Angin

To run where the brave dare not to go

Media, Distorsi, dan Masyarakat

Image

Apakah bias media adalah sebuah bias juga?

Seberapa nyata kah pengaruh media dalam membentuk persepsi publik? Jawaban kualitatif untuk pertanyaan ini bisa sangat luas. Tapi di sini saya ingin menjawabnya dengan sebuah data dari penelitian yang dilakukan oleh Robert Greenwald terhadap konsumen media di AS pada tahun 2002-2003. Pada dokumentasinya yang berjudul Outfoxed, ia menunjukan bahwa 67 persen pemirsa FoxNews percaya bahwa Sadam Hussein memiliki hubungan dengan Osama bin Laden. Bandingkan dengan presentase yang hanya sebesar 16% dari pendengar radio PBS dan NPR yang mempercayai hal yang sama.

Barangkali hal seperti inilah yang dimaksud oleh Noam Chomsky sebagai manufactured consent (persetujuan yang diproduksi) dalam bukunya Manufacturing Consent: The political economy of the mass-media (1988). Chomsky berargumen mengenai segelintir elit yang berkuasa dalam membentuk opini publik menurut kepentingannya melalui kendali atas media massa.

Bagi yang malas membaca bukunya Chomsky bisa menonton film-nya Robert de Niro, Wag the Dog (1997). Film ini berkisah tentang seorang presiden AS yang sedang menghadapi masa kampanye untuk pemilihan periode berikutnya, namun ia tersandung dalam sebuah skandal. Guna mengamankan posisinya dan mengalihkan perhatian publik, maka ia pun menciptakan “perang-perangan” di sebuah negara Balkan dengan bantuan industri media yang dikuasainya. Alhasil, isu skandal pun tertutupi dengan “perang-perangan” ini dan sang presiden melaju mulus dalam kampanyenya. Rasanya kita kok familiar ya dengan modus semacam ini.

Bagaimana detil ceritanya silakan ditonton sendiri dan saya hanya ingin bercerita tentang judul filmnya saja. Wag the dog sendiri ialah semacam antithesis dari ungkapan “The dog wag the tail” atau anjing yang mengibaskan ekornya sebagai isyarat atas keadaan dirinya. Seperti dalam sebuah masyarakat, segala isyarat yang muncul dalam bentuk media, rumor, gosip atau apapun itu sejatinya ialah refleksi dari keadaan masyarakat itu. Namun dalam kondisi “wag the dog” justru kibasan ekor lah yang menentukan kondisi si anjing. Seperti dalam sebuah masyarakat di mana justru berita, rumor dan gosip lah yang malah menentukan kondisi masyarakat tersebut dan bukan sebaliknya.

Apa yang “memaksa” terjadinya bias media?

Kata salah seorang senior saya di kampus, untuk memahami dinamika masyarakat maka kita tak boleh luput dari memperhatikan aliran modal yang ada. Begitu pun media yang makin ke sini makin berkembang menjadi  firma atau badan hukum usaha. Di tengah segala keteguhan dalam misi menjalankan idealisme jurnalistiknya, media tetaplah entitas usaha yang menghitung untung rugi dan dapur yang harus tetap ‘ngebul’. Sehingga logika orang dagang tak bisa dilepaskan dari industri media.

Dan apa yang menjadi pemasukan utama dari sebuah media? Apalagi kalau bukan iklan serta investor. Bagi pengiklan, maka hitungannya adalah pangsa pasar media atau rating. Untuk investor motifnya bermacam-macam. Ada yang motifnya keuntungan finansial langsung, keuntungan finansial tidak langsung, maupun motif-motif non ekonomi.  Seperti yang dikatakan oleh F. D. Roosevelt “I’ve always been persuaded that our newspaper cannot be edited in the interest of the general public from the counting room”.

Sehingga untuk bisa bertahan, maka ketiga aspek ini menjadi tidak bisa dilepaskan:

Pertama, nilai berita. Misal berita orang yang selama ini dikenal baik dan jujur lalu tertangkap sedang mencuri memiliki nilai berita yang jauh lebih besar daripada berita tentang maling kambuhan yang keluar masuk penjara. Karena itu porsi pemberitaan keduanya pun akan berbeda, walaupun katakanlah maling kambuhan ini mencuri kerbau dan orang yang pertama hanya mencuri sandal. Mungkin orang yang pertama tadi masuk headline 40 hari 40 malam sedangkan maling kerbau tadi beritanya cukup nyelip di kolom ibu kota. Jurnalis NBC yang terkenal, Tom Brokaw pernah menyampaikan satu kalimat satire tentang pekerjaannya “It’s all storytelling, you know. That’s what journalism is all about”.

Kedua, sensasionalitas. Dalam industri media ada ungkapan “if it bleeds, it leads”. Makin heboh, kontroversial dan jauh dari biasa-biasa saja, maka suatu berita akan menarik makin banyak pembaca. Makin banyak pembaca, makin banyak dan mahal iklan yang bisa dijual. Sehingga jurnalis seringkali harus menghadapi dilema antara kejadian sebenarnya dengan kehebohan guna menaikan rating. Pemenang Pulitzer Award, Ellen Goodman, menyampaikan pengalamannya “in journalism, there has always been a tension between getting it first and getting it right”.

Ketiga, relevansi. Tidak semua kejadian penting juga relevan untuk diberitakan. Misal kejadian pesawat jatuh, satu terjadi di Afrika dan satu lagi di Gunung Salak, tentu keduanya akan mendapat pemberitaan yang berbeda. Seperti koran Pikiran Rakyat Jawa Barat di hari Senin atau setiap Persib selesai bertanding yang sudah bisa ditebak apa headline-nya. Semata-mata bukan karena nilai beritanya, tetapi relevansi dengan pasar.

Selain relevansi dengan pasar juga relevansi dengan kepentingan media atau pemilik media tersebut. Seperti sebuah media yang secara khusus melakukan liputan pada pemiliknya yang mencalonkan diri menjadi presiden. Atau media lain yang minim sekali meliput suatu kasus di mana pemegang saham media tersebut terlibat di sana.

Nah dari sini kita mungkin punya suatu pandangan yang agak miring terhadap peran jurnalis? Hati-hati jangan gegabah mengambil kesimpulan. Karena jurnalis bagaimana pun memiliki peran vital dalam masyarakat. Seperti kata pemimpin Filipina, Corry Aquino “freedom of expression –in particular, freedom of the press- guarantees popular participation in the decision and actions of government, and popular participation is the essence of democracy.” Sebuah masyarakat tanpa jurnalis ibarat tubuh yang mati sistem syarafnya, tidak ada informasi yang mengalir.

One comment on “Media, Distorsi, dan Masyarakat

  1. Maximillian
    June 4, 2013

    Menarik, jadi saya coba tarik lagi ke fungsi asal sebuah aksi, atau fenomena, begitu saja ya ? Karena kalau ditariknya ke logika epistemologi tanpa basis pengetahuan evolusi perilaku ( behavioral evolution) manusia ( Homo sapiens), maka diskusi atau debatnya akan cuma berbasis teori- teori yang entah apakah si penulis teori memang hidup bersama sesama manusia, bertetangga dan berkeluarga, atau hidup dalam imajinasinya sendiri, sebagai manusia kesepian.

    Pertama, apa fungsi media massa ? Menyampaikan informasi akurat ? Bukan. Fungsi utama media massa, dengan organisasi yang rapi, dan tentunya semua orang yang terlibat digaji agar bisa tetap hidup, adalah : mendapatkan perhatian dari konsumennya. Untuk mendapatkan perhatian, maka orang- orang yang terlibat dalam media massa harus memastikan dahulu, bahwa sajian informasi yang mereka tawarkan (supply), harus sesuai dengan selera ( demand), atau setidaknya mampu membuat selera ( demand) baru, dari konsumen targetnya.

    Media massa adalah organisasi, dan orang yang terkumpul dalam sebuah organisasi, tetap harus digaji.Untuk tetap digaji, maka modalnya harus balik di tiap termin anggaran. Kalau ingin bertahan lama organisasinya, maka organisasi harus memikirkan pendapatan berlebih dari modal, namanya profit, jadi organisasi selalu bisa tumbuh tiap tahun. Di sini kepentingan mereka sudah bertambah, pertama untuk mendapatkan perhatian konsumen, kedua mempertahankan eksistensi organisasi media itu sendiri. Kalau mengandalkan pengiklan sebagai sumber pendapatan, maka kepentingan bertambah lagi, yaitu pastikan pengiklan tahun depan tetap memasang produknya di media tersebut.

    Kedua, lalu bagaimana cara mendapatkan informasi akurat ? Bangun sendiri jaringan informan, untuk menjamin arus informasi akurat, empiris sesuai data lapangan. Itulah makanya organisasi yang kuat selalu memiliki intelijen internal yang tidak tergantung dari organisasi lain, bernama media massa tadi. Shogun Tokugawa punya Kurokuwa Ninja (Shinobi Akar Rumput)), Orde Baru punya BIN/BAIS, Kerajaan Inggris punya MI6, Pemerintah Federal AS punya CIA/NSA, Jepang pasca Meiji punya Nakano yang sangat terkenal itu, dan Muhammad SAW punya jaringan intelijen sendiri, independen, untuk mengendalikan stabilitas Negara Madinah, tanpa harus menggunakan polisi/ militer organis. Jika memang serius membangun kekuasaan, maka organisasi data miners pertama yang harus dibangun adalah : jaringan intelijen internal, karena dari mereka arus informasi akurat bisa diandalkan.

    Ketiga, meme itu apa sih ? Meme itu basisnya disiplin biologi evolusi & biologi perilaku, keduanya bersumber dari upaya observasi perilaku manusia secara individu dan komunal, dalam merespon setiap aksi. Bagaimana sebab- akibat dan aksi- reaksi bisa berproses, dalam persepsi setiap Homo sapiens, dan populasinya. Meme itu netral, meme adalah senjata, dan setiap orang yang berkepentingan, bisa menggunakan meme, untuk kepentingannya sendiri.

    Keempat, setiap kerumunan akan bisa disebut kerumunan dengan kebijaksanaan ( Wisdom of Crowd), adalah ketika masing- masing komponen organis kerumunan, yang berarti adalah spesies Homo sapiens, memiliki ruang untuk berpikir independen, tanpa dipengaruhi sentimen kerumunan itu sendiri, walau seolah- olah mereka berada dalam kerumunan. Paradoks, tapi begitulah basis rasionalnya. Ketika kerumunan seolah solid, maka telusuri permintaan mereka, dari permintaan itu, telusuri jalur uangnya, dari jalur uang, biasanya bisa didapatkan, motif utama kelompok kecil yang mengendalikan kerumunan besar. Intelektual cenderung jarang berkelompok, karena biasanya dalam kelompok, manusia membatasi intelektualitas anggotanya, alias membatasi pertanyaan. Kalaupun ada intelektual yang mampu membentuk kelompok, tanpa kehilangan intelektualitas, maka itulah yang disebut most dangerous group🙂

    Kelima, adalah “jebakan operasional” ( Operational Trap). Homo sapiens tertarik pada observasi operasional teknis, tapi lupa dengan arus kapital. Arus kapital selalu mengandung kepentingan, kepentingan pemilik kapital. Manusia mau berpikir secanggih apapun, dan bergerak sehebat apapun, pasti butuh dukungan kalori yang cukup, agar tetap bisa berpikir dan bergerak. Di sini pada umumnya, kalori didapatkan dari makanan, dan makanan bisa dimakan, setelah dibeli, artinya ada transaksi sebelum bergerak/ berpikir. Follow the capital, before the operation, and you’ll find the truth behind any action Bro🙂

    Nice discussion, thanks btw …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 2, 2013 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: