Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (11): Memaknai Makna

Awalnya adalah simbol atau gambar, manusia menyalurkan instingnya untuk berkomunikasi. Mungkin agar pesannya bisa mengatasi keterbatasan waktu, di mana komunikasi verbal hanya terjadi di saat itu saja lalu hilang seiring keterbatasan memori manusia untuk mengingat dengan utuh. Dalam rentang sejarah berwujudlah pesan itu lebih dari sekedar gambar-gambar nyata seperti hewan, manusia, ilustrasi kejadian, dsb (seperti yang ditemukan para arkeolog di goa 2 peninggalan manusia purba). Grafika itu berubah menjadi simbol-simbol abstrak dalam bentuk yang baku serta bunyi yang sama yang kita kenal dengan alfabet (huruf).

Saya tidak tahu bagaimana awalnya sebuah gambar segitiga dengan garis di tengahnya disepakati untuk dibunyikan dengan mulut terbuka sambil tenggorokan mendorong nafas yang menggetarkan pangkal mulut. Lalu simbol setengah lingkaran yang bertumpuk disepakati untuk dibunyikan dengan cara merapatkan bibir lalu dibuka dengan menghentak sambil menghembus nafas. Dan gambar lingkaran penuh dibunyikan dengan memonyongkan bibir lalu paru-paru mendorong udara yang menggetarkan rongga mulut. Serta garis tegak dibunyikan dengan cara me-nyengir-kan mulut. Lebih aneh lagi kombinasi grafik-grafik tersebut: BABI BOBO dipahami orang sebagai “hewan gendut berkaki empat yang berbunyi nguk-nguk sedang diam istirahat sambil memejamkan mata”. Dan bagi saya lebih aneh lagi mengapa hanya orang yang hidup di kepulauan dekat khatulistiwa di Asia Tenggara saja yang memahami delapan grafik berderet tersebut secara demikian. Bagi orang yang tinggal di belahan bumi utara yang mengalami empat musim maka deretan grafik tersebut tidak memiliki arti apa-apa. Untuk sementara saya tidak akan mencari tahu lebih lanjut jawaban atas kebingungan saya karena sejauh ini saya tidak (belum) memiliki minat untuk belajar lingusitik secara lebih mendalam. Cukuplah kebingunan ini menjadi sarana buat saya untuk bertasbih “Maha suci Alah yang telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan berbahasa-bahasa”.

Keajaiban itu berlanjut lagi, grafik-grafik itu menjadi alat bagi akal pikiran manusia menemukan wujudnya, agar bisa terwujud dalam bentuk yang nyata. Grafik-grafik itu ada yang menjadi pendorong orang lain untuk berbuat ini dan itu. Ada juga yang akhirnya menjadi benda-benda baru yang tidak ada dalam kehidupan manusia sebelumnya. Bahkan deretan grafik tersebut ada yang menjadikan manusia membunuh sesamanya, berperang, mendirikan negara, membuat aturan-aturan dan sebagainya. Sebagaimana deretan-deretan grafik itu juga menjadi sarana bagi Tuhan menyampaikan pesanNya (panduan hidup) bagi manusia melalui utusanNya. Bahkan karena deretan grafik inilah manusia ada yang selamat dan ada yang celaka. Ada yang menjadi mulia ada yang dihinakan.

Simbol (grafik) tersebut ialah yang kita kenal dengan huruf, rangkaiannya disebut dengan kata, kata merangkai kalimat. Kalimat membangun bermacam teks; pidato, resep masakan, undang-undang, jurnal ilmiah, novel, surat cinta, puisi, kitab suci, dan banyak lagi. Ibarat tubuh yang kasat mata, yang menghidupkan tubuh itu adalah ruh. Maka demikian pula kata, yang hanya bisa hidup, memiliki arti, jika ada makna di sana. Makna inilah yang bersumber dari esensi dan fitrah kemanusiaan; akal dan perasaan.

Seperti kata guru olah raga SD saya “men sana in corpore sano” yang artinya saya modifikasi menjadi; di dalam kata yang baik terdapat makna yang kuat. Orang yang memiliki makna (akal dan perasaan) yang baik tentu akan mewujud dalam kata yang baik pula. Dan sebaliknya, orang yang berinteraksi dengan kata yang baik akan menjadikan makna (akal dan perasaan)-nya menjadi kuat. Oleh karena itu Rasulullah saw menjadikan perkataan sebagai tolak ukur keimanan;

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam (Hadits)

Serta gambaran surga digambarkan juga dengan kenikmatan terhindar dari perkataan yang sia-sia,

Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. (An Naba: 35)

Kali ini saya mengutip beberapa puisi Sapardi Djoko Dhamono. Saya ingin belajar memaknai makna. Lebih dari sekedar apa yang tersurat, melainkan apa yang yang ada di dalamnya. Agar saya bisa belajar untuk lebih memahami akal dan merasai perasaan. Barangkali puisi-puisi Sapardi berikut sedang menemukan maknanya.

….

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang

semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening

siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening

karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,

dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang

hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya

mengajukan pertanyaan muskil kepada angin

yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung

gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,

yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu

bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan

terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang

turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat

di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya

di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,

yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit

yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia

demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi

bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan

keselamatanmu

(Sapardi, Dalam Doaku)

akulah si telaga

berlayarlah di atasnya

berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil

yang menggerakkan bunga-bunga padma

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya

sesampai di seberang sana tinggalkan begitu saja

perahumu biar aku yang menjaganya

(Sapardi, Akulah si Telaga)

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi, Hujan bulan Juni)

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput

nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini

ada yang masih ingin kupandang

yang selama ini senantiasa luput

sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi

(Sapardi, Hatiku selebar daun)

Duri, 17 Januari 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 15, 2011 by in Self and Org. Development and tagged , .
%d bloggers like this: