Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (8): Setia, bagian ke-1

”Kalau turun, nanti diomongin banyak orang. Hanya senang enaknya, tapi tak mau terima buruknya. Bagus atau buruk, ya ini rumah sendiri,”

-Mbah Maridjan-

Mbah Maridjan dan Julia Robert ialah dua hal yang sama sekali berbeda. Dua hal yang kata Kahitna, “engkau di sana aku di sini”. Apa yang akan anda jawab jika ditanya “jelaskan hubungan antara Mbah Maridjan dan Julia Robert?”. Saya kira ini pertanyaan yang sulit yang jika ditinjau dari aspek mana pun, dilihat dari perspektif bagaimana pun, diukur dengan tolak ukur mana pun, dirumuskan dengan terorema apa pun, anda tidak akan ketemu jawabannya. Paling anda akan menjawab asal, “hubungan mereka baik-baik saja”. Heuheu. Tapi tidak bagi saya, hubungan antara Mbah Maridjan dan Julia Robert memberi saya sebuah insight yang memaksa jari saya mengetik note ini. Lho kok bisa? Bisa lah. Mengadopsi istilah barudak geng motor Bandung; Note aing sakuma aing!

Ceritanya pertama, Julia Robert (Liz) adalah seorang New Yorker yang menjadi tipikal obsesi wanita saat ini; cantik, kaya, karir mapan, dan ia pun telah menemukan cintanya kepada seorang pria idaman, seorang profsional sukses bernama Stephen. Dalam puncak kehidupannya itu mereka menikah. Mereka bahagia dalam mabuk asmaranya itu. Dunia seolah milik berdua dan yang lain ngontrak. Namun dalam seumur jagung usia pernikahannya itu riak-riak mulai muncul. Riak itu makin lama makin besar menjadi ombak lalu topan. Pecahlah kapal pernikahan mereka itu. Bermula dari kata sayang berkahir di kata benci. Bermula di depan penghulu (pendeta) berujung di depan KUA (pengacara). Diawali cinta disudahi bencana. Tragis. Julia Robet melanjutkan petualangan cintanya dengan seorang aktor teater, David. Lagi-lagi mereka jatuh cinta dan hidup bersama dalam ikatan yang orang New York menyebutnya  buffalo summit (kumpul kebo -red). Hanya hitungan bulan mereka menemukan ketidakcocokan dalam hal ini dan itu. Lagi-lagi kandas hubungan mereka. Tebak di mana kah adegan ini terjadi? Ya, ini ialah plot cerita dari film Eat Pray Love yang saya tonton sendirian di Pondok Indah kemarin, Heuheu.

Ceritanya kedua, dari bencana yang Allah uji kepada orang-orang Sleman kemarin. Ada sosok yang teguh, santun, sederhana, soleh, dan cerdas. Ia adalah Raden Ngabehi Surakso Hargo a.k.a Mbah Maridjan. Juru Kunci Gunung Merapi yang diangkat oleh Sri Sultan HB X pada tahun 1983. Awalnya saya mengira beliau adalah dukun yang erat dengan hal-hal mistis dan klenik. Dugaan saya ternyata salah. Beliau sosok yang soleh seperti yang diceritakan oleh saudara saya, Salim A. Fillah, Mbah Maridjan ialah ketua PC NU Cangkringan, Sleman, DI Jogja. Kemarin beliau meninggal dalam musibah itu di rumahnya, ditemukan dalam kondisi sedang sujud.

Awalnya saya heran dan sempat (maaf) merasa konyol dengan sikap beliau yang enggan turun walau letusan Merapi sudah diperingatkan akan terjadi. Kini saya menjadi takjub dengan kematian beliau itu. Kematian Mbah Maridjan bukanlah cerita orang yang tidak mau berpisah dengan harta kekayaannya, atau percaya kepada klenik dan mistis, maupun orang kolot yang tidak percaya kepada ilmu pengetahuan. Kini saya mengerti bahwa pilihan beliau untuk tetap berada di rumahnya, yang hanya berada 4 km dari puncak Merapi, ialah keputusan yang membawa banyak hikmah dan makna bagi kita yang ditinggalkannya. Dengan kematiannya Mbah Maridjan mengajarkan kita tentang kesetiaan dan amanah dalam mengemban tanggung jawab.

Dengan kematiannya Simbah seolah berkata kepada kita, “Apa pun amanah dan peran yang engkau miliki, sekecil apa pun itu, kesetiaan akan membuatnya menjadi besar di mata Allah. Kisahnya akan menjadi epik yang diambil pelajaran serta hikmahya oleh orang-orang setelahmu. Tidak ada batu yang tidak akan berubah menjadi permata, jika engkau memahatnya dengan kesetiaan. Tidak ada seng yang tak akan berubah menjadi emas, jika engkau menempanya dengan kesetiaan. Karena kesetiaan ialah pasangan keimanan. Kesetiaan yang saya maksudkan di sini ialah istiqamah dalam bahasa Al Quran. Keimanan tidak akan ada maknanya tanpa kesetiaan (istiqamah). Karena apa yang ALlah lihat ialah ujung dari sebuah amal. Sehingga tak cukup sekarang kita beriman dan berislam, karena yang Allah minta ialah kita mati dalam keadaan Islam, tunduk dan berserah diri kepadaNya di hembusan nafas terakhir kita. Jika pun kita sekarang ada dalam kebenaran, kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Dan karena kita tak pernah tahu, maka satu-satunya pilihan yang kita miliki ialah setia dalam kebenaran yang kita yakini, tetap teguh dalam keimanan yang pernah kita pilih.” Maaf mbah jika itu bukan yang hendak engkau sampaikan, tapi izinkan saya memaknai kematianmu dengan pesan itu. Karena mbah, saya teringat sebuah ayat,

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

(QS Fushilat: 28)

Ya, kemarin saya belajar tentang kesetiaan dari dua orang yang berbeda. Pertama, Julia Robert (Liz). Kedua, Mbah Maridjan. Saya rasa ada satu hal yang membuat keduanya begitu berbeda; kesediaan untuk menanggung kesulitan. Persistence to bear the sorrow. Mbah Maridjan sadar, dalam kecintaannya kepada profesinya, suatu hari mungkin hal seperti ini akan terjadi. Beliau menyadarinya sedari awal dan siap akan hal itu saat terjadi. Tapi nampaknya tidak bagi Julia Robert, mungkin dalam bayangannya pernikahan akan selalu indah. Ada suami yang selalu ada di sisinya dalam suka dan duka. Menyemainya selalu dengan cinta dan kasih sayang yang tak pernah habis. Berada dalam keriangan akan hal-hal baru seperti yang dibaginya di hari-hari pertama. Mungkin Julia Robert lupa atau tidak sadar, bahwa bulan madu yang cuma sebulan akan diikuti oleh bulan empedu setelahnya yang mungkin lebih lama. Bahwa ada masanya jenuh dengan hal-hal yang sama. Pasangannya tidak secantik atau seganteng seperti waktu ia curi-curi lihat  di proposal nikah atau fesbuk. Saat cinta mengalami saturasi, ia dan pasangannya tidak cukup sabar untuk menanggung ujian itu. Itulah akar dari sebuah peristiwa perceraian. Mereka gagal melewati ujian kesetiaan. Barangkali waktu walimahannya Julia Roberts enggak dinyanyikan nasyid yang ini, heuheu.

“Jika terhempas di lautan duka, Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya. Jika berlayar di sukacita, Ingatlah tuk selalu syukur padaNya.

Hadapi gelombang ujian, Sabarlah tegar tawakal. Arungi samudra kehidupan, Ingatlah syukur pada-Nya.”

-Gradasi, Kupinang Engkau dengan Al Quran-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2011 by in Self and Org. Development and tagged .
%d bloggers like this: