Angin

To run where the brave dare not to go

Metamorfosis

Ada dua syair, dua-duanya judulnya metamorfosis. Yang pertama ialah puisi karangan Sapardi, yang kedua lirik rapnya Thufail Alghifari. Dua seniman yang sangat berbeda latar belakangnya. Sapardi adalah sastrawan akademisi yang juga guru besarnya Fakultas Sastra UI. Thufail algifary adalah seorang mualaf pemegang microphone yang meneriakan lirik-lirik rap cadas, tapi ini rap dakwah, musiknya keras dan liriknya “brutal”. Beliau nampaknya lebih tepat disebut dai musis nyeleneh. Silakan simak kedua syair metamorfosis ini:

Metamorfosis

ada yang sedang menanggalkan

kata-kata yang satu demi satu

mendudukkanmu di depan cermin

dan membuatmu bertanya

tubuh siapakah gerangan

yang kukenakan ini

ada yang sedang diam-diam

menulis riwayat hidupmu

menimbang-nimbang hari lahirmu

mereka-reka sebab-sebab kematianmu

ada yang sedang diam-diam

berubah menjadi dirimu

-Sapardi Djoko Dhamono-

Metamorfosis

Menjadi karanglah meski itu tidak mudah

Sebab ia akan menahan sengat sinar mentari yang garang

Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah

Melawan bayu yang keras menghembus

Dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan

Sebab keteguhannya akan menahan hempasan badai

yang datang mengerus terus menerus

ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus

ia akan berdiri tegak berhari – hari, bertahun tahun berabad – abad

tanpa rasa jemu dan bosan

Menjadi mutiaralah meski itu juga tak mudah

sebab ia berada di dasar samudera yang dalam

sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan tangan manusia

sebab ia begitu berharga

sebab ia begitu indah dipandang mata

sebab ia tetap bersinar meski tenggelam dikubangan yang hitam

Menjadi pohonlah yang tinggi menjulang meski itu tidak mudah

sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala disetiap siangnya

ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar

ia akan terus menjejaki bumi hadapi gemuruh sang petir

sebab ia hujamkan akar yang kuat menopang

untuk menahan gempita hujan yang coba merubuhkan

dan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengeyangkan

sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung – burung yang singgah di dahannya lalu berikan tempat berlindung dengan rindang daun – daunnya

Menjadi pauslah meski itu juga tak mudah

sebab dengan sedikit kecipaknya ia akan menggetarkan ujung samudera

sebab besar tubuhnya akan menaklukan musuh yang coba mengganggu

sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya

Menjadi melatilah meski tampak tak bermakna

sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan

ia begitu putih seolah tanpa cacat

sebab ia tak takut hadapai angin dan hujan dengan mungil tubuhnya

ia tak pernah iri melihat mawar yang segar merekah

dan tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi

ia tak pernah dengki dengki dan rendah diri pada keanggunan anggrek dan tulip yang berwarna warni

dan tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya

-Thufail al Ghifary-

Selamat bermetamorfosis sahabatku. Terus belajar dan memaknai setiap hari perjalanan kita. Hidup ini sia-sia tanpa pembelajaran dan pemaknaan. Jangan menyerah. Jangan biarkan lingkungan yang menentukan seperti apa dirimu. Jangan biarkan keterbatasan mengkerdilkan dirimu. Jangan biarkan engkau menjadi tidak seperti apa yang engkau kehendaki. Sebab Allah maha dekat dan maha mengetahui. Jangan biarkan kelemahan memutuskan harapan dan tali pengaduan kita kepadaNya.

Surabaya, 27 Oktober 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 28, 2011 by in Self and Org. Development and tagged .
%d bloggers like this: