Angin

To run where the brave dare not to go

Hari ini Tiga Belas Tahun yang Lalu

Pancasila dasarnya apa..

Rakyat adil makmurnya kapan..

Pribadi bangsaku..

Enggak maju-maju, enggak maju-maju, enggak maju-maju..

-Lagu yang ngetrend 13 tahun lalu-

Hari ini tiga belas tahun yang lalu saya adalah seorang anak kelas enam SD yang sedang hobi-hobinya sepak bola. Tidak ada hari tanpa sepakbola, jam sekolah dan jam belajar tidak boleh mengganggu jam sepakbola, tidak ada TV tanpa siaran bola dan tidak ada bagian dinding di kamar yang bersih dari poster sepakbola. Bahkan hari ini 13 tahun yang merupakan hari pelaksanaan EBTA saya masih bermain bola di stadion Ciputat, tepat di sebelah SD saya, SDN Ciputat II.

Tapi ada yang berbeda di hari itu. Tiba-tiba angkot siang itu tidak ada yang beroperasi, padahal paginya berangkat ke sekolah saya masih naik angkot putih jurusan Jombang-Ciputat tersebut. Toko-toko pun tutup dan massa mulai bergerombol di beberapa titik. Lalu dari orang-orang saya dengar desas desus bahwa toko-toko mulai dijarah dan ada SPBU yang dibakar. Saya dan teman saya tentu saja ketakutan dan karena tidak ada angkot berlari secepat mungkin pulang ke rumah. Padahal jaraknya lumayan jauh, sekitar 4 kilo. Siang hingga sorenya tetangga saya ramai-ramai pergi ke Ciputat untuk menjarah toko cina katanya. Pulang ke rumah membawa berbagai macam barang-barang “impian” mereka selama ini. Ada yang membawa alat-alat elektronik, sembako, maupun fashion dan sepatu/ sandal. Tetangga saya membawa pulang sekarung Sepatu dari Ramayana yang hangus terbakar. Dan setelah dibuka di rumah ternyata sepatu pajangan toko yang ia jarah semuanya hanya sepatu sebelah kanan.

Saya tidak tahu apa yang terjadi hari itu di Ciputat, sebuah kota satelit Ibu Kota yang masuk Kab Tangerang dan terkenal akan kesemrawutannya itu. Yang jelas saya menonton berita di TV kemarin bahwa empat orang mahasiswa Trisakti meninggal dunia tertembak peluru aparat. Dari TV juga saya menyaksikan berita bahwa mahasiswa bersama masyarakat demo meminta Soeharto mundur. Menuntut sembako murah. Dan sebuah kata indah yang menjadi mimpi masyarakat kita saat itu terdengar gemuruhnya kian kuat: REFORMASI!

Krisis Moneter juga secara langsung terasa oleh keluarga sederhana kami. Bapak saya di-PHK sehingga untuk menyambung hidup selama hampir dua tahun (hingga mendapat lagi pekerjaan yang sesuai) bapak melakukan ini dan itu. Mulai dari mencoba beternak cacing, bertani tomat, beternak domba, hingga jualan jaket/ aksesori kulit yang dibelinya dari Garut. Sedangkan Ibu juga membantu dengan berjualan pakaian kredit yang dibelinya dari grosir di Pasar Tanah Abang atau Pasar Induk Cipulir.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit hikmahnya ialah empati saya yang masih kecil itu mulai terasah. Jika selama ini biasanya kami menggunakan Bis kelas Eksekutif untuk pulang ke Bandung maka pada saat itu karena tidak punya uang kami berlangganan naik Kereta Ekonomi Galuh jurusan Tanah Abang – Banjar via Stasiun Kiaracondong Bandung yang harga tiketnya sepertiga Bis Eksekutif. Dan tentu saja waktu tempuhnya pun tiga kali lebih lama dengan kenyamanan ala kelas ekonomi. Benar-benar merasakan hidup sebagaimana rakyat Indonesia sebagian besar. Bersama orang-orang kecil di Kereta Api Ekonomi; pengemis, gelandangan, pedagang asongan, tukang sapu-sapu, dan penumpang lain yang senasib hidupnya ialah pengalaman berharga yang Allah berikan dalam rangka mendidik saya.

Selain itu pun kehidupan dalam krisis ekonomi juga mengajarkan kami arti syukur, bahwa kebahagiaan tidaklah diukur dari nominal atau keberadaan materi, melainkan keberkahan dan nikmat yang Allah berikan. Jika sebelum krisis Ibu saya yang hobi masak selalu menyiapkan menu mewah di rumah maka pada saat itu daging adalah menu yang sangat langka. Saya masih ingat bahwa di masa-masa sulit yang dialami rakyat itu, Allah tidak pernah membiarkan hambaNya kelaparan. Barangkali kita masih ingat bahwa antara tahun 1997-1999 di pasar banyak sekali penjual ikan sejenis Sarden yang diberi nama “Ikan Krismon”. Dinamakan Ikan Krismon karena tiba-tiba hadir di masa krismon dengan jumlah yang berlimpah dan haganya pun harga krismon, seingat saya Rp. 500/ kg. Bahkan lebih murah dari tahu tempe sekalipun. Ikan krismon itulah masakan favorit ibu saat itu.

Soeharto, bapak presiden Indonesia yang tersenyum. Saat SD kami menghapal semua menterinya. Menghapal wakil-wakil nya dari awal sampai zaman Sudarmono, Try Soetrisno, lalu Habiebie. Menghapal butir-butir Pedoman Pelaksanaan dan Penghayatan Pancasila (P4) atau Eka Prasetya Pancakarsa. Menghapal pembukaan dan batang tubuh UUD 45. Menyaksikan acara kelompencapir di TVRI. Marah-marah setiap layar emas RCTI dipotong Dunia Dalam Berita. Saya yang tidak tahu bahwa presiden ternyata bisa berganti.

Yang saya ingat saat itu Soeharto, Golkar, dan Cina menjadi dua pihak yang sangat dibenci di tahun 1998. Kata-kata asing seperti krismon atau reformasi jadi sangat populer. Mahasiswa menjadi superhero saya menggantikan Kotaro Minami. Dan dinding kamar saya pun bertambah variasinya tidak hanya sekedar poster bola yang didominasi Juventus dan Liverpool, tapi kini ada poster Amien Rais dan foto-foto Reformasi 1998. Dua poster terbaik yang saya suka ialah foto Gedung DPR yang atapnya sedang diduduki secara harfiah oleh mahasiswa yang berwarna-warni serta foto zoom jendela Univ Trisakti yang tertembak peluru. Saya yang baru akan masuk SMP itu rupanya larut dalam kegembiraan Bapak saya yang pada saat Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, beliau bercucuran air mata bahagia.

Tidak lama setelah itu saya baru tahu alasan Bapak saya bahagianya nampak lebay saat Soeharto turun. Rupanya Bapak saya ialah salah satu dari sekian juta pewaris sah negeri ini yang terdzalimi dalam kurun 32 tahun Soeharto berkuasa. Syahdan saat itu Bapak saya sedang ujian akhir (EBTA) SMK tahun 1982 dipanggil ke ruang kepala sekolah. Beberapa orang berambut cepak menjemputnya, dan sejak hari itu hingga dua setengah tahun kemudian tidak pernah pulang lagi ke rumah. Bapak saya diculik lalu dipernjara di tahanan militer Cimahi tanpa proses peradilan apapun. Hanya karena Bapak saya terlibat aktif dalam pengajian di Mesjid Istiqamah Bandung. Tiga bulan pertama tanpa pemberitahuan apapun ke pihak keluarga dan disekap di ruangan 2 x 1 tanpa pernah melihat matahari. Dibarengi dengan interogasi yang tidak beradab. Ada teman Bapak saya yang meninggal, ada yang cacat fisiknya, ada yang cacat mentalnya sekeluar dari penjara tanpa pengadilan itu.

Rupanya Bapak saya tak sendirian, ada ribuan lain yang dipenjara dengan satu kata keji: subversif. Ada siswi-siswi yang diancam dan dikeluarkan dari sekolahnya karena menggunakan jilbab seperti ibu mertua saya. Ada jutaan hektar tanah yang digusur atas nama pembangunan. Ada ratusan orang terbunuh di Tanjung Priok tahun 1984. Ada pembantaian di Talangsari Lampung. Ada ribuan dibunuh dan diperkosa di Aceh. Ada jutaan yang dibunuh saat transisi berdarah dari Orde Lama ke Orde Baru. Dan di atas itu semua disusunkanlah Repelita dan Pelita, Kabinet Pembangunan I hingga sekian. Dilakukan inpres. Dwifungsi ABRI. Kopkamtib. Pembangunan tinggal landas. Pembangunan manusia Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Dibangun irigasi dan jalan raya. Di atas itu semua Soeharto tersenyum. Harmoko cengar-cengir. Dan Ibu Tien membangun TMII.

Bapak saya menjadi satu dari jutaan rakyat Indonesia yang merayakan reformasi. Untuk pertama kalinya bapak saya mau lagi berpartisipasi dalam aktifitas politik dengan menghadiri deklarasi PAN yang didirikan idolanya yaitu Pak Amien. Tapi kemudian menjadi ketua DPRa PPP Desa Serua Indah karena diminta para tetangga. Dan mencoblos PBB di Pemilu 1999 karena dirasa paling meneruskan perjuangan Masyumi. Saya sendiri mencoret nama Alessandro Del Piero menjadi Prof. Dr. H. Amien Rais, MA. di kolom idola saya saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 15, 2011 by in Pergerakan dan Peradaban and tagged , .
%d bloggers like this: