Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar (13): Jadilah Saja Dirimu

be the best whatever you are

if you can’t be a pine on the top of the hill,

be a scrub in the valley — but be

the best little scrub by the side of the rill;

be a bush if you can’t be a tree.

if you can’t be a bush be a bit of the grass,

and some highway happier make;

if you can’t be a muskie then just be a bass —

but the liveliest bass in the lake!

-Be The Best of Whoever You Are, Douglas Malloch,

Dipopulerkan oleh Martin Luther King-

….

Halow. Apa kabar manteman, kengkawan, dan lurdulur saparakanca? Alhamdulillah, kemarin saya sudah mulai menulis lagi, dan hari ini saya meneruskan Catatan Pembelajar-nya. Terakhir saya menulis ialah tanggal 24 Januari 2011, lima hari sebelum hari yang terindah itu. Artinya sudah hampir satu caturwulan saya tidak menulis, waktu yang cukup lama untuk berhibernasi. Nampaknya takdir Allah pada tanggal 29 Januari 2011 telah mengubah hidup saya. Ada seorang yang kini menjadi sumber inspirasi, kedamaian, dan kekuatan. Kebahagiaan yang membuncah rupanya telah terlalu mengaktivasi sistem limbik kepala saya yang mengatur emosi dan perasaan sehingga menghambat kinerja neo-korteks. Saya kini percaya apa yang dibilang Bang Rhoma, “Cinta itu sungguh me..ma..bu..kan..!”.

Kalau dalam studi tentang sistem kita belajar bahwasanya suatu sistem yang berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain akan mengalami dua periode yaitu; transient, di mana sistem berubah dan yang kedua ialah steady-state (keadaan tunak) di mana sistem sudah berada di kondisi baru yang stabil. Maka rupanya saya mengalami periode transient dalam kondisi yang disebut dengan “underdamped” yaitu kondisi sistem yang tidak stabil, berosilasi hingga ia mencapai steady state-nya. Mari kita menulis, yuk marii..

underdamped transient

underdamped transient

Baiklah catatan saya hari ini terinspirasi dari tempat nongkrong saya malam-malam sepulang job di Duri yaitu Nasi Goreng Buyung dan Es Jus Geng. Warung nasi goreng buyung ini buka semalam suntuk dari maghrib sampai subuh. Pelayanannya excellent; penjual ramah penuh senyum, tempat duduk luas dan bersih, serta ekstra cepat. Tidak ada satu pun restoran fast food di dunia yang bisa mengalahkan nasi goreng buyung. Hitungannya detik kawan, dari mulai kita memesan sampai nasi goreng tersaji di hadapan kita! Rasa nasi gorengnya khas, disajikan dengan telur dadar renyah, daun selada, serta cuka manis dengan irisan cabe rawit: tidak ada duanya di dunia fana ini. Dengan kualitas demikian hebatnya kita hanya membayar sepuluh ribu rupiah. Murah untuk ukuran Duri yang kota minyak.

Di sebelah Nasi Goreng Buyung ada gerobak sederhana penjual es jus. Tapi gerobak kecil tersebut tidak pernah sepi pembeli, dikomandani oleh dua orang abang-abang berusia agak lebih tua dari saya dan berpenampilan gaul. Biasanya orang Duri sini punya panggilan gaul “geng!”, contoh cara memesan jus seperti ini: “terong belanda-nya cie diminum di siko Geng!”. Maka mereka saya kasih nama Es Jus Geng, padahal tidak ada label nama di gerobak es jusnya.

Yang spesial dari Es Jus Geng adalah kualitas jusnya. Pure one hundred percent fruit, dengan susu kental manis. Tidak ditambah air sedikitpun, gula, apalagi bahan pengawet dan pewarna buatan. Aneka macam jus tersedia. Dan ibarat bartender, si geng ini berani berimprovisasi dengan mencampur-campur racikan buah. Favorit saya adalah es jus pelangi yang berwarna merah, kuning, hijau yang terbuat dari terong belanda, mangga, dan alpukat. Harganya delapan ribu perak saja! Alhasil kedua geng itu selalu ceria melayani pelanggan yang tiada habisnya yang sebagian besar adalah pelanggan nasi goreng buyung juga. Sebuah konsinyasi dagang yang jenius dan memenangkan hati konsumen.

Pernah ada di benak saya bahwa kesuksesan hidup diukur dari karya, prestasi, penghargaan, pencapaian, ucapan terima kasih, atau bahkan gelar kepahlawanan. Betul bahwa menjadi orang besar, menjadi seseorang yang dikenang bisa menjadi motivasi yang kuat bagi kita untuk bekerja keras dan berusaha. Obsesi menjadi pahlawan ibarat kafein yang akan membuat kita terus tersadar dalam perjalanan menyeret langkah demi langkah. Tapi hati-hati kawan semua itu bisa menjadi jebakan betmen yang tiba-tiba harus membuat kita merestart hidup.

Satu kekeliruan yang saya sadari sekarang ialah mengukur kesuksesan dengan parameter-parameter objektif yang kasat mata. Padahal setiap orang telah diciptakan dengan qadar yang berbeda-beda. Setiap orang tidak akan dibebankan melainkan menurut kesanggupannya. Ketakwaan pun tidak ada yang standar untuk semua orang, bagi setiap orang ketakwaan ialah “fattaqullaha mastatha’tum” bertakwalah menurut kesanggupanmu. Dan saat dihisab nanti kita akan diminta pertanggung jawaban masing-masing. Sendiri-sendiri sesuai dengan amal yang dihitung di atas ruang hisab masing-masing yang berbeda untuk tiap jiwa.

Apakah menjadi anggota DPR lebih berharga dari sekedar menjadi tukang nasi goreng? Jika menjadi anggota DPR hanya membuat orang kesal karena arogansinya dan miskin empati. Jika menjadi anggota DPR hanya menjadi bahan lelucon yang memalukan karena kekurangkompetenannya. Jika menjadi anggota DPR menjadi fitnah yang membuatnya bergelimang harta haram dari suap, gratifikasi, dan perkoncoan. Jika menjadi anggota DPR membuat lidahnya beracun seperti ular dengan janji-janji palsu. Maka menjadi anggota DPR adalah suatu hal yang hina. Rendah. Mengerikan sekali. Celaka dunia akhirat.

Adapun tukang nasi goreng itu tiap malam menyediakan makanan yang halal dan baik bagi makhluk-makhluk kelaparan. Memberikan pelayanan dan kebermanfaatan, menggembirakan banyak orang dengan pelayanannnya yang tulus dan ramah. Lalu dari keringatnya ia bisa menafkahi keluarga sehingga Istri dan anaknya ridha. Dan semua itu dilakukan sepanjang hidupnya dengan niat yang ikhlas serta tidak melalaikan kewajiban shalat lima waktu maupun zakat dari perniagaannya. Tukang nasi goreng ini ahli surga insya Allah. Selamat dunia akhirat.

Sungguh Allah tidak akan melihat manusia dari harta dan rupanya. Melainkan dari hati dan perbuatannya. Barangsiapa dalam hatinya selalu rindu kepada kebenaran dan kebaikan, maka hidupnya akan berakhir dalam keadaan yang baik. Apakah menjadi seorang pejuang yang mati di medan laga akan lebih mulia daripada seorang pelacur yang bertaubat? Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada yang mati berjihad di membela agama dan Allah mencampakannnya ke neraka. Tapi ada seorang pelacur yang masuk surga karena Allah ridha atas amalnya memberi minum anjing yang hampir mati kehausan.

Mari kenali terus diri kita. Sesungguhnya ilmu dari segala ilmu ialah ma’rifat kepadaNya. Dan salah satu jalan berma’rifat kepada Allah ialah dengan berma’rifat kepada diri sendiri. Seperti yang disampaikan oleh Ali karamallahu wajhah;

Man arafa nafasaha arafa rabbaha..

Barang siapa mengenal dirinya ia akan mengenal Tuhannya

Setiap kita dilahirkan di tempat tertentu. Perjalanan hidupnya khas. Isi kepalanya tidak ada yang sama. Setiap dari kita unik. Dan Allah telah menganugerahi nikmat yang berbeda-beda. Kita diciptakan dengan kondisi yang terbaik untuk diri masing-masing. Andai ada yang dilahirkan tanpa organ tubuh yang lengkap tetap itu adalah kondisi yang terbaik baginya. Karena nikmat Allah berbeda-beda, pun ujiannya. Di atas itu semua Allah maha adil. Manusia lah yang bodoh dan sombong sehingga mengatakan Tuhan tidak adil.

Maka bersyukurlah atas semua yang telah kita lalui dan dapatkan. Minta ampun atas nikmat yang kita sia-siakan. Hadapi hidup dengan penuh kebahagiaan. Karena bukan “Saya bahagia maka saya bersyukur”, melainkan “Saya bersyukur maka saya bahagia”. Bukan “Karena saya sukses maka saya gembira”, tapi “saya gembira maka saya sukses”. Demikian kata-kata istri saya yang selalu saya ingat.

Jadilah saja diri kita sebaik-baiknya. Terus beramal dan kenali diri. Jangan terkena jebakan betmen dengan menjadikan apa yang sarana sebagai tujuan di mimpi-mimpi kita. Sebab parameter kesuksesan yang sejati dan objektif hanya dua; pertama, menjadi hamba Allah yang baik, dan kedua menjadi khalifah di muka bumi dengan segala peran dan ukurannya. Jika peran kita “hanya” menjadi seorang budak, jadilah budak terbaik seperti Bilal bin Rab’ah. Jika peran kita “hanya” menjadi seorang pembantu, jadilah pembantu terbaik seperti Zaid bin Haritsah.

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

 

 

Duri, 15 Mei 2011

Belukar yang Tumbuh di Tepi Danau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 15, 2011 by in Self and Org. Development and tagged , , , .
%d bloggers like this: