Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (7): Arah

Ada kemauan, ada jalan

Ini sebuah cerita tentang tentara Honggaria seperti yang disampaikan Bang Zulkieflimansyah beberapa waktu dalam kul-twitnya (kuliah twitter -red). Suatu hari di musim dingin satu regu tentara diperintahkan oleh komandannya, seorang letnan muda yang masih sangat bersemangat dan idealis, untuk melakukan patroli. Padahal hari itu salju turun begitu lebatnya dan cuaca sangat buruk. Sang komandan tetap teguh memerintahkan satu regu itu untuk berangkat walau pun sempat diprotes oleh anak buahnya. Hingga di suatu tempat badai salju menerjang dan seregu pasukan itu menyelamatkan diri dalam sebuah gua. Malang bagi mereka, gua tersebut tertutup oleh reruntuhan salju yang jatuh dari atas bukit. Mereka terjebak di dalamnya.

Selama tiga hari satu regu pasukan itu kehilangan kontak dengan markas. Si letnan muda pun merasa bersalah atas sikap keras kepalanya. Patroli harian yang biasanya berlangsung 2-3 jam kini selama tiga gari pasukannya belum kembali. Tepat di hari ketiga tersebut pasukannya kembali ke markas. Mereka disambut dengan penuh suka cita. Si komandan lalu bertanya kepada pasukannya bagaimana mereka bisa selamat.

Kisah bagaiaman satu regu pasukan Honggaria itu bisa selamat ialah suatu hal yang sungguh menarik untuk diambil pelajaran. Pasukannya bercerita bahwa mereka sempat frustasi dalam keadaan itu. Keluar dari gua itu adalah hal yang mustahil karena mulut gua sudah tertutup sama sekali oleh timbunan es yang sangat tebal. Bekal yang mereka bawa mereka cukup-cukupkan untuk bertahan hidup. Dalam kondisi demikian seorang dari mereka membuka dompetnya untuk melihat foto anak istrinya. Barangkali ia berpikir bahwa ini adalah saat terakhir bisa menatap mereka walau hanya lewat foto. Tiba-tiba si tentara ini berteriak memanggil rekannya bahwa ia menemukan peta di dompetnya. Walau pun peta itu sudah lusuh dan tua, ia tetap bisa digunakan untuk memandu mereka keluar. Berkat peta itu mereka akhirnya menemukan jalan keluar.

Alangkah terkejut si komandan sewaktu ia melihat peta yang dibawa oleh anak buahnya itu, bahwa ternyata peta yang tua dan lusuh itu bukanlah peta tempat mereka berada, melainkan peta suatu daerah di Spanyol yang kebetulan mirip. Nampaknya memang kita tidak selalu membutuhkan peta yang benar untuk sampai ke tujuan. Tetapi justru keberadaan peta itu sendirilah yang penting. Adanya peta membuat orang-orang tersebut terbersit harapannya, mau berubah, tergerak, berpikir, berdiskusi, lalu bertindak.

Seorang pembelajar membutuhkan arah dan tujuan. Arah itulah yang membuat seorang pembelajar tergerak, menginspirasinya untuk mencari tahu, memberanikannya untuk mencoba, dan memaksanya bertindak. Kemauan untuk berubah ada sebelum pertanyaan bagaimana caranya berubah. Jawaban mengenai cara dan bagaimana tidak relevan bagi orang yang tidak punya arah dan kemauan.

Beribu orang pandai dan berpendidikan tinggi ada di Brazil, tapi hanya seorang yang cuma sekolah hingga kelas lima SD yang bisa membawa Brazil ke kemajuan seperti sekarang dengan laju pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan yang mengagumkan. Sehingga bersama China, India, dan Rusia, Brazil dikatakan sebagai poros ekonomi baru yang dikenal dengan BRIC.

Dialah Luiz Inacio Lula da Silva. Presiden Brazil sekarang yang dinobatkan oleh majalah Times sebagai People of The Year 2010. Bukan gelar doktor ekonomi dari Yale atau doktor politik dari Kennedy School of Government. Tetapi nampaknya perjalanan hidupnya yang putus sekolah di kelas 5 SD, kehilangan jari sewaktu menjadi buruh pabrik, serta kematian istrinya saat mengandung anak pertamanya akibat ketidakmampuan membeli fasilitas kesehatan yang memampukan dia memimpin Brazil seperti sekarang ini. Keinginannya yang kuat untuk mengubah nasib dirinya serta puluhan juta nasib rakyat Brazil lainnya membuat ia aktif dalam Partai Pekerja, menjadi pemimpinnya, lalu menjadi presiden Brazil setelah gagal dalam dua pemilihan sebelumnya. Luiz Inacio memiliki arah.

Oleh karena itu, Al Quran mentarbiyah kita dengan mengulang-ngulang ajaran tentang arah. Ayat-ayat tentang surga, kengerian neraka, peirstiwa-peristiwa di hari akhir turun terlebih dahulu dan berulang-ulang sebelum ayat-ayat tentang syariat. Kekuatan visi dan gambaran tentang tujuan dan arah hidup manusia ditanamkan dan diperkuat terlebih dahulu, terus disemai dan dipupuk dalam sanubari orang beriman. Baru setelah itu urusan cara dan bagaimana (syariat) menjadi hal yang relevan untuk dibicarakan.

Mari kita memperjelas arah hidup kita. Salah satunya dengan membuat peta perjalanan kita ke depan. Tidak perlu terlalu detil dan akurat, karena waktu sendiri yang nanti akan memberi tahu kita. Love will find the way, it is the time who will tell you…

Duri, 24 Oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2011 by in Muhasabah and tagged , .
%d bloggers like this: