Angin

To run where the brave dare not to go

Antara Laut Selatan dan Laut Utara

Prolog

Berapa jauh saya dan Nada terpisah? Jauh pastinya, antara Belanda dan Hindia Timur. Jarak yang ditempuh oleh Jan Pieterzen Coen pada tahun 1602 untuk menemukan rempah-rempah di timur jauh hingga sampai di kepulauan Nusantara. Perjalanan yang membelokan sejarah bangsa kita. Juga jarak yang di tempuh Bung Hatta muda. Di usia 19 tahun pada musim gugur 1921 beliau berlabuh di Rotterdam setelah menempuh satu bulan perjalanan untuk belajar ilmu ekonomi, walaupun sejak kecil Bung Hatta disiapkan untuk belajar ke Mekah atau Kairo agar menjadi ulama. Jarak yang sama ditempuh pula oleh Sjahrir di tahun 1929 untuk belajar ilmu hukum di Amsterdam dan Tan Malaka di tahun 1913 untuk belajar ilmu pendidikan di Harleem.

Bagi orang yang sudah menikah berpisah untuk waktu yang lama tentulah bukan sesuatu yang semestinya. Kecuali pasti lah ada sesuatu yang amat berharga yang layak dibayar dengan harga sebesar itu. Saya bersyukur dikarunia istri yang dalam keriangan ada kematangan di jiwanya. Dalam kemanjaan ada keberanian sikap di hatinya. Dalam kelembutan ada keteguhan di dirinya. Ia yang dengan ikhlas melepas saya dan menggadaikan hak-haknya yang tak bisa tertunaikan dengan penuh setidaknya selama setahun ke depan. Semoga Allah swt meridhai pengorbanan dan kesetiaanmu istriku, dengan kebaikan yang berlipat.

Langkah-Langkah Pertama dari Seribu Mil Perjalanan

Saya berangkat dari tanah air pada hari Rabu 22 Agustus 2012 dengan pesawat Garuda GA088, penerbangan yang sama yang ditempuh oleh pejuang Munir di mana beliau dibunuh 8 tahun yang lalu saat almarhum hendak studi di Belanda. Sempat terlintas di pikiran, mungkin saya di-munir-kan juga saat itu, hehe, tapi mana mungkin, sepak terjang saya belum meriakkan apa pun. Tapi saya dan Nada sebetulnya berpisah dua hari sebelum keberangkatan. Kami berpisah dengan cara yang tidak mainstream ala adegan dramatis Rangga dan Cinta di Bandara Soekarno Hatta. Melainkan justru Nada yang lebih dahulu meninggalkan saya pergi ke Madiun untuk mudik bersama keluarganya. Perpisahan yang terasa tidak menghentak karena ada saat untuk “pemanasan”-nya selama dua hari.

Di Bandara Schipol Amsterdam kami berlima penerima beasiswa kominfo dijemput oleh tiga orang perwakilan keluarga besar PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Delft. Sejak dari pintu kedatangan, pindah ke stasiun kereta, ganti dan turun dari kereta, daftar ulang dan mengambil kunci apartemen di universitas, sampai memasuki apartemen kami masing-masing, kakak-kakak yang baik dari PPI membantu mulai dari membelikan karcis hingga bahkan membawakan barang bawaan kami yang beratnya sampai setengah kwintal per orang. Maklum Garuda berbaik hati memberikan bagasi yang ekstra banyak (40 kg) sehingga semua barang-barang termasuk panci,penggorengan,rice cooker,beras,sampai rantai gembok sepeda masuk ke koper. Ceritanya agar kita tidak perlu belanja lagi di sini jadi bisa hemat. Satu hal yang menjadi pelajaran adalah bagaimana rekatnya persaudaraan antar anak bangsa di tanah rantau. Sengaja meluangkan waktu dan mengeluarkan ongkos PP Delft-Amsterdam sebesar 10 Euro sekali jalan dan berjarak 60 km bukanlah suatu yang mudah tanpa adanya rasa persaudaraan yang kuat. Semoga rasa persaudaraan kami yang di rantau ini bisa dibawa terus dan menginspirasi hingga kami kembali ke tanah air nanti.

Oia, kampus saya adalah Delft University of Technology (Technische Universiteit Delft) atau disingkat TUD. TUD adalah kampus teknologi pertama dan terbaik (secara rangking) di Belanda serta nomor tiga di Eropa dan nomor 18 di dunia untuk bidang sains dan teknologi. Bisa dibilang ITB-nya Belanda, hehe. TUD punya kaitan yang erat dengan ITB tentu saja karena ITB dulu dibangun langsung oleh orang-orang TUD yang dikirim ke Indonesia. Saya terdaftar sebagai mahasisiwa Master Engineering and Policy Analysis di Faculty of Technology Policy and Management. Sebuah bidang kajian kebijakan multidisipliner (sosio-teknik) yang menitikberatkan pada keahlian system modelling dan policy analysis, serta dilengkapi kemampuan project management. Alhamdulillah semua biaya studi saya ditanggung oleh Kementrian Kominfo setelah melewati serangkaian tes yang panjang dan melelahkan sebagai penerima beasiswa. Dari 300-an aplikan terplih 26 orang yang diberangkatkan ke lima negara (Belanda, Jerman, Jepang, Korea, dan Australia). Lima di antaranya adalah mahasiswa TUD dan saya adalah salah satunya.

Ada kejutan besar di hari ketiga saya di Belanda, bahkan saat jetlag pun masih belum hilang. Yaitu Aa Ucin aka Husna dan istrinya tetiba datang dari Roma dan menginap di rumah saya. Sesuatu yang layak dibilang; wow. Ucin dan Istrinya sedang liburan musim panas keliling Belanda, Belgia, dan Perancis. Waas (melankolik-red) rasanya saat saya bertemu dengan Aa Ucin di sini. Dulu kami and the geng biasanya menginap di kamar hitam rumahnya Jaka di belakang pom bensin Katamso. Bersama-sama rapat bikin kegiatan, belajar, ngaji, curcol jika lagi ada yang galau atau patah hati #eea, diadu pe-es atau pun sekedar numpang makan kami lakukan bersama. Dan tak terasa sekarang barudak geng sudah mulai menyebar. Ada Ucin di Roma, Oki di London, Aa Iwa di Seoul, Tezar tetangga sebelah saya di Amsterdam, Jaka yang baru pulang dari pedalaman Kapuas hulu, mang Dani di Tarahan Lampung, Dokter Angga yang sibuk jadi dirut Galenia, serta Yahbul yang lagi S2 di ITB. Antusias rasanya jika membayangkan suatu saat takdir kami beririsan dan bisa kumpul lagi di salah satu pojok bumi yang lain sebagai kamar hitamnya rumah Jaka kedua.

Hari-hari pertama di Belanda langsung disibukkan oleh rangkaian kegiatan Introduction Week bagi mahasiswa internasional di kampus. Semacam ospek gitu kalau di kita. Tapi jangan bayangkan seperti di Indonesia. Di sini kegiatannya sangat santai dan fleksibel. Selama seminggu kegiatan wajibnya hanya tiga atau empat jam per hari berupa kuliah umum dan project group. Sisanya adalah kegiatan tentative seperti jalan-jalan di kota, jelajah museum, belanja bareng, belajar masak, game semacam amazing race, sampai karokean dan hang out di bar sampai mabok. Saya tentu saja memilih hanya ikut yang wajibnya saja, hehe.

Di project group kita diminta membuat semacam ide atau pun prototype produk/ jasa yang memudahkan adaptasi serta akulturasi mahasiswa asing yang baru tinggal di Delft. Saya sekelompok dengan mahasiswa dari China, India, Jerman, Australia, Belanda, Yunani, dan Kostarika. Dalam sebuah teori organisasi dijelaskan bahwa sebuah tim yang sangat heterogen hanya punya dua kemungkinan; apakah ia menjadi lima persen paling bawah atau menjadi lima persen paling atas. Alhamdulillah sejak awal walaupun ini project dummy tapi kami sudah meletakkan common ground yang kokoh; yaitu kita kerjakan project ini dengan sebaik-baiknya. Dengan modal ini kami menjadi berani untuk all out dan memberikan yang terbaik serta menjadi diri sendiri, sambil tetap berusaha beradaptasi dan menyesuaikan dengan yang lain.

Dan karakter tiap orang muncul; ada orang Jerman yang sangat fokus dan taat pada aturan. Bahkan untuk buang air pun dia bikin aturannya, hehe. Ada orang China yang bahasa Inggrisnya parah tapi sangat terlihat keinginannya untuk berkontribusi dan mengejar ketertinggalan. Orang India tentu saja sesuai fitrahnya yang menyukai joget dan nyanyi, selalu ingin tampil. Orang Australia yang native English speaker sekaligus paling tua dan berpengalaman yang selalu leading. Serta orang Kostarika dan Yunani yang lebih nyantai tapi tetap serius. Orang Indonesia? Tentu saja dengan modal bahasa Inggris seadanya menjadi pendiam tapi selalu bicara pada saat-saat krusial dan memainkan peran penting sebagai orang di belakang layar.

Kami mengerjakan dengan sepenuh totalitas dan kami mendapat kepuasan tersendiri dalam prosesnya. Sungguh meluap kegembiraan kami saat presentasi berakhir dengan penuh pujian dari dewan juri yang merupakan profesor, perwakilan kedutaan besar, serta pejabat walikota setempat. Hasilnya tidak buruk, tim kami menjadi juara untuk kategori “best presentation” dari sekitar 1000 orang mahasiswa baru yang lain. Sebuah pengalaman berharga akan totalitas dan komitmen. Semoga menjadi awal yang baik bagi perjuangan saya selama insya Allah dua tahun di kampusku rumahku kedua ini.

Masa tahun akademik pun sudah berjalan sepekan. Saya sudah belajar bersama teman-teman sejurusan. Ada 37 mahasiswa dari 20 negara di jurusan saya. Seperempatnya adalah orang Belanda, empat orang China, tiga orang Yunani, serta sisanya masing-masing dua atau satu orang dari: AS, Kanada, Polandia, Jerman, Perancis, Romania, Cyprus, Turki, Iran, Mesir, Saudi Arabia, Vietnam, Korea, India, Pakistan, Singapura, dan saya seorang diri dari Indonesia. Di Belanda sistem belajarnya adalah kuartil. Jadi dalam satu semester ada dua masa ujian akhir. Untuk Kuartil ini saya mengambil mata kuliah: Principle of Policy Analysis, Continuous System Modelling, Statistical Modelling, Cross Cultural Management, serta Oral Presentation.

Semua kelas sudah dimulai pekan ini dan saya merasakan atmosfer yang berbeda dengan kuliah di Indonesia. Pertama di sini dosennya bukan hanya menguasai materi tapi juga memiliki skill mengajar yang baik. Kemampuan presentasinya hebat. Buktinya saya belum pernah tertidur di kelas. Tugas-tugasnya numpuk, semua mata kuliah dinilai selain dari ujian juga dari tugas besar atau paper yang dikerjakan berkelompok. Namun demikian beban akademik ini bisa diimbangi denga karakter mahasiswanya yang memiliki keaktifan dan inisiatif tinggi. Mereka selalu ingin menyampaikan pendapat dan pertanyaan, serta mempersiapkan materi sebelum masuk di kelas. Selain itu tentu saja fasilitas dan bangun fisik kampus yang nyaman sekali, kira-kira interiornya mirip perkantoran elit di Sudirman atau Kuningan Jakarta. Belum lagi ditunjang dengan internet yang jos bandros, sekali bersin film pun bisa selesai diunduh.

Perlahan tapi pasti saya terus beradaptasi dan melebur ke lingkungan yang baru ini. Saya menikmati kota tua mungil Delft yang cantik dan sehat ini. Di mana-mana ada air entah itu kanal atau kolam buatan yang berisi ikan-ikan dan bebek atau angsa. Menikmati udara yang segar dari pepohonan rimbun yang walaupun musim panas tetapi rasanya seperti di puncak atau lembang. Terpesona dengan kerapian kota tua dan keindahan arsitektur klasik Belanda yang selamat dari kehancuran Perang Dunia II. Bermain di danau dan hutan kota yang asri. Bercengkrama dengan tetangga apartemen saat masak di dapur bersama yang berasal dari berbagai bangsa: Portugal, Hongaria, Kanada, India, Mesir, Italia, Meksiko, Ekuador, dan Inggris. Serta apalagi kalau bukan bersepeda. Mengingatkan saya delapan tahun lalu saat masih bersepeda waktu SMA sampai kuliah semester pertama. Di Belanda ini jumlah sepedanya lebih banyak daripada jumlah manusianya. Sepeda adalah bagian dari budaya, ibaratnya kalau di Indonesia ialah nasi. Bahkan Perdana Menteri Belanda pun bersepeda dari rumah ke kantor.

Serta lebih dari itu, kehidupan untuk seorang muslim di Belanda bukanlah hal yang sulit. Besepeda kaki lima menit ke barat apartemen saya ada masjid orang Turki, sekilo berjalan ke timur ada masjidnya orang Maroko. Dan berjalan ke utara ada toko Turki yang menjual berbagai makanan halal termasuk Saos ABC. Pertumbuhan muslim di Eropa memang mengagumkan dan saya merasakan sekali hal tersebut. Jika saya bersepeda selama 10 menit dari rumah ke kampus di jalan pastilah saya bertemu dengan setidaknya dua atau tiga orang wanita berjilbab. Begitu pula kalau saya memperhatikan anak kecil yang bermain-main di jalan atau taman, sepertinya perbandingan jumlah anak Belanda asli dengan anak keturunan timur tengah tidak begitu jauh. Eropa sedang mengalami masalah serius dengan demografinya. Mereka enggan berkeluarga dan memiliki anak. Nampaknya memelihara hewan peliharaanlebih populer di sini daripada berkeluarga dan mempunyai anak. Buah dari kehidupan liberal dan sekuler yang membuat orang enggan menikah karena kebutuhan dasarnya bisa terpenuhi cukup dengan one night stand atau tinggal serumah tanpa menikah (dan tentu saja tidak mempunyai anak). Dan yang paling penting adalah di sini saya sudah tergabung dengan halaqah pengajian orang Indonesia. Jadi ada lingkungan yang efektif untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

Epilog

Ada apa dengan laut selatan dan laut utara? Laut selatan yang saya maksud adalah Laut Kidul (Selatan) pulau Jawa yang terkenal dengan ombaknya yang ganas karena langsung ke Samudera Hindia. Sedangkat laut utara di sini ialah North Sea, lautan yang berhadapan dengan negeri Belanda yang juga terkenal sebagai lautan paling ganas makanya pelaut-pelaut nordik atau yang dikenal dengan Viking terkenal sebagai pelaut ulung. Laut kidul dengan Nyi Roro Kidulnya dan Laut Utara dengan Flying Dutchman-nya. Di laut selatan kini Nada tinggal bersama sebelas orang sahabatnya sebagai dokter magang di Queen Harbor General Hospital (baca: RSUD Pelabuhan Ratu) lalu Puskesmas Cisolok, Sukabumi dalam rangka menunaikan setahun terakhir kewajibannya sebagai sarjana kedokteran.

Di sana Nada akan belajar beyond text book, beyond emergency room, beyond ruang operasi, beyond bangsal perawatan. Di daerah Nada akan benar-benar belajar tentang dirinya, lingkungan, dan masyarakat. Menginsafi dengan betul-betul tugas dan tanggung jawabnya sebagai dokter dengan terlibat langsung dalam ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat. Ada dalam detak nadi kehidupan masyarakat mudah-mudahan mengambalikan kesadaran seorang dokter yang merupakan anugerah dari sifat Allah yang maha penyembuh, membangunkannya dari rutinitas pendidikan kedokteran yang  (katanya) mekanistik dan kurang humanis.

Semoga bisa belajar menjadi dokter yang pelopor dan menjadi pioner dan pembawa obor bagi masyarakatnya seperti dokter Ernesto (Che) Guevara di Amerika Latin, dokter Jose Rizal di Filipina, sokter spesialis anak Abdul Azis Ar Rantisi di Filipina, atau dokter Cipto di Indonesia. Barangkali sesederhana dan setulus Mother Theresa atau sejago dan se-cool dokter Asada Ryutaro, hehe. Atau bahkan yang sudah jelas di depan mata ialah dokter Ibu. Apa pun yang paling membahagiakan dan membawa banyak manfaat bagi orang lain maka itulah yang terabaik. Yang penting Nada bisa menjadi muslim yang lebih baik dari hari ke hari. Ada maksud Allah yang besar dari jauhnya Nada dari rumah, keluarga, dan suami tercinta.

Adapun saya di sini lima belas menit dari laut utara belajar menjadi muslim yang lebih baik sekaligus menemukan lagi pencerahan-pencerahan intelektual dan kesadaran kepemimpinan sebagaimana yang dulu ditemukan oleh Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Minimal saya bisa mempertanngungjawabkan uang setengah miliar yang dijatahkan dari APBN untuk membiayai pendidikan saya di sini. Lagi-lagi saya punya utang kepada rakyat Indonesia dan harus mengembalikannya dengan manfaat dan kebaikan yang besar dari ilmu yang saya peroleh. Mari belajar menjadi diri kita sebaik-baiknya dan titipkan saja semua kerinduan dan segala perasaan dalam untaian doa yang dipanjatkan. Semoga Allah swt merahmati kami berdua.

Ditulis sebagai memoar sekaligus doa menyambut usia Nada ke-24 dua hari lagi.

Delft, 8 Sep 2012

 

Like

3 comments on “Antara Laut Selatan dan Laut Utara

  1. Pingback: Cerita Unik di Balik Nama Game Klasik | inspirasi.me

  2. almuhandis
    April 14, 2013

    Salam kenal mas Rihan.. Love this post..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 8, 2012 by in Muhasabah and tagged , , , , .
%d bloggers like this: