Angin

To run where the brave dare not to go

Altruisme

16 September 2010 at 18:17

Dari Abu Hurairah ra. berkata: ‘saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda’: “Allah menciptakan rasa kasih sayang itu 100 bagian. 99 bagian itu disimpan NYA di sisi NYA (dan diberikan kelak di surga-‘tmbhn dr Kitab MUSLIM), 1 bagian saja yg Allah turunkan ke dunia ini. Dengan yang 1 bagian itu para makhluk seluruhnya saling menyayangi sehingga  kuda mengangkat kakinya karna takut anak nya terinjak,”

Dalam buku Social Intelligence karangan Daniel Goleman, psikolog Harvard University yang mempopulerkan Emotional Intelligence, diceritakan  temuan yang menarik dari penelitian terhadap tiga perilaku;

– Penelitian pertama dilakukan pada seekor tikus yang digantungkan pada seutas tali sehingga badannya melayang tergantung. Tentu ini kondisi yang tidak nyaman untuk tikus tersebut sehingga ia berusaha meronta-ronta untuk melepaskan diri. Yang menarik ialah perilaku tikus lain yang sama-sama berada di kurungan tersebut. Tikus kedua ini seolah bersikap marah dan panik seraya berusaha mencari cara menolong kawannya yang tergantung tersebut.

– Penelitain kedua dilakukan pada tujuh ekor monyet. Enam ekor monyet sudah terlatih sebelumnya untuk menarik tali untuk mendapatkan makanan. Tali ini diatur sedemikian rupa sehingga apabila keenam monyet ini menarik tali untuk mendapatkan makanan, monyet ketujuh akan merasakan sakit yang luar biasa dan merintih kesakitan. Hasilnya mengejutkan! Keenam monyet tersebut berhenti menarik tali tersebut demi melihat temannya merintih kesakitan. Empat monyet pertama akhirnya memilih tali yang lain yang tidak diikat ke monyet ketujuh tadi disediakan walaupun mendapatkan makanan yang jauh lebih sedikit. Monyet kelima sama sekali tidak mau menarik tali selama lima hari. Bahkan monyet keenam tidak mau melakukannya selama dua belas hari. Kedua monyet terakhir memilih kelaparan agar tidak menyakiti kawannya.

– Penelitian ketiga dilakukan pada perilaku bayi. Seorang bayi akan ikut menangis dan stress jika melihat atau mendengar bayi yang lain dalam kondisi yang sama. Tetapi bayi tidak akan terpengaruh jika tangis yang didengar ialah suara rekaman tangisnya sendiri. Bahkan pada usia empat belas bulan seorang bayi sudah bisa, bukan sekedar ikut menangis, tetapi juga berusaha “menghibur” dan “menolong” bayi lain yang sedang sedih.

Daniel Goleman sedang berbicara tentang “instict for altruism” dalam bukunya terseut saat memaparkan ketiga fakta di atas. Goleman menyimpulkan bahwa altruisme; empati, kasih sayang, sifat mementingkan orang lain ialah insting bawaan yang dimiliki oleh bukan hanya manusia, bahkan mamalia.

Dalam bahasa agama, inilah yang disebut dengan fitrah. Nilai dan sifat dasar yang dimilki oleh semua manusia. Islam berperan sebagai tata nilai, konsepsi, atau panduan hidup manusia untuk bisa hidup selaras dan terus berkembang bersama fitrahnya. Tidak ada satu pun aturan dalam Islam yang bertentangan dengan fitrah manusia. Oleh karena itu dalam al Quran kata “fitrah” dimaknai dengan agama Islam itu sendiri;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (Ar Ruum: 30)

Altruisme dan semua padanan katanya; kasih, empati, kepedulian, tenggang rasa, kepekaan, cinta sesama, dsb ialah hal yang inheren dengan tata nilai Islam yang dideklarasikan sebagai rahmatan lil ‘alamiin. Baik dalam semangat hidupnya, cara pandang, hingga aturan praktisnya. Mari kita simak beberapa kutipan ajaran yang disampaikan baginda Nabi saw;

“Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri ”  (HR Bukhari Muslim)

Dan rasa cinta kepada sesama ini diwujudkan dalam hal yang praktis seperti memindahkan duri dari jalan,

Dari Abu Hurairoh ra, bahwa Rasulullah SAW  bersabda : “Iman itu mempunyai lebih dari 70 (tujuh puluh ) cabang (menurut riwayat lain mempunyai 77 cabang), cabang yang paling utama ialah kalimat Laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan duri dari jalan. Malu juga merupakan salah satu cabang iman.”

Atau bentuk lain yang terlihat “sepele” ialah etika buang hajat yang diatur dalam Islam,

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Waspadalah terhadap dua hal yang menyebabkan terlaknat.” Para sahabat bertanya, ‘Apa dua hal yang menyebabkan terlaknat itu ya Rasulullah?’ Maka jawab beliau,‘Yaitu orang yang buang hajat pada jalan umum atau di tempat berteduh.'”

Sungguh dua contoh di atas mencerminkan ruh agama ini yang ingin selalu membawa manfaat dan kebaikan bagi semua seraya menghindarkan semua orang dari marabahaya dan bencana. Jika menyingkirkan duri saja diakui sebagai cabang dari iman, maka apalagi kebajikan yang lebih hebat dari itu seperti katakanlah menyingkirkan koruptor-koruptor dari lingkaran kekuasaan, seingga madharat di mana hak-hak rakyat yang terabaikan dapat dihindari. Jika ketidakpedulian untuk buang air yang menyusahkan orang lain saja dikecam dengan sangat keras, bahkan dilaknat. Apalagi dengan ketidakpedulian yang menyebabkan hak-hak orang terabaikan dan orang lain menjadi terdzalimi.

Sebaliknya saat orang berpaling dari Islam dan mencoba-coba aturan hidupnya sendiri maka bencana dan kesulitan hidup yang terjadi. Jelas lawan dari fitrah altruisme ini seperti kebencian, dengki, kerakusan, ketamakan ialah hal-hal yang menggerus fitrah manusia yang pastinya akan membawa manusia kepada kesengsaraan sejati dunia dan akhirat. Sejarah umat manusia yang penuh dengan genangan darah ialah sejarah tentang pelanggaran manusia atas fitrahnya. Selalu, penjajahan, imperialisme, invasi, perang, dan segala bentuk lain diawali dari perasaan tamak dan ingin menguasai hak orang lain.

Seperti yang sering diungkapkan aktivis kiri kepada para kapitalis, “dunia ini akan selalu mencukupi untuk semua orang, tetapi tidak akan pernah cukup untuk seorang kapitalis yang tamak”. Namun ironis juga ternyata respon (anti-tesis) yang diberikan ideolog kiri sama-sama menyimpang dari fitrah manusia ini. Pertentangan Kelas adalah ide dan konsepsi mereka yang katanya ingin mewujudkan senuah masyarakat tanpa kelas yang tidak ada penindasan di sana, masyarakat sama rasa sama rata atau komunis. Bandingkan konsep pertentangan kelas ini dengan satu ajaran yang luar biasa dari Islam yaitu: itsar (mendahulukan saudaranya atas dirinya).

Oleh karena itu, berkaca dari fakta empiris yang disampaikan Goleman tadi, saya makin bisa memaknai yang Allah sampaikan dalam surat Al A’raaf ayat 179 ini,

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Ya, lebih sesat dari binatang bahkan. Rendah sekali. Semoga kita terus diberi hidayah agar fitrah kita dibimbing terus oleh nilai-nilai Kebenaran yang hakiki; Islam yang seutuhnya dan semurninya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 15, 2014 by in Muhasabah.
%d bloggers like this: