Angin

To run where the brave dare not to go

Bendera dengan bintang-bintang yang (sesekali) berkelip

28 July 2013 at 04:26

Sebuah refleksi perjalanan (kedua saya) selama dua minggu di Amerika. Menempuh jarak 2300 mil. Dari Atlanta, Washington DC, New York, Buffalo, hingga Boston. Tulisan ini semata adalah refleksi atas ingatan-ingatan dan kesan yang saya tangkap selama perjalanan. Mulai dari obrolan di mobil, renungan di bus Greyhound dan Megabus. Lintasan ide di Metro, Subway, dan T line. Hingga lamunan saat terlunta-lunta di kereta Amtrak yang suram. Akurasi data perlu dicek ulang, tapi mengambil insight tentu tak ada salahnya kan..

Di pinggiran kota Boston, daerah Roxburry, ada sebuah jalan arteri bernama Malcolm X bolevard. Di ujung jalan tersebut ada Islamic Center yang besar. Lengkap dengan sekolah, kafe, toserba, dan fasilitas lainnya. Keramaiannya di malam Ramadhan kemarin langsung mengingatkan saya dengan masjid Salman, suasananya mirip sekali. Imamnya menamatkan satu juz satu malam dengan bacaan tartil seperti masjid di Haramain.

Yang paling menakjubkan adalah beberapa saat setelah saya turun dari mobil lalu jalan dari tempat parkir menuju masjid, saya sunguh merasa sedang berada di tanah air. Saai itu azan berkumandang keras di langit Boston. Cerita dari azan yang berkumandang itu ternyata dilatarbelakangi salah satu Imam masjid yang merupakan warga kulit putih asli Amerika. Sehingga komunikasi dan persuasi ke masyarakat setempat dilakukan dengan baik sekali.

Di seberang sungai Charles ada sebuah kota pelajar paling prestisius: Cambridge. Di sana lah Harvard berada. Kampus asri dengan bangunan-bangunan tua dari batu bata merah yang dibangun empat abad yang lalu oleh John Harvard dan masih terawat hingga sekarang. Di dalam kompleks itu ada sebuah gereja kecil bernama Holden Chapel. Di sepanjang 30 malam ramadan, kapel itu bergema dengan lantunan ayat-ayat Quran yang dipimpin imam salat tarawih. Seorang hafidz yang juga mahasiswa PhD seumuran saya. Satu juz tiap malamnya Al Quran dibaca dalam tarawih anak-anak Harvard itu.

Inilah sudut lain dari satu bangsa yang paling dikagumi sekaligus dibenci dalam satu abad terakhir ini. Negeri yang aslinya didirikan oleh orang-orang yang mendambakan kebebasan dalam beragama dan berpenghidupan serta memandang bahwa semua manusia diciptakan sama. Sebagaimana kalimat pembuka dari deklarasi kemerdekaan mereka “All men are created equal”.

Jika pun ada catatan sejarah bahwa Amerika adalah pionir perbudakan di era modern. Saat bangsa kulit putih menyerang perkampungan-perkampungan di Afrika barat. Menangkapi penduduknya, mengkapalkan mereka dengan tangan dan kaki terikat dalam kapal yang sesak sehingga hanya sebagian yang bisa bertahan hidup. Dengan kebebasan dan nyawa budak-budak itulah Amerika membayar kesejahteraannya dari kebun-kebun jagung dan gandumnya yang luas itu. Maka di sana pun ada seorang manusia besar bernama Abraham Lincoln.

Seorang pengacara ulung yang akhirnya menyatakan perang dengan bangsanya sendiri dalam civil war yang membagi AS dalam dua entitas politik; Union versus Confederation yang berlangsung selama 4 tahun di penggalah kedua abad ke-18. Mungkin Lincoln malu karena sudah seratus tahun dokumen yang ditandatangani oleh George Washington, dan founding fathers bangsanya itu ditetapkan, tapi perekonomian agraris negaranya masih berpijak di atas nyawa dan kebebasan budak-budak hitam.

Yang dihadapi Lincoln bukanlah kekuatan main-main. Pemimpin Confederation adalah General Jefferson Davis. Pahlawan perang Amerika dalam Mexican war dan Indian wars (black hawk war) yang melakukan aneksasi-aneksasi (juga genosida?) atas wilayah suku Indian. Sedangkan Lincoln adalah pemimpin yang sama sekali awam dalam peperangan. Lincoln membayar kemurahan hati dan keberaniannya dengan nyawa. Untung saja Civil war telah ia menangkan. Entah bagaimana jadinya andai ia kalah di perang tersebut. Amerika seperti apa yang akan kita lihat sekarang?

Pun jika sejarah mencatat bahwa hingga tahun 60-an, 2 abad setelah dokumen kemerdekaan ditandatangani, kulit hitam harus duduk di kursi bis berbeda. Memesan makan di tempat berbeda. Menggunakan fasilitas-fasilitas publik lainnya yang berbeda serta menerima perlakuan dan pelayanan yang berbeda. Di saat itu dan sejak jauh sebelumnya di pojok bumi yang lain Acong, Joko, dan Sitorus sudah biasa bermain gundu bersama.

Di tanah itu pula seorang manusia besar pembela kemanusiaan lain, Martin Luther King Jr, dilahirkan di kota Atlanta di Georgia. Dua kali saya ke kota itu namun sayang sekali niat saya berziarah ke rumahnya belum kesampaian.  Nama Martin Luther dicatat dengan tinta emas dan pidatonya yang melengkik dan bergetar parau ‘I have a dream’ direkam di atas pita emas sejarah. Ia pun mati diujung senapan. Martir nampaknya selalu menjadi tebusan setimpal yang harus dibayar oleh mereka yang memperjuangkan kemanusiaan dengan tulus. Juga yang dialami oleh kompatriotnya; Malcolm X. Barangkali memang itulah hukum besi sejarah, bumi selalu meminta darah mereka yang tulus berjuang, barangkali agar menyuburkan tanahnya sehingga pejuang lain yang tulus bisa lahir lebih banyak lagi. Barangkali.

Lalu jika anda pun mengingat bahwa Amerika adalah agresor paling aktif di abad ini. Ingatan anda tidak salah. Mari hitung berapa kali sejak WWII Amerika menerjukan paratroopernya yang legendaris di film Band of Brothers itu atau marinirnya yang jagoan seperti di film Pacific. Korean War, Vietnam War, Gulf War, Iraq War, dan Afghanistan War membuat catatan perang Amerika rata-rata hampir sepuluh tahun sekali.

Catatan yang cukup “impresif” untuk negara yang anggaran militernya masih lebih besar dari total gabungan anggaran militer negara-negara di urutan kedua sampai kesepuluh. Serta pangkalan militer yang ada di setiap jengkal bola dunia dan bisa menjangkau negara manapun yang hendak ia tuju dalam kurun waktu kurang dari sehari semalam saat tombol agresi ditekan. Untuk saat ini mungkin hanya pasukan Thor atau Alien vs Predator yang bisa menandingi.

Belum lagi jika dihitung dari darah yang tertumpah akibat perebutan kekuasaan dan pengaruh khususnya selama era perang dingin lewat operasi intelejen, di mana AS, meminjam istilah Bang Anas Urbaningrum, nabok nyilih tangannya penguasa-penguasa diktator di negara dunia ketiga. Mulai dari Indochina, Timur tengah, Eropa timur, Amerika latin hingga Karibia. Buka catatan sejarahnya, hitung berapa banyak penguasa diktator yang menegakan kekuasaan dengan restu Amerika (sahabat baik paman). Lalu lihat kesamaan polanya. Perebutan kekuasaan dengan kekerasan dan pembunuhan masal, kemerdekaan politik yang direnggut, masuknya korporasi-korporasi besar, sumber daya alamnya dikuras, hasilnya rakyatnya sama-sama miskin saat elitnya berlimpah kemewahan.

Selain itu hitung pula negara mana yang paling sering menggunakan hak veto dalam resolusi-resolusi kemanusiaan/ keamanan PBB. Anda tidak perlu saya beri tahu jawabannya. Demokrasi dan HAM tidak pernah berlaku imparsial. Term and conditionnya selalu panjang dan tidak pernah menguntungkan selain yang jual.

Tapi di Amerika pula pemikir-pemikir yang tajam dan bahkan sangat keras terhadap pemerintahnya masih diizinkan untuk tinggal bahkan menjadi profesor yang sangat berpengaruh di salah satu kampus terbaik di sana. Noam Chomsky (semoga hidayah Allah bersamanya) adalah salah satunya. Intelektual paling berpengaruh di abad ini dan paling sering dikutip yang masih hidup namun sangat jarang dimuat/ diliput di media (CNN, Fox, NBC, dsb) karena kritiknya yang sangat tajam dan substantif khususnya mengenai peran media dalam menggiring opini publik dalam setiap kebijakan luar negeri Amerika.

Amerika, bangsa besar yang layak kita ambil pelajaran darinya, dengan segala gemintangnya yang kadang berpendar terang dan kadang meredup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 15, 2014 by in Pergerakan dan Peradaban.
%d bloggers like this: