Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (6): Memulai

“Sesungguhnya sabar itu adalah ketika (bersabar) pada pukulan (benturan) pertama” (HR Bukhari)

Kawan, adakah kelian yang masih ingat gambar apa itu? Ya itu adalah gambar yang menjelaskan bagaimana suatu reaksi kimia berlangsung. Pada tahun 1889, Arrhenius seorang saintis asal Swedia memperkenalkan konsep “energi aktivasi”. Dalam sebuah reaksi kimia, ada jumlah energi tertentu yang harus dilewati agar suatu reaksi kimia terjadi. Dan energi aktivasi ini selalu lebih tinggi levelnya dibandingkan energi dari hasil reaksi kimia itu sendiri atau yang disebut dengan produk. Energi yang kita berikan bukan lah (z – x) melainkan lebih besar yaitu (y-x) Nampaknya sebagian dari kita mengaku kalau sekarang sudah lupa pelajaran Kimia SMA ini (padahal dulunya juga gak ngerti ^^).

Oke sekarang kita beralih ke pelajaran Fisika bab Dinamika, perhatikan gambar berikut:

Ada yang ingat dan dulu waktu SMA mengerti pelajaran tentang gaya gesek? Oke saya sebagai seorang mantan guru fisika akan mencoba mengajak kita bernostalgia dengan saat-saat yang indah itu, bersama Bob Foster, Marthen Kanginan, serta diktat-diktat bimbel yang penuh dengan kumpulan carcep (cara cepat).

Sebuah benda yang mengalami gaya dan berada di bidang yang tak licin serta gaya normal benda tersebut tidak sama dengan nol, akan mengalami gaya gesek. Besarnya gaya gesek ialah koefisien gesek dikalikan gaya normal (Fgesek = u x N). Nah ini bagian paling berkelas serta sophisticated dari bab gaya gesek ini. Karena ternyata di alam ini diciptakan dua macam gaya gesek yaitu gaya gesek statis dan gaya gesek dinamis. Kedua gaya gesek ini terjadi pada waktu yang berlainan. Saat benda masih diam maka yang berlaku adalah gaya gesek statis. Jika gaya ditambah maka gaya gesek statis pun terus bertambah bekerja melawan gaya itu sehingga benda tetap diam hingga ke nilai tertentu di mana gaya gesek statis tak sanggup lagi menahan gaya yang bekerja pada benda. Begitu benda tersebut tepat mulai akan bergerak maka sekonyong-konyong berubahlah gaya gesek itu, kini yang bekerja ialah gaya gesek dinamis. Memang apa bedanya gaya (koefisien) gesek statis dengan gaya (koefisien) gesek dinamis? Yang pertama selalu always dan gak pernah never lebih besar dari yang kedua (koefisien gesek statis > koefisien gesek dinamis).

Subhanallah, seperti ini lah alam semesta bekerja dalam keteraturan hukum-hukum Fisika yang Allah ciptakan. Saat benda tersebut masih diam maka hambatan yang bekerja padanya jauh lebih besar sehingga benda itu pun tetap tidak bergerak. Hingga suatu batas tertentu setelah benda tersebut bergerak maka hambatannya masih ada namun tak sebesar saat dia masih diam. Begitu pula alam ini mengajarkan dalam ilmu kimia, bahwa jika kita ingin berubah dari dua ke lima, maka bukan tiga yang harus kita berikan, melainkan enam!

Kawan, kita sudah berbicara tentang pengertian belajar, semangat untuk selalu progresif, serta sikap mental openmind. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang selalu bersemangat untuk berubah menjadi lebih baik. Lalu pertanyannya kapan kah kita akan berubah menjadi lebih baik? Engkaulah kawan yang memutuskan entah sekarang, besok, lusa, atau nanti. Yang jelas untuk suatu perubahan kita akan selalu bertemu dengan sesuatu yang bernama “mulai”. There’s always a first time, kata teman saya.

Oleh karena itu di sini saya ingin berterus terang kepadamu kawan, maaf apa mau dikata  bahwa memulai itu ialah sesuatu yang berat dan sulit. Bukan sekedar untuk berubah menjadi lebih baik, pun demikian untuk berubah menjadi lebih buruk. Seorang “junkies” pasti menderita waktu pertama kali make, seorang perokok pun pasti batuk-batuk di hisapan pertama. Seorang maling pasti ketakutan sangat di aksi pertamanya. Seorang yang memutruskan menjadi pelacur pasti sangat sedih dan menyesal di pelanggan pertamanya. “Sialnya” hukum-hukum fisika dan kimia tadi tidak hanya berlaku buat balok maupun reaktan, tetapi juga berlaku bagi kita.

Jadi rumus pertama agar kita bisa berubah dan memulai suatu kebiasaan, sikap, investasi, belajar, apa pun itu ialah; kita harus sadar bahwa memulai (berubah) itu ialah sesuatu yang berat! Pada dasarnya kita suka status quo dan berpindah dari status quo ke keadaan lain yang diinginkan ialah sesuatu yang menggelisahkan dan menyulitkan, karena perubahan itu mengubah keseimbangan-keseimbangan yang ada sebelumnya. Maka saat keseimbangan itu diganggu maka secara natural semuanya berusaha untuk menjaga keseimbangan yang ada, dengan melawan perubahan yang ada dan kembali ke keseimbangan lama. Jika energi perubahan ini tidak cukup kuat maka yang terjadi hanya sedikit goncangan pada objek tersebut tetapi semuanya lalu kembali ke keseimbangan yang lama.

Untuk sebuah perubahan yang bisa mencapai keseimbangan baru, maka energi perubahan harus cukup besar. Dari mana energi tersebut berasal? Tidak lain kecuali energi tersebut berasal dari keputusan, pilihan yang telah kita ambil untuk berubah. Kemauan untuk keluar dari zona nyaman ialah harga mati bagi seorang pembelajar! Seorang pembelajar yang memiliki mental mau keluar dari zona nyaman tentunya akan memiliki keberanian seperti yang dikatakan oleh Saavedra dalam Novel klasik Spanyol, Don Quixote;

To dream the impossible dream,To fight the unbeatable foe, To bear with unbearable sorrow, To run where the brave dare not go

Rumus kedua untuk memulai perubahan ialah kita harus berada di kondisi yang memungkinkan kita lebih cepat berubah, sebuah kondisi yang energi aktivasinya lebih rendah atau koefisien gesek statis nya lebih kecil. Bisa kah untuk sebuah reaksi yang sama energi aktivasinya menjadi lebih kecil? Bisa, syaratnya harus ada sesuatu yang disebut sebagai “katalis”. Dalam konteks reaksi kimia di biologi katalis tersebut berupa enzim. Terima kasih kepada Bu Ika yang mengajarkan saya grafik ini waktu di kelas II-1 dulu,

Lalu bagaimana dengan koefisien gesek statis, bisa kah kita membuat nilainya lebih kecil? Bisa! Thanks to emang-emang montir di bengkel yang selalu memberi pelumas, oli, atau gemuk di setiap bagian-bagian yang bergesekan. Jadi untuk memulai sebuah perubahan tidak hanya faktor internal tadi; mental siap keluar dari zona nyaman, tetapi juga ada faktor-faktor eksternal yang berperan penting seperti katalis atau pelumas tadi.

Ini adalah hakikat hijrah yang dicontohkan oleh junjungan kepada para pembelajar sejati. Dalam peristiwa hijrah bukan hanya ada tekad dari dalam diri untuk suatu kehidupan yang lebih baik, bukan sekedar semangat untuk menyongsong harapan dan fajar baru. Namun secara nyata hijrah pun mengkondisikan faktor-faktor eksternal untuk mendukung perubahan tersebut. Kalau Bang Napi berkata “kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat si pelaku tetapi juga karena ada kesempatan, waspadalah waspadalah!!”. Maka saya ingin berkata, “Perubahan terjadi bukan hanya karena ada niat dan tekad, tetapi juga karena ada kesempatan-kesempatan yang dirancang untuk mendukung perubahan tersebut”.

Mengapa saya menggunakan kata dirancang? Karena kita tidak bisa hanya berharap kondisi, faktor-faktor eksternal, berubah dan mendukung perubahan yang kita inginkan. Sebaliknya justru jarang sekali hal ini terjadi. Jadi kita sendiri yang harus mengusahakan agar sekeliling kita mendukung tekad kita. Itulah mengapa yang pertama kali diminta oleh ulama kepada orang-orang yang bertobat dari masa lalunya yang kelam ialah untuk berhijrah, meninggalkan tempat lama ke tempat yang baru. Tentu masih ingtat kan kisah pembunuh 99 orang plus 1, yang diminta hijrah ke tempat baru lalu ia meninggal dalam perjalanan. Malaikat rahmat dan malaikat azab berdebat tentang nasib bromocorah ini. Diputuskan agar diukur jaraknya dari kota lama ke tempat yang hendak dituju. Hasilnya ternyata ia selangkah lebih dekat ke tempatnya yang baru, ia pun selamat.

Karena memulai perubahan tak semudah Kitaro Minami berteriak “berubah” sambil membentangkan tangannya ke kanan kiri sambil tangan yang lain mengepal di atas dada dan udel, dan berubah lah ia menjadi Ksatria Baja Hitam RX, Robo, dan Bio.

Wallahu’alam bi shawab,

Duri, 10.10.10

Terima kasih Pak Tata, Pak Susilo, Bu Ika, dan Kang Har

Bonus: nasyid “Kereta Taubat” dari Suara Persaudaraan

Kusentuh tombol laju keretaku

Menuju ke pemukiman orang-orang taubat

Kuberanjak untuk tanggalkan

Dosa-dosa yang t’lah lekat berkarat

Telah kupilih jalanku

Untuk tetap lurus dalam dien-Nya

Bersihkan diri entas jiwa

Dari kesesatan syathani

Tiada kata yang terucap kecuali Taubat

Kembali ke pangkuan fitri dalam naungan kasih Ilahi

Masa lalu yang suram kini tinggal kenangan

Jadi ibroh yang takkan terulang hingga ke haribaan

Takkan kubiarkan menetas

Menggunung dosa-dosaku

Tapi ‘kan kugulung bagai lembaran hitam

Yang rapuh terbakar api iman

Takkan kubiarkan kaki, jiwa dan raga ini

Terjerembab ke lumpur dosa

Untuk yang kedua kalinya

Walau hanya dalam setitik noda

Itu akan berarti

Sebuah permulaan yang besar

Yang kan berubah jadi kubangan

Atau lautan dosa yang hitam

Selamat tinggal masa lalu

Suatu masa yang kelabu

Masa yang bertaburkan kebodohan

Yang bernafaskan kejahiliyahan

Kan kutegakkan rumah taubatku

Dengan jalinan cinta Allah

Kan kuhias rumah taubatku

Dengan rangkaian sunnah Rasulullah

One comment on “Catatan Pembelajar (6): Memulai

  1. Pingback: Catatan Pembelajar (6): Memulai (via Angin) « Rhezapus oligosporus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2011 by in Self and Org. Development and tagged , .
%d bloggers like this: