Angin

To run where the brave dare not to go

Umar bin Khattab sang Negarawan Agung (inspirasi dari Omar series eps. 24)

Belajar Sirah Nabawiyah dan Sahabat adalah meneguk kebajikan di mata air inspirasi yang tak pernah kering; menguras air mata, memesona emosi, memukau jiwa, serta mempertajam pemikiran. Alhamdulillah film Omar series ini adalah salah satu karya terbaik hasil kolaborasi antara sineas, produsen, dan para Ulama termasuk Syaikh Yusuf Al Qaradhawi. Hasilnya adalah film yang berkualitas dengan kualitas visual dan akting yang berkelas serta yang paling penting adalah akurasi detil yang lengkap dari Sirah itu sendiri.

Episode 24 ini menggambarkan langkah-langkah strategis Umar bin Khatab ra sebagai negarawan agung yang pernah memimpin di muka bumi ini. Setidaknya ada tiga hal penting yang saya bisa garisbawahi. Pertama adalah visi beliau tentang kepemimpinan dan administrasi bagi negara Islam yang baru saja memperluas kekuasaannya sampai ke Syiria dan Persia. Kedua adalah perhatian beliau akan pasar yang sehat sebagai fundamen kesejahteraan umat. Ketiga adalah konsep yang jelasa mengenai hak dan kewajiban “abdi negara”.

Yang pertama bisa dilihat dari keputusan beliau mengganti panglima “undefeatable commander in history” The Sword of Allah Khalid bin Walid ra oleh Abu Ubaidah. Beliau khawatir bahwa umat Islam akan mengkultuskan Khalid. Dalam pandangan beliau tidak boleh ada orang yang lebih superior dari sistem. Sebab jika bergantung pada personal maka kemajuaan akan terhenti seiring kematian orang tersebut.

Juga ada alasan lain yang sangat strategis yaitu bahwa pasca penaklukan yang harus menjadi panglima adalah politik dan pemerintahan yang kompeten, bukan militer. Yang dibutuhkan oleh negara adalah stabilitas, kepastian hukum, serta kesejahteraan bagi penduduknya. Militer adalah alat bagi negara untuk menjaga kedaulatan dan keamanan. Di sini lah posisi Abu Ubaidah ibnul Jarrah “sang pemegang rahasia kaum muslimin” dianggap lebih pas sebagai leader dan aministrator daripada Khalid yang ekspansif dan agresif.

Selain itu gaya kepemimpinan pun berperan dalam keputusan ini. Sebelumnya Abu Bakar ash shidiq ra yang lembut dan bijak sebagai khilafah sangat cocok disandingkan dengan Khalid yang ekspansif dan tangguh. Keduanya menjadi dua pasang sayap kepemimpinan yang saling melengkapi. Sedangkan Umar dan Khalid memiliki tipikal yang sama yang tentu saja tidak akan saling melengkapi. Abu Ubaidah yang karakternya lebih mirip Abu Bakar dianggap cocok untuk melengkapi kepemimpinan Umar.

Pelajaran kedua adalah peran Umar dalam membangun asas perekonomian negara Islam. Sebagai pemimpin Umar turun ke lapangan untuk melihat keadaan dan mendengar keluhan warganya. Suatu saat Umar mendapati harga suatu komoditas yang melonjak naik. Umar pun segera bertindak cepat untuk mengetahui penyebabnya. Ternyata terjadi monopoli di pasar Madinah. Umar pun menetapkan aturan tentang persaingan yang adil di pasar. Ditunjuklah seorang sahabiyah Asyifa binti Abdullah sebagai pejabat yang bertugas mengawasi persaingan yang sehat di pasar. Segala tindakan riba, penipuan, spekulasi, permainan harga, dan permainan-permainan culas lainnya akan berhadapan dan langsung ditindak oleh Asyifa. Selain itu juga Umar mewajibkan para pelaku pasar untuk mengetahui informasi yang mencukupi tidak hanya tentang aturan syariat mengenai ekonomi, tapi juga tentang perdagangan itu sendiri. Kalau bahasa ekonomi kontemporernya ialah untuk menghindari “asimetri informasi” yang menjadi pangkal penyebab sakitnya pasar. Penunjukan Asyifa ini juga menunjukan sikap sahabat yang menghargai posisi wanita dalam wilayah publik, antitesis bagi kebiasaan masyarakat Arab yang masih terbawa hingga saat ini yang mengurung wanita di rumah.

Yang terakhir mengenai hak pejabat pemerintahan. Umar meminta kepada umat agar ia digaji sesuai kebutuhan hidup yang layak dan wajar baginya dan bagi keluarganya. Karena sebagai pejabat negara kini waktunya disibukan oleh mengurus negara sehingga tidak punya waktu lagi baginya untuk mencari nafkah. Saat itu juga Umar sangat berang ketija ada seseorang yang menjilatnya dengan mengatakan bahwa tentu saja khalifah layak untuk mendapatkan unta terbaik, makanan paling enak, serta baju paling bagus. Bagi Umar posisi dia ibarat seorang pemandu jalan yang dibayar oleh beberapa orang yang menggunakan jasanya. Sunnguh tidak pantas pemandu ini mengambil sesuatu yang melebihi haknya yaitu berupa imbal jasa pekerjaannya. Demikian Umar meletakan fondasi penting atas posisi pejabat sebagai pelayan masyarakat, bukan penguasa yang bisa mengambil keuntungan dari warga yang dipimpinnya.

Subhanallah, dengan keadilan inilah Umar memimpin peradaban terbaik yang dengan sekejap mengambil estafet peradaban dari Romawi dan Persia yang sudah diambang senja dengan segala penyakitnya; kediktatoran, pengisapan yang kuat atas yang lemah, serta intrik dan perebutan kekuasaan di dalam negara. Pantas Umar bisa dengan nyenyak tidur siang di bawah pohon. Padahal ialah pemimpin terbesar di dunia saat itu.

Allahummashalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin

10 November 2012,Sambil memperingati Hari Pahlawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 9, 2012 by in Uncategorized and tagged , , , , .
%d bloggers like this: