Angin

To run where the brave dare not to go

Catatan Pembelajar Ke-sekian: Ulah Balil (Just Do It)!

Bismillahirrahmanirrahiim..

Iklan Nike “Just Do It”

Sudah lama saya tidak menulis. Saya sendiri tidak yang apa penyebab pastinya. Boleh jadi tidak ada satu faktor dominan. Semacam campuran dari segala perasaan dan hambatan untuk menulis. Sebut saja; takut untuk disebut sebagai orang yang gak punya integritas karena kelakuannya masih jauh dari tulisannya, perasaan ingin sempurna dengan menulis sebuah tulisan terhebat yang pernah ada, rasa takut untuk mendapat pujian yang berbuah ujub (bangga) jika saya menulis lalu tulisan itu disukai banyak orang, minimnya olah jiwa dan pikiran yang menjadi gudang inspirasi, kurangnya bahan bacaan atau input yang menjadi bibit bagi lahirnya ide dan gagasan, hilangnya kegalauan di mana dulu menulis dijadikan pelarian untuk mengobati rasa galau akibat jodoh yang tak kunjung hadir, dan lain sebagainya. Kalau begitu sebut saja berbagai alasan ini dengan satu kata lugas: malas. Karena pemalas akan bisa menemukan seribu satu pembenaran atas kegagalannya. Kadang beda-beda tipis memang antara pembenaran seorang pemalas dengan introspeksi diri seorang pembelajar.

Kalau begitu ada satu mantra yang suka dikatakan oleh teman saya Si Gumi saat mengundang saya silaturahmi ke kantornya (baca: tanding PES) dan memotivasi saya untuk segera datang: “Ulah Balil!” yang artinya: ulah loba lila (jangan banyak lama) yang jika dimaknai dengan lebih elegan bermakna: “bersegeralah!”, “berlomba-lombalah!”, “bergeraklah”, dan lain sebagainya. Tadinya malam jumat ini mungkin sama seperti malam-malam sebelumnya beberapa bulan terakhir, nihil tulisan. Padahal pada suatu hari saya pernah bercita-cita bahwa menjadi apa pun saya kelak, saya harus meninggalkan karya berupa tulisan. Apa pun profesi saya kelak, saya ingin menjadi penulis. Tidak perlu saya membahas panjang lebar tentang faedah atau manfaat dari menulis karena sudah banyak orang membahasnya. Yang pasti saya ingin menjadi penulis karena yang pertama saya suka menulis dan yang kedua menulis itu bermanfaat besar sekali bagi saya dan orang lain di dunia dan akhirat. Barangkali sama menyenangkannya seperti saya maen PS pake Barca lawan si Gumi yang pake Madrid, tapi bedanya menulis mah berlimpah manfaat, maen PS mah hampir “plus plos” antara manfaat dan madharatnya.

Sungguh tidak ada mantra yang lebih hebat saat terbersit di hati ini sebuah niat baik selain “just do it”. Dalam kumpulan hadits Arbain, Imam Nawawi memasukan sebuah hadits di mana Rasulullah saw bersabda (yang intinya) jika di hati timbul niat berbuat baik maka baginya sudah dicatat (satu) kebaikan yang sempurna. Maka banyak-banyaklah kita mengisi hati dan pikiran ini dengan niat-niat yang baik. Rencana-rencana yang baik. Karena saat ide, rencana, dan niat baik berseliweran maka tinggal menunggu salah satunya berbuah menjadi tindakan. Dan Allah mencatat satu kebaikan lagi atasnya. Ibarat kita menyemai benih. Suatu saat ia akan berbuah. Dan mantra yang akan membawa bibit itu segera berbuah ialah “just do it”. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran,

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS 3: 133-134)

Saari’uu: bersegera, just do it. Di ayat lain difirmankan dengan kata saabiqu: berlomba-lomba. Di surat At Taubah Allah swt menyebutnya infiruu: berangkatlah

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS 9:41)

Para mufasirin bahkan menjelaskan bahwa kata infiruu (berangkatlah) di sini memiliki akar kata yang semakna dengan “anak panah yang terlepas dari busurnya”. Bisa dibayangkan betapa kuat dan memotivasi pilihan kata yang digunakan dalam ayat ini. Maha suci Allah. Dan demikian contoh yang diajarkan para sahabat yang mulia bagaimana mereka mengaplikasikan perintah-perintah Allah atau pun niat-niat baik yang ada di hatinya. Ingat kisah Handzalah yang tidak menunggu mandi janabat dulu untuk pergi ke medan Uhud selepas malam pertamanya. Perhatikan pula respon ‘Umair bin Al-Humam ra tatkala beliau mendengar sabda Rasulullah saw: Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Beliau mengucapkan kata “bakh-bakh” (ungkapan takjub terhadap kebaikan dan pahala) semata-mata karena ingin menjadi penghuni surga, lalu segera membuang beberapa biji kurma yang sedang dikunyahnya sambil berkata: Jika saya hidup sampai selesai memakan kurma ini, oh betapa lamanya (menanti surga). Lalu beliau maju hingga gugur di perang Badar. (HR. Muslim – Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits no 1314).

Maka malam ini saya ingin mengucapkan selamat dan terima kasih kepada diri saya sendiri yang telah mengatakan kepada pikiran hati dan jari saya: “ulah balil!”, “hajar bleh! sikat kabeh!”, “ulah loba omong!” Walau tadinya saya tidak punya rencana mau menulis apa.
Jiwa saya tersentak, pikiran saya terbangun, jemari saya pun menari lagi. Alhamdulillah.

Bandung, 10 Mei 2012.

Dedicated to si tuan, Mang Gumi

2 comments on “Catatan Pembelajar Ke-sekian: Ulah Balil (Just Do It)!

  1. fae
    July 13, 2012

    prolognya keren mas..mengena banget..
    muantapp…
    salam kenal..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 10, 2012 by in Uncategorized and tagged , , , , , , , .
%d bloggers like this: