Angin

To run where the brave dare not to go

Anak Seribu Pulau

Image

Ada yang masih ingat serial Anak Seribu Pulau? Dokumenter yang apik dari Garin Nugroho yang diputar tiap Ahad pagi di RCTI pada medio 90-an. Menampilkan kehidupan keseharian anak-anak Indonesia. Mulai dari anak-anak di kaki Gunung Leuser di Aceh sampai di Taman Nasional Wasur di Papua. Saat menonton acara ini saya selalu membayangkan berada bersama mereka; menangkap ikan sampai berburu kangguru.

Sebagai anak kecil yang lahir dan besar di tanah pasundan serta paling jauh menginjakan kaki di ibu kota, tayangan ini sungguh membuka mata. Bahwa ada sahabat-sahabat saya di penjuru nusantara yang berlogat bahasa yang berbeda, berwarna kulit serta rambut berbeda, berkebiasaan hidup berbeda, namun mengalami keriangan masa permainan yang sama dengan caranya masing-masing. Saya sungguh ingin bermain bersama mereka.

Saya tak begitu suka belajar wawasan nusantara dan bhineka tunggal ika dari pelajaran PPKn di sekolah. Wawasan akan keberagaman bangsa disempitkan dalam sila ke-3 di buku saku P4 serta hapalan RPUL untuk persiapan cerdas cermat. Jika pun ada gambaran mengenai keberagaman bangsa kita, maka tak lebih dari sekedar poster dinding rumah-rumah adat atau pakaian daerah yang dipakai saat kartinian.

Berbicara kebhinekaan berarti berbicara tentang dua hal; manusia dengan segala watak dan nilainya, serta ruang dengan segala dimensi fisik maupun biologis yang disandangnya. Selain itu ada dimensi ketiga yang menyatukan keduanya, yaitu waktu. Waktu sebagai suatu entitas yang “hidup”, yang mengantarkan interaksi antar manusia dan antara manusia dengan ruang dalam rangkaian dinamika sejarah. Rangkaian hubungan sebab akibat dan hubungan timbal balik itu yang membentuk realitas hari ini.

Alhamdulillah di akhir masa kuliah saya menekuni hobi pecinta alam bahkan bergabung ke salah satu organisasi pecinta alam tertua di Indonesia, walau belum sempat beraktivitas di sana secara fokus. Benar kata Gie,

“kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami, kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya bisa mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Terlebih setelah lulus kuliah, tugas pekerjaan mengantarkan saya untuk menginjakan kaki ke hampir semua pulau besar di Indonesia. Dan kini berada jauh dari tanah air serta melancong ke beberapa tempat di dunia makin mengantarkan saya pada sebuah insight tentang kebhinekaan dan persatuan Indonesia, walau terkadang dua kata itu tak lebih dari slogan dan komoditas retoris belaka. Saya makin yakin bahwa bersatunya 238 juta manusia dari 1.340 suku bangsa yang berbicara 748 bahasa, memeluk 6 agama (resmi),mendiami 17.480 pulau yang terbentang sejauh Madrid hingga Moscow, serta terbagi dalam tiga zona waktu, adalah sebuah keajaiban.

Apalagi jika kita mengingat rangkaian peristiwa sejak republik ini berdiri. Kita masih bersatu mesti sama-sama memegang bara api, kita masih lebih memilih untuk bersama-sama mengunyah garam dan menelan pahit. Ada tiga tikungan tajam yang telah kita lalui; tubulensi revolusi kemerdekaan, ’66, dan ’98. Turbulensi yang betul-betul menyampaikan anak bangsa pada titik nadir prasangka dan ketakpercayaan bukan hanya pada sosok dan nama, tapi juga pada institusi dan lembaga. Nyatanya kita masih bertahan hingga hari ini.

Di tengah kekecewaan yang masih tersisa dari janji kemerdekaan, janji orde baru, serta janji reformasi yang telah banyak memakan tumbal namun tak berujung pemenuhan. Keberadaan kita sebagai sebuah bangsa yang masih utuh harus tetap disyukuri. Mungkin orang mengatakan saya naif, tapi saya memang lebih suka melihat sesuatu dari kacamata positifnya, semoga saya tak lantas abai terhadap masalah-masalah yang dibawanya. Saya melihat semua cobaan dan turbulensi yang dialami bangsa kita dari kaca mata Nietszche

“What doesn’t kill you, makes you stronger”.

Atau seperti kata Pemimbin Besar Revolusi Indonesia, Bung Karno:

“Kemarin aku baca Ramayana, saudara-saudara, Ramayana!
Di dalam Kitab Ramayana itu ada disebut satu negeri
Namanya negeri Utara Kuru, yaitu artinya “LORNYA” negara Kuru
Kuru yaitu Kurawa.

Utara Kuru
Disebutken di dalam Kitab Ramayana itu, bahwa di Negeri Utara Kuru itu
Nggak ada panas yang terlalu, nggak ada dingin yang terlalu
Nggak ada manis yang terlalu, nggak ada pahit yang terlalu.
Segalanya itu tenang. . . Ora ono panas, ora ono adem.
Tidak ada gelap, tidak ada terang yang cemerlang, Kadyo siniram
Banyu ayu sewindu lawase.

Di dalam Kitab Ramayana itu sudah dikatakan…
Negeri yang begini tidak bisa menjadi negeri yang besar
Sebab tidak ada . . . o o o . . . up and down! up and down!
Perjuangan tidak ada!
Semuanya adem tentrem . . seneng, seneng pun tidak terlalu seneng,
Sudah . . . . tenang . . . . tenang Utara Kuru.
Apakah engkau ingin disebut bangsa yang demikian saudara-saudara?!
Tidak !!

Kita tidak ingin menjadi satu bangsa yang seperti
Tiap hari digembleng oleh keadaan
Di gembleng, hampir hancur lebur – Bangkit kembali!
Di gembleng, hampir hancur lebur – Bangkit kembali!
Di gembleng, hampir hancur lebur – Bangkit kembali!
Di gembleng, hampir hancur lebur – Bangkit kembali!”

Delft, medio Mei 2013

3 comments on “Anak Seribu Pulau

  1. Maximillian
    May 25, 2013

    ” Seseorang hanya bisa mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. ”

    Sejak awal “kita” memang sudah beda, sejak dilahirkan. Jika perut lapar, manusia yang rasional akan meradang, mulai delusional, dan akan menabrak batas semua aturan positif serta (mungkin) moral, karena kedua hal yang terakhir dibangun dalam persepsi, sedangkan urusan perut adalah soal metabolisme, rasionalitas kognitif butuh batas minimal kalori.

    Kita yang saya maksud adalah satuan negara beda bangsa, bernama NKRI, yang kalau peta kulturalnya kita cari pembanding, akan bertemu dengan Uni Eropa. Eropa butuh 1000 tahun untuk saling perang, saling tindas, mencoba berdamai, lalu bertransaksi, dan hidup bersama dalam perbedaan. Pendewasaan kolektif jelas jauh lebih butuh tenaga dan waktu, karena di situ manusia yang berbeda berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Ya semoga kita tidak sampai 1000 tahun saja sih, belum juga 70 tahun berdiri, sebaiknya tak membandingkan dengan negara serikat, persemakmuran, atau uni antar negara, yang mereka memang sudah belajar lebih dulu untuk hidup bersama, mutualis.

    Mencoba untuk ambil bagian menjadi rahmat bagi semesta alam ternyata tak mudah, manusia itu suka membuat kategori ya ? Dan lalu membangun drama konflik – damai antar kategori, damned Homo sapiens we are. Narasi saga peradaban manusia mungkin masih akan diberi kesempatan untuk eksis di Bumi, karena kita masih berusaha untuk belajar hidup bersama, karena ketika manusia sudah bisa berdamai dan tenang- tenang saja, Allah mungkin akan menggantinya dengan spesies baru, atau peradaban baru, dan drama baru akan dimulai di Bumi, dari awal.

    Selera humor Allah itu memang aneh ya, ikuti saja lah apa mauNya🙂

  2. Annisa Aulia
    March 13, 2015

    Asslamu’alaikum ijin share foto nya bg?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 13, 2013 by in Pergerakan dan Peradaban and tagged , , .
%d bloggers like this: