Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (9): Setia, bagian ke-2

 

Sabarlah wahai saudaraku tuk menggapai cita

Jalan yang kau tempuh sangat panjang

Tak sekedar bongkah batu karang

Yakinlah wahai saudarakukemenangan kan menjelang

Walau tak kita hadapi masanya

Tetaplah Al-Haq pasti menang

-Izzatul Islam, Jalan Juang-

Kesadaran akan konsekuensi atas setiap cita-cita yang ia tekadkan serta kesabaran menanggungnya saat itu terjadi, ialah akar dari kesetiaan. Seorang pembelajar yang bermimpi menjadi pengusaha sukses sejak awal sadar bahwa akan ada masanya di mana dia akan diuji dengan kerugian, bisnisnya berantakan, dan  usahanya bangkrut. Seorang pembelajar yang bermimpi menjadi akademisi yang brilian sadar bahwa akan ada masanya ia diuji dengan tidak lulus ujian, merasa bodoh di kelas karena tidak bisa memahami pelajaran, gagal dalam praktikumnya, hampir di-DO, ia akan kekurangan tidur dan perutnya keroncongan karena uang bulanan sudah habis. Seorang pembelajar yang ingin menjadi profesional sukses sejak awal menyadari, bahwa ia akan ditolak dari satu interview ke interview lain, akan mengalami kesulitan di tempat kerjanya, dihina seniornya, dimarahi oleh atasannya, harus mengerjakan pekerjaan yang tidak disukai, dan kepahitan-kepahitan lainnya.

Pembelajar siap dengan kesulitan ini sehingga saat ujian itu terjadi ia bisa bertahan dan memilih sikap terbaik. Ia tetap setia dengan rencana dan mimpinya. Sedangkan orang yang lain karena sedari awal tidak sadar, mentalnya tidak siap menghadapi kesulitan ini, ia patah karena lelah, ia mundur karena kendur. Akibatnya ia gagal membuat pilihan terbaik atas hidup. Jadilah ia tidak setia kepada mimpi dan rencananya.

Oleh karena itu demikianlah Al Quran mentarbiyah manusia. Setelah dikuatkan arah dan tekadnya, dibuat jelas visualisi tujuannya dengan gambaran surga, maka Al Quran bicara tentang konsekuensi dan karakteristik dari jalan yang telah ia putuskan untuk ditempuh seperti yang dengan indah digambarkan dalam ayat berikut

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

(QS Al Baqarah: 214)

Al Quran berterus terang akan jalan keimanan yang dipilih oleh orang beriman. Di surat-surat Makiyyah selain ayat tentang penciptaan alam semesta, surga dan neraka, serta hari akhir, juga diceritakan kisah para Nabi. Tema utama dari kisah para Nabi ialah perjuangan mereka membawa risalah tauhid beserta ujian-ujian yang mereka hadapi. Ada Nabi yang diuji dengan dakwah selama 950 tahun tapi hanya 80 orang yang menjadi pengikutnya. Ada Nabi yang harus berhadapan vis a vis dengan kemunkaran super power. Ada Nabi yang ujiannya sangat romatis tapi ia memilih penjara daripada wanita cantik. Ada Nabi yang ujiannya ialah istrinya yang durhaka. Ada Nabi yang ujiannya berupa penyakit sehingga keluarganya meninggalkan. Ada Nabi yang ia pun sempat mundur dan lelah tapi Allah menegurnya. Demikianlah setelah Al Quran menegakan tauhid dalam hati orang beriman, lalu mendefiniskan visinya dengan gambaran surga dan hari akhir, lantas kisah para Nabi merupakan suplemen, obat kuat, vitamin, vaksin bagi keimanan yang akan memperkuat mereka menghadapi segala konsekuensi atas pilihan keberimanannya.

Mak Eroh adalah cerita tentang kesetiaan akan mimpi dan obsesinya. Di Pasir Kadu, Kecamatan Cisayong, 17 km sebelah barat Tasikmalaya, sejak dulu Eroh ingin punya sawah tapi tidak mungkin karena tidakada sumber air untuk mengairinya. Seperti banyak penduduk di sana, ia menanam singkong dan ubi jalar. Mulai Juni 1985, ibu tiga anak ini membikin saluran dari Sungai Cilutung. Berjalan kaki 3 jam, lokasinya sekitar 4,5 km dari desanya. Sepanjang itulah saluran harus dibuat. Selama 45 hari, tanpa henti, ia menatah padas. Ketika hampir 50 meter diselesaikannya sendiri Eroh menghabiskan 20 buah pahat, 20 martil, 20 linggis, 20 belincong, plus cangkul. Alat itu dari utang. Kerabu anaknya dan anting-antingnya sendiri dijual untuk membayar alat tadi. Tak ada yang membantu Eroh. Jangankan dibantu, baru rencana saja saya sudah ditertawakan orang.

Mak Eroh

Lewat 45 hari, ia melapor kepada ketua RT. Masih tak dipercayai bahwa itu hasil kerjanya. Eroh, yang tak tamat SD itu, menaklukkan bukit sekitar 50 meter dari bibir tebing Cilutung? Mustahil,apalagi daerah itu dianggap angker. Menjengkelkan, memang. Di hadapan sejumlah penonton, Eroh lalu memperagakan cara dia bekerja. Seutas akar Areuy diikatkannya ke sebatang pohon di bibir tebing. Ujungnya ia belitkan ke tubuhnya. Ia gesit bergelantung ke bawah, sembari membawa pahat dan martil. Dan sebagai contoh, ia kembali menatah cadas yang tingginya 17 meter. Padahal, dia miskin, hidup dari jualan singkong dan jamur kuning yang dicarinya sendiri. Luas 20 m2, rumahnya berbentuk panggung dan beratap rumbia. Ia seorang yang kesetiaannya lebih tegar dari batu cadas yang dipapasnya. Dengan lebar 1 meter, karya tersebut dalamnya 0,25 meter – lengket di bibir tebing, meliuk di lintasan 8 bukit. Selain untuk sawah di desanya (5 hektar lagi akan dibuka) saluran Eroh itu bahkan membagi air ke dua desa tetangga di Indrajaya. Semuanya terairi sekitar 60 hektar. (Majalah Tempo)

Entah Mak Eroh pernah membaca tafsir dan asbabun nuzul ayat yang ini atau belum, tapi Mak Eroh sudah mengamalkannya.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya),

(QS Al Ahzab: 23)

Sedangkan saya baru sebatas tahu bahwa ayat ini mengabadikan seorang sahabat yang sudah sepuh, Anas bin Nadhir ra. Ia termasuk sahabat yang tidak sempat mengikuti Perang Badar. Dan hal ini menjadi penyelasan baginya. Ia bertekad dan berjanji bahwa ia tidak akan melewatkan satu peperangan pun bersama Rasulullah saw. Hingga puncak kesetiaan ia pada janjinya nyata di hari Perang Uhud. Anas bin Nadhir syahid dengan 80 luka tusukan, panah, dan tombak di sekujur tubuhnya. Hingga turun lah ayat ini.

Semoga Allah melimpahkan taufiq dan petunjuknya kepada kita sehingga kita bisa belajar untuk setia pada Kebenaran, pada tujuan, pada obsesi yang akan membuahkan amal dan karya. Memampukan kita untuk bisa “stand a mountain, walk on stormy seas”

Selesai

Ditulis di Kamar Hitam (kamarnya Jaka), 29 Oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 14, 2011 by in Self and Org. Development and tagged .
%d bloggers like this: