Angin

To run where the brave dare not to go

Abu Bakar Ash Shidiq ra dan Fondasi Kepemimpinan (Negara) Islam

Madinah, awal mula semuanya

Periode kepemimpinan Abu Bakaq Ash Shidiq ra. sebagai khalifah ternyata berlangsung sangat singkat, hanya dua setengah tahun sampai beliau wafat. Dengan periode yang singkat itu seolah tidak nampak ada prestasi yang mentereng yang beliau capai seperti ekspansi besar-besaran Kekhalifahan Islam seperti masa Khulafaur Rasyidah setelahnya. Namun jika kita menelaah lebih dalam lagi sirah beliau, maka kita bisa memahami bahwa dua tahun setengah periode kepemimpinan Abu Bakar Ash Shidiq ra diisi oleh hal-hal yang strategis dan fundamental yang menentukan perjalanan kekhalifahan ke depannya. Ibarat membangun gedung, beliau menyelesaikan hingga fondasinya saja sehingga tidak nampak di permukaan hasil kerja keras beliau.

Setidaknya ada dua hal fundamental yang dicapai oleh Abu Bakar Ash Shidiq ra. Pertama dalam aspek hukum dan politik, beliau lah yang memancang pilar-pilar tata negara dalam Islam. Kedua dalam aspek militer dan politik luar negeri beliau berhasil menjaga soliditas negara Islam di tengah ancaman dari segala penjuru pasca kepergian Rasulullah saw, sekaligus ancang-ancang bagi ekspansi daulah Islamiyah yang dieksekusi dengan baik oleh Khalifah setelahnya.

Dalam aspek politik dalam negeri dan hukum, beliau adalah pemancang fondasinya. Harus kita pahami bahwa negara Madinah di era nubuwwah memiliki perbedaan dengan era kekhalifahan setelahnya. Dalam Islam pemimpin negara dan pemimpin agama bukanlah dua jabatan yang berbeda. Saat Rasulullah saw masih memimpin hal ini dapat dilakukan dengan lugas. Karena Rasulullah saw ialah Nabi yang dibimbing langsung oleh wahyu, titahnya ialah kebenaran, keputusan yang beliau ambil pastilah benar, ketaatan kepada kepala negara berkorelasi langsung dengan status keislaman atau kufurnya seseorang. Hal ini yang menjadi pembeda dengan era kepemimpinan Islam pasca Rasulullah saw. Maka di sini lah Abu Bakar as shidiq ra. dengan pemahamannya yang utuh terhadap risalah Nabi menyampaikan sebuah pidato pelantikan yang sangat penting dan fundamental saat beliau dibaiat menjadi khilafah tiga hari sepeninggal Rasulullah saw.

“amma ba’du. Wahai manusia, aku telah diserahi kekuasaan untuk mengurus kalian, padahal aku bukanlah orang terbaik dari kalian. untuk itu, jika aku melakukan kebaikan, maka bantulah aku, jika aku berbuat salah, maka ingatkanlah aku. jujur itu amanah, sedang dusta itu khianat. orang lemah di antara kalian adalah orang kuat di sisiku hingga aku berikan haknya insya Allah, dan orang kuat di antara kalian adalah orang lemah di sisiku hingga aku mengambil haknya darinya insya Allah. tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan Allah menjadikan hidup mereka hina dan dihinakan, tidaklah perbuatan zina menyebar di suatu kaum, melainkan Allah akan menyebarkan malapetaka di tengah-tengah mereka. untuk itu, taatlah kalian kepadaku selama aku masih taat kepada Allah dan RasulNya. jika aku bermaksiat kepada Allah dan RasulNya, maka bagi kalian tidak ada ketaatan kepadaku. dirikanlah shalat kalian, semoga Allah merahmati kalian.”

Simak baik-baik dan pikirkan dalam-dalam pidato beliau. Niscaya kita akan mendapati bahwa ini bukan pidato sambutan ala pejabat negara yang cenderung normatif dan penuh basa-basi seperti pada umumnya. Bukan juga pidato terima kasih dan rasa haru ala selebritis yang mendapat anugerah atau penghargaan. Pidato ini berisi prinsip-prinsip yang menjadi pilar-pilar bagi tata kelola sebuah negara Islam pasca Rasulullah saw yaitu:

1. Penegakan hukum dan konstitusi, bahwa kedaulatan negara dan ketaatan tertinggi ada di tangan syariat Allah (Al Quran dan As Sunnah). Negara Islam bukanlah teokrasi di mana kedaulatan tertinggi ada di tangan penguasa yang mendapat mandat dari Tuhan, melainkan negara yang menjadikan aturan Allah sebagai kedaulatan tertinggi.

2. Akuntabilitas, perlunya check and balance dalam pemerintahan. Ini yang membedakan antara era nubuwwah dan pasca nubuwwah. Karena selain Rasulullah saw pemimpin mungkin berbuat salah. Maka koreksi menjadi sesuatu yang niscaya dalam kepemimpinan Islam.

3. Egaliterian, kesetaraan antara pemimpin dan rakyatnya, dan kesetaraan di antara rakyatnya. Kepemimpinan ialah amanah di mana ketaatan terhadap pemimpin negara semata-mata karena syariat memerintahkan untuk seperti itu, sekalipun mungkin sang pemimpin bukanlah yang terbaik dalam semua hal. Sekaligus kesetaraan di hadapan syariat dan aturan antara semua rakyatnya baik yang lemah maupun yang kuat, yang kaya atau yang miskin, bahkan antara yang muslim maupun bukan (ahlu dzimmah).

4. Kepercayaan dan kejujuran, tak pelak lagi ini menjadi kunci dari kemajuan sebuah bangsa. Tidak mungkin semua orang dalam sebuah bangsa berbuat jujur akan tetapi pemimpin lah yang menjadi kunci. Jika pemimpin sudah berbohong maka negeri tersebut di ambang kehancuran. Rasulullah saw bersabda dalam shahih Muslim: Tiga Golongan manusia yang Allah tidak akan bercakap dengan mereka di hari kiamat, tidak menganggap mereka sebagai orang yang bersih, tidak melihat kepada mereka, dan mereka akan dimasukkan ke dalam neraka dengan azab yang sangat pedih. Mereka ialah orang tua yang berzina, raja atau pemimpin yang suka berbohong dan orang miskin yang sombong.

Dari hadits di atas pemimpin yang suka berbohong disejajarkan dengan orang tua yang suka berzina dan orang miskin yang sombong. Mengapa ketiga golongan ini ada di posisi yang sangat hina? Karena mereka melakukan fahisyah (keburukan) yang sangat tidak pantas dan sebetulnya sangat sulit diterima dengan akal sehat bisa dilakukan oleh mereka. Orang berbuat zina karena dorongan syahwat yang tinggi dan yang memiliki syahwat tinggi biasanya orang muda, ia melampiaskannya dengan cara yang salah yaitu zina. Maka seorang kakek-kakek yang berbuat zina baginya kehinaan yang bertumpuk. Sedangkan orang sombong pada dasarnya karena memiliki sesuatu yang patut dibanggakan di hadapan manusia. Nah apalah ini orang miskin memiliki sesuatu yang patut dibanggakan tapi ia bahkan sanggup bersikap sombong? Maka seorang pemimpin yang berbohong pun memiliki kehinaan serupa. Pada dasarnya orang berbohong karena ia merasa harus menyembunyikan sesuatu. Ia tidak memiliki cukup kekuatan sehingga ia tidak berani bersikap terang-terangan. Nah seorang pemimpin ialah orang yang paling tinggi dalam hal kekuasaan dan wewenang di antara kaumnya. Jika ia sampai berbohong artinya ia memiliki akhlak yang sangat buruk sehingga Rasulullah saw menggolongkannya ke dalam tiga golongan tersebut.

5. Perang terhadap kemaksiatan. Sebab kemunduran peradaban-peradaban sebelumnya; romawi, persia, dan yunani dimulai dengan merebaknya kemaksiatan di antara mereka. Lebih spesifik lagi terutama terjadi di kalangan pembesar dan orang-orang kuat/ kayanya. Bukan berarti di zaman para sahabat tidak ada orang yang bermaksiat. Masih ada yang berzina, minum khamr, dsb karena saat itu orang yang berbondong-bondong masuk Islam memiliki spektrum latar belakang dan kualitas yang bervariasi. Namun saat itu orang sembunyi dan malu-malu untuk bermaksiat. Dan yang lebih penting bahwa pembesar-pembesar Islam di zaman itu terbebas dari hal-hal tersebut. Maka kita harus mengambil pelajaran dari runtuhnya Dinasti Abbasiyah di Andalusia. Sebenarnya serangan reconquesta dari Ratu Isabel dan Raja Fredrich hanya pukulan terakhir bagi umat Islam. Keruntuhan peradabannya sendiri dimulai jauh sebelum pembantaian itu. Yaitu saat kemaksiatan dan sikap bermewah-mewah sudah menjadi hal yang merebak di antara para pembesar dan tokoh masyarakatnya.

6. Jihad. Negara Madinah dipertahankan dan dikokohkan eksistensinya bukan hanya dengan doa dan munajat saja. Kemenangan Rasulullah saw bukanlah kado dari langit yang diantar lewat malaikat yang mengetuk rumah kaum muslimin. Semuanya adalah buah dari keringat dan darah yang membanjir menyuburkan bumi. Dari sejak perang pertama yaitu perang Badar pada tahun ke-3 hijriah hingga perang terakhir di masa Rasulullah saw yaitu perang Tabuk ada 27 pertempuran yang harus dihadapi oleh kaum muslimin. Jika dirata-rata berarti tiga bulan sekali para sahabat harus berjihad mempertahankan risalah kenabian. Maka jika virus kelemahan telah menggerogoti umat Islam, jihad dipersepsi sesuatu yang menakutkan dan keji, umat Islam termakan virus media dan fitnah yang dilancarkan musuh-musuh Islam, saat itulah seperti kata ABu Bakar Ash Shidiq: Allah menjadikan hidup mereka hina dan dihinakan. Sehingga kita lihat ke depannya, dari zaman khalifah setelahnya Umar bin Khatab hingga Salahuddin Al Ayubi dan Muhammad Al Fatih, jihad menjadi platform dari kepemimpinan Islam. Dan dengan jihad itulah keadilan dan kasih sayang Islam sebagaimana misi ultimatenya sebagai rahmatan lil alamiin bisa terwujud secara hakiki.

Diinspirasi dari audiobooks Imam Anwar Al Awlaki: Abu Bakar Al Shidq chapter 7

2 comments on “Abu Bakar Ash Shidiq ra dan Fondasi Kepemimpinan (Negara) Islam

  1. khalishazka
    August 13, 2013

    Reblogged this on khalishazka's Blog and commented:
    assalamualaikum, berikut cerita tentang kepemimpinan abu bakar ash shiddieq

  2. khalishazka
    August 13, 2013

    good

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 11, 2012 by in Pergerakan dan Peradaban and tagged , , , .
%d bloggers like this: