Angin

To run where the brave dare not to go

Sepakbola, Ekonomi dan Budaya: belajar dari Jerman, Belanda, dan PSSI

Pertanyaan:

Apa liga sepakbola terhebat di jagat? EPL? Nope, mereka cuma pengiklan-pengiklan terhebat saja. Lega Calcio? Well, mereka juga baru bangkit dari calciopoli. La Liga? Dude please, mereka cuma Barca, El Real dan Messi aja kok..

yes, this is the best league on the planet

Sebagai mahasiswa tentu belanja hemat adalah pilihan tepat. Untungnya di Eropa ini ada dua supermarket yang harga-harganya sampai setengahnya harga pasaran dengan kualitas barang yang hanya sedikit lebih rendah. Namanya adalah supermarket Aldi dan Lidl. Awalnya saya kagum dan heran bagaimana mereka bisa melakukan hal itu. Begitu tahu kalau ternyata dua supermarket itu berasal dari Jerman saya pun mendapatkan penjelasan yang sudah cukup memuaskan.

Salut dengan Jerman, bangsa yang porak poranda di perang dunia kedua dengan kekalahan yang menyakitkan secara ekonomi, politik, militer, juga mental. Bangsa yang terpaksa menggadaikan kedaulatan politiknya demi penghapusan utang akibat perang. Lalu persetan dengan semua kekalahan dan gengsi itu, mereka bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh. Ekonomi jadi tulang punggung, industrialisasi sebagai ujung tombak, dan inovasi adalah kunci. Beberapa dekade kemudian Jerman menjadi motor Eropa dan kini kepada Jerman lah bangsa Eropa menggantungkan nasibnya agar tidak sama-sama tenggelam dalam krisis berkepanjangan.

Di Jerman pajak lebih rendah dan harga lebih murah dibandingkan negara Eropa lainnya. Tentu saja dengan standar penghasilan dan jaminan sosial yang sama, hanya beda tipis dengan negara skandinavia yang terkenal sebagai welfare state terbaik tapi juga dengan pajak yang gila-gilaan. Artinya daya beli masyarakat di sana tinggi. Harga apartemen di Berlin setengahnya dari Amsterdam. Mobil-mobil mewah macam BMW, Mercedez dan VW adalah mobil rakyat (VolksWagen secara harfiah berarti mobil rakyat). Untuk tetap memacu industri otomotifnya dalam berinovasi, di Jerman tidak dikenal speed limit. Anda boleh melaju dengan kecematan 300 km/jam jika sanggup.

Dan kini, industri sepakbolanya menjadi liga terbaik di dunia dari ukuran kinerja keuangan terbaik, rata-rata jumlah penonton paling banyak, alokasi dana untuk pembinaan pemain muda yang terbesar, dan rasio gaji pemain terhadap total pengeluaran. Sorry ya, bundes liga, bukan EPL. Dan tentu saja ini kelihatan dari prestasi timnasnya. Karena bundesliga didominasi oleh pemain-pemain binaan asli Jerman. Dan penonton yang banyak salah satunya karena kepemilikan klub-klub Jerman itu mirip koperasi yang dimiliki dan dikelola oleh suporternya, instead of kapitalisasi ala EPL. Akibatnya kualitas pertandingan yang baik dan kompetisi yang dinamis di mana kekuatan relatif merata dibanding La Liga yang cuma dua itu aja.

Sepakbola Jerman adalah cermin keuatan ekonomi dan bagaimana industrialisasi dijalankan. Ada demokrasi ekonomi di sana, dengan sistem ala koperasinya. Sebagaimana tipikal perusahaan-perusahaan Jerman di mana buruh punya hak suara dan perwakilan di dewan perusahaan tertinggi. Lalu ada ketekunan dalam berproses di sana, Jerman terkenal dengan visi jangka panjang dan continuous improvement-nya, tidak mau asal jalan pintas. Tercermin dari kaderisasi pemain muda dan alokasi yang besar untuk akademi-akademi sepakbolanya. Ada kemampuan dan keberanian untuk berinovasi. Bisa dilihat dari revolusi timnas yang dimulai oleh Jurgen Klinsmann dan dilanjutkan oleh Joachim Loew yang melatih tim sepakbola dengan cara yang bukan business as usual. Serta yang terakhir ialah kebanggaan pasar untuk menggunakan produk dalam negerinya. Tercermin dari fanatisme fans-fans bundesliga. Coba perhatikan pertandingan UCL antara Dortmud melawan Madrid dan City di Signal Iduna Park stadium kemarin. Saya kira mereka lah best supporter ini Europe.

Keangkeran Signal Iduna Park kandang Dortmund

dan ini gambar-gambarnya yang lain:

https://www.google.nl/search?q=dortmund+supporters&hl=en&tbo=u&tbm=isch&source=univ&sa=X&ei=atsDUfT7IMqd0AXvzICoBw&ved=0CCwQsAQ&biw=1517&bih=752

Bagaimana dengan Belanda negeri tempat saya tinggal? Kata dosen saya Belanda ini “free rider” (baca: penumpang gelap) nya ekonomi Jerman. Artinya memanfaatkan kemajuan ekonomi Jerman. Walau orang Belanda benci banget ke Jerman karena permusuhan PDII, tapi Belanda ini orangnya pragmatis, permusuhan dan keberncian terhadap Jerman cuma disisakan di lapangan hijau saja. Secara ekonomi mereka ini sohib berat. Karena proximity (kedekatan) secara geografis juga diikuti dengan kedekatan ekonomi.

Belanda yang sangat kecil secara wilayah (seluas Jawa Tengah) dengan alam yang rentan dan penduduk yang sedikit (setengahnya penduduk jabar) tapi bisa memajukan ekonominya dengan baik. Belanda ini terkenal bangsa yang pandai berdagang, cermat, dan perhitungan (baca: pelit) makanya ada istilah “go dutch” atau bayar masing-masing kalau mau jalan bareng. Bahkan katanya kalau pacaran pun kadang orang sini go dutch pula. Juga mengapa budaya bersepeda berkembang sekali di sini? Salah satunya adalah cerminan budaya orang Belanda yang mandiri, cermat, dan pragmatis. Kalau bisa pakai sepeda yang lebih murah dan mudah mengapa harus pakai mobil yang ribet dan mahal. Di sini juga ada syndrome “six is enough” atau asal lulus kuliah (baca: kompeten). Tak peduli dengan nilai atau IP (alangkah bahagianya – red). Makanya pertanyaan orang tua di sini ke anaknya yang pulang sekolah bukan “berapa nilai kamu?” tapi “are you happy in the school?”.

Back to topic, contohnya bagaimana Belanda dengan cerdas memanfaatkan kota Rotterdam yang merupakan muara sungai Rhein yang mengalir ke Ruhr area (sentra ekonomi dan industri Jerman) dan menjadikan Rotterdam sebagai pelabuhan terbesar di Eropa sebagai hub kapal-kapal yang masuk ke Jerman. Dan kini Belanda punya rencana menjadikan Rotterdam sebagai hub (terminal ekspor impor) gas terbesar di Eropa (dengan Jerman tentu saja sebagai konsumen terbesarnya).

Belanda memang sulit untuk menjadi kekuatan ekonomi yang besar, mengingat kelemahan komparatif-nya (penduduk yang sedikit dan sumber daya alam terbatas). Tapi Belanda yang pragmatis dan cerdik cukup puas untuk sekedar menjadi runner-up atau sekedar above mediocre. Perhatikan tiga besar industri mereka. Shell? It’s a big oil company but still, not bigger than Exxon and BP. Philips? Siapa yang gak kenal, tapi apalah dibanding Samsung. Unilever? Besar sih, tapi cuma nomer satu di Indonesia saja, di negara-negara lain masih kalah sama P&G atau Johnson&Johnson. Belanda memang “tahu diri”.

Lagi, sepakbola adalah cerminan Ekonomi dan budaya bangsanya. Siapa yang tak kenal Cruyf, van Basten, Gullit, Bergkamp, Nistelrooy, hingga kini yang paling jos bandros: RvP alias Robin van Perfect! Siapa yang gak kenal de oranje KNVB sebgai salah satu tim yang paling sering tembus hingga semi final. Tapi semi final aja loh ya, paling banter sampe final. Sorry sorry aja ga pernah jadi juara dunia. Ya Belanda memang pragmatis, liga Eradivisie-nya ya cuma rame di TV Belanda aja. Walau liga amatir Belanda adalah yang terbaik (dengan rasio jumlah pertandingan liga amatir terhadap penduduk, bahkan saya pun bisa bergabung di liga amatir ini cukup dengan mengisi formulir dan datang ke lapangan). Serta akademi-akademi sepak bola yang telah melahirkan pemain-pemain hebat di atas, tapi Liga nya tak pernah berkembang. Sekali ada pemain bagus ya langsung dilepas ke pasaran. Belanda memang tahu diri (baca: pragmatis). Good not but great, impressive but not excellent, if becoming runner up is enough to attract impression, why must be a winner? :p

Bagaimana dengan PSSI? Tak lebih juga cerminan kondisi ekonomi dan budaya bangsa kita.

Rihan Handaulah

Bobotoh, penyuka ilmu ekonomi, dan pemain liga amatir divisi VI KNVB (liga Belanda)

Link: http://goal.blogs.nytimes.com/2013/01/25/bundesliga-best-run-league-in-the-world/?smid=tw-nytimesgoal&seid=auto

5 comments on “Sepakbola, Ekonomi dan Budaya: belajar dari Jerman, Belanda, dan PSSI

  1. yoanramadhan
    March 31, 2013

    hhaha iya mang, la liga cuma barca sama madrid..atletico tapinya..

  2. Maximillian
    May 25, 2013

    Well written Bro🙂

  3. sewa mobil jakarta
    February 12, 2014

    Semoga PSSI dapat belajar dari sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 26, 2013 by in Politik dan Ekonomi.
%d bloggers like this: