Angin

To run where the brave dare not to go

Surat Terbuka untuk Jomblo-Jombo Ideologis

Khususnya kepada Ikhwan-ikhwan yang belum berani menikah atau yang prosesnya masih kandas selalu, tulisan Ust. Salim A. Fillah ini super sekali..

https://www.facebook.com/notes/rihan-handaulah/mencintai-sejantan-ali-salim-a-fillah/10151287827638839

Oke jadi begini ibroh-nya, bahkan manusia agung seperti Abu Bakar as shidiq dan Umar bin Khattab radiyallahu anhum pun pernah ditolak lamarannya. Nah kalau begitu kita ini siapa dibandingkan mereka?

Hubungan antara cinta dan keimanan memang sederhana dan gamblang. Sesederhana dan bahwa tiada yang lebih dicintai dari ALlah dan Rasul-Nya. Segamblang bahwa motivasi mencintai harus karena Allah dan Rasul-Nya. Sejelas pentunjuk; nikahilah wanita karena agamanya, maka kamu akan beruntung.

Tapi antara cinta dan keimanan juga kadang rumit, tak mesti urusan cinta (dalam timbangan perasaan manusia) selalu berbanding lurus dengan kualitas iman seseorang. Siapakah Abu Bakar dan Umar yang ditolak oleh Fatimah? Apa pula Fatimah mesti diragukan kualitas keimanannya karena menolak pinangan manusia pilihan? Siapa juga yang tak kenal ulama pembaharu termahsyur Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan siapa yang lebih jantan dari Sayid Quthb, keduanya membujang hingga wafat (syahid) nya. Ini peliknya cinta.

Proses nikah sahabat-sahabat saya yang sudah lalu memang warna-warni. Ada ikhwan yang jodohnya itu datang dari langit, out of the blue, semacam tetes air hujan yang tiba-tiba ngeclak tepat di kepala. Ada juga yang proses nikahnya berdarah-darah terlebih dahulu, kandas berkali-kali, sampai harapannya hancur bubuk sebubuk-bubuknya. Jangan takut dan khawatir. Allah swt paling tahu mana yang terbaik untuk antum. Mana proses pembelajaran yang tepat untuk menyiapkan antum sebagai kepala keluarga ahli surga.

Sebagaimana menghadapi segmen kehidupan yang manapun, kuncinya cuma dua: sabar dan syukur. Ada nabi yang diuji dengan kesyukuran seperti Nabi Sulaiman, ada Nabi yang diuji dengan kesabaran tanpa batas seperti Nabi Ayub ‘alaihi salam. Yakinlah selama orientasi nikahnya sudah tepat, niatnya jernih, menjadikan petunjuk Allah swt sebagai nilai dan prinsip, bermusyawarah dengan sebaik-baiknya, dan mengedepankan istikharah dan doa maka apapun proses yang terbaik maka itu adalah yang terbaik.

Kalau begitu begini saja, jika ada “Fatimah” di hatimu, kamu lamar saja dengan modal iman dan ketaqwaan. Tak usah hirau dengan ukuran  kesiapan-kesiapan duniawi. Mana tahu kamu adalah Ali. Jangan takut jika ditolak, gak berkurang kekerenan Abu Bakar dan Umar ra karena ditolak. Atau jika masih mentok juga, yang penting amal soleh aja dulu. Mungkin masih ada yang ingat kisah ini?

Suatu hari seorang pemuda memakan buah yang hanyut di sungai. Beliau lupa belum meminta izin ke yang punya hingga dimudiki lah sungai itu sampai bertemu sebuah kebun asal buah itu. Pemiliknya lalu mau memaafkan pemuda itu dengan syarat dia mau menikahi putrinya. Tapi terkejut si jejaka penuh persoalan di hatinya. Karena dikatakan bahwa putri bapak itu tidak sempurna rupa; lumpuh, buta, bisu, dan tuli. Karena keimanan dan tanggung jawab terhadap kesalahan maka pemuda itu menerima syarat si bapak. Terkejut si jejaka itu menemukan ternyata istrinya sungguh sempurna rupa. Rupanya bisu di sini ialah tak pernah berkata buruk dan bohong. Tuli di sini tak pernah mendengarkan perkataan yang sia-sia. Lumpuh ialah tak pernah melangkahkan kaki kepada kemaksiatan. Dan buta ialah menjaga pandangannya dari hal-hal yang diharamkan ALlah. Lalu siapakah anak yang lahir dari ayah dan ibu yang soleh tersebut: Imam Syafii rahimahullah.

Atau jika masih kurang, ingat juga kisah nabi Musa as, bertemu jodohnya saat membantu mengambilkan air bagi dua anaknya Nabi Syuaib. Mungkin jodohmu datang dengan cara demikian. Yang penting adalah niat dan azzam untuk menikah, yang ini modalnya ilmu bukan harta. Sisanya amal saleh, amal saleh, dan amal saleh!

Masih belum ditakdirkan juga? Masih ada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Sayid Quthb untuk standar yang itu.

Kepada sahabat-sahabatku jomblo-jomblo ideologis nan saleh dan rupawan, move on mblo! You’ll never walk alone..

Salam dari Belanda,

malam awal Desember dengan salju tipis yang malu-malu memutihkan bumi

4 comments on “Surat Terbuka untuk Jomblo-Jombo Ideologis

  1. fae
    December 7, 2012

    wow, mengena banget mas…
    salam juga dari bumi sriwijaya…
    salam kenal🙂

  2. teguhn
    July 18, 2013

    Reblogged this on Dokumentasi @teguhn and commented:
    Jangan takut dan khawatir. Allah swt paling tahu mana yang terbaik untuk antum. Mana proses pembelajaran yang tepat untuk menyiapkan antum sebagai kepala keluarga ahli surga.

  3. Sayid Quthub dan Ibnu Taimiyah emangnya kenapa bang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 7, 2012 by in Self and Org. Development and tagged , , , .
%d bloggers like this: