Angin

To run where the brave dare not to go

Taaruf dan Monopoli dari Kacamata Nobelis Ekonomi

NOBEL-ECONOMICS/ 2012 Economics Nobel Prize winners Lloyd Shapley (L) of UCLA and Alvin Roth of Stanford University

Hadiah nobel ekonomi tahun ini jatuh kepada David Gale dan Lloyd Shapeley, masing2 dari Brown University dan RAND corporation. Mereka mengeluarkan teori tentang Resources Allocation. Lengkapnya silakan diunduh link saya ini. Sama seperti yang dialami nobelis ekonomi lain John ‘Beautiful Mind’ Nash, menarik bahwa hadiah ini juga diberikan untuk teori yang ditulis setengah abad yang lalu. Dan domain mereka juga sama-sama di Game Theory. Nampaknya baru kali ini teori mereka menemukan signifikansinya dalam ekonomi, teori tersebut diharapkan bisa membantu memperbaiki kinerja pasar.

Nah saya yang kebetulan semester ini lagi ambil mata kuliah Game Theory sekaligus mikroekonomi, ingin sekali berbagi dengan teman-teman tentang topik ini. Tentu saja bukan penjelasan yang jelimet dan teknis, melainkan sesuatu yang aktual dan dekat dengan keseharian kita. Apalagi yang lebih segar dan hangat selain dari tema nikah dan taaruf😉

Jadi Gale dan Shapeley pada tahun 1962 mengeluarkan paper berjudul “College Admission and Stability Marriage”. Pemikiran yang sekarang diganjar hadiah nobel ini ternyata berawal dari pengamatan sederhana dari kehidupan sehari-hari yaitu dua kasus: pendaftaran sekolah dan pemilihan pasangan hidup. Langsung saja ya saya kasih contoh yang kedua karena pasti udah pada penasaran. Hehe.

Nah, Gale and Shapeley mengeluarkan teorema, jika ada sebuah himpunan berisi n pria dan n wanita, maka “there always exists stable set of n marriage”. Stable set of mariage maksudnya semua orang mendapatkan pasangan yang optimal. Optimal di sini belum tentu pilihan pertama atau pria/wanita kecengannya, melainkan pilihan di mana cintanya tidak bertepuk sebelah tangan alias keduanya bisa menerima dan puas dengan pasangannya masing2. Tentu saja bersyukur dengan pasangan yang ada dan cinta yang berbalas jauh-jauh lebih baik daripada cinta setengah mati dan bisa gila yang menepuk hampa dengan sebelah telapak tangan,hehe. Ini definisi stable set of mariage di sini.

Nah bagaimana cara mencapai kondisi stable set of mariage tersebut. Caranya ialah dengan iterasi game sebanyak maksimal (n^2-2n+2) kali. Jadi caranya, di putaran pertama sang pria bebas melamar wanita yang ia sukai dan para wanita bebas menolak atau “menahan” proposal sang pria. Menahan di sini maksudnya belum tentu menerima tapi menjaga peluang, jika di putaran berikutnya ada proposal yang lebih dia suka maka proposal yang pertama ia lepas dan ia pilih proposal yang kedua. Tetapi tidak boleh “menahan” lebih dari satu proposal jika pria yang melamarnya lebih dari satu. Begitu pun jika pria ditolak proposalnya maka ia bebas melamar lagi wanita yang ia suka di putaran kedua. Begitu seterusnya sampai maksimal dilakukan sebanyak (n^2-2n+2) kali putaran maka semuanya akan mendapat pasangan yang optimal. Mekanisme ini disebut “deffered-acceptance mechanism”. Jadi jika ini terjadi maka tidak akan ada lagi jomblo-jomblo di muka bumi, aihh..

Saat semua orang puas dengan pasangannya,maka selingkuh tidak akan terjadi. Menurut teori ini selingkuh terjadi akibat ada proses “resource allocation” yang tidak berjalan dengan baik. Misal begini Rhoma nikah sama Sinta, padahal Rhoma cintanya sama Ani. Begitupun Ani ternyata nikahnya sama Barry Prima, padahal Ani pun sukanya sama Rhoma. Rhoma dan Ani gagal menikah di awal karena adanya mekanisme “resources allocation” yang jelek. Salah satunya disebabkan oleh asimetri informasi. Misal Rhoma menyangka Ani ga suka sama dirinya, dan Ani menyangka Rhoma pacaran dengan Sinta.

Apa yang terjadi jika suatu hari setelah menikah Rhoma dan Ani bertemu, tentu kalau bukan karena iman mereka akan selingkuh atau menceraikan pasangan masing-masing. Beda ceritanya kalau di awal seandainya Rhoma suka sama Ani, tapi Ani blak-blakan berkata “saya tidak sudi menikah dengan laki-laki seperti kamuh” tentu Rhoma pun beres urusannya. Untuk menghindari terjadinya hal ini maka Gale dan Shapeley memperkenalkan mekanisme yang disebut “deffered-acceptance” tadi. Begitu kira-kira intinya teori yang memenangkan hadiah Nobel tahun ini menarik bukan?😉

Nah, teori dari Nobelis tahun ini mengingatkan saya terhadap proses taaruf yang populer di kalangan aktivis masjid. Singkatnya taaruf itu dimulai dari pria yang menyampaikan proposal via guru ngajinya. Proposal itu bisa menyebutkan secara spesifik nama wanita yang dikehendakinya ataupun sekedar menyebutkan kriteria-kriteria calon pendampingnya. Di sisi lain di kalangan aktivis-aktivis wanita pun, sudah ada semacam “pool” juga bagi mereka yang yang sudah siap untuk menikah yang difasilitasi juga oleh guru-guru ngaji wanita. Lalu proposal si pria ini masuk ke wanita yang dituju atau jika menyebut karakter, proposalnya akan diarahkan ke wanita yang mirip dengan karakter tersebut. Lalu bagaimana dengan wanita, tentu adil dong, jika pria-pria ini bebas melamar siapa yang ia mau maka wanita juga bebas menolak siapa yang ia tidak suka, hehe. Per! (baca: fair). Nah, iterasi ini berlanjut hingga terjadi “resources allocation” yang optimal seperti yang saya jelaskan di atas.

Maka kini saya lebih ngerti, kenapa rata-rata (yang saya ketahui) suami-istri yang lahir dari proses taaruf semacam ini yang notabene super cepat, hitungan satu dua bulan jadi, bisa membangun keluarga dengan sangat harmonis. Padahal sebelumnya mereka sama sekali tidak kenal. Jika dibandingkan dengan kawan-kawan yang melalui proses transaksi monopoli atau oligopoli (baca: pacaran) selama bertahun-tahun.

Selain itu juga efektifitas bursa jodoh ala taaruf ini merupakan gambaran dari “perfect market” di mana tidak terjadi distorsi (dominasi pemain pasar) juga asimetri informasi. Ditandakan dengan no entry barrier, siapapun yang siap nikah bisa masuk bursa. Minimalnya informasi yang keliru, peran guru ngaji yang jadi regulator memastikan informasi yang tersedia benar dan objektif sehingga terhindar dari “fraud” atau “moral hazard” yang lazim terjadi di pasar bebas, serta resources-resources yang tersedia sudah memiliki standar tertentu. Mengingat semuanya adalah produk dari aktivitas pengajian. Bahkan “transaction cost” pun nyaris tidak ada mengingat tidak perlu si pria ini mengeluarkan uang untuk traktir nonton di blitzmegaplex atau karoke di NAV dan makan di PVJ hanya untuk sekedar cari tahu kalo si wanitanya masih single atau belum. Transaksi pun berlajan dalan waktu yang relatif singkat. Inilah gambaran pasar idaman para ekonom neoklasik.

Sebaliknya di pasar oligopoli atau monopoli. Suplier dikuasai oleh satu pihak. Akibatnya harga pun jadi mahal sekali. Isi tabungan terkuras untuk beliin ini itu. Belum lagi intangible cost yang makan hati sekali, dagdigdug apa betul nanti jadi nikah atau tidak, putus apa engga, kapan mau dilamar, dan macam-macam ketidakpastian lainnya. Selain itu karena suplier cuma satu akibatnya tidak ada pembanding terhadap kualitas dan harga. Disangkanya itu udah yang paling bagus, tentu saja karena tidak ada pembanding. Dan biasanya kalau kita beli sesuatu yang belum jelas informasinya, penyesalan itu setelah dibeli ketahuan deh kalau mutunya tidak sesuai yang diharapkan.

Nah, demikian kuliah mikroekonomi ngawur kali ini

Tak bermaksud menggurui dan menggeneralisasi, hanya berbagi pengalaman saja.

Salam super

Delft, 11 Des 2012

One comment on “Taaruf dan Monopoli dari Kacamata Nobelis Ekonomi

  1. fae
    June 11, 2013

    kang, itu penjelasan iterasi gamenya gimana?
    agak bingung juga mengaitkan dg stable of marriage…
    LOL🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 11, 2012 by in Politik dan Ekonomi.
%d bloggers like this: