang sama dengan kendaraan lain, bagaimana jika saya lebih lambat atau lebih cepat beberapa detik dari yang telah terjadi. Sehingga jika kita mengalkulasi semua peluang potensi bahaya atau kematian yang saya hadapi selama perjalanan itu saya yakin bahwa bukan lagi fifty fifty peluangnya melainkan 99/100.

Pemikiran ini saya sampaikan bukan untuk membuat diri kita menjadi murung, waswas, dan penakut. Tetapi saya ingin mengingatkan diri saya bahwa diri ini amat lemah dan sangat tidak berdaya di satu sisi, dan menyadari bahwa hidup ini begitu indah dan menyenangkan. Maksudnya? Bahwa Allah swt. adalah Maha Pengasih (Ar Rahman), yang kasihnya meliputi semua makhluk, manusia, jin, hewan, tumbuhan, malaikat. Muslim atau kafirkah ia. Dan Allah swt. adalah Ar Rahim (Maha Penyayang) yang telah menghidayahkan kesadaran ini dalam jiwa kita. Sehingga dengan rahman dan rahim-Nya saya bisa bepagi hari dalam fitrah Islam, bisa bernapas, bisa makan, bisa  berpikir, bisa menulis artikel ini, dan banyak lagi nikmat-Nya yang jumlahnya uncountable.  Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kita dustakan? Jika kita sadar bahwa kita bisa hidup sampai anda membaca tulisan ini hanya karena Kasih sayang Allah swt. Bahwa nyaris kita tidak berdaya atas semua kesuksesan atau hasil akhir yang kita raih. Maka, apakah sedikit saja kita punya hak untuk sombong?

Bukan pula dengan tulisan ini saya mengajak anda untuk bersikap apatis, pasrah, dan fatalis. Seperti pemikiran sesat kaum jabariyah yang menyatakan kehidupan ini seperti wayang? Tidak. Sesungguhnya Allah swt. akan memperhitungkan setiap zarah amal, kebaikan atau keburukan yang kita lakukan. Sesungguhnya kehidupan ini adalah rangkaian dari pilihan-pilhan yang dapat kita ambil, apakah rajin atau malas, syukur atau kufur, jujur atau munafik, muslim atau kafir. Dan manusia telah diberikan pendengaran, penglihatan, hati, dan akal untuk mengetahui kebenaran itu dan memutuskan apakah ia akan menagmbil kebenaran itu dan mengikutinya seperti apa yang dilakukan para sahabatradiyallahu’anhum  yang meninggalkan kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam bersama sang kekasih. Atau seperti Abu Lahab yang dikutuk karena mendustakan kebenaran setelah nyata-nyata kebenaran itu datang kepadanya. Maka atas pilihan-pilihan itulah amal-amal kita dihisab. Itulah batas wilayah taklif (pembebanan) manusia. Di luar wilayah itu, tidak ada hisab untuk manusia.

 

Kesadaran akan kematian dan kehidupan setelah kematian kiranya harus menjadi tashawur(persepsi) kita mengarungi samudera kehidupan. Sejatinya jika kita bisa ber-dzikrul mautsetiap saat insya Allah kesadaran akan muraqabatullah (pengawasan Allah) akan terjaga dalam setiap amal kita, menghindari murkaNya dan bersegera menuju ampunan dan surga Allah yang seluas langit dan bumi. Maka amal-amal itu bisa terealisasi dalam setiap aktivitas kita, tidak terkungkung hanya pada dimensi lima kali lima menit sehari, atau hanya pada dimensi ruang masjid atau musala. Tetapi ruh penghambaan dan ruh khilafah fil ‘ardh ada di setiap detik dan setiap ruang dalam kehidupan kita.

 

Wallahu’alam bis shawab.

 

 

Lintasan Ide di Atas Motor dalam Perjalanan Bandung-Tasik, akhir tahun 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2011 by in Self and Org. Development and tagged .
%d bloggers like this: